replay

R E P L A Y

Author : Yuyu

Editor : Galih

Main Cast :

  • Lee Taemin (SHINee)
  • Hwang Minyoung (Oc)

Support Cast :

  • Lee Jinki a.k.a Onew (SHINee)
  • Jung Yunho (DBSK)
  • Jo Youngmin – Jo Twins (Boyfriend)
  • Jo Kwangmin – Jo Twins (Boyfriend)

Genre : Romance

Length : Oneshot

a/n :: Waah, maaf baru sempet nongol lagi, dan bukannya datang dengan TPN 11, malah dateng bawa Oneshot~~

TPN Mungkin minggu depan, ato akhir bulan. Well, selain laporan yang numpuk di awal kemarin, pemadaman listrik total  selama berhari-hari ditambah lagi kompi yang rusak bener-bener menghampar proses TPN..

Please wait a lil bit more^^y

R E P L A Y

Taemin menatap keluar jendela dengan tatapan malas. Ia tengah menghitung menit untuk menunggu jam pulang sekolah. Begitu bel berbunyi, dengan segera Taemin meraih tasnya dan beranjak keluar dari kelas sebelum sahabatnya, si kembar Jo, berhasil mencegat Taemin dan memaksanya mengikuti acara-acara konyol mereka.

Taemin tersenyum pada dirinya sendiri setelah ia sampai di depan sebuah gedung TK tua di pinggiran daerah Gangnam.

“Taemin oppa! Kau datang lagi!” Teriak seorang wanita kecil dari dalam gedung yang kini berlari ke arah Taemin dan langsung melompat ke dalam gendongan Taemin.

“Aigoo, Euna-ya, apa kau bersikap manis hari ini?” Tanya Taemin sambil membawa Euna masuk ke TK. Euna mengangguk dengan bersemangat.

“Euna, jangan tiba-tiba berlari seperti itu, kau membuat eonni takut.” Omel seorang wanita begitu Taemin menurunkan Euna dari gendongannya. Euna hanya mengiyakan dengan santai sebelum ia kembali bergabung bersama teman-teman kecil lainnya.

“Omo, kau datang lagi Minnie.” Ujar wanita itu dengan senang.

“Tentu, Minyoung noona.” Sahut Taemin singkat.

“Wah, kelihatannya kau benar-benar suka dengan anak-anak.” Kekeh Minyoung sembari menyentuh puncak kepala Taemin dan mengelusnya pelan. Taemin menundukkan wajahnya dalam-dalam untuk menyembunyikan semburat merah yang mulai menjalari wajahnya.

Ia tidak suka diperlakukan seperti anak-anak, apalagi di panggil Minnie karena menurutnya itu terlalu girly, tapi entah kenapa ia sama sekali tidak membantah perlakuan Minyoung padanya.

Baru seminggu yang lalu mereka saling mengenal saat Taemin mengantarkan Euna yang tersesat kembali ke TK. Sejak saat itu pula Taemin selalu datang mengunjungi mereka. Ia suka pada anak-anak, tapi tujuan utamanya datang ke TK itu adalah untuk melihat Minyoung, gadis muda yang bersedia menjadi sukarelawan di TK ini.

“Ayo, masuk dan bantu anak-anak menggambar.” Minyoung menarik tangan Taemin dan menyeretnya ke salah satu ruang kelas. Minyoung terlihat sangat serius saat membantu seorang anak laki-laki menggambar robot hingga tanpa sadar ia menyembulkan ujung lidahnya yang terselip diantara bibirnya.

Taemin terkekeh cukup pelan agar Minyoung tak mampu mendengarnya.

“Oppa, kau memerhatikan Minyoung eonni lagi.” Ledek Euna yang duduk disamping Taemin.

Taemin tersipu malu, “Sssh, jangan katakan padanya.” Ucap Taemin lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir sebagai isyarat agar Euna tidak memberitaukannya pada siapapun. Minyoung memalingkan wajahnya saat mendengar bisik-bisik yang dilakukan oleh Taemin dan Euna.

“Kalian sedang membicarakanku?” Tanya Minyoung menyelidik sambil memicingkan matanya. Taemin dan Euna saling pandang selama sesaat lalu menggeleng bersamaan.

“Aku tidak percaya, kalian pasti sedang membicarakan kejelekkanku, huh.” Gerutu Minyoung. Terkadang Taemin tidak mengerti, bagaimana bisa wanita yang lebih tua 5 tahun darinya justru terlihat lebih kekanak-kanakan dibandingkan dirinya?

***

“Foto siapa?” Tanya sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari balik punggung Taemin. Taemin memutar tubuhnya dengan cepat lalu menghembuskan nafas lega saat ia tau ternyata pemilik suara itu adalah Lee Jinki, kakaknya.

“Jangan masuk ke kamar dan mengejutkanku seperti itu, hyung.” Omel Taemin.
”Aku sudah mengetuk berkali-kali, tapi sepertinya kau sedang berada di dunia lain dan tidak menyadarinya. Dan…” Jinki menghentikan kata-katanya sambil melirik ke arah hp yang sekarang disembunyikan Taemin di balik punggungnya. “Siapa wanita di dalam foto itu?” Tanya Jinki penasaran.

“Bukan siapa-siapa.” Gumam Taemin pelan.

“Kalau bukan siapa-siapa, kau tidak akan menyimpan fotonya di hp mu, dan kau tidak akan memandanginya selama berjam-jam seperti orang bodoh.” Jinki menaikkan alisnya, “Ah, apakah wanita itu adalah Min—hmm, wanita yang kau kenal seminggu lalu?”
Taemin menggangguk pasrah, “Namanya Minyoung.”

Taemin keluar dari kamarnya menuju dapur, diikuti oleh Jinki yang masih mengoker dibelakangnya. Taemin mengambil botol air minumnya dari dalam lemari es, menuangkannya ke cangkir sebelum ia meneguknya.

“Astaga, apa yang sudah dilakukan wanita itu pada dongsaengku ini, huh? Kau benar-benar sudah terpikat padanya bahkan sebelum kau mengetahui apapun tentang dia.” Ejek Jinki. Taemin memberengutkan wajahnya sebelum meminum air dingin.

“Kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?” Tanya Jinki lagi yang sama sekali tidak memerhatikan kejengkelan di wajah Taemin.

“Memangnya aku gila? Kami baru saja mengenal seminggu yang lalu dan sekarang hyung bertanya apakah aku sudah menyatakan perasaanku padanya atau belum? Bisa-bisa Minyoung noona lari ketakutan.” Cibir Taemin.

“Tsk, terserah kau sajalah. Tapi ingat satu hal, jangan menyesal kalau ternyata dia sudah menjadi milik orang lain sebelum kau sempat memerjuangkannya.” Jinki melambaikan tangannya di udara dan berlalu pergi, meninggalkan Taemin seorang diri yang mulai hanyut dalam pikirannya. Taemin menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir kata-kata Jinki keluar dari pikirannya yang tenang. Tapi hal itu benar-benar sulit karena kata-kata Jinki seolah telah melekat dengan erat di benaknya. Mungkin tidak ada salahnya jika Taemin mengikuti saran Jinki, karena biar bagaimanapun, Jinki adalah ahlinya.

