Go Away – Part 4

Title: Go Away
Genre: Romance, Sad
Author: Reene Reene Pott
Rating: General

Main Cast : Choi Minho, Lee Son Hee

Supporter Cast : Goo Hara, Donghae, Park Nah Ra, Oh Jae Jin, Kim Hyun Jae, Choi Sulli
Legth: Sequel
Language: Indonesia

A/N : Mianhae kelamaaan.. *sujudsujud* akuthor baru kelar UAS.. Hohoho… Udah deh daripada denger bacotan author yang ga jelas mending langsung baca ajadahhh… Hope you enjoy it!!!

Chapter 4

Tiba-tiba, sesuatu tertangkap oleh mata Son Hee. Seorang namja tinggi bersama seorang yeoja yang sedang menggendong seorang anak perempuan berlalu di sampingnya. Son Hee membuang muka. Tanpa sepengetahuannya, namja itu menolah ke arah Son Hee tepat setelah Son Hee membuang muka, memandangnya dengan tatapan sedih.

Son Hee’s POV

Tentu saja aku melihatnya. Keluarga kecil yang sangat berbahagia itu, Choi Minho, Choi Hara dan Choi Lina. Aku jadi berpikir, kalau mereka  punya anak lagi, namanya siapa yah?? Ah biarlah. Mereka bukan urusanku. Tapi kenapa aku tidak mau melihat mereka bersama? Apa aku cemburu? Ah, molla, tapi aku yakin perlahan-lahan aku akan melupakan namja itu. Entah kapan.

Aku menggigit bibir. Makin lama makin kuat, karena aku ingin perih yang kurasakan ini cepat berkahir. Omo, kenapa aku harus berjumpa lagi dengannya di sini? Aku terus mnggigit bibirku hingga tak merasakan apa-apa. Sampai aku merasakan bahwa ada cairan hangat merembes dari ujung bibirku. Yap, dengan sukses aku berhasil membuat bibirku sobek. Yakin 100% tampangku sekarang sudah seperti Victoria dalam Twilight *maklum, authornya maniak Twilight* yang baru saja meminum darah manusia. Vampire, yang berkulit pucat melebihi albino dengan wajah seindah malaikat, suara selembut beledu, dan matanya yang berganti warna; tetapi memiliki kecepatan yang diluar batas normal, giginya setajam silet dan berbisa, kulitnya sedingin es dan memiliki kekuatan seperti Superman, hanya saja mereka tidak terbang dengan lengan yang satu mengepal ke depan dan yang satunya di pinggang. Tapi yang kurang dariku adalah, kulitku hangat, aku tidak cepat, tidak kuat, dan tidak berbisa, suaraku cempreng, dan aku tidak merasa diriku sempurna. Loh, kok malah curhat?

“YAA!APA YANG KAU LAKUKAN, LEE SON HEE???” suara Jae Jin yang seperti speaker jebol menerjang telingaku. Aku hampir yakin dia menggunakan mantra Sonorus dalam Harry Potter *maklum, author maniak Harpot juga*untur memperkeras suaranya. Dasar sableng, mana mungkin dia pakai mantra sihir, tongkat saja dia tak punya?? Dasar yeoja babo.

“Ya, Jae Jin-ah, aku tidak tuli…” aku merasakan para pengunjung di sekitar kami menoleh. Lalu mereka menggeleng-gelengkan kepala.

“Apa yang kau lakukan, hah?? Gimana bisa bibirmu sobek seperti itu?? Kau mau meniru Victoria?? Menjadi vampire??” Oh, Jae Jin maniak Twilight ternyata.

“Aniyo, Jae Jin-ah. Aku hanya tidak sengaja,”

“Tidak sengaja? Kau menggigit bibirmu sampai berdarah setelah melihat Minho itu tidak sengaja??” Alisnya naik setinggi nirwana dan suaranya melengking naik sampai 3 oktaf. Spontan aku langsung membekap mulutnya,

“Ah, sudalah, jangan bahas itu lagi. Ayo kita pulang, kkaja!!” aku buru-buru menarik lengan Jae Jin menjauh dari area berbahaya itu. Mending kalo Minho udah terbang kemanaaa gitu. Kalo dia masih disekitar situ kan repot. Bisa-bisa dia kegeeran lagi diomongin terus. “Hei Jae Jin-ah, bisa tidak kau tidak usah menyebut-nyebut nama namja babo itu di depanku??” kataku setelah sampai di parkiran.

