Would You Please : The Truth [3]

Title : Would You Please[PART 3]-The Truth

Author : Erika Putri Dhiwanti

Main Cast : Lee Jinki, Kim Hana

Support Cast : Song Hyomin,Kim Kibum,Kim Jonghyun.

Length : Sequel

Genre : Romance,Friendship

Rating :  PG-15

A.N : lagi-lagi buntu,,, ckckckckck… monggo di baca~~…

Aku pun menuju ke tempat Jinki oppa berada. Tapi kelihatannya dia tidak sendirian,melainkan bersama seseorang. Yeoja kah? Aihhss… awas saja kalau benar!. Jinki oppa dan temannya tidak menyadari ke datanganku,karna terhalang oleh sebuah tembok tipis. Bisa ku dengar walau samar-samar percakapan mereka.

“Jinki-ya! Sampai kapan kau akan terus membohonginya begitu?”suara seorang namja.. aku lega.

“….”

“Hei! Jawab aku.”desak namja itu lagi

“Hhh… Molla… aku juga tak tau Jjong.”itu suara Jinki oppa-ku. suaranya terdengar pelan sekali. Apa dia sakit?

“Apa kau tidak merasa bersalah padanya? kau memacarinya supaya dekat dengan temannya?!? Itu kan niat awalmu? Kau benar-benar tak waras Jinki!”

 Aku menajamkan pendengaranku. Apa maksud perkataan namja yang bernama Jjong itu?

“…”lagi-lagi Jinki oppa diam.

“Kau berpacaran dengan Hana?!? Sudah ku duga ada yang tak beres! Ternyata ini niatmu. Kau Cuma memanfaatkanya agar kau bisa lebih dekat dengan Hyomin? Ckckckckck.. Kalau sampai Hana tau kau memacarinya karena hal ini,aku tak bisa bayangkan bagaimana kecewanya dia padamu.”

“Bukankah kau bilang kalau dia yeoja yang mengejarmu sejak hari pertamanya masuk kuliah? Sampai sekarang kan? Itu bukti betapa besar rasa yang ia punya padamu Jinki-ya.”

JEDDDDUUUUAAAARRR!!!.

                Bagai tersambar petir di siang bolong mendengar kenyataan itu. Hatiku sakit. Sakit sekali. Perih rasanya sampai dadaku sesak,tak bisa bernafas. Aku memegangi dadaku yang sesak ini,memukulnya. Siapa tau bisa membuat ku bernafas seperti sedia kala. Tapi ternyata tidak berhasil.

“Entahlah. Aku pun sebenarnya tak tega. Tapi mau bagaimana lagi. ini caraku supaya dekat dengan Hyomin.”ujarnya

“Dengan berpura-pura memacari Hana? Begitu?”

Ku lihat Jinki oppa mengangguk pelan,membenarkan perkataan Jjong oppa barusan. Oh Tuhan… ku mohon bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Tanpa terasa air mataku pun turun.

“Apa sekarang kau sudah dekat dengan Hyomin itu?”

Jinki oppa menggeleng,”Tidak juga. Dia bersikap selayaknya aku namjachingu temannya. Jadi biasa saja.”

“Kau lihatkan? Dia Cuma menganggapmu temannya juga.”

“Lalu kau mau aku melakukan apa?”

“Molla. Jangan tanya padaku apa yang harus kau lakukan. Walau aku ini player,tapi aku tak se jahat itu pada wanita. Lebih baik tanya pada hatimu sendiri.”

Aku tak sanggup lagi berada di sini. Mendengar tiap kenyataan pahit yang terselubung dalam hubunganku dengan Jinki oppa. Ternyata alasan dia memacariku adalah Hyomin. Aku pergi dengan langkah yang tergesa-gesa. Ingin cepat-cepat menjauh dari sini sebelum Jinki oppa mengetahui kedatanganku. Aku kesini kan mau menemuinya,melepas rindu padanya. tapi lihat apa yang justru ku dapat! Ku biarkan air mata yang terus mengalir ini,tak peduli tatapan orang-orang yang melihatku. Satu hal yang kini ingin ku katakan. Aku kecewa padamu oppa.

KIBUM POV

“Hana-ah.. buka pintunya. Ku mohon~.”pintaku di depan kamarnya. Sudah dua hari ini dia mengurung diri di kamar.

“Ini. Ku bawakan sup daging kesukaanmu. Jebal,buka pintunya. Sudah dua hari ini kau sama sekali tidak makan dan minum. Ada apa denganmu sebenarnya?”. Ya,dua hari ini dia tidak menyentuh sedikitpun makanan atau minum. Aku jadi tambah khawatir kalau begini. Tidak pernah kulihat dia seperti ini sebelumnya.

“Pergilah Kibum. Tinggalkan aku sendiri. Aku tak lapar.”ucapnya pelan dari dalam. Kedengarannya dia habis menangis. Ada apa ini?

“Aku tidak akan pergi sebelum kau buka pintunya. Aku akan menunggu sampai kau buka pintunya!”gertakku. aku paham betul sifatnya,dia tidak akan pernah tega melihat orang yang memohon.

