Egoistic Marriage: SM University (II)

Author : Ria QR (twitter : @riaQR)

Main Cast :

–          Choi Min Ho

–          Kim Ki Bum

–          Kim Jong Hyun

–          Lee Taemin

–          Lee Jinki

–          Kang Hye Mi (Imaginative Character)

Support Cast :

–          Nenek Goo Hara

–          Kakek Kang Nam Gil

–          Shin Min Ri (a.k.a Widi)

–          Lee Chaerin (Taemin and Jinki’s eomma)

–          Kim Taeyeon (Key and Jonghyun’s eomma)

–          Choi Soo Young (Minho’s eomma)

–          Lee Dong Hae

–          leght : Sequel

genre : romance, family, a bit comedy

rating : PG 15

Egoistic Marriage—SM University (II)

            Esok harinya, ketika terbangun Hyemi sudah mendapati dirinya tidur dikamar yang berbeda. Kamar yang ini lebih luas dan interiornya sangat bagus. Ada balkon yang langsung menghadap ke taman samping. Kamar Hyemi ini luasnya lima kali lipat dari luas kamar Minri dan berbelas kali lipat dari kamarnya yang dulu.

Hyemi melihat sebuah seragam unversitas SM sudah tergantung didekat lemarinya. Hyemi menghela nafas panjang. Hari ini ia sudah harus masuk unversitas baru padahal baru sekitar 3 bulan yang lalu Hyemi masuk unversitas yang sama dengan Minri. Ah, itu berarti Hyemi akan tidak sekampus dengan Minri.

Hyemi mengambil ponselnya lalu menelepon Minri.

***

            Baru saja Hyemi keluar dari pintu rumah dan mendapati Jinki sudah berada diatas mobil sedan kremnya.

“Kuantar,” kata Jinki. Hyemi mau menolak tapi Jinki berkata lagi, “Ini bukan usaha pendekatan. SM university ada sekitar 30 menit naik taksi, hampir sejam naik bis, dan sampai setengah hari jalan ka-“

“Aku ikut,” kata Hyemi, tidak membuat Jinki meneruskan kalimatnya.

***

“Kenapa tadi pagi kau tidak ikut makan pagi bersama?” tanya Jinki mencari bahan obrolan. Sedari tadi gadis bernama hyemi itu terus-terusan menatap keluar jendela.

“Saya terlambat bangun. Saya terlalu pusing,” jawab Hyemi.

Jinki tertawa membuat perhatian hyemi teralih padanya. “Kenapa anda tertawa?”

“Ah… ani. lucu saja. Kau memakai bahasa formal kan? Santai saja. Pakailah bahasa informal denganku, juga dengan keempat saudaraku yang lain,” kata Jinki.

“Geurae (baiklah),” kata Hyemi lalu kembali mengarah ke jendela.

Jinki memperhatikan gadis itu dari sudut matanya sementara tubuh dan kepalanya masih tegap menghadap setir didepannya. Kang Hyemi itu memang bertubuh cukup tinggi, tapi mungkin memang terlalu kurus. Rambutnya panjang bergelombang dan berwarna coklat. Kulitnya putih dengan mata besar. Cukup menarik walaupun tidak bisa dibilang cantik.

Hyemi melirik Jinki dengan sudut matanya hingga kedua mata mereka bertemu. “Kau memperhatikanku?” tanya Hyemi dengan mata sinisnya.

“Ya,” jawab Jinki, jujur. Ia memang bukan tipikal pembohong. “Tidak boleh?”

“Ya. Tidak boleh,” jawab Hyemi asal dan Jinki hanya tertawa.

Jinki pun memilih diam sambil menyetir.

***

“Yeoboseyo?” sapa Hyemi begitu mengangkat telepon Minri.

“YA! Hyemi-ah! bagaimana keadaanmu? Bagaimana SM university? Apakah benar-benar sekeren yang dibicarakan?” tanya Minri tanpa terlebih dahulu menjawab sapaan Hyemi.

