{CONTEST C} Lee Taemin’s Love In Suffer – Part 2 [END]

LEE TAE MIN’s Love In Suffer

Part 2

Song Title       : LAST GIFT

Author            : Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Main Cast      : Lee Tae Min

Support Cast : Yoon Sila, Lee Jin Ki, Kim Jong Hyun, Kim Ki Bum, Choi Min Ho, dokter Jung, Manager SHINee

Length            : Twoshot

Genre              : Friendship, Romance, Sad

Rating             : General

A/N                 : Ikut kontes A (H2H)

 

            “Saat ini keadaannya sudah lumayan stabil. Sebentar lagi dia bisa dipindahkan keruang inap,” terang dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU. Lampu tanda kamar ICU juga sudah dimatikan.

            “Lalu, bagaimana kondisinya dokter? Apa ada bagian tubuhnya yang terluka parah?” tanya Onew-hyung.

            Dokter terdiam, “Mungkin dia tidak baik-baik saja. Matanya terkena serpihan kaca mobil akibat benturan yang sangat keras. Untuk sementara kami belum bisa memastikan kondisi matanya karena kami harus menunggu pasien sadar dulu. Luka lainnya, paling hanya luka gores di lengan. Kepalanya tidak terluka akibat benturan itu.”

            Aku terdiam. Mata? Mata Sila terkena serpihan kaca mobil? Tuhan, kenapa kau membuat Sila harus mengalami hal ini? Apa ini semua karena aku? Karena aku sudah mengundangnya datang ke konser kami?

            “Baiklah dokter. Gamsahamnida,” ucap Onew-hyung sebelum akhirnya dokter itu melangkah meninggalkan kami.

            Laki-laki yang mengangkat telepon Key-hyung tadi ternyata hanya seorang petugas konstruksi jalan yang kebetulan ada di lokasi tabrakan Sila. Sila menabrak sebuah mobil lainnya. Aku bersyukur, setidaknya nasib Sila jauh lebih baik karena pengendara mobil itu tidak bisa diselamatkan nyawanya.

            Tiba-tiba pintu ruangan ICU terbuka. Tampak beberapa orang berpakaian biru muda dan putih keluar membawa seorang pasien yang terlentang diatas tempat tidur beroda yang tidak kutahu namanya itu.

            “Sila..” gumamku saat melihat wajah pasien itu.

            Matanya tampak diperban, sementara di lengannya masih tampak jelas bekas luka. Wajahnya tampak damai walau kutau itu semua terasa sakit.

            “Mianhamnida, pasien ini akan dibawa kemana?” tanya Key-hyung.

            Salah seorang petugas itu menjawab, “Ruang inap 0028, dilantai 2. Anda keluarga pasien?”

            Key-hyung mengangguk.

            “Kalau begitu, silahkan menuju ruang inap 0028 menggunakan lift biasa. Kami akan menggunakan lift khusus pasien,” petugas itu tersenyum.

            “Baiklah. Gamsahamnida,” ucap Key-hyung sambil membungkuk.

            Mataku terasa memanas. Rupanya air mataku sudah berdesak-desakan akan turun. Aku buru-buru menghapus air mataku.

            “Kkaja, kita ke ruangan Sila,” ujar Min Ho-hyung sambil mendorong kursi rodaku.

            Saat sampai didepan ruang inap 0028, kami langsung diperbolehkan masuk oleh perawat. Di kasur, tampak Sila terbaring dengan selang infus di tangannya.

            “Dia masih belum sadar. Kalau nanti dia sudah sadar, kalian tekan saja tombol hijau disamping kasur pasien itu ya,” ujar salah satu perawat sebelum keluar dari kamar ini.

            “Ne, gamsahamnida,” ujar Jong Hyun-hyung yang daritadi terdiam.

            Min Ho-hyung mendorong kursi rodaku mendekat kearah Sila yang masih belum sadar.

            “Sila…” gumamku pelan. Ingin sekali memeluk tubuh di depanku ini. Tapi, mana mungkin aku bisa. Aku yang sekarang bukan Lee Tae Min yang dulu. Aku yang sekarang hanya seorang manusia yang hanya bisa menyusahkan orang lain, sama sekali tidak bisa melakukan apapun selain membuat orang-orang bersedih. Perlahan aku merasa sangat tidak berguna.

            “Ingin sekali rasanya aku menggenggam tanganmu, Sila. Memeluk tubuhmu. Tapi… aku tidak bisa melakukannya. Kau tau kenapa? Sila, kau tau kenapa?” kata-kataku keluar begitu saja dari mulutku. Tidak kupedulikan air mataku yang mengalir membasahi pipiku, “Aku lumpuh. Aku lumpuh, Sila. Aku tidak bisa melakukan apapun lagi…”

            Bisa kurasakan hyung-hyung ku menangis.

            “Sekuat apapun keinginanku untuk memelukmu, aku… aku tidak bisa. Bahkan hanya untuk… menggenggam tanganmu pun.. aku tidak bisa…” aku terisak, “Aku memang tidak berguna, Sila…”

            Bibirku bergetar hebat, air mataku terus mengalir tanpa bisa kubendung.

            “Umurku bahkan.. tidak lama lagi… aku… dunia ini… sebentar lagi akan kutinggalkan, Sila… maafkan aku, Sila… maafkan aku karena aku… aku akan meninggalkanmu..” aku tertunduk.

            Min Ho-hyung menghampiriku. Dipeluknya erat tubuhku, “Tae Min.. kenapa kau bisa berkata seperti ini?”

            Key-hyung tampak menangis dalam pelukan Jong Hyun-hyung. Onew-hyung ikut memelukku.

