Love Without A Name – Part 7

Author : Flaming tezqia

Main Cast : Lee Jinki, Kim Nara, Choi Minho, Kim Kibum, Lee taemin, Kim Jonghyun

Support cast : Song Eun La, Lee Jang Eon

Length : sequel

Genre : romance, mystery

 Rating: PG 16

 

NB : “mian ya semuanya, baru bisa ngasih lanjutannya sekarang ^^ happy readin, semoga tak mengecewakan.”

Nara POV

Ini adalah harinya, hari pentas seni. Seluruh panitia dan pengisi acara sudah berkumpul. 30 menit lagi acara akan mulai. Aku sungguh gugup, tapi Taemin selalu menenangkanku. Dan sebentar lagi adalah giliran kami untuk tampil.

+++

Plok..plok..plok.. tepukan riuh dari para penonton mengakhiri pertunjukan malam ini. Pertunjukan akhir semester sudah selesai. Pertunjukan kami dari kelompok ekskul music pun juga sudah selesai. Fiuh.. capek sekali rasanya. Hari sudah menunjukan pukul 11 malam, tapi aku belum bisa pulang sekarang.

“Nara, pertunjukan kita sukses.” Seru teman-temanku dari ekskul music.

“ne, untung semuanya berjalan dengan lancar. Dimana Taemin?” tanyaku pada mereka ketika aku menyadari Taemin tidak ada bersama mereka.

“sepertinya tadi dia keluar sebentar.” Begitu mendengarnya, aku pun segera keluar aula, mencari Taemin. Terlihat dikejauhan, didekat lampu taman sekolah, aku melihat Taemin bersama seorang yeoja, siapa dia?

“maaf Rye He, aku tak bisa menerimamu.” Kata Taemin pada yeoja itu.

“mengapa tidak bisa? Karena Nara unnie? Kau bilang kau tidak menyukainya?” kata yeoja itu sambil terisak. Rye He? Sepertinya aku tidak pernah mendengar nama itu.

“ne, tapi itu dulu.” Kata Taemin lagi.

“jadi sekarang kau .. Oppa sekarang benar-benar menyukainya?”

“ne, aku rasa begitu.” Apa? Taemin sekarang juga menyukaiku?

“kau jahat oppa! Kau jahat! Aku benci padamu.” yeoja itu menangis. Dia memukul-mukul dada Taemin.

“Rye he, tenanglah.” Kata Taemin menenangkan. Taemin menggenggam tangan yeoja itu, dan menurunkannya. Sial, untuk apa Taemin pegang-pegang yeoja itu?

“oppa jahat..oppa sudah membohongiku. Aku benci padamu oppa. Mulai sekarang kita bukan teman.” Kata yeoja itu sambil memukul-mukul dada Taemin lagi.

“RYE HE!”

“TAEMIN!” Taemin berseru keras kepada yeoja itu tepat saat aku juga memanggilnya.

“Nara?” Taemin segera melepas tangan yeoja itu.

“Aku akan melupakanmu oppa..” Yeoja itu berkata sambil menangis, lalu meninggalkan Taemin yang mematung.

“Taemin, gwenchana?” tanyaku padanya.

“ani..aniyo..tak ada apa-apa Nara. Ayo kita masuk saja.” Taemin mendekatiku, lalu menarikku masuk kedalam aula.

+++

            “kau benar-benar tidak apa-apa? Siapa yang tadi itu?” tanyaku.

“ne.” jawabnya sambil mengangguk lemah.

“benarkah tidak apa-apa?” ulangku lagi.

“AKU BILANG TIDAK APA-APA, YA TIDAK APA-APA!” teriak Taemin padaku. Aku sangat terkejut mendengar teriakannya. “mianhae.”  Sambungnya dengan wajah penyesalan.

“kau belum mau pulang, Nara ?” tiba-tiba Jinki muncul dihadapan kami.

“sebentar lagi, tunggu yang lain selesai membersihkannya.” Jawabku singkat.

“untuk apa? Sudah jam 11 malam, biarkan saja mereka membersihkannya memangnya kau harus ikut juga?” wajah Jinki menunjukan setidak senangan. Dia benar juga, acara sudah selesai lagipula aku tidak harus ikut membersihkannya.