“Jangan coba mengancamku Kibum-ah. Tinggalkan aku.”lanjutnya lagi

“SHIROH!!! Kau lah yang jangan coba mengancamku! Cepat keluar sebelum kesabaranku habis dan mendobrak paksa pintumu.”

1 menit… 2 menit… 5 menit… 20 menit…

Ceklek..

Suara pintu terbuka. Aku terkejut melihat Hana yang ada di depanku saat ini. Wajahnya pucat,matanya sembab,dan masih tersisa tetes air mata yang ada di pinggir matanya. Dia terlihat lemah.

“Kibum-ah.. Ak-“

Bruukk!!

Belum sempat dia bicara,dia ke buru pingsan,”Hana-ah.. HANA-AH.. ireona.. jangan buat aku takut!”ku tepuk pipinya. Namun nihil,dia tak bergerak sedikitpun. Kuletakkan punggung tanganku di keningnya. Aigoo~.. panas sekali badannya. Tanpa pikir panjang lagi aku segera melarikannya ke rumah sakit.

25 menit kemudian kami sampai di rumah sakit. Aku langsung menggendongnya. Mancari-cari dokter atau apa pun itu yang bekerja disini.

“Uisa!!! Uisa!!! Ppali.. aku butuh seorang dokter!”bentakku begitu memasuki ruang rumah sakit

“Maaf tuan. Dilarang berteriak di rumah sakit.”ujar seorang suster padaku.

“Kalau kau mau tak teriak lagi,cepat panggilkan dokter! Temanku panas tinggi!”sentakku. suster yang ku bentak tadi tak berani berkutik. Dia lantas menuntunku ke sebuah ruangan yang banyak tempat tidurnya. Tanpas perintah,kubaringkan Hana di atas tempat tidur itu.

“Tunggu lah sebentar ,akan saya panggilkan dokter.”

“Ppali!”

“Ne~”

Tak berapa lama seorang dokter pun datang,”Apa yang terjadi padanya tuan?”

“Aku tidak tau. Dua hari dia tidak menyentuh makan dan minuman. Dia mengurung diri di kamar. Dan ketika keluar dia langsung jatuh pingsan dan tak sadarkan diri begini.”jawabku panjang lebar.

“Bisa anda tunggu sebentar di luar? Saya harus memeriksanya.”ujar  sang  dokter.

“Tak bisakah aku tetap disini?”tanya ku perlahan.

“Maaf tuan,tidak bisa. Ini prosedur. Silahkan tunggu di luar selagi kami memeriksanya. Kami akan mengijinkan anda masuk kalau sudah memeriksanya. Suster antar tuan ini ke ruang tunggu.”

“N-ne baiklah dokter. Tapi ku mohon cepat periksa keadaanya.”seruku dan kulihat dokter itu mengangguk lalu memeriksa keadaan Hana.

Setengah jam berlalu. Tapi dokter maupun suster tak ada yang mengabariku. Hei! Aku ini juga manusia,punya batas kesabaran. Dan kini batas itu sudah habis!

“Suster,bagaimana keadaan temanku?”tanyaku ketus pada salah seorang  suster.

“Maaf tuan,siapa nama teman anda?”

“Hana. Kim Hana. Tiga puluh menit sudah aku menunggu tapi tak ada kabar sama sekali.”

“Oh.. nona Kim Hana. Maaf tuan,tadi kami mencari kerabat nona itu,tapi karna tidak ada sahutan kami langsung memindahkannya ke ruang inap di lantai tiga. Keadaanya juga baik-baik saja,hanya  sedikit kurang tidur dan kelelahan.”

Memang tadi aku kemana? Kok sampai tidak dengar mereka mencariku? Aahh.. benar! Aku tadi ke toilet! Bodohnya aku!!!!

“Baiklah kalau begitu,aku ke sana dulu. Kamarnya nomor berapa?”

“Nomor 292 tuan.”

“Terima kasih suster. Maaf tadi aku membantakmu.”aku membungkukkan badanku,minta maaf atas perbuatanku tadi.

“Iya. Tidak apa-apa tuan. Sudah biasa keluarga pasien yang begitu.” Ia memberi senyuman lembut.

Tak berapa lama kemudian aku sampai di kamar yang di maksud suster tadi. Kamar nomor 292,bertuliskan nama pasien. Kim Hana. Langsung saja ku buka pintunya.

Hana masih terlelap dalam tidurnya. Tangannya di infuse dan punggung tangannya di beri plester yang mungkin berfungsi untuk penurun panas. Aku cemas melihatnya begini. Kenapa sampai Hana tiba-tiba mengurung diri di kamar dan keluar dalam keadaan ini? Apa ini karna tugas kampusnya yang menumpuk? Hana sering mengeluh karnanya. Atau mungkin karna namjachingunya-Jinki- kalau tak salah. Entahlah.. akan ku tunggu sampai Hana mau menceritakannya sendiri.

****

Keesokan harinya…

Semalaman aku menunggunya siuman. Tapi sama sekali tak ada tanda-tanda ia bangun. Ini semakin membuatku khawatir. Aku pun pergi sebentar menemui dokter yang merawat Hana,Cuma sekedar menanyakan kondisi Hana.