            “Tae Min, jangan…pernah berkata seperti ini.. kau berguna! Selamanya kau akan mendatangkan manfaat bagi orang lain. Jadi, jangan… berkata seperti ini. Kumohon, Tae Min..” suara Onew-hyung bergetar.

            Aku membenamkan kepalaku diantara pelukan kedua hyung-ku ini. Aku beruntung memiliki mereka, orang-orang yang selalu ada untukku dan selalu menyayangiku. Sampai kapanpun aku akan terus menyayangi dan mencintai mereka.

***

I don’t know why

I can’t move on

It feels like you’ll come back

Perhaps right about now…

She’s going through a period of regret

I can’t even move my heart

            Perlahan aku terbangun dari tidurku. Ternyata aku sudah berada di dorm kami. Aku ingin  bangun dari tempat tidurku ini.

            “Hyung…” panggilku pelan.

            Key-hyung yang ternyata sedang duduk di kasurnya buru-buru menghampiriku, “Kau ingin bangun, Tae Min?”

            Aku mengangguk. Key-hyung membantuku duduk dikasurku.

            “Kenapa aku bisa sampai di dorm, hyung?” tanyaku.

            Key-hyung mengelus rambutku, “Kemarin kau tertidur di kursi rodamu di rumah sakit. Jadi, kami membawamu pulang untuk istirahat. Kau perlu banyak istirahat, Tae Min. Semalam dokter Jung datang memeriksa kondisimu.”

            “Lalu, dokter Jung bilang apa?”

            Key-hyung tertunduk. Sedetik kemudian ia kembali mendongakkan kepalanya, “Saraf sensorik tubuhmu… sudah lumpuh, Tae Min. Kau tidak bisa merasakan apa-apa lagi.”

            Aku terdiam. Benar, aku memang tidak merasakan apa-apa lagi. Rasanya aneh. Menyedihkan. Aku merasa seperti sebuah boneka berbentuk manusia yang hanya bisa berbicara dan mendengar.

            Aku tersenyum kearah Key-hyung, “Hanya itu saja, hyung?”

            Key-hyung terdiam cukup lama, “Ne, Tae Min.”

            “Baiklah. Oia, hyung.. bagaimana keadaan Sila? Apa dia sudah sadar?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

            “Dia sudah sadar tadi pagi. Tapi, dokter akan membuka perban matanya nanti,” jelas Key-hyung.

            “Syukurlah. Apa boleh aku menjenguknya sekarang, hyung? Aku ingin bertemu dengannya. Maaf kalau aku menyusahkanmu lagi.”

            “Jangan berkata seperti itu, Tae Min. Kau tidak pernah menyusahkanku. Kita ini keluarga dan keluarga ada untuk saling membantu kan? Jangan pernah berfikir bahwa kau menyusahkan kami,” Key-hyung berkata tegas.

            Aku menghela nafas. Kuanggukkan kepalaku pelan, “Ne, hyung. Gomawo…”

            Key-hyung tersenyumm,“Baiklah.. kita pergi menjenguk Sila ya? Ayo, kau harus bersih-bersih badan dulu, Tae Min.”

            Aku mengangguk. Key-hyung kemudian membantuku ke kamar mandi untuk gosok gigi dan bersih-bersih. Key-hyung juga membantuku berpakaian dan menyuapiku sarapan. Sarapan bubur, karena tentu saja tubuhku masih butuh energi. Paling tidak untuk berbicara dan berfikir.

            “Aku antar ya?” ujar Min Ho-hyung sambil menatapku.

            Aku tersenyum, “Ne, gomawo hyung.”

            Min Ho-hyung mengangguk, “Aku ambil kunci mobil dulu.”

            “Nah, sudah selesai sepatumu. Jong Hyun-hyung! Onew-hyung!” teriak Key-hyung yang baru selesai memasangkan sepatuku.

            “Ne!” balas Onew-hyung yang langsung menghampiri kami bersama Jong Hyun-hyung.

            “Kalian dirumah saja ya? Kami akan menjenguk Sila,” ujar Key-hyung sambil memasang jaketnya.

            Jong Hyun-hyung menggeleng, “Aku ikut. Aku mau ikut.”

            “Annyi, annyi, annyi.” Key-hyung menggelengkan kepalanya, “Kau dirumah saja. hyung. Bantu Onew-hyung membereskan rumah.”

            Muka Jong Hyun-hyung langsung berubah.

            “Kalian mau bikin keributan dirumah sakit? Nanti kalau ada shawol yang lihat bagaimana?” Key-hyung membujuk Jong Hyun-hyung.

            “Ne, arasso!” Jong Hyun-hyung mendorong tubuh Key-hyung, “Pergilah. Kami akan bereskan rumah dan memasak makanan. Hati-hati di jalan ya? Annyeong!!”

            Min Ho-hyung tertawa kecil. Aku tersenyum. Sementara Key-hyung tampak melongo karena kelakuan Jong Hyun-hyung.

            “Baiklah. Kami pergi dulu. Annyeong,” sahut Min Ho-hyung sambil mendorong kursi rodaku.

            “Hyung, aku pergi,” sahutku pelan.

            Kedua hyung-ku itu langsung mengangguk. Kami melangkah menuju ke parkir apartemen.

            “Key, tolong buka pintu mobil,” Min Ho-hyung memberikan kunci mobil kepada Key-hyung begitu kami sampai didepan mobil bewarna metalic milik Min Ho-hyung.

            “Ne,” Key-hyung membuka pintu mobil.

            Min Ho-hyung menggendong tubuhku masuk kedalam mobil, “Wah.. sepertinya kau harus makan banyak, Tae Min. Kenapa beratmu tidak bertambah?”

