Hyori’s Life Channel – Part 3

Title              :     Hyori’s Life Channel  [part 3]

Author          :     deyamonk a.k.a milkyGreen

Main Cast     :     Han Hyori (imaginary cast), SHINee’s Taemin, SHINee’s Onew, Jung Soori  (imaginary cast), SHINee’s Minho

Supprot Cast  :       SHINee’s Key, SHINee’s Jonghyun, Lee Ji Ae (imaginary cast), Supir Van.

Legth            :     Sequel

Genre           :     Drama, Life, Romance

Rating           :     [T], [PG-13]

A.N               :     Annyeong reader deul~ ketemu lagi sama author gila yg satu ini 😀 gimana, masih setia kan sama FF ku? Mian banget ya, Part 2 kemaren kurang memuaskan, aku sendiri bacanya agak ilfeel. Semoga part ini jauh lebih baik J Oh ya, di part ini jalan ceritanya mulai keliatan. Aku bikin jalan cerita yang agak pelan, karena aku suka banget ngejabarin situasi dengan kata-kata yang banyak. Jadi, bisa aja FF ini hampir 30 part, kayak She’s My (Ex)Wife punya Kazikey Eonnie! Hehehe… Jadi jangan bosan-bosan untuk nungguin lanjutan FF sederhanaku ini, ya… and HEY, DON’T BE A SILENT READER, GUYS! Remember, Comment Like Oxygen!! Happy Reading 😀

 

“Kalau kau punya yeojachingu, yeoja-yeoja disekolah tidak akan mendekatimu karena mereka tau kau sudah menjadi milik orang lain. Dengan begitu, para namja tidak akan cemburu dan iri padamu, sehingga mereka akan berhenti mem-bully mu, Taemin!”

 

“Oh ya, kenapa kau tidak mencari yeoja itu lagi dan memintanya jadi yeojachingumu saja? Toh dia orang yang baik hati.” Usul Minho.

 

“Jadi, yeoja itu membayar ayam menggunakan kartu kredit, ya… Ini bisa memudahkan kita untuk mencari keberadaan yeoja itu, Taemin!” jelas Minho dengan nada sangat yakin.

 

Taemin memikirkan akibatnya nanti. Kalau si Noona mau menjadi yeojachingunya, kalau tidak, bagaimana? Lalu apakah Taemin harus menjadi seorang namjachingu yang berpacaran hanya untuk menghindar dari para fans-nya?

[Part 3]

“Minho hyung! Minho hyung! Ayo bangun!” ujar Taemin sambil menggoyang-goyangkan tubuh Minho yang masih terlelap di tempat tidurnya. Dengan sedikit kekerasan paksaan, akhirnya Minho bangun walaupun dengan setengah hati. “Ada apa, sih?” ujar Minho begitu bangun.

“Kau ingat kan, hari ini kau harus pergi ke bank untuk mencari nama yeoja itu!” ujar Taemin sambil menarik tas sekolahnya. Minho hanya menjawab dengan berdehem. Begitu Taemin keluar dari kamarnya, Minho merebahkan tubuhnya ke kasur dan tidur lagi.

Taemin menghampiri Key, Jonghyun, dan Onew yang sedang sarapan di meja makan SHINee Dorm. “Taemin, sarapan dulu.” Ujar Key sambil mengoleskan selai ke roti untuk Taemin. Taemin langsung menarik kursi dan duduk di meja makan. “Jangan pulang telat, ya. Manager Hyung bilang hari ini jadwal kita – kecuali Minho – lumayan padat.” ujar Jonghyun sambil menyeruput kopinya. “Ini rotinya. Onew hyung, jangan tidur lagi di meja makan, dong!” ujar Key sambil memberikan roti pada Taemin. Onew lalu mengangkat kepalanya dari meja makan dengan perlahan. Dan dia membuka mulutnya hanya untuk berkata… “Aku mau ayam.”

