After You Were There

After You Were There

Author             : Dhona (heerinahn)

Main Cast        :

  • Lee Taemin
  • Choi Minho
  • Lee Hyesun

Support Cast   :

  • Jessica Jung
  • Lee Donghae
  • Choi Siwon
  • Shin Rinran

Genre              : Sad, Romance, Tragedy

Length             : Oneshot

Rating              : PG – 13

Disclaimer        : The casts are belong to me and also with story .__. Plagiatism will get the best way to bailed up by the police =))

 

 ‘How if i can’t see you again then how can i’

Sinar matahari dari celah jendela dan tirai membangunkanku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan merasakan sakit disekujur tubuhku. Mataku menyapu sekeliling ruangan yang tidak lain adalah kamar rumah sakit. Tiba-tiba bayangan itu muncul lagi.

“Kalau dia mencintai mu dan appa mu pasti dia akan kembali”

Aku mencoba bangun dan memposisikan diriku untuk duduk. Tanganku meraba perban yang terlilit dikepalaku dan mataku menatap selang infus yang tertancap di tangan kiriku. Mataku kembali melihat ke sekeliling kamar dan berhenti di meja samping ranjangku. Aku mengambil secarik kertas yang ada diatas situ.

Apa kau sudah bangun?

Aku keluar sebentar untuk membeli makanan.

Aku akan segera kembali

-Choi Minho-

Aku tersenyum getir dan meremas kertas itu dengan perasaan kesal lalu melemparnya ke sembarang arah. Aku berusaha bangun dengan susah payah karna rasa sakit yang masih menjalar diseluruh tubuhku. Aku mencabut selang infus dengan kasar membuat darah segar mengalir dari tanganku. Dengan langkah gontai aku berjalan menuju pintu kamar dan segera keluar. Tatapan dari suster dan pengunjung rumah sakit yang lewat tidak kuperdulikan. Aku terus berjalan menyusuri lorong. Aku berusaha mengabaikan rasa sakit yang makin kurasakan di seluruh tubuhku.

-flashback-

“Annyeong Taemin-ah~” aku melambaikan tanganku pada mobil Taemin yang sudah berjalan meninggalkan halaman rumahku. Dia baru saja mengantarku pulang sekolah. Aku melangkah kearah pintu rumah saat mobilnya sudah mengilang di tikungan jalan. Tanganku hendak membuka kenop pintu saat aku mendengar seruan seorang pria

“Aku tau, sebenarnya kau sudah lama menjalin hubungan dengannya kan ?! Jawab aku Jessica !” teriak suara pria yang tidak lain adalah suara Appaku.

“Kau mau tau jawabannya? Jawabannya iya! Sekarang kau puas ?!” jawaban Eomma membuatku mengurungkan niatku untuk membuka pintu dan malah diam di balik pintu ini.  Mendengarkan percakapan mereka.

“Aku tidak menyangka kau setega itu padaku dan Hyesun…” aku terhenyak saat mendengar namaku disebut. Aku mencoba mengintip lewat jendela, tapi percuma, jendela itu tertutup oleh tirai tebal.  Aku mendengus kesal dan kembali mendengarkan percakapan mereka.

“Lebih baik kita bercerai Donghae-ya..”

DEG!

Aku bangkit dengan tiba-tiba dan beranjak ke luar gerbang dengan langkah lunglai. Sebenarnya aku tau apa yang sedang terjadi. Eommaku mempunyai hubungan khusus dengan sahabat Appa, namanya Siwon. Siwon adalah seorang duda beranak 1 karna istrinya meninggal akibat sebuah penyakit. Aku cukup dekat dengan Siwon, namun ternyata Eomma ku lah yang lebih dekat dengannya. Sampai akhirnya Appa mengetahui hubungan rahasia diantara mereka. Kalian pasti ingin tau kan kenapa aku bisa mengetahui hubungan Eomma dan Siwon terlebih dahulu dari Appa? Ya, aku pernah menyaksikan Eommaku bercumbu dengan Siwon di rumahku saat Appa sedang dinas ke luar kota. Namun aku menyembunyikan rahasia ini dan tidak berani memberi tau Appa.

Aku mendengar langkah kaki itu berderap perlahan keluar dari dalam rumah menuju halaman rumah. Aku segera bersembunyi ke balik dinding rumah dan menengok hati-hati ke arah halaman. Eomma keluar dari dalam rumah dengan mata sembab dan kunci mobil di tangannya.

Saat mobil Eomma beranjak pergi, aku langsung jatuh terduduk.  Namun tidak lama kulihat Appa juga ikut keluar dari dalam rumah dengan kunci mobilnya. Wajahnya menyiratkan kepedihan yang amat sangat. Rasanya aku ingin sekali berlari memeluknya. Tidak lama mobil Appa ikut meninggalkan halaman rumah dan pergi entah kemana. Air mata mulai mengalir dan membentuk sebuah sungai kecil di pipiku.

