Go Away – Part 3

Title: Go Away
Genre: Romance, Sad, Friendship
Author: Reene Reene Pott
Rating: General

Main Cast : Choi Minho, Lee Son Hee

Supporter Cast : Goo Hara, Donghae, Park Nah Ra, Oh Jae Jin, Kim Hyun Jae
Legth: Chaptered
Language: Indonesia

Chapter 3

 

“Oh yeah? Kalau oppa masih menyimpan perasaan terhadapnya, kenapa oppa menikahi Hara eonni?? Bukankah itu hanya menyakitinya??” melihat  Minho  diam semiliar bahasa, Sulli akhirnya berkata, “Sudahlah, aku malas membahas ini. Aku harus kembali ke kantor. Oppa juga,”

“Ne, kau benar,” Akhirnya kedua kakak-beradik itu kembali ke kantornya.

Son Hee’s POV

“Son Hee-ah, kau yakin tidak pulang bareng kami?” Nah Ra bertanya dengan pandangan berharap.

“Mianhae, Nah Ra, aku masih ada urusan,”

“Baiklah Tapi telepon aku jika kau sudah sampai rumah dengan selamat,” Aku mengangguk. Setelah mereka semua pergi, aku baru mau membereskan barang-barangku dan melangkah keluar kantor. Mianhae, Nah Ra-ah, aku harus membohongimu. Aku sama sekali tidak ada urusan malam ini. Aku hanya ingin sendiri sekarang. Kakiku melangkah ke sebuah toko buku. Ya, manga selalu bisa mengusir kepenatan hatiku yang sedang keruh sekarang. Sedang asyik-asyiknya memilih komik, tiba-tiba punggungku menabrak seseorang.

“Jeongmal mianhaeyo, aku…” Aku mengadah dan napasku tercekat. Dia ada di sini…

“Lee… Son Hee? Sedang apa kau di sini?” Aku terpaku sesaat. Bingung harus melakukan apa.

“Tidak ada apa-apa. Permisi…” Dari mana datangnya pikiran itu? Aku hanya berpikir saat ini aku harus berada jauh darinya. Dan ternyata kakiku setuju. Aku melangkah sangat cepat setelah membayar semua komik, meninggalkan orang itu yang menatapku heran. Kenapa harus di sini? Aku mencari ketenangan malah mendapat ketegangan. Aku baru saja bertemu Minho  tanpa istri dan anaknya. Dan itu membuatku sangat bingung sekaligus gugup, marah, kecewa, sedih, senang, dan takut bercampur sekaligus.

Bingung bagaimana bisa kami bertemu, gugup harus bersikap bagaimana, marah karena tidak mendapat penjelasan yang jelas 4 tahun lalu, kecewa mendapati dirinya telah menikah (Well, ini pribadi), sedih karena telah meninggalkanku tanpa alasan, senang bertemu dengannya lagi dan tanpa terasa sosoknya selalu kurindukan, takut bila terlihat orang lain apakah akan tejadi skandal atau kesalahpahaman.

Tanpa terasa aku telah melangkah tanpa arah. Ini bukan arah ke apartemenku, melainkan ke rumah Jae Jin. HAH? Kenapa aku malah ke sini? Kurag kerjaan! Aku berbalik dan ternyata Jae Jin telah membukakan pintu. Hei, aku bahkan tidak memencet bel rumahnya!

“Hei, Son Hee-ssi, sedang apa kau malam-malam begini ke rumahku?” Tanya Jae Jin sambil mengacak-acak rambutnya. Matanya suntuk, ia memakai piyama. Jelas sekali ia baru bangun tidur.

“Aniyo, cuma lewat. Bagaimana kau tahu?” Aku mengerutkan kening. Jae Jin ini punya indera keenam ya?

“Aku sedang memanaskan air ketika aku melihat dari jendela kau sedang menatap heran ke arah rumahku.” Jawabnya sambil mengucek-ngucek mata. Aku hanya dapat membuat bibirku membentuk huruf O.

“Ya sudah. Aku pulang ya! Annyeong!” Kataku sambil membalikkan badan.

“Ne, annyeong,” Jae Jin kembali masuk ke dalam rumahnya.

