They Suddenly Came into My Days [FINAL]

Title                       : They Suddenly Came into My Days [FINAL]

Author                  : myee

Main Casts          : Kim Soona, SHINee members

Support Casts    : Kim Soo Ro, Althea, Im Yeon Ji, Seo Jeo Hyun.

Genre                   : AU (School), Friendship, Family, slight Romance.

Length                  : Sequel

Rating                   : General

—–

Author’s POV

Two Weeks Later

Asan Medical Center, Seoul.

Putih.

Dan lagi-lagi bau steril.

Sedikit demi sedikit, perlahan Soona membuka matanya. Selang infus tertempel di tangan kirinya dan perban terlilit rapi di kepalanya. Beberapa luka memar dan luka gores terlihat jelas di kedua tangan dan kakinya.

“Soona!”

Gadis itu langsung disambut oleh dekapan erat dari sang ayah.

“Terima kasih, Tuhan… Syukurlah kau sudah sadar, nak…”, ucapnya sambil melepas dekapannya. Air mata mulai mengalir dari mata beningnya. “Appa sangat mencemaskanmu! Kau koma selama dua minggu, dan itu benar-benar membuat appa frustasi, kau tahu?”

Gadis itu hanya tersenyum. “Aku… baik-baik saja, appa… Sekarang aku di mana?”

“Di rumah sakit. Sebaiknya appa panggilkan dokter dulu, ya? Keadaanmu harus segera diperiksa…”, ujar Sooro sambil menekan tombol yang ada pada dinding sebelah tempat tidur itu. Tidak lama kemudian, seorang dokter masuk ke dalam ruangan itu. Dia langsung memeriksa keadaan luka benturan di kepala Soona, memeriksa tekanan darahnya dan kemudian denyut jantungnya.

“Nona Kim tidak apa-apa, tuan. Saya hanya menyarankan agar dia banyak beristirahat, agar lukanya bisa segera tertutup. Kepalanya juga sudah membaik, saya rasa dalam beberapa hari ke depan bisa sembuh total. Nah, saya permisi dulu”, ujar dokter itu sebelum membungkuk dan keluar ruangan.

Sooro kembali duduk di samping anak satu-satunya itu dan memegang tangannya. “Syukurlah kau sudah sadar, Soo. Syukurlah…”

Soona terkekeh, “Ya ampun appa, aku baik-baik saja… Appa tidak usah secemas itu…”

“Tidak cemas bagaimana?! Kau itu koma, Soo! K-O-M-A! Dua minggu! 14×24 jam! Dan selama itu kau hanya terbaring di sini, kau tahu?! Appa benar-benar takut kau tidak akan membuka matamu lagi, Soo! Aish, setidaknya pikirkanlah perasaan appamu ini!”

“Euuh… Iya deh, appa. Aku mengerti…”

Astaga, mulai deh, appa (-__-“)

“… Soona, dengar.”

Soona memusatkan matanya kembali pada ayahnya itu. Pandangan lelaki paruh baya itu berubah menjadi sedikit serius. “… Maafkan appa, Soo.”

“Maafkan appa… yang sudah menjerumuskanmu dalam masalah ini. Appa sungguh… benar-benar menyesal. Apa kau tahu perasaan appa waktu melihatmu berlumuran darah saat kejadian itu? Kau pingsan, bahkan koma. Yang paling appa takutkan saat itu adalah nyawamu, nyawa anak appa satu-satunya, Soo.”

“Appa takut kehilanganmu. Entah apa yang akan appa lakukan kalau kau meninggal dunia. Entah bagaimana hidup appa selanjutnya kalau kau pergi meninggalkan appa, Soo. Appa… ternyata bukan ayah terbaik untukmu, Soona. Maafkan appa…”, ungkapnya kemudian ia menekuk kepalanya sedikit.

Gadis berumur 17 tahun itu terhenyak sesaat, namun akhirnya ia tersenyum lembut, “Iya appa. Soona tidak apa-apa, kok. Soona masih ada di sini, di samping appa. Dan yang penting sekarang, appa juga baik, kan?”

Sooro kembali menatap wajah anaknya itu dengan heran, “Kau masih mengkhawatirkan keadaan appa di saat keadaanmu seperti ini? Kaulah yang menderita, Soo. Bukan appa!”

Soona hanya mendengus berat, “Appaa~ Lihat. Sekarang aku berada di hadapanmu dengan keadaan yang bisa dibilang baik. Memang, dua minggu kemarin aku koma, yah, sesuai apa yang baru appa bilang tadi. Tapi, yang kuinginkan sekarang hanyalah kesehatan dan keselamatanmu, appa. Karena kaulah satu-satunya keluarga yang kupunya, betul, kan?”

“Yah, memang appa kadang selalu pergi jauh, seperti tidak ada lagi waktu untukku. Appa jarang di rumah, selalu sibuk dengan segala pekerjaanmu sebagai kepala negara. Aku akui kalau aku itu benci appa, sangat benci malahan.”

Sooro terdiam. Ia menatap sedih kedua bola mata anak perempuannya itu.

“Tapi ternyata aku salah. Appa melakukan itu karena memang sudah tuntutan kerja. Mungkin aku saja yang sifatnya masih kekanakan. Dan aku yakin, appa pasti menyayangiku, apapun yang terjadi. Dan aku sadar, aku ini sangat sayang appa. Yang paling kuinginkan di dunia ini adalah keselamatanmu, appa”, lanjut Soona panjang lebar.

Tanpa pikir panjang lagi, Sooro kembali memeluk anaknya itu erat. Ia menyesal telah membuat anak satu-satunya itu terluka seperti ini. Ia menyesal karena telah meninggalkan Soona di saat gadis itu membutuhkan sesosok ayah.

“Maaf…Maafkan appa, Soo…”, isaknya. Soona hanya tersenyum tipis di dalam pelukan orang kesayangannya itu. Ia balik memeluknya, “Iya appa. Sudahlah, yang berlalu biarkan berlalu.”

“Oh iya, appa. Itu… Ho Dong dan Jae Jin… Bagaimana nasib mereka?”, tanya gadis itu saat ayahnya melonggarkan dekapannya.

