Hyori’s Life Channel – Part 4

Title                 :    Hyori’s Life Channel  [part 4]

Author             :    deyamonk a.k.a milkyGreen

Main Cast       :    Han Hyori (imaginary cast), SHINee’s Taemin, SHINee’s Onew, Jung Soori  (imaginary cast), SHINee’s Minho

Supprot Cast   :    SHINee’s Key, SHINee’s Jonghyun, Lee Ji Ae (imaginary cast), Supir Van.

Legth               :    Sequel

Genre              :    Drama, Life, Romance

Rating             :    [G], [PG-13]

A.N                  :    Annyeong reader deul~  I’m back!! Sebelumnya, mianhamnida karena lanjutan FF-ku ini  datang telat, karena aku baru dapet musibah, CPU-ku rusak dan part 4 & 5 yang sebenarnya udah lengkap dan rapi beserta file lainnya, termasuk foto2 juga lagu2 SHINee beserta foto2 suamiku Onew Oppa hilang total!!! 😥 hiks hiks hiks~!! Jadi part 4 ini aku tulis ulang!! Kebayang, kan capeknya gimana!! Aku langsung nangis darah, marah, sedih, gelisah, gundah gulana!!!! *emosi mode: on* #abaikan… Buat yg masih nungguin lanjutan FF-ku, kamsahamnida… *bow* dan semoga part 4 ini memuaskan. And HEY, DON’T BE A SILENT READER, GUYS!! Remember, Comment Like Oxygen! Happy Reading 😀

“…Saya hanya ingin menanyakan, apa anda yeoja bernama Han Hyori yang 2 hari lalu bertemu SHINee Taemin? Taemin sedang mencari anda. Taemin ada perlu dengan anda.” Ujar Minho menjelaskan.

 

Soori lekas menutup telponnya dan menarik tangan Minho. “Ayo, ikut aku.” Ujar Soori. Minho hanya melongo sambil mengikuti Soori.

 

“Aku ingin bicara denganmu. Aku… Eeng, bolehkah aku tau nomor handphonemu? Aku janji aku tidak akan usil.” Ujar Taemin memberanikan diri.

Hyori masih terbengong melihat van SHINee melaju meninggalkannya. Dia terus memandangi van itu penuh senyuman yakin dan bahagia. Dia lalu membalikan tubuhnya, bermaksud untuk pulang.

DEG!! Hyori menghentikan langkahnya. Dia meraba-raba pipinya, lalu mencubitnya dan sedikit memukul-mukul wajahnya, berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Tadi aku ngapain??!! Tadi aku ketabrak van SHINee??!!! Terus mereka ngebopong aku, terus Jonghyun ngasih aku minum, terus Key mijitin kakiku, terus Onew senyum ke aku dan megang tanganku, terus Taemin… dia… dia minta nomor handphone-ku!!???!!! Alamaaak~!!! Aku mimpi ya?!

 

Hyori kembali mencubit pipi chubby-nya. Tapi dia tidak terbangun. Karena gemas dan tidak percaya, Hyori terus-terusan mencubit pipinya, dan sesekali menampar atau memukul dirinya sendiri.

Aku nggak mimpi!! Kyaaaaa!!! Ini benar-benar terjadi padaku! Seorang Han Hyori!! Ya Tuhan, aku sudah berbuat apa sampai kau memberiku hadiah yang sangat indah!!!????? Ah, SHINee~ Aku makin mencintai kalian!!!

 

Hyori berlari pulang dengan wajah berseri-seri dan senyuman yang terus bertengger di wajahnya. Dia terus berlari, sambil sesekali melompat girang dan berteriak “SHINee!! SARANGHAEYO!!”

Minho terus berlari mengikuti tangan Soori yang menggandengnya. Dia tidak tau akan dibawa kemana oleh Soori, namun dia sudah bersiap-siap kalau ternyata dia benar-benar diculik oleh Soori.

Soori mengarahkan Minho ke sebuah gang yang dalam dan diapit 2 toko besar, sehingga gang itu sangat kecil dan hanya muat untuk 2 orang. Minho hanya menatap dengan bingung dan langsung kaget ketika Soori membanting tubuh Minho ke tembok gang. Minho menahan rasa sakit dipunggungnya sambil menatap yeoja itu aneh. “Apa yang akan kau lakukan?!” ujar Minho dengan sedikit membentak.

“Harusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang akan kau lakukan pada Hyori?” ujar Soori tidak kalah geram. “Apa maksudmu…?” ujar Minho terbata. Soori hanya menghela nafas pendek. “Aku bukan orang bodoh yang dengan mudahnya percaya pada kalian, para idola yang manja.” Jawab Soori sambil menghimpit kedua tangan Minho ke tembok dan menggenggamnya erat, mengunci semua gerakan Minho. “Aku tidak bisa dengan mudah percaya bahwa Taemin ataupun Kau ingin menemui Hyori yang bukan siapa-siapa.”

“Kalian adalah SHINee. Hyori adalah SHAWOL. Memang sudah jadi tugas kalian untuk lebih dekat dengan fans, tapi dari ribuan atau bahkan jutaan SHAWOL di dunia, kenapa kalian memilih Hyori?” lanjut Soori dengan nada setengah mengancam. “Dia hanya tidak sengaja bertemu dengan Taemin waktu itu. Tapi kenapa kalian ingin sekali menemuinya?? Itu sangat aneh! Kalian ingin mengerjainya, ya?? Kalian bosan dengan yeoja lain yang ada disekeliling kalian dan ingin mencari mainan baru? Silahkan saja, tapi jangan sahabatku!!” Ujar Soori sambil makin menekan Minho dan makin menghimpitnya ke tembok. “Anio!!” jerit Minho sambil berusaha membebaskan diri. Tapi tanpa diduganya, tangan Soori lebih kuat dan dapat mematahkan tenaga Minho.

