cover reason for you, Pudding's jelly 2

Reason for You, Pudding’s Jelly [1.2] (The Chronicles of Behind Her Cute Nickname)

 Reason for You, Pudding’s Jelly [1.2]

(The Chronicles of Behind Her Cute Nickname)

 

Author : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (@chandrashinoda)

Main Cast      : Lee Jinki (Onew) (SHINee), Kim Taeyeon (SNSD)

Support Cast  : Leeteuk (Super Junior)

Length            : Twoshoot

Genre              : Friendship, humor, romance

Rating             : PG-13

Credit Song : SNSD – Forever                                                                     

Summary        : There is always a reason for everything.

A reason to live,

A reason to die,

A reason to cry,

But, if you can’t find a reason to smile, can I be the reason for a while?

Disclaimer        : I don’t own all SHINee members. They’re God’s. They belong to themselves and SMent. I’m just the owner of the story.

A.N                 : Fiuh.. akhirnya berhasil juga nyelesaiin bagiannya OnTaeng couple. Jujur FF ini gak maksimal. Aku masih sibuk sama kuliah, jadi gak punya waktu maksimal buat ngurus FF ini. Maaf kalau kurang memuaskan. Dan jangan lupa komen.. hehehe… aku terima komen dalam bentuk apapun kecuali, ‘BASH atau kritik karena pairingnya!’ ok sekian, terima kasih.

 

***

 

Jinki POV

Kulangkahkan kakiku dengan gontai menuju ke kelas. Masih pukul 06.30 pagi. Aish! Kenapa gara-gara perkataan Taeyeon kemarin aku jadi susah tidur? Dan bodohnya, mengapa aku mengiyakan permintaannya? Aku memang tak tega melihatnya menderita karena terus-terusan tak punya pacar. Jujur, aku memang sedikit punya perasaan lebih padanya. Yah, sedikit melebihi teman biasa. Tapi, jika menjalin hubungan pura-pura seperti ini rasanya kurang logis.

-Flashback-

“Haahh!” aku mendesah kesal setelah dia menggigit tanganku. “Ya sudah, kalau begitu ini untukmu saja!” akhirnya aku menyerahkan semangkuk pudding yang barusan kubeli untuk mengembalikan mood-nya.

Wajah Taeyeon melunak, sepertinya ini bayaran yang pantas. Ia mulai menyendok pudding itu lalu melahapnya.

Ya, Taeyeon-ah, jangan terus-terusan bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Kalau kau mau, aku bisa mencarikan namja yang cocok untukmu,”

Taeyeon menggeleng. “Aku sudah menemukannya,” ujarnya.

Nugu?” tanyaku dengan kedua mata membulat. ‘Cepat sekali anak ini menemukan pengganti?’ pikirku.

“Kau!” Taeyeon menunjukku dengan wajah innocent.

“Hoeekk!” mendadak ayam yang ada di mulutku tersembur keluar. “Mwo?!

Aish! Jorok sekali!” Taeyeon bergidik, sepertinya jijik melihat tingkahku yang arogan. “Err, kau mau, kan?”

Aku mematung. Astaga, ada apa dengan yeoja ini?

“Kau sakit, ya?” kuraba keningnya. “Suhu tubuhmu normal,”

“Aku serius, Jinki-ya. Kau mau, tidak?” tanyanya, kembali mengkerucutkan bibirnya.

Kutatap kedua mata bulatnya, polos dan lugu. Rasanya keterlaluan jika aku menolaknya. Dan jika kuterima, apa mungkin segampang itu kami berganti status menjadi berpacaran? Aish! Kenapa aku jadi serba salah begini?

“Baik, aku mau. Tapi, hanya pacar bohongan saja. Intinya kita akan putus kalau kau sudah punya pacar. Bagaimana?”

Kulihat senyum cerah merekah di bibir Taeyeon. “Ne, aku setuju!”

-Flashback end-

 

Kutarik daun pintu ruang kelas dengan hati-hati. Secercah sinar menyeruak, sedikit menyilaukan mataku. Lebih mengejutkan dari itu. Sesosok yeoja tengah tidur dengan pulas di bangkuku. Dia…, astaga, Taeyeon?!