            Aku tersenyum kecil menanggapi kata-kata Min Ho-hyung. Aku tau dia ingin menghiburku.

            “Tidak apa-apakankalau Tae Min duduk sendiri dibelakang?” tanya Key-hyung.

            Aku mengangguk, “Tentu saja, hyung. Jangan khawatir.”

            “Baiklah. Kita berangkat,” Min Ho-hyung memasang seatbelt-nya.

            Di sepanjang perjalanan, kami lebih banyak terdiam. Key-hyung yang biasanya heboh mendadak menjadi pendiam. Hanya beberapa kali saja ia mengajakku bicara. Sementara Min Ho-hyung, dia sama sekali tidak bicara sepatah kata pun. Aku benci suasana seperti ini.

            “Kita sudah sampai,” ujar Key-hyung sambil segera berlari ke bagasi dan mengambil kursi rodaku.

            Min Ho-hyung membuka pintu untukku, “Ayo, kita keluar.”

            Perlahan Min Ho-hyung menggendong tubuhku dan mendudukkanku di kursi roda. Setelah memastikan pintu mobil sudah terkunci, kami segera melangkah masuk kedalam rumah sakit. Key-hyung mendorong kursi rodaku.

            “Dokter, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?!” terdengar suara seorang wanita saat kami tiba didepan kamar inap Sila.

            Suasana hening.

            “Eomma… sudahlah. Tenang..” kali ini suara berat seorang pria.

            “Nyonya, kami akan segera mencari pengobatan terbaik atau kita bisa mencari donor mata untuk anak anda,” ujar seorang pria dengan suara yang berwibawa dan tenang.

            Aku menahan nafasku. Ini tidak mungkin.. donor mata?!

            Min Ho-hyung menatapku.

            “Sila… dia?” tanyaku pelan. Nyaris tidak bisa didengar.

            Pintu tiba-tiba terbuka. Tampak seorang pria berbaju putih dan seorang perawat keluar dari kamar. Disusul dengan seorang seorang wanita dan pria yang sangat kukenal. Yoon-ajumma dan Yoon-ajussi.

            “Tae Min?” wanita itu berhenti didepanku.

            Aku tersenyum, “Yoon-ajumma?”

            Tiba-tiba wanita itu langsung memelukku erat, “Tae Min… Sila, dia…”

            Ingin sekali membalas pelukan Yoon-ajumma. Aku menarik nafas panjang, “Ajumma.. apa yang terjadi dengan Sila…?”

            “Dia tidak bisa melihat, Tae Min…” isak Yoon-ajumma dalam pelukannya.

            Aku terdiam. Ternyata benar… Sila tidak bisa melihat lagi.

            Yoon-ajumma melepas pelukannya, ditatapnya wajahku, “T-tae Min.. kenapa kau bisa duduk dikursi roda?”

            Aku menggeleng, “Annyi, ajumma. Kakiku terkilir.”

            Yoon-ajussi menatapku, “Kau tampak pucat, Tae Min.”

            “Ajussi? Ah, mungkin karena aku kurang tidur.. ajumma, ajussi, bagaimana keadaan Sila saat ini?” tanyaku.

            Yoon-ajumma mengusap air mata di pipinya, “Dia tidak mengatakan apa-apa. Begitu perban nya dibuka tadi, dia langsung mengatakan bahwa dia tidak bisa melihat apa-apa. Bahkan dia tidak menangis, Tae Min…” terang Yoon-ajumma.

            Yoon-ajussi mengangguk, “Ne, Tae Min. Mungkin kau bisa mengajaknya bicara? Tolong ya, Tae Min..”

            Aku mengangguk, “Aku akan berusaha, ajussi…ajumma. Apa sekarang aku boleh menjenguknya?”

            Yoon-ajussi mengangguk, “Tentu saja boleh. Ajussi dan ajumma akan ke ruangan dokter. Kami titip Sila sebentar ya?”

            Yoon-ajumma tersenyum kearahku, Key-hyung dan Min Ho-hyung. Key-hyung tersenyum.

            “Jangan khawatir, ajussi, ajumma. Kami akan menjaga Sila,” ucap Key-hyung sopan dengan suara lembutnya.

            Min Ho-hyung mengangguk.

            “Baiklah. Gomawo semuanya,” ujar Yoon-ajussi sebelum melangkah meninggalkan kami bersama Yoon-ajumma.

            Aku menghela nafas cukup panjang sebelum kami masuk ke ruang inap Sila. Key-hyung mengetuk pintunya dan mendorong kursi roda-ku masuk. Min Ho-hyung mengikuti dari belakang. Perlahan ditutupnya pintu tersebut.

            “Nugu?” terdengar suara Sila pelan. Ia sedang tidak tidur terlentang. Ia duduk bersandar diatas tempat tidurnya.

            “Sila.. ini aku. Tae Min,” ujarku pelan. Key-hyung mendorong kursi roda-ku mendekat ke sisi tempat tidur.

            “Tae Min? Apa itu benar kau?” tanya Sila.

            “Ne, ini aku. Maafkan aku—”

            Sila langsung menyela perkataanku, “Tae Min, maafkan aku. Aku tidak hadir dalam konser-mu. Maafkan aku, karena aku sudah mengingkari janjiku..”

            Hatiku mendadak terasa sangat sakit. Bahkan dengan keadaannya yang seperti ini, dia masih bisa berkata seperti ini. Apa dia benar-benar tidak memikirkan dirinya sendiri.

            Key-hyung menatapku, diraihnya tanganku. Diletakkannya tanganku diatas tangan Sila. Key-hyung tersenyum kearahku.

            “Sila…” panggilku pelan.