Yeoja ini gila! Tapi, dengan badannya yang kurus dan tangan yang kecil itu, dia bisa menahanku! Sial!! Batin Minho. “Itu.. itu permintaan Taemin. Dia ingin punya yeojachingu, dan dia tertarik pada Han Hyori…” “Dia Noona-mu, Arra??!” timpal Soori dengan nada kasar. “N-nnee.. maksudku, Taemin ingin menjadi namjachingu-nya Han Hyori Noona…” bela Minho. “Tapi kenapa harus Hyori?! Memangnya tidak ada yeoja lain di dunia ini??!” Tanya Soori geram “Mollayo!! Seingatku, Taemin memang pernah bilang ingin punya yeojachingu yang lebih tua dan bukan artis… tapi selain itu, aku tidak tau alasan lain darinya… Aku hanya membantunya. Sungguh!!” bela Minho. Soori mencari titik kejujuran di mata Minho. Lalu dia menarik tangannya dan melepaskan Minho.

“Aku senang kalau akhirnya Hyori benar-benar bisa menjadi yeojachingu dari idolanya sendiri. Tapi kalau kalian berani macam-macam padanya, akan ku berikan hadiah yang takkan kalian lupakan seumur hidup.” Ancam Soori. Minho hanya mengangguk sambil menelan ludah dan tersenyum dengan sedikit ngeri dan jijik. “Tapi…” ucap Minho pelan. Soori lalu menatap wajah Minho yang agak ragu. “Tolong jangan beri tau Han Hyori Noona dulu. Biarkan Taemin mendapatkan Han Hyori Noona dengan usahanya sendiri.” Lanjutnya. Soori hanya memberi tatapan tajam, tanda setuju.

“Lebih baik kita kembali ke kafe. Aku telpon Hyori dulu.” Ujar Soori sambil mengeluarkan handphone-nya. “Sial, tidak diangkat…” ucap Soori sambil menutup telponnya. Soori sedikit berpikir, kemudian memandangi Minho dengan tatapan aneh. “Setahuku kau kuliah malam. Kapan kelasmu mulai?” Tanya Soori tiba-tiba. Minho sedikit terkejut, namun langsung menyembunyikan perasaan gugupnya. “Jam 7…” jawabnya pelan. Soori lalu menatap jam tangannya. Jam 6.30. Soori lalu menarik tangan Minho keluar dari gang kecil itu. “Tapi Noona, dari mana kau tau kalau aku kuliah malam?” Tanya Minho dengan nada sedikit ragu. “Aku SHAWOL. Hal seperti itu sudah ku hafal diluar kepala.” Jawab Soori tanpa memalingkan wajahnya pada Minho.

Tanpa disadari, Minho tersenyum kecil. Tidak kukira, yeoja kurus dan menyeramkan ini seorang SHAWOL. Tapi kenapa dia biasa saja saat bertemu denganku? Maksudku, SHAWOL lain pasti akan menjerit histeris saat bertemu denganku, apalagi kalau mereka sampai bisa ngobrol denganku. Atau mungkin, aku bukan biasnya? Atau mungkin dia hanya menyembunyikan rasa kagumnya terhadapku? Batin Minho. Dengan agak ragu, Minho mengumpulkan seluruh keberaniannya. “Kalau Kau SHAWOL, siapa biasmu, Noona?” Tanya Minho grogi. Soori memutar badanya. “Key.” Jawabnya singkat. Minho langsung lemas.

“Kau kira aku suka padamu? Jangan harap. Justru sebaliknya, aku sangat membencimu. Kau adalah artis yang paling ku benci.” Lanjut Soori, seakan-akan bisa membaca pikiran Minho. Minho menelan ludah sambil menundukkan kepalanya menahan malu. “Lebih baik kau pulang. Kelihatannya Hyori tidak akan datang ke kafe.” Ujar Soori. Soori lalu berjalan pulang, meninggalkan Minho yang bengong sambil menatap punggung Soori yang makin menjauh. Dasar nenek sihir gila!! Batin Minho sambil mencari taksi untuk pulang.

“Loh, Soori?” ujar Hyori begitu melihat sosok Soori sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Setelah dipersilahkan masuk, Soori langsung merebahkan tubuhnya ke sofa ruang tv. “Tumben kau datang malam-malam… Ada apa?” Tanya Hyori memulai pembicaraan. “Harusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu? Aku menunggumu dari sore, tapi kau tidak datang-datang! Kau juga tidak menjawab telponku! Dan aku harus terjebak di kafe bersama Choi Minho yang sok ganteng itu!! Aaargh, aku sebaal!!” ujar Soori sambil menggeliat di sofa. “Mianhe… handphone-ku hilang, dan tadi aku hampir tertabrak mobil, jadi karena masih sedikit shock, aku langsung pulang…” “Hah!? Kau tertabrak mobil?!” ujar Soori kaget. Hyori pun menceritakan kejadian sore tadi.

