SECRET OF DAWN : My Way – File 6

 

Author                                     : Storm

Main Casts                              : Dawn, Shinee

Main Supporting Cast             : Sky, Yen, Chota (The author of Finally)

Genre                                      : Psychology, Life, Family, Friendship

Length                                     : Sequel

Rating                                     : PG-13

Inspired by                              : Perfect Match by Jodi Picoult

Cover by                                 : Suci a.k.a Icusnabati (Tetep merasa Key ganteng!! 0//o )

 

SECRET OF DAWN
File 6 – My Way!!

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ADIKKU???” Ku dorong kasar tubuh namja berengsek itu. Beraninya ia menyentuh Dawn yang sedang menatap kosong jendela kamarnya. Sial!!

“A-aku hanya membantunya mengancingkan bajunya.”

“Mengancingkannya? Atau membuka satu-persatu kancing bajunya? HAH?? JAWAB!!” Minho. Ia menatapku dengan memicingkan matanya, mengerutkan keningnya.

“Membuka satu-persatu kancingnya??” Aku mengangguk galak. “Ya. Satu-persatu! Itu kan yang sedang kau lakukan?”

“KAU GILA??” Tanya Minho tidak percaya. Aku mendengus. Kulihat Dawn tetap di posisinya. Memandangi langit dengan tatapan kosongnya. Tidak perduli sama sekali bahwa dua oppa terdekatnya -dulu- sedang bersilat lidah. Nafasnya juga tidak terdengar. Ia benar-benar bernafas dengan pelan.

“SUMPAH DEMI TUHAN! AKU HANYA MENGANCINGKANNYA!!” Minho masih mempertahankan dirinya.

“Mengancingkannya? Berarti kau juga memakaikannya baju? Including her underwear??”

Her WHATTT??” Teriak Minho kaget. CIH!! Mau berakting di hadapanku? TIDAK AKAN BISA!!

“KEY! WHAT IS WRONG WITH YOU??” Aku hanya mengedikkan bahuku. Tidak memperdulikan pertanyaan-sok-terkejut Minho itu.

“Dawn sarapan?” Tanyaku pada Dawn. Membiarkan Minho memberikanku tatapan penuh tanya plus emosi yang kurasa adalah sandiwara.

“YA! KEY!! ” Minho menarik lenganku menghadapnya. Membuatku menatap dirinya yang lebih tinggi beberapa centi dariku.

What??”

“Jelaskan!”

“Apa?”

“Apa maksudmu dengan menggantikannya her underwear? Hah? Kau pikir aku oppa yang mesum apa??” Bukankah itu sudah pasti? Kenapa masih mengelak?

“Key, jawab. Kenapa kau berkata seperti itu?” Aku diam tidak menjawabnya. “Apakah terjadi sesuatu pada Dawn?”

YA! Terjadi sesuatu pada dirinya! TERJADI SESUATU! DAN KAU TAU PASTI ITU!!” Itu kalimat yang ingin ku teriakkan dari tadi. Bukan hanya berteriak di hatiku saja. Tapi ingin kuteriakkan di hadapan semua namja di rumah ini!!! ARGGHHH!!!

Anni..” Tapi itu yang keluar dari mulutku. Berbohong itu sakit. Menyembunyikan kenyataan itu menyesakkan. Tapi apa dayaku? Jika Minho atau yang lain tau bahwa aku sudah tau apa yang terjadi, bisa-bisa mereka melahap habis adikku lagi. SIAL!!

“Lalu kenapa kau berbicara seperti itu??” Aku menarik nafas dalam-dalam. Menahan emosiku.

“Hanya tangannya yang terluka Minho. Ia tidak lumpuh. Ia hanya terluka di pergelangan tangannya. Ia masih bisa memakai bajunya sendiri.”

“Key?” Minho menatapku tidak percaya. Kedua alisnya tertaut. Keningnya membuat lipatan-lipatan kecil.

Aku sedikit menarik nafasku, “Just don’t touch her anymore. Please?

