Waiting For You – Part 1

Title: Waiting For You (1st  episode)

Author: azkajun

Main cast: Choi Minho, Han Jiyoon, Kim Ki Bum (Key)

Support cast:  Han Jihyun, Kim Jonghyun

Length: sequel

Genre: Romance, Friendship

Rating: G

Jiyoon yang sedang sibuk memasukkan buku pelajaran ke dalam tas ransel sekolahnya tersandung oleh kaki tempat tidur dan jatuh dengan suara yang sangat keras. Keningnya terbentur lantai, dan semua buku pelajaran yang ada di dalam tas ranselnya jatuh berserakan. Jiyoon mengaduh kesakitan, bahkan hampir menangis karena saking sakitnya. Perlahan ia bangun dan mengelus pelan keningnya yang terbentur lantai.

“Untung saja tidak hilang ingatan.” omel Jiyoon seraya menendangi kaki tempat tidur yang membuatnya tersandung dan jatuh hingga membuat keningnya memar luar biasa.

Suara derapan kaki yang sangat cepat berhenti tepat di depan pintu kamar Jiyoon, kemudian sesosok perempuan yang lebih tua darinya menghambur masuk dan menghampiri Jiyoon dengan muka khawatir, kemudian  mengecek apa ia terluka selain keningnya yang memar.

“Neon gwenchana? Suara benturanmu sangat keras, terdengar saat aku sedang memasak,” tanya Jihyun khawatir, kemudian mengoleskan salep untuk meredakan rasa sakit akibat benturan dan mengecilkan bengkak di kening Jiyoon.

“Gwenchana, gomawo eonni,” jawab Jiyoon. Setelah diberi salep oleh kakaknya, ia memunguti buku yang berserakan tumpah dari tas ranselnya.

“Aku tunggu di bawah sepuluh menit lagi ya,” Jihyun, kakak Jiyoon keluar setelah memastikan kening Jiyoon sudah ia beri salep di daerah yang tepat.

Jiyoon hanya menjawab dengan gumaman sambil terus membereskan bukunya. Sementara ia membereskan bukunya, ponselnya tiba-tiba berdering keras dan layarnya tak henti berkelap-kelip dengan ceria seakan meminta Jiyoon untuk segera mengangkat telepon.

Dengan malas, ia ambil ponselnya yang ada di atas mejanya dan memencet tombol hijau dan segera menempelkannya tepat di telinganya. “Yoobooseeeyooo?”

“Selamat pagi, Jiyoon yang cantik,”

Hyeri mendesah pelan saat mendengar suara itu—suara yang sangat ia kenal dari lima tahun yang lalu.

“Kau tidak pernah berubah dalam hal menjawab telepon”

“Memangnya harus berubah? Tidak usah basa-basi, ada apa?”

Sang penelepon berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaan Jiyoon.
“Pangeran Kim Ki Bum akan menjemput Tuan Putri Han Jiyoon dalam waktu beberapa menit lagi, jadi Tuan Putri harus bersiap”

“Arasseo”

Tut! Percakapan yang tidak jelas apa maksudnya—selain untuk menyuruh Jiyoon segera bersiap itu ia akhiri dengan datar dan cuek. Kemudian Jiyoon menaruh ponselnya di saku jasnya dan meresleting tas ranselnya dan memakainya di punggungnya.

Sebelum pergi, entah kenapa ujung matanya menyeretnya untuk melihat foto yang ter-bingkai dengan manis di atas meja belajar Jiyoon yang berantakan. Ia ambil bingkai foto itu dan mengelusnya pelan. Ujung bibirnya membuat senyuman.

Ia, Kim Ki Bum, dan Choi Minho yang sedang berfoto bersama dengan pose yang aneh. Persahabatan mereka sangat akur dan bertahan selama lima tahun. Tiap hari diisi dengan tawa, canda, senang, sedih, dan pengalaman memalukan yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup. Dan berfoto dengan pose yang aneh, itulah kebiasaan mereka sebelum akhirnya Choi Minho meninggalkan persahabatan yang mereka bangun selama bertahun-tahun lamanya.