“Jijjayo?! Wuah, aku juga mau dipijat Key!” ujar Soori kagum setelah Hyori selesai bercerita. “Dia baik sekali, loh! Dia membantuku duduk, lalu memijat kakiku. Dia juga bilang agar aku lebih berhati-hati saat berjalan. ” lanjut Hyori. Soori kembali beringsut di sofa. “Nasibmu berbeda sekali denganku. Saat kau terkagum-kagum melihat Key, aku harus mendengus sebal sambil bersabar menghadapi Minho…” ucap Soori kesal. Hyori terus mendengarkan keluhan sahabatnya itu sambil membuatkan teh melati yang hangat.

“Aku heran, kenapa Minho bisa menjadi anggota SHINee, sih? Apa Lee Soo Man sedang mabuk waktu dia meloloskan Minho dari audisi? Minho kan tidak punya keahlian apapun! Suaranya tidak bagus, dance-nya biasa-biasa saja, apalagi rap-nya. Tidak lebih baik dari Key! Dia hanya mengandalkan wajah dan senyumannya. Memangnya tidak ada lagi orang tampan yang lebih berbakat darinya? Coba saja lihat Onew dan Jonghyun sebagai lead vocal, Taemin sebagai dancer, atau Key yang jago menyanyi, dance, dan Rap. Key mempunyai banyak bakat! Sedangkan Minho? Dia hanya pemanis saja. Aku masih bingung, apa sih kelebihannya? Kenapa dia bisa menjadi bagian dari SHINee?!” “Karena dia berkharisma.” Timpal Hyori dari dapur. “Aaaakh! Kenapa kau malah membelanya sih???!” pekik Soori sambil gegulingan di sofa.

Hyori menghampiri sofa sambil meletakkan dua cangkir teh diatas meja. “Sudahlah, jangan dipikirkan! Coba minum dulu teh-nya. Siapa tau perasaanmu jadi lebih baik.” Ucap Hyori sambil mengelus-elus rambut Soori. Soori hanya terdiam sambil berpikir. “Tunggu dulu, aku heran. Kau memberikan nomor handphone-mu ke Taemin, kan? Bukankah handphone-mu hilang?” Tanya Soori sambil membetulkan posisinya untuk duduk. “Hahaha! Aku memang bodoh, tapi untuk soal begini, aku pintar! Aku memberikan Taemin nomor telpon apartemenku. Makanya aku  mengatakan padanya bahwa aku hanya bisa dihubungi setelah jam 5 sore, yaitu setelah aku pulang kerja.” Jawab Hyori senang. “Kalau soal begini, kau sangat pintar. Tapi kalau soal pekerjaan, kau bodoh sekali.” Sindir Soori, diikuti tawa kedua sahabat itu. “Oh ya. Besok kan hari Sabtu, bagaimana kalau aku temani beli handphone besok?” ujar Soori. Hyori menyetujinya dengan anggukan kepala.

Soori menggapai cangkir teh-nya, lalu menyeruputnya perlahan. “Menurutku, malam ini dia akan menelponmu.” Ujar Soori tiba-tiba. “Dia siapa?” “Tentu saja Taemin. Siapa lagi?” Hyori langsung tersedak. “Aaah, kau ini! Kami baru bertemu 2 kali, dan baru tadi sore aku memberinya nomor telponku. Tidak mungkin dia akan langsung menelponku.” Jawab Hyori ragu sambil berharap bahwa kata-kata Soori benar.

Sejenak Soori mengingat-ingat kata-kata Minho, tentang Taemin yang tertarik pada Hyori. Memang Soori tidak mau Hyori diusili mereka, tapi sepertinya Minho berkata jujur, bahwa Taemin benar-benar ingin menjadi namjachingu-nya Hyori. Toh dia tau betul bahwa Taemin bukan tipe namja playboy. Setelah menarik napas panjang, Soori bertekad untuk berusaha membantu Taemin. “Tidak, Hyori. Aku yakin Taemin akan menelponmu malam ini. Aku sarankan agar kau tidur agak larut, karena pasti malam nanti Taemin menelponmu. Aku jamin.” Ucap Soori. Hyori melongo. “Bagaimana kau bisa menjaminnya? Memangnya kau benar-benar yakin?” Tanya Hyori penuh rasa heran. “Ne, aku yakin. Memang sih, aku tidak benar-benar percaya dia akan menelponmu malam ini juga, tapi pasti dia akan menelponmu secepatnya. Kalau tidak, untuk apa dia meminta nomor telponmu pada pertemuan kalian yang kedua?” Hyori langsung menahan rasa malu. Semburat merah mencuat kepermukaan kulit pipinya.

Krriiing~!! Deringan telpon mengagetkan mereka, terutama Hyori. Dia memang tidak yakin betul Taemin akan menelponnya malam ini, tapi di hati kecilnya dia sangat berharap itu terjadi. Dengan agak ragu, tangannya berusaha meraih gagang telpon. Namun seketika dia berhenti. Otaknya mulai dialiri pikiran negative.

Bagaimana kalau yang menelpon bukan Taemin? Apa aku terlalu banyak berharap? Aaah, Hyori-ya! Kau ini mimpi apa semalam? Memangnya kau ini yeoja istimewa yang bisa ditelpon idolamu sendiri?! Itu tidak mungkin terjadi. Dari jutaan SHAWOL di dunia tidak mungkin Taemin memilihku untuk ditelpon… kecuali kalau ada kuis atau apapun dengan hadiah ditelpon SHINee dan aku memenangkannya. Tapi itu kan tidak ada??!

 

Pikiran itu terus mondar mandir di otaknya, sampai Soori sedikit mencubit tangan Hyori. “Apa yang kau lakukan?! Cepat angkat telponnya!” ujar Soori sedikit berbisik. Karena dipaksa dengan sedikit ancaman, akhirnya Hyori memberanikan diri mengangkat telponnya. Dengan nada gugup, Hyori berusaha mencari tau siapa orang diseberang telpon itu. “Yo..Yo-yoboseyo…?”