“baiklah, aku akan segera pulang. Kau tunggu saja di mobil.” Jinki hanya mengangguk dan meninggalkanku dan Taemin.

“kau pulang dengannya?” tanya Taemin tiba-tiba. Astaga ! apa Taemin tidak curiga dengan percakapanku dan Jinki tadi?

“a..itu..kami.. dia.. emh.. rumah kami satu arah, dia pernah kerumahku, lagipula umma pasti juga tidak membiarkanku pulang sendirian malam-malam begini.” Jawabku dengan gugup.

“umma? Kenal dengan Jinki?”

“itu … saat Jinki ke rumahku.” Aku semakin gugup dan takut Taemin akan semakin curiga.

“lalu untuk apa dia ke rumahmu? Ada urusan apa? urusan sekolah ? apa dia ingin mendekatimu?” tanya taemin bertubi-tubi.

“itu..itu.. Taemin ! sudah hampir jam setengah 12 malam. Aku harus segera pulang. Sampai jumpa di semester baru. Anneyong.” Aku segera berlari meninggalkan Taemin. Sepertinya ia ingin sekali mengejarku dan menanyakan berbagai macam hal tentang aku dan Jinki. Apa yang harus ku katakan padanya jika kami bertemu nanti? Argh.. sudahlah, itu bisa dipikirkan nanti, sekarang aku harus segera pulang sebelum Jinki juga ikut marah-marah padaku.

+++

            “untuk apa kau berlama-lama disana? Ingin bersamanya hah?” tanya Jinki saat kami berada di dalam mobil .

“kau kenapa lagi?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.

“ah, sudahlah..lupakan.” wajah Jinki terlihat sangat kesal. “umm, itu.. karena ini sudah memasuki liburan, umma dan appa ingin mengajakmu pergi berlibur.” Sambungnya dengan wajah yang sudah mulai tenang.

“mwo? Berlibur? Kemana?” tanyaku antusias.

“ke Jeju.” Jawabnya singkat.

“huahhh.. benarkah? Aku ikut ! aku ikut !” teriakku kegirangan.

“aishh, kau memang ikut. Bukankah aku bilang umma dan appa mengajakmu? Tentu saja kau ikut.”

“mianhae, aku hanya terlalu senang. Tapi,sepertinya aku tidak punya baju yang bagus untuk pergi kesana,sudah lama sekali tidak belanja.”

“umma besok akan mengajakmu belanja. Lagipula kita disana Cuma seminggu, kau kan Cuma libur 2 minggu.”

“seminggu? Seminggu juga lama. Aaa, aku ingin cepat-cepat kesana. Apa kau tau? Aku terakhir kesana waktu kelas 1 SMP.”

“mana aku peduli.” Jawab Jinki dengan memasang tampang sok coolnya.

Aku spontan memonyongkan bibir karena tidak suka dengan jawabannya, tapi Jinki malah tertawa melihat tampangku, huh.

+++

            “Nara, sini. Lihat baju ini. Cocok sekali denganmu.” Umma mertua memanggilku. Sekarang kami sedang berada di pusat perbelanjaan. Belanja untuk mempersiapkan liburan ke Jeju besok.

“darimana cocoknya umma? Pendek sekali, aku tidak suka.” Jawabku ketika melihat dress pendek berbahan terang yang diperlihatkannya.

“ah..apa kau tidak suka? Tapi pasti Jinki suka melihatmu memakai ini.” Sahut umma sambil memilih-milih baju yang lain.

“suka apanya, yang ada pikirannya tambah mesum melihatku memakai baju seperti itu lagi.” Kataku pelan.

“apa yang kau katakan?” ups, rupanya umma mendengar ucapanku.

“a..aniyo. Dress nya terlalu terang, umma.”

“kalau yang ini bagaimana?” tanyanya sambil memperlihatkan dress yang baru saja diambilnya.

“yak… dress ini memang tidak terang, tapi lihat belakangnya, bolong begitu. Aku bisa masuk angin.” Protesku lagi.

“yak, kau ini. Ingin membuat suamimu senang tidak? Lagipula ini bukan dress, inikan baju tidur, bedakan itu.”

“memangnya kenapa aku harus membuat Jinki senang dengan baju tidur?” tanyaku polos.

“aishh.. kau ini. Kaliankan disana juga sekalian bulan madu.”