Hyemi meniup poni depannya. “Ruangan kelas full AC, seragam yang cantik, perpustakaan seluas mall, kantin yang seperti restauran mahal, dan full teknologi,” jaab Hyemi.

“OMONAAA! Kau beruntung hyemi! aishi, aku juga ingin sekolah disana,” kata Minri.

“Siapkan uang berjuta-juta won,” kata Hyemi asal.

***

“Hyemi?” tanya Taemin begitu melihat Hyemi selesai menelepon dikantin.

“Ne? Hmm…” Hyemi berbalik dan tampak berfikir sebelum akhirnya Taemin menjawab, “Lee Taemin imnida.”

“Oh ne,” kata Hyemi sambil menjetikkan jari karena sudah mengingat nama namja berambut ikal coklat ini.

“Dari menelepon siapa?” tanya Taemin sambil duduk dihadapan Hyemi.

“Teman,” jawab Hyemi.

“Sudah pesan makanan?” tanya Taemin membuat Hyemi mendesah. “Memangnya aku sudah tampak seperti gadis kaya? Makanan disini semua mahal-mahal dan aku tak punya cukup uang untuk memesan bahkan minuman sekalipun.”

“Mianhae. Bukan maksudku begitu,” kata Taemin tampak merasa bersalah. “Kau mau makan apa? Akan kutraktir.”

“Tidak usah,” jawab Hyemi cepat. Tapi sayang, mulut dan perut tidak bisa diajak kerjasama. Sementara Hyemi mengatakan tidak usah, bunyi KRUYUUK dari perutnya membahana.

“Jangan berfikir aku sedang melakukan pendekatan. Aku tidak tertarik. Aku hanya tidak mau anggota keluargaku tidak makan siang,” kata Taemin. “Jadi mau pesan apa?”

Dengan malu-malu dan sambil memegang perutnya Hyemi berkata, “terserah kau. Aku ikut denganmu.”

Taemin tersenyum lalu pergi ke tempat pemesanan dan kembali lagi. “Kau tidak ikut makan pagi bersama. Makanya jadi kelaparan begini.”

“Ne. Kamsahamnida sudah mau mentraktirku,” kata Hyemi.

“Tidak apa. Kita sudah satu keluarga sekarang. Dan ngomong ngomong kita satu angkatan kan?” tanya Taemin dan Hyemi mengangguk. “Kau mengambil jurusan apa?”

“Kedokteran,”kata Hyemi. “Di univeritasku yang dulu aku lulus kedokteran. Mungkin nenek Hara tahu itu dan akhirnya aku lolos masuk kedokteran disini. Bagaimana denganmu?”

“Wow,” kata Taemin kagum. “Aku sama dengan keempat saudaraku. jurusan manajemen ekonomi. Aku baru semester pertama. Key dan Minho hyung semester  3, jonghyun hyung semester 5, dan Jinki hyung semester hampir akhir, yaitu semester 7. Sekarang dia sudah menyusun skripsi.”

“Kalian semua mengambil satu jurusan? Kalian semua menyukai hal yang sama ya…” kata Hyemi. Tampak Hyemi mulai nyaman mengobrol dengan Taemin. Taemin tampak polos, dan memang  epertinya tidak ada niat untuk perjodohan.

“Ani. Kami semua punya hal berbeda yang kami sukai. Tapi kami adalah anak dari keluarga pengusaha. Meskipun nanti hanya ada satu pewaris tunggal, tapi kami semua pasti akan mendapat tempat di perusahaan. Semua itu membutuhkan ilmu manajemen ekonomi,”kata Taemin panjang lebar.

“Jadi anak pengusaha itu membosankan,” kata Hyemi ceplos tapi Taemin tampak tidak tersinggung. Taemin tertawa.

“Ya memang. Lebih dari itu, memang sangat membosankan.”

