Destiny – Part 3

Title                : Destiny

Author            : Ai Isozaki

Main Cast      : Han Hye Soo (OC), Kim Jong Hyun (SHINee)

Support Cast : Kim Ki Bum (SHINee), Han Eun Suh (OC, belongs to my friend), Choi Hye Wook (OC, belongs to my friend), Park Jung Soo (Leeteuk, Super Junior), Choi Min Ho (SHINee)

Length            : Sequel, Chapter 3 of ?

Genre              : Romance, Family, Friendship, School

Rating             : Generan to PG13

Summary       : Ia berbalik ketika mendengar sesuatu yang keras jatuh. Oh, bukan sesuatu, tapi seseorang. Jong Hyun.

A.N                 : Pernah nonton K-Drama Prosecutor Princess? Fanfic ini terinspirasi dari drama itu. Happy reading! Comments are love ^^ ♥

# # #

Ia menghampiri tempat duduk Min Ho, kemudian meletakkan tasnya diatas meja laki-laki itu. Ia berbicara sesuatu pada Min Ho—entah apa itu. Aku memang tidak mendengarnya, tapi kurasa apa yang kupikirkan adalah hal yang ia bicarakan.

+++

“Aku ingin tukar tempat duduk denganmu.”

Min Ho mengangkat kepalanya. Alisnya bertaut, mengerti. Aku menghela napas panjang. “Kau duduk di samping Jong Hyun dan aku duduk di samping Rae Won.”

“Untuk apa—”

“Aku akan membayarnya.” Potongku sebelum Min Ho kembali mengoceh.

Ia tersenyum puas. “Dengan apa?”

Kuletakkan tiga lembar foto Hye Wook di hadapannya. Aku yakin ia tidak punya ketika foto tersebut. Foto yang pertama, saat Hye Wook sedang menata meja untuk makan malam. Lalu, saat ia sedang tidur. Dan saat ia baru bangun tidur. Untung saja aku masih menyimpan foto-foto ini saat menginap di rumahnya. Melihat Min Ho yang sepertinya benar-benar tertarik, ternyata memang tidak ada ruginya menyimpan foto itu.

“Darimana kau mendapatkannya?” tanya Min Ho tanpa bisa menyembunyikan rasa senangnya.

“Bukan urusanmu.” Jawabku singkat. “Kau mau atau tidak?”

Ia mengulurkan tangannya. “Aku terima.”

+++

Aku hanya bisa mendengus kesal sambil sesekali melirik Min Ho yang masih terus memandangi foto yang sepertinya diberikan oleh Hye Soo. Kh, aku kalah darinya lagi.

“Kau senang?” tanyaku.

“Tentu saja.” Jawab Min Ho yang masih tidak mengalihkan pandangannya dari foto-foto itu. “Aku belum pernah melihat Hye Wook seperti ini sebelumnya.”

“Kau kan kekasihnya, bagaimana bisa kau belum pernah melihatnya seperti itu?”

“Ya, tapi belum menjadi suaminya.”

“Aku akan memberimu lebih dari itu, kalau kau mau.”

Min Ho akhirnya menoleh padaku. “Apa?”

Aku menyeringai. Ternyata tidak sulit bekerja sama dengan Min Ho.

+++

“Hye Soo.”

Aku berbalik, mendapati Jung Soo sunbae sedang bersandar di dinding. Ia berjalan mendekatiku. Aku melankah mundur sebelum ia benar-benar dekat denganku.

“Tentang kemarin,” Jung Soo sunbae membuka suara. “Kau mau menerima tawaranku?”

“Aku tidak yakin.” Jawabku. “Untuk kembali pada sunbae, mungkin tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Entahlah. Mungkin… karena kita memang tidak cocok.”

“Tapi—”

“Oh, sudah jam segini. Maaf, aku sedang buru-buru. Aku duluan, ya, sunbae.”

Tanpa menunggu jawaban Jung Soo sunbae, aku berlari meninggalkannya. Oh, ya, aku benar-benar kehabisan napas sekarang. Kuhentikan langkahku. Napasku tersenggal. Tapi bukan masalah asal aku tidak berada di dekat Jung Soo sunbae lagi. Takut. Aku takut hal itu terulang lagi.