“MWO ? bulan madu? Umma, aku masih kecil dan aku masih sekolah.” Protesku.

“tapi kau sudah 18tahun, lagipula kalian sudah menikah. Tak ada yang bisa melarang.”

“umma, apa yang kau katakan? Apa tentang…… itu?” tanyaku pura-pura tak mengerti. Sebenarnya aku tau maksudnya, tapi mana mungkin juga aku dan Jinki melakukannya? Aku belum siap sama sekali dan .. aku dan Jinki juga tak saling cinta, mana mungkin bisa terjadi.

“para namja itu kadang bisa tiba-tiba berubah menjadi harimau yang sangat berbahaya. Kau hati-hati saja, kalau dia mau, apapun bisa terjadi.”

“HAH?” perkataan umma benar-benar mengagetkanku. Mana mungkin dia bisa membaca pikiranku? “anda senang bercanda?”

“aku orang yang serius, mana pernah bercanda.”

“tapi, mana mungk……”

“sudah! Kau diam saja. Atau aku akan pilihkan baju-baju lain yang tidak kau suka seperti tadi.” Umma memotong omonganku. Aku Cuma bisa diam dan memperhatikannya memilih-milih baju untukku, sekali-kali mengangguk dan berkali-kali menggeleng.

+++

            “Nara onnie.” Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku saat menunggu umma membayar belanjaan di kasir. Aku berbalik badan dan melihat siapa yang menyapaku.

“Ne, kau?” aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat siapa yeoja yang menyapaku ini. Sepertinya aku pernah melihatnya.

“ya, aku Rye He.” Jawabnya sambil tersenyum. “boleh kita mengobrol sebentar?” tanyanya.

“tapi, aku sedang ..”

“sebentar saja.” Potongnya.

“aku bilang dulu dengan ibu mertuaku, nanti dia mencariku.”

“ibu mertua?” tanyan heran. Aku keceplosan menyebut ibunya Jinki sebagai ibu mertua. Padahal Rye He kan….. yeoja yang bersama Taemin tadi malam?

“e..ee.. kau tunggu disini sebentar.” Aku segera menemui umma dan bilang padanya ingin menemui teman sebentar.

+++

            “aku rasa kau belum mengenalku.” Katanya membuka pembicaraan. Kami sekarang sedang berada disebuah coffe shop.

“ne, aku tidak mengenalmu. Tapi… bukankah kau yang malam tadi bersama Taemin? Aku melihatmu di taman sekolah.” Jawabku santai.

“kau benar, aku yang malam tadi bersama Taemin.”

“lalu kau mau apa,  mengajakku mengobrol disini?”

“aku Cuma mau bilang sesuatu.”

“sesuatu apa?”

“bisakah kau meninggalkan Taemin?”

“Taemin? Memangnya ada apa dengannya? Oh ya, bukankah kau mau melupakannya?” aku tak mengerti, mau apa sebenarnya si Rye He ini.

“kau menguping pembicaraan kami?”

“aku hanya tak sengaja dengar, lagipula kau mengatakannya dengan berteriak.” Jawabku santai.

“ah..sudahlah. kita sama-sama yeoja. Aku harap kau bisa mengerti. Aku menyukai Taemin sejak pertama kali melihatnya.” Dia mulai bercerita, aku mendengarkan dengan acuh tak acuh.”…. Dan kami sudah dekat sejak 3 bulan belakangan ini. Aku sudah bilang padanya aku mencintainya, tapi kau tau apa yang dia katakan?” aku menggeleng pelan. “dia bilang dia lebih mencintai orang lain, yaitu kau.”

“MWO?” aku benar-benar kaget dengan apa yang dia katakan. Taemin mencintaiku? Mana mungkin? Kami hanya teman, dan… meskipun aku juga menyukainya, tapi Taemin tidak mempunyai persepsi lebih terhadapku selain sebagai temannya. “ahahhahahaha.. kau bercanda? Mana mungkin Taemin mencintaiku?”

“kau mentertawakanku?” katanya sedikit tersinggung dengan tawaku.

“aniyo. Tapi itu sangat lucu.”

“tak ada yang lucu dan tak ada yang perlu kau tertawakan.” Bentaknya.

“ok, mianhae. Jadi apalagi yang ingin kau katakan?”