***

Hari sudah sore dan Hyemi mau mencari Taemin. Hyemi mau pulang bersama namja itu karena ia merasa sudah cukup nyaman berteman dengan Taemin. Hyemi tidak diberi mobil dan supir khusus karena memang tugas kelima namja itulah untuk sukarela mengantar jemput Hyemi.

Hyemi berjalan tak tentu arah mencari Taemin. Seharusnya Taemin juga sudah pulang seperti yang ia bilang saat makan siang tadi. Hyemi sampai di lapangan basket dan tampaknya ada pertandingan sedang berlangsung. Hyemi tertarik dan mendekat.

Omona! Hyemi melihat Jonghyun dan Minho ikut bermain dalam seragam basket warna merah. Jonghyun tampaknya menjadi center dan tampak dari apa yang dipakai Minho dilengannya, namja itu adalah kapten.

“Daebak…” gumam Hyemi tidak sadar begitu melihat Minho. Minho yang tampan, tinggi dan merupakan kapten basket. Hyemi tersadar lalu menepuk pipinya keras. Apa yang kupikirkan?

“Mungkin lebih baik aku menunggu taemin disini. Sial sekali tadi aku tidak meminta nomornya,” kata Hyemi lalu duduk di tribun atas lapangan basket.

***

Hari sudah sore dan pertandingan basket telah berakhir beberapa menit yang lalu. Tim Minho dan Jonghyun menang telak. Sementara Hyemi tidak melihat Taemin dimana-mana akhirnya memutuskan pulang naik bis. Saat hampir mencapai halte bis, Hyemi mendengar suara klakson mobil. Ternyata Jonghyun.

“Kau menunggu seseorang?” tanya Jonghyun dari balik setir mobil sedan tanpa atap miliknya.

Hyemi meniup poni depannya. Ia tahu Jonghyun tipikal namja jahil mengingat dia yang telah mempermainkannya di interphone kemarin dulu.”Aku akan naik bis. Tidak perlu menawarkan jemputan.”

“Siapa yang akan menjemputmu? aku hanya bertanya WEEEK,” kata Jonghyun sambil meleletkan lidahnya. Hyemi lagi-lagi meniup poninya. Tuh kan.

“Jonghyun hyung, kita harus mengantarnya pulang,” kata Minho yang sudah tiba-tiba berada di samping tempat duduk Jonghyun.

“YA! Mana motor sportmu?” tanya Jonghyun melihat Minho tidak biasa-biasanya nebeng di mobilnya.

“Sudah kubilang di bengkel. Aku ke universitars pun ikut di mobil Key. Dan kau, Kang Hyemi, naiklah. Ini bukan usaha pendekatan Jonghyun. Aku juga ikut minta diantar pulang,” kata Minho membuat pertaHaran Hyemi melemah. Ia ikut saja.

Selama di perjalanan, Hyemi hanya diam sementara Jonghyun dan Minho terus membahas hasil pertandingan mereka barusan.

***

Hyemi menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Hari pertamanya di SM university benar-benar melelahkan. Hyemi belum mendapat satu pun teman karena semua yeoja disana tidak ada setipe dirinya. Semuanya berbicara soal salon dan pamer. Tidak penting.

Hyemi mau menelepon Minri saja, dan akan meminta gadis itu pindah ke SM. Dia bisa gila kalau tipa hari yang ia dengar hanya model gaun terbaru Christian Dior atau apalah itu. Tapi Hyemi mau minum dulu, ia haus sekali.

Saat turun tangga, Hyemi mendengar suara alunan biola yang merdu sekali. Hyemi berfikir, mungkin Minho yang memainkannya karena kemarin dulu Minho juga memainkan piano. Tapi kali ini tidak dari taman samping dan malah ke arah dekat gym. Hyemi penasaran dan mencari asal suara.

Hyemi menemukan sebuah ruangan yang diapit gym dan ruang tamu ketiga. Sebuah ruangan musik. Hyemi mengintip, dan melihat seorang namja sedang asyik memainkan biolanya. Namja itu… Jinki?