“Oh, mereka? Appa menuntut mereka agar dihukum seberat-beratnya, sesuai yang telah mereka perbuat. Keputusan hakim akan keluar besok. Doakan saja, Soo.”

“Lalu yang lain?

Kim Sooro mengerutkan dahinya. Beberapa detik kemudian ia mengerti apa maksud anaknya itu, “Maksudmu mereka berlima?”

Soona mengangguk mantap.

“Mereka sedang berkumpul di kamar Jinki. Memangnya kenapa? Kau ingin menjenguknya?”

“Lho? Jinki oppa… memangnya dia kenapa?”

Appanya menarik napas panjang, “Ia…tertembak. Dan…ehm, dia sempat koma”. Soona mengangkat kedua alisnya tidak percaya. “Mwo? Kenapa bisa? Sekarang dia bagaimana? Baik kan?”

“Ya, dia sudah baikan. Hanya butuh beberapa hari untuk perawatan dan dia sudah diperbolehkan pulang”.

Soona menghela napas lega. Untunglah, tidak terjadi apa-apa pada namja itu. Walaupun setelah kejadian dua minggu lalu, gadis ini tetap menganggap Onew sebagai kakaknya. Ia yakin pasti ada suatu alasan mengapa Onew melakukan hal seperti itu.

Tidak mungkin kan seseorang yang begitu baik langsung berubah drastis menjadi seorang iblis?

“Oppa, boleh nanya sesuatu?”

“Hm? Apa?”

“Tentang Onew oppa… Dia… Apakah appa tahu… Kenapa dia melakukan itu?”

Sooro menaikkan sebelah alisnya. Kemudian ia mendekatkan kursinya dan menjelaskan alasan Onew melakukan itu. Tentang ancaman Ho Dong dan Jae Jin, tentang keluarganya, tentang semuanya. Soona hanya bisa mengangguk mengerti. Ia mengerti betul apa arti keluarga, dan dia pasti akan melakukan hal yang sama apabila ia adalah Onew.

“Nah, jadi mau ke sana tidak?”, tanya appanya lagi sambil mengeluarkan lipatan kursi roda dari bawah ranjang rumah sakit itu. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Ia sedikit ‘rindu’dengan kelima namja yang sudah menjadi bagian hidupnya itu.

Sooro mendorong kursi roda itu menuju elevator, turun ke lantai tiga, lantai perawatan kelas satu. Tadinya ia hendak memasukkan Onew ke bangsal perawatan dengan kelas yang sama seperti Soona, namun yang lainnya –Jonghyun, Taemin, Minho, dan Key– menolaknya. Mereka beralasan bahwa mereka ini hanya sekedar ‘pengawas’ dan mereka pikir tidak sepantasnya mereka diberikan fasilitas yang berlebihan alias sesuatu yang serba mewah. Sooro hanya menuruti permintaan mereka, namun ia tetap menyuruh beberapa perawat dan dokter untuk memberi Onew dan yang lainnya perawatan terbaik.

Knock.Knock.

Soona mengetuk pintu bernomor 3010 itu beberapa kali sebelum ia mengintip sedikit ruangan di dalamnya. Minho, orang yang pertama kali menyadari keberadaan Soona di sana, langsung berlari menuju pintu itu dan membukanya. “Soo? Dan oh, sajangnim…”, Minho membungkuk dalam pada atasannya itu, dibalas juga dengan anggukan ramah dari Sooro.

“Kau sudah sadar? Bagaimana lukamu?”, tanya namja jangkung itu. Soona hanya tertawa kecil, “Aku baik. Kau?”

“Hanya ini. Yang lainnya sih normal”, jawabnya sambil menunjuk lengan kanannya yang digips. “Hah? Kok bisa?”, tanyanya heran.

“Euh. Ceritanya panjang. Masuklah.”

Sooro terlihat sedikit berbicara pada Minho dan namja itu mengangguk. Kemudian Minho mengambil alih untuk mendorong kursi roda Soona menuju tengah ruangan, di mana terletak tempat tidur dengan Onew yang tengah tertidur pulas di atasnya.

“Nggh~ Noona?”. Taemin yang sedang terlelap di pinggir tempat tidur pun akhirnya bangun karena mendengar suara-suara masuk ke dalam ruangan itu. Ia berdiri dari kursinya dan membungkuk dalam pada Kim Sooro.

“Mana Jonghyun dan Kibum?”, tanya Sooro saat dia tidak melihat sosok kedua namja itu di ruangan ini. “Jonghyun hyung dan Key hyung sedang ke bawah, membeli makanan. Sebentar lagi pasti mereka kembali”, jawab Taemin.

“Bagaimana… Keadaan dia, Tae?”, ujar Soona dengan cemas. Matanya terpaku pada sosok Jinki yang tengah di alam tidurnya.  “Hyung sudah sadar kok dari lima hari yang lalu. Tapi sepertinya ada pengaruh obat, jadinya hyung tidur terus, untuk ngebantu pemulihan katanya.”

“Kalau Jonghyun oppa dan Kibum?”

“Jonghyun oppa tidak mengalami luka serius. Ia hanya mendapat luka gores saja. Bisa dibilang kalau Jonghyun hyung dan aku adalah yang paling normal keadannya. Kalau Kibum hyung… Luka di kepalanya sempat membuatnya kritis, tapi beberapa hari setelah itu keadaannya langsung membaik. Hanya pemulihan sekitar beberapa hari lagi dan kesehatannya pasti langsung kembali.”

“Syukurlah…”, Soona mendesah lega. Sangat lega. Untunglah, mereka berlima tidak apa-apa.

“Soo, appa mau keluar, ada urusan. Kau di sini saja dulu bersama yang lain, arasseo?”, kata Sooro lembut. “Lama enggak, appa?”

“Tidak. Hanya sekitar satu atau dua jam. Oh ya, Minho, Taemin. Titip anakku.”

Minho dan Taemin mengangguk mengerti. Lantas Sooro keluar dari ruangan tersebut, dan tidak lama kemudian, Jonghyun masuk ke kamar itu dengan Key berjalan di belakangnya.