“Annyeonghaseyo dokter. Bisa aku minta waktumu sebentar?”tanyaku begitu melihat sosok pria berumur sekitar 50-an ini di lorong rumah sakit.

“Oh.. tentu saja. Silahkan. Apa yang ingin anda bicarakan?”

“Engg.. tentang kondisi temanku. Kim Hana. Pasien kamar nomor 292.”

“Hana-ssi? Aah… Kim Hana. Bukankah dia gadis pingsan yang kau antarkan kemarin?”

“Ne dokter. Aku cemas padanya. tak biasanya dia begitu.”ujarku.

“Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dia Cuma kelelahan dan kurang tidur. Di tambah lagi asupan gizinya yang minim.”jelasnya. hh.. leganya..

“Benar begitu dok? Apa dia benar baik-baik saja?”tanyaku lagi.

“Iya. Dia baik-baik saja.”

“Lalu kenapa sampai sekarang dia belum juga siuman?”

“Mungkin itu pengaruh obat tidur yang kami berikan. Besok pagi dia akan bangun. Saat itu baik untuk memulihkan kondisinya. Jadi tenanglah. Apa kau kekasihnya? Kelihatannya kau sangat cemas.”selidiknya.

“Bukan dok. Aku sahabatnya. Dia sudah ku anggap adikku sendiri. Orang tuanya menitipkannya padaku karena mereka berada di Jerman sekarang.”

Dokter itu tak merespon ku,dia Cuma bisa ber- ‘o’ ria.

“Kalau begitu terima kasih dokter. Aku jadi lega mendengar penjelasan anda barusan. Sekali lagi terima kasih.”ucapku. tak lupa aku membungkukkan badanku.

Dia menepuk pundakku pelan,”Tidak perlu sungkan. Itu sudah kewajibanku sebagai seorang dokter. Rawatlah sahabatmu itu. dan satu lagi! jangan biarkan dia berpikir terlalu berat dan tertekan. Itu justru akan semakin membuat keadaannya memburuk. Arraseo?”titahnya padaku.

“Ne dokter. Akan kulaksanakan. Baiklah kalau begitu,aku mau kembali ke kamarnya dulu.”

HANA POV

Kepalaku rasanya mau pecah. Mataku juga berat sekali untuk di buka. Seperti ada beban seberat 30 ton yang menempati pelupuk mataku. Cahaya matahari perlahan mulai menyilaukan pandanganku ketika mataku perlahan terbuka. Semuanya serba putih. Tempat apa ini?. Namun kemudian aroma obat menyeruak ke hidungku,bau khas rumah sakit!

“Hana-ah. Kau sudah sadar?”sebuah suara terdengar olehku. Aku menoleh ke kanan dan mendapati Kibum tersenyum lebar.

“Ki.. Bum..”lirihku. kemana hilangnya suaraku? Kenapa pelan sekali?

“Ssstt.. jangan banyak bicara dulu. Kau harus banyak istirahat. Simpan tenagamu.”katanya.

“Kibum-ah.. aku haus..”

“Mwo? Kau haus? Baiklah ini,minumlah perlahan.”ujarnya sambil memberikan segelas air putih lengkap dengan sedotan agar memudahkanku minum.

“Sudah?”tanyanya saat aku melepaskan ujung sedotan dari bibirku. Aku menjawabnya dengan anggukan saja.

“Kau baik-baik saja?”tanyanya kemudian.

“Ne? gwenchanayo.”sahutku. aigo~ sahabatku satu ini baik sekali. Perhatian. Aku berharap Jinki oppa juga begini. Jinki oppa? Kenapa aku terus memikirkannya? Bodoh!

“Hei,Kim Hana!! Kenapa kau melamun?!?”teriakan 2 oktaf Kibum membuatku kembali tersadar dari lamunanku.

“Eh? Ada apa Kibum-ah?”

“Kenapa kau melamun begitu? Nanti kau bisa kerasukan roh! Bahaya tau!”sungutnya.

“Hahaha..”tawaku pelan,”Teori macam apa itu? kurasa kau jadi aneh sejak di Jerman. dulu kan kau tak pernah percaya pada hal-hal begitu,lalu sekarang? Kau menceramahiku tentang hal gaib.ckckck..”

“Yaa!! Aku kan Cuma bilang!”

“Ne-ne.. oke eomma~. Kau ini cerewet sekali sih!”ledekku

“MWORAGO? Kau bilang aku cerewet? Benar-benar keterlaluan kau Kim Hana! Huuuhh!”ia membuang muka kearah jendela.

“Hei.. ayolah.. aku kan hanya bercanda. Masa kau marah? Apa kau tega marah pada orang sakit nan lemah seperti aku?” kataku memelas.

“….”

“Kibum-ah… Kibum-ah…” Ku goyang pelan telapak tangannya,tenagaku belum pulih benar untuk memukul kepalanya itu.

“Mwo?”rengutnya

“Mianhae.. masa kau marah Cuma gara-gara ku bilang cerewet sih? Ckckckck..”