***

“Hah!” Desah Taemin untuk yang kesekian kalinya. Dia terpaksa harus menemani si kembar Jo setelah mereka berhasil menariknya secara paksa lalu membawanya ke café ini sepulang sekolah. Harusnya, Minwoo lah yang menjadi rekan mereka untuk menghadiri kencan buta ini. Tapi karena Minwoo tiba-tiba saja berlari pulang dengan alasan ‘ada urusan penting di rumah’, jadi Taemin lah yang harus menggantikannya.

Entah apa yang sedang dibincangkan oleh Youngmin dan Kwangmin kepada tiga orang siswi dihadapan mereka, yang pasti Taemin sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkannya. Ia lebih memilih ke TK dan menemui Minyoung. Setidaknya, itu jauh lebih menyenangkan menurut Taemin. Mata Taemin menyapu jalanan melalui jendela besar di dalam café, berharap ia mendapatkan sedikit hiburan selama beberapa menit ke depan. Taemin meluruskan tubuhnya begitu ia melihat sosok yang ia kenal dari jendela. Seorang wanita dengan beberapa kantong belanjaan ditangannya berhasil mengembangkan senyum di wajah Taemin. Taemin berdiri dengan cepat dan berlari keluar café tanpa memedulikan teriakan Youngmin yang bertanya ada apa.

“Noona! Minyoung noona!” Teriak Taemin untuk menghentikan langkah Minyoung. Minyoung terkesiap pelan saat namanya tiba-tiba saja disebut. Minyoung memutar tubuhnya dan menghela nafas lega saat dilihatnya Taemin berdiri dihadapannya dengan nafas yang agak terengah-engah.

“Aigoo, kau mengejutkanku.” Omel Minyoung sambil berjalan mendekati Taemin yang hanya memberikan senyuman padanya.

“Noona, kau sedang apa? Kenapa belanja sebanyak itu?” Tanya Taemin sambil menunjuk kantong belanjaan.

“Ini untuk anak-anak.” Jawab Minyoung. “Kau sendiri? Sedang apa di sini?” Minyoung balik bertanya. Taemin sedikit memalingkan wajahnya, mengisyaratkan Minyoung untuk melihat ke arah café. Minyoung menatap ke dalam café dan melihat lima pasang mata tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya. Mulut Minyoung membulat tanda mengerti.

“Sedang kencan ya?” Ejek Minyoung sembari menyenggol lengan Taemin.

“Aniyo! Aniyo! Aku hanya menemani mereka saja!” Taemin menjulurkan kedua tangannya dan mengibaskannya dengan panik. Minyoung terkekeh pelan melihat reaksi Taemin yang dianggapnya berlebihan. Bagaimana pun juga Minyoung pernah mengalami masa-masa remaja seperti Taemin. Dan menurutnya itu adalah hal yang wajar.

“Kenapa harus panik seperti itu, huh?” Tanya Minyoung. Tangannya terangkat naik untuk menepuk puncak kepala Taemin dengan lembut. Taemin menggigiti bibir bawahnya untuk menahan dirinya sendiri agar tidak tersenyum lebar dan membuat Minyoung bertanya-tanya.

“Noona, aku akan menemanimu ke TK. Tunggu sebentar ya.” Ujar Taemin yang kembali berlari masuk ke café untuk mengambil tasnya tanpa memedulikan penolakan dari Minyoung.

“Siapa dia? Kekasihmu?” Sembur Youngmin dengan bersemangat begitu Taemin kembali ke meja mereka.

“Kau tidak pernah menceritakannya pada kami.” Ungkap Kwangmin yang lebih tenang. Taemin meraih tasnya dan menggelengkan kepala.

“Tidak, bukan kekasihku. Mungkin segera.” Taemin tersenyum kecil sebelum mengucapkan salam perpisahan dan kembali menghampiri Minyoung di luar café.

“Kau tidak harus menemaniku ke TK, Minnie.” Omel Minyoung.

“Tapi aku mau menemani noona.” Taemin bersikeras. Taemin melirik kantong belanjaan dan dengan mudah merampasnya dari genggaman Minyoung, “Aku akan membawakannya untuk noona.” Tawar Taemin dengan senyum ramah dan melangkah terlebih dahulu.

“Kau tidak perlu melakukannya.” Minyoung menggelengkan kepalanya, tapi juga tidak bisa menghentikan dirinya sendiri agar tidak tersenyum melihat perlakuan Taemin. Minyoung menyejajarkan langkah Taemin dan mereka berjalan dengan langkah-langkah kecil sambil menikmati semilir angin yang bertiup lemah.

“Oh! Tteokbokki!” Minyoung mengarahkan jari telunjuknya ke arah gerobak jajanan di seberang jalan sambil menatap Taemin. Minyoung berlari mendekati penjual tersebut dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa di dengar oleh Taemin.

Taemin mendekati Minyoung, berdiri tepat di sampingnya untuk mendengar apa yang sedang dibicarakan Minyoung.

“Aaaah~” Ucap Minyoung dengan tangan kanannya diulurkan pada Taemin sambil memegang sepotong tteokbokki yang diarahkan ke mulut Taemin. Awalnya Taemin terlihat ragu-ragu, tapi akhirnya ia membuka mulutnya dan membiarkan Minyoung menyuapinya. Minyoung tersenyum puas, kembali memutar tubuhnya ke arah penjual tteokbokki dan mengeluarkan sejumlah uang untuk tteokbokki yang telah mereka makan. Diam-diam Taemin merasa bersyukur karena Minyoung tidak memerhatikannya saat ini, kalau tidak Minyoung pasti akan bertanya-tanya kenapa wajah Taemin merona merah.

Taemin memalingkan wajahnya, masih sambil mengunyah tteokbokki dalam mulutnya dan menatap Minyoung dengan takjub.

Dia adalah wanita yang luar biasa, batin Taemin. Ini adalah kali pertamanya ia merasakan perasaan berdebar-debar seperti ini terhadap wanita. Taemin tidak pernah benar-benar memimpikan kehidupan asmaranya sebelum ia bertemu dengan Minyoung, dan tentu saja semuanya berubah sejak Minyoung menginjakkan kakinya di dalam dunia Taemin. Taemin masih ingat dengan jelas ketika Jinki mengenalkan pacar pertamanya dan membawanya kehadapan Taemin saat ia masih berusia 15 tahun, Jinki pernah bertanya wanita seperti apa yang ia inginkan sebagai kekasihnya kelak. Taemin mengatakan bahwa ia menginginkan seorang kekasih yang setia, seperti bunga matahari yang hanya selalu menatapnya seorang.

Tapi kenapa sekarang hal itu justru berbalik? Taemin justru merasa dirinya lah yang menjadi bunga matahari yang tak mampu bertahan tanpa Minyoung. Taemin tertawa pelan pada pemikirannya sendiri. Memang terdengar berlebihan, tapi begitulah kenyataannya.