Sekarang aku harus memfokuskan pikiranku ke jalan pulang. Aku sampai di rumah sekitar jam 12 pm KST. Malam amat? Yah, aku memang lebih sering pulang malam daripada pulang pagi. Lagi pula besok libur kerja sehari. Bos mengatakan wajahku sudah seperti Mak Lampir yang ada di film-film horror  Indonesia . Kumel, kucel, lelah, sayu, pucat, apalah yang mereka katakan. Aku hanya bisa meringis. Sekarang aku harus mandi, ganti baju, dan tidur!

ZZzzzz…

ZZzzzz….

KRINGGG!!!!!

KRINGGGG!!!!!!!!!!!!!!!!

“Ugh, dasar weker babo….” Tanganku yang terlatih langsung mematikan weker yang sedari tadi bunyi terus. Oh ya, hari ini hari Jumat ya? Berarti aku libur, yei!!! Ahhh.. Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kalau hari libur, bisa-bisa aku hanya tidur seharian di apertemen, bangun hanya untuk mandi 1 kali sehari setelah itu tidur seharian sampai terbangun esok harinya. Sudut bibirku melengkung ke atas membayangkan apa yang akan kulakukan hari ini. Untung Nah Ra sedang tidak disini, bakalan kotbah seharian dia di depanku. Bagaimana aku bisa tidur kalau begitu? Dia pasti akan menggantungku di pohon sawi kalau berani tidur saat dia sedang kotbah begitu.

Lalu kuambil handukku dan langsung bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai dan memakai piyama lagi, aku langsung berbaring di ranjang.

“Oh my pretty pretty boy I love you

Like I never ever love no one before you~~

Pretty pretty boy youre mine,

Just tell me you love me too~~”

 

“Aisssshhh.. Apalagi ini??” Aku terbangun saat hpku berdering dengan volume super duper kencang yang mengganggu tidurku yang baru saja akan mulai naik ke gerbong mimpi. Kenapa tadi hpku lupa kusilent? Atau sekalian kucabut baterainya. Aku meraih hpku yang ada di meja kecil samping ranjang dan membuka flapnya dengan kasar tanpa melihat siapa yang menelpon. “Yoboseyo?” Tanyaku dengan suara agak ketus.

“Ya!Son Hee-ah!Kenapa kau ketus begitu sih?” Suara Hyun Jae yang cempreng (padahal dia cowok) langsung menyerang gendang telingaku.

“Bagaimana aku tidak ketus kalau ada orang yang mengganggu tidurku?” Balasku dengan nada masih mengantuk.

“Haah, kau ini. Nggak dulu nggak sekarang sama aja. Masih sama bolotnya!” Hey, siapa dia?? Berani-beraninya mengataiku bolot.

“Heh, kau itu siapaku haa? Beraninya mengataiku bolot,”

“Sudahlah, daripada bertengkar begini terus kan nggak enak, bagaimana kalau kita keluar bersama?”

“Hah? Kapan?”

“Tahun depan!! Ya sekarang lah!! Mau kapan lagi??”

“Hyun Jae-ssi, bisa tidak jangan mengganggu acaraku hari ini? Aku ada banyak jadwal yang sangat padat hari ini,” Kataku berbohong. Padahal sih alasannya karena aku tidak ingin keluar.

“Halah, kau bohong  kan ? Maksudmu jadwal padat itu karena kau mau tidur seharian, kan ? Sudahlah, ayo ikut denganku! Tenang saja, Nah Ra dan Jae Jin juga bergabung. Kita pergi ke taman bermain, jadinya double date deh, kau dengan Jae Jin, aku dengan Nah Ra,”  Ya ya ya, tentunya aku lupa kalau temanku yang satu itu sangat peka bila aku berbohong. Dia tahu segala macam alasanku kalau sedang ingin menghindari segala sesuatu. Dia juga yang membocorkan rahasia kalau aku itu suka tidur sampai 2 hari berturut-turut kepada Nah Ra dan Nah Ra langsung kotbah di depanku seketika. Katanya, seorang wanita itu harus rajin, suka bangun pagi, bukannya mbangkong berhari-hari dan tidak mandi berhari-hari, bla… bla… bla…

“Andwae!! Sudah kubilang aku TIDAK mau keluar hari ini, maka aku TIDAK akan keluar,” Balasku dambil menekan kata ‘tidak’. Aku tahu dia dari dulu naksir Nah Ra, tapi strateginya jangan kayak gini dong!