            Bisa kulihat Sila langsung menggenggam tanganku erat. Aku tidak tau seberapa erat genggamannya.

            “Maafkan aku…” dia mulai tampak menangis.

            “Sila, jangan seperti ini… kau tidak salah. Justru, aku yang seharusnya minta maaf padamu, Sila…” air mataku menetes, “Seharusnya aku tidak memaksamu datang ke konser kami kemarin…”

            Sila terdiam.

            “Kalau saja, waktu bisa kuulang.. aku tidak akan memaksamu datang, Sila… maafkan aku…” bibirku bergetar.

            “Tidak, Tae Min. Kau tidak salah… jangan berkata seperti ini,” ujar Sila pelan.

            Key-hyung mengusap pipi Sila yang basah karena air matanya. Key-hyung menatapku.

            “Jangan menangis, Sila…” rasanya pedih, perih sekali harus berpura-pura seperti ini. Mengusap air matanya pun aku tidak mampu, bagaimana mungkin ini bisa terjadi…

            “Tae Min.. kau tau, aku tidak menangis karena keadaanku saat ini..” Sila berhenti sejenak, “Aku menangis karena, aku tidak kuat bertemu denganmu. Aku takut kau menyalahkan dirimu, Tae Min..”

            Aku terdiam.

            “Mata, telinga, hidung, wajah.. semuanya.. hanya titipan Tuhan, Tae Min. Kalau Tuhan memang mau mengambilnya, kenapa aku harus bersedih.. selagi masih ada kau, Tae Min… aku tidak takut kehilangan apapun…” Sila terisak.

            Benar… semuanya milik Tuhan. Tapi, kenapa kau bisa sekuat ini menerima kenyataan berat seperti ini, Sila?

            “Aku masih bisa bahagia, Tae Min.. saat aku ingin melihat, bukankah ada kau yang akan menceritakan bagaimana indah-nya dunia ini kan…?”

            Hatiku benar-benar remuk mendengar kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya itu. Sila… seandainya saja kau tau apa yang terjadi padaku…

***

Was it yesterday when things started going to amiss?

Where did it all go wrong exactly?

My heart can’t let you go…

Is it really the end?

            Min Ho-hyung dan Key-hyung menatapku. Mereka terdiam cukup lama. Kami baru saja keluar dari ruang inap Sila.

            Key-hyung menggelengkan kepalanya. Diusapnya air matanya yang sudah mengalir sejak tadi.

            “Hanya ini hadiah terakhir yang bisa kuberikan padanya, hyung. Aku ingin membuat diriku berguna. Setidaknya ini bisa membuatku tenang, hyung. Aku yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi,” ujarku pelan.

            Min Ho-hyung terdiam. Matanya berkaca-kaca, “Tae Min.. kau tidak dengar apa yang Sila katakan tadi… Dia bisa bahagia—”

            “Anni, hyung. Umurku tidak akan lama lagi, hyung. Mana mungkin aku bisa membuatnya bahagia…?”

            “Tidak dengan cara ini, Tae Min,” kilah Key-hyung. Bahunya tampak bergetar menahan kesedihan ini.

            “Hyung, kumohon… aku sudah banyak menyusahkan orang. Biarkan aku memberi manfaat dalam akhir hidupku ya, hyung..” pintaku.

            Key-hyung terdiam.

            “Jebal, hyung…”

***

            Akhirnya aku bisa melakukannya. Dokter Jung mengatakan bahwa sebenarnya aku tidak boleh melakukan hal ini. Karena donor mata biasanya diambil dari orang yang sudah meninggal. Benar, aku aku akan mendonorkan mataku untuk Sila.

            Jong Hyun-hyung dan Onew-hyung tidak kalah terkejut saat kukatakan tentang semua ini. Namun mereka akhirnya luluh. Aku tau ini berat buat mereka. Tapi, apalagi yang bisa kulakukan untuk orang lain dalam sisa hidupku ini selain mendonorkan mata ini.

            Setelah seharian ini melakukan pemeriksaan terhadap kondisi tubuhku, sebentar lagi, donor akan dilakukan. Dokter memberiku waktu untuk berbicara dengan hyung-hyung ku.

            “Tae Minnie, kau akan meningat wajah kami kan?” tanya Onew-hyung pelan. Dia sedang duduk disamping kasurku. Tangan Onew-hyung menggenggam erat tangan kananku.

            Aku tersenyum. Memang terasa sangat berat. Tapi, aku tidak mau mata ini jadi sia-sia. Kalaupun aku tidak mendonorkan mata ini, tetap saja.. sebentar lagi mata ini tidak akan melihat indah-nya dunia ini.

            “Hyung, aku menyayangi kalian…” ucapku pelan. Air mataku kembali menggenang dan menetes perlahan.

            Key-hyung mencium tanganku. Diusapnya pipiku, “Tae Min, jangan khawatir. Kami akan selalu berada disisimu, kami akan terus menyayangimu…”

            Jong Hyun-hyung mengangguk, “Jangan menangis, Tae Min..”

            “Kau harus kuat ya?” Min Ho-hyung tersenyum manis. Sangat manis. Mungkin ini terakhir kalinya bisa melihatnya tersenyum seperti ini.

            Aku tersenyum.

            Tiba-tiba pintu terbuka. Tampak dokter Jung dan beberapa orang lainnya berpakaian biru.

            “Apa, kita bisa melakukannya sekarang?” tanya dokter Jung. Wajah cantiknya tampak sedih.

            “Sebentar lagi, dokter. Kumohon sebentar lagi..” pintaku.

            Dokter Jung tersenyum mengangguk.

            Kutatap wajah ke-4 hyungku yang tampak cemas. Aku tersenyum kearah mereka. Kupandangi wajah mereka. Untuk yang terakhir kalinya.