Ya, Taeyeon-ah, apa yang kau lakukan di sini?!” aku mengguncang tubuh Taeyeon yang masih terlelap di bangkuku.

“Mmhh, jangan ganggu. Aku ngantuk!” racaunya, masih tak terusik.

“Ini aku Jinki. Namja.. ehm! Namja bohonganmu!” aku tetap tak menyerah. Kembali kuguncang bahunya.

Mendengar kata ‘namja bohongan’ tubuhnya sedikit menegang. Perlahan ia mengangkat kepalanya, mulai menatapku dengan wajah suntuknya. Ia tak berkata apapun, hanya menampakkan seringaiannya yang mirip kuda.

“Sudah berapa lama kau di sini?” tanyaku, sedikit khawatir.

Ia menggeleng, seolah malas mengucapkan kata ‘molla’.

Aku mendesah kecil. “Kau mau apa pagi-pagi begini?”

“Ya menunggumu,” akunya polos. “Memang kenapa? Kau kan namja-ku biarpun hanya bohongan,”

“Dasar payah!” aku menoyor kepalanya. “Kau sudah makan belum?”

Taeyeon mengangguk. “Kau tenang saja, aku tak akan mogok makan karena patah hati. Ya, Jinki, pimjami aku PR matematikamu. Aku lupa mengerjakannya kemarin,”

“Ini!” aku melemparkan bukuku ke arah Taeyeon. “Biarpun tidak mogok makan, kau tetap saja mogok belajar!” rutukku, membuat Taeyeon tertawa renyah.

Gomawo!

***

Author POV

 

Jinki mengeluarkan buku biologinya. Suasana kelas yang mulai sepi akan mendukungnya untuk melakukan ini. Belajar dalam keheningan, itu adalah salah satu hobby-nya. Ia mulai mengobrak-abrik isi buku tersebut. Sistem regulasi manusia, itulah bab terakhir yang dipelajarinya semalam. Ia menumpukan tangan kanannya di pipinya, berusaha berkonsentrasi dengan apa yang sedang di bacanya.

“Jinki-ya, kau sedang apa, sih? Tidak pulang?” tanya makhluk yang masih ada di ruangan yang sama dengan Jinki.

“Aku sedang beajar, Taeyeon-ah. Aniyo, aku tidak akan bisa belajar di rumah hari ini,” jawab Jinki tanpa beralih dari bukunya.

Wae?” Taeyeon semakin penasaran dengan tingkah Jinki.

“Nanti keluarga pamanku datang. Adik sepupuku, Taemin, pasti ikut juga. Dia pasti akan merengek minta diajak bermain nanti, jadi aku belajar di sini saja dulu.” aku Jinki sambil membuka lembaran berikutnya pada buku yang tengah dipelajarinya.

“Rajin sekali kau,” puji Taeyeon. Bibir yeoja itu menyunggingkan senyum. “Kalau begitu, aku temani, ya?”

Mwo?! Aniyo, kau pulang saja. Untuk apa menungguiku di sini? Kau kurang kerjaan, apa?” cerca Jinki, merasa aneh dengan sikap Taeyeon.

Ya, kau ini sensitif sekali, sih?! Aku hanya ingin mencari udara segar saja. Err, sekalian latihan saja untuk wisuda para sunbae nanti,” Taeyeon mulai mencari akal. Tak ada salahnya latihan sendiri.

Jinki menghela nafas. Mencari udara segar? Dia tahu, itu semata-mata dilakukan Taeyeon untuk menghilangkan sakit hatinya pada Leeteuk. Kalau latihan?

“Latihan? Kau mau menyanyi?” tanya Jinki akhirnya. Selain Taeyeon sama-sama panitia dekorasi sepertinya, gadis itu juga akan bernyanyi saat perpisahan para sunbae nanti.

Taeyeon mengangguk. “Sebagai vokal utama aku harus latihan maksimal. Jessica, Tiffany, Seohyun, dan yang lain pasti berlatih keras juga,”

“Kenapa kalian tidak latihan sama-sama saja?”