*BRAK

Minho menutup kasar pintu kamar Dawn setelah tadi ia menatapku dengan tatapan tidak mengerti. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya. Hanya tatapan matanya yang menyiratkan ketidakmengertian dirinya akan sikapku. Tapi siapa yang perduli? Aku tidak perduli. Mau ia menatapku garang kek, mau menatapku sinis kek, atau kalau ia hendak meninju wajahku sekalipun, aku tetap tidak perduli. Ini caraku untuk melindungi adik perempuanku yang jiwanya sedang terluka. Ini caraku untuk melindungi adik perempuan yang sempat aku abaikan. Ini caraku untuk melindungi DAWN, MY BELOVED SISTER!! Aku bersumpah, tidak akan ada lagi seorang namja yang menyentuhnya. AKU BERSUMPAH!

Aku sedikit mengambil nafas sekedar menstabilkan emosiku kembali. Tidak mungkin aku berinteraksi dengan Dawn dalam keadaan labil kan? Kalau aku labil, bagaimana dengan Dawn?

“Dawn, sarapan ya?” Pintaku pada akhirnya. Tapi seperti yang sering Dawn lakukan akhir-akhir ini, dia diam. Dia tidak meresponsku. Dan aku hanya bisa mengambil nafas panjang. Menutup kedua mataku sebentar. Menangis dalam hati. Tapi masih mencoba untuk tersenyum pada gadis kecilku ini.

“Makan sayang? Hmm?” Aku masih memandangi dirinya yang masih juga diam. Kududuk di sampingnya. Mencoba untuk mendekati dirinya lebih dekat. Mencoba mendapatkan kepercayaannya. Mencoba mengatakan bahwa aku adalah oppa nya yang tidak mungkin menyakitinya. Tapi mungkinkah aku mendapatkan kembali kepercayaannya atas nama ‘oppa’? Akupun ragu akan hal itu. Jika aku di posisi Dawn, mungkin aku juga akan seperti itu. Menjauh dari kata ‘oppa’. Menjauh sebisa mungkin.

Sky told me that you missed me?” Dawn menutup kedua kelopak matanya sebentar. Hanya sekedar mengistirahatkan matanya yang dari tadi menatap kosong langit biru kurasa. Dan aku masih menatapnya sesak.

“Kau tau? Aku juga merindukanmu. Sangat merindukanmu.” Kugenggam erat tangannya. Walau tidak ada genggaman balik darinya. Walau tidak ada senyum darinya. Tetap kugenggam tangan adikku ini erat. Aku..hanya ingin mengatakan, aku ada di sisinya. Aku ada untuknya.

***

“KYAAAAAAAAAA!!”

DAWN!!! Aku segera berlari dari dapur dan dengan langkah cepat menuju kamarnya.

*BRAK

Membuka kasar pintu kamar berwarna coklat ini. Sempat terhenti sebentar karena melihat pemandangan yang tidak wajar menurutku. Dawn menarik selimutnya. Menutupi tubuhnya. Kepalanya menggeleng keras. Air mata terus jatuh ke pipinya. Hidungnya memerah yang segera menjalar ke seluruh wajahnya.

“JINKI HYUNG!!!” Kakiku kembali melangkah. Berjalan mendekati namja yang tengah duduk di pinggir tempat tidur Dawn.

“Keyy..aku..akuu…” Tangan yang tadi terlihat menarik paksa selimut Dawn kini segera terlepas.

*BUG

Kutarik kerah kaos merah yang dipakai Jinki hyung. Membuatnya jatuh terduduk. Dan segera menghampiri Dawn. “Dawn gwenchana?” Tanyaku pada Dawn yang masih memegang kencang selimutnya.

“YA!!! KEY! Apa yang kau lakukan?? Kenapa kau mendorongku??” Erang Jinki hyung yang sekarang sudah berdiri.

“Apa yang kulakukan?? APA YANG KAU LAKUKAN HYUNG?? Itu pertanyaannya!!”

“AKU? AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN!!”

“Kalau kau tidak melakukan apapun. Kenapa ia berteriak?? KENAPA??” Kini kutarik kerah baju hyungku. Matanya beradu langsung dengan mataku.