“Soo!”, Jonghyun langsung berlari menuju gadis itu dan berdiri di hadapannya. “Bagaimana lukamu? Masih sakit? Yang kau butuhkan sekarang apa? Makan? Minum? Buah? Atau apa?”, tanya bertubi-tubi.

Soona hanya berdecak dan mencubit pipi Jonghyun, “Kau sungguh cerewet ya oppa. Aku ini baik-baik saja, jangan terlalu khawatir, ah. Aneh liatnya”, ujarnya santai. Jonghyun hanya ber-aduh ria saat kulit wajahnya itu ditarik cukup keras.

Seseorang menepuk-nepuk puncak kepala Soona dengan pelan. Gadis itu melepaskan cubitannya pada pipi Jonghyun dan mendongak. Terlihat sosok Key yang tersenyum padanya. “Kau sudah baikan, huh?”, tanya namja itu.

“Yup”, ujar Soona sambil menyunggingkan senyumnya. Key menaruh sekantung plastik berisi makanan di meja dan duduk pada sofa yang terletak di dekat jendela. Ia memandang keluar, melihat pancaran sinar lampu di tengah langit malam itu.

“Hei, sekarang jam berapa?”, tanya Key pada keempat orang yang lain. Taemin melihat jam tangannya dan menjawab, “Jam sebelas. Kenapa?”

“Berarti hyung sudah tidur selama… Delapan jam, ya? Lama sekali dia tidur. Dia mimpi apa sih?”, tanya Key sambil melipat tangannya dan melihat ke arah Onew.

“…… Aku mendengarmu, Key.”

Tiba-tiba semua mata tertuju pada Onew. Namja yang paling tua di antara mereka itu tersenyum dengat mata yang masih terpejam. Key menyeringai kecil dan segera berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Onew dan menjitak kepalanya pelan.

“Bilang kalau kau sudah bangun, bodoh”, ujarnya cuek. Onew hanya bisa mengusap-ngusap dahinya dan meringis, “Bersikap lembut sedikitlah, Key. Aku ini masih sakit”. Key hanya bisa tertawa kecil dan membantu Onew untuk duduk bersender pada bantal besar miliknya itu.

Seisi ruangan itu pun tertawa, tidak terkecuali Soona. Onew mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap yeoja itu dengan pandangan sayu. “…Soo…”, lirih Onew.

Jujur, ia merasa sangat bersalah pada gadis itu karena telah membohonginya. Apabila ia sekarang berada di posisi Soona, pasti ia akan membenci dirinya yang telah menjerumuskan mereka semua –yang bisa ia anggap sebagai keluarganya– ke dalam bahaya.

“Yep?”, tanggap Soona santai. Ia mendekatkan kursi rodanya –dibantu oleh Minho– ke dekat tempat tidur Onew dan balas menatapnya.

“Tentang kejadian itu…  Aku–“

“Whoooops! Tidak! Aku tidak mau dengar lagi~!”, potong Soona. Onew hanya tertunduk lesu, menganggap bahwa yeoja itu tidak akan pernah memaafkannya.

“Pertama, oppa pasti tahu kalau aku merasa sangat kecewa dengan oppa saat kau menyerangku waktu malam itu.”

“Kedua, aku tidak tahu apa yang oppa perbuat setelahnya sampai aku, Taemin, Jonghyun oppa, Minho, dan Kibum bisa terluka seperti ini.”

Onew makin menekuk kepalanya. Ia makin merasa bersalah. Minho, Key, Jonghyun, dan Taemin saling bertukar pandangan, sebelum menatap dua orang di hadapan mereka tersebut.

“Ketiga, aku yakin oppa punya alasan yang kuat di balik semua ini, dan aku tahu itu apa.”

“Dan keempat…”. Soona mengambil napas panjang dan tersenyum, “ Kau tetaplah Jinki oppa yang kukenal selama tujuh bulan ini. Aku yakin.”

Onew mengangkat kepalanya dan memandang yeoja itu dalam. “Tapi Soo, aku–“

“Heits! Kan aku sudah bilang, aku-tidak-mau-dengar-lagi. Yang berlalu, biarkan berlalu. Toh sekarang aku sudah baikan, yang lainnya juga sudah baikan, appa selamat, semuanya dalam keadaan baik. Iya kan? Perlu oppa ketahui kalau penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Tapi, di balik penyesalan itu pasti ada manfaatnya, kan?”

Soona meraih tangan Onew dan menggenggamnya erat. “Aku sudah tahu semuanya dari appa. Dan oppa, kau tidak bersalah. Kau hanya dimanfaatkan oleh mereka. Hmm, kalau aku jadi oppa, pasti aku akan melakukan hal yang sama.”

Onew hanya terdiam. Di belakang Soona berdiri Jonghyun, Taemin, Key, dan Minho yang tengah tersenyum, sama seperti gadis itu. “Jadii… Oppa jangan merasa bersalah lagi, oke?”

Namja itu hanya bisa terhenyak. Betapa bodohnya dia mengkhianati mereka. Betapa bodohnya dia rela menuruti perintah busuk Jae Jin dan Ho Dong yang berniat merampas nyawa mereka. Ia baru menyadari bahwa kelima sosok di hadapannya sekarang adalah sosok keluarga –atau lebih tepatnya adik– yang harus ia lindungi. Ia juga baru menyadari bahwa keberadaan mereka mungkin sangat berarti di kehidupannya sekarang.

Tanpa disadari, setetes air mata sudah mengalir dari pelupuk matanya. “Aish~ hyung. Sejak kapan kau jadi cengeng begini sih hah?”, ujar Taemin sedikit terkekeh. Onew ikut tertawa kecil sambil mengusap cairan bening yang keluar dari matanya itu. Yah, keadaan sudah kembali normal.

—–

Dua hari berikutnya, diadakan sidang mengenai kasus yang terjadi dua minggu itu. Sooro tengah pergi ke pengadilan, menghadiri sidang yang menyangkut pemerintahannya itu. Ia bersikeras untuk menghukum Ho Dong dan Jae Jin seberat-beratnya. Namun, ia juga harus melihat hukum pidana yang berlaku, karena perintah presiden tidaklah absolut, bukan?