            “Hyung, bisakah aku melihat senyuman kalian…?” pintaku pelan.

            Key-hyung langsung menutup wajahnya. Bahunya bergetar. Onew-hyung membenamkan kepalanya di dalam genggaman tangannya.

            “Aku ingin, melihat hyung semua tersenyum. Kumohon jangan menangis..” ucapku perlahan.

            Min Ho-hyung menatapku dalam-dalam. Matanya memerah menahan tangis. Aku tau itu. Sementara Jong Hyun-hyung menatap kearah lain. Dari samping wajahnya, aku tau dia sedang menangis.

            “Hyung…” panggilku pelan.

            Key-hyung mendongakkan kepalanya. Tampak olehku senyumnya yang manis. Walaupun matanya sembab, wajahnya tetap tampan. Senyum itu kembali mengingatkanku akan hari pertama aku bertemu Key-hyung. Saat itu dia menyapaku dengan senyum manisnya ini.

            “Tae Min…” bisiknya pelan.

            Aku tersenyum. Min Ho-hyung merangkul bahu Jong Hyun-hyung yang tampak sedikit gemetaran. Aku tau Min Ho-hyung sedang berusaha menguatkan Jong Hyun-hyung. Kualihkan pandanganku kearah Onew-hyung.

            “Onew-hyung..” gumamku saat melihat wajahnya yang lembut itu tersenyum manis kearahku. Matanya yang sipit, hilang dalam senyumannya.

            “Jong Hyun-hyung…” panggilku pelan kepada Jong Hyun-hyung.

            Jong Hyun-hyung menggeleng, perlahan diangkatnya kepalanya. Ditatapnya aku dalam-dalam. Mata itu tampak sembab.

            “Aku tidak ingin hyung menangis. Aku kan tidak kemana-mana…” ujarku pelan.

            Mata sembab Jong Hyun-hyung justru kembali meneteskan air mata. Perlahan ia melangkah mendekatiku.

            “Tae Min..” gumamnya. Jong Hyun-hyung langsung memelukku, “Maafkan aku, Tae Min.. aku tidak bisa..”

            Hatiku bergetar mendengar ucapan Jong Hyun-hyung. Diantara ke-semua hyung-ku, Jong Hyun-hyung lah yang perasaannya paling sensitif. Air matanya bisa keluar dengan mudahnya saat hatinya merasa sedih.

            Lama sekali Jong Hyun-hyung memelukku. Akhirnya dilepaskannya pelukannya itu.

            “Kau harus kuat ya, Tae Min..” ujar Jong Hyun-hyung dengan senyum terbaiknya. Dengan mata yang sembab begini saja, Jong Hyun-hyung tetap terlihat tampan dengan senyumnya itu.

            Air mataku serasa akan tumpah saat kulihat semua hyung-ku menatapku dengan senyum indah mereka. Rasanya bahagia sekali menatap mereka dengan senyum mereka ini.

            Senyum terakhir yang bisa kulihat…

***

            “Tae Min… kau sudah sadar?” terdengar sebuah suara yang tidak asing di telingaku. Ini suara Onew-hyung.

            Gelap. Aku tidak bisa lihat apa-apa. Apa operasi nya sudah selesai?

            “Tae Min, ini hari ke2 setelah kau operasi donor mata itu.. Matamu saat ini sedang diperban..” suara lembut itu kembali terdengar ditelingaku, “Apa yang kau rasakan, Tae Min?”

            Aku tersenyum, “Onew-hyung…?”

            “Ne, ini aku Tae Min.. aku ada disebelahmu. Tanganku sedang menggenggam tanganmu, Tae Min. Apa yang kau rasakan saat ini, Tae Min?” tanya Onew-hyung.

            “Aku merasa baik-baik saja, hyung. Tapi, rasanya agak aneh, hyung. Disini gelap…” ujarku sambil tertawa kecil.

            Telingaku menangkap sebuah suara di sebelah kananku. Isakan. Aku tau itu isakan seseorang.

            “Onew-hyung, siapa yang ada disebelah kananku?” tanyaku pelan.

            “Tae Min, ini aku…” ujar suara itu. Suaranya serak.

            Aku menarik nafas, “Key-hyung?”

            “Ne, ini aku Tae Min… ini aku,” suara Key-hyung tenggelam diujung kalimatnya.

            Aku tersenyum kecil, “Key-hyung, kumohon. Aku tau kau menangis, hyung. Jangan menangis lagi ya, hyung…”

            Suasana hening, sampai akhirnya aku mendengar suara berat milik seorang namja yang selama 8 tahun mengisi hari-hariku. Min Ho-hyung.

            “Tae Min…” panggilnya. Suaranya terdengar sangat dekat, “Kau baik-baik sajakan?”

            “Tentu saja, hyung. Aku baik-baik saja, kok.. hyung tenang saja..” aku terdiam sejenak, “Hyung…”

            “Ne, Tae Min?” jawab Min Ho-hyung.

            Aku menarik nafas panjang, “Bagaimana keadaan Sila? Apa dia sudah menerima donor mata dariku?”

            Bisa kudengar hela nafas yang panjang dari Min Ho-hyung, “Dia sudah menjalani operasinya kemarin. Hari ini perbannya akan dibuka. Kau tenang saja, Tae Min. Dokter Jung bilang matamu masih berfungsi dengan baik. Saraf-sarafnya masih sehat.”

            “Syukurlah, hyung… setidaknya itu bisa menjadi penebus rasa bersalahku,” aku tersenyum.

            Tiba-tiba kudengar pintu terbuka.