“Ia sudah menangis ketika aku masuk ke kamarnya tadi.” Jinki hyung menghempas tanganku yang menarik kuat kerah bajunya.

“Pembohong!!”

“Aku tidak berbohong! Itu kenyataannya.”

“Lalu kenapa ia terlihat seperti orang ketakutan seperti itu? Kau lihat hyung, ia menutupi seluruh tubuhnya. Lihat!”

“Ta-tadi aku hanya bertanya padanya kenapa ia memakai baju berlapis seperti itu. Kau lihat saja, ia terlihat seperti orang gila Key. Memakai baju berlapis. Memangnya sekarang musim dingin??”

“Dan kau menyuruhnya untuk membuka semua bajunya??” Jinki hyung mengangguk. Aku menggelengkan kepalaku. Tidak percaya dengan semua ini. Tadi Minho. Sekarang Jinki hyung? Siapa lagi nanti? Dan alasan apa yang akan mereka pakai??

“Hyung, kumohon jauhi Dawn. Jangan mendekatinya.”

“Kau aneh! Apa hak mu memintaku menjauhinya? Dawn itu adik sepupuku. Aku oppa-nya. Lalu kenapa aku harus menjauhinya??”

“Setan tidak mengenal hubungan darah hyung!” Jinki hyung tampak tersentak mendengar ucapan bernada tinggi dariku. Sama seperti Minho, ia memberikan tatapan pura-pura tidak mengertinya. Hallah! Mau seperti apapun kau menatapku, aku tetap akan menjauhimu dari Dawn.

Kualihkan kini pandanganku pada Dawn. Meninggalkan Jinki hyung dengan pikiran dan tatatapan sok tidak mengertinya itu. Sama saja seperti Minho! CIH!

“Dawn gwenchana..”

Hiks. Hiks. Hiks. Masih terdengar senggukan darinya.

“Tenang sayang..Oppa sudah di sini.”

“Hiks. Hiks. Pergi oppa. Kumohon pergi..” Oh.. Tidak. Kumohon jangan memintaku untuk pergi. Kumohon.

“Oppa..temani ya..op-” Dawn menggeleng keras. Menarik tangannya yang kusentuh. “Kumohon oppa.. Kumohon..”

“Ara. Ara. Oppa akan pergi.” Oh..Tuhann..kenapa batu di dadaku ini terasa semakin besar? Kenapa membuatku semakin sesak? Semakin susah untuk bernafas?

“Hyung! Ayo keluar!” Kutarik lengan Jinki hyung. Tapi ia segera menghempasnya.

“Kenapa aku harus keluar? Dawn hanya memintamu yang keluar. Bukan aku!”

“TSK! Keluar!!”

“Ya! Key!”

*BRAK

*CKLEK

Langkah terhenti. Tangan mencengkram kuat lengan Jinki hyung. Bibir tersenyum miris. Tersenyum dengan membawa perih di hati. Ketika aku mendengar bunyi pintu ditutup kasar dan menguncinya sesaat setelah kami keluar dari kamarnya. Setakut itukah dirimu sayang? L

***

“Makan Dawn..Kalau tidak makan nanti sakit..” Jonghyun hyung membujuk Dawn di kamarnya. Akhirnya setelah berjam-jam kami memintanya untuk membuka pintu, kami berhasil masuk. Bukan Dawn yang membukanya, tapi Taemin. Ia mempunyai kunci cadangan rumah ini.

“Dawn.. ini enak loh.. Aku sengaja masak untuk mu.” Dawn tetap menutup rapat bibirnya. Rapat. Sangat rapat. Kurasa udara setipis apapun tidak bisa menembus dua bibirnya yang terkatup rapat itu.

“Cobalah.. Spaghetti buatanku tidak mungkin kalah dari buatan Key. Hmm?” Tangan Jonghyun hyung yang memegang garpu masih berada di depan bibir Dawn. Dawn masih mengatupkan bibirnya. Kedua tangannya masih memegang erat selimutnya. Ku hirup udara dengan beratnya. Dan kuhembuskan kembali dengan perih.

