Summer Love Story [1.3]

Hai, hai! ^^

Kangen gak sama aku? Aku kangen sekali sama kalian. Ya, sekarang aku bakal hibur kalian dengan FF sequel 3 part aja kok. Ehehe..

Heum… sebelumnya aku minta maaf ya kalau aku kadang menghilang dari peredaran soalnya masih beradaptasi dengan lingkungan kuliah dan agak susah nyari waktu buat bikin FF dengan jadwal asrama yang padat ini. Sekali lagi maaf banget.

Oh ya, buat yang puasa. Semangat ya puasanya n__n. Kalau tidak ada halangan, jangan sampai bolong ^_^

Let’s read this. Kajja!! ^^

Author             : Ji I-el

Main Cast        : Choi Minho, Ji Hyerin (Ahaha… As usual, it’s Flames’s time :D)

Support Cast   : Someone from SHINee ^^

Length             : Sequel

Genre              : Sad Romance in Life

Rating             : General

Summary      : Tak ada satupun alasan bagiku untuk mencintainya, tapi begitu banyak hal yang membuatku yakin untuk mempertahankan hatiku padanya. Dan hal-hal itu terus bertambah dari hari ke hari. (….)

Disclaimer       : The story is mine. This FF is based on true story with a little conversion. And this story has received the approval from the people who have this story.

Korea selatan mengalami musim panas pada awal Mei hingga Agustus. Dan di waktu tersebutlah kisah ini menjadi sebuah cerita bagi sipemilik kisah cinta ini. The first sweet love story from Ji Hyerin, a girl who never believe that a guy has love for her.

***I-el

Suatu hari dalam hidupku…

Kamu tahu apa yang sebenarnya oppa inginkan?

From: Minho oppa

 

To: Minho oppa

 Apa?

 

Aku menjawab secepat kilat bukan karena aku sedang kesal atau apa, tapi lebih kepada aku benar-benar ingin tahu apa yang ada di dalam kepalanya.

Dengan jarak yang agak jauh sejak aku membalas pesan darinya, akhirnya dia pun menjawab dengan gamblangnya.

Oppa mau kamu selalu ada bersama oppa, menemani oppa.. begitu juga sebaliknya. Untuk saat ini, esok, dan seterusnya.

From: Minho oppa

Aku rasakan mataku agak perih. Aku tempelkan tanganku lekat-lekat di pipiku yang terasa memanas. Hehh… aku benar-benar tersipu dibuatnya. Tapi, tunggu! Apa alasannya tiba-tiba mengatakan hal seperti itu? Mungkinkah dia begitu karena emosinya sedang terguncang akibat kisah cintanya dengan wanita lain, kemudian dia berkata begitu padaku karena kebetulan aku memang senang sekali memberikan perhatian lebih padanya? Tidak!! Aku harus bertanya padanya.

Kemudian aku membalas pesannya lagi. Aku mencoba memancingnya untuk berkata lebih dari ini dan kuharap dia bertanya pertanyaan penting itu padaku.

To: Minho oppa

Eum… I will try my best for you as your little sister ^^

 

Aniya. Not as my sister, but as my girl

From: Minho oppa

 

Aigo.. aigo!! Jantungku berpacu lebih cepat. Tunggu! Aku tidak kuat menahan detak jantungku sendiri. Aku tarik napasku sembarangan, begitu pula saat aku menghembuskannya. Tanganku ketar-ketir saat ingin membalas pesannya lagi.

To: Minho oppa

So?

 

So? What? do I ask you something? I just told you what I want.

From: Minho oppa

 

Sudah kuduga begini jadinya. Semangatku langsung saja mengendur melihat layar ponselku.

‘tahukah kau? Bukan ini balasan yang aku inginkan. Tak bisakah kau membaca situasinya? Tidak bisa? Hhh… tapi aku tidak bisa mengatakan apa yang aku inginkan sekarang sebenarnya. Kumohon mengertilah maksudku’ kataku dalam hati.

Tiba-tiba ponselku berdering lagi.

From: Minho

Now, tell me what you want

 

To: Minho oppa

I.. I wanna cry

 

Aku bingung membalasnya dengan apa lagi. Aku ingin dia mengerti kemauanku tanpa perlu aku beritahu. Tidak seru jadinya kalau aku yang memintanya, kan?

Balasannya sampai dengan cepat

What? Is that because of my statement?

From: Minho oppa

 

Apa yang harus aku jawab? Haruskah aku memancingnya lebih dari ini? Tapi, aku yeoja, kan? Apa iya aku harus menurunkan harga diriku demi memintanya agar menanyakan pertanyaan penting itu?

To: Minho oppa

Aniya. Tadi oppa bilang kalau oppa ingin aku selalu ada bersamamu, menemanimu untuk saat ini, esok, dan seterusnya, kan? So, ask me about that.

Ok. Akhirnya aku melakukan lebih dari yang seharusnya. Kegilaanku padanya yang membuatku melakukan ini.

Detik-detik di tanganku terdengar bunyinya karena suasana tiba-tiba menjadi hening, seakan semua yang ada di sekelilingku sekarang sedang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya antara aku dan Minho. Demi apapun, aku ingin mati rasanya kalau teringat bahwa aku memasang umpan baginya.

Hhh.. Ryn, you’re my dummy lovely lady. Saranghae. Would you be mine?