            “Tae Min…” sahut suara itu pelan, “Sila.. dia sudah bisa melihat!”

            Itu suara Jong Hyun-hyung. Aku tersenyum. Rasanya bahagia sekali mendengar kalimat itu. Akhirnya, pengorbananku tidak sia-sia.

            “Tapi, dia ingin segera bertemu denganmu Tae Min…” ujar Jong Hyun-hyung.

            Aku terdiam. Kenapa rasanya aku tidak sanggup bertemu dengannya ya…

***

It’s not easy for me like my farewell greeting

My heart won’t become mine to control

I guess I’ll have to make an indefinite decision to forget you

So I can bear with it all

Keesokan harinya,

Author POV

            “Annyeonghaseo,” sapa dokter Jung.

            Onew yang duduk di sofa didekat pintu langsung berdiri, “Annyeonghaseo, dokter Jung. Apa kau akan memeriksa Tae Min?”

            Dokter Jung menggeleng, “Tidak. Aku datang bukan untuk memeriksa Tae Min. Tapi ini tentang gadis bernama Sila yang menerima donor mata dari Tae Min.”

            Key bangkit dari duduknya, “Ada apa dengannya, dokter?”

            “Tidak ada masalah dengan kondisinya. Namun saat ini dia bersikeras ingin mengetahui siapa pendonornya,” ujar dokter Jung pelan.

            Semua terdiam.

            “Tapi, bukankah penerima donor tidak boleh mengetahui siapa yang mendonorkan matanya?” tanya Min Ho.

            Dokter Jung mengangguk, “Benar. Boleh kutahu, apa yang kalian katakan tentang Tae Min padanya?”

            Key menghela nafas, “Kemarin dia bertanya tentang Tae Min, tapi kami mengatakan dia sedang keluar negeri untuk beberapa lama. Itu pun permintaan dari Tae Min, dokter.”

             Dokter Jung terdiam.

            “Dokter Jung…” panggil Tae Min pelan. Suara nya terdengar lemah.

            Min Ho langsung menggenggam tangan Tae Min yang terasa dingin, “Kau sudah bangun, Tae Min?”

            “Apa benar yang kau katakan, dokter Jung?” tanya Tae Min.

            Dokter Jung tampak sedikit bingung untuk menjawab, “Eumm.. ne, Tae Min.”

            Tae Min terdiam. Beberapa saat semua terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.

            “Tolong jangan pernah memberitahunya, dokter. Kumohon… aku tidak ingin membuatnya bersedih.”

***

            Sudah 4 hari lebih Tae Min menghabiskan waktu di rumah sakit. Hanya berbaring di tempat tidur. Dokter Jung sempat mengatakan kondisinya sudah sangat parah. Mungkin, tinggal menunggu hari.

            “Tae Min!” terdengar suara gebrakan pintu yang cukup kencang. Seorang gadis masuk kedalam kamar ruang inap itu.

            “Sila?” Jong Hyun yang tengah duduk disamping Tae Min langsung berdiri.

            Nafas gadis itu terengah-engah. Langkahnya berhenti beberapa langkah di depan ranjang Tae Min. Tubuhnya terpaku.

            “Lee Tae Min!! Kenapa kau bisa membohongiku?!!” teriak gadis itu.

            Tae Min terdiam. Bibirnya bergetar. Tidak menyangka Sila akan menemukannya dalam keadaannya begini.

            “Aku sudah bilang, aku bisa bahagia dengan ataupun tanpa mataku!!! KENAPA KAU BISA BERBUAT SEPERTI INI, TAE MIN?!!” air mata Sila mulai tampak membasahi kedua pipi lembutnya.

            “Sila, ini tidak seperti yang kau fikirkan… aku..” Tae Min berusaha menjelaskan, tapi ia bibirnya mengatup.

            Jong Hyun menghampiri Sila, “Sila…”

            “Jong Hyun-oppa, kau juga.. kalian membohongiku! Kalian bilang Tae Min sedang keluar negeri, lalu itu siapa, oppa?!” tubuh Sila bergetar hebat.

            “Sila…” panggil Tae Min pelan, “Kumohon, dengarkan—”

            Dilepasnya cincin yang melingkar manis di jarinya, “Aku sudah pernah bilang, aku tidak akan memaafkanmu kalau kau sampai berbohong padaku, Tae Min!! Mata ini? Aku tidak pernah berfikir kalau kau setega ini terhadapku!!”

            Sila melemparkan cincin itu keatas kasur Tae Min, “Aku tidak ingin bertemu lagi denganmu, Tae Min! Aku akan segera menemukan donor mata untuk mengganti matamu ini!! Kurasa semuanya cukup sampai disini, Tae Min!!”

            Sila tiba-tiba berlari keluar kamar. Jong Hyun terdiam. Perlahan ia mendekat kearah dongsaengnya. Diambilnya cincin yang dilempar Sila ke kasur Tae Min. Perlahan diletakkannya diatas telapak tangan Tae Min.

            “Tae Min.. ini cincin yang dulu kauberikan pada Sila. Dia melemparnya keatas kasurmu..” Jong Hyun berkata pelan.

Tae Min POV

            Telingaku tiba-tiba berdenging. Suara Sila mendadak hilang. Apa yang terjadi dengan telingaku? Aku tidak bisa mendengar apapun!

            Samar-samar sebuah benda dingin menyentuh kulitku. Aku bisa merasakannya. Benda apa itu?

            “Jong Hyun-hyung..” panggilku pelan.

            Keadaan tetap hening. Kemampuan pendengaranku lumpuh. Aku memang tidak bisa mendengar apapun.