“Waeyo? Kau masih patah hati??”

“Aniyooo… kau tahu tidak tadi dia dan ‘little family’nya itu lewat??”

“Ya iya lah. Mataku masih berfungsi kali, nggak katarak. Makanya aku merhatiin apa reaksimu. Ga taunya kau malah ngerobekin bibirmu. Dasar babo!”

“Ne, ne, apa katamulah. Sekarang aku cape, aku mau pulang,”

“Ne, arraseo. Kkaja!!” akhirnya Jae Jin mengantarku kembali ke apartemenku. Sesampainya di depan apartemen…

Kruuukk…

“Nah loh, bunyi apaan tuh??” Jae Jin merenyit. Ternyata itu suara perutku. Aku nyengir. “Kau lapar? Baiklah kita ke restoran dulu yaa..”

“Andwaeee… aku masak di rumah aja…”

“Sirreo!! Kau harus makan bersamaku. Aku gak yakin kau akan makan setelah bertemu si… babo namja itu,” Jae Jin agak takut menyebut nama itu. Aku saja malas membicarakannya  sekarang.

“Ne, ara. Aku akan makan denganmu. Tapi kau yang traktir!”

“Loh, sekarang disini siapa yang mau makan??”

“Heh, kau pikir siapa yang ngajak hah??” kataku sambil berkacak pinggang. Ya iya lah, siapa yang ngajak dialah yang traktir *ih, Son Hee tuh maunya gratisan mulu ya*.

“Ne, ne, aku yang traktir,” Jae Jin akhirnya menyerah. Siapa sih yang tahan berdebat denganku? Memang aku egois, tapi ini kan darurat! Lagipula aku ga seegois Ratu Jahat dalam Snow White.

Author’s POV

Akhirnya kedua orang itu pergi menuju ke sebuah restoran yang, yah, rata-rata lah, nggak terlalu mewah, juga ga bobrok. Yang jadi masalah, tuh restoran lokasinya Cuma sejengkal dari taman hiburan yang barusan mereka tinggalkan. Jae Jin merutuk dalam hati, kalo gitu ngapain dia niat mau nganterin Son Hee dulu?? Tau gitu mendingan jalan kaki aja. Ngabis-ngabisin bensin aja.

Mereka melangkah masuk ke restoran itu dengan gontai. Son Hee langsung mengambil tempat duduk di dekat jendela lalu memesan makanan. Jae Jin masih memandang berkeliling, lalu mengatakan pesanannya. Seketika itu juga Jae Jin menangkap sosok wanita berambut panjang yang dikenalnya bersama seorang namja. Jae Jin merenyit, berharap apa yang dilihatnya salah. Namun benar, yeoja itu persis seperti yang dikenalinya. Dan ia kini duduk berdua, berhadapan dengan seorang namja dan mereka terlihat sangat mesra. Kerutan di jidat *ampun nulisnya* Jae Jin makin dalam. Apa artinya ini?

Sementara itu Son Hee yang memperhatikan Jae Jin sedang memperhatikan seseorang, menyikut lengannya.

“Kau melihat siapa?” alis Son Hee terangkat tinggi-tinggi.

“A… ani, bukan siapa-siapa.” Jae Jin terlihat gugup. Setelah pesanan mereka datang, mereka langsung melahapnya.

“Jae Jin-ssi, yeoja itu cantik sekali ya?” Kata Son Hee menatap seorang yeoja berambut panjang yang sedang tersenyum bersama seorang namja. Son Hee ingin terus memperhatikan yeoja itu, namun karena pelayan datang membawakan pesanan mereka dan memang perut mereka sudah demo minta diisi, akhirnya perhatian mereka pun teralih dari yeoja itu.

Jae Jin terlihat kikuk. “Ne,” jawabnya ragu. “Ehm, Son Hee-ssi, kau pernah bertemu dengan Hara sebelumnya?” Son Hee menggeleng dan Jae Jin menghembuskan napas lega.