From: Minho oppa

 

Sepersekian detik kemudian angin memaksa masuk ke kamarku, seakan mereka ikut merayakan hari ini. Tanganku benar-benar gemetar memegang ponselku. Aku ingin menangis rasanya. Hhh.. sesak, sesak sekali rasanya. Aku terduduk lemas di pinggir tempat tidurku dengan memegang dadaku yang napasnya mulai terasa tidak nyaman. Aduh, bukan saatnya, Hyerin! Bukan saatnya asmamu kambuh begini.

Segera saja ku ketik huruf-huruf dari ponselku

To: Minho oppa

Yes, of course. I want to be your girl

 

Hari itu menjadi suatu momentum sakral dalam sepanjang hidupku selama belasan tahun ini. Tak kusangka baru sekarang aku merasakan yang namanya ‘penantian yang tidak sia-sia’. Aku masih tak percaya bahwa aku masih punya kemampuan untuk menunggu orang yang aku sayang hingga akhirnya dia berani menyatakan sebuah pertanyaan yang selama ini aku tunggu dari seorang namja. Dan untuk pertama kalinya, musim panas ini aku jalani dengan tidak sendiri.

*          I-el       *          I-el       *

Hari ini terasa berbeda. Entah kenapa setiap udara yang aku hela menimbulkan perasaan ceria mulai dari pagi, siang, sore, dan malam menjelang. Apa mungkin karena aku tak sendiri lagi? Mungkin juga begitu.

Tiada hari yang kami lewati tanpa moment love word dari Minho. Ahh.. aku pikir dia orang yang dingin karena pertama kalinya kami bertemu, ya sosok dinginlah yang terekam di otakku. Tapi nyatanya tidak.

Pernah suatu kali dia mengirimiku sebuah pesan. Aku baca dari awal sampai akhir.

You make me restless, you make me tear,
Like a fool, like a child,
Just smile it off

As I get closer to you,
I become more scared,
I guess this love can’t stop

Aku pikir itu adalah kata buatannya, tapi ternyata itu lirik translation lagu Can You Hear Me-Taeyeon. Keesokannya dia memintaku menyanyikannya, tapi aku selalu menolak permintaan itu. Hehh.. bukan karena aku tidak mau, tapi aku takut membuatnya kecewa dengan suara pas-pasanku ini. Bagaimanapun, Taeyeon adalah idolanya. Jadi, untuk mencari aman, sekeras apapun Minho memintaku menyanyikan lagu itu untuknya, maka sekeras itu pun kau menolak. Lagipula, aku hanya akan menyanyikannya jika saatnya sudah tepat. Kapan itu? He will know, not for long after.

Apa kalian tahu mengapa aku begitu menyukai sosok Minho? Sebenarnya masih membekas jelas di otakku, betapa gigihnya dia meyakinkan Hyerin –si yeoja yang trauma dengan namja- ini bahwa tidak ada yang ada yang perlu aku takutkan dari sosok namja.

Saat itu, kami hanya mempunyai hubungan antara seorang teman dekat, tapi pertemanan ini tak wajar bagiku karena perhatian yang kami berikan satu sama lain sangat-sangatlah tidak bisa dikatakan pertemanan yang biasa. Aku memanggilnya oppa karena semua nasehat-nasehatnya padaku dan dia menganggapku seperti halnya adik kandungnya sendiri.

Aku masih ingat betul, waktu itu kami duduk di bangku belakang sembari melihat teman-teman sekolahku -karena Minho sudah lulus dari sekolah yang berbeda denganku tahun lalu- yang sedang berlatih olah vokal untuk menjadi pengisi acara graduation. Aku yang malam sebelumnya tidak tidur karena insomnia, mengendurkan posisi dudukku dan menyandarkan kepalaku ke punggung bangku.

Perlahan tapi pasti, Minho meraih tangan kiriku yang beberapa saat tadi masih kupangku dan menyelipkan jari-jarinya diantara jari-jari tanganku. Aku masih ingat sekali betapa gugupnya aku saat itu, terlebih lagi saat tiba-tiba Minho berbisik, ‘this is the first time i hold the girl’s hand’, dunia rasanya seperti akan runtuh.

Tadinya aku sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Minho. Bagaimana bisa seorang Minho yang terkenal dekat dengan gadis-gadis tidak pernah memegang satupun tangan yeoja, bahkan mantan yeojachingu-nya sekalipun?

Tapi, pikiran itu terbantahkan dengan genggaman tangannya yang semakin kuat, kupikir dia mengerti kalau aku meragukan ucapannya dan dia mencoba meyakinkanku. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselku.

I never know what the future bring. But, i know you’re here with me, now.

We’ll make it through and i hope you are the one i share my live with…

And i wish that you could be the one i die with…

I hope i love you all my life

From: Nae Jagiya

 

Aku menelan ludahku sendiri saat membacanya. Saking lemasnya, aku merebahkan diriku di tempat tidur. Kaki dan pinggangku mendadak terserang lumpuh layuh. Nah, jadi kalian tahu kan mengapa bayangan Minho tidak pernah lepas dari otakku? Tapi, yeoja mana yang tidak akan terharu jika mendapat pesan seperti ini? Hhh… mantan-mantannya yang lain pun pasti mendapat perlakuan yang sama sebelumnya. Jadi, apa bedanya dengan diriku? Oleh karena itu, jangan teralalu senang dulu, Ryn…

Lalu aku segera membalas pesannya. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa, jadi akupun membalasnya seperti ini:

To: Nae Jagiya

Aishh… so sweet.