            “Hyu-ng..” panggilku lagi dengan suara gemetaran, “Aku ti-dak bisa dengar apa-apa, hyu-ng…”

            Entah apa reaksi Jong Hyun-hyung. Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Aku tidak bisa melihat ataupun mendengar.

            Hatiku terasa sangat sakit. Mungkinkah semuanya akan berakhir disini? Hatiku rasanya sudah mati. Hatiku mendadak terasa begitu sakit menerima semuanya. Tiba-tiba aku merasa ini semuanya akan berakhir.

            Aku terdiam. Apa mungkin aku bisa bernyanyi untuk terakhir kalinya? Aku ingin melakukan sesuatu hal lagi sebelum suara ini nantinya akan hilang.

            “Hyung.. bolehkah aku bernyanyi? Aku.. merasa wa-waktuku tidak lama la-gi…” tanyaku. Hal bodoh. Apapun jawaban Jong Hyun-hyung, aku tidak bisa mendengarnya.

            Perlahan suaraku mulai keluar…

As soon as I opened my eyes,

I disliked it…

To be honest… I didn’t want to believe it

Because saying goodbye forever

Can only leave you feeling strange…

 

            Aku selalu takut untuk tertidur. Aku selalu takut kesedihan hari ini akan ikut bersamaku ke hari esok. Aku tidak suka merasa seperti ini. Sejujurnya, aku tidak ingin percaya bahwa penyakit ini sedang menggerogoti tubuhku. Aku tidak ingin percaya bahwa sebentar lagi aku pasti harus mengucapkan selamat tinggal untukmu. Aku tidak mau melukai hatimu… tidak mau.


I’m gasping for breath

I’m afraid my heart has stopped

How can I possibly believe you,

When you end our relationship without a warning?

 

            Sejujurnya, aku tidak sekuat itu… aku selalu merasa takut. Takut Sila akan meninggalkanku, takut Sila sedih begitu tau penyakit yang kuderita ini. Takut hati ini akan berhenti. Memang, semua harus kuterima. Cepat atau lambat aku akan memang merasakannya.


I don’t know why

I can’t move on

My feet won’t move

It feels unreal today

One side of my heart aches

 

            Hatiku selalu terasa sakit. Entah karena penyakit ini atau karena selalu membayangkan wajah orang-orang yang kusayangi. Jong Hyun-hyung, Onew-hyung, Key-hyung, Min Ho-hyung, Manager-hyung dan Sila… rasanya tidak sanggup meninggalkan mereka.


The ring I placed on your finger

Returns to my hand cold

I received my heart back in return

My LAST GIFT

Is this separation…


Benda dingin itu. Cincinkan? Apa Sila mengembalikan cincin itu kepadaku? Ini memang kesalahanku. Seharusnya aku siap menerima perpisahan ini, karena perpisahan ini pasti akan terjadi. Tapi, kenapa perpisahan ini yang harus jadi kado terakhir dalam hidupku.. kenapa aku harus merasakan perpisahan ini disaat-saat terakhirku?


Will there be any memories left?

Like the time I met you right out of a movie scene

Is it because my memory left me?

Of that I’m suffering alone

 

            Memori di otakku selalu berputar menghadirkan bayangan-bayangan kalian, hyung, sila.. Aku menyayangi kalian. Sampai kapanpun… walau terasa menyakitkan, aku akan selalu berusaha menunjukkan pada kalian, bahwa aku kuat, aku tegar…


I don’t know why

I can’t move on

It feels like you’ll come back

Perhaps right about now…

She’s going through a period of regret

I can’t even move my heart…

            Penyesalanku satu-satunya dalam akhir hidupku ini adalah, aku terlalu sering membuat hyung bersedih. Bahkan sampai detik terakhir dalam hidupku, aku tidak bisa membuat Sila tersenyum padaku… tapi, ingatlah selalu.. hatiku takkan berubah… perasaanku takkan berubah. Terutama padamu, Sila..

 

Author POV

            “Hyung.. bolehkah aku bernyanyi? Aku.. merasa wa-waktuku tidak lama la-gi…” suara pelan itu begitu menyentak kesadaran Jong Hyun. Ia segera mengetikkan sms kepada member SHINee lainnya.

            “As soon as I opened my eyes, I disliked it…

            Jong Hyun buru-buru membongkar tas ranselnya dan memasang handycam di sudut kamar dan langsung mengiringi suara Tae Min dengan gitar-nya.

            Lagu itu benar-benar keluar dari lubuk hati Tae Min. Nada lagu itu adalah prelude dari lagu SHINee, In My Room.

            Satu per satu air mata Jong Hyun menetes membasahi badan gitar akustik-nya yang sejak beberapa hari yang lalu selalu menemani Tae Min melalui alunan musiknya.

            Hatinya benar-benar bergetar. Suara jernih itu terdengar benar-benar merdu.

            Pintu kamar terbuka. Key, Onew dan Min Ho langsung masuk. Mereka terdiam mendengar alunan musik mengalun lembut mengiringi suara yang terdengar jernih dan merdu.

            Perlahan mereka mendekati ranjang Tae Min.

Tae Min POV

            Suaraku terus mengalun. Aku benar-benar merasa tenang saat ini. Aku merasa sudah rela kalau waktuku memang sampai disini.

Was it yesterday when things started going to a miss?

Where did it all go wrong exactly?

My heart can’t let you go…

Is it really the end?

 

            Hatiku perih. Sakit. Aku tidak sanggup meninggalkan kalian semua. Aku tidak sanggup meninggalkan segala kenangan selama hidupku ini. Tapi.. aku juga tidak ingin terus menerus menyusahkan kalian dengan kondisiku ini. Aku juga tidak ingin kalian bersedih dengan kondisiku ini.