“aku rasa kau bisa mengerti. Jadi, aku harap kau benar-benar bisa menjauhinya. Kau tidak mencintainya juga kan?”  Aku diam sejenak setelah mendengar pertanyaan Rye He. Aku bertanya pada diriku sendiri, apa sebenarnya aku mencintai Taemin atau tidak? Tapi bukankah dulu aku sangat menyukainya? Aku sangat senang jika bisa bersama-sama dengannya.

Tiba – tiba ponselku berdering. Rupanya umma mertuaku yang menelpon.

“ne, umma… ne, aku segera kesana. Anneyong.”

Plip… ku tutup ponselku, dan segera beranjak dari tempat dudukku. Rye He terlihat sedikit kaget, dan ikut berdiri.

“mianhae Rye He, aku harus segera kembali dan pulang. Annyeong.” Aku segera berlari meninggalkan Rye He yang masih ternganga.

“yak! Kau…. Aiishh..” samar-samar terdengar teriakannya.

“kau darimana saja?” tanya umma mertuaku.

“mianhae lama umma, tadi mengobrol panjang lebar dengan temanku.”

“ya sudah. Tak ada yang ingin kau beli lagikan? Kita pulang saja.”

“ne, tidak ada.”

Aku segera berjalan mengiringi umma menuju tempat parker dan segera pulang ke rumah untuk mempersiapkan liburan besok.

End Nara POV

+++

Jinki POV

“kami pulang~” terdengar teriakan Nara dan umma di depan pintu.

“Jinki-ah bantu bawakan barang-barang ini.” Pinta umma padaku. Aku segera mendekatinya dan mengambil kantong-kantong belanja itu. Berat sekali…. Apa yang mereka beli?

“ah..lega sedikit. Tanganku pegal sekali. Lama sekali aku mengankat belanjaan itu. Nara juga tadi malah kabur untuk mengobrol dengan temannya, lama sekali aku menunggu.” Jelas umma panjang lebar sambil mengurut-urut tangannya. Nara sedikit cemberut mendengar kata-kata umma. Tapi.. mengobrol dengan siapa dia? Yeon? Minri? Apa mereka juga bertemu dengan umma?

“Jinki-ah.. kenapa masih berdiri disini. Cepat bawa ke ruang tengah. semua keperluan sudah ku belikan. Baju appa, baju Nara, dan bajumu juga ada. Ahh.. aku ingin istirahat dulu.” Umma lalu pergi ke kamarnya dan meninggalkan kami berdua.

“cepat bawa.” Perintah Nara.

“teman siapa?” tanyaku tak mengacuhkan perkataannya.

“kenapa kau harus tau?”

“karena aku suamimu.”

“mulai mengancamku dengan kata-kata itu?”

“aniyo. Tapi kata itu yang paling tepat untuk mengancammu.”

“aishh.. memangnya kenapa? Kau cemburu.”

“bukan itu. Hanya saja…. Kalau itu temanmu disekolah, apa tidak curiga, kau berbelanja dengan ummaku, bukan ummamu?” tanyaku.

“memang teman satu sekolah. Tapi tidak dekat. Lagipula dia tidak tau yang mana ummaku.”

“siapa?”

“argh..kau banyak tanya. Cepat bawa saja. Supaya kita bisa cepat berkemas, dan liburan satu minggu ini akan menjadi liburan yang paling menyenangkan.” Nara berlari menuju ruang tengah. wajahnya terlihat senang sekali, sangat ceria, membuatku ikut tersenyum melihat tingkah lucunya.

+++

            “Nara.. cepat masuk mobil.” Teriak umma.

“sebentar…………… aku siap.” Nara datang dengan mengenakan sort dress musim panas dengan topi dan boneka beruang kesayangannya. Terlihat lucu sekali.

“kenapa kau membawa boneka?” tanyaku heran.

“wae?? Dia juga ingin bertemu teman-temannya nanti di museu….”

“aku..hh..sampai…hh..”

“oppa!”

“kibum?” Kibum datang dengan terengah-engah. “kau juga ikut?” tanyaku sambil mengerutkan kening.

“appa yang mengajaknya. Ayo, semua sudah siapkan? Kibum, masukkan barang-barangmu ke bagasi. Kita segera berangkat.” Sahut appa.