Taeyeon mengkerucutkan bibirnya. “Jessica harus menjenguk Jonghyun. Jonghyun demam sejak tiga hari lalu. Tiffany ada les bahasa prancis hari ini. Yang lain juga ada urusan. Jadi, hari ini libur saja. Besok atau lusa baru kami akan latihan lagi,”

Jinki mengalah. “Ya sudah, kau latihan saja. Tapi, jangan keras-keras, nanti aku tak bisa belajar,”

“Ne, arasseo,

Taeyeon mulai melangkah ke sudut ruangan, memposisikan tubuhnya menghadap ke luar jendela. “Tak ada yang lain, kunyanyikan saja semua liriknya sendirian,”

“I want to dream forever with you.

Following the happy breeze, beneath that bright sky that blinds me,

Beautiful melodies and fresh air fills this road that I’m walking with you, do you remember?

Those awkward and unfamiliar times when we first met,

I’m thankful to you for silently taking care of me when I was hesitant and young,”

Lagu yang mengalun dengan lembut dari pita suara Taeyeon membuat Jinki sedikit tercengang. Entah apa yang merasukinya, nyanyian itu membuatnya hanyut dan merasa semakin nyaman dengan belajarnya.

“My exhausted heart beats one again,

My weak heart has found light again,

I want to hold your hand and walk like this forever,

Together with the person I love in a world just for the two of us…,”

Sekali lagi lagu yang dinyanyikan Taeyeon itu seperti menyihir indera pendengaran Jinki. Entah karena ia menyukai lagunya, liriknya, atau benar-benar menyukai orang yang menyanyikannya?

Taeyeon berhenti. Ia melangkah dan duduk di bangku yang ada di hadapan Jinki. Ia mengkerucutkan bibirnya, wajahnya tertekuk, kembali terlihat seperti orang yang tak mempunyai gairah hidup.

“Kenapa berhenti?” Jinki menatap Taeyeon yang duduk lemas di hadapannya. “Ayo lanjutkan, aku suka mendengarmu menyanyi,”

“Tidak mau! Aku lapar, Jinki-ya. Kita cari makanan, yuk!” rengek Taeyeon, kembali pada sifat aslinya.

“Hah, kau ini!” Jinki meringis. “Kenapa tidak pulang saja tadi. Dasar merepotkan. Aku kan jadi tidak bisa belajar?!”

“Maaf,” Taeyeon menunduk. “Aku kan hanya ingin belajar jadi yeoja chingu yang baik saja untukmu,”

Deg, yeojachingu? Hampir saja Jinki lupa dengan status mereka sekarang.

Status ini membuatnya bingung. Huh, tak ada pilihan lain. Jika Taeyeon memang ingin melakukan tugasnya sebagai yeoja chingu, maka Jinki juga harus menghargai ketulusan Taeyeon.

“Ya sudah, ayo kita ke rumah makan di dekat sekolah saja. Kudengar di sana makanannya enak!” akhirnya Jinki mengemas barang-barangnya, menuruti permintaan Taeyeon untuk makan siang.

Jincca? Kau tak apa jika berhenti belajar sekarang?” Taeyeon memiringkan kepalanya, sedikit bingung dengan tingkah Jinki.

Gwencaha,” Jinki tersenyum. “Di sana tempatnya tempatnya tenang. Aku bisa lanjutkan belajarku di sana,”

Taeyeon tersenyum. Ia menggendong ranselnya. “Oh, baiklah,”

Jinki meraih tangan kanan Taeyeon. Ia tersenyum sesaat sebelum akhirnya menggenggam tangan gadis itu erat. “Kau tak keberatan, kan?”

Taeyeon menggeleng. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Nyaman, rasanya nyaman dan hangat, namun menimbulkan getaran aneh yang tak bisa di simpulkan oleh logikanya.

Jinki melangkah pelan menuju ke luar ruangan. Begitu hendak keluar, langkahnya mendadak terhenti. Indera pendengarannya menangkap suara seseorang yang tak asing di telinganya.

Ekor matanya tertuju pada dua sosok makhluk yang tengah berjalan di koridor, Leeteuk dan yeoja chingu-nya.