“Apa? Ada apa?” Tanya Minyoung bingung begitu Taemin tiba-tiba saja tertawa.

“Tidak ada apa-apa noona.” Elak Taemin.

***

Minyoung membuka matanya dengan malas. Ia berbaring diatas tempat tidurnya lebih lama dari yang biasa ia lakukan. Minyoung menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Jika bisa, ia tidak ingin hari ini datang. Minyoung menutup matanya dengan erat, seolah itu bisa mengusir semua rasa takut yang melandanya saat ini. Yah, jika bisa. Minyoung menatap langit-langit kamarnya sekali lagi sebelum memutuskan untuk beranjak ke kamar mandi. Minyoung mengikat rambutnya dengan sembarang dan mulai mencuci muka sebelum ia menuruni anak tangga satu persatu.

Langkah Minyoung langsung terhenti. Ia memandangi sebuah foto dengan pigura yang mewah terpajang di dinding ruang nonton yang di dominasi warna putih itu. Berapa kali pun ia melihat foto itu, tetap saja rasa sesak menghampirinya dan ia tidak menyukai hal itu.

“Nyonya, sarapan anda sudah saya sediakan.” Kata Bibi Park, pelayan rumah yang kehadirannya tidak disadari Minyoung. Minyoung hanya mengangguk lemah, menatap foto dengan tatapan tajam dan melangkah ke ruang makan. Minyoung memerhatikan meja makan itu dengan lekat. Hanya ada satu set peralatan makan di sana, dan itu menggelitik rasa ingin tau nya.

“Dia belum pulang?” Tanya Minyoung.
”Tuan Yunho akan pulang hari ini, tapi beliau berpesan untuk tidak menyiapkan sarapannya.” Jelas Bibi Park. Minyoung tersenyum kecil sebagai ucapan terima kasih dan membiarkan Bibi Park kembali melakukan pekerjaan rumah lainnya.

Minyoung mengambil sumpit, mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Sebentar lagi, hanya dalam hitungan menit, semua penderitaannya akan kembali lagi. Dan Minyoung—seperti biasanya—tidak pernah punya pilihan lain selain menerimanya. Harus berapa lama ia hidup dalam ritme yang sama? Ia merasa lelah, tidak hanya fisik tapi juga batinnya.

Tiba-tiba saja wajah Taemin yang sedang tersenyum terlintas dalam pikiran Minyoung, yang membuatnya secara tidak sadar ikut tersenyum. Mungkin sejak seminggu lalu saat ia pertama kali mengenal Taemin, mungkin sejak itulah hidupnya sedikit berubah. Ada setitik harapan dalam kegelapan yang ia lihat, meski ia tak benar-benar tau ke mana harapan itu akan menuntunnya. Minyoung hanya bersyukur, sesulit apapun hari-harinya, masih ada Taemin yang bisa memberikan kehangatan baginya hanya dengan melihat senyumnya.

Deru mobil dari halaman rumah sontak membuat tubuh Minyoung menegang. Tangannya yang memegang sumpit membeku di udara dan bergetar pelan. Rasa takut kembali menyelimutinya bersamaan dengan bayangan wajah Taemin yang menghilang dari benaknya. Minyoung memfokuskan pendengarannya. Ia bisa mendengar suara Bibi Park yang bersahut-sahutan dengan suara pria. Jantungnya berdetak dengan sangat keras. Tetes-tetes keringat mulai terbentuk di keningnya saat Minyoung mendengar derap langkah yang semakin terdengar jelas.

***

“Noona baik-baik saja? Kau terlihat pucat.” Taemin mencerca Minyoung dengan sejumlah pertanyaan yang sama sedetik setelah Taemin melihat wajah Minyoung yang memutih.

“Aku baik-baik saja, hanya kurang tidur. Jangan khawatirkan aku, Minnie.” Minyoung tersenyum lemah untuk meyakinkan Taemin. Saat Taemin membuka mulutnya untuk kembali mengomel, Minyoung buru-buru masuk ke kelas dan duduk di sebelah Euna. Taemin mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Ia ingin sekali memastikan bahwa Minyoung memang benar-benar tidak sakit, tapi ia juga tidak ingin memaksa Minyoung dan membuat wanita itu kesal. Jadi Taemin memilih untuk mengalah dan tidak lagi mempermasalahkan warna muka Minyoung yang jelas memperlihatkan kalau dia tidak baik-baik saja.

“Ini adalah Minyoung eonni dan Taemin oppa.” Suara Euna berhasil menarik perhatian Taemin yang namanya disebut. Di dorong oleh rasa penasaran, Taemin mencondongkan tubuhnya untuk melihat secarik kertas berisi gambar yang menurut Euna adalah Taemin dan Minyoung. Taemin tidak bisa menahan senyumnya saat melihat gambar itu. Bukankah mereka memang terlihat serasi seperti di gambar itu?

“Minyoung-ah.” Panggil Go seonsaengnim. Baik Taemin maupun Minyoung sama-sama menoleh ke arah pintu dan melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi berdiri di sana.
”Bisa membantu untuk merangkai bunga di dalam ruanganku?” Pinta Go seonsaengnim.

“Tentu!” Sahut Minyoung penuh dengan antusias. Minyoung memalingkan wajahnya dan menatap Taemin dengan mata yang berbinar-binar, “Kau mau ikut membantu?”

Taemin membelalakkan matanya dan menggeleng dengan cepat, “Tidak! Aku tidak bisa noona!”
Taemin tidak ingin membuat kekacauan seperti yang ia lakukan sewaktu Key, teman Jinki, meminta bantuannya untuk memetik beberapa tangkai bunga. Itu adalah salah satu kejadian yang paling tidak ingin diingat oleh Taemin.

Bukannya menanggapi penolakan Taemin dengan serius, Minyoung justru tertawa dan menarik Taemin memasuki ruangan Go seonsaengnim bersamanya. Taemin memandangi tangkai-tangkai bunga dihadapannya dengan kening berkerut.

“Tenang saja Minnie, aku akan mengajarimu.” Minyoung meyakinkan. Minyoung menyodorkan gunting pada Taemin, mengajarinya cara menggunting ujung tangkai dengan benar. Akhirnya, berkat bantuan dari Minyoung, kepercayaan diri Taemin sedikit meningkat dan mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan rangkaian bunga mereka.

“Selesai!” Minyoung mengangkat vas yang berisi bunga hasil rangkaiannya, menatapnya dengan takjub dan tersenyum lebar.

Taemin menatap Minyoung tanpa berkedip, terlalu terpana melihat kecantikan yang ada dihadapannya. Minyoung menoleh saat ia merasakan tatapan Taemin pada dirinya. Senyuman di wajah Minyoung memudar saat ia melihat sorot mata Taemin yang memancarkan keseriusan. Dna karena suatu sebab, debar jantung Minyoung menggila. Waktu terasa tak lagi berputar bagi mereka berdua. Taemin memberanikan dirinya, mendekatkan wajahnya pada Minyoung dengan perlahan. Minyoung menelan air liurnya, agak kesulitan karena ia merasa ada sesuatu yang menyumbat kerongkongannya. Tapi selebihnya, tak ada yang Minyoung lakukan untuk menghindari Taemin.

