Don’t Say Goodbye

Don’t Say Goodbye

Author: Shin Chaerin

Cast: Choi Minho (SHINee), Shin Chaerin (imaginary)

Genre: Romance, Angst

Disclaimer: SHINee isn’t mine! But the plot is mine.

Rating: General

Length: Oneshot

Warning: AU, typo, alur gaje.

Song for this fic: Though I Call © B2ST

***

Minho POV

Bulan sudah menampakkan sinarnya. Aku menatapnya lekat-lekat, bulan yang sekarang menguasai malam, sambil sesekali aku menyesap kopiku. Beberapa saat kemudian aku mendapati seorang yeoja duduk di hadapanku. Ia juga membawa segelas kopi yang sama sepertiku.

Kami terdiam satu sama lain. Tak ada satupun dari kami berdua yang mengawali pembicaraan untuk sekedar basa-basi. Tapi akan lebih baik seperti ini. Karena aku tidak mau mendengar sepatah katapun darinya. Aku takut ia mengatakan hal yang paling kubenci di dunia ini. Aku tak berani menatapnya. Ia pun sama, yang ia lakukan kini hanya menggenggam erat cangkir kopinya dan menatap ke luar jendela.

Aku hanya menunduk sambil memandangi jam tanganku yang kini menujukkan pukul 19.10 malam.

“Ehm, Minho-ssi..”

Aku terkesiap mendapati dirinya memanggilku seperti itu. Sungguh hati ini seakan tersayat.

“Tentang apa yang aku katakan kemarin..”, ujarnya sambil memandangku dengan tatapannya yang sendu.

Andwe, jangan teruskan! Kumohon jangan teruskan. Aku tidak mau dengar apa yang akan kau katakan setelah ini. Kumohon, simpanlah kata-kata itu hanya dalam benakmu. Karena aku sudah tahu apa yang akan kau katakan pasti akan menyakitiku.

“Aku sudah memikirkannya. Mianhae, tapi kurasa perceraian memang jalan satu-satunya. Akan lebih baik kalau kita akhiri saja hubungan kita.”

Mendengar kata-katanya barusan bagiku seperti tersengat listrik jutaan watt. Ini pasti bohong kan? Apakah sekarang april fool? Atau apakah hari ini hari ulang tahunku? Tentu saja bukan, bahkan aku baru sadar kalau sekarang bulan Juli.

“Ka, kau bohong kan Chaerin-ah? kau pasti bercanda kan?”

“Mian, mianhae..”, ujarnya sambil terisak.

“Wae? Waeyo? Chaerin-ah, kau tahu kalau aku mencintaimu kan? Lalu kenapa kau lakukan ini padaku..” tanyaku meledak-ledak. Ia hanya diam.

“Kalau aku punya salah padamu aku minta maaf. Kalau kau tidak suka melakukan pekerjaan rumah, aku, aku yang akan mengerjakannya. Kalau kau tidak suka menungguku, aku janji aku tidak akan pulang larut malam. Kalau kau tidak suka melihatku mabuk, maka mulai sekarang aku tidak akan melakukannya lagi. Kalau kau tidak suka aku merokok, maka aku akan berhenti sekarang juga. Kalau kau tidak suka pada sikap burukku, aku janji akan mengubahnya. Tapi..tapi kumohon, jangan kau katakan hal itu Chaerin-ah..” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku, membuatku tersengal-sengal dibuatnya.

“Aniio Minho-ssi, bukan seperti itu..”

Aku segera memotong ucapannya, “Mwo? Katakan apa yang kau inginkan, maka akan aku lakukan Chaerin-ah. Tapi tidak untuk perceraian. Aku tidak bisa..”

“Mianhaeyo, tapi ini sudah menjadi keputusanku. Maafkan aku Minho-ssi. Maaf.” Kulihat air mata mengalir di pipinya.

Ini semua salahku. Seandainya aku tidak terlalu mementingkan egoku sendiri. Seandainya aku lebih memahami perasaannya. Seandainya aku tidak pernah menyakiti hatinya. Seandainya aku masih punya waktu untuk mengulang semuanya.

Namun yang kini kurasakan hanyalah penyesalan dan air mata. Ya, aku menangis. Aku sudah berusaha untuk tidak menampakkan diriku yang begitu rapuh di hadapan yeoja yang aku cintai. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri. Aku tidak bisa menerima kenyataan sepahit ini.

“Aku mohon Chaerin-ah, pikirkan sekali lagi. Aku masih mencintaimu dan akan selamanya mencintaimu”, aku kembali meyakinkan hatinya.