Dengan tangan gemetar aku mengambil handphone milikku yang ada di dalam tas sekolah yang masih aku pegang. Aku menekan nomor seseorang yang sudah sangat kuhafal lalu segera menelfonnya.

“Taemin-ah, bisakah kau kembali kesini ?” kataku sedikit terisak.

****

“Kau tau? Makanan itu bisa membuat perasaan kita menjadi lebih baik” ucap Taemin sambil memakan bulgogi nya. Aku hanya mengangguk.

“Ne” balasku singkat dan kembali berkonsentrasi dengan gimbap didepanku.

“Mungkin besok aku akan pergi ke makam Eomma, sudah lama aku tidak pergi kesana. Apa kau mau menemaniku ?” tanya Taemin sambil menatapku. Aku mengangguk dan tersenyum.

“Aku takut… Eomma tidak akan kembali lagi..” kataku lalu meletakkan kembali sumpitku diatas piring dan menghentikan aktifitas makanku. Taemin menatapku iba.

“Kalau dia mencintai mu dan appa mu pasti dia akan kembali” ucap Taemin. Aku masih menunduk.

“Kau sudah dewasa, kau harus siap jika sewaktu-waktu akan kehilangan orang yang kau cintai” lanjutnya. Aku mengangkat wajahku dan menatapnya.

“Dan aku bersyukur karna aku masih memiliki namja chingu yang perduli denganku” kataku sambil tersenyum simpul.

“Bagaimana kalau Tuhan memanggilku ?” celetuknya.

“Ya! Aku tidak suka kau berbicara seperti itu! ” bentakku.

“Haha mianhae” dia menangkupkan kedua telapak tangannya. Aku hanya bisa mendengus kesal.

“Kau harus berjanji tidak akan meninggalkanku. Kalaupun Tuhan memanggilmu kau juga harus mengajakku ikut bersamamu. Arrasseo ?” lanjutku dengan tatapan serius.

“Keurom” jawab Taemin sambil tersenyum. Aku terkekeh.

“Kau sudah selesai makan? Bagaimana kalau kita pulang sekarang ?” tanya Taemin. Aku mengangguk setuju dan bangkit.

****
“Sepertinya Appa mu belum pulang” kata Taemin sambil mengamati rumahku yang gelap dari dalam kaca mobilnya.

“Gwaenchana. Gomawo sudah mengantarku” kataku tulus. Dia tersenyum manis dan..

Cup!

Dia menciumku kilat saat aku akan turun dari mobilnya.

“Hyaaaa! Ciuman pertamaku! ” aku meraba bibirku yang baru saja bersentuhan dengan bibirnya.

“Aw! ” pekiknya saat aku mencubit lengannya keras.

“Ya mianhae” katanya sambil mengelus lengannya yang mungkin merah karna bekas cubitanku. Tanganku meraba jantungku yang semakin berdetak cepat.

“Sudahlah aku mau masuk” aku membuka pintu mobilnya dan segera keluar. Dia menurunkan kaca mobil sebelah kanannya. Aku menundukkan kepalaku untuk melihatnya yang ada didalam mobil.

“Hari sudah semakin malam. Kau harus berhati-hati” kataku khawatir. Dia mengangguk dan tersenyum lagi. Entah kenapa aku melihat senyumnya seperti berbeda dari biasanya. Lebih manis.

“Kau juga harus hati-hati. Aku akan menelfon mu begitu aku sampai dirumah. Annyeong Hyesun-ah” Dia melambaikan tangan kanannya. Aku ikut melambai dan tidak berapa lama mobilnya sudah hilang dari pandanganku. Aku membuka pintu gerbang dan segera masuk ke dalam rumah.

****
Pukul 10 malam aku terbangun karna mendengar dering handphone ku. Aku bangkit dan mengambil handphone yang kuletakkan di meja samping tempat tidurku dengan malas karna masih merasa ngantuk.

“Yoboseyo ?” tanya suara disebrang sana sebelum aku sempat bertanya duluan.

“Ne ?” jawabku bingung karna aku merasa tidak mengenal suaranya.

“Apakah ini nona Hyesun ?” tanyanya lagi.

“N..ne, waeyo ?” aku merasa gugup sekaligus bingung.

“Kami dari kepolisian Seoul. Saudara Lee Taemin baru saja mengalami kecelakaan mobil. Kebetulan cuma nomor nona yang berhasil kami hubungi…..”

Trak!

Handphone ku jatuh begitu saja sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya. Aku terdiam beberapa detik untuk mencerna apa yang baru saja dia katakan. Tidak terasa butiran air mata mulai mengalir di pipiku. Aku segera bangkit dan berlari keluar rumah untuk mencari taksi yang bisa membawaku ke rumah sakit secepatnya.

