The Phantom of The Opera – Part 2

The Phantom of The Opera – Part 2

 

Author: Shin Chaerin

Cast: Lee Sooyun (imaginary), Lee Jinki (SHINee)

Support Cast: Key (SHINee), Kim Jonghyun (SHINee), Lee Taemin (SHINee), Choi Minho (SHINee), Leeteuk (Super Junior), Victoria (Fx), Shin Chaerin (author)

 

Genre: Mystery, Romance, Friendship

 

Disclaimer: Picture © Andrew Lloyd Webber’s film poster.

The story is adapted from Goosebumps: The Phantom of The Auditorium by R.L Stine.

Rating: PG-13

Length: Sequel

Warning: AU, typo, alur gaje

A.N: Khusus di FF ini, semua member Shinee beserta Sooyun dan Chaerin adalah seumuran.

Okay, Happy Reading 😀

Summary:

You must make the audience enjoy the show to finish..

 

Therefore you must finish the

story..

 

The story that never ends..

 

Previous story..

KYAAAAA!

Hah? Ada apa? Aku dan Key segera bergegas menuju belakang panggung.

Disana kulihat Jinki dan Chaerin memandangi lubang panggung itu dengan tatapan ngeri.

“A..ada apa?”

Aku dan Key berlari menghampiri Jinki dan Chaerin.

Kemudian kuarahkan pandanganku ke arah lubang panggung.

“Ya Tuhan! MISS VICTORIA!!!”

***

“Hei, ayo kita angkat Miss Victoria ke atas panggung!” teriak Jinki. Jinki dan Key berhasil mengangkat tubuh Miss Victoria dari lubang panggung. Diperkirakan ia pingsan setelah jatuh ke lubang panggung beberapa menit yang lalu.

“Anehnya, kenapa lubang ini bisa terbuka? Membahayakan saja!” ujar Chaerin kesal. Jinki dan Key membawa Miss Victoria ke klinik sekolah.

“Aku tidak tahu kenapa lubang panggung itu terbuka, mungkin Miss Victoria tidak sengaja membukanya dan malah terperosok jatuh”, ujar Jinki. Setelah membawa Miss Victoria ke klinik, kami bergegas kembali ke auditorium untuk membereskan barang-barang kami beserta murid-murid lain.

“Tapi bukannya lubang itu sudah lama tertutup rapat? Hampir 70 tahun tidak pernah dibuka kan? Ini aneh”, kata Key penasaran.

“Hei, bagaimana kau tahu?” celetuk Jinki.

“Itu Sooyun yang menceritakannya.” Aku mengangguk menyetujui perkataan Key barusan.

Tiba-tiba terlintas ide konyol dalam otakku. Ya, ide yang benar-benar konyol. “Hei, kurasa kita perlu menyelidiki lubang panggung bermasalah itu”, ajakku pada mereka yang kemudian mereka sambut dengan tatapan tidak percaya.

***

“Itu tidak lucu Sooyun-ah! Yang benar saja?!”

“Kenapa Lee Jinki? Kau tidak berani? Jangan-jangan kau takut hantu?” cibirku.

“Heh! Enak saja! Aku tidak takut tau! Aku hanya merasa itu tidak perlu.”

“Benar Sooyun-ah, untuk apa kita menyelidiki segala. Lebih baik kita fokus pada latihan kita saja”, ucapan Chaerin barusan sangat sangat berpihak pada Jinki.

Sial! Apa salahnya menyelidiki?

“Yah! Kau bagaimana?” tanyaku pada Key yang sedari tadi hanya bingung melihat kami berdebat.

“Ah.. Menurutku, itu tidak usah Sooyun-ah..”

“Wae? Kau juga takut hantu?”

“Aniyo, aku kan sudah bilang, aku tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Hanya saja kau memang tidak perlu bertindak sejauh itu”, kata Key sambil tersenyum dipaksakan.

Hebat! Sekarang tak ada satupun yang memihakku.

“Ya sudahlah kalau kalian memang takut, tapi tidakkah kalian penasaran ada apa di lubang itu?”