“Tak ada satupun yang abadi di dunia ini, Minho-ssi. Termasuk perasaanmu padaku.”

“Chaerin-ah mengapa kau lakukan ini padaku? Aku janji aku akan mengubah semua kebiasaan burukku. Tapi..tapi..”

“Percuma saja kau menjadi orang lain, Minho-ssi. Keputusanku sudah bulat. Mari kita bercerai saja. Setelah itu, bukankah kita masih bisa menjadi teman, ne?”, ujarnya sambil tersenyum yang dipaksakan.

“Chingu?? Sireo! Aku tetap tidak akan mencerainkanmu Chaerin-ah, sampai kapanpun!”

Kami kembali terdiam, menyelami pikiran masing-masing. Tiba-tiba aku teringat saat-saat bahagia bersamanya dulu. Tapi mengingat kenanganku bersamanya justru membuat hatiku semakin tersayat karena pada kenyataannya aku tidak bisa mengulang kenangan indah itu lagi.

“Apa..kau sudah tidak mencintaiku lagi Chaerin-ah?” ia hanya diam.

“Chaerin-ah..waeyo? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”

“Chaerin-ah..”

Ia terus terdiam, walaupun aku berkali-kali memanggil namanya. Kurasa aku tahu jawabannya. Lebih baik seperti ini, jawaban itu timbul dengan sendirinya dalam benakku daripada aku harus mendengar langsung darinya.

I already know what you’re gonna say

I wanna keep it away

I don’t ever wanna let you go

 

Don’t say a thing, don’t turn back

I already know that you’re going to say

With my head down I keep looking at my watch

My heart is clenching

 

If I look at you without any words I can’t stand it because I’m so nervous

I keep calling your name but you don’t answer

 

Why why why?

The conversations and words, our meetings and our times keeps getting shorter (never cry)

I can’t send you away like this

 

Ok, I already know but, like how old clothes get the warn out spots, our love shared a lot of times

Unlike the beginning, it’s just pausing for a while

After speaking of farewell, I know for sure that you will definitely regret it

I will give you plenty of time for you to swallow the words you are holding in your heart

 

Why why why?

After saying that you love me, how can you turn away so easily?

I can’t end it like this

 

Only you my girl, girl

Tell me baby, you’re my girl, girl. Baby baby, Don’t leave, I don’t want to forget you

I only have you

I’m still loving you, you

Oh my baby only you, you. Baby, baby, Don’t pretend like you don’t know my love

You know everything

 

Bye bye bye bye bye~

Your words are a lie lie lie lie lie

My eyes cry cry cry cry cry

Tonight

 

***

 

Ting Tong

 

Aku terperanjat saat menyadari ada yang memencet bel apartemenku. Aku melirik sekilas jam tanganku. Sudah pukul 18.30.

Kenapa bisa aku tertidur? Tidur di sofa pula, oh iya seingatku setelah pulang kerja aku menunggu istriku, namun ia tak kunjung kembali. Ia bilang, ia akan pulang telat karena menghadiri pesta pernikahan temannya.

Aku segera membuka pintu apartemenku. Di depan apartemenku kini tampaklah sesosok yeoja yang amat kucintai, dia istriku. Tanpa bicara apa-apa, ia langsung memasuki apartemen kami dan menghempaskan dirinya di sofa. Sekilas aku mendengar ia menggumam ‘lelah’. Perlahan-lahan aku menghampirinya. Apa dia masih marah padaku? Aku tidak berani menegurnya sampai sejauh ini.

Aku tidak mau mengganggunya dulu, maka dari itu aku menggiring diriku sendiri menuju dapur. Membuat secangkir minuman hangat favoritku. Kopi. Aku juga membuatkan istriku secangkir kopi yang sama denganku.

Aku membawa 2 cangkir kopi menuju ruang tengah, dan memberikan segelas untuk istriku. Sudah kebiasaan bagiku untuk menikmati kopi hangat tiap malam bersama istriku. Ia menyambutnya dengan berkata ‘gomawo’ sambil tersenyum simpul.

Aku duduk di kursi yang kebetulan dekat dengan jendela. Menikmati suasana malam, sambil sesekali menyesap kopiku. Beberapa saat kemudian, aku mendapati istriku duduk di hadapanku sambil membawa cangkir kopinya.

Kami merasa canggung satu sama lain, sehingga tak sepatah katapun keluar dari mulut kami. Tapi lebih baik seperti ini. Aku tidak ingin mendengar sepatah katapun darinya, karena aku takut ia akan mengakatakan hal yang paling aku benci di dunia ini.