Sebuah harapan tumbuh dengan cepat dalam diri Taemin. Mungkinkah Minyoung juga merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan? Mungkin Jinki memang benar, seharusnya Taemin menyatakan perasaannya daripada memilih untuk terus memedamnya.

“Minyoung noona..” Suara Taemin terdengar seperti bisikan bahkan ditelinganya sendiri saat menyebutkan nama Minyoung, “Saranghae..” Lanjut Taemin saat wajah mereka hanya berjarak beberapa milimeter saja.

Seolah baru tersadar dari mimpinya, Minyoung menggerakkan kedua tangannya, mendorong tubuh Taemin sebelum mereka sempat bersentuhan. Minyoung menundukkan wajahnya, nafasnya terasa sangat berat. Kata-kata terakhir Taemin telah menghantam Minyoung dengan keras dan menariknya kembali pada kenyataan.

“Ini salah…” Ucap Minyoung lirih. Minyoung memberanikan dirinya untuk menatap ke dalam mata Taemin. “Ini salah.” Ulang Minyoung sekali lagi.

“Aku tidak mengerti noona, apa yang salah?” Kedua alis Taemin saling bertautan. “Apakah karena usia kita?”

Minyoung mengangguk pelan. Taemin membuka mulutnya untuk kembali memprotes, tapi Minyoung membekap mulut Taemin dengan lembut.

“Itu adalah salah satu alasannya. Tapi yang terpenting, karena… kita berbeda.”

Masih saja Taemin tidak mengerti kata-kata Minyoung. Apa yang berbeda dari diri mereka? Minyoung mengambil tasnya dan berlari keluar ruangan.

Butuh waktu beberapa menit bagi Taemin untuk menyadarinya dan membuat dia mengumpat kesal. Taemin keluar dari ruangan dan mencari Minyoung, tapi wanita itu sudah tak ada lagi.

“Dia sudah pulang.” Ujar Go seonsaengnim saat Taemin bertanya padanya.

***

Taemin memandang ke sekeliling dan memerhatikan tiap-tiap rumah sambil berdecak pelan. Seharusnya kemarin ia tidak membiarkan Minyoung berlari pulang begitu saja. Hari ini Minyoung tak menunjukkan dirinya di TK, hal itu membuat Taemin sangat khawatir dan sekarang ia memutuskan untuk mencari Minyoung dan berbicara dengannya. Tapi sialnya, Taemin tidak tau di mana persisnya Minyoung tinggal. Yang ia ketahui tentang wanita itu hanyalah fakta bahwa dia bernama Hwang Minyoung dan lebih tua 5 tahun darinya. Selebihnya? Tidak ada.
Taemin menghentikan seorang wanita yang berjalan melewatinya untuk menanyakan tentang Minyoung.

“Hwang Minyoung?” Ulang wanita itu,”Ah, maksudmu Jung Minyoung?”
”Jung? Tidak, nama keluarganya adalah Hwang.”
”Memang, tapi sejak sebulan lalu, Nyonya telah resmi masuk ke dalam keluarga Jung. Saya Bibi Park, pelayan rumahnya.”

Masuk dalam keluarga Jung? Bukankah itu berarti…

“Bisakah anda mengantarkan saya?” Tanya Taemin dengan sopan. Meski ragu, tapi Bibi Park tetap mengantar Taemin ke rumah Minyoung.

Orang yang bernama Minyoung tidak hanya seorang, mungkin saja Minyoung yang dikatakan oleh Bibi Park ini adalah Minyoung yang lain. Itulah kalimat yang terus Taemin ulang di dalam hatinya.

“Tapi anda tidak bisa berlama-lama karena Tuan Yunho akan pulang sebentar lagi. Dan beliau tidak terlalu suka melihat teman Nyonya datang berkunjung.” Jelas Bibi Park setelah menunjukkan arah kamar Minyoung di lantai dua. Taemin mengangguk lemah sebagai jawaban.

Taemin menghirup nafas dalam-dalam untuk memberikan kekuatan pada dirinya sendiri sebelum melangkah masuk. Mata Taemin terus menjelajahi setiap sudut ruangan untuk mencari bukti bahwa Minyoung yang tinggal di rumah ini bukanlah Minyoung yang ia kenal.

Nafas Taemin tercekat. Sebuah foto bergambarkan seorang wanita dan pria di salah satu ruangan bernuansa putih mematahkan semua keyakinannya. Di sana—di dalam foto itu—ia melihat Minyoung yang berbalut gaun putih.

Taemin memandang anak tangga dengan ragu. Masih haruskah ia melihat wajah Minyoung setelah melihat foto ini? Tapi Taemin masih ingin memastikan, ia ingin melihat wajah Minyoung dengan matanya sendiri sebelum ia bisa menerima kenyataan ini.

Taemin mengetuk pintu kamar Minyoung berkali-kali, tapi tidak mendapatkan jawaban. Taemin meletakkan tangannya yang telah bergetar diatas pegangan pintu, membukanya dengan mata tertutup. Taemin membuka pintu lebih lebar agar ia bisa masuk ke dalam. Ia membuka matanya untuk melihat sebuah mimpi buruk. Memang benar dia adalah Hwang Minyoung. Memang benar wanita itu adalah Minyoung noona yang ia sukai, sedang berbaring diatas tempat tidurnya dengan pulas.

Taemin melangkah mendekat tanpa suara, takut kalau sedikit suara berisik saja sudah mampu untuk membangunkan Minyoung. Taemin tidak bisa bertatapan dengan Minyoung saat ini. Ia tak tau apa yang harus ia katakan pada Minyoung. Ia kehilangan semua kata-katanya. Taemin memerhatikan wajah Minyoung lekat-lekat. Ada bekas kemerahan di pipi putihnya. Taemin juga bisa melihat sisa-sisa air mata yang masih berbekas. Apa yang terjadi pada Minyoung? Hanya pertanyaan itu yang terus berulang dalam pikiran Taemin.

“Anda harus pulang sekarang karena Tuan Yunho sedang dalam perjalanan.” Panggil Bibi Park dari luar kamar. Taemin mengangguk lemah. Ia masih enggan untuk beranjak dari tempatnya berdiri sekarang, tapi kalau sampai suami Minyoung pulang lalu melihat Taemin berada di sini menjadi sumber masalah bagi Minyoung, Taemin lebih tidak menginginkannya.

Taemin mengetuk ujung sepatunya dengan ragu. Haruskah ia bertanya?

“Maaf, tapi apa yang terjadi pada Minyoung noona?” Tanya Taemin saat rasa khawatirnya pada Minyoung benar-benar tak bisa dibendung lagi.

Bibi Park hanya menatap Taemin selama beberapa detik, membuat Taemin berpikir bahwa Bibi Park tidak akan memberikan cerita apapun hingga akhirnya Bibi Park memutuskan untuk membeberkan semuanya pada Taemin.