Kunyalakan lampu ruang tengah. Omma belum pulang ternyata. Aku menyeret langkah ke kamarku. Kulempar tasku entah kemana kemudian menjatuhkan diriku di tempat tidur. Aku mendapat masalah dengan Jung Soo sunbae. Agh, kenapa harus orang itu lagi?!

Aku tersentak ketika merasakan sesuatu yang berbulu menyentuh tanganku. Kuangkat wajahku, berusaha melihat benda itu. Sebuah boneka monyet yang sedang memegang keranjang terpajang manis di meja kecil yang berada di samping ranjangku. Punya siapa ini?

Buru-buru kuambil kertas yang berada di dalam keranjang monyet tersebut. Oh, tidak hanya kertas. Ada beberapa batang cokelat di dalamnya. Siapa yang meletakkan semua ini?

 

Semua ini untukmu.

Jadi, tidak perlu bertanya untuk siapa boneka dan cokelat ini.

Pergilah ke balkon kalau kau ingin tahu siapa yang memberikanmu semua ini.

Kubawa boneka monyet itu ke balkon. Untuk apa aku kesini? Memangnya pengirim boneka ini akan datang saat aku di balkon? Ha! Lucu sekali.

“Hey!”

Aku memutar kepalaku, mencari sumber suara.

“Hye Soo!”

Oh, ayolah. Dimana orang itu—eh?

“Kau suka bonekanya?”

Mataku membulat ketika melihat siapa yang berada di samping rumahku—dan orang itu juga sedang berada di balkonnya. Jong Hyun?! Ia tersenyum lebar sambil memamerkan giginya.

“Kau yang menaruh ini di kamarku?” tanyaku ketika menemukan suaraku kembali.

“Tentu saja. Kau suka?” Pertanyaan yang sama. Kenapa ia harus mengulainya lagi. TENTU SAJA! Aku SANGAT menyukainya.

“Tapi bagaimana bisa? Omma sedang pergi. Jangan katakan kalau kau masuk ke rumahku lewat jendela!”

“Ra-ha-si-a.” ucapnya sambil tersenyum jahil. Aku bersiap-siap melemparkan boneka monyet—yang amat sangat lucu itu—ke wajahnya. Tapi Jong Hyun sudah mencegahnya. “Tidak, tidak lewat jendela tentu saja.”

“Lalu?” tanyaku.

“Kalau kuberitahu, tidak akan seru.”

Aku menggembungkan pipi, kesal dengan sikapnya yang seperti itu. Sebelum aku masuk kembali ke kamar, Jong Hyun memanggilku.

“Makan cokelatnya, ya.” Katanya. “Enak sekali. Aku mendapatkannya dari temanku yang berada di Prancis.”

“Untuk apa aku menurutimu?” balasku cuek.

“Hey, hey, tunggu!”

BRAK!

Refleks aku berbalik ketika mendengar sesuatu yang keras jatuh. Oh, bukan sesuatu, tapi seseorang. Jong Hyun.

“Hey, kau tidak apa-apa?”

Jong Hyun masih duduk sambil meringis. Astaga! Jangan-jangan ada tulangnya yang patah atau semcamanya? Kalau seperti itu bisa-bisa—

Laki-laki dihadapanku tiba-tiba tergelak, tertawa lepas. “Kau mengkhawatirkanku ‘kan? Benar ‘kan? Benar ‘kan?”

Kupukul lengannya cukup keras, Jong Hyun kembali meringis. “Siapapun yang melompat ke balkonku pasti kukhawatirkan!”

“Hey, tunggu dulu!”

Jong Hyun menahan tanganku, kuputar tubuhku, balas menatapnya yang sedang menatapku. Untuk beberapa saat kami terus menatap satu sama lain. Aku mengerutkan kening, bingung dengan sikapnya.

“Apa?” tanyaku.

“Kau masih marah padaku?” Jong Hyun balik bertanya.

“Menurutmu?”

“Aku serius!”

“Aku juga.”

Tiba-tiba Jong Hyun menarik tanganku hingga aku jatuh di atasnya. Ia menatapku tajam. Kurasakan napasku benar-benar berhenti saat menyadari wajahnya benar-benar dekat denganku. Kenapa aku tidak bisa bergerak?