“Hahaha… tertipu kau Hana-ah. Mau saja di bohongi. Aigo~ Aigo~.. tak kusangka ternyata aku berbakat acting! Hahaha..”. aku melongo,dasar namja ini! Selalu saja mengerjaiku!

“Yaissshh!!! Kim Kibum!!”

“Aahahahaha~”dia malah makin tertawa kencang melihatku kesal begini.

“Eh.. eh.. ngomong-ngomong,memang benar ya aku ini cerewet?”

Oh Tuhan~.. benar-benar namja ini!

“Ne~”jwabku singkat. Tak memperdulikan dirinya yang kini menatap tajam padaku. Aku menarik selimut sampai atas kepalaku. Hahaha..

****

Ini hari ketiga aku berada di rumah sakit. Dan kau tau? Aku sudah hampir MATI kebosanan! Tidak ada yang bisa ku lihat selain orang sakit lainnya. Entah darimana asalnya,tiba-tiba bayangan ini terlintas di otakku.

Flashback

“Hana-ah. Mana Hyomin? Tumben dia tidak ikut bersama kita.”Tanya Jinki oppa ketika aku sampai di tempat yang kami janjikan.

“Tadi sih dia bilang harus menemui dosennya. Waeyo oppa?”

“Aahh.. ahni.. kajja.”

“Aku lapar. Gimana kalau kita makan. Ini juga sudah jamnya makan siang bukan?”Jinki oppa membuyarkan lamunanku

“Iya oppa,sama. Aku juga lapar.”jawabku

“Baiklah kalau begitu,ayo kita makan! Hyomin,kau mau makan apa?”tanya Jinki oppa pada Hyomin. Lho? Kenapa Hyomin yang dia tanya. Oohh.. hyomin kan temanku jadi dia pasti mau bersikap sopan padanya.

“Mmm.. aku sedang ingin makan ikan.”

“Oke! Kita makan ikan! Aku tau rumah makan yang menyediakan hidangan ikan paling enak.”serunya semangat. Apa? Makan ikan? Aku kan alergi. Sudah ku beri tau Jinki oppa belum ya?

“Hana-ah. Ayo,kita makan.”katanya waktu melihatku masih terdiam di bangku.

“Ne oppa.”aku menjawab dan menyusul dirinya yang sekarang berada jauh di depanku. Alhasil,ketika makan siang itu aku sama sekali tidak menyentuh hidangan apapun selain nasi. Bisa mati aku kau sampai makan sedikit saja makanan laut. Aku Cuma bisa makan nasi,dengan alasan diet.

“Oh ya Hana. Apa warna kesukaan Hyomin?”

“Mmm.. pink.”

“Lalu benda kesukaannya apa?”

“Kalau tidak salah sih dia suka mengoleksi syal.”

“Terus makanan favoritnya apa?”

“Spagetti dan pizza. Mm.. dia juga suka salad dan sushi.”

“Teru-“

“Aiissh.. oppa.. kenapa kau tanya terus tentangnya sih?”

“Ahh.. itu.. temanku yang suka Hyomin menyuruh ku menanyakan itu padamu. Hehehe..”

“Oh gitu. Suruh saja temanmu itu tanya sendiri padanya kalau begitu.”

Flashback end

Hatiku perih mengingat semua itu. jinki oppa selalu saja menanyakan Hyomin. Dan aku sama sekali tidak curiga kalau dia suka pada Hyomin,temanku sendiri. Yeah.. aku memang gadis terbodoh di dunia,ku rasa. Tidak menyadari kalau kekasihmu mengincar teman sendiri. Aku tak kuat,air mata yang ku tahan agara tak menetes sudah tidak bisa lagi di bendung. Tumpah begitu saja.

Aku tidak bisa terus diam di sini tanpa melakukan apa pun. Aku juga tersiksa jika melihat Jinki oppa tertahan begini. Setidaknya supaya dia bahagia. Bukankah kau turut senang kalau melihat orang yang kau cintai bahagia?. Lagipula Kibum tidak ada di sini.

                Aku mencabut selang infuse yang tertanam di pergelangan tangan kananku secara paksa. Membuatku meringis untuk menahan ngilu yang terasa.Aku lantas mengganti baju rumah sakit dengan baju yang di ambilkan Kibum dari rumah beberapa hari lalu. Aku Cuma memakai celana jeans dan jumper ungu milikku. Mengambil tas selampang dan berlalu keluar,meninggalkan rumah sakit. Menuju suatu tempat yang di diami Jinki oppa. Apartemennya.

***

 AUTHOR POV

Cuaca hari ini mendung. Matahari tampaknya enggan menampakkan dirinya. Warna awan yang mulanya putih bersih kini menjadi abu-abu kehitaman. Tapi itu sama sekali tidak menghentikan niat seorang gadis yang saat ini merogoh saku jumper ungunya,mengambil ponsel dan mengetikkan kata-kata di sana.

***

Jinki yang hari ini tidak ada jadwal kuliah seharian hanya berdiam diri di rumah. Tidak terlintas sedikitpun di otaknya untuk jalan keluar,sekedar menjernihkan pikirannya yang seperti benang kusut.

