from the past cover

From The Past

From The Past

 

Author : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (@chandrashinoda)

Main Cast      : Kim Jonghyun (SHINee), Kim Taeyeon (SNSD)

Support Cast  : Lee Jinki (Onew) (SHINee), Kim Jongwoon (Yesung) (Super Junior), Kim Ryeowook (Super Junior), Kim Hyoyeon (SNSD)

Length            : Oneshot

Genre              : Angst, Family, Horror, Mistery, Sad

Rating             : PG-15

Summary        : “God can reach each falling tears. He sees the heart that needs a cheer. He knows the path that’s hard and dear. Don’t ever give up, cause He is near.”

Inspired by     : Cerpen majalah – Perca-Perca Pelupuk Mata Bunda

Disclaimer        : I don’t own all SHINee members. They’re God’s. They belong to themselves and SMent. I’m just the owner of the story.

1st, Ok, karena banyak reader yang minta aku nulis genre horror lagi, kali ini aku coba buat. Tapi, karena aku belum dapet inspirasi yang pas, jadi sebagai gantinya aku buat FF ini dan diangkat dari cerpen majalah yang judulnya Perca-Perca Pelupuk Mata Bunda. Di sini anggap aja usia Taeyeon lebih muda dari Jonghyun, ok? Terus buat ELF, maaf udah jadiin Yesung jadi karakter antagonis di sini. Maaf juga karena pairing di sini rada-rada gak nyambung.

2nd, Maaf ya bagi yang nggak suka kalau aku pakai karakter yeoja dari GB dan bukan imajinasiku sendiri. Kemarin ada yang bilang nggak suka kalau aku pakai karakter yeoja dari GB. So, what? Memang apa salahnya? Ini dunia fiksi, semua orang bebas berimajinasi dengan karakter yang mereka inginkan. Jadi mohon mengertilah. Aku yakin, banyak reader lain yang nggak keberatan kalau aku pakai karakter dari GB.. Oke, sekian aja. Semoga bisa dimengerti. Terima kasih!

 

***

Taeyeon’s POV

 

24 Agustus 2010

 

Hari ini Jonghyun Oppa telah naik ke semester IV dijurusan kedokteran. Tapi, entah mengapa aku menangkap kesedihan di wajahnya. Ia duduk di sofa ruang tamu dengan lemas. Punggungnya bersandar sementara bola matanya menatap jauh ke luar jendela. Kedua alisnya bertaut, terlihat menahan beban yang begitu dalam. Mengapa ia terlihat tersiksa? Bukankah harusnya hari ini tak demikian?

Ingin memberinya kejutan, kupeluk tubuhnya dengan sigap. Ia sedikit kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba. “Chukkae, Oppa!” bisikku di telinganya.

Gomawo, Taeyeon-ah,” Jonghyun Oppa mengelus kepalaku, pelan dan lembut.

“Oh, iya..,” aku mengeluarkan sesuatu di ranselku yang barusan kubelikan untuknya. “Ini buku kedokteran untuk semester empat. Barusan aku membelinya. Kuharap bisa berguna untuk Oppa,”

“Wah, ini tentu berguna sekali, kau beli dimana?” Jonghyun Oppa tersenyum senang. Ia mulai menepuk-nepuk pundakku.

“Di toko buku dekat sekolah,” jawabku seadanya. Rasanya sedikit lebih lega melihatnya tersenyum.

“Oh, bagaimana sekolahmu?” sekali lagi kulihat Jonghyun Oppa tersenyum. Kedua matanya melengkung membentuk bulan sabit.

“Lancar, lagipula ada Leeteuk yang selalu membantuku disetiap pelajaran,” kataku, sedikit malu-malu.

Jonghyun Oppa menyikut sikuku. “Kalian sudah jadian?” godanya.

“Siapa yang jadian? Kami hanya berteman,” elakku.

“Tapi kau suka dia, kan?” pertanyaannya sukses membuat pipiku terasa panas.

“Baik, baik, aku tak akan menggodamu lagi,” ia terkekeh pelan. “Ayo kita makan! Barusan aku beli kimchi untuk makan siang,” ucapnya sembari menarik tanganku ke dapur.

Kim Jonghyun, dia memang bukan kakak kandungku, bukan kakak sepupu, ataupun tiri. Kami bersaudara jauh. Kakekku dan neneknya adalah saudara sepupu. Jadi, apa hubungan kami? Akupun bingung. Yang pasti kami bersaudara jauh.

-Flashback-

 

Ini berawal 6 tahun yang lalu. Saat nyawa appa dan umma-ku terenggut karena kecelakaan. Pertama kali aku bertemu dengannya. Seorang gadis berusia 10 tahun yang tengah menangis di kamar jenazah telah menarik simpatinya.

“Kau yang bernama Taeyeon?” seorang namja kurus menghampiriku.