Aku hanya menunduk sambil memandangi jam tanganku yang kini menujukkan pukul 19.10 malam.

“Ehm..Minho-ssi..”

Rasanya sedih sekali dipanggil dengan embel-embel -ssi oleh istri sendiri. Mungkin karena efek pertengkaran kemarin yang membuatnya enggan memanggilku dengan sebutan chagiya atau yeobo seperti pasangan suami istri lainnya. Aku jadi ingin menangis.

“Tentang perkataanku yang kemarin..”, aku menatapnya dengan segera, ia memandangku dengan tatapan sendunya.

Apa..apakah ia akan mengatakan masalah perceraian? Apakah ia akan menceraikanku disini? Oh tidak! Itu tidak boleh terjadi.

“Mianhae aku-“

Sebelum terlambat aku segera menyela perkataannya, berharap dengan begini bisa mengubah pikirannya. “Andwe, jangan teruskan. Aku tidak mau mendengarnya. Kumohon jangan teruskan. Jangan katakan Chaerin-ah. Aku mohon..”, ujarku memelas.

“Mwo?”

“Kalau aku punya salah padamu aku minta maaf. Kalau kau tidak suka melakukan pekerjaan rumah, aku, aku yang akan mengerjakannya. Kalau kau tidak suka menungguku, aku janji aku tidak akan pulang larut malam. Kalau kau tidak suka melihatku mabuk, maka mulai sekarang aku tidak akan melakukannya lagi. Kalau kau tidak suka aku merokok, maka aku akan berhenti sekarang juga. Kalau kau tidak suka pada sikap burukku, aku janji akan mengubahnya. Tapi..tapi kumohon, jangan kau katakan hal itu Chaerin-ah..” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku, membuatku berkeringat dingin dan tersengal-sengal mengucapkannya.

Aku melihat Chaerin tersenyum sangat manis padaku, kemudian tertawa. Eh?? tertawa??

“Wae, waeyo?”

“Kau lucu sekali Minho-ssi, ah, chakkaman..”, aku melihat istriku beranjak dari tempat duduknya. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa sebuah kue tart. Hah? Apa maksudnya ini? Apa hari ini april fool? Atau hari ini hari ulang tahunku? Tidak mungkin, aku yakin sekarang bulan Juli. Apakah aku bermimpi? Tidak mungkin, karena aku baru saja bangun tidur.

Chaerin meletakkan kue tart itu di meja, kemudian ia kembali duduk. Aku hanya menatapnya heran.

“Huft, sudah kuduga aku tidak tega berbuat seperti ini padamu”, ujarnya.

“Apa maksudnya?”

“Err masalah kemarin..”

Aku menahan napasku, apa dia akan mengungkit masalah perceraian itu? Ya Tuhan, semoga tidak..

“Kenapa wajahmu pucat? Kau sakit?” tegurnya.

“A, anii..”

“Masalah kemarin itu.. Mianhae. Aku jadi merasa bersalah padamu. Apa kau memikirkannya?”

“Te, tentu saja aku memikirkannya. Bagaimana aku tidak memikirkannya, kemarin kita bertengkar lalu..lalu kau bilang lebih baik kita bercerai..aku..aku..”, ujarku gugup.

“Mianhae, sebenarnya kemarin aku cuma bercanda. Aku sengaja mencari-cari masalah agar kita bertengkar lalu aku mengerjaimu dengan mengatakan hal itu. Untuk memberimu surprise hari ini. Tak kusangka kau terus memikirkannya hahaha.”

“Mwo? Bercanda? Surprise?” ujarku tidak percaya. Ia hanya mengangguk.

“Surprise karena apa? Sekarang kan bukan april fool, juga bukan ulang tahunku.”

“Yah!! Sudah berapa tahun kau menjadi suamiku hah? Bagaimana kau bisa lupa ulang tahunku? Apa kau sudah bosan hidup?!” ujarnya geram.

Aku menepuk jidatku sendiri. Ah benar juga!

“Jadi, kau tidak benar-benar ingin bercerai denganku kan?” ujarku memastikan.

“Tentu saja tidak! Lagipula aku tidak mau jadi janda”, sahutnya.

Oh, Ya Tuhan! Perkataannya barusan membuatku melayang setinggi-tingginya. Terima kasih Tuhan, ketakutanku tidak menjadi kenyataan. Dan aku baru menyadari saking takutnya aku bercerai dengan Chaerin, sampai-sampai terbawa mimpi. Untung hal buruk itu hanya sebatas mimpi. Aku tidak bisa membayangkan kalau saja mimpiku tadi menjadi kenyataan. Aku bisa gila.