“Sejak Nyonya menikah dengan Tuan Yunho, saya sama sekali belum pernah melihat Nyonya tersenyum. Tuan Yunho…” Papar Bibi Park panjang lebar.

***

Minyoung menolehkan kepalanya ke arah pintu TK, tapi sosok Taemin sama sekali tidak pernah muncul di sana.

“Eonni, kau sedang menunggu Taemin oppa?” Tanya Euna penasaran. Minyoung hanya tersenyum samar sebagai jawaban.

“Minyoung-ah.” Panggil Go seonsaengnim yang baru saja keluar dari ruangannya. “Kau dan Taemin bertengkar? Sejak kemarin dia juga tidak datang lagi ke TK.”

“Tidak, kami tidak bertengkar.” Elak Minyoung. Yah, apalagi yang bisa ia harapkan? Melihat Taemin datang ke TK dan bertingkah seolah-olah pernyataan cinta Taemin belum tersampaikan?

“Ada apa denganmu? Pipimu membengkak.” Rasa khawatir mulai muncul saat Go seonsaengnim memerhatikan wajah Minyoung dengan lekat. Bukan hanya pipi saja, di sudut bibir Minyoung pun ada bekas darah yang kini telah mengering.

“Aku baik-baik saja.” Elak Minyoung sekali lagi. Biasanya, Minyoung akan mengunci diri di dalam rumah sebelum semua memar di wajahnya menghilang. Tapi kali ini tidak. Ia ingin bertemu Taemin. Ia ingin melihat senyuman di wajah Taemin untuk memberikan kekuatan—meski hanya sedikit—padanya. Untuk itulah dia datang ke TK dengan  kondisinya saat ini. Tapi Taemin justru tidak ada. Bukankah memang seharusnya seperti ini? Apalagi yang bisa Minyoung harapankan setelah dia menghancurkan hati Taemin hingga berkeping-keping? Minyoung tertawa sinis, mencemooh dirinya sendiri yang mulai bersikap egois.

“Seonsaengnim, sebaiknya aku pulang dulu. Sampai jumpa.” Minyoung mengambil semua barangnya dan berjalan pulang. Lagi, setelah mendapatkan sedikit ketenangan di TK, sekarang Minyoung harus bersiap untuk menghadapi neraka.

“KENAPA BARU PULANG!?” Suara teriakan Yunho langsung menyambut pendengaran Minyoung begitu ia membuka pintu rumahnya. Yunho berjalan menghampiri Minyoung dengan langkah yang terhuyung-huyung.

“Bukankah sudah kukatakan padamu kalau orangtuaku akan datang hari ini? Kenapa kau malah berkeliaran? Brengs*k!!” Maki Yunho tanpa menunggu pembelaan dari Minyoung.

Tidak, kau belum mengatakannya, batin Minyoung.

Tangan Yunho terangkat naik, didaratkannya tangan besar itu di wajah Minyoung untuk kesekian kalinya. Minyoung tidak berteriak meminta ampun, tak juga meringis kesakitan. Ia sudah terbiasa dengan perlakuan kasar Yunho dan ia tau benar, semakin dia meminta ampun, semakin senang Yunho menyakitinya. Minyoung bisa mencium aroma alkohol yang begitu menyengat dari nafas Yunho. Hanya butuh waktu sebelum kesadaran Yunho menghilang. Hanya sampai saat itu, Minyoung harus bertahan sampai saat itu untuk menghilangkan penderitaannya.

Tak lama, tubuh Yunho ambruk seperti yang diperkirakan oleh Minyoung. Beberapa orang pelayan membawa Yunho ke kamar dan membaringkannya diatas tempat tidur. Minyoung duduk di sofa kamarnya setelah ia berhasil mengusir Bibi Park yang ingin mengobati lukanya.

Mata Minyoung terus menatap seorang pria yang berstatus sebagai suaminya. Kemarahannya membuncah meski tak ada yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan amarahnya, tidak seperti Yunho yang menjadikan dia sebagai sasaran. Bukan salahnya jika mereka harus menikah untuk kepentingan bisnis. Bukan salahnya karena terlahir sebagai Hwang. Siapa yang menginginkan kehidupan seperti ini? Jelas, Minyoung sendiri tidak pernah menginginkannya. Tapi ia juga tak punya pilihan—mungkin ada, tapi ia tak punya kekuasaan untuk memilih.

Jadi kenapa Yunho harus nenyalahkan Minyoung untuk takdir mereka? Kenapa hanya Minyoung yang disalahkan dan dianggap sebagai orang yang menghancurkan hidup Jung Yunho? Tidak taukah pria itu bahwa hidupnya juga berantakan saat ini?

Minyoung menekuk kedua lututnya, lalu merebahkan kepalanya diatas lutut sebagai tumpuan. Mengapa ia harus berakhir seperti ini? Bukankah semua orang pantas untuk mendapatkan kebahagiaan, termasuk dirinya? Andai saja ia terlahir di tahun yang sama atau bahkan setelah Taemin, mungkin semuanya akan berjalan lebih baik. Jika memang bisa, Minyoung ingin mengulang semuanya dari awal. Minyoung mendekap mulutnya, menahan agar suara isakannya tidak terdengar dan membangunkan pria yang berada di kamar yang sama dengannya.

***

Jinki menghempaskan tubuhnya di samping Taemin yang menatap layar televisi dengan tatapan kosong. Ada tatapan curiga yang diberikan oleh Jinki meski Taemin terlalu sibuk untuk menyadarinya.

“Yaaaa.” Panggil Jinki. Sikunya menyenggol pelan siku Taemin untuk menyadarkan Taemin tentang keberadaannya. Taemin menoleh dengan cepat, agak kaget karena tiba-tiba saja Jinki sudah berada di sampingya.

“Kau tidak pergi ke TK itu lagi untuk menemui Min—Min—hmm, wanita itu?” Tanya Jinki dengan nada datar.

Taemin hanya mendesah pelan sebagai jawaban. Pandangan matanya kembali terarah pada layar televisi, mencoba untuk terlihat sibuk agar Jinki tidak bertanya lebih jauh.

“Kalian bertengkar?” Jinki menegakkan tubuhnya. “Omo! Jangan katakan padaku kalau wanita itu sudah direbut oleh orang lain?” Jinki terkesiap dengan pemikirannya sendiri.

“Minyoung noona… Dia sudah menikah.” Jawab Taemin dengan suara yang nyaris tak terdengar. “Tapi yang tidak bisa kumengerti adalah, kenapa suaminya tega untuk memukulinya?” Taemin mengernyit saat ia mengingat bekas kemerahan di wajah Minyoung. Ia selalu mencari jawaban dari pertanyaannya, tapi tak sekalipun ia mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

Jinki menganggukkan kepalanya beberapa kali setelah mendengar jawaban Taemin.