Sebuah lagu dari DBSK “Doushite” dimainkannya dalam versi biola. Sebuah lagu sedih yang dimainkan dalam alunan yang sedih. Dan… apakah Hyemi tidak salah lihat? Jinki memainkan biola sambil menghadap sebuah foto berbingkai indah yang ditaruh diatas meja.

Itu foto siapa?

***

            “MWOYA???” seru Hyemi, Jinki, Jonghyun, Key, Minho, dan Taemin bersamaan. seolah sudah latihan, mereka sama-sama berhenti makan malam dan berdiri dari tempat duduk mereka.

Nenek Hara yang baru saja pulang dari istirahat disalah satu resort selama dua hari dengan tenang meletakkan garpu dan sendoknya kemudian minum. “ Kalian tidak salah dengar,” kata nenek Hara lagi sambil mengelap mulutnya dari sisa makanan. “Pertunangan kalian akan diadakan minggu depan.”

“Nyonya… maksudku Nenek, kenapa harus secepat ini? Aku saja baru lima hari disini,” kata Hyemi tidak terima.

“Nek, pertunangan itu hal yang lumayan sakral, jangan dipermainkan,” kata Jinki diikuti anggukan oleh Taemin.

“Masa kami harus bertunangan dengan seorang yeoja? lima namja bertunangan dengan seorang yeoja? Apa kata relasi dan kerabat kita nanti nek…” kata Key yang memang sejak awal tidak setuju dengan segala urusan seperti ini.

Baru saja Jinki mau berkata lagi tapi Nenek Hara mendentingkan gelas lagi sehingga semuanya diam. “Jinki-ya, aku tahu pertunangan itu seperti apa. Memang sakral, dan aku tidak main-main dengan pertunagan kalian berlima! Lalu Key… Tentu saja kita tidak akan mengundang semua orang luar. Cukup keluarga dalam yang diundang yaitu keluarga Lee, keluarga Kim. Dan kau, hyemi-ya, kutegaskan padamu sekali lagi soal sekolah, pekerjaan ibu Minri dan toko kue kakekmu. Kau mau aku menjualnya sekarang?”

Seketika ruangan hening. Nenek Hara merupakan pribadi yang pandai bicara. Sekali bicara saja sudah membuat semua orang-orang bungkam.

“Eommonim,” panggil Chaerin, Ibu Jinki dan Taemin yang duduk disebelah kanan Nenek Hara. “Besok malam keluarga kami, keluarga Lee akan bicara dulu untuk konsep pertunangan ini.”

“Saya juga eommonim,” kata Taeyeon, Ibu Jonghyun dan Key. “Keluarga Kim akan rapat juga untuk pertunangan ini. Jadi aku tidak bisa hadir makan malam besok.”

Nenek Hara meminum jus lecy-nya baru menjawab,”Ya, rapatlah. ajak semua anggota keluarga kalian.”

“Oh ya, Minho, kau juga. Ajak semua keluarga Choi. Biarpun Soo Young, Ibumu sudah tiada kau juga harus memberitahu hal ini ke keluargamu,” kata nenek Hara lagi. “Berhubung Jinki, Taemin, Jonghyun dan Ki Bum ada rapat keluarga besok malam, maka Minho, kau kutugaskan menemani Hyemi membeli gaun pertunangan.”

“Ne Halmeoni,” jawab Minho patuh. Hyemi melirik kearah namja itu. Minho memang pendiam dan walaupun ia sama dengan Key, paling tidak menyetujui perjodohan ini, Minho termasuk sangat menurut dengan nenek Hara. Merasa diperhatikan, Minho menatap balik Hyemi yang berada di seberang meja. Hyemi langsung saja melirik arah lain.

***

“Mian, aku tidak punya mobil,” kata Minho sambil menyodorkan helm untuk dipakai Hyemi. “Naik motor tidak apa kan?”

“Motormu sudah baikan?”

Minho menyipit. “Darimana kau tahu motorku sempat rusak?”