“Baiklah, ayo nyanyikan selamat ulang tahun untukku!” ujarnya bersemangat.

Aku segera menyanyikannya. Ia tersenyum lebar saat melihatku menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Huh, benar juga, suami macam apa aku ini? Bagaimana aku bisa lupa hari ulang tahun istriku sendiri?

“Nah, sekarang make a wish”, ujarku padanya. Ia menutup matanya sejenak, lalu membuka kedua matanya. Entah apa harapannya. Tapi aku yakin itu pasti yang terbaik.

“Choi Minho, Choi Minho, Choi Minho, saranghaeyo, saranghaeyo, saranghaeyo”, Chaerin menyerukannya sesaat sebelum meniup lilin hanya dalam waktu 3 detik.

“Apa itu tadi? Aku tidak dengar. Kau mengucapkannya terlalu cepat. Ayo ulangi”, aku menggodanya.

“Sireo!”

“Mwo? Awas saja, kubalas kau nanti?!” Chaerin hanya tertawa sambil sesekali mengejekku.

“Chaerin-ah..”

“Hm?”

“Aku janji, aku akan selalu mencintaimu, menjagamu dan melindungimu. Maka dari itu, jangan pernah pergi dariku.” Ia tersenyum manis padaku.

“Saranghaeyo”, ujarku padanya.

“Na do”, balasnya.

Benar, selagi masih ada waktu aku akan benar-benar menjaga dan melindungimu.

So, don’t ever say goodbye to me, baby..

The End

Waa, mian, mian kalo ff-nya terlalu gaje. Maap juga kalo semuanya pada bingung baca ff-tidak-jelas-ku-ini *nangis di pojokkan*, maklum author-nya kaga pinter-pinter bikin ff dari dulu hehehe *ditabok*

Sebenernya saya pengen bikin drabble angst tapi saya gak tega bikin cerita tragis kayak gitu, akhirnya malah jadi oneshot happy ending nyehehe (walaupun rasanya kependekan).

Thanks for reading!!

Mind to review my FF please ?

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

16 thoughts on “Don’t Say Goodbye”

  1. Huaaaa
    Yang ulang tahun istrinya
    Yang dikerjain minhonya
    Yaampunnn ampe stress itu si minho
    Kasiannn
    Tapi akhirnya. Happy ending
    Yampunnnn
    Daebak (y)

  2. Hwa… Daebak thor…..
    Keren minho,na sweeeeeettt banget..!
    Yey happy end…
    ..uhu aq terharu dg minho…

  3. huwaaa keren ma minho !!! aku kira beneran !! huwaaa ampe nyesek wkwkwk !! tau tuh suami macam apa lupa ultah istri !!!
    ahahahahahhaha
    keren bgt kok thor !!!

  4. Wakakkaka yang ulang taun istrinya yang dikerjain minho hihihi ucuul(?)
    Minho udh mau garuk tanah ya (?) ?
    Tapi untung happy ending :♉(‾▿‾)♉
    Daebaaaak!:D

  5. spa yg ulang thn? spa yg dikerjain?
    ckck Minho kok lp sma ultah istri sndri…?
    syukurlah happy ending.. kirain mreka bkal pisah..

  6. Chae Rinnnnnnnnn…
    This is soooooo sweetttt! as sweet as a lollipop kekeke =’]

    Ehm..I’m not good at giving a review..hehehe..
    tapi cerita ini beneran manisssssss
    aku sukaaa ^^b

  7. kirain beneran ,, uwda tegang gituw ..
    eh ternyata ………..
    syukurlah ,, masa punya suami seganteng minho mw diceraiin .. ?
    mending kasi aku ajja … *digebukin flames*

  8. haha keren ^^
    aku justru berasa pengen nangis pas bagian “kenyataan” nya, bukan yang bagian sedih ppas “mimpi” nya. abisnya~~~~~ uggghh!!!
    nice ^^

  9. storylinenya bagus.. cuma kyaknya terlalu cepat.
    Terus g ada pemisah yang nunjukkin perpindahan waktu, jadi saya bingung cerita sebelumnya itu flasback atau gimana <ini mungkin saya yang lemot :p

  10. mau dong ngerayain ulang tahun bareng minho…#pede,,:P. hahaha… kasian amat minho tidur disofa, ga punya kasur ya??? hahaha…. kasian..#bercanda eonni.. hehehe… keren keren keren. cuma terlalu singkat.#banyak maunya deh:P

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s