Atau lebih detailnya, setelah hubungan spesial antara ia dan Choi Minho selesai dengan penuh banyak tanya oleh banyak pihak yang sangat menyayangkan hubungan mereka berdua yang pecah dan hancur berkeping-keping. Tak ada satupun yang tahu apa penyebabnya, dan apa yang membuat persahabatan mereka bertiga ikut hancur.

Kini, yang tersisa—yang masih bertahan hanyalah Jiyoon dan Ki Bum. Ki Bum yang jengah dengan sikap Jiyoon yang makin murung sejak kandasnya persahabatan dan hubungan spesialnya dengan Choi Minho akhirnya memintanya untuk menjadi kekasihnya, dan yang membuat semua orang terkejut, Jiyoon terlihat sama sekali tidak keberatan atau merasa terpaksa atas permintaan itu. Dan sekarang, tepat dua bulan sejak Jiyoon menerima Ki Bum sebagai kekasihnya untuk saat ini.

Jiyoon menengadahkan kepalanya, berusaha agar air mata yang mendesaknya agar keluar agar tetap di tempatnya dan tidak akan keluar lagi. Namun percuma, setetes air mata akhirnya lolos. Tak hanya satu, akhirnya air matanya tumpah ruah membasahi pipi Jiyoon.

Dengan tangan kirinya, ia seka air matanya. Kemudian menaruh bingkai foto itu di laci meja belajarnya—berharap ia tidak akan menyentuh bingkai foto itu lagi.

~~~

“Jiyoon-ah! Ini aku belikan roti isi susu yang kamu minta tadi” Ki Bum menyodorkan sebungkus roti isi pada Jiyoon yang sedang melihat keluar jendela sambil menunggu Ki Bum yang membeli makanan di kantin.

“Gomawo,” Jiyoon menerimanya dan langsung membuka bungkusnya dan memakannya dengan lahap. Ki Bum tertawa melihat tingkahnya yang tidak pernah berubah.

“Makan yang pelan, jangan terlalu cepat, nanti kalau tersedak kau sendiri yang tahu rasa” ujar Ki Bum mengingatkan. Jiyoon tidak menjawab, malah aktifitas mengunyah rotinya terhenti. Ki Bum yang heran mengapa gadis itu tidak menyahut sedikit pun melihat wajahnya yang sedang terbengong—atau terkejut—ia tidak tahu ekspresi macam apa itu. Melihat bola mata Jiyoon yang menatap lurus kedepan, Ki Bum mengikuti arahnya.

Ada Choi Minho di depan mereka.

Ki Bum agak terkejut. Karena ekspresi Choi Minho sama dengan ekspresi yang ditunjukkan dengan Jiyoon. Kemudian, karena tidak suka mereka berdua bertatapan satu sama lain tanpa mengeluarkan suara, akhirnya Ki Bum menarik tangan Jiyoon dengan paksa, menjauh dari Choi Minho yang memandangi kepergian Ki Bum dan Jiyoon.

“NEO MICHEOSSO?!”

Bentakan Ki Bum membuat Jiyoon menutup telinganya dengan kedua tangannya, “KAU YANG GILA!” balas Jiyoon, menyentak balik. Ki Bum menatapnya tajam, penuh emosi. Sedangkan Jiyoon yang kesal atas sikap Ki Bum menghela napas panjang.

“Sudah kukatakan berjuta-juta kali agar menghindari kontak mata, bersentuhan, atau apapun yang menyangkut dengan Choi Minho! Aku ingin kau melupakannya! Aku ingin.. kau hanya melihatku …”

Jiyoon terdiam, tidak berani membalas apa yang dikatakan oleh Ki Bum barusan. Akhirnya, Jiyoon mendekatkan jarak mereka, kemudian membenamkan wajahnya di dada Ki Bum—hendak menangis—namun juga tidak ingin.

“Mianhaeyo …”

Tanpa berkata lagi, otaknya membawanya ke masa lalu yang indah, saat dimana mereka bertiga masih selalu tertawa bersama, masih selalu berjalan bertiga.

Dan, saat dimana Choi Minho memintanya menjadi kekasihnya.

Saat itu, Jiyoon hanya menatap mata Minho dengan lurus, mencoba mencerna apa yang dikatakan Minho melalui membaca tatapan matanya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah keyakinan bahwa Minho memang benar-benar memintanya untuk menjadi kekasihnya.

“Aku sama sekali tidak bercanda—tidak sama sekali. Ini adalah keputusan yang paling mantap yang pernah kubuat dalam hidupku. Oleh karena itu … Han Jiyoon, mau kah kau menjadi kekasihku?”

Selama ini, yang ada di otak Jiyoon adalah hubungan mereka bertiga yang bahagia. Tidak pernah sedikitpun ia berniat untuk menyukai salah satu dari mereka. Saat ditanyai untuk memilih salah satu, ia hanya tertawa sambil berkata; “Bagaimana mungkin aku mau memilih salah satu dari dua namja bodoh dan gila itu? Aku lebih memilih tukang kebun sekolah dari pada memilih salah satu diantara mereka.”