Taemin bergegas melahap rotinya, lalu langsung mengambil seribu langkah menuju sekolah. Sekarang yang dia harapkan adalah supaya hari ini disekolah hidupnya berjalan lancar. Semoga hari ini tidak ada satupun barangku yang diambil yeoja-yeoja.

Hyori kaget waktu tau Lee Ji Ae masuk kerja hari ini. Dia melihat Lee ji Ae sudah duduk di kursi ruangannya, lebih pagi dari siapapun. Dengan perlahan dia mendekati sosok yeoja cantik yang sedang membaca sambil minum kopi tu. Dia ingin menyapanya.

Tapi belum sempat Hyori membuka mulutnya, Ji Ae sudah memberi tatapan tajam. Hyori hanya tersenyum takut dan mengurungkan niatnya. Hyori berbalik dan pergi ke meja kerjanya. Kenapa sih, dia menatapku seperti itu? Aku kan, nggak berniat jahat. Emangnya aku kanibal, apa !? pikir Hyori kesal sambil membereskan beberapa berkas. Dia kaget saat melihat ada sebuah map biru di mejanya. Catatan Laporan Pekerjaan: Han Hyori. Begitulah tulisan yang tertera di sampul map itu. Perlahan Hyori membukanya.

Hyori langsung naik darah. Isi dari laporan itu sangat tidak masuk akal. Dan siapa lagi yang bisa memberinya laporan macam itu selain Lee Ji Ae? Hyori dengan geram menghampiri Ji Ae. Dia membanting map itu ke meja Ji Ae. “Maaf, aku tau aku lancang. Tapi isi map itu lebih tidak masuk akal. Apa maksudmu memberiku catatan laporan seperti itu?” ujar Hyori marah. Ji Ae langsung meletakkan cangkirnya dan menatap Hyori dengan tatapan tajam. “Dengar ya, pegawai baru. Semua yang ada dalam map itu adalah pekerjaan yang harus kau lakukan sebagai asistenku. Dan kau sangat tidak pantas untuk protes akan apa yang ada disitu.”

“Tapi apakah masuk akal kalau pekerjaan yang harus kulakukan sebagai asistenmu adalah membuat kopi, memfoto kopi berkas, membawa cemilan di jam-jam tertentu untukmu, dan membereskan ruanganmu setiap hari setelah jam pulang kerja?? Ini tidak adil. Aku asisten PD, bukan pembantu. Aku harap kau bisa memberiku pekerjaan yang lebih baik dari ini, Nyonya Lee Ji Ae.” Seru Hyori. Dia langsung meninggalkan map itu di meja Ji Ae, lalu kembali ke meja kerjanya. Ji Ae hanya memandanginya. Belum sempat Hyori duduk, Ji Ae sudah menegurnya. “Ya, asisten! Aku atasanmu, dan aku bisa melakukan apapun. Bukankah lebih baik kalau kau kuberi pekerjaan yang mudah-mudah seperti membuatkanku kopi dan membawakanku cemilan? Harusnya kau bersyukur sudah kuberi kemudahan. Lebih baik kau tarik lagi kata-katamu tadi sebelum aku berubah pikiran, Nyonya Han Hyori.” Seru Ji Ae. Amarah Hyori hampir mencapai ubun-ubunnya. Tapi Hyori menahannya. Uhhh… sabar, Hyori. Ingat, kariermu baru dimulai… batin Hyori.

Minho mendatangi sebuah bank di Seoul sambil membawa bukti pembayaran ayam. Minho mulai memasuki gedung sambil terus mengeluh. Kenapa aku mau saja repot-repot mencarikan Taemin seorang yeojachingu? Aku saja belum punya yeohachingu.