It’s not easy for me like my farewell greeting

My heart won’t become mine to control

I guess I’ll have to make an indefinite decision to forget you

So I can bear with it all

            Tidak mudah mengucapkan selamat tinggal. Karena itu, lewat lagu ini.. aku mengucapkan selamat tinggal. Maafkan aku akan semuanya. Hyung-deul, Sila, shawol… aku akan selalu menyayangi kalian dilubuk hatiku yang paling dalam.

            Mendadak rasanya hangat sekali. Tubuhku terasa sangat ringan. Samar-samar mataku menangkap bayangan 4 orang namja sedang menatapku dengan senyum mereka. Telingaku pun dapat menangkap bunyi gitar di sekitarku. Sementara mulutku terus melantunkan lagu terakhirku. Tiba-tiba suaraku memelan…

            ”You’re my one last love…

            Kaulah cinta terakhirku… kalian adalah cinta terakhirku. Aku mencintai kalian, Onew-hyung, Jong Hyun-hyung, Min Ho-hyung, Key-hyung, Sila, Shawol… eomma, appa.. aku akan menyusul kalian…

            Suaraku langsung hilang. Detak jantungku terhenti. Seberkas silau putih langsung menyergapku. Ternyata saatku sudah tiba…

Beberapa bulan kemudian,

            “SHINee akan selamanya berlima bersama Lee Tae Min. Dia memang sudah meninggalkan kita semua, tapi dia masih hidup dalam hati kami. Dia akan terus berada di hati kami dan dia takkan tergantikan sampai kapanpun,” Onew berkata dengan matanya yang berkaca-kaca.

            Hari ini adalah hari peluncuran album spesial untuk Tae Min salah satu isinya rekaman video lagu terakhir Tae Min sebagai video khusus. Hasil penjualan album itu nantinya akan diberikan untuk amal.

            “Kami mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada agensi kami, teman-teman Tae Min, rekan media dan khususnya kepada Shawol, karena telah menyembunyikan ini semua,” ujar Min Ho mengakhiri, “Kami berharap semuanya bisa memaafkan kami semua.”

            Mereka sama-sama bow kearah para shawol dan wartawan yang meliput. Suasana haru kental sekali terasa.

            Setelah acara itu selesai, Onew, Jong Hyun, Key dan Min Ho turun dari panggung. Tampak seorang gadis tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

            “Oppa, maafkan aku. Aku tadi terlalu lama berada di makam Tae Min,” ujar gadis itu sambil menundukkan kepalanya.

            Onew tersenyum, “Tidak apa-apa, Sila.”

            Sila tersenyum kecil, “Sekali lagi aku minta maaf..”

            “Ne, tenang saja..” Jong Hyun tersenyum.

            Key mengangkat dagu Sila. Dilepasnya kaca mata hitam yang dikenakan Sila, “Kau menangis lagi kan?”

            Sila buru-buru mengusap matanya, “Aku merasa sangat menyesal dengan apa yang telah kulakukan, oppa.”

            Min Ho tersenyum, “Matamu jadi berkaca-kaca lagi.”

            “Sudahlah, Sila. Tidak apa-apa. Tae Min pasti sudah mengerti semuanya,” Onew tersenyum lembut.

            Sila mengangguk pelan. Matanya menatap ke cincin yang melingkar di jarinya, “Aku benar-benar merindukannya..”

            Key langsung memeluk Sila erat, “Dia pasti sudah tenang disana. Jangan menangis lagi, Sila. Tae Min pasti tidak ingin melihatmu begini.”

            “Maafkan aku… Tae Min, sekali lagi maafkan aku.. aku tidak cukup kuat menghadapi semua ini. Tapi, aku janji akan berusaha tegar. Aku mencintaimu…” gumam Sila dalam dekapan Key.

THE END…

 

Note:  Bisa dibilang, ini Last Message versi Tae Min. ^^ maaf kalo bikin nyesek dan salah-salah kata. Soalnya, aku nangis ber-ember-ember pas bikin FF ini. Makasih udah mau baca. ^^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

63 thoughts on “{CONTEST C} Lee Taemin’s Love In Suffer – Part 2 [END]”

  1. *speechless*
    *nangis*
    *ngusap air mata*
    daebak thooorr..
    Biarpun ini kedua kalinya aq baca ff ini, tp tetep aja mewek berlinang linang TT.TT

  2. aku sampe butuh banyak tisu gara2 nangis ga berenti ngebaca ending nya.. TT_TT
    ralat, aku gak berenti nangis sejak baca part 1 nya 😥
    ya ammpuuuun.. aku bener2 gak nyadar kalo aku nangis nya terisak thoooor! X( tanggung jawab! hehe ^^v
    FF nya sad bangeeeet T.T hebaaaaaaat

  3. Aigo Min, Tisu Satu kotak aku habisin, Feel nya dapet banget…. HHuuuuweeeeeeeee gak mau kalo taemin gini,
    DAEBAK POKOkNYA…….:”(

  4. Huaaaaaaaaa! Buat yang bikin, ini keren banget! Q hampir g bisa nangis klo nonton film sedih, bahkan ketika orang- di sekitar q nangis q biasa aja. benar-benar Daebak! q sampe keluar air mataku…. g mau bayangin lagi…..

  5. sudah yg keberapa kali aku baca..
    Tapi airmataku masih saja mengalir..
    DAEBAK!!
    Dan aku amat sangat berharap.. SHINee empat tahun kedepan, atau kapanpun, tidak mengalami yg seperti ini siapapun itu..

  6. Ini FF tersedih yang pernah aku baca
    Satu-satunya FF yang sukse ngebuat aku nangis… Pokoknya daebak!,hiks…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s