Namun, entah kenapa saat Minho memintanya sambil menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah ia lihat, pertahanannya lambat laun goyah. Tak ada pembicaraan lain selain keheningan yang menyeliputi mereka berdua. Namun, pandangan mereka satu sama lain terlihat bagaikan mereka berdua sedang berbicara satu sama lain.

Otak Jiyoon berpikir, apa yang harus ia lakukan, apa yang terjadi apabila ia menerimanya, apa yang terjadi apabila ia menolaknya. Apa yang terjadi … Apa yang terjadi … itulah yang mengisi pikiran Jiyoon. Berpikir keras, lebih keras dari saat ia sedang mengerjakan soal matematika yang diberikan Park seonsaengnim.

“Molla …” ucap Jiyoon akhirnya, memecah keheningan selama sepuluh menit itu. “Aku rasa, akan ada sesuatu yang terjadi apabila aku menerimamu …” lanjut Jiyoon, masih menatap mata Minho lurus-lurus.

Minho mendekat, kemudian mendekapnya pelan. Tidak erat, namun hangat. Minho mengelus puncak kepala Jiyoon dengan lembut, penuh kasih sayang. Sambil menutup mata, ia berkata:

“Yang terjadi adalah, aku akan selalu menjagamu. Dimanapun, kapanpun, selama apapun, dan aku tidak akan pernah berhenti untuk selalu menjagamu, tidak akan pernah.”

“Apa yang akan terjadi dengan Ki Bum?”

“Semua akan baik-baik saja, termasuk dia. Termasuk persahabatan kita, aku jamin.”

Mendengarnya, Jiyoon agak lega. Namun, di sisi lain ia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Tentang apa yang akan sebenarnya terjadi di masa depan yang akan datang. Apakah akan baik-baik saja atau berubah menjadi lebih buruk dari sekarang. Dia tidak tahu, dia tidak bisa berfikir karena sebelumnya ia telah berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan dan apa akibatnya dengan apa yang akan ia lakukan.

Perlahan, tangan Jiyoon melingkar di pinggang Minho, mendekapnya seperti Minho mendekapnya. Sama-sama tidak erat, dan sama-sama hangat.

“Aku tidak ingin membuatmu terluka, ataupun Ki Bum. Aku tidak tahu mengapa hatiku terasa agak berat meski aku sudah merasa agak lega. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang …” ujar Jiyoon sambil terus melingkarkan tangannya di pinggang Minho. Ia menengadahkan kepalanya, berusaha melihat wajah Minho. “… eoddae?”

“Segalanya tergantung pada keputusanmu, dan aku harap keputusanmu itu adalah keputusan yang terbaik menurutmu. Aku tidak ingin membuatmu tertekan karena permintaanku” balas Minho, menatap wajah Jiyoon setelah sedari tadi menutup matanya sambil terus menikmati kehangatan yang diberikan oleh Jiyoon.

Mereka terdiam lagi. Yang ada, pelukan mereka satu sama lain semakin erat—seakan tidak akan pernah melepaskannya.

“Baiklah …” lagi-lagi Jiyoon yang memecah keheningan mereka. Ia longgarkan pelukannya perlahan, kemudian ia berjinjit dan membisikkan sesuatu tepat di telinganya, “… Choi Minho … aku mau menjadi kekasihmu …”

Itu adalah bisikan yang sangat pelan, namun terdengar sangat jelas di telinga Minho. Dalam satu gerakan cepat, ia memeluk Jiyoon erat sambil terus berbisik “Gomawo, jeongmal gomawo …”

“Jiyoon-ah, jangan tertidur di dadaku seperti itu” Ki Bum menepuk pundak Jiyoon sambil terkekeh pelan karena sudah hampir lima belas menit lamanya Jiyoon membenamkan wajahnya di dada Ki Bum hanya untuk mengenang masa lalunya dengan Minho. Dan mungkin apabila Ki Bum mengetahuinya bahwa ia mengingat kenangan tentang Minho, ia akan marah lagi.

Jiyoon tidak bergeming, ia terus mebenamkan wajahnya di dada Ki Bum dan akhirnya tangannya melingkar di pinggangnya. Ki Bum yang salah tingkah hanya bisa terdiam melihat tingkah Jiyoon aneh. Akhirnya, ia mengelus puncak kepala Jiyoon dengan lembut dan tangan yang satunya lagi ia letakkan di pinggang Jiyoon, ikut mengeratkan pelukannya.

“Mian … jeongmal … berikan aku waktu … jebal…” kalimat Jiyoon hampir tidak terdengar, namun terdengar jelas di telinga Ki Bum. Ki Bum hanya menggumam kemudian meletakan dagunya  di puncak kepala Hyeri sambil terus mengelus kepalanya dengan lembut.

Jiyoon yang diam—menangis dalam bisu.

Dia tidak ingin Ki Bum mendengar atau melihatnya menangis.

Di ujung sana, Minho terus memperhatikan mereka selama lima belas menit.