Setelah menunggu beberapa menit, nama Minho dipanggil. Begitu namanya dipanggil, beberapa orang menyadarinya sebagai seorang artis dan terus memperhatikan gerak-geriknya, begitupun beberapa pegawai bank. “Annyeonghaseyo. Ada yang bisa kami bantu?” Tanya pegawai bank. “Aku ingin tau siapa pemilik kartu kredit ini. Kalau bisa aku ingin tau nama dan alamatnya.” Ujar Minho sambil menyodorkan bukti pembayaran ayam itu. “Maaf, kami tidak bisa memberikan data nasabah ke sembarang orang. Kami baru bisa memberikan data nasabah bila nasabah tersebut sudah menyetujui bahwa orang lain akan menerima data pribadinya.” Jawab si pegawai. Minho hanya mendesah. “Bisakah anda menghubunginya sebentar? Tolonglah, saya sangat membutuhkan data pemegang kartu kredit ini.” Paksa Minho. Setelah menimbang-nimbang, si pegawai bank setuju. “Baiklah, kami akan menghubungi nasabah tersebut. Harap anda menunggu sebentar.” Ujar si pegawai. Minho menjawab dengan senyuman.

Sudah hampir 30 menit dia menunggu namanya dipanggil lagi. Minho masih memikirkan kemungkinan paling buruk yang mungkin terjadi. Bisa saja yeoja itu tidak mau memberikan alamatnya. Dia hanya bisa diam menanti sambil terus diperhatikan orang-orang sekitarnya. Ada yang hanya melihat, ada yang membicarakannya. Bahkan ada yang hampir menjerit karena senang melihat Minho. “Tuan Choi Minho.” Ujar si pegawai. Minho langsung menuju counter. “Kami sudah menghubungi nasabah tersebut, dan beliau hanya memberikan nomor telponnya. Dia bilang, dia hanya bisa dihubungi sekarang.” Ujar si pegawai sambil memberikan secarik kertas berisi nomor telpon. Minho lalu bergegas pulang. Aku harap semuanya berjalan lancar.

 

 “Hyori, aku merasa ada yang mengikutiku…” ujar Soori saat istirahat makan siang. Hyori hanya menaikkan sebelah alisnya. “Tadi, pihak bank bilang ada seseorang yang meminta alamat rumahku. Awalnya aku keberatan, tapi mereka bilang orang itu sangat membutuhkan alamatku. Akhirnya, aku memperbolehkan bank memberikan nomor telponku pada orang itu.” Hyori yang mendengarnya agak bingung. “Mungkin dia menemukan sesuatu milikmu. Seperti dompet misalnya?” ujar Hyori sambil melahap sandwich-nya. “Aku tidak kehilangan dompetku, kok. Lagipula, kenapa orang itu bisa tau kalau aku menabung di bank itu?” Tanya Soori sambil menyeruput Orang Juice-nya. Hyori hanya diam dan berharap tidak terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.

“Oh ya, soal kejadian waktu kau bertemu Taemin itu… Aku tidak bohong, kan?” ujar Soori memulai topik baru. “Tentu saja aku tidak bohong! Aku betul-betul bertemu Taemin SHINee! Aku juga sempat tidak percaya, tapi aku betul-betul bertemu dan memberinya ayam! Oh, Soori, kalau kau jadi aku, Kau pasti akan sangat bahagia!” jawab Hyori sambil mengingat kejadian waktu itu. “Aku sih, pasti biasa-biasa saja. Aku tidak akan memberinya ayam dan membayar ongkos taksinya. Kecuali kalau aku bertemu Key, lain lagi ceritanya…” ujar Soori sambil menyeruput Juice-nya. “Ah, kau ini, terlalu menyukai Key sampai-sampai melupakan member lain! Aku saja, sangat menyukai Onew tapi tetap membuka hatiku untuk member lain. Kau terlalu kaku, Soori!” ujar Hyori sambil menyikut sahabatnya itu. “Kalau aku hanya suka Key, mau bagaimana lagi? Member SHINee yang lain tidak special. Mereka hanya orang biasa. Berbeda dengan Key. Key itu suaranya bagus, dance-nya keren, rapp-nya juga hebat. Jago masak dan bersifat keibuan. Sangat jarang seorang artis seperti dia!” ujar Soori memuja-muja Key. Soori sangat cuek dan tidak terlalu mengurusi artis-artis, tapi hanya Key-lah artis yang sangat disukainya. Menurutnya, Key itu artis yang sempurna.