Soona tengah duduk di atas kursi roda dengan sweater melapisi badan mungilnya, menatap hamparan langit luas membentang yang berada di atas kepalanya. Sinar matahari senja kali ini sepertinya sedang baik. Biasanya di akhir musim gugur seperti ini matahari jarang menampakkan dirinya. Yah, mungkin pertanda baik.

Hot lemon tea-mu”, ujar seseorang sambil menyodorkan sekaleng minuman berwarna kuning itu. Soona menerimanya, dan kembali menatap ke atas.

“Mana Yeon Ji dan Jeo Hyun? Padahal aku sudah membelikan minum untuk mereka juga”, keluhnya.

“Mereka buru-buru pulang. Ada tambahan tugas dari Yang-songsaenim. Mereka kan bulan lalu sibuk lomba fotografi dan basket, jadinya harus diganti sekarang”, jawabnya sambil menyesap minuman hangat itu.

“Ooh, begitu”, ujarnya sambil membuka pengaman kaleng kopi susunya. Soona melongok ke arah namja yang tengah berdiri di sampingnya itu, “Yang lain mana?”

“Onew hyung lagi diperiksa. Kata dokter perban di dadanya boleh dibuka sekarang karena lukanya sudah tertutup total. Taemin menemaninya. Minho dan Jonghyun hyung tadi keluar, entah ke mana.”

Soona hanya mengangguk. Key meneguk  habis minumannya dan melemparnya ke tempat sampah terdekat. Ia mendorong kursi roda Soona lebih ke depan, menuju pagar pengaman dari atap gedung rumah sakit itu. Memang, dari sana pemandangan kota Seoul bisa terlihat lebih jelas.

Soona merasakan semilir angin yang mulai menghampiri dirinya. Key menyadari sesuatu, tubuh gadis itu sedikit menggigil. Laki-laki itu pun tertawa kecil, “Kau kedinginan?”, tanya Key. Soona menggeleng dan menyesap lagi minumannya.

“Soo.”

“Hm?”

Namja berumur 18 tahun itu tiba-tiba mendekap Soona dari belakang. Key melingkarkan tangannya pada leher Soona, dan ia menopangkan dagunya pada bahu kiri milik gadis itu.

“Err~ Kibum? Kau–“

“Tolong…. Biarkan ini… Sebentar saja.”

Tubuh Soona seakan membeku. Ia tidak bisa berbuat apapun. Ia tidak mengerti mengapa salah satu pengawasnya ini tiba-tiba memeluknya seerat ini. Ia bisa merasakan hembusan napas Key pada pipi kirinya. Saat Soona melirik pada namja di sampingnya, mata namja itu terpejam. Entah sejak kapan tiba-tiba muka gadis ini sedikit menghangat. Dan entah sejak kapan, ia merasa aman dan nyaman apabila Kibum berada di sisinya seperti sekarang.

“Terima kasih, Soo.”

“Untuk… apa?”, tanyanya sedikit gugup.

Key menarik napas panjang, “Untuk kejadian malam itu. Terima kasih sudah melindungiku. Jujur, pada saat melihat kau menutup matamu, kupikir kau…”. Soona menggeleng pelan. Ia mengangkat tangannya dan meneyentuh lengan Key yang melingkar di sekeliling bahunya. “Tenang, Kibum. Aku masih di sini, ya kan?”

Namja itu tersenyum tipis. Ia makin mengeratkan dekapannya itu. “…Nan… nega joh-a”, bisik Key pelan pada telinga kiri Soona.

Gadis itu terkesiap. “Ki-Kibum?”

Nan nega joh-a, Soo.”

“… Kibum…aku… belum…”

Key perlahan melepas pelukannya dan berdiri di depan Soona. Ia tersenyum hangat,  “Aku tahu ini terlalu buru-buru. Tapi… Aku hanya ingin kau tahu tentang hatiku. Itu saja.”

Soona menggigit bibir bawahnya. Ia bingung. Laki-laki di hadapannya ini menyebalkan. Tapi di sisi lain, ia bisa menjadi sosok yang hangat dan menyenangkan. Ia juga bisa menjadi sandaran gadis itu apabila ia sedang rapuh.

Ya Tuhan, aku bingung. Ini terlalu tiba-tiba.

Seakan bosan menunggu, Key mendekatkan wajahnya pada wajah Soona dan mengecup puncak gadis itu dengan lembut. Ia juga sedikit menggusak rambut Soona dengan pelan, menyiratkan rasa sayangnya pada gadis itu.

“Kalau kau tidak jawab sekarang, tidak apa. Tapi… aku tidak yakin…”, ujar Kibum dengan nada yang sedih. Soona mendongakkan kepalanya, “… Maksudmu?”

Key hanya menggeleng dan kembali memampangkan senyumnya, “Aniya. Tidak apa-apa. Akan kutunggu. Sampai kapanpun”, ujarnya sambil menggenggam tangan Soona erat.

Di sisi lain –tepatnya di balik pintu masuk atap gedung– Jonghyun tengah menatap Minho dengan pandangan sedih. “Kau tidak apa, Minho? Aku tahu sebenarnya kau– ”, ujarnya.

Minho menggeleng dan tersenyum tipis, “Aniya, hyung. Gwaenchana. Aku juga tahu sebenarnya Key menyukai gadis itu. Tentang perasaanku… Yah, pertama memang aku menyukainya. Namun lama kelamaan, aku sadar rasa itu sedikit berbeda dari rasa sayang seorang pria terhadap wanita. Hmm, mungkin bisa dibilang perasaanku terhadapnya hanyalah rasa sayang seorang kakak terhadap adik.”

“Lalu? Karena apa?”

“…Besok.”