 

Nan neol jeongmal saranghaeyo 🙂

I promise, you’ll be the one i would never stop loving to

From: Nae Jagiya

 

Ahhh.. mati.. mati. Sepertinya hari ini hidupku akan berakhir. Aku merasa dunia ini hanya berisi aku dan Minho saja, sedangkan yang lainnya membayar sewa pada kami. Ahhh… bagaimanapun aku tidak bisa menandinginya.

*          I-el       *          I-el       *

Kami bukanlah sepasang insan yang bisa bertemu dengan mudah. Kami terpisahkan jarak yang cukup jauh. Aku di Seoul sedangkan Minho di Incheon, jadi bertatap muka adalah hal yang paling indah, terlebih lagi bagiku

Pagi ini aku bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Minho tidak sakit, melainkan halmeoni-nya. Jadi acara menonton yang kami rancangkan dibatalkan. Dan sebagai yeoja yang baik aku mengusulkan agar aku datang untuk menemaninya saja. Diapun tidak keberatan.

Aku berjuang naik bus dari shelter ke shelter demi bertemu dengan Minho, namja yang menemani musim panasku ini. Kira-kira satu setengah jam kemudian aku sudah berdiri tegak di depan rumah sakit, sekarang tinggal menelponnya saja untuk menjemputku.

            “Yeoboseyo? Aku sudah sampai.” kataku dari ponsel dengan senyum sumringah.

            “Aigo, Ryn. Aku baru saja pulang lagi. Ada barang-barang yang tertinggal.”

            “Ahh… ya sudah. Aku akan tunggu.”

Aku berjalan lemas ke bangku dekat cafetaria yang letaknya ada di gedung rumah sakit. Aku duduk sambil menatap layar ponselku. Ryn, Hyerin, kau selalu saja seperti ini, menunggu dan menunggu. Tak lama kemudian ada pesan masuk.

Ryn, mianhaeyo. Lagi-lagi aku membuatmu menunggu

From: Nae Jagiya

 

Lalu aku balas

To: Nae Jagiya

Ne. Sudah biasa.

 

Ahh… kesanku sepertinya jadi jelek sekali di depanmu.

From: Nae Jagiya

Akupun tidak membalas karena jika aku perpanjang, aku takut dia tahu bahwa aku sebenarnya marah sekali. Ini sudah keterlaluan bagiku. Jika dihitung, mungkin ini ketiga kalinya dia membuatku menunggu padahal dia tahu aku paling benci yang namanya menunggu.

Akhirnya aku duduk di bangku itu sambil terus melihat-lihat pesan kami yang berbalas-balasan selama ini. Kalau dipikir-pikir, aku tak punya alasan apapun untuk tidak mencintainya.

Beberapa menit kemudian seseorang menepuk pelan bahuku. Aku menoleh ke belakangku dan sosok Minho lah yang muncul.

                 “ahh.. oppa?” sahutku sambil tersenyum, menyembunyikan kekesalanku.

               “maaf ya membuatmu menunggu, Ryn.” katanya sambil mengambil duduk di sebelahku. Hei, aku sudah tidak merasa kesal lagi padahal sesaat tadi aku masih memiliki hasrat untuk marah-marah padanya. “ke dalam, yuk!” ajaknya sambil menarik tanganku, tapi aku langsung melepaskan tangannya begitu saja.

                “aku tidak suka digandeng.” kataku memberi alasan agar dia mengerti.

Setelah sekitar 3 menit kami menyusuri lorong-lorong rumah sakit, tiba-tiba dia membuka satu pintu dan mempersilahkan aku masuk. Dia yang masuk lebih dulu, kemudian disusul olehku yang berjalan mengendap karena takut mengganggu pasien yang lainnya.

              “Ayo, masuk, Ryn!” kata Minho yang membuatku jadi mempercepat langkahku. Akupun mengintip seseorang yang sedang berbaring dari balik tirai.

             “Eum… Minho, halmeoni sakit apa?” tanyaku dengan suara yang hampir terdengar seperti bisikan.

          “Jantung.” Jawab Minho singkat sambil merapikan barang-barang yang dibawanya ke dalam lemari yang tersedia, lalu mengambil kursi, dan menyodorkannya padaku. “duduk disini, Ryn.”

               “Ah?? Ani. Oppa saja yang duduk.” tolakku sambil tersenyum.

Mendengar penolakanku, justru membuatnya malah bertambah repot karena akhirnya dia jadi membentangkan sebuah karpet tebal di lantai.

              “kalau begitu, kita duduk disini saja.” kata Minho menawarkan sambil menepuk karpetnya.

Akupun segera membuka alas kakiku dan duduk di sebelahnya. Aku meluruskan kakiku, memperhatikannya yang siap sedia mengurus halmeoni ketika beliau mengeluh. Hal yang kulihat ini menjadi salah satu hal dari sekian banyak hal yang membuatku bertambah kagum dan bangga memilikinya. Dia orang yang penyayang.

               “Ryn, bisa bantu aku sebentar?” pinta Minho padaku.

Aku membantunya memegang nampan berisikan makan siang untuk halmeoni, sementara Minho membantu beliau untuk dapat duduk di pembaringannya. Setelah itu, Minho mengambil sendok dari nampan dan menyuapi halmeoni. Aku tetap membantu memegangi nampan sambil memperhatikan bagaimana Minho dengan sabarnya menyuapi beliau.