“Ani. Aku hanya menguping pembicaraanmu dengan Jonghyun kemarin dulu, saat pulang bersama,” kata Hyemi dibalas kata “Oh,” dari Minho.

Minho pun naik motor sportnya yang sadel pemboncengnya menukik turun itu. Hyemi melihatnya ragu sebentar.

“Mianhae, sudah dari pabriknya sadel motor ini menurun. Naiklah, aku tidak akan macam-macam,” kata Minho dan Hyemi akhirnya naik ke atas motor.

Benar saja, sadelnya terlalu turun sehingga tubuh Hyemi melorot dan menempel di punggung Minho.

“Pegangan yang kuat atau kau terlempar,” kata Minho lalu memacu motornya. Hyemi hampir saja memekik karena benar, Hyemi hampir terlempar. Hyemi pun memilih berpegangan di besi yang ada disamping motor. Bukannya memeluk pinggang Minho.

“Kenapa kau tidak punya mobil sementara keempat saudaramu yang lain punya?” tanya Hyemi saat mereka melaju kencang diatas motor.

“Tidak perlu. Aku tidak butuh mobil. Mobil itu boros tempat duduk. Aku hanya sendirian sementara masih ada tiga kursi lagi yang maih kosong? pemborosan sekali,” kata Minho. Lampu merah. Minho mengerem membuat Hyemi mendadak memeluk Minho dari belakang karena rem mendadak barusan.

Hyemi tahu sekarang jantungnya udah berdebar tidak karuan. Tangannya kini sudah melingkar sempurna di pinggang Minho dan wajahnya sudah berada di punggung Minho. Aish. Apakah namja ini sengaja atau bagaimana?

Sementara itu, sama saja dengan Minho. Minho pun berdebar-debar tidak jelas.

***

Hyemi melepas pelukannya begitu motor sudah melaju lagi.

“Pegang bahuku,” kata Minho membuat Hyemi membulatkan mata. Minho melihatnya di kaca spion. “Kubilang pegang bahuku. kalau kau tidak mau berpegang pada pinggangku maka peganganlah dibahuku. Aku tidak mau kau terjatuh atau terlempar sekalian.”

Hyemi menurut lalu menaruh kedua tangannya diatas bahu Minho. Jadi ketika Minho mengerem atau melaju kencang, Hyemi sudah punya pegangan untuk menjaga keseimbangan.

“Sampai,” kata Minho saat keduanya sudah sampai di sebuah toko baju pengantin. Saat keduanya masuk, Hyemi selalu saja mengagumi setiap gaun yang dilihatnya. Semuanya cantik sekali.

“Pilihlah model yang kau suka,” kata Minho. Hyemi memandang kearah Minho. “Apa?”

“Aku suka semua model disini,” kata Hyemi polos membuat Minho ingin tertawa karena kepolosannya tapi ditahan.

“Cobalah satu, lalu sesuaikan dengan ukuranmu,” kata Minho.

Hyemi pun beredar mencari dan Minho memilih untuk menunggu. Seorang penjaga mendatanginya.

“Kalian pasangan yang akan menikah?” tanya SPG wanita itu.

Minho berfikir sebentar sebelum menjawab, “Mungkin seperti itulah.” Minho berkata dalam hati, jawaban macam apa itu? Seperti jawaban mempelai pria yang labil di malam pernikahannya.

“Kalian cocok sekali,” kata SPG itu lagi sambil bergantian melirik Minho dan Hyemi. “Kalian memiliki wajah yang mirip-mirip. oh iya, Kami juga menyiapkan tuxedo untuk mempelai pria. Mau berpasangan dengan gaun aghassi itu?”

Minho menggoyangkan tangannya. “Gamsahamnida. Tapi tidak.”

Setelah mendengar penolakan Minho, SPG itu pun berlalu. Dalam hati Minho berfikir, aku? cocok dengan Hyemi? Wajah kami mirip?