Kuseka air mata yang masih tersisa di sudut mataku. Aku hanya mengangguk, tetap meringkuk diantara jenazah kedua orang tuaku. “Nuguseyo?”

“Aku saudara jauhmu. Kim Jonghyun imnida,” ia mengulurkan tangannya. Bibirnya menyunggingkan senyum, terasa bersahabat.

Kim Jonghyun? Ya.. aku pernah mendengar nama itu dari umma dan appa. Saudara jauh? Yah, kurasa dia tak berbohong. Sorot matanya yang mengatakan itu padaku.

Aku menyambut uluran tangannya, masih dengan rasa bingung yang tak bisa kumengerti.

“Jangan bersedih lagi. Mereka tak akan pergi dengan tenang kalau kau seperti ini,” tangannya mengusap puncak kepalaku, menepis sedikit rasa kesepianku. “Ikutlah bersamaku, Ryeowook ahjussi akan mengadopsimu,”

Flashback end-

Seperti inilah kami sekarang. Diadopsi oleh Ryeowook ahjussi, namun hanya tinggal berdua. Kesibukan bisnis tentu membuatnya jarang bisa pulang ke rumah.

Awalnya aku agak kaget saat tahu bahwa Jonghyun Oppa juga yatim piatu sepertiku. Tapi, melihatnya selalu tabah menghadapi kehidupan membuatku tak pernah berhenti untuk berharap. Umma-nya meninggal saat melahirkannya, sementara appa-nya, tak sedikitpun informasi yang kuketahui tentang appa-nya. Jonghyun Oppa tak pernah mau membahas sedikitpun tentang appa-nya. Dan seakan mendukung pula, aku tak ingin mengungkit masa lalunya jika itu memang benar-benar kelam.

***

Kuhabiskan sore yang cerah ini dengan mengorek-ngorek buku gambar. Apalagi yang kulakukan diwaktu luang selain menyalurkan hobi, menggambar karakter manga.

“Menggambar manga lagi, Taeyeon-ah?” Jonghyun Oppa menghampiriku. Ia menyodorkan 1 cup es krim coklat padaku.

Ne, kali ini aku coba mengambar karakter Kurapika dari manga Hunter X Hunter,” jawabku, tetap fokus pada gambar yang sedang kukerjakan.

Jonghyun Oppa melirik sekilas gambar yang kubuat. “Ya! Kau kurang menguasai di bagian rambutnya. Rambut pirang Kurapika itu lembut, bukan kasar seperti itu,” kritiknya.

“Ahh, iya.., gomawo sudah mengingatkan,” aku buru-buru menghapus bagian rambutnya yang masih agak kasar. “Err, Oppa, kau bisa ambilkan aku pensil warna?”

Jonghyun Oppa tersenyum. “Tentu saja,” ucapanya lalu beranjak ke gudang.

Author POV

 

Taeyeon mulai menyendok es krim yang diberikan Jonghyun. Senang rasanya bisa menghabiskan waktu luang bersama. Taeyeon yang jago melukis, sementara Jonghyun yang akan memberikan saran untuk menyempurnakan karya itu.

PRANGG!!

Suara benda terjatuh membuat Taeyeon terlonjak dari tempat duduknya. Mendadak detak jantungnya bertambah cepat. Firasat buruk mulai menjalarinya.

Andwae!! Andwae!!” teriakan Jonghyun melengking dari arah gudang.

Secepat kilat Taeyeon berlari menuju gudang. Di dalam tempat penyimpanan barang itu sesosok makhluk dipenuhi cairan merah pekat membuat Taeyeon membeku di tempatnya.

Kim Jonghyun, namja itu tengah menggenggam sebuah pecahan botol minuman. Tubuhnya bergetar, panik dan ketakutan. Keringat yang luruh dari pelipisnya mulai bercampur dengan air mata yang meleleh di sudut matanya.

Jonghyun meremas pecahan botol itu semakin kuat, seolah menyalurkan ketakutan yang dirasakannya saat ini. Darah yang mengalir di telapak tangannya mulai menetes ke lantai.

Andwaeee!! Jangan pergiii!!” Jonghyun menjerit lagi. Ia menutup kedua telinganya. Matanya terpejam dengan paksa, masih memancarkan ketakutan yang tak bisa dimengerti.

“Arrrgghhh!!!” jeritan Jonghyun kali ini mampu menyadarkan Taeyeon dari lamunannya. Gadis itu bergegas menghampirinya.

Oppa, kau kenapa?! Apa yang kau lakukan?!” Taeyeon menggenggam tangan Jonghyun yang masih menutup telinganya kuat-kuat.

“Jangan dekati aku!” Jonghyun menepis tangan Taeyeon. “A-ku ya-ng tel-telah melakukannya,” ia mulai meracau. “Pergi! Kau bisa mati juga jika ada di dekatku!”

Deg, Taeyeon terdiam. Ia benar-benar bingung harus melakukan apa. Jonghyun kembali panik dengan pecahan botol minuman yang berserakan di hadapannya, sedikitpun tak menggubris keberadaan Taeyeon.