“Hyung, bukankah mereka adalah keluarga? Lalu kenapa suami Minyoung noona tidak menjaganya dengan baik?” Ada sedikit nada kebingungan dari pertanyaan yang Taemin lontarkan. Jinki tersenyum tipis, menggosokkan tangannya di punggung Taemin untuk membuat adiknya merasa sedikit lebih tenang.

“Tidak semua hal berlangsung sepolos yang kau pikirkan, Taemin. Ada banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya.” Jinki melirik ke arah Taemin yang masih memiliki beberapa kerutan di keningnya. Tidak mendapatkan tanggapan dari Taemin, Jinki balik bertanya, “Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Apa lagi yang bisa kulakukan? Apakah aku masih punya pilihan?”

“Kau akan melepaskan Minyoung begitu saja? Bukankah kau bilang kau sangat menyukainya?”
”Lalu? Hyung memintaku untuk mengacaukan pernikahan mereka?” Sentak Taemin.

“Mengacaukan? Kau pikir Minyoung bahagia dengan pernikahannya saat ini? Selama ini, dia menderita seorang diri. Siapa yang tau apa yang akan dilakukannya ketika ia tak lagi sanggup bertahan? Sekarang kau tau tentang penderitaannya, dan kau memilih untuk diam?” Cerca Jinki.

“Tapi hyung… Aku hanya seorang anak remaja. Lagipula, apa tanggapan orang-orang jika aku dan noona bersama?” Terbersit nada memohon dalam suara Taemin, memohon untuk pengertian Jinki akan ketidakmampuannya.

Jinki tertawa sinis dengan dagu terangkat, “Di saat seperti ini kau masih memikirkan pandangan orang lain? Apakah mereka begitu penting, atau Minyoung yang lebih berharga bagimu? Siapa yang tau apa yang akan bisa dilakukan wanita rapuh seperti dia jika terus menerus mendapatkan tekanan seperti ini.” Jinki berdiri dengan kasar dan meninggalkan Taemin begitu saja, tak lagi ingin berdebat dengannya.

Taemin menundukkan wajahnya. Kata-kata Jinki hanya bisa menambah beban dalam pikiran Taemin. Tentu saja, Taemin juga ingin menyelamatkan Minyoung jika ia mampu. Tapi seperti yang Minyoung katakan hari itu, mereka berbeda. Masalah mereka bukan hanya usia, tapi juga status.

Taemin tidak ingin masyarakat menatap mereka dengan pandangan miring, mengacungkan jari telunjuk  pada mereka dan mencemooh. Itu hanya akan memberikan luka, tidak hanya pada mereka tapi juga orang-orang di sekeliling mereka. Taemin mengusap wajahnya dengan kasar, berharap gerakan sekecil itu bisa meringankan dirinya. Taemin mengangkat wajahnya, melihat sebuah kalender diatas meja. Ada satu tanggal yang terlingkari spidol berwarna merah. Taemin duduk berlama-lama hanya untuk menatapi tanggal tersebut.  Kedua tangannya terpaut erat sementara bayang-bayang wajah Minyoung kembali menghantuinya.

Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, ia membuat sebuah keputusan yang sulit. Bisa saja semuanya tak berjalan sesuai yang ia harapkan, tapi setidaknya ia harus mencoba. Taemin mengambil mantel yang tergeletak disandaran sofa lalu berlari dengan cepat, tak ingin menghabiskan satu detik saja untuk hal-hal yang tak berguna.

“Ya! Kau mau ke mana!?” Teriak Jinki begitu ia kembali dari dapur setelah mengambil segelas teh hangat untuk dirinya sendiri.

“Menyelamatkan Minyoung noona!” Sahut Taemin yang suaranya semakin terdengar menjauh. Jinki tersenyum puas. Adiknya bukan lagi anak kecil yang tidak tau harus berbuat apa. Salah atau benarnya apa yang ia lakukan sekarang akan menjadi tanggungjawabnya. Setidaknya, Taemin belajar bahwa tidak semua hal yang dianggap salah oleh orang lain adalah benar-benar salah.

***

“B*tch!!” Maki Yunho sambil meneguk minuman kerasnya. Minyoung hanya duduk diam di samping Yunho, tanpa ekspresi. Yunho menarik rambut panjang Minyoung dengan kuat, membuat Minyoung mau tak mau mengeluarkan suara rintihannya. Rentetan caci maki kembali dilontarkan Yunho dan dibiarkan Minyoung begitu saja.

Ini akan segera berakhir, itulah yang selalu diucapkan Minyoung pada dirinya setiap kali  Yunho mulai mengamuk. Yunho menarik rambut Minyoung sekali lagi, membuat kepala Minyoung ikut tertarik. Minyoung membelalakkan matanya begitu ia melihat sosok seorang pria yang ia kenal tengah berdiri di seberang jalan dengan mata yang terbelalak seperti dirinya.

Minyoung buru-buru menggelengkan kepalanya dengan pelan agar tidak terlihat oleh Yunho saat Taemin melangkah maju. Taemin mengepalkan tangannya di kedua sisi. Ingin sekali ia melangkah masuk saat itu juga dan menghantamkan pukulan pada makhluk brengsek itu kalau saja ia tidak melihat Minyoung menggelengkan kepalanya. Taemin hanya tidak ingin menambah masalah bagi Minyoung, jadi ia bertahan di posisinya saat ini.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Minyoung setelah ia berhasil menyusup keluar tanpa sepengetahuan Yunho. Rasa kaget karena Taemin tau tempat tinggalnya—bahkan Minyoung yakin Taemin sudah tau tentang statusnya—tak bisa mengalahkan rasa senangnya. Akhirnya, satu-satunya orang yang menjadi sumber kekuatannya saat ini berada dihadapannya.

“Waeyo noona? Kenapa kau tidak melawan? Kenapa kau harus membiarkan dia memukulimu seperti itu!?” Tanya Taemin tanpa memerdulikan pertanyaan Minyoung. Emosinya meledak. Hatinya terasa perih saat melihat adegan tadi. Ia marah, tidak hanya pada Yunho, tapi juga pada dirinya sendiri. Mengapa ia butuh waktu sekian lama untuk menyadari apa yang seharusnya dia lakukan sejak awal? Taemin tidak bisa lagi bertahan melihat wanita yang ia sayangi dengan sungguh-sungguh menderita lebih lama lagi.

Minyoung hanya menatap Taemin. Tak ada kata yang mampu ia lontarkan. Kemarahan Taemin mereda, tatapannya kini melembut. Taemin mengulurkan tangannya ke depan, menyentuh pipi Minyoung yang masih agak bengkak.

“Maaf noona…” Taemin menyingkirkan tangannya saat Minyoung meringis pelan karena rasa pedih di pipinya saat disentuh Taemin, “Seharusnya aku datang lebih awal. Seharusnya aku melindungimu, bukannya justru berlari pergi dan bersembunyi.” Taemin menarik nafas sedalam mungkin.