“Ayolah Son Hee-ah, tolong aku… Jebal..” Nadanya melas sekali sampai membuatku tidak tega.

“Ne, ne, ne, baiklah, aku akan pergi,” Kataku, menyerah pada akhirnya.

“Yeah!! Gomawoyo, Son Hee-ah!! Akan kujemput setengah jam dari sekarang!” Klik. Telepon terputus. Nde?? Setengah jam?? Omo, aku harus pakai apa? Aduh, Apakah aku harus mencuci mukaku? Tentu saja, kalau tidak aku akan disangka arwah gentayangan karena mukaku yang masih pucat.

Aigoo, kenapa aku harus menyetujuinya? Dengan malas kuseret langkahku ke arah kamar mandi. Setelah mukaku terasa segar, aku—dengan sangat terpaksa—mengganti piyamaku dengan jins dan kemeja lengan panjang plus jaket warna hitam. Rambutku yang ikal sebahu kukucir menjadi satu. Sepatu kets bermotif tentara dan tas selampang bermotif manga Jepang langsung ku sambar dan keluar dari kamar. Secepat kilat kubuat 2 potong sandwich dan segelas susu. Aku telah selesai mencuci piring ketika bel apertemenku berbunyi.

Ting tong!!

“Ne, tunggu sebentar!” Teriakku.

Cklek..

“Annyeonghaseyo..” Sesosok pria berjaket biru berkata duluan.

“Annyeong… Jae… Jae Jin? Kok kau yang menjemputku?” Tanyaku dengan alis berkerut.

“Kau tahu sendirilah,” Katanya sambil memutar kedua bola matanya.

“Waeyo? Apa Hyun Jae mau menjemput Nah Ra?” Mataku menyipit karena terlintas Nah Ra dibenakku. Jae jin mengangguk kalem.

“Sudah siap?” tanyanya.

“Ne, tapi aku mengunci apertemenku dulu,” Kataku sambil memutar kunci apertemenku dan memasukkannya ke dalam tas. “Kkaja!!”

“Kita mau kemana?” Tanyaku setelah berada di luar gedung apertemen.

“Kita janjian sama Hyun Jae di taman bermain,”

“Nde? Dia pikir kita masik anak-anak?”

“ Kan  kita sudah lama tidak bermain, sekali-sekalilah kita refreshing ke taman bermain, hitung-hitung mengenang masa kecil,” Jae Jin mengarahkanku ke daerah parkiran.

“Ngapain kita ke parkiran?Memangnya kau punya mobil?” Aku menaikkan alisku tinggi-tinggi. Jae jin hanya menunjuk ke arah mobil sport warna silver yang sangaaaat keren. “Itu? Mobilmu?”

“Ne. Kau pikir aku tidak punya mobil ya? Itu 4 tahun lalu,” katanya tenang. Kami berdua pun masuk ke mobil dan duduk bersebelahan.

“Bagaimana aku bisa tahu kalau kau tak pernah memberitahuku?” Kataku sambil mengenakan sabuk pengaman.

“Memangnya kau mau tahu?” Balasnya bertanya. Kemudian mobil sudah meluncur mulus ke arah taman bermain.

Setelah sampai, kami turun dari mobil dan mendapati Hyun Jae dan Nah Ra yang sedang berbincang-bincang dengan meeesraaa… Ih, iri deh! Aku dan Jae jin saling berpandangan jahil, lalu menataplagi kepada pasangan yang malu-malu kucing itu.

“Jae Jin-ssi, sepertinya dua anak ini perlu kita beri sedikit surprise,” Kataku sambil terus memandangi kedua makhluk yang sedang bercengkerama.

“Hmm… Kau benar Son Hee-ah, tapi, harus kita apakan kedua anak ini?” wajahnya terlihat serius dan keningnya berkerut.

“Iya, ya, harus kita apakan kedua bocah itu?” Hello… ‘bocah’? Apaan tuh??

“Bagaimana kalau…” Jae Jin mendekatkan bibirnya ke telingaku. AHA!! Kenapa daritadi tidak tepikirkan olehku ya?