“Tidak mau makan. Teriak-teriak tidak jelas. Memakai baju berlapis. Diam. Apa yang kau mau, Dawn? Ada apa denganmu? Bilang pada oppa. Kenapa kau seperti ini? Apa ada yang jahat padamu?” Dawn menatap Jonghyun hyung dengan datar. Tangannya melepas selimut yang daritadi dipegangnya erat. Bergerak mengambil piring di tangan Jonghyun hyung. Aku, Minho, Taemin, dan Jinki hyung menahan nafas kami. Mungkinkah? Mungkinkah Dawn akan makan?

Dua sudut bibirku mulai tertarik ke atas. Mata Jinki hyung mulai berbinar. Minho dan Taemin bergerak tanpa mereka sadari. Dawn mulai mengarahkan garpu dengan spaghetti ke mulutnya. Ia memakannya. Ia memakannya.

Tapi……

“Hentikan! Ku mohon hentikan!” Jonghyun hyung dengan suara yang bergetar menahan lengan Dawn. Mencegahnya memasukkan spaghetti lebih banyak lagi. Batu besar di dadaku menjadi lebih berat.

Dawn. Ia memang memakan spaghettinya. Memang. Tapi tanpa henti. Ia tidak mengunyah spaghetti itu. Tapi ia terus memasukkan spaghetti ke mulutnya. Pipinya menggembung. Bibirnya penuh saos. Ia lebih memilih makan, daripada menjawab pertanyaan Jonghyun hyung.

“Buang! Buka mulutmu.” Jempol dan dua jari tangan Taemin kini berada di kedua pipi Dawn. Memaksanya untuk membuka mulutnya. Sedangkan satu jari dari tangannya yang lain mengeluarkan spaghetti di mulut Dawn.

“Uhuk. Uhuk.” Dawn tersedak. Taemin memandangnya. Dawn gemetar hebat melihat tatapan Taemin.

Are you out of your mind?” Taemin mencengkram kedua pundak Dawn. Menggoyangkannya dengan kasar.  “Bukankah aku sudah minta maaf? Kenapa masih seperti ini?” Dawn diam. Tubuhnya benar-benar gemetar.

“Lepas Taemin! Lepas!” Jonghyun hyung menarik tangan Taemin. Tapi tidak berhasil. “Lepas Taem. Kasihan Dawn. Lepas!” Minho tetap ditempatnya. Jinki hyung duduk tersungkur lemas. Aku berjalan menghampirinya dengan air mata.

Aku menangis di hadapannya. Benar-benar menangis. Kuhempas tangan Jonghyun hyung dan Taemin. Kupeluk dirinya. Kubenamkan wajahnya di dadaku.

“Gwenchana.. Gwenchana.. Kalau tidak mau makan tidak apa-apa. Tapi jangan seperti tadi. Kau bisa mati tersedak Dawn.” Kupeluk erat dirinya. Sangat erat. Badan kami mengayun ke depan dan ke belakang. Tanganku tetap mengunci erat punggung Dawn. Menepuk pelan punggungnya. Mencoba menenangkan dirinya. Kukecup kepalanya. Tidak ada kata yang keluar dari kami. Tapi air mataku tetap jatuh. Aneh.

Yes, it is true. No words could describe our feeling. No words could describe our pain. No words.

Only hugs could.

Seharusnya aku memeluknya dari dulu. Memberikannya rasa aman. Mentransfer hangatnya seorang oppa pada jiwa adik perempuannya yang tersayat.

“Gwenchana..” Terus menepuk pelan punggungnya.

Everything’s gonna be okay.” Terus memeluk dirinya.

“Aku akan membunuh monster itu untuk dirimu”

***

*Klinting

Kuedarkan mataku di café ini. Café yang penuh dengan aroma kopi.

Mataku terhenti pada seseorang dengan poni yang hampir menutupi seluruh keningnya. Tangannya melambai padaku. Kuhampiri dirinya.

“Chota,” sapaku padanya.

“Kibummmmm.. Apa ka-” Ucapannya terhenti.  “Omo! Kenapa wajahmu?” Berganti dengan tatapan khawatir. Aku hanya tersenyum kecil.