Oppa, kita jadi kencan kan hari ini?” samar-samar percakapan mereka terdengar oleh Jinki.

“Tentu saja, Chagi,”

Jinki menghela nafas panjang. Ia melirik Taeyeon yang ada di sebelahnya. Yeoja itu terdiam. Ia menunduk sementara ujung bibirnya mulai bergetar.

Tak ada pilihan lain. Jinki menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia menarik Taeyeon ke dalam pelukannya. Yeoja itu tak boleh menyaksikan hal ini lebih jauh. Perlahan Jinki menggerakkan kedua tangannya ke telinga Taeyeon. Menutup rapat indera pendengar yeoja itu, menghindarkannya dari suara yang mampu membuatnya menangis.

“Jinki..,” lirih Taeyeon. Suara yeoja itu serak, seolah menahan tangis.

“Biarkan begini sebentar,” Jinki merapatkan tubuh Taeyeon ke dadanya. “Kau tak boleh mendengar dan melihat mereka,”

Taeyeon tersenyum tipis. “Sudahlah, aku baik-baik saja..,”

Baik-baik saja? Oh, itu tak mungkin. Jinki sama sekali tak percaya akan hal itu. Siapa yang percaya dia baik-baik saja dengan suara serak seperti itu?

“Ada kau di sini, aku tak perlu mengkhawatirkan apapun,” ucap Taeyeon lembut. Ia melepas pelukan Jinki, beralih menatap kedua bola mata namja itu yang mulai membulat.

Jinki menarik nafas sejenak. Sejurus kemudian tangannya menyentuh puncak kepala Taeyeon, mengelus rambut yeoja itu. “There is always a reason for everything. A reason to live, a reason to die, a reason to cry. But, if you can’t find a reason to smile, can I be the reason for a while?” tanya Jinki halus ketika melihat wajah Taeyeon yang sedikit murung.

Perlahan senyum Taeyeon mengembang. Jinki? Oh.., tentu saja bisa. Tak akan ada orang yang akan membuatnya tersenyum disaat seperti ini selain namja itu. “Yes, of course,”

***

“Jinki, kau tidak bosan belajar terus daritadi?” rutuk Taeyeon, bosan memperhatikan Jinki terus bekutat pada buku tanpa menyentuh makanannya.

Aniyo,” jawab Jinki polos, melanjutan kegiatan membacanya ke halaman berikutnya.

“Kau tidak lapar? Err, atau mau kusuapi?” tawar Taeyeon.

Mwo?!” mendadak Jinki menghentikan kegiatannya. Sesaat ia menatap ke sekeliling. Rumah makan itu sepi. Hanya tinggal dirinya dan Taeyeon saja.

“Ayo buka mulutmu,” Taeyeon menyodorkan sendoknya yang penuh dengan blackpaper chicken roast.

Hajiman..,

“Sudahlah, ayo buka mulutmu!” Taeyeon sedikit meninggikan nada suaranya.

Jinki membuka mulutnya. Kedua mata sipitnya memandang Taeyeon lekat-lekat. Yeoja itu terlihat cantik jika tersenyum. Jika terus-terusan seperti ini siapapun tak akan tahan.

“Nah, begitu,” Taeyeon tertawa kecil. “Hajiman, Jinki-ya, kenapa wajahmu merah? Apa makanannya pedas?”

Ne..? ah, tidak. Gwenchana,” Jinki jadi salah tingkah. Aish! Apa aku benar-benar suka padanya? Tidak boleh Jinki! Dia menyukai orang lain, batinnya.

“Ayo buka mulutmu,” Taeyeon menyodorkan lagi sendoknya yang penuh blackpapper chicken roast.

“Wah, kalian ini mesra sekali. Benar-benar pasangan serasi,” ucap seorang ahjumma yang membawa jus ke meja Jinki dan Taeyeon.

Deg, Taeyeon terperanjat. “Ne?