Mereka bertiga hanya saling pandang dan membisu bagai katak dalam tempurung(?).

“Tapi aku penasaran, maka dari itu untuk memuaskan rasa penasaranku harus ada yang menemaniku menyelidiki lubang panggung itu malam ini bersamaku”, ujarku penuh percaya diri.

***

“Aduh Sooyun, ayo kita pulang saja! Buat apa kita disini?!”

“Sst! Sudah kau diam saja! Kau sudah bawa barang-barang yang kuminta kan?”

“Ne, senter, air minum, baterai, kamera, sudah ada didalam ranselku.”

“Bagus, persiapan beres!”

“Kau yakin Sooyun?”

“Ada apa? Kau mau merengek minta pulang? Lagipula kita sudah di auditorium ini, tanggung kan?”

“Hhh terserah kau sajalah..”

“Ayo nyalakan sentermu! Sekarang saatnya kita masuk ke lubang panggung itu, Jinki!”

***

Aku dan Jinki berangkat menyelidiki lubang panggung itu berharap menemukan suatu kebenaran atau hanya sekedar lelucon. Tentu saja ini rahasia kami berdua, bersama Chaerin dan Key juga tentunya. Chaerin menolak kuajak karena katanya lebih baik tidur daripada melakukan hal bodoh seperti yang kulakukan sedangkan Key tidak diperbolehkan orangtuanya keluar malam. Kau tahu? Sebenarnya aku dan Jinki juga dilarang keluar malam. Tapi kami berdua selalu kabur lewat jendela dan bermain. Lagipula ini masih jam 10 lewat, bagiku ini sih masih sore!

“Hhh, kita sudah berhasil masuk tapi kurasa tidak ada apa-apa Sooyun. Kita sudahi saja ya? Aku lelah, lagipula udara disini pengap.”

Aku mengarahkan senterku ke lorong yang terbentang di hadapan kami berdua. Lorong ini panjang sekali, seakan-akan tak berujung. Aku baru tahu kalau isi lubang panggung ini ternyata lorong yang panjangnya sekitar 1 mil. Kalau begini bagaimana bisa mencapai ujung? Apalagi dari tadi kita tidak menemukan apa-apa.

“Baiklah kita kembali saja”, ujarku pasrah.

Setelah berjalan cukup lama rasanya ada yang aneh. Memangnya sejauh apa tadi kami berjalan? Kenapa tidak sampai-sampai ke pintu lubang panggung?

“Hei Jinki aku lelah, kita istirahat dulu”, aku berhenti berjalan kemudian mengambil ancang-ancang untuk duduk.

“Ya! Tapi kita harus cepat keluar dari sini! Ayo kau harus kuat!”

“Sudah berapa km kita berjalan? Kakiku pegal!”

Karena paksaan Jinki akhirnya mau tidak mau aku berdiri dan melangkahkan kakiku. Namun beberapa saat kemudian aku mendengar suara langkah kaki yang mengikuti kami.

Siapa? Si hantu kah?

Semakin lama suara langkah kaki itu semakin jelas terdengar. Jinki pun merasakan hal yang sama.

“Sooyun-ah, gawat! Ada orang selain kita disini!”

Aku menoleh ke belakang dan melihat sosok laki-laki yang tinggi, kurus dan bermata cekung.

Siapa dia?!

“Hei siapa kalian?! Mau apa kalian disini?!” teriak laki-laki itu.

Kakiku rasanya tidak bisa kugerakan karena takut.

“Kau sendiri siapa?” balas Jinki.

“Huh, namaku Leeteuk, aku pembersih sekolah malam. Memangnya kenapa?”

“Kau tinggal disini?” tanyaku.

“Iya, kuharap kalian segera pulang ke rumah dan tidak berkeliaran di tempat ini lagi!”

“Bukankah auditorium dan lubang panggung ini ditutup selama 70 tahun? Bagaimana kau bisa tinggal disini?” pekik Jinki.

“Bodoh, auditorium dan lubang panggung ini tidak dikunci. Kalian saja yang tidak tahu kalau setiap malam aku berkeliaran di sekolah kalian.”