“Jawab.” Katanya lirih.

Kudorong tubuhnya. “Haruskah meminta jawabanku dengan cara seperti itu?”

“Dan haruskah mendorongku kalau kau tidak menyukainya?”

“Lihat! Kau yang memulai untuk bertengkar denganku ‘kan?”

Jong Hyun mendesah tidak sabar kemudian berdiri. Ia merapikan bajunya, lalu menatapku lagi.

“Apa perlu aku berlutut padamu agar kau memaafkanku dan bisa bersikap seperti biasa lagi?”

Belum sempat aku menjawabnya, Jong Hyun sudah berlutut di hadapanku. Kepalanya tertunduk. Ia diam, sepertinya menunggu jawabanku. Buru-buru aku menarik tangannya, tapi ia tetap tidak mau mengangkat kepalanya.

“Sudahlah, jangan seperti ini.” kataku. “Angkat kepalamu.

“Tidak, sebelum kau memaafkanku.” Sahut Jong Hyun.

Aku mendesah tidak sabar. Benar-benar keras kepala. “Ya, aku memaafkanmu. Sekarang, cepat angkat kepalamu! Aku risih melihatmu seperti ini.”

Tak lama setelah aku mengatakan itu, Jong Hyun mengangkat kepalanya. Aku tidak sempat melihat ekspresinya karena ia sudah langsung… mencium pipiku! Otakku mati seketika ketika merasakan napasnya tepat mengenai leherku. A-apa ini? Kenapa wajahku kembali memanas?

“Terima kasih.” Kata Jong Hyun nyaris seperti bisikan.

Tapi itu justru mengembalikan akal sehatku. Kupukul lengan Jong Hyun berkali-kali lalu mencubiti kedua pipinya hingga benar-benar merah.

“Hey, hey, hentikan!” serunya setengah meringis. “Hey, cukup! Kau pikir tidak sakit?!”

“Keluar kau dari rumahku, menyebalkan!” teriakku.

“Hey, kau kenapa? Hanya mencium pipi. Memangnya kau anak SMP?”

“Hanya karena aku sudah memaafkanmu kau bisa—”

“Hye Soo, omma—-”

Kalimatku terhenti ketika pintu kamarku tiba-tiba terbuka. Tampak omma dengan wajah kaget bercampur bingung melihatku yang sedang mencubit kedua pipi Jong Hyun. Segera kulepaskan tanganku, bersiap-siap omma akan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang kami.

“Oh, omma tidak menyangka kalian sudah seakrab ini. padahal baru saja bertemu.” Ujar omma akhirnya. Eh? “Jong Hyun, kau sudah makan malam? Bagaimana kalau kita makan malam bersama?”

Tu-tunggu! Jangan bercanda. Kenapa omma lain dari biasanya?!

* * *

Aku hanya bisa menyibukkan diri dengan makan malamku sementara Jong Hyun dan omma terus saja mengobrol. Sesekali mereka tertawa. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Kh, kenapa orang ini mudah sekali akrab dengan omma?

“Jadi kalian sekelas? Juga teman sebangku?” tanya omma pada Jong Hyun.

“Ya, dan kami—”

“Ah, ah, tunggu dulu.” Potong omma sebelum Jong Hyun menyelesaikan kalimatnya. “Berarti kalian sudah cukup dekat, ya?”

“Em, aku rasa begitu.” Jawab Jong Hyun.

“Kalau begitu ahjumma tidak akan khawatir meninggalkan Hye Soo nanti.”

“Apa maksud omma?” sambungku ketika mendengar namaku disebut—walaupun sudah sejak tadi namaku disebut, tapi aku yakin ini berbeda.

“Oh, omma lupa membertahumu.” Omma menepuk dahinya, kemudian berjalan mengambil tas kecilnya. “Besok omma harus langsung berangkat ke Jerman. Mungkin sebulan omma akan disana.”

“Kalau begitu, aku ikut! Aku ingin bertemu oppa dan—”

“Tidak, Hye Soo.” Potong omma. Ck, kenapa omma suka sekali memotong kalimat orang? “Omma sendiri tidak yakin bisa bertemu dengan oppamu nanti. Omma harus benar-benar melayani klien omma disana. Kau juga harus mementingkan sekolahmu, ingat?”