‘PLAK!’ tamparan, akhirnya itu hal terakhir yang dilancarkan Taeyeon pada Jonghyun.

Jonghyun terdiam. Ia menatap Taeyeon dengan mata basah dan merah. Nafasnya tersengal. Tubuhnya yang masih bergetar ambruk ke lantai. Selang beberapa detik matanya tertutup, tak lagi menunjukkan tanda-tanda kesadaran.

***

“Psikiater Lee, ada apa dengan Oppa-ku?” tanya Taeyeon pada Lee Jinki ― tetangganya ― yang berprofesi sebagai seorang psikiater.

Molla, kurasa ada trauma yang merasuk ke pikirannya,” jawab Jinki begitu selesai memeriksa keadaan Jonghyun. “Apa kau pernah melihat hal seperti ini terjadi sebelumnya?”

Taeyeon menggeleng. “Aku tak tahu pasti, hanya saja disetiap tanggal dan bulan yang sama setiap tahunnya dia selalu menunjukkan ekspresi murung,”

“Hari ini, 24 Agustus 2010,” Jinki mulai berpikir. “Apakah ada yang pernah terjadi padanya pada tanggal itu di tahun-tahun kemarin?”

Taeyeon mengernyitkan alisnya. Otaknya mulai menyelami masa lalu. “Aku tak yakin, kurasa tanggal itu adalah hari kematian Appa-nya,”

Deg, Jinki terkejut, ia teringat kembali pada sesuatu. 24 Agustus 2000, ternyata peristiwa yang terjadi pada tanggal itu penyebabnya. Ia tak menyangka trauma yang dialami Jonghyun terulang lagi sekarang.

“Anda tahu sesuatu, Psikiater Lee?” tanya Taeyeon begitu melihat raut wajah Jinki yang berubah serius.

Jinki menggeleng. Tak berani memastikan sebelum ia tahu kebenarannya. “Kau jagalah dia dengan baik. Kasih sayang yang kau berikan akan membuatnya merasa jauh lebih baik.”

Taeyeon mengangguk. Tentu ia akan memberikan kasih sayang terbesarnya pada Jonghyun. Ia adalah satu-satunya keluarga yang masih ada di sisinya. Tentu ia akan melakukan apapun untuk mempertahankan kebersamaan itu.

***

Mianhae,” suara itu terdengar di kejauhan, mendesis pelan, membuat indera mendengaran Taeyeon terusik karenanya.

Taeyeon mengernyitkan alisnya. Gelap, entah dimana ia berada sekarang. Hanya sebuah rumah kayu tua yang kini ada di depannya.

Nu-nuguseyo?” Taeyeon ingin memastikan, siapa gerangan pemilik suara itu?

Angin berhembus pelan, menyapu rambut sebahu Taeyeon. Sesuatu yang dingin menyentuh tangannya. Itu, tangan seseorang!

Deg, Taeyeon bergidik. Dengan perlahan ia mendongak, memberanikan diri menatap pemilik tangan itu. Seorang namja yang berusia sekitar 36 tahun, memakai kemeja putih dan tengah menatapnya. Ekspresi laki-laki itu dingin. Mata sayunya menatap kosong. Raut wajahnya yang keras seolah tak berarti apa-apa. Aura kehidupannya mati sama sekali. Aneh, benar-benar aneh.

Mianhae, tolong ucapkan kata itu padanya,” sekali lagi laki-laki itu berbisik parau.

Taeyeon terdiam. Ia hanya menelan ludah. Seperti inikah rasanya berhadapan dengan dunia lain?

Laki-laki itu menaruh secarik kertas di tangan Taeyeon. “Datanglah,” lirihnya, sekilas terlihat tersenyum hambar lalu menghilang di tengah kegelapan.

 

***

 

Deg, Taeyeon terbangun dari tidurnya. Sekujur tubuhnya berkeringat. Ia melirik jam dinding. 12.00 am, tepat tengah malam. Ia meregangkan sejenak otot-ototnya. Rasanya pegal juga tidur di sofa sambil menjaga Jonghyun.

Sesaat Taeyeon terdiam ketika menyadari sesuatu yang ada dalam genggaman tangannya. Secarik kertas putih berbau anyir. Dalam kertas itu tertera alamat yang ditulis dengan tinta merah. Ah, bukan, tapi ‘darah’.

‘Temui aku, di jalan xx, blok  9, no 5. Ada sesuatu yang harus kau ketahui, keponakanku.’

Deg, Taeyeon kembali membeku. Itu memang bukan mimpi biasa. Apakah ini pertanda? Lalu, ‘keponakan?’ Apa maksud semua ini?

“Hhh..,” suara desisan Jonghyun yang rupanya telah terbangun menyadarkan Taeyeon dari lamunannya.