~~~

“Ya Ki Bum-ah NEO EODIYA?! KAU MAU MEMBUATKU MATI KEDINGINAN?!”

“Ya Jiyoon-ah! Memang aku tidak punya telinga? Arasseo, aku akan keluar lima menit lagi,”

“Neo imma! Keluar sekarang!”

“Mianhae … Jeongmal! Ini darurat, tunggu aku beberapa menit lagi! Oke? Aku akan menraktirmu beli coklat panas”

“A.. YA! Ki—“

Tuut … tuuut …

“Aish! Ige saram!” Jiyoon menghentakkan kakinya ke hamparan salju, kemudian dengan kasar memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya sambil terus menggerutu. Sambil terus merutuki Ki Bum, ia menendangi salju-salju yang mulai menutupi jalan.

“Han Jiyoon, why you’re here? Don’t go home yet? You want me to take you to your home?” tanya seseorang lelaki yang tingginya agak melebihi Jiyoon. Jiyoon menoleh untuk melihat siapa yang menyapanya dengan menggunakan bahasa inggris.

Don’t talk in English if you’re not really good at it. It’s very disgusting when you said it. Just keep learning, so you can talk English fluently with me, got it?” balas Jiyoon dengan menggunakan bahasa inggris lumayan cepat, kemudian ujung bibirnya membuat senyuman, seakan mengejek lelaki yang ada dihadapannya.