“Ta..tapi..”

“Cepat pulang!!! Dan jangan pernah kembali kesini!!!” teriak Leeteuk. Suara Leeteuk menggema di lorong. Aku dan Jinki seketika mengambil langkah seribu menuju lubang panggung.

Beberapa lama kemudian kami melihat pintu lubang panggung yang bergerak ke atas. Jinki segera menarik pengaitnya dan lompat ke atas kemudian menarikku tubuhku..

Fiuhh, kami selamat. Jinki segera menutup lubang panggung itu dan kami bergegas meninggalkan sekolah.

***

Hari ini Jinki tidak masuk sekolah karena demam, mungkin akibat dari kejadian nekad kami kemarin. Keadaan Miss Victoria juga sudah membaik, ia kembali mengajar kami. Namun, karena Jinki tidak masuk sekolah, maka latihan drama kami ditunda.

“Hei, kau melamun?” ujar Key membuyarkan lamunanku.

“Ti..tidak, tidak ada.”

“Bagaimana petualanganmu dan Jinki kemarin, Sooyun?”

“Hhh Tidak seru! Aku tidak menemukan apa-apa. Mungkin kalau kau ikut, bisa jadi lebih seru.”

“Wah, bagaimana ya? Sebenarnya aku ingin ikut tapi orangtuaku melarangku keluar malam.”

Percakapan kami terpotong karena Miss Victoria sudah memasuki ruang kelas kami untuk memulai pelajaran. Namun, beliau tidak sendiri, ada seorang namja yang mengikuti di belakangnya.

“Anak-anak, hari ini kita mendapatkan teman baru lagi. Ibu harap kalian dapat berteman akrab. Ayo perkenalkan dirimu, nak”, ujar Miss Victoria mempersilakan namja itu. Namun namja itu hanya diam saja dan menunduk sehingga wajahnya tidak terlihat dengan jelas.

“Na..namaku, Lee Taemin”, ujar namja-anak-baru itu lirih sambil terus menundukkan kepalanya.

Belum sempat kami menyambutnya. Ia langsung berlari ke arah bangku paling belakang dan duduk manis disana. Namja aneh! Mungkin dia malu. Lalu Miss Victoria melanjutkan materi pembelajaran kami.

Saat istirahat, aku mencoba untuk mendekati Taemin. Karena dialah satu-satunya murid yang tidak keluar kelas sama sekali. Bahkan ia tidak bicara sepatah katapun saat ditanya oleh murid-murid lainnya. Sebenarnya namja ini manis, wajahnya tirus, matanya pun indah tetapi pandangannya kosong dan wajahnya pucat.

“Kau tidak apa-apa? Kau pucat sekali”, aku mencoba untuk menegurnya. Taemin tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya memandangku sebentar lalu kembali berkutat pada kesibukannya sendiri mencorat-coret buku catatannya.

Apakah anak ini autis? Dia sama sekali tidak meresponku. Aku menempelkan punggung tanganku di dahinya, namun segera ditepis olehnya. Dingin, dia tidak sakit, lalu kenapa wajahnya pucat sekali.

“Sooyun-ah, ternyata kau di kelas. Kau kucari kemana-mana.”

Aku segera menarik Key keluar kelas, saat aku mencuri pandang ke arah Taemin. Ia sedang menatap kami berdua dengan tajam.

***

“Key, namja yang bernama Taemin itu aneh sekali. Dia sama sekali tidak merespon kata-kataku. Namun sesaat sebelum kita keluar kelas, aku sempat melihatnya memandang kita dengan tatapan yang tajam.”

“Benarkah? Hm, tadi murid-murid yang lain juga sudah mengajaknya bicara namun ia sama sekali tidak merespon.”

Aku terus memandangi Key saat bicara. Hei, rasanya ada yang berubah pada Key.

“Yah!! Aku baru sadar kalau penampilanmu makin hari makin keren!!” pujiku.

“Hehehe, Aku hanya mengikuti saran teman-teman. Bagaimana menurutmu?”