Jonghyun menaikkan kedua alisnya. Ia pun ikut tersenyum pahit mendengarnya. “Sudahlah Minho. Tugas kita sudah selesai. Kim sajangnim juga sudah memutuskan untuk menyerahkan separuh pekerjaannya pada Young Jin sajangnim , jadi beliau bisa lebih intens berada di dekat anaknya itu. Bisa kubilang, tugas kita kali ini sudah terselesaikan dengan baik. Ya, kan?”

Minho hanya tertawa kecil dan membenarkan perkataan Jonghyun. “Yah, kau benar hyung. Tapi, entah kenapa ini sulit. Dia… Sudah kuanggap sebagai adikku, sebagai keluargaku.”

“Aku juga berpikir hal yang sama”, tanggap Jonghyun. “Lebih baik kita hampiri saja mereka berdua, tampaknya kecanggungan di antara Key dan Soo sudah reda”, tambahnya.

Minho mengangguk dan berjalan keluar, menghampiri Key dan Soona yang berada di sudut atap gedung. Di belakangnya menyusul Jonghyun dengan ekspresi biasa, namun senyum tipis yang menyiratkan kesedihan bisa terlihat dengan jelas.

—–

The next day, Soona’s Room.

“Appa.”

Perkataan Soona berhasil membuat appanya berhenti mengupas kulit apel yang berada di tangannya. “Ada apa, Soo?”, tanya Sooro.

“Errr~ Mana  Jinki oppa, Jonghyun oppa, Kibum, Minho, dan Taemin? Kok tidak kelihatan?”

Appanya terdiam sebentar, sebelum akhirnya tersenyum. “Tugas mereka sudah selesai. Dan mereka sudah kembali pada kehidupan mereka masing-masing.”

“Oh… EH? Eh eh, tunggu. Maksud appa?”

Kim Sooro melenguh panjang. “Tugas mereka adalah menjagamu selama appa tidak di sampingmu, Soona. Dan sekarang appa akan terus berada di Korea. Appa memutuskan untuk menyerahkan separuh urusan kenegaraan appa pada Young Jin (wapres Korea).”

“Hah? Appa, tunggu. Otakku belum bisa mencernanya. Apa maksudnya?”

“Sehabis sidang kemarin, appa langsung mengadakan rapat kenegaraan, dan appa memutuskan untuk melakukan hal itu. Jujur saja, tidak mungkin kan appa melakukan urusan negara ke luar negeri semuanya sendirian? Itu membebankan appa, sayang.”

“Lalu Ho Dong dan Jae Jin bagaimana?”

“Hukuman penjara seumur hidup”, ucapnya singkat.

 “Ya Tuhan appaaa, kok aku sama sekali tidak tahu, sih?”

“Kemarin kau tidak menyalakan televisi kan? Hari ini juga dari pagi kau tidak menonton berita. Jelas kau tidak tahu”, ujarnya santai sambil meletakkan piringnya ke atas meja.

 “Oh iya, tentang mereka berlima…  Apa kau tahu mengapa ayah merekrut mereka untuk mengawasimu sedekat itu?”. Soona menggelengkan kepalanya. Ia baru sadar, ia sama sekali tidak mengetahui alasan ayahnya itu. Yang ia tahu, mereka semua datang hanya untuk mengawasinya. Itu saja.

 “Alasannya karena ada surat ancaman, yang isinya tentang penculikan dirimu, Soona. Appa menyuruh mereka agar selalu mengawasimu di mana pun kau berada. Appa juga memerintahkan mereka untuk tinggal sementara di rumah kita, agar tugas mereka lebih mudah dilakukan. Dan akhirnya mereka melaksanakan tugasnya dengan baik. Appa tidak menyesal merekrut para namja itu”, lanjutnya.

Soona menatap ayahnya tersebut dalam. “Kenapa appa tidak langsung memberitahuku dulu?”

Sooro menggusak rambut anaknya itu pelan, “Appa tidak ingin membuatmu takut dan cemas. Itu saja”. Soona mengerucutkan mulutnya. “… Mereka berlima… Jadinya tidak akan kembali lagi ke sini?”, lanjut gadis itu.

“Tidak. Dan oh, ini ada surat untukmu”. Sooro memberikan secarik kertas pada anaknya tersebut. Gadis itu kemudian membuka dan membacanya secara perlahan.

Hei, Soo~

Kami harap keadaanmu sudah sangat membaik saat kau membaca surat ini.

Kami memutuskan untuk kembali ke kehidupan kami masing-masing karena tugas kami untuk melindungimu sudah selesai.

Yah, tidak hanya itu, kami juga masih punya tugas lain.

Maaf kalau kami sudah mengganggu hidupmu.

Maaf juga kalau tugas ini tidak kami kerjakan dengan baik.

 

Ayahmu sudah mengatakan bahwa ia akan selalu berada di sampingmu mulai sekarang, dan ia berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Kim-sajangnim juga masih mempunyai banyak pengawal yang tentunya jauh lebih baik daripada kami berlima.

Jadi, kami pikir tidak ada gunanya lagi kalau kami masih berada di sampingmu, Soo.

Namun di sisi lain, bagi kami keselamatan dan kebahagianmu di atas segalanya.

 

Saat kau terbaring koma, jujur saja, kami semua sangat khawatir tentangmu. Tapi doktermu mengatakan bahwa keadaanmu makin hari makin membaik. Kami akhirnya bisa bernapas lega saat kau sadar, dan kami makin membulatkan keputusan kami untuk melepas tugas ini.

Oh, kami juga meminta maaf sekali lagi  soal Jinki hyung, ya?

Baiklah, mungkin ini yang bisa kami sampaikan padamu.

Tetaplah mejadi seorang Kim Soona yang kami kenal, arasseo?

 

-Jonghyun, Jinki, Kibum, Minho, Taemin–

Soona menatap kosong surat itu dan larut dalam pikirannya sendiri.

Tidak ada lagi Jonghyun yang selalu duduk di sampingnya, membantunya untuk menulis dan mengaransemen lagu, kemudian bermusik bersamanya.

Tidak ada lagi sosok kakak seperti Jinki yang selalu mendengar segala jenis curahan hati Soona dan selalu memberinya saran apabila Soona membutuhkannya.