“Kau sudah sadar, Oppa?” Taeyeon buru-buru menghampiri Jonghyun yang masih tergolek lemah di tempat tidurnya.

Jonghyun meringis. Telapak tangannya terasa begitu perih. “Apa yang terjadi padaku, Taeyeon-ah?” tanyanya.

Trauma itu sepertinya membuat Jonghyun lupa dengan apa yang dilakukannya. Seperti kerasukan, ia seolah tak sadar dengan apa yang diperbuatnya.

Taeyeon tersenyum. “Besok saja kujelaskan. Ini sudah malam, Oppa istirahat saja,”

Jonghyun mengangguk lemah. Jujur, tubuhnya memang terasa letih saat ini. Jadi tak salah baginya jika ia mengikuti saran yeodongsaeng-nya itu.

***

25 Agustus 2010

 

“Jalan xx, blok  9, no. 5,” gumam Taeyeon begitu sampai pada alamat yang ditujunya.

Ia kembali tak mengerti. Bangunan yang ada di hadapannya rumah kayu tua, persis seperti yang ada di dalam mimpinya.

Zrazzhh! Sekilas bayangan seorang laki-laki melintas di dalam rumah itu. Itu semakin memancing keingintahuan Taeyeon untuk menelusurinya lebih dalam. Ia menyalakan lampu senternya, perlahan mulai melangkah menyusuri rumput liar yang tumbuh di sekitar rumah tak berpenghuni itu.

Debu menyeruak begitu Taeyeon membuka pintu masuk rumah tua itu. Hari memang masih siang, namun rumah yang hampir tak tertembus cahaya itu membuat Taeyeon seakan terselimuti kegelapan.

Dengan segenap keberanian Taeyeon mengarahkan lampu senternya ke setiap sudut ruangan. Tak ada yang istimewa. Hanya terdapat sebuah lemari lapuk di sudut ruangan serta beberapa sofa yang terpajang di ruang tengah. Satu hal yang menarik perhatiannya. Di bawah salah satu sofa terdapat banyak botol minuman keras.

Zrash! Angin dingin kembali melintas, meremangkan bulu kuduk Taeyeon. Seseorang seperti baru saja lewat di belakangnya.

Bukk! Sesuatu terjatuh di depan Taeyeon. Buku berwarna coklat dan telah usang.

Sejenak Taeyeon menelan ludah. Ketakutan merasukinya, namun demi menolong  Jonghyun, ia harus memberanikan dirinya. Ia mengambil buku itu. Dengan gemetar, tangannya membuka buku sederhana itu. Tulisan kumal seorang bocah terukir di sana.

Huhuhu…,” suara tangis seorang bocah lelaki mengejutkan Taeyeon. Ia mendongak. Secercah cahaya lilin terpendar dari ruangan yang ada di depannya. Seorang bocah berusia 10 tahun tengah duduk di meja belajarnya sambil menulis.

Taeyeon menganga. Buku yang akan ditulisi anak itu persis dengan buku yang dibawanya sekarang.

“Rabu, 08 Desember 1999..,” bocah itu berbisik. Demikian halnya dengan Taeyeon, tangannya bergerak begitu saja mencari-cari tanggal diucapkan anak itu.

“Kali ini aku harus menerima luka di lengan kananku untuk kesekian kali. Appa marah karena aku salah membuatkan kopi untuknya. Kenapa karena kesalahan kecil itu dia tega mencambukku? Kenapa dia begitu jahat? Apakah pintu hatinya begitu tertutup, hingga pada anak kandungnya sendiri dia jahat seperti ini?”

Benar saja, apa yang baru saja diucapkan dan ditulis anak itu sama persis dengan apa yang tertulis di buku yang sedang dipegang Taeyeon.

“Sabtu, 8 april 2000..,

Hari ini ulang tahunku yang ke 10, aku tak pernah berharap banyak pada Appa. Aku hanya ingin dia memberi ucapan selamat ulang tahun padaku. Tapi mengapa saat berkata aku ingin meminta selamat padanya dia malah memukulku? Sapu ijuk, bahkan tongkat pamukakupun dia gunakan untuk memukulku? Kenapa dia justru berkata ‘jangan pernah ucapkan kata menjijikkan itu tepat dihari kau menyebabkan kematian ibumu?!’”

 

“Minggu, 7 Mei 2000..,

Sekarang appa pulang dengan membawa sekerat minuman keras. Hampir seluruh pakaiannya dibasahi alkohol. Ia terhuyung-huyung dari pekarangan. Sesekali tubuhnya terjatuh, namun kemudian dia bangkit bersikeras agar bisa masuk ke dalam rumah. Aku mengunci pintu kamarku. Tubuhku merosot di balik pintu. Aku duduk memeluk kedua lututku,  mulai menangis, takut menjadi sasaran kemarahannya kali ini..”