“Daebak! Kau makin terlihat tampan. padahal kemarin-kemarin penampilanmu menggelikan. Aku jadi suka padamu.”

“Ne, gomawo”, balas Key sambil tersenyum padaku.

Hei, cuma segitu saja responnya? Aku jadi agak menyesal sudah bilang kalau aku menyukainya.

***

Keesokan harinya aku menemukan sebuah surat yang bertuliskan ‘JAUHI RUMAHKU!!’ yang ditulis dengan cat lukis berwarna merah di dalam lokerku.

Hey, lelucon apalagi ini? Setelah surat cinta menjijikan Minho, ia mengirimiku surat cinta karena aku belum pernah punya pacar selama 17 tahun aku hidup di dunia, sekarang datang lagi surat ancaman aneh entah dari siapa. Kalau tidak kerjaan Jinki, pasti ini kerjaan Minho, atau ada orang lain yang memang dendam padaku sehingga mengirimiku surat kaleng seperti ini, tapi siapa? Sebelumnya aku tidak pernah mendapatkan surat semacam ini. Aku juga bukan tipe orang yang suka mencari musuh.

Aku memasuki kelas dengan muka masam. Aku menghampiri meja jinki dan meletakkan surat ancaman itu di meja Jinki.

“Ya!! Apa ini ulahmu? Aku menemukan ini di lokerku.”

“Mwo? Aniyo! Untuk apa aku melakukan itu”, elak Jinki.

“Kau kan tukang iseng, kalau bukan kau lalu siapa?” tuduhku.

Jinki mengambil kertas itu kemudian berdiri di depan kelas.

“Teman-teman, aku butuh kejujuran kalian! Siapa yang melakukan ini?” ia mengangkat tinggi-tinggi kertas itu.

Semuanya hanya diam dan menggeleng. Namun, sekilas aku menangkap Taemin tengah tersenyum padaku, senyum yang tidak dapat kujelaskan dengan kata-kata.

***

Kami, para pemeran dan kru panggung berkumpul di auditorium sepulang sekolah untuk latihan drama rutin untuk festival kebudayaan sekolah. Kurang 2 minggu lagi, mau tidak mau kami semua harus bekerja keras.

“Baiklah anak-anak kita tidak punya waktu banyak, maka latihanlah dengan sungguh-sungguh.”

Ya kami benar-benar berlatih dengan sungguh-sungguh sehingga NG yang kita buat tidak sebanyak latihan-latihan sebelumnya. Aku mencoba untuk fokus pada latihan ini dengan tidak memikirkan masalah yang akhir-akhir ini memenuhi kepalaku. Tapi walaupun aku mencoba untuk fokus hasilnya malah aku menjadi melamun.

“Kau melamun?”

Aku menoleh ke arah sumber suara. “Key! Kau mengagetkanku tau.”

“Salah sendiri kau melamun, apa kau punya masalah?”

“Tidak, entahlah. Sejak kapan aku menjadi pemikir seperti ini ya hahaha” rutukku.

Tiba-tiba Key memelukku dan sontak jantungku rasanya hampir copot, “Sudahlah Sooyun, tidak usah kau pikirkan. Kau masih punya banyak teman kan? Aku yakin teman-temanmu pasti membantumu. Arasseo?”

Sebelum aku membalas ucapan Key, Miss Victoria kembali memanggil kami untuk mengambil take ulang adegan.

Saat kami sudah sampai ditengah-tengah pertunjukkan, tiba-tiba lampu panggung mati, karena ini masih siang, walaupun lampu mati panggung tidak benar-benar gelap. Tibalah saatnya adegan Sang Hantu yang menari bersama si gadis untuk menghibur si gadis dari kesedihannya. Selesai dengan adegan tersebut, Sang Hantu kemudian menghilang. Maksudku ia benar-benar menghilang di belakang panggung. Ia berlari ke belakang panggung kemudian masuk ke dalam lubang panggung dan menghilang.

“Jinki, kau mau kemana?!” teriakku. Belum sempat aku mengejarnya ke lubang panggung, aku melihat sosok yang sedang berlari tergopoh-gopoh menuju panggung.