***

“Minho,” panggil Hyemi membuat Minho berbalik dan menganga di saat yang sama. Hyemi memakai sebuah gaun menutup mata kaki tanpa lengan berwarna putih. Tampak pas dan cocok sekali di tubuh Hyemi yang kecil dan tinggi itu.

“Minho,” panggil Hyemi lagi membuat minho sadar dari kekagumannya. Ah tidak. Tadi Minho seperti mengingat sesuatu saat melihat Hyemi berpakaian seperti ini. Rasa-rasanya Minho pernah melihat hyemi dalam gaun seperti itu tapi… dimana??

“Bagus tidak? Aku menemukannya di rak belakang,” kata Hyemi sambil berputar. Minho hanya mengangguk. Masih terganggu dengan pikirannya barusan.

“Itu pilihanmu?”

Hyemi mengangguk. “Tapi…  tampaknya ini mahal.”

“Urusan harga itu urusan toko. Urusan pembayaran itu aku. Urusan siapa yang memakai baru itu yang harus kau fikirkan,” kata Minho membuat Hyemi tersenyum sambil terus menatap gaunnya.

***

Minho duduk menghadap langit Seoul diatasnya. Minho pun merebahkan tubuhnya di lantai semen diatas rumah keluarganya. Minho menaikkan tangannya, menggapai-gapai langit tapi tidak bisa. Jelas. Minho pun menggoyang-goyangkan telunjuknya, seolah menggambar dilangit Seoul.

Hyemi melihat namja bernama Minho itu tiduran beralas lantai semen. Pasti dingin, pikir Hyemi. Hyemi mendekat dan Minho tampak menyadari keberadaannya.

“Annyeong,” sapa Hyemi sambil merapatkan jaketnya. Angin musim gugur memang tidak pernah bersahabat. “Sedang apa?”

“Sedang menatap langit. Kau sendiri?”

“Bosan.”

“Hm.”

“Duduklah disini.”

“Oh Ne.”

“Hyemi.”

“Ne?”

“Lihat bintang yang disana?” tanya Minho sambil menunjuk kearah sebuah bintang yang tampak bersinar lebih terang.

“Wae?”

“Itu Ibuku,” kata Minho.

“Aku turut berduka.”

“Tak usah sok kuat. Kau juga baru saja kehilangan kakekmu kan.”

Hyemi menunduk. Masih teringat soal kakeknya. Sekarang keduanya berada dalam diam. Hyemi melirik Minho. Namja itu masih sibuk memperhatikan langit.

“Mianhae. Kalau boleh tahu kenapa ibumu meninggal?” tanya Hyemi membuat Minho beralih padanya.

“Dia sakit-sakitan karena depresi jangka panjang,” kata Minho. Hyemi tidak mengerti.

“Maksudnya?”

Mino menghela nafas panjang sebentar lalu menatap Hyemi yang sudah tidak berkedip karena menunggu cerita Minho. Minho lagi-lagi menghela nafas. Hyemi sebenarnya gadis yang baik. Dia hanya gadis yatim yang dipaksa mengikuti perjodohan demi keluarga Shin dan toko kakeknya. Minho memilih untuk bercerita saja. ia yakin, Hyemi benar-benar orang baik, seperti yang dipikirkannya barusan.

“Sebenarnya aku anak tiri. Saat aku berumur sepuluh tahun, Ibuku dipaksa mau dinikahi oleh Goo Siwon. Semuanya demi membayar hutang keluarga,” kata Minho membuat hyemi membulatkan mata. “Ibuku terpaksa dan tidak mencintai Goo Siwon. Aku tahu Goo Siwon hanya menikahi ibuku karena kecantikannya. aku pun tak pernah dilihatnya. Ia hanya memperhatikan anak kandungnya.”

“Untunglah nenek sangat menyayangiku. Bisa dibilang, nenek menyukai ibuku dibanding kedua istri Goo Siwon sebelumnya. Aku sangat dekat dengan nenek,” kata minho dan Hyemi mendengarkan dengan seksama. “Alasanku mengikuti perjodohan pun karena nenek yang meminta.”