“Aku mengerti, tidak ada yang bisa kau lakukan. Tapi kumohon, tersenyumlah sekali lagi untukku dan aku akan baik-baik saja.” Minyoung tersenyum lemah sambil menahan desakan airmata yang bersiap mengalir turun. Taemin melirik jam tangannya. Jarum detik telah melewati angka dua belas, dua jarum lainnya yang semula berada di titik yang sama kini mulai berpisah. Hari telah berganti menjadi hari yang lebih baik.

Taemin tersenyum lebar, kembali memberikan kehangatan pada Minyoung seperti yang selalu ia rasakan selama ini.
”18 Juli.” Ucap Taemin. “Sekarang aku bukan remaja lagi noona. Aku sudah berusia 19 tahun, aku sudah bisa bertanggungjawab atas sebuah keluarga.”

Minyoung mengernyitkan keningnya, tidak mengerti maksud dibalik kata-kata Taemin. Sekali lagi Taemin tersenyum. Ia melangkah maju mendekati Minyoung hingga ujung kaki mereka saling bersentuhan.

“Menikahlah denganku, noona.” Pinta Taemin tanpa keraguan. Minyoung terkesiap, tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Taemin.

“Ta—taemin, jangan bercanda…”

“Aku serius. Aku akan membawamu keluar dari rumah itu, jadi percayakanlah hidupmu padaku noona.”

Minyoung menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu melangkah mundur.

“Ini gila, Taemin!” Erang Minyoung. “Tidak seharusnya kau memedulikanku. Seharusnya kau mencari wanita lain, wanita yang lebih jauh lebih pantas untuk mendampingimu daripada aku.”

“Tidak ada yang pantas dan tak pantas. Noona, aku hanya ingin tau apakah yang kau rasakan padaku sama seperti yang kurasakan?” Suara Taemin memelas. Taemin mengulurkan telapak tangannya, “Kalau noona juga menyukaiku, raih tanganku. Dan aku berjanji aku pasti akan menyelamatkanmu dari rumah mengerikan itu.”

Pandangan Minyoung beralih dari tatapan penuh harap yang diberikan Taemin pada uluran tangannya secara bergantian.

Minyoung menggerakkan tangannya—ya, Minyoung juga menyukainya meski ia masih merasa tak pantas karena merasakan perasaan seperti itu. Minyoung memajukan tangannya sedikit demi sedikit—ya, ia berharap seseorang menyelamatkannya dari penderitaan yang tak ada habisnya. Perlahan-lahan, Minyoung mulai meraih tangan di depannya—ya, ia juga menginginkan kehidupan bahagia yang selalu ia impikan. Minyoung mengepalkan tangannya, mengembalikan tangannya ke samping tubuhnya—tidak, ia tidak ingin menjadi egois dan menyeret Taemin dalam semua ini. Taemin pantas mendapatkan yang lebih.

“Maaf Taemin, aku tidak bisa.”

“Waeyo? Karena noona tidak menyukaiku?” Suara Taemin bergetar pelan, sarat dengan rasa sedih dan kecewa yang bercampur menjadi satu.

“Ini bukan tentang menyukaimu atau tidak. Hanya saja… Kita memang tidak akan bisa bersama, mengertilah. Aku tidak mau kau ikut terluka.” Bujuk Minyoung agar Taemin menyerah. Bukannya menyerah, raut wajah Taemin justru membaik.

“Bolehkah aku mengartikan rasa khawatirmu sebagai suka?” Tanya Taemin. Minyoung hanya terdiam, menatap Taemin tanpa mengerjapkan matanya. Taemin tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya sebelum ia menarik tangan Minyoung dan mendekapnya dengan erat.

“Ta—taemin!” Panggil Minyoung dengan gugup.

“Tidak masalah meski noona tidak menyambut uluran tanganku. Selama noona menyukaiku, aku yang akan menarik noona dan menyelamatkan noona.” Bisik Taemin lembut di telinga Minyoung.

Akal sehatnya mengatakan, ia seharusnya mendorong Taemin menjauh. Tapi yang dilakukannya justru kebalikannya. Berada dalam dekapan Taemin membuatnya merasa aman dan dia tidak ingin rasa aman itu menghilang lagi. Mungkin keegoisan Minyoung akan berakibat buruk. Mungkin hubungannya dan Taemin kelak akan dipandang sebelah mata oleh orang lain. Tapi itu semua tak berarti jika ia memiliki Taemin di sisinya.

EPILOG

Cahaya matahari mulai memenuhi kamar setelah Minyoung membuka tirai dengan lebar. Terdengar suara erangan dari balik selimut yang berantakan diatas tempat tidur. Minyoung terkekeh pelan sebelum beranjak ke sisi tempat tidur dan menarik selimut, memperlihatkan wajah Taemin dengan rambutnya yang berantakan.

“Oh noona! Kenapa kau membangunkanku sepagi ini?” Gerutu Taemin. Taemin mendudukkan dirinya. Sebelah tangannya mengucek matanya yang masih sulit terbuka sementara tangan lain mengusap tengkuknya yang terasa kaku.

“Dasar pemalas, ini sudah jam 8.” Cibir Minyoung yang berpura-pura marah.

“Benarkah?” Sahut Taemin diikuti dengan senyum malas. Taemin melingkarkan lengannya di pinggang Minyoung dan menariknya merapat.

“Jadi, apa yang noona lakukan di rumahku sepagi ini?” Taemin mendaratkan dagunya diatas pundak Minyoung dengan malas dan kembali memejamkan matanya.

“Jinki mengundangku datang.” Jawab Minyoung singkat.

“Hyung? Hyung mengundang noona? Ada apa?” Taemin langsung mengangkat dagunya dan mengambil sedikit jarak untuk menatap Minyoung.

“Tsk, kau tidak ingat hari ini hari apa?” Minyoung memberengutkan wajahnya dan menunggui Taemin yang sedang mencoba mengingat meski berakhir dengan gelengan kepala dari Taemin.

“Hari ini, adik kecilku ini akan bertambah tua lagi.” Ujar Minyoung sambil mengusap puncak kepala Taemin. Taemin menoleh ke meja belajarnya, melihat kalender yang terpajang rapi disana dan berdecak pelan.

“Astaga, waktu berlalu dengan sangat cepat!” Gumam Taemin. “Lalu, apakah aku bisa mendapatkan jawabannya sekarang?” Taemin kembali menatap Minyoung dengan penuh harap.

“Sudah setahun sejak aku melamar noona, dan sampai sekarang noona masih belum menyanggupinya.” Gerutu Taemin lagi. “Apakah noona tidak mau menikah denganku? Atau jangan-jangan, noona sudah menyukai pria lain yang lebih tua dari noona?”

“Neo paboya?” Omel Minyoung. “Untuk ulangtahunmu kali ini, hadiah apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin noona mengiyakan lamaranku!” Rengek Taemin.

Minyoung menutup mulutnya dengan rapat agar tawanya tidak meledak. Ia mengangkat tangannya dan memperlihatkan telapak tangannya kehadapan Taemin.

“Oh! Cincin!” Teriak Taemin saat ia melihat sebuah cincin putih melingkar di jari manis Minyoung. “Noona, kau serius? Kau menerima lamaranku?” Tanya Taemin tidak percaya.