 

“Sabtu, 22 Juli 2000..,

Aku tak ingin terus seperti ini. Aku seorang anak. Tugas seorang anak adalah membahagiakan orang tuanya, seburuk apapun dia. Aku berusaha terus tersenyum di depan appa, melayani semua keinginannya. Meski terkadang tangannya sering memukulku, aku tak boleh menyerah. Meski sia-sia, aku tak ingin selamanya menjadi kotoran di mata appa.

 

“Kamis, 24 Agustus 2000..,

Hari ini appa ulang tahun. Uang tabungan yang kukumpulkan selama ini ternyata cukup untuk membeli sebuah jam wekker berbentuk gitar. Appa pasti suka, karena appa suka bermain gitar. Aku tak peduli meski dia sering menyakitiku. Seburuk apapun dia, aku tak akan mengkhianatinya karena dialah yang membesarkanku hingga sekarang,”

***

 

Bukk!! Taeyeon tersimpuh. Ia membekap mulutnya. Air matanya mulai jatuh. Bocah itu, ia tahu, itu adalah Jonghyun 10 tahun lalu. Apa ini? semenyedihkan inikah masa lalu Jonghyun yang selama ini terkubur?

Jonghyun kecil beranjak dari tempatnya. Dia berjingkrak keluar dengan kado kecil dibungkus kertas berwarna hijau. Taeyeon hanya diam, tak bisa bereaksi saat Jonghyun menembus tubuhnya.

Ekor mata Taeyeon mengikuti langkah Jonghyun. Anak kecil itu mendekati seorang pria yang duduk di atas sofa sambil meneguk segelas arak. Pria itu, orang yang hadir di mimpinya semalam.

Appa sudah pulang?” Jonghyun menyapa laki-laki itu ramah.

Laki-laki yang disebut Jonghyun appa itu menatapnya nanar. “Mau apa kau? Pergi sana. Aku muak melihat tampangmu!”

Raut wajah Jonghyun sedikit muram mendengarnya, namun senyum cerahnya sedikitpun belum terhapus. “Saengil chukka hamnida, Appa,” Jonghyun menyodorkan kado yang dibawanya.

Laki-laki yang ada di hadapannya mengernyitkan alisnya. Ia merampas benda berlapis kertas hijau itu dari tangan Jonghyun. Dengan kasar tangannya merobek pembungkus kado itu. Matanya membelalak. Ia menggeram.

Prangg!! Ia membanting benda yang ada di dalam kado itu ke lantai. “Apa-apaan kau memberiku barang murahan seperti ini? dasar anak tidak berguna!”

‘PLAK!’ sebuah tamparan mendarat di pipi Jonghyun.

Waeyo? Kenapa Appa menghancurkannya? Aku menabung 6 bulan untuk membelinya,” Jonghyun mulai terisak. Ia berjongkok, mengumpulkan kembali kepingan benda yang dibelinya dengan susah payah itu. Sakit mengiris hatinya, namun ia tetap berusaha terlihat tegar.

“Aku tak pernah menyuruhmu melakukan itu. Jangan membuat dirimu seolah-olah sok berjasa di hadapanku, Anak Bodoh!”

Jonghyun tercekat. Ia terdiam saat ada tangan yang mencekik lehernya.

“Kau tahu, aku, Kim Jongwoon, menyesal memiliki anak sepertimu!” hardik laki-laki bernama Jongwoon itu. “Dengan lahir kedunia ini kau telah membunuh ibumu sendiri. Bisnisku bangkrut gara-gara aku harus mengurusmu. Kau tahu berapa banyaknya kau membawa kesialan dalam hidupku?”

A-Appa, a-aku.. uhuk!” Jonghyun tersengal, menahan cekikan Jongwoon yang menjerat lehernya.

PRANG!! Jongwoon memecahkan salah satu botol minumannya. Ia mengambil salah satu serpihannya, memamerkannya di hadapan wajah Jonghyun. “Kuakhiri saja sekarang,” lirihnya. “Mati kau, Kim Jonghyun,”

Jonghyun mulai panik. Tak tahu harus melakukan apa, ia mengambil pecahan botol minuman Jonwoon yang lain. Ia begitu takut menghadapi benda tajam di tangan Jongwoon yang siap mencongkel matanya.

“MATI KAU, ANAK TIDAK BERGUNA!!”

PETSS!! Cairan merah pekat menyembur ke arah dinding kayu. Laki-laki itu memegangi dada bagian kirinya. Bocah berusia 10 tahun telah mendahuluinya melakukan itu. Pecahan botol minuman keras berhasil masuk menembus jantungnya. Tubuhnya terasa ngilu. Anyir darah memenuhi tubuhnya. Mendadak kakinya lemas. Tubuhnya ambruk begitu organ pemompa kehidupannya berhenti berdenyut. Sesaat sebelum kematiannya ia memandangi bocah berusia 10 tahun yang masih mematung di depannya. Raut wajahnya tetap keras meski arwahnya kini telah terlepas dari tubuhnya.