“Kalian akur,” kata ahjumma itu lagi. “Kau cantik, namja-mu juga tampan. Kalian serasi,”

Taeyeon tersenyum canggung, demikian juga Jinki. Mereka hanya menatap bingung ahjumma yang kini beranjak pergi setelah meletakkan dua gelas jus di meja mereka.

Taeyeon menunduk, mulai melahap pudding-nya. Perkataan ahjumma itu membuatnya canggung untuk menatap Jinki.

Sama halnya dengan Taeyeon, Jinki mulai sibuk melahap ayamnya. Sesekali ekor matanya melirik ke arah Taeyeon, namun yeoja itu sama sekali tak mau menatapnya. Hanya menunduk dan sibuk dengan makanannya.

***

Jinki menghampiri Taeyeon yang sibuk mengaduk pudding di bangkunya. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, sama sekali terlihat tak memiliki nafsu makan.

“Taeyeon-ah, kenapa kau tak makan pudding-mu?” Tanya Jinki sembari duduk di samping Taeyeon.

Taeyeon mendesah pelan. Pandangannya sama sekali tak teralih dari pudding yang sedang diaduknya. “Jinki..,” ia bergumam pelan. “Tentang perkataan ahjumma di rumah makan kemarin jangan dimasukkan ke hati, ya?”

Jinki tersenyum, mulai mengacak-acak rambut Taeyeon. “Sudahlah, jangan khawatir. Toh ahjumma itu tak mengatakan hal yang buruk tentang kita,”

Taeyeon mengangkat wajahnya, menatap kedua mata Jinki yang terkesan polos. “Maaf, karena hubungan ini aku menyusahkanmu,”

Pandangan Jinki berubah serius. Menyusahkan? Tidak.., sama sekali tidak. Bahkan hatinya berkeinginan untuk terus melanjutkan hubungan ini meski hanya sebatas pura-pura.

“Sudahlah, jangan bahas itu lagi,” Jinki mengalihkan pembicaraan. “Tadi pagi kudengar gossip kalau Leeteuk Hyung bertengkar dengan yeoja chingu-nya,”

“Bertengkar?” Taeyeon memiringkan kepalanya. “Wae?”

Molla,” Jinki mengangkat bahunya. “Kau kira aku detektif sampai menyelidikinya?”

“Hahaha!” Taeyeon terkekeh. Mendengar kata ‘bertengkar’ membuka salah satu celah kepenatan di hatinya.

Jinki melirik jam sekilas. “Masih ada 15 menit lagi sebelum bel masuk. Barusan aku melihat Leeteuk Hyung ke perpustakaan. Kau mau menemuinya?”

Taeyeon mengangguk semangat. “Boleh, ayo!”

***

Suasana perpustakaan sepi. Hanya terlihat 1, 2 makhluk yang berlalu-lalang di sana. Taeyeon dan Jinki mulai mengamati setiap sudut ruangan, mencari-cari sosok Leeteuk.

“Dia ada di sana!” bisik jinki begitu meihat Leeteuk duduk di meja sebelah utara.

“Ayo kita hampiri,” Taeyeon menarik tangan Jinki.

Aniyo!” Jinki menolak. “Kenapa aku ikut? Kau saja yang ke sana,”

Taeyeon menatap Jinki. Kedua bola matanya membulat. Sendiri? Entah mengapa ia merasa tak yakin untuk melakukannya.

“Ayolah, aku hanya akan merusak suasana jika ikut ke sana,” ucap Jinki lagi.

Taeyeon masih terdiam. Merusak suasana? Benarkah? Sepertinya tidak. Taeyeon justru akan lebih mendapatkan kepercayaan diri jika Jinki ada di sampingnya.

“Cepatlah! Nanti keburu bel masuk berbunyi,” Jinki mendorong punggung Taeyeon.

Namja itu terlihat begitu yakin. Bagaimana bisa Jinki jadi lebih semangat dibandingkan dirinya?

Taeyeon menghela nafas pelan. Tidak baik mengecewakan kepercayaannya. “Ne..,” ia mengangguk, mulai melangkahkan kakinya mendekati Leeteuk.

Deg, deg, deg, mendadak detak jantungnya menjadi tak karuan. Ini rasa yang wajar. Setiap gadis pasti akan merasakan hal yang sama jika menemui orang yang mereka sukai.