“Memangnya kenapa?” Tanya Son Hee sambil memasukkan makanan ke mulut.

“Aniyo, kupikir kau tahu seperti apa orangnya,”

“Harusnya sih tadi aku bisa ketemu, tapi kehalang Minho gitu,” jawabnya enteng. Jae Jin melongo. “Tapi udah kuprediksi, Hara pasti cantik buanget. Secara gituh, seorang Choi Minho lho yang menikahinya,” Son Hee lalu menyeruput tehnya “Asal kau tahu saja, selera Minho itu tinggi,” Sebenernya Son Hee Cuma ngarang-ngarang aja, yah, biar kelihatan dia gak patah hati.

Setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka, Jae Jin mengantar Son Hee pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Son Hee hanya diam mematung di jok mobil. Sampai Jae Jin ngerasa dia itu Cuma sendirian, yang disampingnya itu patung yang diukir dan dicat kayak Son Hee.

“Son Hee-yah, kenapa kau diam saja?? Aku serasa di kuburan tahu nggak??” Jae Jin mulai menghidupkan suasana.

“Aniyo, Jae Jin-ssi, aku hanya…” Son Hee menghembuskan nafas berat. Kelihatan banget dia frustasi. “Aku pengen tidur… bisa ngebut nggak??” *aneh ya? Maksudnya ngebut supaya cepet sampe apertemen dan langsung tidur*

Jae Jin tersentak. “Oh? Kau mau tidur? Tidur saja, nanti kubangunkan,” gumam Jae Jin, tapi Son Hee bisa mendengarnya. Tak lama, Son Hee sudah terlelap.

Mobil sport silver itu berderu sangat cepat. Sesekali Jae Jin melirik ke arah Son Hee dengan tatapan yang susah diartikan.

Selang beberapa waktu, Jae Jin menghentikan mobilnya tepat di depan gedung apertemen Son Hee. Ia tak segera membangunkan gadis itu, tapi ia memandangi wajahnya sesaat. Entah apa yang difikirkannya, ia mengecup bibir mungil Son Hee.

Ia masih terdiam bahkan setelah ia melepaskan kecupannya itu. Memandangi wajah Son Hee yang sedikit pucat dengan luka di sudut bibirnya yang mulai mengering.

“Andai kau tahu perasaanku yang sesungguhnya…” gumamnya dengan sedih.

Tanpa diketahuinya, seorang namja menyaksikan semua yang dilakukan Jae Jin terhadap Son Hee lewat kaca mobilnya yang ada diseberang jalan. Tangan namja itu semakin mencengkeram setir yang sedang dipegangnya, raut wajahnya terlihat marah. Sekejap kemudian namja itu menancap gas dalam-dalam, melesat pergi.

Tangan Son Hee bergerak-gerak, ia mulai menerjap-nerjapkan matanya. “Sudah sampai ya?” tanyanya sambil mengucek-ngucek *bahasa indonya yang bener kayak mana yah?* matanya.

“Ne, aku baru saja mau membangunkanmu,” balas Jae Jin.

“Baiklah, gomawo Jae Jin-ah kau mau mengantarku pulang. Annyeong,” Son Hee membuka pintu dan langsung turun.

“Ne,” jawab Jae Jin singkat. Ia menunggu gadis itu masuk ke gedung, baru menancapkan gas pergi dari situ.

Son Hee’s  POV

Ahh… Jae Jin memang chinguku yang paling baik! Apa aku harus curhat padanya yah? Ah, jangan, nanti dia jadi bosan. Lebih baik aku menyantap komik-komikku yang dari kemaren belum kubaca. Kulangkahkan kaki ke arah kamar dan menyambar kantong plastic berwarna putih yang dari kemaren tergeletak begitu saja di atas meja. Kukeluarkan 5 komik Naruto *author juga maniak Naruto yaaa, reader: banyak bener sih, pusing tau* dari situ, beserta sebuah novel Harry Potter dari situ. Kubuka bungkusnya, lalu kurapikan di rak buku. Setelah itu aku langsung mandi. Setelah mandi baru kusantap komik-komikku itu sebagai dongeng sebelum tidur.