“Hey! Kupikir kita akan bersenang-senang malam ini. Tapi tampaknya aku salah. Ada apa?” Aku hanya menatapnya. Sudah lama aku merindukan sosok di depanku ini.

“Kau tidak berubah.” Ujarku padanya.

“Memangnya kau berubah?” Tanyanya dengan tatapan khawatir. “Bertengkar?” Aku masih memperhatikan tiap inci wajahnya. Berubah. Ia berubah.

“Kemana kacamatamu?”

“Kuganti dengan ini.” Telunjuknya menunjuk pada bola matanya yang kini berubah warna menjadi coklat. “Hey, kau habis bertengkar?”

“Aku butuh bantuanmu.” Chota menarik nafas. Pasrah kurasa. Karena aku sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu.

“Kalau kau meminta bantuanku untuk mengatasi kasus perkelahianmu itu. Aku tolak langsung!” Ujarnya tegas. Ia memang paling tidak bisa melihat orang berkelahi.

“Boleh aku memelukmu?” Chota tersenyum. Dan dalam sekejab aku sudah berada dalam pelukan hangat gadis ini. Gadis ini, Chota, ia tidak pernah tau bahwa aku selalu memperhatikan gerak-gerik dirinya. Ia tidak tau bagaimana aku memperhatikan dirinya yang selalu menyisipkan rambut ke belakang daun telinganya. Ia tidak tau bahwa aku selalu memperhatikan dirinya yang selalu membetulkan kacamatanya yang merosot ke batang hidungnya. Ia tidak tau itu.

*EHEM!

“Apa aku mengganggu?” Suara seorang gadis. Dan aku langsung melepaskan pelukan Chota.

“TELAT terooossss!” Protest Chota pada Yen yang baru saja datang. Yen memandangku sekilas. Tapi segera mengalihkan pandangannya. Mengambil tempat di tengah-tengah Chota dan aku. Aku tertawa dalam hati. Dasar anak kecil. Dia pikir aku sama seperti dirinya yang susah pindah ke lain hati?

“Urusan pernikahan ini membuatku stress! Aku bahkan baru saja dapat kabar bahwa ada masalah dengan dekorasi gedung kami.” Cerocos Yen.

“Lalu?” Tanyaku.

“Kuserahkan saja pada Jiyoung. Masa dia enak-enakan diam saja. Inikan pernikahan aku dan dia.” Aku dan Chota mendengarnya tidak percaya.

“Anak kecil!” Yen langsung melotot pada Chota.

“Cepat ganti nickname kalian untukku itu. Aku bukan anak kecil lagi tau!” Tetap saja -_-!!

“Omo! Ya Tuhan! Keyy!! Kenapa wajahmu?” Tanya Yen kaget. Bagaimana mungkin anak ini baru sadar kalau aku babak belur seperti ini?

“Lupakan.” Kukibaskan cepat tanganku. Malas aku membahas lebam di wajahku ini. Pertengkaranku dengan semua 4 namja di rumah itu sama sekali merusak mood-ku. Hanya karena aku mengizinkan Sky masuk kamar Dawn, mereka sudah menjadi gusar setengah mati. Aku kan tidak bisa meninggalkan Dawn seorang diri. Aku lebih percaya Sky daripada mereka.

“Aku butuh bantuan kalian. Chota kau sudah dengar kan dari Yen?” Tanyaku langsung. Chota mengangguk menjawabnya.

“Tapi..aku bukan seorang pengacara. Aku hanya mahasiswa jurusan hukum Kibum. Dan pidana juga bukan major ku. Aku kan mengambil hukum bisnis.” Papar Chota.

“Tapi kan setidaknya kau tau tentang pidana, walau sedikit.” Ujarku padanya. Chota tampak ragu. Tapi kemudian ia mengangguk. “Di tahun pertama memang aku diajarkan sih. Tapi.. Aku tidak yakin bisa membantumu.” Aku menarik nafas lega. Tidak apa. Masalahnya adalah aku tidak bisa menghubungi pengacara dengan statusku sebagai artist ini. Bisa langsung heboh Seoul nanti!