Andwaeee, Appaaa!!” Jonghyun tersimpuh. Ia mengguncang tubuh makhluk yang sudah tak bernyawa yang kini tergeletak di hadapannya.

Ia meremas rambutnya, frustasi dengan apa yang baru saja dilakukannya. Pembunuh, dia kini seorang pembunuh.

Deg, semua kembali gelap. Taeyeon tak bisa mengatakan apapun setelah menyaksikan peristiwa itu. Tubuhnya terasa lemas. Hanya air mata yang masih menetes dari sudut matanya.

Tak perlu menangis, semua telah terjadi,” laki-laki itu, sosoknya kembali muncul di hadapan Taeyeon.

“J-jong-Jongwoon Ahjussi,” Taeyeon tergagap mendapati Jongwoon yang berjongkok di hadapannya. Hanya berjongkok, dengan kaki yang tak menyentuh tanah.

Kematian ini membuatku sadar. Aku tak seharusnya sejahat itu padanya,” aku Jongwoon, miris. “Tolong sampaikan maafku pada Jonghyun. Maaf selama ini aku tak bisa menjadi Appa yang baik untuknya. Katakanlah, saat ini aku sudah bahagia bersama umma-nya di atas sana,

Taeyeon terdiam. Ia hanya memandangi sosok wanita anggun yang berdiri di samping Jongwoon. “N.. ne, a.. arasseo,

Sosok Jongwoon menghilang, begitu juga wanita yang datang bersamanya. Kini hanya tinggal Taeyeon yang masih menangis, mencurahkan semua rasa sakit hatinya pada peristiwa menyakitkan ini.

***

26 Agustus 2010

“Dengan kau menyaksikan peristiwa itu, kurasa tak ada lagi yang perlu kujelaskan padamu,” ucap Jinki setelah mendengar cerita Taeyeon. “Dulu ketika di pengadilan, hakim memutuskan untuk tidak memenjarakan Jonghyun. Selain dia masih di bawah umur, keadaan psikisnya juga sangat terguncang saat itu,”

Taeyeon menatap Jinki penuh arti. “Kurasa ini adalah ujian menuju kedewasaan yang harus ditempuh Jonghyun Oppa,”

“Jika memang itu yang menjadi jalannya, maka kaulah yang harus memberikan kasih sayang pada Jonghyun,” ucap Jinki bijak.

“Tentu, pasti kulakukan,” Taeyeon mengangguk yakin. Selama ini, Jonghyun yang telah menjaganya sebagai seorang kakak. Dan sekarang, gilirannyalah yang harus memberinya kasih sayang.

***

27 Agustus 2010

Mengetahui keadaan Jonghyun kemarin, Ryeowook menyempatkan pulang untuk menjenguk anak angkatnya itu. Kini ia duduk di ruang tamu, membiarkan Jonghyun beristirahat sejenak di kamarnya.

Appa, dimana Jonghyun Oppa?” Taeyeon menghampiri ayah angkatnya sambil membawa secangkir kopi.

“Oh, gomawo, Taeyeon-ah. Dia ada di kamarnya. Wae?” tanya Ryeowook, mulai menyeruput kopi yang disuguhkan Taeyeon.

“Err, aku ingin mengajaknya ke tempat bersejarah baginya 10 tahun yang lalu,” ucap Taeyeon, sedikit ragu.

“Rumah itu.., kau yakin dia tak apa-apa jika dibawa ke sana?” Ryeowook sedikit khawatir dengan tawaran Taeyeon.

“Tentu, itu satu-satunya jalan untuk menghilangkan traumanya,”

“Jika kau yakin, bawalah dia kesana.”

***

Ditemani Taeyeon, Jonghyun menatap rumah kenangan berdarahnya penuh arti. Bingung harus mengatakan apa, kakinya melangkah dengan gontai ke arah rumah itu. Taeyeon ikut terdiam, ia ikut melangkahkan kakinya mengikuti Jonghyun.

Sedikit sinar yang masuk melalui lubang dinding memberikan cukup sinar bagi Jonghyun untuk melihat tempat usang itu.

Perlahan ia mengulurkan jemarinya, mengelus dinding kayu berwarna kecoklatan yang masih ternodai bekas darah Appa-nya. Ia mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Tangannya terkepal, menahan amarah yang mulai memenuhi dadanya. Rahangnya mengeras, menahan cairan yang menggenang di sudut matanya.

“Kau tahu, dulu aku pernah melakukan dosa yang teramat besar di tempat ini,” bisik Jonghyun pada Taeyeon.

Taeyeon menghela nafas panjang. Sejurus kemudian lengannya melingkar di leher Jonghyun. Ia merapatkan tubuhnya ke punggung Jonghyun, memeluk namja itu seerat mungkin. “Jangan sesali hal itu lagi, Oppa,” lirihnya, mulai terisak.

Jonghyun terdiam sejenak. Air mata yang mulai luruh menyulitkannya untuk bicara. “Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?”