Tidak ada lagi Taemin, yang Soona anggap sebagai namdongsaengnya, yang selalu tertawa bersamanya di manapun dan kapanpun juga.

Tidak ada lagi sosok Minho yang selalu menemani dan menenangkan dirinya kalau ia sedang dirundung masalah.

Tidak ada lagi sosok Kibum yang selalu menyebalkan, namun sangat hangat dan bersahabat saat Soona sedang membutuhkannya.

Gadis itu melirik pergelangan tangan kanannya. Gelang berwarna merah-biru-putih itu masih terikat rapi di sana, dan tanpa sadar Soona memegangnya erat.

Sepertinya aku akan merindukan kalian.

Dan Kibum, aku belum menjawabnya.

Jadi ini maksud ketidakyakinan yang kau katakan kemarin?

“Semua datang dan pergi terlalu tiba-tiba. Ya Tuhan, aku bingung…”, lirihnya.

 *******

 Still Author’s POV

Two years later @Ecole Normale de Musique de Paris, France.

 

Soona! Attendre! (tunggu!)”

Seorang gadis berambut blonde itu berlari dan menghampirinya.

Oh, Althea. C‘est quoi? (Ada apa?)”

Vous laissez le score en classe, vous avez vraiment bâclé! Je suis sûr que vous serez confus pour le retrouver plus tard, et vous en avez besoin pour les spectacles à venir! (Kau meninggalkan partiturmu di kelas, ceroboh! Kau pasti bakal kebingungan untuk mencarinya nanti, padahal kau akan membutuhkannya untuk pertunjukan mendatang!)”, ucapnya sambil menyodorkan beberapa lembar partitur musik.

Quoi?! Mon Dieu, je vous remercie, Althea! (Apa?! Ya tuhan terima kasih banyak, Althea!)”, Soona memeluk sahabatnya itu erat.

Bon, maintenant laisse-moi alle. Je dois aller à la salle centrale, maintenant la pratique Electone(Oke oke, sekarang lepaskan aku. Aku harus ke aula tengah sekarang, harus melatih electone-ku, nih.)”

Soona melepaskan pelukannya itu dan tersenyum. “Oh, bonne chance à l’épreuve cet après-midi oui! (Oh, semoga berhasil untuk tesmu siang nanti ya!)”

Gadis bernama Althea itu pun balik tersenyum, “Merci beaucoup, à demain, Soo! (Makasih banyak, Soo! Sampai jumpa besok!)”, ucapnya sambil berjalan meninggalkan Soona di depan gerbang perguruan tinggi musik tersebut.  Soona melambaikan tangannya sebelum ia kembali pada apartemennya, dua blok dari universitas musik itu.

Ia membuka pintu apartemennya dan ia langsung menghempaskan tubuhnya pada sofa di ruang tengah. “Sudah dua tahun… ya?”

Ia mengambil sebuah pigura berwarna hitam yang terletak pada meja di sebelah sofa. Soona kemudian tersenyum. Terpampang sebuah foto dirinya, Yeon Ji, Seo Hyun, dan juga sosok lima namja yang sangat ia kenal. Foto itu diambil tepat sebelum pertandingan basket pertama Minho, Key, dan Taemin yang diselenggarakan di SIS.

Oh ya, Yeon Ji melanjutkan studinya ke Konkuk University, sedangkan Seo Hyun dengan mulus menembus tes masuk Seoul National University.

Soona memutuskan untuk melanjutkan studinya di Perancis karena dia berusaha untuk hidup mandiri. Appanya bersikeras memaksa Soona untuk tetap di Seoul, namun karena beberapa alasan yang Soona berikan, akhirnya Sooro setuju. Tadinya Kim Sooro akan menyuruh beberapa pengawalnya untuk mengawasi Soona, tapi gadis itu menolaknya mentah-mentah.

“Hmmm… Si lima orang itu sedang apa ya?”, ucapnya sambil meregangkan tubuhnya di sofa. Ia melepaskan kacamata bingkai hitamnya dan meletakannya di atas meja. Ia tenggelam dalam keheningan yang mengelilingi dirinya. Namun sesaat kemudian sesuatu mengganggu keheningan tersebut.

“…. Hyung! Ya! hyung! Jangan kau– Aaaaah!! Itu koperku!”

“Aigooo~ Maaf! Maaf!”

Gadis berambut panjang itu mengrenyitkan dahinya saat mendengarkan suara rusuh dari pintu luar apartemennya. Soona beranjak menuju pintu depan apartemennya dan ia perlahan membukanya. Setelah ia melihat siapa-yang-berani-berbuat-rusuh-dan-berisik di depan pintunya itu, ia tersenyum.

Euh, c’est les ordres de votre père, mademoiselle (Ini peritah ayahmu, nona)”, ujar namja jangkung berambut hitam pendek sambil menunjukkan sebuah surat. Soona menerima surat itu dan membukanya.

Dear Soo~

Ini appa!

Appa memutuskan untuk menyuruh mereka berlima (lagi) menjagamu di sana, jangan marah ya?

Appa tahu kalau kamu ingin mandiri, tapi appa tetap khawatir dengan keadaanmu T.T

Pastikan bahwa kerja mereka benar dan dapat diandalkan!

Jaga kesehatanmu, anakku.

Love,

Appa ❤

N.B : Kalau mereka berniat macam-macam terhadapmu, lapor sama appa, oke?

Gadis itu tertawa kecil saat membaca isi surat itu.

Astaga appa~ Aku ini sudah dua puluh tahun!, ungkapnya dalam hati.

Ia kembali menatap lima namja yang ada di depannya, yang tengah berdiri menunggu reaksi dari yeoja tersebut.

“Eh…eum… Enggak apa-apa kan, noona?”, tanya namja berambut jamur itu sambil menggaruk-garuk kepalanya.  Hmm, tidak, tampaknya namja ini sekarang sedikit memanjangkan rambutnya, namun bentuknya tetap seperti jamur bagi gadis itu 😀

Sekarang giliran namja berambut pendek hitam di sebelahnya yang berbicara, “Hmmm, maaf kalau kita mengganggu kamu lagi.”