Ddrrtt.. ddrrrrttt.. ddrttttt…

Ponsel yang di letakkan Jinki tepat di atas meja makan bergetar,Jinki yang mulai merasa nyaman dengan posisi baringnya di hadapan televisi makin membuatnya malas.

****

“Fuuuhh~”Hana meniupkan nafasnya ke telapak tangan. Angin senja yang dingin ini membuat tubuh mungil Hana menggigil pelan. Ia menunggu di taman yang terletak di dekat apartemen Jinki. tidak apa siapa pun di sana. Hanya dirinya sendiri. Sudah hampir tiga puluh menit lamanya Hana menunggu,namun Jinki tak jua datang. Kepalanya masih terasa pusing,mungkin efek dari kelelahan belum sepenuhnya pulih. Tapi rasa itu buru-buru di tepisnya jauh-jauh.

“Aaahh.. akan ku tunggu Jinki oppa sampai datang. Mungkin dia tertidur karna capek banyak tugas.”gumamnya.

***

“Aku haus sekali.”kata Jinki. ia melangkahkan kakinya menuju lemari es yang ada di samping meja makannya. Ia membuka lemari es itu dan mencari apa kiranya yang bisa ia makan.

“Untung masih ada jus.”ujarnya senang. Jinki lalu membawa botol jus itu ke meja makan kemudian menuangkan isinya ke dalam sebuah gelas. Setelah meneguk habis minuman itu,pandangan Jinki tertuju pada ponsel miliknya yang ia abaikan tadi.

“Aigo~. Empat pesan masuk! Dan semuanya dari Hana?!”pekiknya.

Oppa.. Bisa kita bertemu? Oppa dimana?

Kenapa tak dibalas? Aku dalam perjalanan ke sana. Ku tunggu oppa di taman dekat apartemenmu.

Aku sudah sampai,oppa dimana?

Ku mohon oppa. Ada hal penting yang ingin ku katakan pada oppa. Aku akan menunggu di taman ini sampai oppa datang.

Jinki mengecek waktu pesan paling akhir yang dibacanya,pukul 18.30 KST. Jinki melirik jam dindingnya,sekarang jam menunjukkan pukul 19.12 KST. Cepat-cepat di sambarnya jaket yang di sampirkannya di sofa. Siapa tau Hana masih ada di sana,batin Jinki.

***

Jinki melihatnya. Melihat Hana yang akhir-akhir ini tak pernah di temui atau di hubunginya. Gadis itu duduk  terdiam di bangku taman,memandangi ujung sepatunya dan sesekali menengadah menatap langit. Rambutnya yang tadi tergerai kini sudah diikatnya ekor kuda. Tidak ada yang dilakukannya selain… menunggu Jinki.

“Hana-ah~”sapa Jinki ketika sampai tepat di samping Hana. Hana hanya menoleh sebentar,dan melanjutkan menatap ujung sepatunya.

“Maaf aku terlambat.. aku tidak tau ada pesan darimu di ponsel.”ujar Jinki mencoba menjelaskan. Namun Hana tetap diam,tak menanggapi Jinki yang memposisikan diri duduk di sebelahnya.

“Oppa..”katanya pelan

“Mmm..”Jinki membalasnya dengan gumaman.

“Oppa..”

“Ne”

“Jinki oppa..”

“Waeyo? Kenapa kau ini? Memanggil namaku terus. Tumben kau diam begini. Kau tidak rindu padaku?”kekeh Jinki.

“Jinki oppa.. aku mau bicara sesuatu padamu.”kekehan Jinki tadi sama sekali tak di tanggapi Hana.

“Ada apa? Bicaralah.”

“Aku mau mengakhiri hubungan ini.”ucapnya lirih,menahan air mata. Terdengar datar di telinga Jinki.

“M-mwo?”

“ Aku lelah. Aku tau kau sama sekali tidak menyukaiku,tapi kau menyukai Hyomin.”

“….”

“Maaf oppa,kalau aku justru jadi penghalang akan rasamu terhadap Hyomin. Aku yang terlalu naïf,mempercayai kalau kau sungguhan mencintaiku. Seharusnya aku tau diri,mana mungkin kau yang sempurna menyukai aku yang gadis biasa dan aneh. Kau cocok bersanding dengan Hyomin.”

“Maaf juga kalau sikap ku membuatmu malu di hadapan umum. Aku berbuat begitu agar kau memandangku. Tapi tak kusangka kini justru aku menyesalinya. Aku bodoh,iya kan oppa?”

“….”

“Tapi terima kasih,setidaknya sejak bersama mu aku mengerti banyak hal. Terima kasih karna kau juga membuatku tersenyum. Hanya dengan melihat wajahmu saja. terima kasih juga berkat kau kini aku belajar cara melepaskan sesuatu yang amat berharga.”Hana menyunggingkan senyum yang di paksakan.

Jinki masih bergeming. Ia menatap ke Hana yang tetap menatap lurus ke depan,tak melihatnya saat mengatakan itu. kelihatannya Hana jadi lebih kurus dan wajahnya pun pucat.