             “Sudah. Sudah. Halmeoni sudah kenyang.  Halmeoni mau tidur lagi saja.” kata halmeoni sambil mendorong nampan yang kubawa. “oh ya, siapa yeoja ini?” tanya halmeoni yang sepertinya baru menyadari kehadiranku.

              “Oh, ini Hyerin yang aku ceritakan semalam itu loh, halmeoni.”

              “Oh…” sahut halmeoni sambil mengusap punggung tanganku.

Setelah kami sedikit merapikan tempat tidur halmeoni dan merapikan semua selang-selang yang terpasang di tubuh beliau agar terasa nyaman untuknya, kami kembali duduk di atas karpet yang Minho bentangkan.

             “Ryn, semalam aku jaga malam dan tidak tidur.” keluh Minho dengan dagu yang ditekuk.

             “Ya, tidurlah.” sahutku cepat.

             “Eum…” Minho menatapku dengan tatapan yang tak biasa. Dia memperhatikanku lekat-lekat.

        “Apa?  Jangan pakai teka-teki begitu.” kataku sambil melipat tangan dan memasang wajah cemberut. Aku memalingkan wajahku ke berbagai arah, berusaha menghindari tatapan yang aneh menurutku itu.

             “Aku tidur di pangkuanmu, ya?” katanya segera mengambil ancang-ancang untuk meletakkan kepalanya di pahaku.

             “Eh? Aku kan belum bilang ‘iya’.” protesku sambil mendorong kepalanya hingga merosot dari kakiku.

         “Ne. Ne. Ya sudahlah.” dia merajuk. Akhirnya ia tertidur di dekatku sambil meringkuk. Aku berusaha tidak mempedulikan rajukannya karena aegyo-nya sama sekali tidak mempan padaku.

Dengan posisi duduk selonjoran, aku mencoba menutup mata, bersender pada tembok di belakangku, dan akhirnya mataku terasa sangat berat. Tiba-tiba, aku merasa tubuhku sedikit diangkat sehingga bergeser dan aku merasa kini kepalaku sudah ada di pangkuan seseorang. Dan aku yakin dia Minho, tapi karena aku benar-benar mengantuk dan mataku sangat berat untuk dibuka, mulutku tidak mengeluarkan protes.

Dia menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajahku, lalu menyelimutiku dengan jaket. Dia mengelus bahuku dan itu membuatku benar-benar larut dalam tidur, sesaat kemudian dia meraih tanganku dan mengecupnya lembut, lalu menggenggam tanganku erat-erat. Aku merasa tenang.

Dia masih mengelus puncak kepalaku dan setiap aku bergerak gelisah, dia akan mengeluarkan suara, ‘ssstt… tidurlah, Ryn.’ sambil tetap mengelus rambutku. Aku benar-benar hampir masuk ke alam tidur ketika dia mengecup keningku dan berbisik, ‘saranghaeyo, Ryn.’ setelah itu aku benar-benar tidak ingat lagi apa yang selanjutnya terjadi. Lagipula aku yakin Minho akan menjagaku selama aku tidur.

*          I-el       *          I-el       *

Tak lama setelah aku tertidur, aku terbangun karena mendengar suara tawa Minho. Kemudian aku duduk sambil mengucek mata dan membiarkan mataku untuk terbiasa dengan cahaya disekitarku.

            “Ahhh… Ryn, maafkan aku. Aku membangunkanmu ya?”

            “Ani.” kataku dengan suara yang masih agak berat sambil menggeleng untuk memulihkan kesadaranku.

Aku diam memperhatikannya yang menghampiri pasien sebelah kami dan kembali tertawa seperti tadi. Oh, ternyata tadi dia sedang bersenda gurau dengan mereka. Ahh.. jadi dia sama sekali tidak merasa kesepian saat menunggu, jika kupikir-pikir lagi. Ada atau tidak adanya aku, mungkin sama saja baginya. Dia merasa senang, tak ada beban. Bahkan mungkin akulah yang menjadi beban baginya dengan kehadiranku hari ini.

          “Ryn, apa yang kamu pikirkan?” tanya Minho sambil mengambil tempat di sebelahku.

          “Ahh, ani. Anio, tidak ada kok.”

        “Ya!! Kau bukan tipe yang bisa berbohong padaku, Ryn.” Hhh… aku menyerah. Memang  benar aku paling tidak bisa menyembunyikan isi pikiranku dihadapan Minho.

         “Ryn, peluk aku dong!” pintanya padaku. Membuatku seperti terkena serangan jantung.

         “Heh???  ANDWAE! HELP ME! HELP ME!” aku meronta ketika dengan tiba-tiba dia memelukku.

         “Kamu ini kenapa sih?” tanya Minho sambil meregangkan pelukannya.

         “Ah? Ani. Hanya bergurau saja.” kataku sambil menjulurkan lidahku. “mehrong.”

       “Dasar kau, Ryn!” dia memelukku lagi. Tapi aku tidak membalas pelukannya karena aku yakin pelukan yang seperti itu belum waktunya. Masih banyak moment lainnya yang bisa membuatku memeluknya.

Kemudian dia bersender di pangkuanku dan tertidur. Aku tidak bisa menolak karena dia menahan kakiku agar tidak menggeliat menyingkirkan kepalanya.