“ne, ahjusshi.”

“asyik.. oppa juga ikut. Pasti sangat seru nanti disana.” Nara terlihat sangat gembira karena Kibum ikut berlibur.

“ayo cepat masuk.” Bentakku dengan kesal.

“iya..iya.. aku masuk. Ayo oppa, cepat.” Nara masih saja memperhatikan Kibum. Akhirnya aku yang menerobos masuk kedalam mobil terlebih dahulu. Ntah mengapa, aku sangat tidak senang dengan keberadaan Kibum disini.

End Jinki POV

+++

            “Yeoboseyo?” Jonghyun mengangkat ponselnya yang baru saja berdering. “ah, ne, yeon-ah waeyo ?  aku? Di rumah saja, memangnya ada apa? Ke amusement park, untuk apa? Ah kau seperti anak kecil..haha. Bertiga ? dengan  siapa? Nara? A..aku rasa dia tidak bisa.. a..aniyo, kemaren dia bilang liburan ini ingin ke rumah keluarga jauhnya. Ne.. kita berdua saja? Baiklah. Minri dan … tidak diajak? Oh.. baiklah. Oke, sampai jumpa.”

Plipp..

            Jonghyun menutup ponselnya. Yeon baru saja menelponnya, ingin mengajak liburan ke amusement park bersama-sama. Yeon juga mengajak Nara, tapi bagaimana bisa? Jonghyun tau sekarang Nara sedang liburan bersama keluarga Jinki ke pulau Jeju dan 2 teman lainnya juga sudah liburan ke tempat lain. Alhasil, hanya dia dan Yeon yang akan ke amusement park bersama.

Jonghyun menyandarkan kepalanya dikursi meja belajarnya. Tangannnya mengenggam sebuah benda yang baru saja diberikan Nara malam kemaren lusa saat acara pentas seni di sekolah. Entah kenapa, hatinya terasa sakit sekali saat Nara memberikan kembali gelang itu. Padahal, jika gelang itu masih berada ditangan Nara, ia akan merasa sedikit senang, walaupun harus menerima kenyataan bahwa dia tak akan pernah bisa memiliki Nara.

“Nara-ah, aku harap kau bisa bahagia dengan orang yang ada disampingmu sekarang. Aku ingin selalu melihat tawamu. Jika dia membuatmu menangis sekali saja, maka aku akan membunuhnya!..hhhh..” Jonghyun menghela nafas sebentar. “Jonghyun babo-ya, mana mungkin kau membunuh orang hanya karena alasan yang tak jelas ini.” Jonghyun menghakimi dirinya sendiri.

“Jonghyun-ah” tiba-tiba seorang yeoja muncul dari balik pintu.

“Noona? Waeyo?” tanya Jonghyun pada yeoja itu. Yeoja itu adalah kakak perempuan Jonghyun.

“kau sibuk tidak? Bisa temaniku ke toko buku sebentar?” tanya yeoja itu.

“aniyo. Kita berangkat sekarang?”

“minggu depan ! ya sekarang lah. Aku membutuhkan bukunya sekarang. Cepat ganti baju dan cuci mukamu yang seperti orang baru putus cinta itu.”

“mwo? Seperti orang putus cinta? Apa sangat kasihan?” tanya Jonghyun.

“seperti anak anjing yang terpisah dari induknya.” Jawab yeoja itu.

“ah, jeongmal. Kiasannya terlalu berlebihan.” Wajah Jonghyun terlihat semakin lesu.

“aish.. sudahlah. Cepat ganti baju, aku menunggumu dibawah.” Yeoja itu keluar dan menutup pintu, meninggalkan Jonghyun yang semakin lesu seperti anak anjing yang kehilangan induknya dan sekarang sangat kelaparan karena belum menyusu.

+++

            “aku kearah sana sebentar.”

“ne.” sahut Jonghyun pendek. Dia sekarang sudah berada di toko buku disalah satu pusat perbelanjaan di Seoul.

Jonghyun berjalan menuju CD store yang masih ada dalam lingkungan toko buku. Kakinya melangkah mengelilingi rak-rak CD tanpa tujuan yang jelas ingin mencari apa.

“Jonghyun.” Tiba-tiba seorang namja memanggilnya. “Kau Jonghyun kan?” tanya namja itu.