“…” Hening. Tidak ada jawaban. Hyori mulai merasa ada yang aneh. “Yoboseyo?” ujarnya lagi. Tapi tetap tidak ada jawaban. “Yoboseyo? Yoboseyo?!” ucapnya berkali-kali, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Hyori mulai kesal. “Yoboseyo?!!” ujarnya geram. Tapi tidak ada jawaban lagi. Dengan kesal dia menutup telponnya. “Siapa? Taemin bukan?” Tanya Soori. Hyori menggeleng sebal. “Sepertinya orang usil. Haaah… Aku terlalu berharap dia akan menelponku… Harusnya aku mengangkat telpon itu seperti biasa. Kau memberiku harapan palsu, Soori!” ujar Hyori sedikit membentak. “Mwo?! Aku kan tidak bilang telpon itu PASTI dari Taemin??! Aku hanya bilang MUNGKIN! Salah sendiri kau terlalu berharap banyak!” ujar Soori tak kalah seram. Hyori hanya mendengus sebal. “Sudahlah, aku yakin dia akan menelponmu besok. Ne?” ujar Soori lembut sambil merangkul pundak Hyori. Hyori hanya mengangguk pelan.

“Aaaaaakkh!!!!” jerit Taemin kesal. Dia langsung membanting bantal di sofanya ke segala arah. Dia kembali beringsut di sofa, seakan sedang bertempur (?). Setelah emosinya mereda, dia kembali menelungkupkan badannya. Karena resah, Taemin kembali bangun dan berdiri, berjalan dengan risau mengelilingi sofa sambil menggigit jari. Sambil mengenggam handphone-nya, dia bolak-balik di depan tv. Kedipan matanya lebih cepat, tanda dia sedang gugup.

“Ya!! Taemin! Apa yang kau lakukan, sih?! Dari tadi mundar-mandir, berteriak, muter-muter sofa, terus teriak lagi. Kau salah minum obat?!” jerit Key sambil sedikit mencubit Taemin. “Anio… Hyung, aku sedang dalam masalah besar…” ujar Taemin manja. “Aku stress.”

“Kalau kau stress, lebih baik kau banyak makan. Biar badanmu sedikit berisi.” Timpal Onew dari dapur sambil bermesra-mesraan dengan ayam goreng yang tersaji di meja makan. “Kalau kau ada masalah, katakan pada kami. Kami akan berusaha membantumu, Taemin.” Ujar Jonghyun sambil terus sibuk dengan lirik yang sedang ditulisnya. Taemin hanya menghela nafas panjang. Dia kembali berkutat dengan handphone-nya, memutar-mutarnya, lalu memandangi telapak tangannya yang penuh dengan coretan.

Seandainya Minho hyung ada disini, dia pasti akan membantuku… Sayangnya dia harus kuliah. Aku tidak mungkin mengatakan rencanaku ini pada hyung yang lain sekarang. Mereka pasti akan berpikir aku aneh. Aku akan memberi tau mereka saat aku benar-benar sudah menjadi namjachingu-nya Han Hyori.

 

Taemin melangkah dengan gontai menuju kamarnya. Dia mengunci kamarnya dan membanting tubuhnya ke kasur. Otaknya kembali berputar, mencari apa yang harus dilakukannya sekarang.

Akh, kau sangat aneh, Taemin! Masa untuk menelpon seorang yeoja saja kau malunya setengah mati?! Toh dia bukan siapa-siapa. Harusnya aku tidak dag-dig-dug begini! Belum jadi namjachingu-nya saja aku sudah resah begini. Apalagi kalau kami benar-benar pacaran nantinya?? Haaaah… Kalau Han Hyori tau akulah yang menelponnya tadi, dia pasti akan menganggapku aneh. Duuh… kenapa Han Hyori tidak membalas sms-ku sih?!

 

Taemin menarik nafas panjang, mengumpulkan semua tenaga dan keberaniannya untuk menekan tombol hijau di Samsung Anycall Haptic-nya. Tangannya bergetar. Taemin kembali berhenti. Rasa gugup itu datang lagi ke tubuhnya. Namun sekali lagi, dia menarik nafas panjang, bertekad untuk tidak gagal kali ini. Taemin-ah, Fighting~!!

 

Jarinya perlahan mendekati tombol hijau itu. Dia sudah bertekad akan melakukannya sekarang. Jarinya makin mendekati tombol itu dan…

Hyori menutup pintu apartemennya perlahan sambil terus melambaikan tangan pada Soori. Soori harus sudah pulang, karena adik-adiknya sudah menunggu dirumah dan besok dia harus bekerja lagi. Hyori mengunci pintu, lalu kembali ke sofa dan mencari-cari remote tv.

Krrriiiiiing~!! Telpon apartemen kembali berdering. Tanpa ragu, Hyori mengangkatnya. “Yoboseyo?” ujarnya sambil masih terfokus pada layar tv. “Yo…yo-yoboseyo…” ujar suara dari seberang telpon itu. Sejenak Hyori terdiam. Suara itu terdengar sangat familiar di telinganya. “Nuguseyo?” Tanya Hyori. Tidak ada suara. Tapi Hyori dapat mendengar si penelpon itu menarik nafas panjang sejenak. “Ini… Lee Taemin…

Hyori terperanjat. Dia hampir jatuh dari sofa. Hyori panik bukan main. Hyori jadi salting. Taemin bisa mendengar Hyori grasak-grusuk di sofa, tapi dia terus menahan tawanya. “Li-li-li… Lee Taemin…? …Sya-sya-syai… SHINee Taemin…??” ujar Hyori tergagap ( reader : hee?! ‘Tergagap’?? bahasa apaan tuh?!! ) Hyori menelan ludah. Dia sangat berharap ini benar-benar bukan mimpi.