“Ini perintah ayahmu, jadi yaaa, apa boleh buat kita harus mematuhinya”, ujar laki-laki yang memiliki suara lembut. Rambutnya yang dulu pendek kini sedikit berubah. Ia menambah sedikit poni samping, dan sedikit memanjangkan rambutnya.

“Kalau kamu enggak mau, ya sudah. Dengan senang hati kita bakal balik ke Korea sekarang juga”, ucap namja di sebelah kiri Soona dengan ketus. Namja ini tidak berubah sifatnya. Tapi sekarang poni asimetrisnya sudah dipotong, dan rambutnya tampak ‘normal’ sekarang.

Soona menatap kelima laki-laki itu dengan tajam, dan ia bersandar pada daun pintu apartemennya.

“Kalian itu berisik. Kalian itu selalu ganggu. Kalian itu selalu nguntit ke mana-mana. Dan kalian itu selaluuuu aja ikut campur urusanku.”

Kelima namja itu kini menatap wajah satu sama lain dengan bingung.

“… Tapi itu yang bikin aku selalu rindu sama keberadaan kalian. Sosok kalian yang selalu ada itu malah membuat aku jadi merasa punya kakak dan teman di manapun aku berdiri.”

Namja bersuara lembut di hadapannya tersenyum. “Jadi?”

Tanpa sadar Soona memeluk namja itu, alias Jinki. Jinki hanya tersenyum dan menepuk-nepuk kepala gadis yang sudah ia anggap sebagai adik perempuannya itu. Minho hanya bisa terkekeh, Kibum dan Jonghyun tersenyum melihat pemandangan di depan mereka, dan Taemin ikut mendekap kakak angkatnya dan ‘kakak perempuannya’ tersebut.

 *****

“Soo.”

“Hm?”

“Jawabannya?”

Setelah keempat namja lainnya sudah memasuki kamar di sebelah kamar apartemen Soona, gadis itu menghadap namja yang lebih tua sebulan darinya itu.

“Astaga, Kibum. Kau masih ingat?”

“Aish~ Soo! Tentu saja aku masih ingat! Aku ini–“

Tiba-tiba Soona sudah mencium kilat pipi kanan milik Key. Key hanya bisa melongo; otaknya belum bisa menerima apa yang baru saja terjadi padanya.

“Uhm–Well–  I will take it as a ‘yes’, okay?”, tanya Key sedikit terbata. Soona hanya tersipu dan tanpa ia sadari Key sudah mendekapnya erat.

Je t’aime (Aku menyayangimu)”, ungkap Key pelan. Soona tersenyum dan membalas pelukannya.

“Ehm, Key? Bisa nanti saja pacarannya? Bereskan dulu kopermu. Barang-barangmu adalah yang terbanyak di antara kita semua”, ujar Onew memecah suasana. Key segera melepas pelukannya dan tertawa garing pada hyungnya itu.

Yes, they suddenly came into my days.

Again!

*****

FIN!

                                                                               

Author’s Note:

Akhirnya ini ff abal nan kacau selesai juga hihihihihihihihihhihhihhi~ Maaf banget kalau akhirnya kurang greget atau terkesan terburu-buru. Saya paling tidak bisa membuat momen yang romantis T.T. Maaf juga kalau kisah antara SooKey terasa diburu-buru dan terkesan enggak realistis, soalnya kan ga asik kalau nambah satu part lagi buat ngejelasin dari awal sampai akhir :]

Makasih buat para readers yang udah ngikutin ff ini dari awal sampai ending, I love you!

Sekedar informasi~ tentang penampilan muka+rambut mereka, pas pertama kali aku nulis ff ini, aku mikir Onew, Minho, sama Key itu yang jaman RDD, Taemin pas jaman Hello Baby part akhir, dan Jonghyun pas jaman Hello. Dan di part akhir ff ini aku mikirnya pas rambut mereka lagi konser SWC di Seoul awal Januari lalu 😀

Sekali lagi makasih banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak *kisshugyouall*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

44 thoughts on “They Suddenly Came into My Days [FINAL]”

  1. keren, daebak, dan post yang kali ini cepet banget. ga nyesel nungguin ff ini dari lama.

    key, untuk kali ini kubiarkan kamu selingkuh di cerita ini (?) # abaikan saja

    huaa, tambah sayang sama jinki, minhonya juga dia berbesar hati dan cuma nganggep soona kayak saudaranya sendiri. jjong gausah diragukan, dia itu figur oppa impian saya 🙂

    dan taemin, haha. no comment for this guy. he always be the the innocent one.

    over all, nice cast, good story and great ending.
    ( sok inggris sekali-sekali ^o^v )

    1. Iya, aku juga bersyukur yang part ini cepet di-postnya (thanks to admins)

      Sama, aku juga makin suka nih sama si Onew :* Terus ya, aku juga makin pengen punya oppa kayak Jonghyun *banyak maunyaaa*

      Wah, makasih banget ya atas pujiannya 🙂
      Thanks for reading, commenting, and like this fiction!

  2. huwaaa keren bgt myee !! happy ending!! sesuai dengan keinginanku !! *pdahal myee ngak tau*
    huwaaa…. sampe terharu bacanya … aku kira bakal nge gantung gitu ajah .. yeyyyy
    key sma soo .. !! aku suka .. aahahahah
    aku mau jdi soona ..!!!
    #Plakk… huwaa enak bgt jdi dia …
    aku mau bgt punya oppa kayak jjong disinni .. keren !!!

    huwaa di tunggu karya2 mu yg lain lagi ya myee …
    yg pastinya jgn kalah keren dong sma yg ini .. !! semangat !!!!

    1. Hehehe makasih banyak, Ella 🙂
      Syukur deh kalau endingnya sesuai dengan harapan.
      Awalnya aku mau buat ending yang gantung loh, tapi takut disambit readers hahaha 😀

      Sama, aku juga mau jadi Soo, tapi sayangnya ini hanya fanfiction huhuhu

      Karya yang lain ya? Masih mikir-mikir euy. Bentar lagi UAN nih saya, jadi sibuk T^T
      Tapi tunggu aja ya 🙂

      Makasih udah komentar dan membaca yah!