Our love should go on… I still love you!” handphone Soori bordering. Soori lekas mengangkatnya. “Yoboseyo?” ujarnya. “Ah, Annyeonghaseyo, Naneun Choi Minho imnida.” Jawab si penelpon. Soori terdiam. Hyori memberi isyarat menanyakan siapa yang menelepon. “Artis yang paling aku benci.” Jawab Soori. Hyori tersentak “Maksudmu… SHINee Choi Minho?” Soori hanya mengangguk. “Ada apa anda menelpon saya?” lanjut Soori dengan nada ketus. “Saya mengetahui nomor telpon anda dari bukti pembayaran pembelian 2 bungkus ayam 2 hari yang lalu menggunakan kartu kredit. Dari bukti pembayaran itu saya mencari nomor telpon anda lewat bank. Saya hanya ingin menanyakan, apa anda yeoja bernama Han Hyori yang 2 hari lalu bertemu SHINee Taemin? Taemin sedang mencari anda. Taemin ada perlu dengan anda.” Ujar Minho menjelaskan. Soori hanya diam sambil berpikir. “Saya memang membeli ayam 2 hari yang lalu. Tapi saya bukan Han Hyori. Saya Jung Soori. Han Hyori adalah teman saya. Kalau Taemin mau bertemu dengannya, lebih baik Taemin datang ke kafe XXX hari ini jam 5.30 sore. Apa bisa?” ujar Soori. Mendengar itu Hyori kaget sekaligus senang. Taemin mau bertemu denganku? Ini tidak bohongkan? Apa ini takdir? Atau jangan-jangan Taemin itu jodohku? Kyaaa!! *digaplok Taemints

Maaf, hari ini jadwal Taemin sangat padat. Kalau begitu, saya saja yang datang ke kafe XXX. Saya juga ingin bertemu dan melihat Han Hyori.” Jawab Minho. Dia dan Soori pun sepakat untuk bertemu di kafe XXX jam setengah 6 sore. Klik! Soori menutup telponnya.

“Soori, tadi kamu benar-benar bicara dengan Minho?” Tanya Hyori dengan sangat antusias. Soori hanya mengangguk. “Kita janji bertemu dengannya di kafe yang kemarin jam 5.30. Dia bilang, Taemin ada perlu denganmu, tapi dia tidak bisa datang hari ini karena jadwalnya yang padat.” Jelas Soori. “Wuah!! Yang benar aja, Soori! Kita bakal minum teh bersama SHINee Minho!???!! Ah, aku harus menulisnya di note handphone-ku. Dan… Ah, Aku harus pulang Soori!” pekik Hyori. “Loh, kenapa pulang?” Tanya Soori heran. “Aku harus ganti baju yang lebih bagus!”

Minho berjalan menuju kafe tempatnya akan bertemu Soori dan Hyori. Dia melirik jam tangannya. Masih jam 5. Batinnya. Dia memasuki kafe itu, lalu memesan Mint Tea hangat.

Minho memang tidak begitu tertarik dengan Hyori. Tapi dia lumayan penasaran dengan Soori. Mungkin saja Jung Soori seorang yeoja yang lumayan cantik. Kalau dari suaranya tadi, dia terdengar sangat anggun. Pikirnya. Dia menunggu dua yeoja itu sambil menyeruput Mint Tea-nya.