Ia mendecak pelan, “Mengapa kau bisa selancar itu? Sialan aku kalah dari Han Jiyoon.” Lelaki itu memukul lengan Jiyoon pelan dengan wajahyang agak kesal. “Just wait and see.

Jiyoon tertawa sangat keras sambil memegangi perutnya, kemudian berkata “Kim Jonghyun, seumur hidup kamu tidak akan pernah sepintar aku, ingat itu!” Jiyoon menepuk pelan pundak Jonghyun yang sedang kesal karena Jiyoon menertawainya terus-terusan.

“Kau tidak kedinginan? Menunggu siapa? Si sialan Ki Bum?” tanya Jonghyun sambil menggosok telapak tangannya yang hampir membeku akibat suhu yang sangat rendah di sore hari itu.

Jiyoon mengangguk pelan sambil menghembuskan napas berembun akibat udara yang ekstra dingin. “Yah … si bodoh itu tak kunjung datang … pergi sana, aku tidak tanggung jawab kalau kau mati kedinginan disini bersamaku” ujar Jiyoon sambil tertawa, kemudian mencubit pipi Jonghyun pelan.

Akhirnya Jonghyun pergi setelah Jiyoon mencubitnya. Jiyoon tersenyum dari kejauhan mengingat tingkah Jonghyun yang selalu membuatnya ingin terus mengerjainya.

“Kau …”

Jiyoon menoleh lagi, siapa yang berani—

Choi Minho.

Choi Minho ada di hadapannya.

Jiyoon berusaha bersikap dingin seperti biasanya, seolah tidak menyadari lelaki itu tepat berada di sebelahnya.

“Han Jiyoon, kau mau sampai mati kau disini?”

Pertanyaan itu tidak membuat Jiyoon bergeming dari tempatnya. Ia tidak peduli akan pertanyaan lelaki itu padanya.

Minho merapatkan jarak mereka yang terpaut sekitar lima meter, “Pulanglah” suruhnya.

Jiyoon menggeleng “Aku menunggu Ki Bum sampai dia keluar.”

Sampai matipun, aku tidak akan pernah bisa melawan si keras kepala ini, gumam Minho dalam hati. Ia lepas mantel yang ia gunakan, kemudian menaruhnya di pundak Jiyoon, kemudian tersenyum tipis. Berharap Jiyoon tidak akan kedinginan berkat mantel yang ia pinjamkan.

Jiyoon terdiam, tidak tahu harus berekspresi seperti apa, “A … aku tidak butuh …” Jiyoon melepaskan mantel yang ada di pundaknya dan mengembalikannya pada Minho. Tidak mau kalah, Minho menaruhnya kembali di pundaknya.

“Kumohon, jangan dilepas. Kembalikannya nanti saja” ujar Minho memohon, menjawab pertanyaan yang belum diucapkan oleh Jiyoon.

Jiyoon diam, ia tidak berbicara lagi setelah itu.

“Kau tahu?”

Minho menatap wajah Jiyoon yang sedang menatap lurus kedepan—berusaha menghindari kontak mata dengan Minho.

“Aku sangat merindukan kau yang dulu—kita bertiga yang dulu” lanjutnya, membuat Jiyoon kini menatapnya karena mendengarkan kalimat Minho barusan sambil memasang ekspresi yang aneh. Entah heran—atau seperti hendak bertanya ‘Apa yang kau katakan barusan?’.

Jiyoon tertawa pelan, “Kau bercanda? Sudah terlambat untuk mengatakan hal itu” tukas Jiyoon dengan ketus. Minho memasukkan tangannya ke saku celananya, tidak melepaskan tatapannya dari wanita ini.

“Arayo” ucap Minho, “sangat terlambat, tapi …”

Minho berhenti berbicara, Jiyoon memalingkan muka.

Keheningan menyelimuti mereka, tak ada satupun yang berani memecahkannya. Apalagi Jiyoon, mungkin ia tidak akan pernah membuka pembicaraan duluan kecuali Minho yang melakukannya—dengan respon yang dingin.