“Karena ada orang yang terus merengek padaku, jadi dengan terpaksa aku menerimanya” Canda Minyoung.

“Terima kasih noona, terima kasih karena sudah bersedia menikah denganku!” Ucap Taemin yang tidak bisa menutupi rasa senangnya.

“Aku yang seharusnya berterima kasih. Kalau bukan karena kau, aku tidak akan berani mengambil langkah sulit itu setahun lalu.”

Wajah Taemin berubah serius. “Ini adalah hadiah ulangtahun terbaik yang pernah kudapatkan. Mulai sekarang, kita akan lebih bahagia lagi, benarkan?”

Minyoung menganggukkan kepalanya, tak kuasa menahan senyum hanya dengan membayangkan kehidupan baru mereka nantinya. Mereka tidak peduli meskipun beberapa orang masih memandang mereka dengan tatapan mencemooh, karena mereka tau inilah yang terbaik untuk mereka.

Masih ada banyak tahun lainnya yang akan mereka lalui bersama. Taemin yakin ia akan menjadi lebih dewasa dari sekarang dan mampu melidungi Minyoung dengan lebih baik.

“Happy birthday…” Minyoung menyelemati Taemin yang sekali lagi merayakan hari ulangtahunnya bersama Minyoung. Taemin merengkuh wajah Minyoung dengan tangan hangatnya. Taemin memberikan senyuman hangatnya sekali lagi sebelum ia memejamkan matanya dan mendekatkan wajah mereka.

“Taemin-ah!!” Terdengar suara Jinki diikuti suara ketukan pintu dari luar kamar yang langsung menghentikan kegiatan Taemin. “Cepatlah turun, kue ulangtahunmu sudah siap. Dan jangan melakukan hal-hal aneh sebelum waktunya!” Jinki memperingatkan.

Taemin hanya mengerang pelan sementara Minyoung tersipu malu.
”Ayo turun, sebelum Jinki kembali menggedor pintu kamarmu.” Kekeh Minyoung sembari menarik tangan Taemin. Taemin beranjak dari tempat tidurnya dengan malas-malasan, mengikuti setiap langkah yang diambil Minyoung.

“Noona..”
”Hmm?”
”Kau serius kan?”
”Tentang apa?”
”Bahwa kau menerima lamaranku.”
”Hmm …”
”Noona!”
“Iya, iya, aku serius. Sekarang berhentilah merengek dan cepat cuci muka. Aku akan menunggumu di lantai satu.”
”Noona.”
”Apa lagi Lee Taemin?”
“Saranghae~”
”Naddo.”

THE END

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

32 thoughts on “R E P L A Y

  1. soooo sweeeeeeeeeeeeeeetttttt !!!!!!!!!!!

    jinki oppa mengganggu ajja dhe ,, orang lagi asyik juga .. *dijitak jinki*

    critanya asyiik niey ,,, apalagi ngebayangin taemin yg cute ngelamar seorang noona …
    waahh ,, taeminnie keyeennn ..

  2. Duh cakep!!! Taemin gentle banget!!! Sneng d ma karakter taemin dsini!! Oh ya author tu sbnarx umur brapa sih? Jd bingung mau panggil apa… Pervert nerdx ditunggu ya… Dah dr kmrin2 loh q tungguin next partx

  3. AAAAAAAAA
    yunhooooo jahat banget jadi orang
    itu semua kan perjodohan
    ko tega banget mukulin minyoung
    untung ada super taemin!! *abaikan
    akhirnya lamarannya diterima
    mana dibangunin lagi pagi pagi
    ga kebayang muka taemin
    matanya masih sipit rambut acak acakan aishhh
    pasti lucuuu
    kerenn

  4. Uwawwwwww sweeettt..

    taemin mw umur berapapun kayanya ga bkal brubah…tetep aja unyuuuu…

    nice ff..

  5. Yuu Onniieee aku datangggg ^^
    Aku dah bebas dong deadline nyaaa kekeke
    siap baca TPN mu kekeke

    Oh! Itu jadi ceritanya Minyoung cerai ya onn sama Yunho?
    Oh iya! Akhirnya maniiissss >//<
    Suka!! ^^b

  6. hunyumenyeeeeh :3

    sweet banget sumpah!

    berarti taemin nikah di umur 20 tahun ya? janjangan akan beneran terjadi! wah wah wah

    kereeeeen!

  7. niatnya mau baca lanjutan TPN, ternyata belum d post, akhirnya baca ff ini deh.
    bagus banget, daebak! suka sisi taemin yg pemberani disini >,<

  8. Awawaw..
    Nice ff!!
    Penyusunan kata2 na daebak!!
    Aku jdi ngarep jdi noona na!!
    Taem dwasa bget!!
    Mkin cnta ama taem!!

  9. Oenni Yuyu nie kan FF yang di FB ntu kan ???

    Aku sudah baca loe . . . .😀😀😀 bagus kok

    Mga-mga Oennie yang menang ya *Amin . . .

    lanjutannya TPN kapan oen??😀😀😀

  10. Like this… hehehe
    Akhirnya Yuyu Onnie bikin FF tentang Taemin juga, hehehe, tapi kok tumben gada skinship nya?? hehehe
    Endingnya sweet banget, tapi gimana caranya tuh si Minyoung bisa lepas dari Yunho???
    Eh, betewe, Hwang Minyoung bukannya nama aslinya si Tiffany SNSD ya? Apakah Hwang Minyoug yang dimaksud sama dengan itu??
    Ditunggu TPN sama MBA-nya ya, aku kangen FF-nya Onew Oppa by Yuyounji,,,

  11. onnie,baru baca nih
    huh sumpah terharu bacanya
    kasian minyoung nuna(?)
    taemin tambah gede ya
    good job onnie
    onnie yg pervert nerd mana nih??
    udah lumutan nunggunya, penasaran sama seorin-minho, juga krystal-donghae
    jgn lama lama onnie

  12. aih urie baby udh gede…umur baru 19 udh berani ngelamar…
    terharu bngt sama sikap taemin wktu ngelamar minyoung…dstu sikapnya dewasa bngt…

  13. kerennnnnnnnnnnn………….
    tapi kok yunho jahat amat ya??? #digampar yunho:P# hahahaha…. tak apa lah… yang penting ff ini kerennnnn….

  14. yoonee | reenepott | chandra shinoda | justaqilla3598 | saranghaejonghyun | viera | ellajuli | hwangrijin | nikitaemin | chocopie hazelnut | Storm | anastasiawinata | alskey | iseul | agitaraka | AngeLeeteuk | Rin_Dan | Han Aikyung | Michelle / Choi inhee | mittaeminnie | Diezt | monica | leehyoseok | yolanduaar | Hanah | tariel | diahwidya | anggie key | linaSHAWOLforever
    gomawoyo^^

  15. Aigooo… Soo sweetnyah!! N keren bgt critanya yg ad aku jd spechless krna critanya… Choaa~ ^^v

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s