Tess.. tess.. tess..

Rintik hujan kini mulai turun membasahi tempat mereka berada.

“Aahh.. aku harus pulang sekarang. Ini oppa..”Hana menyodorkan sesuatu ke Jinki,”Tadi aku mampir membeli sup tahu dan ayam goreng kesukaan oppa. Oppa panaskan dulu sebelum makan. Tugas oppa yang menumpuk pasti membuat oppa jarang makan. Jangan sampai jatuh sakit. Kalau begitu aku permisi dulu,sanbae..”

Hana melangkah pergi dari sana. Di ujung jalan sebuah taksi telah menunggunya. Sang supir sama sekali tak bergeming dari posisinya. Masih setia menanti Hana.

“Ayo pak,jalan.”ujarnya pada supir.

“Baiklah,kemana agashhi?”tanya pak supir melalui kaca spion dalam

“Entahlah,kemana saja.”titahnya.

“Baik nona.”sahut sang supir. Menekan gas mobilnya sehingga menjauhi tempat itu.

JINKI POV

“Aku mau mengakhiri hubungan ini.” Aku membelalakkan mata mendengar ucapannya.

“M-mwo?”seruku.

“ Aku lelah. Aku tau kau sama sekali tidak menyukaiku,tapi kau menyukai Hyomin.”

“….”. Apa ini? Aku sama sekali tak bisa berkata. Lidah ku kelu.

“Maaf oppa,kalau aku justru jadi penghalang akan rasamu terhadap Hyomin. Aku yang terlalu naïf,mempercayai kalau kau sungguhan mencintaiku. Seharusnya aku tau diri,mana mungkin kau yang sempurna menyukai aku yang gadis biasa dan aneh. Kau cocok bersanding dengan Hyomin.”. Deegh!! Kata-kata Hana menancap dalam di hatiku.

“Maaf juga kalau sikap ku membuatmu malu di hadapan umum. Aku berbuat begitu agar kau memandangku. Tapi tak kusangka kini justru aku menyesalinya. Aku bodoh,iya kan oppa?”

“….”. Aku benci melihatnya begini. Dimana Kim Hana yang ceria itu?

“Tapi terima kasih,setidaknya sejak bersama mu aku mengerti banyak hal. Terima kasih karna kau juga membuatku tersenyum. Hanya dengan melihat wajahmu saja. terima kasih juga berkat kau kini aku belajar cara melepaskan sesuatu yang amat berharga.”Aku tau Hana menyunggingkan senyum paksaan. Aku menatap wajahnya,kenapa terlihat makin kurus dan pucat begini? Apa dia sakit?. Berapa lama aku tak bertemu dengannya? 3 hari? 5 hari? Seminggu? Aahh.. aku tidak ingat! Walau sedikit tapi aku merindukannya.

Aku tak tau dimana letak susunan kata-kata di otakku kini. Aku tidak bisa berpikir. Jinki babo!

Tess.. tess.. tess..

Dapat kurasakan sesuatu yang basah menjatuhi puncak kepalaku. Hujan…

“Aahh.. aku harus pulang sekarang. Ini oppa..”Hana mencondongkan badannya ke kiri lalu memberikan sesuatu padaku,”Tadi aku mampir membeli sup tahu dan ayam goreng kesukaan oppa. Oppa panaskan dulu sebelum makan. Tugas oppa yang menumpuk pasti membuat oppa jarang makan. Jangan sampai jatuh sakit. Kalau begitu aku permisi dulu,sanbae..”

Dia panggil aku apa tadi? Sa… sanbae? Dia tidak pernah memanggilku begitu!. Apa-apaan ini?. Tapi kulihat dia berjalan menjauhiku yang masih belum bisa mencerna ucapannya. Ingin sekali rasanya aku berlari menyusulnya. Namun kaki ku tak bisa di gerakkan. HANA!!! KIM HANA!!!,teriakku dalam hati. Hana tidak menoleh ke belakang sama sekali. Malah dia melangkah semakin cepat,memasuki sebuah taksi dan berlalu pergi.

****

Saat memasuki apartemen,tubuh ku setengah basah karna terguyur hujan. Tangan kananku memegang kantung plastic berisikan makanan dari Hana. Makanan ini hampir dingin. Mungkin karna sudah lama dibelinya. Bukan mungkin. Tapi pasti dia menungguku lama disana. Dia tak merasa dingin kah? Angin di luar tadi dingin luar biasa. Kim Hana~ apa yang sudah kulakukan padamu? Mianhae…

Kuletakkan makanan itu di meja. Hana benar,akhir-akhir ini aku jadi jarang makan,memikirkan tugas dan skripsiku tentunya. Aku akan memakannya nanti. Itu pasti!. Aku berjalan menuju tempat dimana berpuluh surat dan nota kecil yang Hana berikan padaku. Banyak sekali sampai-sampai aku menempatkannya di dalam sebuah kardus. Barang yang Hana berikan juga banyak. Terakhir yang di berinya adalah sebuah syal berwarna abu-abu. Hana bilang dia sendirilah yang membuatkannya khusus untukku. Ku pegang syal itu. Sangat hangat. Ini aneh,syal di lemariku juga menumpuk tapi tak ada yang hangatnya melebihi syal pemberian Hana. Sensasi yang aneh.