Author’s POV

“Sasuke!!! Kau nappeun namja!!! Kenapa kau meninggalkan Sakura hah?? Kalo dia kenapa-kenapa kubantai kau!!!!!” Son Hee teriak-teriak ga jelas diranjangnya sambil memegang komik Naruto. Matanya mendelik pada karakter Sasuke itu. Setelah capek marah-marah sendiri, dia merebahkan tubuhnya dan langsung jatuh terlelap.

Keesokan harinya Son Hee kembali terbangun dengan tergesa-gesa. Langkahnya terseret-seret ke kamar mandi. Hanya 3 menit, ia sudah keluar dengan pakaian rapi. Ia mau menyerahkan tugas yang diberikan Sulli padanya beberapa waktu lalu. Setelah memastikan semuanya lengkap, dia berangkat ke kantornya Sulli.

Di kantor Sulli…

Son Hee melangkah menghampiri resepsionis. Ia sempat berjengit sesaat ketika mendengar sebuah tangisan seorang bayi. Tiba-tiba saja ia berubah menjadi was-was. Ia menelan ludah ketika merasakan kerongkongannya kering.

“Annyeonghasseyo, Lee Son Hee imnida, saya mencari Choi Sulli untuk memberikan pesanannya,” kata Son Hee hati-hati pada seorang resepsionis yang bertampang sangar.

“Nona Choi? Tunggu sebentar, apakah anda pernah membuat janji sebelum ini?” Son Hee menggeleng. Resepsionis itupun mengangkat gagang telepon, menekan beberapa tombol, setelah mendengarkan instruksi dari suara di seberang ia mengangguk lalu menutup teleponnya. “Baiklah, anda ditunggu Nona Choi diruangannya, anda akan dijemput sekretarisnya,” katanya setelah meletakkan gagang telepon dan menoleh kembali ke arah Son Hee.

“Ne, gamsahamnida,”

“Mari ikut saya,” Son Hee menoleh ketika seorang yeoja berpakaian khas kantoran menghampirinya. Dengan patuh Son Hee mengikutinya sampai pada sebuah pintu kaca buram besar dengan gagang pintu yang besar pula. “Silahkan masuk,”

Son Hee mengetuk pintu dua kali sampai ia mendengar seseorang berkata “Masuk,”.  Ekspresinya menegang seketika ketika melihat apa yang didepannya.

“Oppa, aku nggak mau kayak gini, kan oppa sudah dapat instruksi dari appa,” kata Sulli sambil memandang oppanya marah.

“Choi Sulli, sekali lagi kuperingatkan kau, akulah direktur perusahaan ini sekarang. Sekarang perusahaan ini memiliki masalah yang sulit, kita nggak bisa menunggu keputusan dari appa, kita harus bertindak cepat,” Seorang namja tinggi menatap Sulli tajam, tangannya kerkepal di atas meja.

“Apakah oppa sudah memikirkan resikonya?” Tanya Sulli.

“Sudah dan oppa yakin dengan keputusan itu.”

“Ne, baiklah, terserah oppa saja,” Sulli akhirnya menyerah. Minho tersenyum puas. “Ah eonni, aku lupa kau di sini,” kata Sulli saat menyadari Son Hee yang tengah diam mematung mendengar percakapan bisnis mereka.

Secepat kilat Minho menoleh dan terperangah mendapati Son Hee di situ. Son Hee hanya diam mematung. Bibirnya terkunci rapat. Tubuhnya kaku seketika.

Son Hee’s POV

Damn! Apa-apaan ini?? Kenapa aku terjebak di drama keluarga ini?? Ah, aku baru tahu, ternyata Sulli bisa serius juga kalau urusan pekerjaan. Akh, aku nggak bisa ngomong apa-apa. Tiba-tiba bibirku serasa terkunci rapat dan tubuhku kaku, sulit untuk digerakkan.

“Aduh, mianhae, eonni, jongmal mianhaeyo, aku kebelet, eonni ngasih rancangannya sama oppa aja ya, aku mau ke toilet dulu,” MWO?? Apa-apaan ini?? Secepat kilat Sulli sudah keluar dari ruangan. Aigoo, ottokhe??

“Jadi, rancangan apa yang ingin kau serahkan?” Minho mengambil alih kursi yang tadi diduduki Sulli dan menatapku. “Silahkan duduk,” Wuihh, formal sekali. Kalau begini sih, tak apa-apa.