*          I-el       *

Aku hitung setiap detik ditanganku. Harus berapa lama aku menunggunya hingga terbangun? Aku perhatikan halmeoni yang menatap kami. Entah apa yang ada dipikirannya saat melihat kami begini. Hhh… padahal aku tahu, sangat tahu kalau hal ini tidak pantas. Tapi aku tak berdaya menolak. Aku akui, aku begitu nyaman dengan apa yang terjadi sekarang. Dan aku mulai berpikir, ‘sepertinya aku ingin dipeluk lagi’.

*          I-el       *

Ahh… sudah sore. Bagaimana caraku membangunkannya? Aku paling tidak tega membangunkan orang apalagi dia benar-benar terlelap. Sepertinya dia benar-benar kelelahan. Dan seingatku, membangunkannya adalah pekerjaan terberat yang harus kuhadapi. Tapi aku coba berbisik di telinganya.

          “Oppa, Ryn mau pulang.”

          “Enggg…” dahsyat!! Dia langsung terbangun. “kamu bilang apa tadi, Ryn?”

          “Aku mau pulang. Tidak enak kalau orang-orang rumah sudah di rumah duluan”

         “Ahh.. ne. Baiklah.’ kata Minho seraya bangkit dari kakiku.

Lagi-lagi dia menatapku lekat-lekat. Dia menarik kedua tanganku dan menggenggamnya. Mengetahui apa yang sedang dilakukannya, aku hanya bisa tertunduk. Aku masih bisa melihatnya tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Chu~, dia mengecup pipiku. Aku mengerang sebagai reaksi spontan dariku. Kemudian, dia menarik tubuhku dan mendekapku sekali lagi. Aku yakin sekarang, aku akan merindukan pelukan ini setiap hari.

       “Ryn, bisa mendengar detak jantungku?” tanyanya. Aku menganggukan kepalaku yang masih menempel di dadanya. Dia mengelus rambutku lagi, “saranghae.” Aku tersenyum dari balik tubuhnya.

Dia mengantarku keluar. Aku hanya mengikutinya dari belakang, berusaha menyeimbangkan langkahnya yang cepat. Kemudian dia berhenti, lalu mengulurkan tangannya.

         “Apa? ini?” aku menyodorkan jaketku.

         “Ahh… bukan, Ryn. Tapi, tanganmu.”

         “Ada apa dengan tanganku?” tanyaku sambil sibuk membolak-balikan tanganku.

Aku tahu dia meminta tanganku agar dia bisa menggandengkku, tapi aku tidak bisa semudah itu memberikannya. Ya, paling tidak selama aku masih bisa jalan sendiri, buat apa tanganku digandeng? Entah apa yang mungkin dipikirkan oleh Minho tentangku, tapi inilah aku dan beginilah aku. Ji Hyerin.

*          I-el       *          I-el       *

Malamnya, setelah aku sampai di rumah, membereskan rumah dan mandi, aku beranjak ke kasurku untuk merebahkan rasa lelahku setelah seharian menemani Minho. Baru saja aku hendak mengambil ponselku di atas meja rias, sebuah pesan sudah muncul di layar ponsel. Pesan dari Minho. Aku baca lekat-lekat sambil berbaring.

When i saw the stars in the sky, there’s always one that has the brightest star. Remembering me to the one that shine my day like the star when i faced the darkness in my life. And nowi pray for her, so she’ll always shine brightly forever as long as she lives.

And do you know who is she? A dare to say that she is you, my love.

Good night, may the God gives you the blessing J

From: Nae Jagiya

 

Dengan mata yang kadang terpejam, aku membalasnya.

To: Nae Jagiya

So, am I the star for you?

 

Yeah baby… the brightest and the biggest star for me! In the other world, the sun J

From: Nae Jagiya

Melihat balasan Minho itu, tidakkah kalian teringat dengan sebuah lagu yang liriknya Cause you are my sun~? ya, lagu yang dulu sangat kubenci. Aku bahkan tidak yakin kenapa aku membenci lagu itu, tapi semakin sering aku bilang tak suka pada Minho bahwa aku tidak suka mendengarnya menyanyikan lagu itu, semakin sering juga dia menyanyikannya untukku. Aku tidak kmengerti tujuan dia melakukannya, tapi satu yang pasti, aku jadi terbiasa mendengarkan lagu itu.

Entah berapa lama sampai akhirnya aku tertidur dengan ponsel yang ku pegang di dalam pelukanku.

*          I-el       *          I-el       *

Pagi ini, seperti biasa yang aku lakukan adalah bangun pagi, membereskan rumah, dan menunggu siang hari tiba. Karena siang hari nanti aku punya tugas lain yang akhir-akhir ini jadi rutinitas harianku yang lumayan agak berat menurutku, yaitu: membangunkan Minho. Aku menunggu dengan menonton televisi, mencari-cari siaran berita jelang siang.

Tak lama kemudian alarm dari ponselku berbunyi. Waktunya membangunkan Minho. Aku mulai mencari nama Minho oppa di ponselku dan menelponnya.

         “Yeoboseyo, oppa?”

        “Eung…” Minho menanggapinya dengan mengerang. “Eum… Morning, Ryn. Muach..” lanjutnya.

        “Aishh… bangun ya? Trus mandi. Ok?”

        “Ne. Ne.” jawabnya dengan suara yang parau. “Ryn?”

        “Ne?”

        “Bbogusipoyo.” kata Minho yang dengan sangat bagusnya memberikan efek blushing di pipiku.