“Ne. Ka..kau Taemin? Ada apa?” jawab Jonghyun terlihat sedikit kaget melihat Taemin ada dihadapannya.

“aniyo, hanya ingin menyapa.” Jawab Taemin sambil tersenyum. “Kau datang ke sini sendiri?” tanya Taemin lagi.

“ani.. aku kesini bersama noonaku, dia lagi mencari-cari buku. Kau sendiri?”

“Hanya kebetulan kesini. Liburan kali ini singkat sekali jadi aku tak punya rencana khusus ingin berlibur kemana. Ah, 3 hari yang lalu aku baru saja pergi nonton bersama Nara, tapi aku belum sempat bertanya dia ingin liburan kemana kali ini. Aku coba menghubungi dia beberapa hari ini, tapi ponselnya tidak aktif, kau tau kemana dia?”

Degg..

Jonghyun sedikit terkejut dengan perkataan Taemin. 3 hari yang lalu? Berarti sehari setelah Nara menikah? Dan.. lagi-lagi orang menanyakan kabar Nara padanya? Jonghyun kembali teringat dengan gelang itu.

“Molla.” Jawab Jonghyun pendek. Ia tak ingin bicara panjang lebar tentang Nara dengan Taemin.

“Bukankah rumahmu dekat dengan rumahnya? Beberapa hari ini kau tidak berkunjung kesana?”

“Untuk apa sering-sering ke rumah orang?” jawab Jonghyun agak ketus.

“Mungkin saja kalian punya rencana liburan bersama. Ya, sudah.. kalau begitu aku sekarang ke rumahnya saja.” Kata Taemin pergi menjauh.

“Tunggu, Nara tak ada di rumahnnya. Dia sedang liburan bersama keluarga jauhnya.” Jonghyun sontak menarik tangan Taemin agar dia tak pergi ke rumah Nara. Jonghyun tak mungkin membiarkan Taemin ke rumah Nara, disana tak ada orang selain pembantu mingguan keluarga Nara yang mungkin saja tanpa sengaja memberitahukan Nara sedang berada di rumah keluarga Jinki. Ayah dan ibu Nara juga sedang berada di rumah mereka yang satunya. Ya, keluarga Nara memang memiliki dua buah rumah. Rumah yang satunya terletak dipinggir pantai, jadi nyaman sekali untuk didiami saat liburan seperti ini.

“mwo? Katanya kau tak tau?” kata Taemin sedikit kesal pada Jonghyun yang sudah membohonginya.

“mianhae, tapi Nara bilang padaku agar tak memberitahukan siapapun dia sedang dimana. Mereka sedang ada acara keluarga besar-besaran, jadi tak ingin diganggu siapapun.” Jonghyun menjawab dengan jawaban yang sedikit tak masuk akal.

“Aneh sekali..” Taemin mengernyitkan dahi. “Kalau begitu kau tau kapan dia kembali?” tanya Taemin. Jonghyun hanya angkat bahu tanda tidak tahu menahu.

“Jonghyun-ah, aku sudah selesai. Ada yang ingin kau cari lagi?” tiba-tiba kakak perempuan Jonghyun datang menghampiri.

“sudah selesai? Kita pulang saja, tak ada yang kucari disini.”

“baiklah, tapi..tunggu. ini temanmu?” tanya kakak perempuan Jonghyun begitu melihat Taemin yang masih berdiri disamping Jonghyun.

“ne, teman sekolah. Tapi kami beda kelas.”

“Annyeong noona, Taemin imnida.” Kata Taemin sembari mengbungkukkan badan.

“ah.. neomu kyeopta. Kau sopan sekali…”

“Noona cepat kita pulang. Kami pulang Taemin. Annyeong” Jonghyun menarik tangan kakak perempuannya menjauh.

“yak, Jonghyun-an ! Tunggu dulu. Aku ingin berkenalan dengan Taemin…”

“nanti saja. Aku harus cepat pulang.” Jonghyun menarik kakak perempuannya semakin menjauh.

+++

            “Nah, kita sudah tiba.” Ucap ayah Jinki begitu mereka tiba setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Selama liburan seminggu di pulau Jeju, mereka akan tinggal di villa milike keluarga Jinki. Letaknya sangat strategis, yaitu di pinggir pantai. Villanya berlantai dua dan mempunyai banyak jendela kaca. Meskipun dipinggir pantai, tapi juga tidak jauh dengan tempat tinggal warga yang lain.