“Ne, ini,” ujarku sambil menyerahkan sebuah file dan flaskdisk padanya. “Beberapa hari lalu Sulli memintaku untuk merancangkan suatu logo, dan ini hasilnya. Apakah sesuai permintaan?” Dia membuka filenya dan memeriksanya. Keningnya berkerut menatap gambar logo itu dengan serius. Karena tak tahu harus berbuat apa, mataku tertancap pada sebuah tempat pena yang sangat unik. Aku terlalu takut untuk memandang matanya.

“Ne, gamsahamnida, ini pas sekali,” katanya sambil mendongak menatapku. Tapi aku belum mau menatap matanya. Aku hanya membalasnya dengan senyum miris.

“Hm, kalau begitu, aku pulang. Gamsahamnida, annyeong,” Aku langsung memakai tasku dan beranjak dari kursi.

“Tunggu,” katanya di belakangku. Aku menoleh. “Kau masih belum mau menatapku. Waeyo?” Pertanyaan apa itu?

“Aniyo, aku hanya…”

“Apa kau masih marah padaku?” dia memotong kalimatku. Aku menggeleng.

“Untuk apa? Sudahlah. Yang terpenting sekarang aku tidak marah, ataupun dendam padamu. Gamsahamnida, annyeong,” jawabku sambil tersenyum tulus. Setelah itu aku langsung meangkahkan kaki keluar. Aku tidak tahan berada di satu ruangan dengannya seperti ini. Setelah keluar dari gedung besar itu, aku mencegat taksi dan langsung meluncur ke kantorku.

__

“Son Hee-ssi, halooo… ada orang disana??” Nah Ra melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajahku. Seketika aku tersadar.

“Waeyo, Nah Ra-yah?” kataku spontan.

“Kau dari tadi hanya mengaduk-aduk tehmu sambil bengong. Kesambet baru tahu rasa nanti,” jawabnya sambil mengerucutkan bibir.

“Hmm?? Lalu??” gumamku lalu menyeruput tehku. Ani. Lebih tepatnya meneguk karena tehnya sudah dingin.

“Ya!! Kau yeoja babo! Jelas kau ada masalah, aku bisa membacanya dari raut wajahmu. Jadi, ada apa?” Wah, wah, wah, wajahku terlalu jujur rupanya.

“Aniyo, Nah Ra-yah, hanya… Ck, sedikit shock saja,” jawabku.

“Ya! Son Hee-yah, bagaimana bibirmu?” Tiba-tiba Jae Jin sudah duduk di sebelahku, entah darimana datangnya.

“Mwo? Apa maksudmu?” Nah Ra merenyit menatap Jae Jin.

“Hei, kau tahu tidak? Kemarin, setelah pulang dari taman bermain, Son Hee dengan sukses merobek bibirnya setelah berpapasan dengan Choi’s family,” jelas Jae Jin singkat. Argh, dasar kau Jae Jin, lihat saja nanti.

“MWO??? Son Hee-yah, apakah itu benar?” Nah Ra mencondongkan tubuhnya mendekat ke arahku. Aku hanya menggeleng. Mau ceramah apa dia nanti kalo tau apa yang terjadi semalam??

“Hah, dia mengelak,” dengus Jae Jin. “Nah Ra-yah, kau perhatikan saja, ada luka kecil di sudut bibirnya,” Jae Jin menginstruksi Nah Ra. Sekarang dia sudah meneliti wajahku.

“Aniyo,” kataku. Mencoba mengelak.

“Ha! Apa itu, Lee Son Hee?” serunya. Jari telunjuknya menunjuk tajam ke arah sudut bibirku.

“Hanya luka kecil saja,” jawabku lalu meneguk tehku lagi.

“Aigoo, Son Hee-yah, kenapa kau bisa se-pabo ini sih?? Kau pulang dari Paris bukannya tambah cerdik malah nambah lemes,” Tuh kan Nah Ra udah mau ceramah lagi. Aku sedang tidak mood sekarang. “Harusnya kau itu…”

“Sudahlah, Nah Ra, aku sedang tidak mood untuk mendengarkanmu,” jawabku lemas. Nah Ra lalu membungkan mulutnya.