“Karena saat ini appa-mu telah bahagia bersama umma-mu,”

Deg, perkataan Taeyeon membuat Jonghyun mematung di tempatnya. Ia melepaskan lengan Taeyeon yang melingkar di lehernya, beralih menatap Taeyeon yang sesenggukan penuh tanda tanya.

“Bahagia?”

Taeyeon menyingkir dari hadapan Jonghyun, memperlihatkan siapa yang yang telah berdiri di belakangnya sejak kedatangan mereka ke rumah ini.

Jonghyun terperangah, mulutnya menganga. “Appa..,” lirihnya mendapati sosok yang dirindukannya kini tersenyum padanya. Satu lagi, seorang wanita anggun yang berdiri di samping Appa-nya, sosok yang selama ini dikenalnya hanya melalui foto.

Dia Kim Hyoyeon..,” suara Jongwoon menggema di rumah itu. “Umma-mu,” lanjutnya lagi.

Deg, Jonghyun kembali mematung. Dunia seolah berputar seratus delapan puluh derajat baginya. Siapa yang bisa menjelaskan ini? Tolong bantu dia!

Ujung bibir Jonghyun kembali bergetar. Otaknya masih belum mencerna semua ini secara sempurna. Seolah bergerak begitu saja, ia menyatukan kedua telapak tangannya di hadapan wajahnya. Perlahan tubuhnya merendah. Kakinya bersimpuh dengan pelan. Kini ia membungkukkan kepalanya, semakin rendah hingga menyentuh lantai. Sebuah sujud penghormatan, hanya itu yang mampu dilakukannya untuk menyambut kedatangan kedua orang tua yang telah berbeda dunia dengannya.

Jongwoon menyentuh puncak kepala Jonghyun. Meski tangan appa-nya itu dingin, Jonghyun bisa merasakan kehangatan dari perlakuan sederhana itu. Pertama kalinya bagi Jonghyun merasakan kasih sayang seseorang yang selama ini selalu membuatnya menderita.

Mianhae,” Jongwoon merengkuh tubuh putranya. “Maaf, selama ini aku tak pernah menjadi ayah yang baik untukmu,

Aniyo,” Jonghyun menggeleng. “Kau selalu nomor satu di hatiku, Appa,” akunya terisak, mempererat pelukan mereka.

Kini giliran Hyoyeon yang merangkul Jonghyun. “Mianhae, selama ini umma tak pernah ada di sisimu,” suara lembut wanita itu seperti menyihir Jonghyun. Pertama kali ia mendengar suara seorang ibu selama dua puluh tahun hidupnya.

Gwenchana. Saranghae, Umma,” bisik Jonghyun, menikmati kebahagiaan yang baru pertama kali dirasakannya itu.

Tak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan ini baginya. Meski hanya sekali, ia sudah puas. Meski berbeda dunia, ia tetap bisa menggenggam kasih sayang mereka. Kini cukup mengenangnya dalam hati. Menyimpannya sebagai kenangan paling berharga. Sekali, untuk selamanya.

***

1 year later

“Kau tahu, Taeyeon-ah, Tuhan itu begitu adil?” tanya Jonghyun sambil menatap deburan ombak pantai. Hatinya terasa tenang setelah mengunjungi makam kedua orang tuanya.

Yes, I Know. God can reach each falling tears. He sees the heart that needs a cheer. He knows the path that’s hard and dear. Don’t ever give up, cause He is near,” jawab Taeyeon, turut menatap deburan ombak yang sama dengan Jonghyun.

Ya, kau ini, mentang-mentang akan kuliah di sastra inggris, bicara saja seperti itu!” Jonghyun menyikut siku Taeyeon.

Taeyeon terkekeh pelan. “Biar saja, wee…,” ejeknya.

Kedua saudara yang sama-sama merindukan kasih sayang orang tua itu tersenyum. Kehilangan sandaran di usia 10 tahun telah menguatkan mereka. Cukup dengan kebersamaan  dan ketabahan menjalani hidup, maka apapun akan terlewati. Dengan saling menjaga dan mengasihi, kebahagiaanpun akan ada dalam genggaman mereka.

Seperti yang dikatakan orang bijak, ‘Kehidupan butuh pegorbanan. Pengorbanan butuh perjuangan. Perjuangan butuh ketabahan. Ketabahan butuh keyakinan. Keyakinan butuh kejayaan. Kejayaan pulalah yang akan menentukan kebahagiaan.’

“Taeyeon-ah, ayo pulang, sudah jam 6. Aku lapar, kau mau makan, tidak?” Jonghyun mengelus perutnya yang sudah keroncongan.

“Aku juga lapar. Mau ke restoran Cina, tidak?!” usul Taeyeon semangat.

“Tapi, kau yang traktir, ya?” Jonghyun tersenyum nakal.

Aish, kau ini! Sama adik sendiri saja pelit sekali!” Taeyeon meninju pundak Jonghyun.