“Lalu omma akan meninggalkanku sendiri di Korea?”

“Siapa yang akan meninggalkanmu sendirian?”

* * *

Omma.” Panggilku ketika membuka pintu kamar omma.

“Ya, sayang?” sahut omma yang masih sibuk memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper.

Omma benar-benar akan meninggalkanku?”

“Maaf, Hye Soo. Tapi ini benar-benar kesempatan langka untuk omma yang di tawari klien dari luar negeri. Hanya sebulan, tidak lebih.”

“Lalu omma akan menitipkanku pada Jong Hyun?”

Omma rasa dia anak yang baik.”

“Kenapa tidak pada Eun Suh atau Hye Wook?”

“Kita sudah sering merepotkan mereka. Tidurlah. Besok kau sekolah ‘kan?”

“Tapi Jong Hyun ‘kan orang yang baru kita kenal.”

“Kalau dia macam-macam padamu, langsung telepon omma. Omma akan segera pulang dan memukulnya nanti.”

“Tapi—”

Omma mendorong bahuku, menyuruhku untuk keluar kamar. “Tidurlah Hye Soo. Omma tidak ingin kau tertidur di kelas besok.”

* * *

“Hye Soo, cokelat yang kuberikan kemarin sudah kau makan?”

“Belum.”

Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela bus. Pagi ini omma meninggalkan catatan padaku yang mengatakan ia sudah pergi ke bandara sebelum aku bangun. Omma benar-benar workaholic. Aku sendiri tidak bisa menahannya kalau sudah menyangkut pekerjaan.

“Hey, kau marah padaku lagi?” Jong Hyun menarik lengan kemejaku saat kami baru saja turun dari bus.

“Entah. Aku bingung harus marah pada siapa.”

+++

Sebuah kotak berukuran sedang dengan warna soft pink dan dihiasi pita putih tiba-tiba mengejutkan seorang gadis yang tak lain adalah pemilik, loker tempat kotak itu berada. Pipinya merona merah ketika membaca pesan singkat dari sang pengirim kotak manis tersebut.

Ia membuka kotak itu kemudian menemukan berbagai bentuk cokelat yang benar-benar mengundang selera disana. Gadis itu mencicipi salah satunya dan senyum lebar langsung menghiasi wajahnya. Manis, lembut, semua tercampur dalam sebuah potongan cokelat kecil.

Ia tidak tahu kalau kotak yang ia buka, justru akan membuka kembali luka satu tahun lalu. Ia tidak tahu kalau cokelat manis yang baru saja ia makan, justru akan membangkitkan kenangan pahit pada saat itu.

To Be Continued

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

13 thoughts on “Destiny – Part 3”

  1. huwaaa…. makin suka ma jjong d sini .. hywa… coklat yg terakhir di makan .. itu siapa ??
    n .. kok bisa emaknya hye soo kayak gitu ??
    dasar …
    kapan kibum muncul ??#Plak!!

    lanjutan …..

  2. aduh ,, bru dpet neh ffny … Mian bru koment di part yg ini ,.. >.<

    Waaaah !! Ffny manteppp thoor … Aku suka bgeud ma jalan critanya … =]

    Dan… Coklat yg trakhir itu … Pasti itu dri Jung soo ,, yya kan ??? Kekeke~ #duaakk!! #sotoy

    Critanya kan rme nehh ,, zde ntar part slnjutnya d pnjangin yah author~~ jebaaal~~

    Yy udah ,, mian saya bnyak bacot …
    Part slnjutny ASAP …
    Hwaiting !! (??)

  3. Waduhh , cerita na penuhh misterii ..

    Sbnr na 1 tahun lalu ada kejadian apa thor ??
    Bikiin penasaraan ,,
    Ayoo thorr , aku tunggu next part na yahhh ..

  4. penasaran nih setaon lalu ada apa??
    pasti ada hubungan dengan adegan awal Jjong yang dikasih sapu tangan itu ya??
    #Reader sotoy

    lanjut thor…Jjong bener2 manja banget disini..hoho

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s