       “Na ddo, oppa.” jawabku dengan malu-malu. “Eh? Ihhh… jadi lupa, kan. Ayo, oppa bangun habis itu bangun. Nah, kalau udah selesai mandi langsung makan ya? Oh ya, jangan tidur lagi, sleeping prince!”

        “Ne, arraseo, tempered princess.

        “Ishh.. ya sudahlah. Annyeong.” kataku mengakhiri telponnya.

        “Annyeong, Ryn. Saranghaeyo.

         “Na ddo, oppa.

Ya, itulah kegiatanku saat siang hari. Beruntung dia segera bangun, pernah suatu kali suara deringan ponselnya pun bahkan tidak cukup kuat untuk membuatnya membuka mata. Tapi, kalau tidak seperti itu, bukan Minho namanya. ^^

*          I-el       *          I-el       *

Tanpa kami sadari, sebulan telah berlalu. Bagiku yang pertama kali pacaran ini, sebulan adalah jangka waktu yang cukup lama. Sebulan penuh dengan kata-kata manis, melodi-melodi cinta, dan juga khayalan-khayalan kami untuk sekedar melepas rindu dengan bersikap seolah-olah kami sedang berada di satu tempat. Bagi kami yang dipisahkan oleh waktu tempuh 2 jam, adalah hal yang menyenangkan berkhayal melakukan sesuatu bersama karena dari sanalah kami juga bisa mengenal sifat satu sama lain. Aku jadi lebih mengerti Minho dan kurasa Minho juga jadi lebih mengerti aku.

Namun, sebulan yang kami jalani ini bukanlah sebulan tanpa konflik. Minho yang semakin lama semakin mengerti aku yang kekanakan, manja, dan haus perhatian ini, bahkan kadang tidak bisa mengerti dirinya sendiri. Di lingkungannya, dia orang yang cukup punya andil. Dia sibuk mengurus urusannya disana-sini, membiarkan tubuhnya terlalu letih, bahkan menyimpan masalahnya seorang diri saja.

Akupun bahkan tahu apa yang dirasakan, alami atau pendam dari update me2day miliknya. Kalau aku tidak mengecek me2day-nya itu setiap hari, mungkin aku tidak akan tahu masalah yang sedang dia alami sama sekali.

Disaat seperti itulah, aku akan menerobos masuk ke dunianya, mencoba mengetuk pintunya perlahan, dan bertindak sebagai pendengar yang baik. Aku jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah bicara banyak untuk menanggapi masalahnya. Yang aku berikan hanya dukungan untuknya agar ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dengan kepala dingin. Dengan begitu, lambat laun karakter Minho yang keras menjadi lunak. Entahlah, itu semua karena kehadiranku di dunianya atau memang sekaranglah waktu baginya untuk berubah 180 derajat dari dirinya yang dulu.

Walaupun begitu, bagiku Minho yang dulu -sebelum ku kenal dengan baik- dengan Minho yang sekarang, tak ada bedanya sama sekali. Dia tetap seorang Choi Minho yang masuk ke dalam dunia Ji Hyerin, tetap seorang sleeping prince yang terkadang pergi tidur meninggalkan tempered princessnya, dan tetap seorang malaikat tak bersayap yang diutus untuk menjaga gadis kekanakan ini.

 *         I-el       *          I-el       *

To be continued…

Huwa… selesai juga part satunya.

Harap commentnya ya karena comment like oxygen dan bagaimana reader berkomunikasi dengan authornya ^^

©2011 SF3SI, Ji I-El.

This post/FF has written by Iza, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

51 thoughts on “Summer Love Story [1.3]

  1. Bagus bangeeet *_*
    Huaa minho nyaaaa! Gakuat nih kata-katanya minho rasanya ‘seerrrr’ banget wkwkwk
    Beruntung ya Ji Hyerin nyaa~~
    Hmm kira-kira kelanjutannya gimana yaa hehe

    Penuturan kata-katanya bagus banget.jadi iri:( Rasanya ikutan larut dalam cerita. Johayo, eonni😀 ditunggu lanjutannya~

    1. Jinjja???
      Ahh… aku senang sekali kalau bisa membuat reader terhanyut dengan ceritaku ^^
      Ahahaha… ngerasa gimana gitu ya sama Minho??
      Ahahaha… Heum… gimana ya kira” kelanjutannya?? Tunggu aja ^^
      Thanks for ur comment ^^

    1. Manis??? aku ga nambahin gula kok ke FFku ^^ lol
      Heum… ya, kali” Minho jd begini gapapa, kan? daripada jd org yg dingin mulu n__n
      Iya, kok lanjutannya udah ada. Tinggal di tunggu aja ^^
      Thanks for ur comment ^^

  2. Kerennnn!!!
    Ini belum konflik kan?, astaga, jarang banget aku ngerasa cerita awal tuh bagus banget…!!!!😀
    Next Partnya ditunggu lho thor…hehe!