“Ne!! Usulmu bagus sekali!! Kkaja!!” Aku menarik lengan Jae Jin dengan tidak sabar. Tanganku sudah gatal melakukan hal ini. Kami berduapun menghampiri Hyun Jae dan nah Ra. “Annyeong!” Sapaku seceria mungkin.

“Ya!Son Hee-ah! Kenapa lama sekali? Dan… kenapa nada bicaramu berbeda dengan tadi pagi?”

“Waeyo? Tidak boleh?” Tanyaku sambil tersenyum. Aku melirik Jae jin yang ternyata sedang nyengir.

“A… Ani, hanya… Aneh saja, betul nggak Nah ra??”

“Hmm… Memang sih, nadanya sedikit… Hmm… Apa ya?? Mencurigakan?” Jawab Nah Ra sambil berpangku tangan.

“Ah, sudahlah. Kkaja! Kita ke sini untuk bersenang-senang, kan ?” Kulihat Hyun Jae dan Nah ra mengangguk. Aku tersenyum. “Nah, kkaja!”

Kami berempat menjelajahi seluruh wahana yang ada di situ. Kalau aku jadi anak-anak, aku akan bilang kami ini orang aneh. Sudah dewasa kok bermainnya ke taman bermain. Tapi tak apalah. Ternyata hari ini sangaaaat indah. Hari santai pertamaku di  Seoul . Aku nggak akan pernah melupakan hari ini!

“Hey, ayo kita beli es krim…” Hyun Jae menggandeng tangan Nah Ra, walaupun aku tahu maksudnya juga kepadaku dan Jae Jin. Aku menutup mulutku dengan satu tangan ketika melihat tangan yang saling terkait itu. Tanganku yang bebas menyiku lengan Jae Jin sambil menunjuk-nunjuk apa yang telah kulihat. Jae Jin tampak terkejut juga. Namun, evil smile menghiasi bibirnya sambil menatapku. Aku mengangkat alis tanda tidak mengerti, Jae Jin malah memutar bola matanya.

“Hey!! Kalian berdua! Ayo! Mau belie s krim nggak??” Suara Hyun Jae mengejutkan kami berdua.

“Eh.. N… Ne!!” Jawabku.

“Kau mau yang rasa apa aja?” Tanya Hyun Jae.

“Hmm… Moccha sama green tea,” jawabku.

“Kalau kau?” Hyun Jae giliran menanyakan Jae Jin.

“Vanilla sama cokelat,”

“Hey, Jae jin-ssi, kapan kita melaksanakan rencana kita?” Tanyaku pada Jae Jin yang ada di sebelahku dengan volume serendah mungkin sampai aku nyaris yakin suaraku tidak terdengar sama sekali.

“Nanti, setelah hari mulai gelap.  Kan  romantis tuh,” Balasnya dengan volume yang sama denganku. Aku hanya dapat mengangguk.

Saat hari mulai gelap dan es krim kami sudah habis semua, aku mengusulkan untuk naik bianglala. “Tenang, aku yang bayar karcisnya,”

“Ne, gomawo,” jawab Nah Ra.

Setelah aku mendapat 4 karcis, aku melangkah ke tempat pengaturan operasional bianglala tersebut. Rencananya sih, aku mau bikin surprise buat Nah Ra dan Hyun Jae yang setahuku sudah saling suka.

Author’s POV

Son Heepun mendatangi seorang pria setengah baya yang sedang menggerakkan alat-alat untuk menjaga agar bianglala tetap berputar.

“Annyeong, ahjussi,” sapanya ramah.

“Annyeong,”

“Ahjussi, bolehkah saya meminta tolong?”

“Untuk apa?”

“Begini, ahjussi, teman-teman saya itu ada yang saling suka. Rencananya mereka mau naik bianglala ini. Supaya mereka bisa ngobrol atau, yang saya harapkan mengungkapkan perasaan mereka, bisa nggak, kalau ahjussi mau memberhentikan bianglala ini saat mereka sedang ada di atas?”

“Aaah.. Begitu. Baiklah, akan saya bantu. Yang mana pasangannya?”

“Itu tuh, yang yeojanya yang pakai cardigan warna pink sama sepatu putih. Kalau namjanya yang pakai sweater biru tua sama celana jeans panjang,” Son Hee menunjuk-nunjuk Nah Ra dan Hyun Jae.