Ne, aku SHINee Lee Taemin… Apa benar ini Ha…” “Ne, ne, ne, ne!! Aku Han Hyori! Aku yang waktu itu memberimu ayam, yang tadi sore hampir tertabrak van SHINee dan menulis nomor di telapak tanganmu!!” timpal Hyori penuh semangat 45. Taemin hanya cekikikan. “Mianhamnida, aku menelpon anda malam-malam begini…” lanjut Taemin. “Ah, Kwenchana! Aku tidak keberatan! Kau bisa menelponku sampai pagi!” jawab Hyori senang. Hyori senyum-senyum dan mesem-mesem sendiri, mendengar suara Taemin dari balik telpon yang terdengar lucu. Hyori benar-benar tidak percaya, idolanya menelponnya. Suara Taemin sangat dekat dengan telinganya. Haaaah… ingin pingsan rasanya!

“Sebenarnya, tadi aku sempat mengirimkan sms pada anda, tapi karena tidak ada balasan, aku menelpon anda… Semoga aku tidak mengganggu…” ucap Taemin perlahan. Hyori malah menghembuskan nafas panjang. “Huuuft… Syukurlah! Soalnya, nomor yang aku berikan padamu adalah nomor telpon apartemenku… handphoneku hilang tadi sore. Tidak mungkin aku bisa membalas smsmu lewat telpon, kan?” Jawab Hyori. Taemin hanya cekikikan. Tapi tawa Taemin itu terasa sangat merdu di telinga Hyori. Hyori masih sedikit terbengong mendengar getaran suara Taemin dari balik telpon. Getarannya teratur dan sangat lembut. Memang, suara Taemin tidak lebih bagus dari suara Onew yang sangat lembut dan menghanyutkan. Tapi kalau mendengar suara Taemin langsung dari telpon, ada sensasi berbeda yang sangat hangat, dan dapat Hyori rasakan kehangatan itu mengalir dari telinga sampai ujung jari kakinya. Ingin pingsan lagi rasanya… batin Hyori.

Taemin sedikit memutar otak. Dia ingin menunjukkan pada Hyori bahwa dia memang tertarik pada yeoja itu. Tapi dia tidak mau terburu-buru. Dia harus melakukannya perlahan. Dia takut pada akhirnya akan ditolak.

Mmm… Bolehkah saya tau umur anda…? Saya tidak ingin salah memanggil. Siapa tau anda lebih tua. Saya sudah pasti akan memanggil anda Noona.” Ujar Taemin gugup. “Sebenarnya… aku Noona-mu. Umurku 23 tahun…” jawab Hyori tak kalah gugup. Suasana menjadi hening total. Taemin terdiam kaku dan mematung. “Ya! Aku… itu..! Ak-Aku kan tidak tua! Aku dan kau hanya terpaut 5 tahun! Jangan anggap aku seorang yeoja tua!” jerit Hyori. Taemin tertawa, malah lebih kencang dari sebelumnya.

Taemin lalu berusaha meredam tawanya. “Berarti, anda.. maksudku, Noona seumuran dengan Onew hyung?” “Ah, Anio… Dia lahir tanggal 14 Desember 1989, sedangkan aku lahir tanggal 2 Januari 1989. Yaaah… Walaupun kami lahir di tahun yang sama, secara tidak langsung, aku Noona-nya juga.” Jawab Hyori antusias. “Wuah, Noona benar-benar seorang SHAWOL. Noona sampai menghafal ulang tahun kami.” Ujar Taemin kagum. “Itu suatu kewajiban untuk seorang SHAWOL! Semua SHAWOL wajib mengetahui semua fakta tentang kalian. Warna kesukaan, hari ulang tahun, makanan favorit, benda yang kalian bawa sehari-hari, hal yang kalian benci, kota kelahiran, bahkan nama dan data anggota keluarga kalian pun kami tau. Nama Hyung kandungmu Lee Taesun, kan? Dia berbeda 2 tahun denganmu. Benar, kan?” ujar Hyori makin antusias. Hyori sangat sensitive untuk hal seperti ini. Dia tidak mau ketinggalan informasi soal SHINee. Dia selalu berusaha untuk mengetahui semua tentang SHINee, dari aktifitas, schedule, sampai kebiasaan dan fakta-fakta tentang mereka. Taemin hanya terdiam sambil melongo. “Ne.. hyung-ku memang bernama Lee Taesun. Umurnya berbeda 2 tahun denganku… Se-sejauh itukah? Aku tidak tau bahwa SHAWOL benar-benar meneliti semua tentang kami…” ujar Taemin kagum.

“Oh ya, aku… mmm… kenapa kau menelponku?” Tanya Hyori ragu. Taemin langsung kaget bukan main. Dia berpikir keras, mencari alas an tepat untuk menelpon Hyori.