“Annyeonghaseyo.” Ujar seorang yeoja yang tiba-tiba berdiri di depan meja dan mengagetkan Minho. Yeoja itu memakai mantel biru yang lumayan tebal, karena hari ini salah satu hari yang sangat dingin di musim gugur. Wajahnya putih tapi pucat, sama seperti bibirnya. Matanya coklat alami, bukan karena contact lens. Rambutnya hitam pekat dan lurus. Poninya sangat panjang, hampir menutupi wajahnya, tapi rambutnya pendek, hanya setinggi pangkal lehernya. Perawakannya lumayan tinggi tapi kurus. Kedua tangannya masuk ke saku mantelnya. Sama sekali tidak elegan.

Minho menjawab salamnya dan mempersilahkan yeoja itu duduk. “Naneun Choi Minho imnida.” Ujarnya. “Naneun Jung Soori imnida.” Jawab si yeoja. “Jadi, anda yang bernama Jung Soori. Salam kenal.” Ujar Minho. “Ne. Aku sudah mengenalmu, kok.” Timpal Soori ketus. Dia hanya menatap kearah jendela. “Mmm… dimana Han Hyori?” Tanya Minho gugup. “Entah. Hyori bilang dia akan sampai disini tepat waktu. Tapi mungkin dia sedang sibuk. Tunggulah beberapa saat lagi.” Ujar Soori dengan nada pelan.

“Bolehkah… Saya tau umur anda? Saya takut salah memanggil anda.” Ujar Minho berusaha membuka pembicaraan. “24 tahun.” Jawab Soori singkat. “Ah, harusnya aku memanggilmu Noona…” Ucap Minho. Soori hanya diam. Keadaan sunyi senyap. Tidak ada yang bicara. Mereka berdua diam seperti membatu. Keduanya sungkan untuk bicara.

“Oh ya.” Ujar Soori tiba-tiba. Minho langsung menengadahkan kepalanya yang dari tadi tertunduk kaku. “Pelayan, aku pesan Black Coffee satu dan Milk Tea satu.” Lanjut Soori. Minho langsung lemas sambil menahan malu. Aku kira dia mau bicara denganku. Batin Minho. Tapi Minho lumayan tersentuh juga. Soori memesankan minuman untuk Hyori yang belum datang. Sepertinya, dia sebenarnya yeoja yang baik… Pikir Minho. Tanpa sadar Minho menyunggingkan senyuman kecil. Soori yang melihat itu jadi curiga. “Kenapa senyum-senyum? Aku memesan 2 minuman untukku sendiri, bukan untuk Hyori.” Ucap Soori ketus, seakan-akan bisa membaca pikiran Minho. Minho hanya melongo. Ternyata dia bukan yeoja yang baik! Pikir Minho kesal.

Soori berkali-kali melihat jam tangannya. Jarum sudah menunjukkan angka 6. “Ini sudah terlalu lama…” ucapnya pelan. Dengan cepat Soori menarik handphone dari saku celananya. Minho sedikit kaget melihat itu. Ini baru pertama kalinya dia melihat yeoja yang menyimpan handphone di saku celananya, bukan di tasnya. “Yoboseyo? Hyori-ah, kamu dimana sih?! Kami sudah menunggumu hampir 30 menit! Aku kan sudah bilang kalau kita bertemu jam 5.30!!” pekik Soori. “Ne, Arraseo! Aku juga bingung… Entah kenapa, Ji Ae seakan-akan tau kalau aku mau pergi ke kafe. Dia memberiku tugas tambahan mendadak! Dia menyuruhku membereskan studio setelah kita shooting tadi!” jawab Hyori. “Apa!? Aaagh, aku sangat benci nenek sihir itu! Ya sudah, aku akan pergi mengajak Minho pergi dulu, supaya dia tidak bosan. Kalau kau sudah selesai, telpon aku. Kami akan langsung kembali ke kafe.” Ujar Soori yang otomatis mengagetkan Minho. Mengajakku pergi? Kemana?! Apa aku diculik?!! Batin Minho. Soori lekas menutup telponnya dan menarik tangan Minho. “Ayo, ikut aku.” Ujar Soori. Minho hanya melongo sambil mengikuti Soori.