“Ah maaf aku terlambat, tadi aku dari toilet. Apa adeganku sudah lewat? Kuharap belum.”

Semuanya menatap Jinki tidak percaya. Termasuk aku.

“Ji..Jinki, ini tidak lucu!” bentakku.

“Hah? Apanya?” ujar Jinki ling lung.

“Kau barusan memerankan Sang Hantu bersamaku disini!”

“Hah? Aku tadi ke toilet. Dan baru kembali sekarang. Memangnya apa yang terjadi?”

Keadaan murid-murid mulai ricuh, mereka berasumsi bahwa yang berperan sebagai Sang Hantu barusan adalah si hantu betulan yang telah menghuni auditorium ini selama kurang lebih 70 tahun alias siswa yang hilang dan diperkirakan tewas dalam lubang panggung 70 tahun lalu.

Kami semua menyudahi latihan drama ini atas perintah Miss Victoria. Saat aku berdansa dengan si hantu kenapa aku tidak sadar? Malah aku kira dia adalah Jinki. Apakah ia memang hantu betulan atau ini kerjaan iseng seseorang yang mengatas namakan si hantu. Kurasa ini ulah seseorang yang memang ingin mengacaukan drama kami dengan berpura-berpura sebagai si hantu dan menakut-nakuti kami. Tapi siapa?

***

“Memangnya siapa anak yang ingin menghancurkan drama kita dengan cara menakut-nakuti kita?” kata Chaerin setelah aku menceritakan padanya apa yang mengganjal dipikiranku. Aku sengaja mengajak jinki, Chaerin, Key dan Minho untuk mendiskusikan masalah ini di rumahku.

“Maka dari itu aku mengumpulkan kalian disini, kalian sudah kuanggap sebagai teman terdekatku. Aku ingin membuktikan apakah di lubang panggung itu memang bersemayam si hantu atau itu hanya akal-akalan murid yang ingin mengerjai kita.”

“Maksudmu?” ujar Minho bingung.

“Maksudku, aku ingin menyelidiki lubang panggung itu sekali lagi.”

“Ya! Waktu itukan kita tidak menemukan apa-apa? Kurasa percuma saja walaupun kita kembali lagi kesana”, kata Jinki.

“Tapi sekarang lain. Sudah jelas kemarin ada orang yang berpura-pura sebagai Sang Hantu kemudian menghilang di lubang panggung”, aku mencoba meyakinkan mereka.

“Sooyun-ah mianhae, aku tidak bisa ikut menyelidiki. Kau tahu aku kan?”

Aku hanya menghela napas, “Lalu bagaimana denganmu Minho?”

“Baby, kau tahu aku kan?” ujarnya memelas.

“Ya, aku tahu kalau kau pengecut dan takut hantu”, sindirku.

“A..aku tidak pengecut dan tidak takut hantu!”

“Oh ya?!” cibirku.

“Sudah sudah, kalian ini seperti anak kecil saja”, omel Chaerin.

“Baiklah baiklah, sudah kuputuskan. Yang berangkat menyelidiki lubang panggung malam ini adalah aku, Jinki dan Key”, jelasku.

“Eh? Aku juga?” sahut Key.

“Iya, kau kan pernah bilang kalau kau sebenarnya ingin ikut menyelidiki. Kau lupa?”

“Tapi Sooyun, orangtuaku melarangku keluar malam.”

“Tenang saja. Pura-puralah tidur. Setelah orangtuamu tidur, kau bisa keluar lewat jendela kan?”

“I..iya sih.”

“Kalau begitu sudah tidak ada masalah”, ujarku sambil tersenyum lebar.

***

Kami bertiga sudah berkumpul di dalam auditorium. Key berhasil mengelabuhi orangtuanya.

“Baiklah ayo masuk!” pimpinku.

“Sooyun-ah, aku takut”, ujar Key sambil menarik lenganku. Wajahnya imut sekali saat ketakutan seperti itu.

“Ya! Kau kan namja masa begini saja takut.”

Akhirnya kami bertiga memasuki lubang panggung dan menjelajahi lagi lorong gelap yang panjangnya sekitar 1 mil ini.