Iya juga, ya… kalau dipikir-pikir, aku memang tidak punya alasan khusus untuk menelponnya… kalau aku salah ngomong, pasti dia akan menganggapku namja aneh. Aku harus mencari alasan…

 

Mmm… aku…” dengan agak ragu Taemin kembali mengeluarkan suara. “Aku… aku ingin… mengembalikan uangmu untuk membeli ayam dan membayar taksi waktu itu…” ucap Taemin gugup. “Ah, tidak usah! Aku ikhlas, kok! Lagipula uang ongkos taksi itu tidak seberapa, dan ayam itu pun hasil traktiran temanku…” jawab Hyori. Taemin terbelalak. “Berarti… Ah, waktu itu teman Noona membayar dengan kartu kredit bukan?” Hyori hanya menjawab dengan ber-ehem. Taemin langsung kelabakan. “Kalau begitu, apa Noona bisa bertemu denganku besok? Besok kan hari Sabtu, jadwalku lumayan renggang. Apa Noona bisa?” ucap Taemin terburu-buru. “Eeeeeh?! Tapi tapi tapi…!! Kita betemu dimana?! Kalau pergi ke sembarang tempat, para fans bisa mengenalimu, Taemin!!” timpal Hyori dengan nada panik dan kelabakan. “Tenang saja, aku akan memakai topi dan kacamata… Bagaimana kalau  kita bertemu di perpustakaan XXX jam 11? Kebetulan dorm SHINee dekat dari situ. Lagipula disana ada kafe kecil tempat kita bisa ngobrol-ngobrol. Apa Noona bisa?” lanjut Taemin. Mendengar suara Taemin yang terkesan buru-buru, Hyori cepat menyetujuinya dan Taemin langsung menutup telpon.

Hyori menutup telpon dengan perlahan. Matanya berbinar dengan ekspresi apa-yang-baru-saja-kulakukan??!! Terpampang jelas diwajahnya. Hyori mengelus-elus pipinya lagi. Oh, entah kebahagian apa lagi yang kini mengisi hatinya. Tapi yang pasti suara Taemin yang memanggilnya “Noona” terus terngiang-ngiang di otaknya. “Kyaaaaaaaaaaak!!!” Hyori menjerit lalu gegulingan di sofa, membayangkan pertemuannya dengan Taemin besok.

Dilain tempat dan dimensi, Taemin menunggu kepulangan Minho dari kuliah malamnya. Begitu ada suara pintu terbuka, Taemin langsung bergegas menghampiri pintu. Benar saja, itu adalah Minho yang baru pulang.

“Hyung, tadi sore kau tidak bertemu dengan Han Hyori, ya?” Tanya Taemin penasaran. “Ah, kau ini. Aku baru pulang sudah di introgasi.” Ujar Minho mengeluh. “Soalnya tadi aku menelpon Han Hyori Noona, dan dia bilang ayam waktu itu tidak dibeli dengan kartu kreditnya, tapi kartu kredit temannya. Berarti orang yang tadi sore kau temui bukan Han Hyori Noona, tapi temannya!” ujar Taemin menjelaskan. Minho merebahkan tubuhnya di sofa sambil mencari-cari remote tv. “Ne. Aku tau kok.” Jawabnya singkat. Taemin hanya diam. “Baguslah kalau kau sudah tau nomor telponnya. Lebih baik kau cepat-cepat menemuinya.” Lanjut Minho. “Aku memang akan menemuinya besok, kok.” Jawab Taemin polos. “Mwo? Secepat itu?! Kau gila.” “Tapi kan tadi Hyung bilang aku harus cepat-cepat menemuinya!” “Iya memang aku bilang begitu, tapi maksudku temui dia seminggu lagi kek, atau sebulan lagi, kek. Jangan besok!” ujar Minho garang. Taemin langsung ciut. “Mianhamnida…” ujarnya pelan sambil menunduk. “Tadinya aku ingin meminta Hyung menemaniku menemuinya besok…” lanjutnya dengan nada menyesal sambil terus menundukkan kepalanya. Minho jadi merasa kasihan.

Minho hanya menghela nafas panjang. “Ya sudah, hari sabtu jadwal SHINee kan lumayan senggang, aku akan menemanimu menemuinya.” Mendengar itu Taemin langsung tersenyum girang dan berterimakasih pada Minho, lalu memeluk hyung-nya itu dan bergelayutan di tangan Minho. Mirip monyet. Batin Minho

“Oh ya, Hyung! Temannya Han Hyori Noona itu… siapa namanya? Seperti apa orangnya?” Tanya Taemin polos. “Ah, sudahlah aku tidak mau membahas soal nenek sihir mengerikan itu! Aku ngantuk, aku mau tidur.” Ujar Minho sambil berlalu meninggalkan Taemin dan pergi tidur.

“Soori, cepat sedikit!!” ujar Hyori sambil menarik tangan Soori yang tengah sibuk dengan kancing jaketnya. “Aaah, kau lambat sekali! Ini sudah jam 10.45!!” ujar Hyori sambil terus menarik tangan Soori menuju sebuah taksi. “Habisnya, kau tidak bilang padaku akan menemui Taemin hari ini! Pake maksa-maksa aku untuk menemanimu, lagi! Bikin repot saja…!” umpat Soori.

Taksi mereka melaju dengan kecepatan normal, tapi Hyori terus memaksa si supir taksi untuk mempercepat laju kendaraan itu. “Aku terlihat cantik tidak? Apa aku terlihat gemuk menggunakan motif garis ini?” ujar Hyori mengecek penampilannya. “Kau terlihat seperti orang sinting.” Jawab Soori ketus. “Aaah, Soori! Hari ini aku akan bertemu idolaku! Tentu saja aku harus tampil sempurna!” balas Hyori sambil terus menatapi cermin. “Ne, ne, ne… terserah kau saja. Pokoknya aku hanya mau menemanimu. Titik. Aku tidak ada urusan denganmu dan Taemin. Arraseo??” Tanya Soori sambil memandang ke arah luar. Hyori hanya mengangguk sambil terus merapikan rambutnya.