****
“Kamsahamnida ahjussi” kataku sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada supir taksi dan segera masuk ke dalam rumah sakit. Aku masih memakai baju tidur dan sendal tidur namun aku tidak perduli. Aku berlari mencari bagian resepsionis dengan perasaan khawatir.

“Annyeong, apa kau tau dimana Lee Taemin sekarang ?” tanyaku pada suster yang sedang melintas di sampingku. Suster itu berhenti dan membuka lembaran kertas yang dia bawa.

“Oh dia ada dibagian ICU” jawab suster itu.

“Kamsahamnida” aku tersenyum kecil dan segera berlari menuju ruang ICU.

Sampai di ICU aku terbelalak melihat seseorang yang sedang duduk sendiri disana. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aku mendekatinya perlahan.

“Apa yang kau lakukan disini ?” tanyaku padanya. Dia terlihat kaget menyadari keberadaan ku di situ.

“Kau sendiri… Sedang apa disini ?” dia balik bertanya padaku. Aku mengerutkan kening.

“Lee Taemin adalah namja chinguku” jawabku. Dia terbelalak dan makin membuatku bingung. Tidak lama dokter pun keluar dari dalam ruang ICU. Sontak aku dan dia langsung menghampiri dokter tersebut.

“Apakah anda keluarganya ?” dokter itu bertanya padaku. Aku mengangguk.

“Bagaimana keadaannya ?” tanyaku khawatir.

“Dia kehilangan banyak darah, seandainya saja ia dibawa lebih cepat…” ucap dokter itu dan segera berlalu. Aku masih mematung dan tiba-tiba dia memelukku.

“Mianhae, jeongmal mianhae” katanya lirih. Aku mendorong tubuhnya menjauhiku.

“K..kau. Apa yang kau lakukan padanya ?!” teriakku diikuti isakan tangis.

“Kami hampir saja bertabrakan tadi namun dia membanting stir mobilnya terlalu keras sehingga…” pria itu tidak melanjutkan kata-katanya. Aku segera berlari masuk ke dalam ruang ICU dan kutemukan Taemin disana sudah terbujur kaku.

Lututku mendadak lemas, tubuhku menggigil seketika. Pikiranku masih kalut, segalanya terlihat berkabut.  Sakit, benar-benar sakit saat mengetahui segala kenyataan ini.

“Oppa…” aku berjalan mendekatinya. Kubuka kain yang menutupi wajahnya dan tangisku makin pecah.

“Hyesun….” kurasakan tangannya mengelus bahuku.

“Pergi kau Siwon! Aku membencimu !” histeris ku.

****

“Kkajja !” kata Appa. Aku berbalik dan menatapnya yang sedang berdiri di belakangku.

“Sebentar” kataku pelan. Dia mengangguk dan berjalan meninggalkanku. Aku menatap kembali gundukan tanah di depanku.

“Taemin-ah, apakah kau bahagia disana ?”

“Mianhae, mianhae membuatmu pergi secepat ini…” kataku lirih. Aku menyentuh salah satu karangan bunga yang ada disitu.

“Apa kau sudah bertemu dengan Eomma mu disana? Sampaikan juga salamku padanya” lanjutku.

“Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku… Tapi kenapa kau pergi mendahului ku?!” teriakku tertahan. Air mata terus mengalir di pipiku, buru-buru aku menghapusnya.

“Aku akan pindah ke Jerman bersama Appa dan Yoona. Dia menyuruhku melanjutkan sekolah disana..” ku tatap batu nisan itu dengan tatapan nanar.

“Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi.. Aku janji akan kembali lagi kesini” kataku dengan senyum simpul. Aku bangkit dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan enggan.

****
“Ne, aku sampai tadi malam. Saat appa menelfon aku sudah tidur” ucapku pada seseorang disebrang telfon.

“Syukurlah, apa kau tidak apa sendirian disana ?” tanya Appa khawatir. Aku terkekeh.

“Aku bukan anak kecil lagi Appa. Aku sudah 19 tahun” kataku.

“Kalau ada apa-apa segera hubungi Appa” balasnya.

“Ne”

“Sebenarnya Appa masih tidak ingin kau kembali kesana. Banyak universitas bagus disini. Untuk apa kau kembali lagi kesana” katanya panjang lebar. Aku menghela nafas dan menghentikan aktifitas makanku.

“Kita sudah sering membicarakannya. Ini adalah keputusanku dan aku akan menerima resikonya” kataku tegas.

“Baiklah, Appa tidak bisa berbuat apa-apa. Oh ya Yoona ingin bicara denganmu”

“Hyesun-ah” tiba-tiba suara Appa sudah digantikan oleh suara seorang yeoja yang sekarang menjadi eomma tiriku.