An.. anyeong, Leeteuk Oppa!” sapa Taeyeon pelan sambil berdiri kikuk di dekat Leeteuk.

Leeteuk menoleh. Ia tersenyum tipis melihat kedatangan Taeyeon. “Annyeong, Taeyeon-ah! Kau di sini juga rupanya. Mana Jinki? Tumben kau tidak bersamanya?”

“Err, Jinki?” Taeyeon jadi semakin salah tingkah. Bola matanya mulai berkeliling mencari-cari sosok Jinki. “Dia sedang membaca,” jawabnya cepat. “Di sebelah sana!” Taeyeon menunjuk ke pojok perpustakaan. Ya.., Jinki memang sedang membaca sebuah buku di sana.

“Oh..,” Leeteuk mengangguk. “Ngomong-ngomong, apa yang membawamu kemari?”

Taeyeon menggerogoh sakunya. “Aku ingin memberi Oppa ini,” ia menyodorkan sebatang lollipop. “Maaf jika aku terkesan ikut campur. Tadi aku mendengar kalau oppa sedang bertengkar dengan Hyori Eonnie,” paparnya, sedikit terdengar kesal. “Mungkin dengan makan yang manis-manis oppa jadi sedikit lebih baik,”

Leeteuk tersenyum lagi. “Oh, masalah itu. Bukan hal yang besar. Kau tak perlu khawatir. Terima kasih, ya? Ini akan sangat membantu,” Leeteuk meraih lollipop yang diberikan Taeyeon dengan senang hati.

Taeyeon menunduk, malu menatap Leeteuk. “Ya sudah, aku kembali dulu. Jinki bisa marah jika aku lama di sini,”

“Ne. Sekali lagi gomawo, Taeyeon-ah,”

Taeyeon berbalik. Kedua matanya terpejam, ia menggigit bibir bagian bawahnya. Senang rasanya bisa membuat Leeteuk tersenyum. Predikat yang hebat, bisa membahagiakannya meski dia bukan yeoja chingu-nya.

“Jinki-ya, ayo kembali ke kelas,” Taeyeon menepuk pundak Jinki, masih dengan senyum cerianya.

“Sebegitu senangkah kau?” tanya Jinki, sedikit menunjukkan ekspresi ‘kau berlebihan’.

Taeyeon mengernyitkan alisnya. Ia menangkap aura aneh pada Jinki. “Tentu, aku senang bisa membuatnya tersenyum,” ujarnya, terdengar agak bingung.

“Oh..,” Jinki merespon pendek, kini wajahnya tak berekspresi. “Sudah hampir bel. Ayo kembali ke kelas,” ucapnya, mendahului Taeyeon.

“Tunggu!” Taeyeon mencegat lengan Jinki. “Kenapa kau dingin begitu? Apa aku ada salah denganmu?”

Jinki menatap Taeyeon tajam. Entah mengapa ia ingin menjawab ‘ya’ pada pertanyaan itu. Kedua mata bulat gadis itu terlihat bingung sekaligus bersalah.

Jinki menghela nafas. Dadanya terasa sedikit perih. Entah udara sedang panas atau ia memang menahan nafas sejak tadi. “Gwenchana,” sekali lagi ia merespon pendek sambil tersenyum tipis.

Taeyeon mengikuti Jinki menuju ke kelas, tetap tak mengerti dengan sikap Jinki. Ia menangkap ketidakjujuran pada tatapan mata namja itu. Ia mengenal Jinki lebih baik dari siapapun. Termasuk dalam hal satu ini. Dia tahu bahwa namja itu baru saja membohonginya.

*TBC*

©2011 SF3SI, Chandra.


This post/FF has written by Chandra, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

52 thoughts on “Reason for You, Pudding’s Jelly [1.2] (The Chronicles of Behind Her Cute Nickname)

  1. itu itu jealous namanya!!! masa Taeyeon enggak peka?! ya ampun seneng banget deh bisa baca ff OnTae . aku cari kemana mana susah eh ternyata nemu satu disini !!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s