Taksi mereka berhenti tepat disebuah perpustakaan yang mempunyai desain bangunan yang unik. Sebuah gedung jingga dua lantai dengan atap rata yang dipenuhi tanaman-tanaman dan sedikit tangkai-tangkai yang merambat dan menempel di tembok. Pintunya terbuat dari kaca dan berbetuk persegi empat yang sempurna, sedangkan jendelanya berbentuk lingkaran. Gedung itu sangat indah dihiasi aksen polkadot ungu di beberapa sudut bangunan.

Hyori masuk kesana dengan perasaan tidak tenang. Hatinya terus push up alias ber-dag-dig-dug ria. Huuuh… tenang Hyori! Semua akan baik-baik saja… batinnya sambil menghela nafas panjang. Matanya menyusuri setiap sudut perpustakaan. Tidak ada orang yang mirip Taemin.

“Apa dia belum datang, ya?” ucap Hyori pelan. “Mungkin dia ada di lantai atas. Disana kan ada kafe kecil. Pasti dia menunggumu disana sambil minum teh.” Ujar Soori. Mereka bergegas menaiki tangga dan berharap Taemin sudah ada disana.

Taemin mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Hening. Tentu saja. Ini kan perpustakaan. Batinnya. Hanya ada beberapa orang yang sedang membaca disana. Mereka serius dengan buku-bukunya, sehingga tidak ada yang sadar bahwa Taemin dan Minho ada disana. Lagi pula Taemin mengenakan topi dan menyisipkan rambutnya yang agak panjang ke topinya, sehingga tidak ada yang dapat melihat rambutnya yang berwarna lain dari orang kebanyakan. Dia pun memakai kacamata gelap dan pakaian yang tidak mencolok, hanya kaos, celana panjang dan jaket tebal untuk melindunginya dari angin musim gugur yang dingin. Minho pun melakukan hal yang sama, supaya tidak menarik perhatian orang.

Taemin mengitari beberapa rak, menyusuri tiap baris buku dan mencari buku yang menarik untuk dibaca. Sedangkan Minho duduk di kursi bar kafe, memesan dua cangkir minuman hangat sambil membaca novel yang menurutnya sangat menarik.

Taemin kembali ke tempat Minho sambil membawa sebuah buku tebal. “Harry Potter?” Tanya Minho heran melihat judul buku tebal yang dibawa dongsaeng-nya itu. Taemin mengangguk. “Aku ingin mencoba membaca versi aslinya. Selama ini aku hanya menonton filmnya saja. Aku ingin mengetahui karakter Hermione yang sebenarnya. Aku kan fans beratnnya Emma Watson.” Ujarnya dengan senyuman yang khas. Minho hanya geleng-geleng. Mereka anteng membaca buku, sampai ada suara yang mengagetkan mereka.

“Ayo Soori, cepat!” “Iih, sabar dong Hyori! Emangnya naik tangga nggak capek apa!?” Taemin dan Minho memandangi mereka. Taemin agak kelabakan melihat sosok Hyori yang sudah datang. Sedangkan Minho SANGAT kelabakan melihat Soori  si Nenek Sihir ikutan datang. “Ah, Noona!” ujar Taemin pelan sambil melambaikan tangan perlahan agar tidak mengganggu pengunjung perpustakaan yang lain. Hyori yang menyadari keberadaan Taemin langsung mendekatinya pelan sambil tersipu dan menunduk. Sementara Soori melotot penuh dendam kepada Minho. Minho langsung merinding.

Mereka semua saling memberi salam, lalu Soori duduk dengan santai disamping Taemin. Sedangkan Hyori duduk dengan perlahan di samping Soori. Minho? Dia sedang merinding ketakutan di balik punggung Taemin.

Suasana hening. Hening karena Taemin dan Hyori yang merasa canggung dan grogi. Hening karena Minho yang ketakutan setengah mati melihat Soori yang melototinya sedari tadi. “Jadi apa maksudmu meminta Hyori menemuimu?” Tanya Soori ketus, memecah keheningan antara mereka berempat. Pertanyaan Soori lebih terdengar seperti seorang mertua yang menanyai calon besannya. “Ak-aku… aku ingin mengembalikan uangnya… itu saja…” jawab Taemin kaku. “Oh. Ya sudah. Cepat kembalikan.” Lanjut Soori sambil menengadahkan tanganya, dengan gerakan seperti menagih hutang. Taemin dengan panik menjelajahi saku celananya, mencari beberapa lembar uang kertas lalu menyerahkannya ke Soori. Perlahan Soori menghitung uang itu.

“Itu terlalu banyak…” ucap Hyori pelan dari balik punggung Soori. “Jijjayo?” timpal Soori. “Kau mau menyogok kami, ya!?” umpat Soori dengan nada mengancam. Bulu kudu Taemin berdiri semua. “Anio! Ak-aku… hanya merasa itu sangat impas dengan apa yang sudah Han Hyori Noona berikan padaku…” jawab Taemin. “Memangnya apa saja yang sudah dia berikan padamu? Hanya ongkos taksi dan satu bungkus ayam goreng tidak akan menghabiskan uang sebanyak INI!” ujar Soori sambil mengipas-ngipaskan uang itu ke arah Taemin. “Sudahlah Soori! Kau tinggal mengembalikan kelebihannya. Tidak harus membentaknya! Lagi pula ini perpustakaan. Seharusnya kita tidak berisik.” Timpal Hyori. Soori menghela nafas panjang, lalu memberikan lembaran uang itu pada Hyori.