“Hei, hei, hei, kalian sudah tahu belum?” Hyun Jae tiba-tiba datang entah darimana. Aku hanya meliriknya. Nah Ra menoleh tak mengerti, sedangkan Jae Jin mengangkat bahunya. “Aishh, berita ini sangat heboh. Aku baru membacanya dari tabloid,” Hyun Jae menyodorkan sebuah tabloid kepada kami bertiga. Tertampang jelas di halaman depan, foto seorang yeoja dengan seorang namja yang semalam kulihat di restoran dekat taman bermain.

“MWOO?” Nah Ra mendelik. “Ini kan…” Nah Ra menoleh kearahku. Aku hanya mengangkat alis tinggi-tinggi. Aku tak mengerti maksud Nah Ra.

“Jinca?? Jae Jin, dia tak mengetahuinya?” pandangan Nah Ra beralih kepada Jae Jin. Jae Jin hanya mengangguk memastikan. Apa maksudnya?

“Apa maksud kalian?” tanyaku. Aku seperti orang idiot saja.

“Son Hee-yah, ini…” Jae Jin mencoba menjelaskan namun ditahan oleh Nah Ra.

“Biar aku saja,” Nah Ra menatap Jae Jin sesaat, lalu menatapku. “Ini Hara,” telunjuknya menunjuk yeoja yang sangat yeoppo itu. Darahku berdesir. Tapi, tidak, aku tidak akan ikut campur urusan rumahtangga mereka.

“Oh, dia? Semalam aku melihatnya di restoran dekat taman bermain, bersama namja itu,” kataku mencoba santai.

“Hanya itu reaksimu?” Tanya Hyun Jae yang merenyitkan keningnya sambil menatapku.

“Memangnya aku harus bereaksi seperti apa?” jawabku sambil mengambil permen karet dari sakuku. “Itu rumah tangga mereka, aku tidak ikut campur,” kataku sambil menatap tulisan yang terpampang besar-besar di tabloid itu, ‘NYONYA CHOI SELINGKUH DENGAN WOOYOUNG’. Aku mengunyah permen karetku dengan tenang. Sebenarnya aku menahan geram, teganya Hara jalan dengan namja lain, padahal dirinya sudah mempunyai suami.

“Aku juga mendapat beberapa berita bahwa keduanya saling menggugat cerai sekarang,” sambung Hyun Jae. Aku menoleh. Apa katanya? Menggugat cerai? Keduanya? Kenapa? “Tapi media tidak dapat memprediksi apa yang sebenarnya terjadi dibalik ini,” lanjutnya. Tunggu, apakah ini berhubungan dengan percakapan Sulli dan Minho tadi?

Tapi apa hubungannya? Ah, kenapa semuanya jadi sulit begini? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa menjadi seperti ini? Apakah ini ada sangkut-pautnya dengan perusahaan? Atau dengan perasaan?*Author: banyakan bacot lo Son Hee*

Sorenya, karena tidak ada pekerjaan lagi aku pergi ke sebuah taman yang dulu sering menjadi tempatku dan Minho berkencan. Aku membeli es krim lalu melangkahkan kakiku kearah batu besar dan mendudukinya. Aku menjilati es krimku lalu tenggelam dalam lamunanku.

“Son Hee-yah,” sebuah suara berat menyapaku dan menyadarkanku dari lamunanku.

TBC

Huaa… gimana reader??? Uda ada yang bisa nebak next chapternya gimana??*lupakan*

Udah panjang yahh.. part 5 mau kupanjangin lagi. Gimana? Setuju?? Ahah…. Gomawo banget yang udah sabar baca FF kuu…. yang Read-Comment-Like… Jasa kalian takkan pernah kulupakan…. Emuaaahhh.. *gila* *plakk, lupakan*

Aku ngga mau banyak bacot lagi, jadi GOMAWO BANGET YANG UDAH RCL!!!!!!!!!!!!!!!