“Ah, aku jadi curhat begini,” kata Minho sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “sudah malam. aku masuk dulu. kau masih mau melihat bintang?” tanya Minho dan Hyemi mengangguk.

“yasudah. Aku pergi,” kata Minho tapi sebelum Minho menuruni tangga, Hyemi memanggilnya.

“Kau sering kesini?” tanya Hyemi dijawab anggukan oleh Minho dan akhirnya Minho menghilang di tangga.

Hyemi tahu, dirinya sudah mulai menyukai Choi Minho. Bahkan sejak ia mendengar namja itu memainkan piano di hari pertama kedatangannya. Mereka senasib, sama-sama ditinggal mati orang tersayang. Hyemi masih ingin berdua dengan Minho maka dari itu Hyemi bertanya, apakah Minho sering melihat bintang atau tidak.

***

“Kau sudah mendapat gaun yang kau inginkan?” tanya nenek Hara pada Hyemi.

“Ne, nek,” jawab Hyemi.

“Kau melakukan tugasmu dengan baik Minho,” kata nenek Hara pada Minho. Tampak Hyemi melirik ke Minho. Lirikan itu ditangkap oleh Hye Sun.

“Saatnya memilih cincin,” kata nenek Hara lagi. “Karena semua lengkap, siapa yang bersedia menemani Hyemi memilihkan cincin untuk kalian berenam?”

“Kurasa Jinki punya waktu banyak hari ini, eommonim,” kata Chaerin cepat. Jinki melirik ke arah ibunya tapi Chaerin tidak peduli. “Bagaimana Jinki?”

Jinki hanya menghela nafas panjang. “Ne, eomma.”

“Baiklah, untuk cincin, Jinki akan menemani Hyemi. Ada yang mau ikut juga?” tanya nenek Hara lalu Key mengangkat tangannya.

“Aku ikut. aku tidak mau memberikan pilihan pada Jinki atau Hyemi. Aku tahu selera Jinki terlalu old fashioned dan Hyemi tidak bisa dipercaya,” kata Key panjang lebar dan hampir saja dibalas oleh Hyemi.

“Baiklah, Ki Bum, kau ikut.”

Hyemi melirik kearah Key. Hyemi meniup poni depannya. Oh tidak… Malam ini akan sangat berat baginya.

***

“Apa maksudmu seleraku jelek?” tanya Hyemi pada Key saat mereka sudah tiba di toko perhiasan. Jinki tampak sedang berbicara akrab dengan seorang wanita yang tampaknya adalah pemilik.

“Rakyat biasa. Wajar saja,” jawab Key asal dan Hyemi menggeto kepala namja menyebalkan itu.

“Aish. Paboya (bodoh)! Apheoo (sakit)!” kata Key sambil mengelus kepalanya. “Omonaa…. rambutku! Aish! kau merusak tatanan rambutku!”

Hyemi bergidik ngeri melihat tingkah Key. Namja aneh, pikir Hyemi. Jangan-jangan….

“YA! Hentikan imajinasi liarmu! Aku tahu kau pasti berfikir aku ini cowok metroseksual kan?” tanya Key seolah bisa membaca fikiran Hyemi.

“A-ani. Bukan itu,” kata Hyemi. “Lebih dari itu.”

“Kau berfikir aku ini banci?!” tanya Key hampir menjerit.

“N-n-ne.”

“AAA! Kubunuh kau Kang Hyemi!” seru Key dan Hyemi berlari menuju WC.

“Jangan bertindak kekanakan disini, Key,” kata Jinki saat melihat Key lari-larian dari WC wanita.

“Yeoja itu memang yeoja kampung! Aish. Rusak sudah penampilan dan moodku.”

“Ya, kau mau model yang mana?” tanya Jinki lagi.

“Terserah sajalah!”