Jinki dan Kibum membawa barang-barang ke dalam villa, sementara Nara dan ibunya Jinki malah berlarian lebih dulu ke pinggir pantai. Terik matahari memang tidak terlalu menyengat kala itu.

“Ibu dan anak sama saja.” Ucap Jinki. Ayahnya dan Kibum yang mendengarnya hanya tertawa.

“Haha. Nara cepat juga beradaptasi dengan keluarga kita. Padahal kau tau? Ibumu orang sulit menerima orang lain yang bukan keluarga kita.” Kata Ayahnya Jinki sambil melirik isterinya dan Nara yang sedang asyik berfoto. “Ya, sudah. Cepat bawa kedalam. Appa mau menyusul mereka. Sudah lama sekali tidak kesini. Pemandangannya tambah bagus ternyata.”

“Ayahnya juga sama.” Keluh Jinki lagi.

“Cepat bawa masuk saja. Aku juga ingin kesana. Kelihatannya sangat indah.” Ujar Kibum.

“Kau juga mau mengikuti mereka? Ya, sudah ikut saja. Biar aku yang bawa semuanya kedalam.” Ucap Jinki sambil emosi.

“Jinjayo? Ya, sudah..ini lalu ini.” Kibum meletakkan barang-barang yang dibawanya kearah Jinki. “Aku kesana. ……. Hei! Tunggu aku, jangan foto dulu artisnya ada disini.” Kibum berlari dengan riangnya.

“Aishh.. semuanya sama saja !”

+++

            “Kita menikah saja. Bukankah orang tuamu sudah setuju dengan hubungan kita? Lagipula mereka tidak meminta yang macam-macam, tidak ada pesta besar-besaran dan sebagainya.”

            “Tapi apa tidak terlalu terburu-buru? Bagaimana dengan undangan dan pakaian, lalu..”

            “Kau tidak perlu khawatir. Itu hal mudah. Sebetulnya, aku sudah memberitahu orang tuaku dan mereka setuju-setuju saja. Kita bisa memberitahukan orang tuamu sekarang dan mempersiapkan semuanya mulai sekarang.”

Percakapannya dengan Minho seminggu yang lalu itu terus terniang-niang dikepala Eun La. Minho mengajaknya menikah? Dan 5 hari lagi pernikahan itu akan terjadi !

Minho terlalu berani mengungkapkan hal itu kepada orang tua Eun La karena baru beberapa hari yang lalu dia mengatakan ingin menikah dengannya dan beberapa hari lagi juga ia akan menikah. Orang tua Eun La memang sudah sangat setuju dengan hubungan mereka berdua dan menyetujui apapun yang akan dilakukan termasuk menikah.

Saat ini orang tua Eun La ada di Adelaide dan beberapa jam lagi mereka akan tiba di Seoul. Mereka kembali ke Seoul untuk mengurusi pernikahan itu. Minho bilang urusan pakaian dan lainnya sudah diurus dengan cepat, tempatnya pun sudah ditentukan. Memang takkan ada pesta besar-besaran karena kedua belah pihak keluarga juga tidak ingin terlalu bermewah-mewah walaupun ini mungkin hanya kejadia sekali seumur hidup.

Walaupun semuanya dikatakan sudah siap, ada satu hal yang masih menganjal di hati Eun La. Dia belum pernah bertemu orang tua ataupun keluarga Minho yang lain. Mereka hanya pernanh beberapa kali berkomunikasi lewat video call dan itu pun Cuma sebentar.

“Apa orang tuamu tidak datang?” tanya Eun La pada Minho.

“Ani.. kau tau mereka terlalu sibuk? Lagipula mereka juga sudah berbicara dengan orang tuamu dan orang tuamu baik-baik saja. Apa yang perlu khawatirkan lagi?”

“Hanya.. seperti ada yang kurang saja.” Jawab Eun La lemah.

“Sudahlah, nanti aku pasti akan mempertemukan kalian. Sekarang, jangan pikirkan macam-macam lagi, kita tunggu calon mertuaku datang saja.” Ujar Minho tersenyum simpul.