“Sekali saja, yah.. besok aku ada kencan dengan Jessica, jadi harus hemat,” Jonghyun mencubit gemas pipi Taeyeon, masih berusaha merayunya. “Ayolah, nanti aku yang akan menjadi mak comblangmu dengan Leeteuk. Bagaimana, kita impas, kan?”

Mendengar kata empat kata terakhir yang diucapkan Jonghyun, Taeyeon hanya bisa menghela nafas pasrah. “Ya sudah, baiklah. Dasar tukang peras!” serunya, kesal.

“Kau baik sekali!” Jonghyun merangkul Taeyeon, membuat gadis itu menjadi susah bernafas. “Besok kita double date saja. Nanti aku akan SMS Leeteuk dan Jessica, mereka pasti tak keberatan. Sekarang, ayo pergi cacingku sudah kudeta di dalam!”

Nge-date dengan Leeteuk? Taeyeon hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya, malu membayangkannya. “Double date? Boleh juga. Kajja!” ucapnya bersemangat, lalu berlari menyusul Jonghyun ke mobil.

***

God did not promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain. But He did promise strength for the day, confort for the tears, and light for our way.

***

FIN

Gaje sangatkah ceritanya? Kelewatan jeleknya? Mian, yah.. aku lagi gak punya ide maksimal sama cerita horror.. *pundung di pojokan*

Oh ya, untuk kata-kata mutiaranya itu bukan kata-kata yang aku rancang sendiri, tapi aku ambil dari berbagai sumber buku.

Makasih buat yang udah mau baca. Jangan lupa leave a comment. Gomawo!!

©2011 SF3SI, Chandra.

This post/FF has written by Chandra, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

130 thoughts on “From The Past

  1. ngebayangin makhluk”nya bikin merinding .. hiii ,
    kayaknya chandra eonni berbakat bikin genre horror deh .. pada seru ! hehe

  2. Mengharukan banget thor. . . . .daebak. . .
    +
    menegangkan. . . Thor. . . daebak. . .
    +
    menakutkan thor. . . Daebak. . . . .

  3. baru bc ff ini.. td liat di sidebar komen … jd pengen bc.. hehehe

    wuiihh jinki jd psikiater.. kkk

    emm 24 agt 2010… n ff ini dipost 24 agt 2011…

    seruuu… daebak…

    God did not promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain. But He did promise strength for the day, confort for the tears, and light for our way.

    love this

  4. Huwaaa kereeen!😄
    Kasian Jonghyun😥 , tapi biarin aja yang penting FF nya bagus! #pletakk

    Alurnya menarik, enak dibaca😀 dan mengharukan pas endingnya T T
    Daebak! Aku udah baca beberapa FF horornya Author chandra shinoda, Keren! Authornya berbakat nulis horor nih >w<9

  5. kerennnnn… tapi jahat amat si yesung suka mukulin jjong dulu#digampar clouds# hahaha…. tapi tetep aja bagus!!!!! daebakkkkk!!!!

  6. Ya…ya…ya!!!! *nunjuk2 idung author*
    Perannya Yeppa kejam banget…
    Minum2?? Tukang pukul?? Ommona chan…. kau mmbuat hatiku miris sbg clouds…. TT__TT
    kejamm bangettt….
    hadooochhh…sakit hatiku bacanya…
    trus pairing’a Hyoyeon?? -_-” ckckckckckckckkk
    *angkat tangan*
    KEJAAAMMMMM…. biarpun julukannya yeppa tu si aneh tp jgn gtu nae… Tar aku lapor yeppa loe… wkwkwkwkwkk *ngadu*
    *
    Keseluruhan bagusss… Seremnya kurang UPDOOLLL…..
    padahal aku malem loe bacanya nuy tp koq aku ga mrinding?? Coba isi kuntilanak ato pocong ato apalah, pastii lbi yahuddd….. Bila perlu isiin grandong… wkwkwkwkwk *ktularan tutur tinular*
    tp ff km yang horror dluw to baru ye serem. yang di skola2 tu pkoknya *lupa judul*
    xixixixixixiiii
    maaph ya banyak komen *dijitak*😀
    Taeyeon’a baek banget…… byarpun sodara angkat tp te2p kayak kandung… knapa gag dcritaen mreka jatuh cinta ajjah ?? *dgampor Jessica n Leeteuk*
    xixixixixiiii😛
    Sekiann… mian saiia baruu comment… biasa orang sibuk *plakkk*😀
    Annyeong……………… :*

  7. Oh AUTHOR, DIRIMU SUNGGUH KEJAM MEMBUAT YESUNG(ku) *dihantam clouds* seperti itu TT

    Kasian nae Jonghyun TT *ditendang cloud*

    Makanya cast Taeyeon diganti Sesil *buakk ditendang author ke bulan

    Keren thor *,* aq aj g bisa bikin ff kayak gini~ LIKE THIS

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s