    1. Iya, ini belum konflik. Heum… seingatku sih waktu bikin ya konfliknya ada di akhir part 2 dan lanjut di part 3 (kebiasaan aku bkin reader gemes sama alurnya) ^^
      Heum… iya, ditunggu aja deh kelanjutannya. Stay tuned teruslah pokoknya dirimu di SF3SI biar ga ketinggalan n___n
      Thanks for ur comment ^^

    1. Romantis??? Kekeke… jarang” ya? Yah, pokoknya slama yg bikin FF aku, Minho slalu romantislah pokoknya –> perhatiin aja FFku sblmnya ^^
      Iyakah?? Aigo… Jeongmal kamsahamnida , tp FF yg ini berantakan format tulisannya TT.TT
      Pdhl udh priksa seteliti mngkin. Hhhh…
      Thanks for ur comment ^^

    1. Ahhh… si saeng ini commentnya beda genre sndiri. Org” pda mupeng ampe kebelet pipis, ini malah ketawa nyengir” kuda @.@
      Kamu mau ditembak begitu?? Ahahaha… carilah namja yg bs melakukan itu, kalau perlu seleksi trus km suruh baca FFku dlu biar dia terinspirasi n___n
      Thanks for ur comment, sayang ^^

  3. aigo,,jadi inget tadi minho sms aku pake kata2 manis kayk gitu(?)..
    kkya~!!minho yeobokuu~!!you are so sweet,,>.<,,
    kalo aku jadi hyerin dengan senang hati aku kasih tanganku buat digandeng minho :p wkwkwk..
    aq tgu next part.a..😉

    1. Masa?? Ahh.. klo aku mah sering di sms bgitu sama Minho😛 –> authornya ga mau kalah
      Well, itu kan kamu, sedangkan dsini kan Hyerin. kekeke…
      Lagipula ga semua org mau loh digandeng. Buktinya aku… aku risihan klo digandeng” ^^
      Well, thanks for ur comment. Lanjutannya ditunggu aja ^^

  4. minho romantis bgt~
    jd pgn jg pacaran ama minho #plak!
    eh jgn d bqin sad ending ya thorr,, hhee.
    *sukasuka author kaleee

    1. Iya, ya Minho romantis bgt. Aku aja yg udh sah jd isrtinya gini msh suka kleper” liat sms dia. –> halahh… ngarep bener dah ==”
      Sad ending or Happy ending, heum…. suka” aku aja dong😛 *ditendang dorkyflames
      Ahaha…😀
      Thanks for ur comment ^^

  5. Wuiiiih… Bagus ceritanya!
    Minho bikin geregetan, aaaiiihh
    Bner2 bsa bikin readers ikutan melambung ama kata2 romantis minho! #Klepek2😀
    Lanjut ya thor, ga sabar ni bca part slanjutnya!!!

    1. Jinjja?? Aih.. gomawo, Deelockey ^^
      Heum.. Miinho bikin gregetan ya? ahaha…😀
      Syukurlah bisa bikin reader ikutan hanyut sama FFku n__n
      Hal yg paling membahagiakan buat aku ya saat ceritaku bisa bikin org larut sama ceritanya n___n
      Next part sudah siap kok, tinggal tunggu saja
      Thanks for ur comment ^^

  6. Ehm, bagus thor untuk part pertamanya. Kira2 di part 2 ada konflik gak? Masa gak ada sih? Haha.. Kalo ada konflik baru seru.🙂 .
    Lanjutin ya thor part 2 nya? Aku tunggu selanjutnya.🙂

    1. Hadehhhh…. bagian terindah dr sebuah cerita itu adalah konflik ^^
      Jadi, sdh pasti ada konflik disini. Tunggu saja…
      Iya, tinggal ditunggu aja next partnya😀
      Thanks for ur comment ^^

  7. Eonie, serius deh. Kemaren aku udah baca dan udah komen. Kok ngga ada ya?
    Huuu TT.TT

    yaudah deh aku ulangin lagi.

    itutuh, ini ceritanya penuh dengan penghayatan banget.
    Aku ngga nyangka kalo Minho (?) seromantis itu, huahaha.

    Kayaknya aku pernah diceritain sama Minho dan Ryn (?) deh, soal date in hospital itu lewat me2day (?) Hehehe

    aku jadi gemes deh sama Minho, pengen aku lempar pake duren (?) jadinya.

    Oke, kayaknya komenku adalah komen yang paling ngga nyambung. Tapi you knowlah what I mean.

    Kalo semua FF buatan eonie memang ya, TOP banget. Nice.
    ditunggu kelanjutannya! Fighting eonie.

    1. Masa??? ya ampun… berarti emg km ditakdirkan comment sekarang biar bs langsung aku baca ^^
      Memang Minho romantis… Sangat… Ryn dibuat klepek” sama si Minho
      Heum… iya, aku tau si Ryn itu udh cerita sama kamu tentang datenya di hospital, tp blm pernah crita tntang datenya di tmpat lain, kan?? ahahaha…😀
      Kamu gemes sama Minho dan mau lempar duren sama dia karena apa, saengie~?? Karena ke-romatis-an dirinya itu atau hal lain.
      Ahahaha…😀
      Aku rasa reader yg nanti mau comment bakal bingung sbnrnya kita ngomongin apa sih drtd. kekeke… ^^
      Well, thanks a lot buat pujiannya
      Aku tunggu dirimu buat FF…😛
      Thanks for ur comment, sayang ^^

  8. Iza!!!
    Huft… Akhirnya aku bisa ol juga,,,
    waduh, mian niH bAru bisa bAcA + koMen sekarang,,, #plakk
    .
    Ini niH.. Ciri-ciri FF buatanmu.. Pokoknya Nice..
    Bah, lama2 aku bisa jadi flames juga nih….
    Minho romantis banget.. Uggyyaaa!!!
    *nah lebay kumat*
    .
    Ayo deh, lanjut part 2 sama 3… Udah gak saBaran pengen bAca!!
    Hwaiting, Iza!!