“Oooh… yang itu. Baiklah, akan saya bantu.”

“Jeongmal gomawoyo, ahjussi!”

“Ne, cheonmaneyo,”

Akhirnya Son Hee pun kembali ke kerumunan teman-temannya yang sedari tadi sibuk mencarinya karena kelamaan membeli karcis. Mereka ketakutan kalau ternyata Son Hee hilang atau kesasar. (SonHee: Yeee… emangnya gue masih anak-anak? Author: Yha khan nggak pha-pha, daripada diculik, hayoo??). Tapi ketika mereka melihat Son hee yang sedang  berjalan santai kea rah mereka, mereka langsung melengos.

“Kau ini! Lama banget sih? Ngapain disana? BAB?” Hyun Jae menuduh Son Hee dengan seenak udel.

“Huh, kau ini, sudah dibelikan malah tidak berterimakasih,”

“Ya sudah, mana karcisnya?” Tanya Nah Ra.

“Nih,” Kata Son Hee sambil membagikan karcis kepada masing-masing temannya. “Ayo, kita naik sekarang!” Son Hee menggandeng tanga Nahra. Matanya mengedip ada Jae Jin. Pada saat si penjaga bianglala membukakan salah satu pintu, Son Hee dan Jae Jin serentak mendorong punggung Nah Ra dan Hyun Jae. “Gunakan waktu dengan sebaik-baiknya, ya!!” Son Hee sempat berteriak kepada mereka berdua sesaat sebelum pintu ditutup. Nah Ra dan Hyun Jae hanya Terbelalak kaget. Namun, wajah keduanya terlihat memerah.

Hyun Jae dan Nah ra tidak menyangka bahwa mereka akan dikerjai seperti ini. Keduanya hanya duduk membisu. Tapi, Hyun Jae yang mendengar kata-kata Son Hee dan ingin memanfaatkannya, membulatkan tekadnya untuk berterus terang kepada Nah Ra.

“Nah Ra-ssi,” panggil Hyun Jae.

“Hm?”

“Boleh aku berterus terang?” matanya lurus menatap Nah Ra. Nah Ra yang tadinya memandang keluar jendela seketika menatap Hyun Jae penasaran.

“Tentang apa?” Namun, Nah Ra merasakan bahwa bianglala tidak lagi berputar.

“Perasaanku,” Nah Ra membeku seketika, namun Hyun Jae tetap meneruskan kalimatnya.

“Mungkin kau tidak tahu, tapi aku mengenalmu semenjak SMA. Aku melihat sosokmu yang selalu ceria, tapi aku juga pernah melihat sosokmu yang terluka. Entah darimana perasaan itu, tapi aku tak bisa mengingkarinya. Pada saat itu masih kupendan dalam-dalam karena kau tak mengenalku. Dan karena aku tak pernah mendapat kesmpatan,” Sorot matanya terlihat sedih.

“Lalu ternyata aku bisa mengenalmu saat kita bertemu di universitas. Baru saat itu aku dapat mengenalmu, dan temanmu, Son Hee. Aku lebih tak menyangka saat kita bekerja di tempat yang sama, bahkan di ruangan yang sama,” Hyun Jae menarik nafas panjang dan berkata lagi,

“Kau tahu betapa bahagianya aku? Hampir setiap hari aku tersenyum, ingat? Itu karenamu. Tapi aku tak berani mengungkapkannya karena aku takut persahabatan kita akan terputus, dank au tak mau berbicara denganku lagi. Lebih baik aku hanya menjadi temanmu daripada memintamu penjadi pacarku tapi kau menolaknya. Karena itu selama ini aku selalu memendamnya,” Nah Ra terlihat terkejut, namun Hyun Jae mengerti akan maksud diamnya Nah Ra bahwa gadis itu ingin dia melanjutkan perkataannya.

“Tapi, saat ini aku tak lagi bisa memendamnya, aku ingin mengatakan kalimat yang ingin kuucapkan dari dulu,” Hyun Jae menatap Nah Ra langsung ke manik mata dan berkata denga lembut, “Park Nah Ra, jeongmal saranghaeyo,”

Nah Ra tersentak. “Aku hanya ingin mengucapkannya sekali. Tidak apa kalau kau tak ingin menganggapinya, tapi tolong tetaplah untuk menjadi temanku setelah aku mengucapkan kalimat ini: Maukah kau menjadi yeojachinguku?” Hyun Jae mengatakannya dengan nada yang sangat lembut dan rapuh, seperti hanya pada jawaban Nah Ralah yang menentukan hidupnya.