“Ji Ae, Jebal… Aku ada janji dengan temanku. Aku harus pergi sekarang…” pinta Hyori sambil terus menyapu. Dia memang suka bersih-bersih, tapi janji dengan Soori jauh lebih penting sekarang. “Tidak bisa.” Jawab Ji Ae singkat. Membuat amarah Hyori hampir dipuncaknya. “Ingat isi dari catatan laporan pekerjaanmu? Di poin terakhir, tertera tulisan bahwa kau akan mengikuti semua perintahku dan mengerjakan semua tugasmu sampai selesai. Tidak ada kompensasi. Harusnya kau mempertimbangkan ini sebelum memulai kariermu dibidang ini.” Lanjut Ji Ae sambil mengipas-ngipaskan map biru yang sangat dibenci Hyori itu. Hyori terus mencari cara supaya dia bisa cepat keluar dari sini sambil terus mengangkut beberapa property. “Berjanjilah padaku, kalau aku sudah selesai, biarkan aku pulang.” Ujar Hyori dengan nada tegas. Ji Ae hanya melirik, lalu menganggukkan kepalanya. “I cross my heart.” Lanjut Ji Ae. Hyori langsung tersenyum lebar. Dia berusaha mengusir rasa lelah yang sedari tadi numpang dipundaknya. Dia langsung mengangkut sofa merah panjang menuju ruang property.

“Akhirnya selesai…” ujar Hyori sambil menepukkan kedua tangannya. “Silahkan anda cepat keluar. Besok jangan terlambat.” Ujar Ji Ae ketus sambil perlahan menutup pintu studio dari luar. Hyori langsung berlari keluar studio, segera menuju lift dan keluar dari gedung. Dia terus berlari menuju kafe. Dia lupa menelpon Soori.

Ji Ae hanya menatap punggung Hyori yang makin menjauh dari jendela kantornya. Dia hanya tersenyum melihat sebuah handphone ditangannya. Lalu dia melempar handphone itu dan menangkapnya kembali. “Neoneun Ppabo ya, Han Hyori.”

Hyori sangat terburu-buru menuju kafe. Dia sangat merasa bersalah sudah membuat Soori menunggu. Dan tentunya dia sangat menyesal karena terlambat melihat salah satu idolanya, Minho.

Ting! Sebuah bohlam menyala di otaknya. Aku harus menelpon Soori dulu! Batin Hyori. Dia mengudek-ngudek tasnya. Tapi handphonenya tidak dia temukan. “Ah, dimana aku meletakannya, ya?” ujarnya. Sambil terus berjalan kecil, dia terus mengacak-acak isi tasnya.

TIIIIINNN~!!!!!! Bunyi klakson mengagetkan Hyori. Ternyata secara tidak sadar, Hyori mulai berjalan ke tengah jalan raya. Dia menengokkan kepalanya beberapa derajat, dan melihat bayangan sebuah van besar. Melihat itu, otak Hyori mendadak kosong. Dia hanya terdiam saat van itu terus mendekat ke tubuhnya yang membatu. Van itu terus mendekat. Supir van itu terus menerus memberikan isyarat untuk menyingkir sambil menekan kencang klakson mobilnya. Tapi Hyori hanya terpaku. Otaknya benar-benar kosong. Matanya mulai berkunang-kunang. CKIIIIIITT!!!

BRUUK!!

Hyori pingsan tak sadarkan diri. Seluruh orang dijalan berhamburan mengelilingi tubuh Hyori yang tergeletak di aspal. “Ah, kasihan sekali…” “Padahal dia masih muda…” kata-kata itu terus menerus diucapkan beberapa orang yang mengelilingi tubuhnya. Hyori perlahan membuka matanya, berusaha menyadarkan dirinya sendiri, tapi tidak bisa. Dia berusaha menggerakkan tangannya, tapi tidak bisa. Kakinya kaku, tubuhnya mati rasa. Apa aku akan mati? batin Hyori.