“Sooyun-ah, memangnya kau mencurigai siapa?” tanya Jinki.

“Hm, sebenarnya aku curiga pada err Lee Taemin. Dia anak yang super pendiam dan tertutup. Bahkan saat kutawari apakah dia ingin bergabung dalam drama, dia malah mengacuhkanku. Namun tak jarang aku melihatnya menatapku denagn tatapannya yang tajam. Apa ia tidak suka padaku?”

“Mana aku tahu”, timpal Jinki.

“Oh, jadi Lee Taemin itu hantu?” tanya Key dengan wajah super polosnya.

“Ani, aku kan tadi tidak bilang kalau Taemin itu hantu. Aku hanya curiga kalau-kalau dia yang ingin menakut-nakuti kita sehingga drama kita gagal. Tapi kenapa? Motifnya apa berbuat seperti itu? Apa karena dia membenci kita?”

“Tapi kita kan baru saja mengenalnya”, sahut Jinki.

“Atau ini ulah Minho? Kau tau kan kalau selama ini Minho sangat menginginkan peran utama. Pasti ini semua kerjaannya. Awas saja dia!”

Kami terus mengobrol selama menjelajah lorong. Tanpa sadar kami sudah berjalan sangat jauh. Dan sama seperti kemarin, aku tidak menemukan sesuatu yang aneh. Sudah kuduga hantu itu tidak ada. Masalah hantu yang tiba-tiba muncul saat latihan drama kemarin pasti cuma ulah iseng seseorang. Aku harus mencari tahu.

***

“Hey, cepat kemari, ruangan ini mencurigakan”, bisik Jinki. Aku dan Key segera berlari menghampirinya. Jinki mencoba membuka ruangan itu untuk memastikan ada apa di dalam ruangan itu. Akhirnya ruangan itupun terbuka. Ruangan ini terdiri dari perabotan kuno, kain-kain yang bertumpuk, ada banyak sampah makanan yang berserakan dan terdapat sisa makanan yang masih baru. Kemungkinan ada yang menghuni ruangan ini. Leeteuk kah?

“Apakah hantu itu tinggal disini?” tanya Jinki bergidik. Sudah kuduga dia takut hantu, lol.

“Well, tempat ini memang menyeramkan untuk ditempati manusia”, sahut Key.

“Memang ada manusia yang tinggal disini. Tapi aku tidak tahu pasti dia benar-benar manusia atau memang hantu betulan”, terangku.

“Hey, jangan-jangan yang tinggal disini adalah manusia pemakan manusia alias manusia kanibal”, ujar Key penuh kecemasan kalau-kalau kata-katanya benar.

“Ya!! Jangan malah menakut-nakuti seperti itu! Kau membuatku merinding tau!” bentak Jinki.

“Sudah-sudah! Jangan berdebat. Lebih baik kita pergi dari sini. Besok kita laporkan hal ini pada Miss Victoria. Dan katakan padanya kalau ada orang yang tinggal di dalam lubang panggung. Oke?”

Kami bertiga memutuskan untuk keluar dari ruangan ini. Selain udaranya yang super pengap, kami juga sudah teramat lelah sehingga kami tidak sanggup menelusuri lorong lebih jauh lagi.

“Ups, ada masalah”, kata Jinki.

“Ada apa?” tanyaku dan Key hampir berbarengan.

“Kita terkunci. Pintunya tidak bisa dibuka”, ujar Jinki ngeri.

“Jangan bercanda, Jinki! Cepat buka pintunya!” pekikku.

“Aku serius! Kita benar-benar terkunci”, ujarnya.

“Coba aku yang buka. Mungkin saja kau kurang kuat menarik gagang pintu”, tawar Key. Key segera meraih gagang pintu lalu menekan dan memutarnya kemudian menariknya dengan paksa.

Cklek

“Yes, berhasil!” serunya.

“Wow, kau hebat!! Kurasa kau bisa lebih diandalkan daripada Jinki, Key”, pujiku sekaligus menyindir Jinki. Jinki langsung mengerucutkan bibirnya.