Air mata mengalir dari kedua kelopak mata Nah Ra. Tapi sorot matanya tajam ke arah Hyun Jae. Lalu ia mendesis tajam “Kim-Hyun-Jae!” Nah Ra mendekati Hyun Jae dan langsung menyerbunya dengan pukulan-pukulan ke dada Hyun Jae. “Kau-namja-babo-sepanjang-masa!!!” Nah Ra menekankan kata-katanya ditiap pukulannya.

“Ya!Nah Ra-yah!Apa salahku?” Hyun Jae berusaha menghindar namun tetap saja pukulan bertubi-tubi dihujamkan kepadanya.

“Kau pikir berapa lama aku menunggumu mengatakan itu, hah?? Kau pikir berapa lama aku berharap kau mengatakan itu padaku, hah??” Air mata masih bergulir deras dari kedua matanya yang indah. “Kau pikir, berapa lama aku selalu memimpikanmu menjadi namjachinguku, hah?? Kenapa-baru-sekarang-kau-mengatakanya???!!!” Tangan Nah Ra berhasil ditangkap Hyun Jae.

“Jadi, kau mau menjadi yeojachinguku?”Hyun Jae tersenyum menggoda. Tapi Nah Ra malah menjitaknya.“AWWW!!! Nah Ra-yah, sakit!!”

“Kau-masih-menanyakannya?” Nah Ra menekan setiap kata. Tiba-tiba Hyun Jae menarik Nah Ra ke dalam pelukannya.

“Jeongmal gomawoyo, chagiya,” Gumamnya. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Ia merasakan Nah Ra mengangguk di dalam pelukannya, membuatnya memeluk Nah Ra semakin erat.(Author: aww… prikitieww…)

Setelah turun dari bianglala, Son Hee memekik kegirangan ketika melihat Hyun Jae merangkul bahu Nah Ra saat keluar dari bianglala yang mereka naiki.

“Whoaa… Nah Ra-yah, chukkae chukkae… Jadi, gimana nih, pajaknya?” Son Hee menggoda Nah Ra yang wajahnya berubah menjadi semerah tomat. Tiba-tiba, Son Hee seperti teringat akan sesuatu. “Eh, tunggu sebentar,” Lalu Son Hee sudah melesat pergi entah kemana, meninggalkan ketiga temannya yang kebingungan.

Ternyata Son Hee pergi ke tempat ahjussi yang mengoperasionalkan bianglala.

“Annyeong, ahjussi, saya yang tadi minta tolong,”

“Oh, kau. Bagaimana dengan temanmu itu?”

“Jeongmal gomawoyo, ahjussi, mereka jadian sekarang!”

“Jincayo? Chukkae…”

“Sudah ya, ahjussi, saya pergi dulu, annyeong!”

“Ne, annyeong!”

Son Hee pun kembali kepada teman-temannya.

“Kau tadi habis darimana?” Tanya Hyun jae penuh selidik.

“Haa? Oh… itu… Hehehe… Tapi jangan pada marah, ya,” Son Hee nyengir zebra, menampilkan gigi-giginya yang seputih senyum Pepsodent.

“Ne, memangnya ada apa sih?” Nah Ra yang gentian bertanya.

“Engg… Tadi tiu aku habis menemui ahjussi yang mengurusi operasional bianglala,” Son hee tampak salah tingkah.

“Memangnya kau ada urusan apa dengannya?” Nah Ra terlihat cemas.

“Ani, cuma ucapan terimakasih karena mau membantuku memberhentikan bianglala sementara kalian saling berbicara,”

“Ooooh… Jadi kau ya??” kata Hyun Jae.

“Bukan cuma aku, Jae Jin yang menyarankan,” Son Hee nunjuk-nunjuk Jae Jin yang tiba-tiba kaget. “Ngaku nggak kau kalau kau yang menyarankan ide itu??” Son Hee mengancam Jae Jin.