“Ah! Kwenchana? Kwenchana? Apa kau terluka?” ujar seseorang. Hyori sangat mengenal suara itu. Suara yang sangat merdu, yang sering sekali didengarnya. “Apa dia sudah sadar, Hyung? Aku heran, kenapa dia pingsan padahal van kita tidak menyentuhnya seujung jari pun?” ujar suara lain yang sangat familiar di telinga Hyori. “Mungkin dia shock, lalu pingsan. Ah, benar dia sudah sadar? Coba aku lihat! Apa tubuhnya terluka?” ujar suara lain yang terdengar sangat unik dengan nada keibuan. Hyori mulai benar-benar membuka matanya. Dia mengucek-ngucek matanya, berusaha memperjelas penglihatannya. “Kau sudah sadar? Cobalah untuk duduk.” Ujar si suara yang keibuan itu. Dengan setengah kesadarannya, Hyori mencoba duduk, dibantu oleh tangan-tangan orang-orang yang berbicara tadi.

Hyori memperjelas penglihatannya sekali lagi. Ah, silau! Batin Hyori. “Coba buka matamu perlahan.” Ujar si suara merdu. “Apa tidak lebih baik kalau aku memberinya minum?” ujar seseorang dengan suara super bass yang sangat lembut. Hyori yang sudah sadar sepenuhnya langsung terbelalak. “SHINEE!!!!!!!!!!!!!!??????????!!!” jerit Hyori. Jonghyun yang sedang menggenggam tangan Hyori, Key yang sedang membantu Hyori duduk, Taemin yang sedang memegangi kaki Hyori, dan Onew yang hendak mengambilkan air untuk Hyori, kaget setengah mati saat Hyori berteriak. Lalu Hyori pingsan lagi.

Hyori sudah terduduk di dalam van SHINee, dikelilingi Key, Jonghyun, Taemin, Onew, dan supir van (Reader : Duh, ganggu banget itu supir XD!!!). Hyori masih setengah percaya. Dia digotong ke dalam van, duduk dan dikelilingi oleh idolanya! Ingin pingsan lagi rasanya.

“Ini air putihnya.” Ujar Jonghyun sambil menyerahkan segelas air putih. Dengan tangan gemetar, Hyori mengambil air itu lalu meminumnya perlahan. “Apa kau terluka? Kakimu tidak apa-apa?” ujar Key sambil memijat-mijat kaki Hyori. Hyori hanya menggeleng dengan tatapan kosong karena masih tidak percaya dengan apa yang ada disekelilingnya. “Ini tasmu.” Ujar Taemin sambil menyerahkan tas pada Hyori. Hyori hanya menerimanya dengan tatapan kosong lagi. “Huuuh… Kami sangat khawatir tadi.” Ujar Onew yang berdiri di pintu van sambil menghela napas panjang. Hyori tidak percaya, suara merdu yang sangat diidam-idamkannya keluar dari mulut biasnya, langsung di depan matanya. Hyori dengan kikuk berusaha melihat wajah Onew. Onew yang melihat itu, langsung membalas dengan senyuman khasnya yang bikin melted. Hyori langsung lemas. Dia pingsan lagi.

“Ya! Jangan pingsan lagi!!” ujar Key setengah memarahi. “Ah, mianheyo…” ujar Hyori sambil berusaha menyadarkan dirinya sendiri dan melangkah keluar dari van. Taemin yang sangat khawatir menuntunnya keluar. Baru satu langkah Hyori keluar dari van, kepalanya sudah linglung. Keseimbangannya hilang mendadak.

Grep! Taemin dan Onew menahan kedua tangan Hyori sebelum dia jatuh. “Kwenchana?” ujar Taemin dan Onew bersamaan. Bukannya menjawab, Hyori malah diam. Wajahnya memerah. Dia terus diam, membuat Taemin dan Onew sedikit salting dan ceming. Dia tidak mau menjawab. Dia takut kalau dia menjawab, mereka akan melepas tangannya. “Ah, Mianhamnida!” ujar Taemin dan Onew berbarengan lagi sambil melepas tangan mereka dari tangan Hyori begitu mereka sadar apa yang mereka lakukan. Hyori langsung kehilangan semangat.