“Haha, sesuai dengan namaku. I can solve anything”, ujar Key bangga.

“Ya! Kalian berdua! Berhenti mengejekku!” ujar Jinki bersungut-sungut.

Kami berhasil membuka pintu. Namun tampaknya kami tidak benar-benar terlepas dari masalah. Karena di hadapan kami kini sudah berdiri sosok yang menyeramkan dengan seringaiannya yang mengerikan.

***

Kami bertiga terbelalak ngeri melihat sosok yang tengah berdiri di hadapan kami.

“Huh, kalian lagi. Sudah kubilang untuk pergi dari sini. Apakah peringatanku kurang??”

“Ja, jadi kau yang menulis surat peringatan di lokerku?” tanyaku dengan suara parau.

“Aku tidak tahu apa yang kau maksud, nona. Tapi yang jelas kalian sudah menggangguku. Mengganggu ketenanganku. Kalian harus merasakan akibatnya!!”

Leeteuk mengangkat kayu yang dipegangnya tinggi-tinggi hendak mengarahkannya pada kami. Andwe!! Kami bertiga segera lari tunggang langgang. Naas, disaat seperti ini kakiku malah keseleo. Sial! Aku tetap memaksakan tubuhku untuk melangkah menjauhi Leeteuk yang tengah mengejar kami.

Jinki mengambil sesuatu dari ranselnya. Sekaleng coke yang belum diminumnya. Kemudian ia berbalik dan melemparkannya pada Leeteuk. Kaleng coke itu melayang tepat mengenai kepala Leeteuk. Hasilnya, Leeteuk tidak pingsan tapi malah semakin marah. Ya, Jinki memang bodoh! ck ck..

“Kau mau membuatnya pingsan dengan sekaleng coke? Yang benar saja?” protesku pada namja yang berlari disamping kiriku, Lee Jinki.

“Aku tidak punya senjata lain hh hhh, kuharap dia suka dengan coke yang kuberikan hehe.”

“Pabo!”

“Sial, dia masih saja mengejar kita!” rutuk Key.

Aku terkesiap ketika melihat setitik cahaya terang. Itu pintu lubang panggung! Aku berlari lebih cepat. Beberapa saat kemudian kami bertiga sudah tiba di depan pintu lubang panggung. Key membantu menaikkan aku ke atas kemudian disusul olehnya. Jinki menjadi yang terakhir naik ke atas. Saat Jinki berusaha naik ke atas panggung, Leeteuk menarik kaki Jinki sehingga Jinki terjatuh. Terjadi pergulatan singkat antara Jinki dan Leeteuk. Jinki berhasil mendorong Leeteuk sampai jatuh, kemudian ia segera melompat ke atas panggung dan menutup rapat pintu lubang panggung itu. Kami terkulai lemas. Aku tidak menyangka sekaligus lega, beberapa menit yang lalu kami bertiga dalam bahaya tapi sekarang kami selamat.

***

Esok harinya aku masuk sekolah seperti biasa. Wajahku kusut denagn lingkaran hitam menghiasi mataku karena kurang tidur.

“Bagaimana penyelidikanmu kemarin? Apa kau bertemu dengan hantu penyebab masalah itu?” tanya Chaerin lirih.

“Huh, bukannya bertemu si hantu aku malah bertemu orang gila!”

“Hah? Benarkah?”

“Benar, kemarin kami hampir dalam bahaya tapi kami dapat meloloskan diri.”

“Apakah orang gila yang kau temui itu si hantu?” tanya Chaerin penasaran.

“Entahlah. Tapi yang jelas, dia hantu atau bukan, dia sangat mengerikan.

Secara tidak sengaja aku menoleh ke arah Taemin. Lagi-lagi ia tersenyum padaku, senyuman yang dingin.

***

Sepulang sekolah tepat aku, Jinki dan Key pergi ke auditorium. Tapi kurasa yang lainnya masih belum datang termasuk Miss Victoria. Saat kami tiba di auditorium, mata kami bertiga langsung terfokus pada sesuatu yang terpampang jelas di background panggung. Kami menatapnya dengan ngeri, kain putih yang menempel di background panggung dan ditulisi dengan menggunakan suatu cairan berwarna merah pekat seperti darah, disitu tertulis,

MENJAUH DARI RUMAHKU!!