Jae Jin hanya garuk-garuk kepala. “Hehehehe… Habis aku nggak betah melihat kalian kayak pasangan malu-malu kucing gitu,”

“Ne, aku apalagi! Harusnya kalian berterimakasih kepada kami, karena gara-gara rencana kami kalian jaidan,” Tukas Son Hee.

“Ne, ne, ne, kami sangat-sangat berterimakasih pada kalian, mak comblang kami, jeongmal gomawoyo,” Hyun Jae membungkuk hormat. “Eh, kami berdua pulang dulu ya, mau dinner berdua,” Perkataan Hyun Jae langsung disambut jitakan dari Nah Ra.

“Ne, kami sangat mengerti perasaan pasangan yang baru jadian,” Jae Jin membalas. “Biar aku yang mengantarkan Son Hee pulang,”

“Baiklah, kita berpisah di sini ya,” Son Hee melambaikan tangan pada Nah Ra. Kedua pasangan itu berpisah ke jalan yang berbeda.

Tiba-tiba, sesuatu tertangkap oleh mata Son Hee. Seorang namja tinggi bersama seorang yeoja yang sedang menggendong seorang anak perempuan berlalu di sampingnya. Son Hee membuang muka. Tanpa sepengetahuannya, namja itu menolah ke arah Son Hee tepat setelah Son Hee membuang muka, memandangnya dengan tatapan sedih.

TO BE CONTINUED…

Puahhh… sudah kubuat sepanjang yang aku bisaaa…. Gimana reader??? Apakah memuaskan??  Ada  yang suka???? Mohon komentarnya!! *bow* Aku cuma bisa bilang segini. abis aku bingung mau ngomong apa, hehehe….. inget RCL yaaa!!!!

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

13 thoughts on “Go Away – Part 3”

  1. Ige mwo??

    Ya minhoo knp kw menikah tp tdk mencintai istrimu..aihss jinja,kasihankan istrimu..

    Sonhee kan biasa bhgia sm Jaejin nnti .. Sdh ada sinyal nih si Sonhee tanpa sadar bjln krmhx Jaejin..

    Lanjutt chinguu ^^..

    1. Mwoya mwoya???
      Ahh… kenapa yah??? molla… *lho??*

      Iya nih, Son Hee sudah punya sinyal-sinyal kalo dia sama Jae Jin. tapi liat kelanjutannya ya!! XDD

      gomawoooo… XDD

    1. Haruskahh???*muka cengo*
      Iya juga ya. Minho udah punya istri, punya anak lagi. Heuu~~~
      Iya nih!! Gara-gara Minho nih!! ayo gebukin!! *ditodong flames*
      gomawoooo… XDD

  2. tau apa2an minho nikah? malah punya anak. minta di cekek authornya…(loh lohh???)
    kk~~PISS. memed, sekarang mah panjang kok. tenang pasti pada recall. OI reader. yang udah baca pada RCL ya**
    ni cerita sad ending.. jdi kita tunggu sampai dmana air mata bercucuran >>lebay banged onni.

    dan lagi. ga mau… minho punya HYEMI!! nikah sama hyemi aja. part depan onni tunggu (jd nya mah gentayangannya di sini y seng aku?heu piss)

    1. Ampuuuuuunnn!!!!! Jangan bunuh aku!! *lho??* Haduh… jangan pada tensi gara-gara Minho nikah ma punya anak yahh… next part jawabannya ada semua, di mulai dari kenapa si Minho ninggalin Sonhee, gimana kehidupan RT Minho-Hara, darimana asal itu anak, semuanya lengkap-kap-kap!!!!!

      Next part juga panjang, abis udah kebiasaan nulis panjang sih, part1 ama 2 kan aku masih baru banget.
      *dukung kata-kata eon mamot* Yang udah baca RCL oyy!!! Kkkke~~

      Nee… Minho punya Hyemi. Hyemi punya Minho. tapi aku juga pengen. #plakkkkkkk
      Neee… tunggu yaaaa!!! Gomawo eon!!!!!

  3. AAAAAAAAAA
    Itu minho ya???
    Ah minho nih
    Masa udah punya anak masih mikirin cewe lain
    Kasian haranya
    Lanjuttt

  4. Nih, part kebanyakan cerita Hynjae dan Nahra nya….
    agak sedikit ngebosenin, sih…. tp gpp, buat intro ke konflik selanjutnya….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s