    1. Heum… aku lebih suka dipanggil ‘El’ sih sbnernya, tp gak apa’ deh baut kamu ^^
      Selama ini sibuk ngapain emangnya, neng? hehh??
      Eum… iya ga apa”, toh FFnya juga baru keluar 2 hr yg lalu kok –> klo gak salah

      Memangnya ciri’ FF buatanku gimana, gitu?? Perasaan sama aja dr hari ke hari, aku malah takut readerku bosan dgn gaya menulisku yg gitu” aja:/

      Aishhh… aduhh, gak usah repot” jd flames, jeng. udh kebanyakan noh istri”nya Minho diluar sana. Bagus km tetap menemani si golden voice stiap hari ^^

      Aku udh nyelesain sampai part 3, sayang. Tinggal tunggu waktu mainnya aja. ahaha…😀

      Thanks for ur comment, sayang ^^

    1. Suka? Bener? aihhh…. senangnya hatiku… ^^
      Masa sih perfect? kekkeke…
      Yah, mau gimana… based on true story sih, neng. jd, lbh enak ngikutin karakter aslinya aja sekalian n__n
      Well, thanks for ur comment ^^

  9. Ielll~~ mian baru gentayangan di FF kmu lagi. Mondestin 2 aku jg belum baca.. ga ada komenku kan dsono? *aku mang belon bc. hehe~ piss^^
    butuh mikir bc ff yg satu itu. castnya soalnya byk. aku ga biasa bc cast byk2. ahhaha~~ *ketaoan

    lanjut komen k FF yg ini..
    ya ollooooooohhh menong menong~~ so sweet banged dah.
    Aku jadi gerogi sendiri. dug2an sendiri.. apa ga salah tu minho bilang gono sm aku? #eh terlalu sweet. but I LOVE IT^^
    MINHO Times.. i like it iel.

  10. Ehh? iya ya kebanyakan… tp mau gimana, kesepakatan bersama. ahaha..😀

    Heum… apa yg km rasain pas bacanya?? apa jantungmu mau copot rasanya?
    Ahahaha.. berhubung ini true story, si Hyerin jg pasti ngerasain hal yg sama kyk km wktu baca ini, malah mungkin lbh dasyat lg yg sbnrnya dirasain dibandingan dgn diksi yg aku buat utk Hyerin ^^
    Pokoknya klo aku yg nulis mah, mata reader akan lbh bnyk dimanjakan dgn kemunculan Minho😛
    Thanks for ur comment ^^

  11. AAARRRGGGGHHHH!!!!!! SUKA BANGET!!!!!
    Aku paling SENENG baca cerita tentang masalah dalam hubungan (?) huahahaha…
    maksudnya, udah pacaran baru ada masalah.. lebih seru dan.. ermm… unyu’…
    Mana si Minho romantis banget… AARRGHH!!! bisa2 hatiku terpotong sedikit untuk Minho nih..*Taemin cemburu* *digeplak seluruh SHAWOL* halahh.. hohoho❤
    Ayo… yang CEPET lanjutinnya😀 Really wait for this one😉 haha

    Untuk komentar yang membangun… apa yah??? mungkin..hmm.. ah! ada bahasa Korea yang salah.. haha.. tapi pokoknya aku SUKA cerita ini. hahaha…

  12. mian baru baca .. aku tipe reader yang ngacak .. hehe
    aku tertarik liat summary nya, jadi aku baca, dan ..

    INI KEREN BANGET !!

    eonni .. bahasa ff nya smooth banget (?) deskripsinya showing not telling banget *soktau
    pokoknya aku mau jadi reader tetapnya ff eonni deh .. hehe

    i’m Limau , salam kenal ya eonni🙂

  13. OmyGosh~
    Mino u’re just toooo SWEET! Can’t imagin it haha
    But, lilbitgombalithought *PLAAAAK

    Haha, Ryn pinter bangeet mancing mino haha
    Oya, Aku suka bahasa nya eonnie~

  14. Ahh.. commentnya kalian bertiga kubalasnya digabung aja ya?

    to Deladella: Oh ahahaha… klo mau punya pacar kayak Minho, cari aja. Tp biasanya limited edition nih yg begini😛 (sok tau)

    to Limau96: Ahahaha…😀 untung ya aku bisa bikin summary kayak gitu, klo gak berearti kamu gak bakal baca FFku. Gapapa kok bacanya ngacak yang penting baca dan comment (that’s the important thing) Nah, kamu udah baca part 2 dan 3 nya belum? Soalnya aku gak liat commentmu dsana. Hayooo.. Hayoo pasti belum baca deh. Smoga cepet bca deh ^^
    Yah, memang diksi yang bagus itu dengan showing not telling, kan? Soalnya aku jg suka baca, boring and wasting time bgt klo misalnya baca cerita yg panjang” tp diksinya telling semua. huehehehe…
    Aduh! kamu mau jadi reader tetap? Huwaa.. aku senang sekali nih klo kamu bersedia bgitu. hohoho… -lemparin biasmu- ^0^

    to EARTH So!: Kekeke… saengie, thank you thank you. hohoho… ^0^
    emang sih terkesan gombal, tp klo dasarnya Minho itu agak” cuek gmn gitu, kegombalannya malah bisa dideskripsikan jd hal yg manis gimana gitu. ya tohh? ya tohh? ^^

    TO ALL: THANKS FOR UR COMMENT ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s