TBC

(Jangan lupa kritik, comment dan voting couple-nya (pengennya Hyemi sama siapa). voting terbanyak maka seperti itulah endingnya^^ thank you for reading and say no to plagiat^^)

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


143 thoughts on “Egoistic Marriage: SM University (II)”

  1. klw yg pst hyemi ga mngkin sma taemin…c0z taemin ga ttrik dngn prbutan hrta wrsan…and mrka jd tmn akrab…and taemin bkl jd tmpt curhat hyemi…

    Klw 0new atw jinki atw pcar sya itu *plak…kya na pnya ssorang yg udh dy suka…0new cuma nurutin omongan eomma na aja…py sbnr na dy ga ttrik ma hyemi…

    Jjong sprti na tipe bad b0y…dy cuma ikut2an ngramein prbutan hrta wrisan…

    Nah kandidat yg bkal ma hyemi antra minkey…py kya na lbh sru klw jd ma key…c0z sfat na btl0k blkang…jd lbh bwrna..

  2. aku maunya hyemi sama jjong si bad boy! tp hubungan mreka brdua bkin yg seru ya. jgn lgsg jatuh cinta. hahaha *sakit jiwa*

  3. owh q tdnya agak” aneh,,, masa mo tunangan ma smwnya?! whe..
    sama sapa y? jinki x y… jinki, kn paling dewasa…
    v minho jg boleh.. whohoho..

  4. Wuhuuu…seruu hhehe
    Itu key -_- katanya mau nemenin beli cincin.eh ujung’nya jinki juga yg milih.
    Penasaran jinki main biola buat siapa??buat aku aja ya.kekeke

  5. jadi bingung hyemi sama taemin atau minho??
    tapi aku pengen sama key..
    onew punya mantan ya??
    lanjut ya thor.. segera.. ^^

  6. Sukaa deh pas tiba2 Jinki mau nganterin Hyemi haha
    Tapi,.. tetep vote sama Jonghyun! hehe

    OH NOOOOOO~ Jangan sampe jatuh cinta sama Minoooo~
    Aku tidak setuju! Lebih setujuan sama Ojog pokonya
    Oke?? hehe

    *mian telat komen

  7. Hauauaaaahha =)))))) ngakak thooorr sumpaaahhh =)))))) ini loh ““Jangan bertindak kekanakan disini, Key,” kata Jinki saat melihat Key lari-larian dari WC wanita.” Sumpah.. Aahahahah =D kereen thor! Ehhe seru! Sukak deh (з´⌣`ε) /sorry kasep thor._.V

  8. hmm, minho jtuh cinta sm hyemi? trus hyemi juga? jangan ah. minho kan punyaku #bletak

    aku ttp vote hyemi-jjong. tp ya, klo author mau psngin sm key jg boleh. asal jng sm minho u,u

  9. sama minho ya ^^
    kalau sama key, kan udah biasa cerita yang kayak antara key sama hyemi. jadinya udh terlalu sering di liat. terlalu umum.
    mending sama minho aja, minho biasku ^^

  10. hyemi sama key?! hmm tapi aku lbih ‘srek’ ke jonghyun,, jonghyun itu romantissssss
    hyemi sama jjong aja ya authoor
    *puppyeyes*

  11. Oh… Ternyata minho bukan cucu kandungnya nenek Go hara toh. Ya ampun… Jinki tuh penurut banget ya. Itu 2 bersaudara Kim sama-sama rusuh ih.
    makin penasaran. Next part ^^

  12. Berada di dekat Key tidak akan terasa awkward, begitu pula dengan Jong. Hanya saja mereka senang menggoda dan mengganggu
    MinHo yang malang (ʃ˘̩̩̩╭╮˘̩̩ƪ)
    Lanjut chap selanjutnya lagi, semangat membaca (งˆ▽ˆ)ง

  13. hihihi*kaya’a kok aku minho-hyemi saudara yh, trus yg gk akur cuma key-hyemi tho*apa dia nanti calon suaminya?! Seru thor, banget!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s