Mereka berdua duduk disalah satu kursi airport. Minho duduk sambil melingkarkan tangannya dibahu Eun La. Sedikit merasa lega, namun Eun La masih sangat ingin bertemu dengan orang tuanya Minho secara langsung. Tapi, ya sudahlah mungkin sekarang ini bukan waktu yang tepat baginya.

+++

            “Ada berapa kamar disini?” tanya Nara begitu memasuki villa.

“Ada 4, dilantai bawah 1, dan dilantai atas 3.” Jawab Jinki datar.

“Kalau begitu pas. 1 kamar untuk appa san umma, 1 kamar untukmu, 1 kamara untuk Kibum oppa, dan satu kamar untukku.”

“Tepat sekali !” jawab Jinki pasti.

“Hei..hei.. siapa yang bilang begitu?” tiba-tiba Ayahnya Jinki datang. “appa lupa meletakkan salah satu kunci kamarnya. Kau tau kan tiap kamar berbeda kunci? Jadi dengan sangat terpaksa, 1 kamar untuk appa dan umma, 1 kamar untuk Kibum, dan 1 kamar lagi untuk kau dan Nara.” Ucap ayah Jinki tak kalah pastinya.

“MWO?” teriak Jinki dan Nara. “kenapa lagi-lagi?” sambung Jinki.

            “Lagi-lagi apa? Kaliankan sudah menikah, tak ada yang bisa melarang. Lagipula hitung-hitung liburan keluarga sambil bulan madu. Kaliankan pasti tak sempat berbulan madu karena sebentar lagi Nara juga akan masuk sekolah untuk semester baru.” Kata umma. Kibum dan ayah Jinki hanya cekikikan.

            “Ya sudah. Karena aku tidak ada masalah, aku masuk kamar dulu, mau membereskan barang-barang ini.” Kibum lalu membawa barang-barangnya ke lantai atas, ke kamarnya.

“Tidak bisakah aku sekamar dengan Kibum saja?” cela Jinki tiba-tiba.

“Mana boleh, kasian isterimu sendirian dikamar. Kau tidak boleh membiarkannya kesepian.” Kibum semakin bergegas masuk ke kamar.

“Benar!” sahut ayah dan ibu Jinki bersamaan. Jinki dan Nara hanya bisa menghela nafas dan menerima kenyataan konyol ini.

+++

No One POV

Semoga aku tak salah dalam mengambil langkah ini. Semoga…

+++

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

18 thoughts on “Love Without A Name – Part 7”

  1. Iiiiii taemin kasian deh
    Gimana kalo dia tau nara udah nikah
    Mana tadi ngebentak
    Mungkin sedang banyak fikiran
    Lanjutt

  2. Iiiiii taemin kasian deh
    Gimana kalo dia tau nara udah nikah
    Mana tadi ngebentak
    Mungkin sedang banyak fikiran
    Lanjutt

  3. Woh woh woh . .

    saya uda blank sama cerita sebelumnya . . cuma inget judulnya doang xD

    mending baca ulang lagi deh . .

  4. huwaaa … aku lupa cerita sebelumnnya .. rada samar2 di otakku ..
    heheheh tpi aku inget ini ..
    ahahahah
    huwaaa tetep nara sma jinki .. kibum milikku .. thor !! #plak!! gila kambuh nih tor .. wkwkkwkwk

    ahahah wahh makin keren nih ceritanya .. ish !! itu anak kecil yg deketin taemin rada sableng ya .. kaga tau diri .. #plak!! bulan puasa ! kasian anak kecil …
    lanjutaannya mudah2an ngak lama .. amin …

  5. aku lupa ma cerita y jadi baca part 6 dulu baru inget lg, jinki udah cinta nih kyk y. . .
    Taemin ampe emosi gitu, pa orang misterius tu taemin lg, jjong patah hati. . . .
    Lanjut jgn lama bgt lg ya chingu, semangat. . . . .

    1. haha… iya. aku jg mikirnya sama…
      minho ya?ya?ya?

      ak mau nara sama onyu aja~ biar aku sama taem, dgn begitu, semuanya bahagia ever after~~ #plak *dicincangshawol*

      eheheh, mian ya, saya emang rada bacot orangnya… lanjuttt~~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s