Tapi darimana dia tau kalau aku menyukai Hyomin? Tak ada seorang pun yang tau rahasia ini selain aku dan… aaahh… jonghyun tak mungkin membocorkan ini! Namun untuk sekedar memastikan aku mengambil ponselku,mencari nama Kim Jonghyun disana.

To : Kim Jonghyun

Jjong,apa kau memberitahukan rahasiaku pada seseorang? Tentang Hana..

From : Kim Jonghyun

Mwo? Ahni! Aku bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain! Rahasiamu aman padaku! Memang kenapa Jinki? apa terjadi sesuatu?

To : Jonghyun

Tidak. Ya sudah kalau begitu. Terima kasih.

Aku menutup kembali flap ponselku. Yang ada di benakku sekarang adalah kenapa Hana bisa sampai tau? Arrgghhh.. lama-lama ini membuatku frustasi!. Apa aku harus menghubungi Hana? Memberi penjelasan misalnya? Aah.. ya tentu saja. tidak perlu di pikir itu juga sudah musti ku lakukan. Aku mencari nama HanaKim di dalam kontak ponselku. Dapat! Langsung ku telepon dia.

‘Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi,silahkan tinggalkan pesan setelah terde-‘. Aku memutuskan sambungan telepon. Kenapa ponselnya dimatikan? Tidak biasanya. Kuhubungi lagi,siapa tau bisa.

‘Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubu-‘. Masih sama. Tak juga tersambung. Aku makin khawatir padanya. Aku menatap keluar jendela. Hujan malam ini deras sekali. Suara gemuruh dari langit makin mendramatisir suasana. Aku taku terjadi sesuatu pada Hana.

Flashback..

“Aiisshh.. aku benci hujan!”gerutuku. hujan sore ini membuat bajuku basah! Dingin…

“Waeyo oppa?”tanya Hana padaku. Dia tepat di sampingku,kami berlindung di bawah atap garasi sebuah rumah kosong.

“Aku benci hujan! Membuatku basah dan dingin! Aku tidak suka!”seruku lagi. Bukannya merespon kesal dia kini justru mengadahkan tangannya keluar,memainkan air hujan yang turun.

“Aku malah sangat suka hujan. Hujan itu menyenangkan.”ucapnya enteng sambil cengengesan .

“Hah? Apanya yang menyenangkan? Sudah.. jangan bermain air hujan itu lagi. Nanti kau sakit.”titahku. akan tetapi dia sama sekali tak menggubrisku,dia masih asik memainkan hujan itu.

“Aku suka hujan. Karna saat terkena hujan,tak ada seorang pun yang tau kalau aku sedang menangis. Hehehehe..”kekehnya. eoh? Alasan apa itu?

Flashback end..

Sekarang hujan.. apa dia sedang menangis? Atau dia justru senang karna malam ini hujan dan dia bebas main hujan?. Terserah apa yang di lakukannya sekarang. Aku tak peduli,yang aku pedulikan adalah bagaimana perasaannya. Tanpa mengganti baju yang lambab ini,aku menyambar kunci mobil yang ku letakkan di dekat pintu. Tempat tujuanku hanya satu. Rumah Hana…

AUTHOR POV

Hana berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya.Dia sengaja meminta sang supir taksi menurunkannya di pinggir jalan,tak berapa jauh dari rumahnya. Dinginnya air hujan bercampur angin yang menusuk hingga tulang tak dirasakannya. Sakit yang dirasakan di hatinya mengalahkan semua itu. Ya,Hana sedang menangis. Hujan ini membantunya untuk menyamarkan diri,kalau dia menangis. Bercak darah-efek dari mencabut paksa infuse- yang menempel di sekitar pergelangan tangannya dibiarkannya begitu saja. Hatinya seakan diremas saat mengatakan ingin berpisah dengan Jinki. Sebuah kata yang dihindarinya.

Tanpa disadari,Hana sampai di depan pagar rumahnya. Kibum yang menyadari kedatangan Hana yang di tunggunya lekas menghampiri Hana dan memayunginya, namun Hana terlanjur basah kuyup kehujanan.

“Hana-ah.. darimana kau? Kenapa kau kabur dari rumah sakit,huh?”serbu Kibum.

Hana diam,tak menjawab pertanyaan Kibum. Ia masih tertunduk.

“Hiks.. Hiks..”

“Hana-ah,kau menangis?”tanya Kibum lembut. Hana juga tak menjawab,ia masih menangis dalam tunduk. Kibum yang tak tega melihat Hana menangis langsung menarik Hana dalam pelukannya.

“Ssssh… uljima.. Berhentilah menangis. Kau ini kenapa?”

“Kibum-ah.. akuu… akuu…. Hiks.. Hiks..” Hana sesenggukan dalam dekapan Kibum.