“Apa yang harus kulakukan, Chota? Aku sudah tidak tahan melihat Dawn seperti ini. Kemarin saja ia tidak makan. Menangis. Ketakutan. Aku harus segera menangkap pelakunya.”

“Dawn sudah mengatakan siapa pelakunya?” Aku menggeleng.

“Kalau Dawn tidak bisa menunjukkan siapa pelakunya akan susah Key. Ini sexual abusement.”

“Bukankah ada polisi?”

“Polisi tidak akan percaya jika tidak ada bukti. Apa kau mempunyai buktinya?” Aku menatap Yen. Yen hanya mengedikkan bahunya. “Bukti? Bukti apa?”

“Bukti bahwa Dawn sudah mengalami sexual abusement.” Aku terperangah.

“Bukti seperti apa maksudmu? Visum?” Chota mengangguk. “Maksudmu visum bahwa Dawn sudah diper- I mean, someone raped her?” Chota kembali mengangguk. Entah kenapa aku merasa lebih nyaman mengucapkannya dalam bahasa asing. “Bagaimana caranya?” Tanyaku lagi.

“Pergilah ke rumah sakit. Ajak Dawn bersamamu. Nanti akan ada dokter yang memeriksanya.” Jelas Chota.

“Maksudmu, memeriksanya di bawah sana?” Tanyaku ragu.

“Iya. Dokter tidak akan melihatnya langsung. Jadi kalau tidak salah, ada alat yang akan dimasukkan ke dalam vagina-nya. Nah dari situ akan kelihatan apakah ia su-”

“Alat? Dimasukkan ke dalam vaginanya? KAU GILA??? AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN ADIKKU DIMASUKI SEBUAH ALAT. Tidak akan!!” Tolakku langsung. Chota ini sudah gila atau apa? Aku tidak akan membiarkan Dawn dimasuki apapun. Dia sudah cukup trauma.

“Kibum tidak akan terasa sakit. Kan dibius. Kau bisa meminta bius total jika mau.” Aku tetap menggeleng keras. “Kalau kau tidak punya bukti, kau tidak bisa membuat laporan Kibum.” Aku panik. Tidak mungkin aku membiarkan Dawn di visum jika seperti itu caranya.

“Sky. Yen kau ingat Sky?” Yen mengangguk cepat. “Dawn pernah cerita padanya bahwa someone raped her. Dan..dan bagaimana dengan coretan-coretan itu? Garis-garis merah di novel itu?”

“Sky bukan bukti. Ia saksi. Lagipula aku takut, tidak cukup kuat. The thing is Dawn bisa saja dianggap berhalusinasi jika ia tidak mempunyai bukti fisik. Karena itu visum perlu Kibum.” Aku menghembuskan nafas dengan gusar. Sial!! Tidak mungkin aku meminta Dawn untuk melakukan visum.

“Hukum itu berbicara bukti Kibum. Kalau kau tidak mempunyai bukti. Percuma.” Aku menatap Yen. Meminta pendapatnya.

“Lakukan visum Key.” Hanya itu saran dari Yen. Tsk! Apa yang harus kulakukan?

“Kibum, pidana itu kejam. Orang yang bersalah, bisa saja melenggang bebas. Karena itu aku lebih memilih hukum bisnis. Setidaknya aku tidak harus berhadapan dengan para pengacara sok baik, sok alim, padahal ia membela sang Kriminal! Cih! Terkutuklah orang-orang seperti itu!”

***

“Hukum itu berbicara bukti Kibum”

“Lakukan visum Key.”

Visum ya? Haruskah?

“Siapa? Siapa yang sudah jahat padamu? Bilang oppa. Oppa akan membunuhnya untukmu”

“Aku akan membunuh monster itu untuk dirimu”

Apa aku harus membunuh mereka? Tapi..kalau hukum tidak bisa..

Kalau kau membunuhnya. Siapa yang akan kau bunuh? Monsternya saja belum ketemu.” Perkataan Sky kembali terngiang.

Benar! Siapa yang harus kubunuh?