“Siapa kira, selama ini kau tidak bisa hilang dari pikiranku?”

Jiyoon kaget, ia langsung menatap Minho yang sedang menatap lurus kedepan. Tidak ada raut keraguan serelah ia mengatakan hal itu barusan. Jiyoon yang kaget—ia sama sekali tidak bergeming, tidak mengerti apa yang dikatakan Minho.

Tak lama kemudian, ada suara tapak kaki mendekat.

“Jiyoon-ah mian—“

Keduanya menoleh, Ki Bum sedang terdiam saat melihat dua makhluk dihadapannya—yang sangat ia kenal. Dua makhluk yang seharusnya bersama.

Ki Bum menyambar tangan Jiyoon, menariknya agar tetap di dekatnya. Kemudian menatap laki-laki yang lebih tinggi darinya itu, yang seharusnya menjadi sahabatnya itu.

“Ya,” panggil Ki Bum kasar, yang di panggil belum menyahut.  “YA CHOI MINHO!”

Minho menoleh, “Mwo?” sahutnya datar.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ki Bum lagi. “Menjauhlah dari Jiyoon. Kau—kau sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kami” lanjut Ki Bum, menatap tajam Minho yang berekspresi datar, ia tidak bergeming sama sekali saat Ki Bum mengatakan kalimat itu barusan.

“Sudahlah Ki Bum, kita pulang saja” Jiyoon yang sudah tidak tahan karena atmosfir yang tidak nyaman dan karena tidak ingin melihat Ki Bum dan Minho bertengkar, menarik Ki Bum agar pergi dari situ sekarang juga dan pulang ke rumah.

Ki Bum menuruti permintaan Jiyoon dan pergi tanpa berkata lagi.

Minho pun sama, dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa.

Tapi ia yakin, hatinya tak kuasa membiarkan Jiyoon pergi.

To be continued

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

15 thoughts on “Waiting For You – Part 1”

  1. ada apa ini? ADA APA? ADA APA THOR???

    kenapa mereka jadi gitu? dulunya bersahabat kan? Minho ngapain si Jiyoon? Kibum sekarang pacarnya? atau apa? apa thor? apaaaa?

    hah huh hah huh *ngos-ngosan

    lanjut yaaa~

  2. Heeeiittss bikin penasaran ajaa!
    Emangnya hubungan mereka bertiga jadi pisah karena apa? Hmmm minho ada apa-apa kayaknya (??)
    Kibum nya protektif bangeet 🙂 jadi jengah apa seneng ya? Wkwkw tapi kesannya kayak ngelindungin Jiyoon supaya gak sakit liat Minho wihihi

    Ayoayo dilanjut yaaaa ^▽^

  3. ya ampuuuun ff-ku di publish jugaaaa XD makasih onnie~~~ muah muah

    hai semua yang sudah baca~~^^ awkawk~~~ penasaraaan? sebenernya episode duanya belum selesaai soalnya akhir-akhir ini sibuk pertama kali masuk sekolah huhu u,u /curcol

    intinya sih… MAKASIH BANGET YANG UDAH BACAAA ^^ muah muah plus pelukan deh dariku~~~ awkawkawk

  4. Wah, baru nemu ff yang intinya tentang perpecahan persahabatan nie. Jarang” lou. Semangat thor! Hwaiting! You can do it>_< i

  5. Minho tuh kenapa sii
    Kenapa kibum segitu bencinya
    Sampe sampe nari jiyoon mullu
    Mana minho diem aja kaya gamau cari masalah
    Lanjuuttt

  6. Yaaa!! Waeyooooooo?
    Kenapa minho sama jiyoon pisah emanggg?
    Kenapa key sebel sama minho?
    …..Minho gak bisa lupa
    Jiyoon juga……
    Balikan aja sih!!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s