Oh ya, yang cast cewe ituu… Han Min Gi…. Setuju??? Tapi perannya apa aku ga bisa cerita, nanti ga seru XD *reader: emang sapa yg mau diceritain?*. Yaaahhh.. pokoknya karena part 5 nya mau kupanjangin, buat reader cuma bisa bilang sabar yah nunggunya…. *itupun kalo ada yang nunggu* hehehe…

Author mau manjangin rambut, eh cerita dulu yahh.. Annyeong!!!! ^_^

CHU~~ *plakkk*

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

22 thoughts on “Go Away – Part 4”

  1. Yaelaaaah
    Suami kurang gimana coba
    Masih selingkuh juga si hara
    Emangsi si minhonya juga masih deketin sonhee
    Tapi aduh gangerti deh sama mereka berdua
    Mana jaejin ternyataaa
    Kirain mereka sama sama anggep temen
    Ternyata jaejin menyimpan perasaan juga
    Mana minho liat
    Kesel banget tuh dia
    Padahal dia udah punya anak *ganyambung

  2. woi… Hara nape lo selingkuhin laki aye?#plak
    *nabok Hara. Hara nabok blik aye…*

    ih ngenes… Sumpah thor ngenes. Mau dipanjangin??*evil laugh*
    ok lah, agak lama… Kedanganmu ku tunggu…*ridho roma style.tapi saya gak ng_fans*
    hahaha…

  3. Udah dicerain aja si Hara itu. Tapi kasihan juga si Jaejin kalo si Hara ma Minho jadi cerai, terus si Minho balik ma si Son Hee, jadi cintanya bertepuk sebelah kaki. Ckck.
    Bagus THOR, lanjutkan saja!! Aku pengen tahu endingnya. Wkwkwk.

  4. si hara demennya ama orang gokil ya? liat aja, masa selingkuh sama wooyong. sekalian ama si onew! kalo si minho bisa ngelawak, si hara bangkal selingkuh gak ya? apasiii…

    1. Akkakakakaka… onew udah punya sendiri, makanya gak hara pilih.. *ditabok*
      Minho ngelawak??? ga bisa bayanginnya… kayaknya bakal jadi orang paling cengo sedunia kali yak?? kkkeee~~~
      XDD Gomawoo…

    1. Iya… akhirnya cere juga… geregetan author, soalnya kaga suka ma ntu couple.. O.O
      Iya masi cinta, banget malah. Jae jin nya sama sapa aja dehh.. XDD
      gomawooooXD

  5. setuju bgt part 5nya di panjangin !!!
    ahahaahah
    ampun deh author !!! klo pencintanya byk banget … ada harpot,twilight,naruto ???
    ahahahha
    keren nih … si hara bener2 dah ah !!
    geram saya !! jae jin !!!!
    udah sma son hee sja !!!
    lanjut thor !!!

    1. Wahh.,… masih kurang tuh La..
      tambah yaaa… Inuyasha, One Piece, Bleach, Merlin, Eragon, Narnia… *napa ga sekalian semuanya ajah??* kkeee~~~
      Jae Jin ama son he?? banyak juga yang minat.. XDD
      ne!!! gomawo!!!

  6. uwaaaaa Minho diselingkuhin! jadi Jaejin itu namja ya……baru sadar *plak

    yang mergokin Sonhee dan Jaejin pasti Minho. terus yang ada di taman juga pasti Minho. udah lah udah ketebak semua. semuanya! UWAHAHAHA *plak plak plak

    aduh mianhae ya atas kesotoyan (?) readermu yang satu ini ~(ˉˉ˛ˉˉ~)

    aku juga mau manjangin rambut loh ahahaha #whocares

    1. Yaa.. baru nyadar.. inget FT Island!! (?) apa hubungannya?? #plakk
      Iya deh. pasti Minho tuh. iyaaa… ketebak semuanya… *plok plok plok*

      Tak apa, tak apa… aku seneng sama reader yang kayak gini, seru!!!

      Oh ya??? aku malah udah kepanjangan malah dipotong… #sapa yang nanya
      gomawooo yaaa.. XDDD

  7. Jadi MinHara mau cerai? gara2 apa? hara selingkuh, atau
    karena tau Minho msh mencintai mantannya?
    atau emang dari awal minHara nikah bukan karena cinta?
    Molla…. Aku lanjut aja…..
    masih berharap yang terbaik, deh, buat Minho dan SonHee,
    bersama-sama atau dengan jalan hidup masing2…

Leave a Reply to reenepott Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s