Aku berjalan pelan dari pintu utama rumah ini. Menyisiri setiap ruangan dengan gontai. Benar. Aku harus mengungkapkan kasus ini sendiri.

Ingat-ingat Key. Ingat-ingat. Siapa yang paling Dawn takuti.

Minho? Dawn diam saja ketika Minho mengancingkan bajunya.

Jinki hyung? Ia teriak histeris.

Jonghyun hyung? Ia juga diam saja. Tapi Dawn terlihat sangat ketakutan.

Taemin? Ia bergetar hebat! Tapi kurasa karena Taemin menyentuh pipinya kasar. Baiklah. Coret Taemin sebagai pelakunya. Lagipula ia masih kecil. Tidak mungkin ia melakukan hal aneh. Ia terlalu polos.

SIAL!!

Bagaimana aku memecahkan misteri ini? Aku bahkan tidak mengerti arti diamnya Dawn. Apa dia takut? Apa dia merasa baik-baik saja? Argh!! Kenapa sesuatu itu harus mempunyai banyak arti? Tidak bisakah mereka hanya mempunyai satu arti?

Lalu teriakan histerisnya. Kenapa hanya teriak pada Jinki hyung? Kenapa tidak pada Minho. Padahal Minho mengancingkannya baju. Sedangkan Jinki hyung hanya memintanya membuka baju berlapisnya  itu.

Tunggu kenapa aku harus menganalisa dari reaksi Dawn? Kenapa aku tidak mencoba menganalisa dari tingkah laku empat namja itu?

Pikiranku berfikir cepat. Mencoba mengingat setiap tingkah laku empat orang namja itu. Teriakan histeris sudah pasti. Diam sudah pasti. Tubuh yang bergetar hebat sudah pasti. Semua orang yang trauma sudah pasti bersikap seperti itu.

Jinki hyung? Waktu itu dia.. Ehm..

Minho? Tidak. Tidak.

Taemin? Ehm.. itu adalah hal biasa. Dia bahkan meminta maaf terus-terusan.

Jonghyun hyung? Errr… Aku pasti berlebihan!

Sebentar! Kenapa hanya dia yang melakukannya?? Apa karena..

Damn! Kuharap tidak! Ia tidak mungkin melakukannya.

Kupercepat langkahku. Membuka setiap pintu kamar. Memeriksa apakah mereka semua ada di kamarnya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Em..pat.. Wait! Kemana orang itu? Kenapa hanya ada 3 namja?

Sial! Sial! Sial!

Mana mungkin aku melupakan tingkah menjijikkannya itu. SIAL!! Dan kenapa hanya dia yang… Langkahku semakin besar dan cepat.

*CKLEK

Kubuka pintu kamar Dawn. Terlihat seorang namja yang menghilang dari kamarnya di sana. Hah! Duduk bersimpuh di hadapan putri mu, huh? Merasa menyesal? Terlambat!

GOTCHA, MONSTER!!

***

TBC

***

A/N:

Nduttt…Thanks for the info tentang hal-hal berbau hukum itu ya.. Gila! Ternyata hukum itu menarik ya? COOL! Eh, gw mau dong diceritain tentang corporate lawyer.. next time ya.. ^o^b

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

113 thoughts on “SECRET OF DAWN : My Way – File 6”

  1. Baru kesini lagi. Langsung cari ini FF. Pelakunya siapa sih? Syukur dah, aku bukanya pas dah ada lanjutannya. Jadi gak usah nunggu lama. Oke! Aku mau bacanya ‘File 7″nya. ^^

  2. Hukum emang jahaaaat!
    Catat itu! hahaha

    Tapiii heeemm.. Kok aku agak curiga sama taemtaem ya?
    Soalnya dari kemaren dia yg agak au curigain

  3. sp?sp?sp? sp pelakunya..
    ok author, anda sukses bikin saya jd mahasiswi nakal….
    setengah jam lg kuliah(HUKUM &etika profesi), tp saya sama sekali belom mandi?arghhhhhhhh

  4. taemin ya? 😯
    huhu aku pribadi ga mau kalo dia pelakunya, tapi semua bukti mengarah ke taem… andwaeee 😥

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s