 

~To be continued~

Yeah, part 2 is end! Mian ya kalo semakin lama ceritanya semakin gaje haha. Tapi saya akan berusaha menyelesaikan FF ini.

Mind to Review??

Just write what you think about my ff in the comment box below.

^^ Gomawo ^^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

26 thoughts on “The Phantom of The Opera – Part 2”

  1. Sebenernya leeteuk itu siapa dan kenapa? Horooorrrr(?)
    Terus Taem aduduhh misteriussss! Mana senyum dingin gituu, hiiii._____.
    Terus hubungannya yang minho itu apa ya? Hmmmm makin penasaraan!!!
    Lanjuuutttt:D

  2. wachh ,, seru nich …..
    taemin yg aneh ,, tp koq aku malah curiga ama key yaaa ?????
    entah kenapa aku bisa curiga ama dy ..
    hehehehehe ,,,,,, kykna uwda error nich otakku ..

  3. Taemin mencurigakan, namun Key juga mencurigakan. dilihat dari first support castnya, sepertinya Key lebih ‘bermain’ wkwkwk

    muka sangarnya Leeteuk kayak apa thor? gabisa ngebayangin -__-

    seru! lanjut thorrr ^^

  4. Ahhhh… baca awal-awal paragraph udah bikin jantung teriak! pikiran jadi horor!
    Whoooaaaa… keren! Tapi aku ga bisa baca sampai habis ya.. maafff… =[
    as i said before, chaerinnnn aku ga bisa baca horor huhuhu..
    aku vampire masih oke. Tapi klo udah hantu-hantu aku nyerah deh hahaha..bisa ga tidur 3 hari 3 malam aku T.T

    But overall! THIS IS COOL!! d^^b
    COOL! COOL! COOL!! ^^

    1. hey stormmmm…..takut hantu ya? hohohoho
      makasih ya udah ninggalin jejek ^ ^
      sayang banget kmu ga bisa baca ampe habis…tapi gapapa..
      smangat!!!

      btw, secret of dawn 6 mana? kok lama publish nya !!! udah ga sabar nih..

  5. Yee..part 2 beres..

    Wooh itu Leetuk nya penuh misteri.. Dia siapa dan apa maksudnya?
    Tapi kayanya dia baik, mungkin maksudnya ngusir, supaya ngejauhin anak2 dari bahaya auditorium.. Nah itu Taemin apa2an coba?? senyum-senyum aja,, hiii

    Nah atau Minho? Taemin? Jonghyun ? Miss Victoria kah? hantunya… bingung??

    Mau lari ke part 3 aja ahh~~ ck..ck

  6. seru~~~
    taemin kok penuh misteri gitu sih? *pelototintaemin*
    leeteuk tinggak di lubang panggung?
    hehe :p
    siapa sih hantu yang sebenarnya >.<
    lanjut ke part 3…

  7. Seriously! aku ga bisa nebak nih soal hantu itu bener apa engga dan siapa sebenernya yang kirim terror ke Sooyun.
    awal2nya kira Key, tapi tiba2 kepikiran jgn2 Minho, dan yang terakhir muncul Taemin. Jadi tambah bingung siapa sebenernya dalang di balik semua ini *eciyeehhh*
    Nah, tebakan konyolku nih. Jgn2 Chaerin lagi dalangnya.hha. *ngarang*

    oKEY, ini keren sekali dan aku enjoy banget baca ini tengah malem.hhe. itung2 before sleeping story lah yaa.kekek. b^^

  8. nggak peduli si hantu ada ap enggak…
    klo pun ada, nggak peduli jg siapapun hantunya,
    yg aku mau…
    Lee Jinki baik2 aja… deg2an bacanya… hati2, oppa…
    (apaaaaan…ni komentar! gak nyambung, SDM… (Selamatkan Diri
    Masing2, mksudnya…))

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s