Soori merasa bersalah atas perlakuannya tadi. Dia merasa ingin sekali melindungi Hyori. Tapi dia baru ingat kalau Taemin menyukai Hyori. Soori bangkit dari duduknya, lalu duduk di belakang Hyori agar Hyori dan Taemin bisa saling berdekatan. “Oh ya Taemin! Hyori kan tidak punya handphone, tadinya kami berniat untuk membelinya hari ini. Karena kebetulan ada kau dan orang disebelahmu itu, kenapa kalian tidak mengantarnya membeli handphone saja?” ucap Soori, diikuti mata Taemin dan Hyori yang sukses membelalak hebat. Minho sih merasa tersinggung, karena disebut orang disebelahnya Taemin.

Taemin dan Hyori kelabakan, seperti ikan yang baru diangkat dari air. “Lagipula, uang yang diberi Taemin kan lumayan banyak. Lumayan untuk menambah uangmu, kan?” lanjut Soori sambil menepuk pundak Hyori. “Kita pergi berdua saja, Soori! Tidak usah mengajak mereka! Mereka kan sibuk!” umpat Hyori, berusaha untuk menghindar. Tapi Soori tetap bersikeras. “No no no… Hari ini aku harus menemani Soobin les biola.” Ujar Soori. Sesekali dia memberi kode pada Taemin untuk menyetujui permintaannya itu.

Taemin pun mulai berpikir, melihat perilaku Soori yang sepertinya mendukung misinya. Benar juga kata Soori Noona… Ini kesempatanku untuk lebih dekat dengan Hyori Noona. Aku harus memaksa Hyori Noona supaya mau aku temani! Batin Taemin.

“Eeeengh, Noona… Kebetulan jadwal kami hari ini lumayan senggang. Kami bisa menemani Noona membeli handphone… Lagipula, repot juga kalau Noona tidak punya handphone secepatnya…” ujar Taemin pelan. Hyori memutar kepalanya. “Jijjayo?! Ma-mak-maksudku… Kalian tidak perlu menemaniku, kok! Aku bisa membeli handphone sendiri.” Tolak Hyori. “Ih, kau ini! Giliran orang menawari diri menemanimu, kau menolak. Giliran kau harus pergi sendiri, kau memaksa orang lain menemanimu!!” umpat Soori. Soori bangkit dari kursinya, berniat meninggalkan Hyori dan Taemin yang berwajah merah semerah tomat dan strawberry.

Minho? Oh ya, Soori hampir melupakannya. Dengan sigap Soori menarik tangan Minho. “Aku harus membawa Minho pada Soobin. Dia kan Flames. Pasti dia akan senang sekali bisa bertemu dengan Minho. Ya, kan?” ujar Soori sambil sedikit mencubit lengan Minho yang tidak berdosa itu dan memberikan tatapan ikuti-saja-kalau-kau-masih-mau-hidup. Minho mengangguk pelan lalu mengikuti Soori.

Taemin hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Hyori menundukkan kepalanya sampai dagunya tertutupi syal tebal yang dikenakannya. Wajahnya sangat panas, seperti sedang dimasak di atas kompor. Dia benar-benar tidak menyangka ini terjadi padanya!

Taemin memberanikan diri untuk bangkit lalu bergegas menuruni tangga. “Ayo Noona, Kita pergi!” ujar Taemin. Hyori yang masih malu mengikutinya keluar dari perpustakaan itu.

To be Continued —> Wuah, enak banget si Hyori diajak jalan sama Taemin!!! Sabar ya, para Taemints… ini Cuma FanFiction, okey? Bagaimana ya acara beli handphone mereka? Apakah berjalan lancar? Apakah nggak ada SHAWOL yg menyadari keberadaan Taemin nantinya? Lalu bagaimana dengan Soori dan Minho? Kasian banget si Minho dibawa paksa sama Soori! Penasaran? Baca part selanjutnya, ya!!

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

13 thoughts on “Hyori’s Life Channel – Part 4”

  1. awawawawawawawawa !
    Taemin sm Hyori jalan barenggggg !
    Enaaaaak bgt +.+
    Tp si Hyori bkalan tmbah terbang klo dia jalan sm si onew !
    Naghahahahaha xD

    Soori bsa bgt dah sm si minhoo.
    Tatap”an tajam .xD *plak
    Wkwkwkka.

    Ini serrruu nih.
    Soori jalan sm minho, yg d benci ny ==’

    wokeeeh !
    D tungggguuuu next chapteeer nya !

    Tpi sayang bgt yah ni FF d ketik ulang,
    Bgus ny sih pasti FF yg prtama d ketik itu.
    Tpi ini jg bguus kok .xD
    Wowowowowowow !
    Hwaiting

  2. hahaha keren banget tuh sih soori, kayanya klo si minho ngelakuin kesalahan bakal langsung di mutilasi tuuh

  3. aduuhhh ,, kacian banget sie minho dmarahin ama nenek sihir gituw ,, untung gag sakit jantung dy …..
    lanjoooot ..

  4. @gby sabar ya eon, ngantri soalnya… Aku sebagai author juga pengennya di part 5 publish cepet2 –”

    @bocah
    eh, si bocah udah mampir~ gmana cah, bagus gak ff eonnie lu yg satu ini!??? Kekekeeke

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s