  3. huaaaa endingnya keren
    aku ga nyangka mereka akhirnya bisa ketemu lagi
    dan key ahaha akhirnya kamu mendapat jawaban ‘ya’ dari soona ckck

    cerita ini cerita favorite aku
    ga pernah aku baca yang sekeren ini u,u

    1. Waaaah makasih banyak, Michelle 🙂
      Masa sih ini ff favorit kamu?
      YA ALLAH MAKASIH BANGET!

      Thanks for reading and commenting by the waaaay 🙂

  4. ALHAMDULILLAH UDAH DI POST!
    Makasih banget buat admin yang udah ngepost, big thanks and deep bows 🙂
    Makasih juga buat para readers yang udah mau baca, nunggu, maupun komen di post-an ff ini, sumpah, aku seneng banget :))

    Oh ya, bagi yang mau SIDE STORYNYA ONEW (LATAR BELAKANG KENAPA ONEW KAYAK GITU), bisa main ke wp saya di sini –> http://miyanohikaru.wordpress.com/2011/08/27/they-suddenly-came-into-my-days-lee-jinki%E2%80%99s-reasons/

    Saya kayaknya gak bakal kirim ke sini, soalnya kemungkinan publishnya mungkin bakal lama banget 😐

    Komentarnya bakal aku jawab semua, tapi nanti, aku mau buka puasa dulu hahaha 🙂

    1. Iya, akhirnya selesai jugaaa 😀
      Tenang, Minho cuma nganggep Soo sebagai adik kok, bukan sebagai ‘kekasih’ atau semacamnya.
      Dia mah gabakal jealous, tenang aja haha *apaan sih ini maksudnya?*

      Thanks for reading and commenting!

    1. Hihi makasih 🙂
      Masa sih sampai terharu? Aduh ikut terharu nih saya :’)

      Thanks for reading and commenting!

  5. OH MY GOD
    Aaaaaaaaaa cinta banget ama key
    Kirain tuh minhonya bakal jealous liat mereka berdua
    Tapi ternyata lama lama minho tuh anggep soona adenya dia
    Aigoo jinki tuh perhatian banget ama soona nya huaaa
    Akhirnya cium pipi lagi, dijamin key malu wakakakak
    Mana tadi ada back hugnya juga adooh gakuat bgt baca ini ff
    Terlalu…terlalu…terlalu menghanyutkan!!
    Daebak, keren, seru, asik, heboh, sweet, aaaaa gatau lagi

    1. Aku juga makin cinta sama Key loh ahaha *padahal bias saya Taemin, gimana dong?*
      Sama, aku juga gakuat bayangin yang backhug sama cium pipi. Aduh itu AAAAAAH YAOLOH SUMPAH DEH *guling guling heboh sendiri*

      Hahaha, makasih ya nikitaemin 🙂
      Thanks for reading and commenting!

  6. jadi pengen punya kakak kaya onew dan punya adek kaya taemin ini . kereeen deh ffny . happy ending . thumbs up buat authornya .

    1. Sama bangeeeeeeeeeeeeeet! Aku juga pengen punya kakak kaya Onew sama Jjong :*

      Makasih banyak ya 🙂
      Thanks for reading and commenting!

  7. Akhirnyaa dah selesai:) kirain ma minho , trnyata ma key, tak apalah, onew buat sy ajah (?) *dilemparMVP*
    happy ending,
    and I , really like this ! *sok english* hoho

    1. Iya, akhirnya Soo sama Key, gak apa apa ya?
      Sok atuh Onew buat kamu aja *lempar Jinki dari Jepang*

      Wah makasih udah suka ya 🙂
      Thanks for reading and commenting!

  8. Yee, tamat! Kalo ada sequel kelanjutan kehidupan mereka di prancis seru nih kayaknya. yayayayaya!

    ayolah dibuat, pengen liat hubungan key sama soona nya.

    ini keren endingnya.

    hwaiting deh ya!

    1. Iya haha akhirnya tamat juga :’)
      Waduh… Sekuel ya? Mikir-mikir dulu yah, takut idenya nge-stuck euy. Terus belakangan ini saya lagi sibuk urusan sekolah 😦
      Tapi diusahain deh, aku juga ada pikiran ke situ kok 🙂

      Makasih, shalina 🙂
      Thanks for reading and commenting!

  9. huaaa~! #tersedu .
    ff nya bner2 daebak chingu..^^ iya bner kata yg diatas, dibikin sequel mereka pas di paris. Pkok nya harus bkin sequel nya ! *maksa* . Klo gk jg gapapa *lngsung bnuh dri* . Yg jelas ff nya DAEBAK !! ^o^

    1. Gomaweoyo, chingu 🙂
      Aduh minta sekuel, dipikir dulu deh ya. Jangan bunuh diri dong, entar saya masuk neraka lagi ah *gak nyambung*

      Thanks for reading and commenting!

  10. Hahahaha onew menganggu sajja~~
    aah suka sama ff nya, maaf ya thor baru komen, kekeke baru baca langsung banyak soalnya, lekekekkek

    keep ur very nice writing thor~~ FIGHTING!!!!!

    1. Iya tuh, Onew kenapa lo ganggu aja sih *toel Onew*
      Gapapa kok telat komennya, yang penting udah mau baca plus ninggalin jejak di sini 🙂

      Hehe makasih ya.
      Thanks for reading and commenting!

  11. Uu yeah~ Uu yeah~ uu yeah yeah yeah~
    Uh Yeah! TSCIMD FINAL!!!!!!!
    Hahahaha. *paling telat kayanya*
    maaf ya myaaaaaaaaa….
    Tapi..tapi.. DAEBAK!
    Paris! Yea! :’)

  12. sumpah !!!
    ini FF keren banget!!!
    author daebak!!!!
    apalagi endingnya sama KEY ❤
    KKKKKKKKKKKEEEEEEEEEEEEEEEERRRRRRRRRRRRREEEEEEEEEEEENNNNNNNNNN

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s