Sejenak Taemin memperhatikan wajah Hyori. “Loh, anda Han Hyori, kan? Yang waktu itu memberiku ayam dan membayarkan ongkos taksiku?” ujar Taemin saat sudah benar-benar mengenali wajah Hyori. “Ah, benar… Kau… Masih mengingatku?” ucap Hyori terbata. Taemin langsung menyunggingkan senyum super manis. Membuat Hyori hampir meleleh. “Aku ingin bicara denganmu. Aku… Eeng, bolehkah aku tau nomor handphonemu? Aku janji aku tidak akan usil.” Ujar Taemin memberanikan diri. Dengan sigap Hyori menarik tangan Taemin, dan menuliskan nomor di telapak tangan Taemin. “Kau bisa menghubungiku mulai dari jam 5 sore sampai tengah malam.” Ujar Hyori antusias. “Nah, jadwal kalian padat, kan? Cepatlah pergi. Aku sudah tidak apa-apa.” Ujar Hyori sambil mendorong Taemin dan Onew untuk masuk ke van. Hyori bahkan menutupkan pintu van.

“Kau yakin sudah tidak apa-apa?” Tanya Jonghyun sambil mengeluarkan wajahnya lewat jendela. Hyori tesenyum lebar. “Aku sudah tidak apa-apa. Melihat kalian dari dekat saja sudah membuatku merasa sangat sehat. Kamsahamnida karena kalian mau mengurusku.” Ujar Hyori sambil membungkukkan badannya. “Lain kali hati-hati, ya! Jangan meleng kalau sedang berjalan di jalan raya.” sambung Key. Hyori hanya mengangguk. “Cepatlah! Jadwal kalian sangat padat! Jangan membuat para SHAWOL kecewa!” ujar Hyori. Mesin van mulai dinyalakan.

“Ah, Kamsahamnida atas nomor handphone-nya!” ujar Taemin dari dalam. Mobil van mulai bergerak. Hyori baru sadar kalau dia ingin mengucapkan sesuatu. Hyori lalu melambaikan tangannya dan berteriak. “Onew!! Aku fans beratmu!! SHINee!! Kalian ternyata tampan sekali!!” Lalu Hyori melingkarkan kedua tangannya ke atas kepala, membentuk lambang hati. Dengan sangat bangga, dia meneriakkan kata-kata itu. “SHINee, SARANGHAEYO~!!!”

To be Continue —> Wuah, akhirnya Hyori dan Taemin berhasil ketemu lagi! Nah, bagaimanakah hubungan mereka selanjutnya? Apa akhirnya Taemin dan Hyori pacaran? Oh ya, kemana perginya Minho dan Soori? Apa yang terjadi dengan mereka? Apa jangan-jangan Soori beneran nyulik Minho? O.o Eits, jangan marah-marah dulu, para Taemints dan Flames. Tunggu jawabannya di part selanjutnya, ya! XD

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

4 thoughts on “Hyori’s Life Channel – Part 3”

  1. hah ?!!!
    ahahahahah ini realita !! wkwkwk
    biasanya kan malu2an ini mah kaga … gmna nasib minho sma ice princess
    ahahahah
    lanjut thor !! ji ae minta di tabok !!

  2. aku iriiiiii berat sama hyoriiiiii ……………!!!!!!
    enak bget bisa dikelilingin ama namja2 ganteng gituw ,,
    lanjooooottttt duunkkzzz !!!
    jngan lama2 ,, *ngancem author pake golok*

  3. AAAAAAAAAAAAA
    aku mau ketemu onewwwwwwwwwww ❤ ❤ ❤
    wah nih ff pas banget buat shawol! bisa bikin teriak2 sendiriiiiiiiiiii

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s