“Ssshh… nanti saja ceritanya. Lebih baik sekarang kita masuk dulu. Kau ini masih sakit. Oke?”Hana diam saja saat Kibum dengan lembut merangkulnya dan membimbingnya masuk ke dalam rumah. Tanpa mereka sadari,ada seseorang yang menyaksikan kejadian itu dari dalam mobilnya.

“Aiisshh!!!!”gerutunya.

TBC

Gimana? Gimana?? Masih pengen lanjutannya?? Makanya komen!!?*maksa.. hohohohoho…

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

30 thoughts on “Would You Please : The Truth [3]”

  1. Nyesek dech kalo jadi hana..jinki kejamnya dikau…tp semakin kesini jinki kaya’nya mulai suka sama hana,next part jgn lama2,ya thor? 🙂
    Nice ff

  2. Huu…
    Lanjut, thor. Sampe nangis bca.y.
    Pkok.y awas aja klw Hana.y jadi ma Jinki!
    #buang jinki ktong sampah
    #dkepret MVP skampung

    Jadi.y ma Kibum aja. Aku jauuuuuuuuuhhh*lebe* s7 klw dy sm Kibum.
    Kibum DAEBAK!!!
    #usung2 banner Kibum

  3. Waahhh kasian bgt si hanaa ..
    Kyknya jinki mulai ska deeh wkwk
    Cemburu ya ngliat hana plukan ama kibum??
    Klanjutannya gak pake lama ya thor!^^

  4. suka bngt line “terima kasih juga berkat kau kini aku belajar cara melepaskan sesuatu yang amat berharga”…keren thor..LANJUUUUUUUUUUUUUUT

    niat jinki jelek sih..py sbnr na dia ga jahat..kibum perhatian bngt…

  5. Nyesel!!!kan jinki!!
    Makanya jangan siasiain
    Hana udah baik kaya gitu
    Malah di manfaatin buat hyomin
    Nyesek banget suer deh pas diputusin
    Onew baru deh ngerasain kehilangan
    Mana syalnya anget katanya haduhh
    Makin menambah kesan penyesala banget #apadehini
    Lanjutt

  6. kasian banget sih nasib hana. Gara2 jinki tuh ckck
    kejam yak itu jinki #dirajam MVP’s
    ditunggu next partnya ^o^

  7. huwaaa….
    hana sabar … kmu sma kayak aku suka hujan .. heheheh jinki ?!! jahatnya kau!! lihat kan ?!! hana jdi kayak gitu gra2 kmu!! sekarang?!! rasain tuh nyesel bgt di tinggal hana !! n lebih pantes sma kibum deh si hana !!

    lanjutannya jgn lma2 thor!! klo bisa udah di kirim tuh part selanjutnya … biar cepet di publish!!

  8. Aduhh pasti jadi hana nyesek banget dehh senyesek nyeseknya orang nyesek hana lah orangnya *lebayy

    Wahhh bagus thour ceritanya !!!!

    AUTHOUR DAEBAK !!!!

  9. Ya ampun pasti jadi hana tuh nyesek banget,emang tuh jinki jahat banget!!!!!!!!!!

    AUTHOR NYA DAEBAK!!!!!!! 😀

  10. Aiggooo… Kira kira itu si kibum suka juga gk ya ama hana?? Mudah mudahan aja tuh jinki oppa jadi suka beneran ama hana! Biar tau rasa tuh, envy tuh si jinki ngeliat hana ama kibum pelukan ..
    #apadeh

    Next ff nya jgan lama lama ya thor, author daebak 😀

  11. jinki oppa jahat ….
    hana mending ama kibum ajja dhe ,,,,, wlwpun dy orang’na cerewet tp dy lbih care .. *promosi*

  12. Hi,….Hi,…..Hi,…..
    Sedih bnget ceritanya,…
    Gak sabar Mau lihat lanjutannya,…
    =============
    =============
    =============

  13. AAAAHHH!!! AUTHOR!! ULTRA DAEBAAAK!!!
    buset dah ini author.. lagi buntu aja ceritanya daebak gini…huwaaaah!!!!!
    ga sabar ga sabar … buru2 lari ke page sebelah (part 4 maksudnya)

    gila feel nya dapet banget thor… nyeseknya kerasa banget…..
    Jinki,neon jeongmal bad boy x0

  14. kalo jalan ceritanya kayak gini, kemungkinan abis putus ama jinki hana balik ke key, terus ya~~~ balik lagi ke jinki nggak yah??? -_____-
    balik
    nggak
    balik
    nggak
    balik
    nggak (lagi ngitung kancing baju buat nentuin jinki ama hana balikan lagi apa nggak)

    TAPI AKU NGGAK TEGA KEY TERSAKITIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA >X'<
    *Balik deh sensitifku sama key

  15. One Word : N.Y.E.S.E.K !!!!!!!!
    Appaaaaaan itu Jinki???! Parahbeett hahahhaa~
    Cocok dah sama subtittlenya -> THE TRUTH ! HAHAHA..

    Sabar ya Hana~
    Si Jinki udah mutusin pake cemburu lagi ck

  16. ya ampun hana.. walaupun sakit.. tp dia harus tegar..
    gmn jinki setelah putus dr hana? apa dia menyesal telah menyakitin hana

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s