“Bagaimana apartement yang ku carikan? Apa kau menyukainya ?” tanyanya.

“Ne, aku menyukainya. Tidur ku nyenyak sekali tadi malam hehe gomawo” ucapku.

“Cheonmaneyo, kau bisa menelfon ku jika ada sesuatu yang kau butuhkan. jaga dirimu baik-baik, annyeong”

Tut..Tut…

“Aku selalu saja membuat mereka khawatir” gumamku sambil meletakkan handphone di meja makan. Aku melirik jam tanganku dan segera bangkit. Tidak lupa aku memasukan handphoneku ke dalam tas selempang yang kubawa.

Aku berjalan menuju pintu dan segera menutupnya. Hari ini adalah hari pertamaku di universitas yang baru. Sebelumnya aku ingin mengunjungi seseorang yang sudah lama sekali aku tinggalkan.

****

Aku melangkah pelan ke dalam pemakaman ini. Segalanya masih sama, tak banyak yang berubah dari tempat ini. Masih sama seperti 3 tahun yang lalu, saat aku pergi mengantar Taemin ke tempat peristirahatan nya yang terakhir.

“Annyeong Taemin-ah, apa kabar mu ?” aku meletakkan karangan bunga kecil di samping batu nisan yang aku beli sebelum pergi kesini.

“Aku telah menepati janji ku. Aku kembali lagi kesini” aku tersenyum simpul dan terdiam untuk beberapa detik.

“Apakah kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu” aku terus berbicara sendiri. Berharap orang yang aku ajak bicara bisa membalas kata-kataku walaupun itu sangat tidak mungkin.

“Kau tau betapa sulitnya hidupku tanpamu? Tidak ada yang menghiburku lagi saat aku sedih dan mengajari ku poppin’ dance” aku mencoba menahan air mataku dan tertawa saat mengucapkan kalimat yang terakhir.

“Yoona sangat baik padaku. Dia menganggap ku sebagai anaknya sendiri”

Aku merasakan hawa dingin yang berhembus. Tubuhku merinding.

“Aigoo! Aku sudah terlambat! Mianhae Taemin-ah aku akan sering kesini. Annyeong” aku terbelalak saat melihat jam tanganku. Aku mengusap air mata di ujung mataku dan berdiri lalu beranjak dari situ.

****
Aku berjalan atau lebih tepatnya berlari kecil, berharap belum terlambat untuk masuk ke kelas pertamaku. Aku tidak bisa membayangkan jika aku terlambat di hari pertamaku.

BRUK!

“Ah mianhae” buru-buru aku berdiri dan mengambil beberapa buku ku yang jatuh berserakan akibat tabrakan tadi.

“Gwaenchana. Kau mahasiswi baru ya ?” tanya namja yang menabrakku. Aku mengabaikan pertanyaannya dan segera berlari menuju kelasku yang berada di lantai 2.

“Ya! Nona!” teriak namja itu. Aku tidak menghiraukannya dan terus berlari sebelum benar-benar terlambat.

Klek!

Aku membuka pintu kelas perlahan. Tatapan seisi kelas berpindah padaku. Sepertinya aku benar-benar sudah terlambat. Aku menelan ludah dan berjalan menuju seorang songsaenim yang sedang berdiri di depan kelas.

“Mianhae songsaenim aku terlambat” Aku membungkuk sebagai permintaan maaf dan dengan ragu-ragu menatap songsaenim di depanku. Wajahnya terlihat marah namun sedetik kemudian dia tersenyum.

“Gwaenchana. Kau murid baru itu kan ?” tanyanya. Aku tersenyum dan mengangguk.

‘Sepertinya dia orang yang baik’ batinku.

“Perkenalkan dirimu” perintahnya. Aku membalik tubuhku dan menatap seisi kelas yang sedang menatapku. Sebagian tersenyum dan sebagian lagi melihatku dengan tatapan datarnya.

“Annyeonghaseyo, Lee Hyesun imnida”

****
“Hei kau yeoja yang tadi pagi kan ?” aku mengalihkan pandanganku dari buku yang sedang ku baca dan saat menengok ke samping, seorang namja sedang tersenyum ke arahku.

“Mianhae” aku menutup buku ku dan berdiri, berniat meninggalkan taman kampus beserta namja itu.

“Jankkaman !” teriaknya. Aku berbalik dan melihat dia yang berlari kecil menghampiriku.

“Milikmu” katanya sambil menyerahkan sebuah buku padaku. Aku terbelalak dan segera menerima buku itu.

“Tadi jatuh saat kita bertabrakan” jelasnya.

“Kamsahamnida” ucapku pendek dan melanjutkan langkahku meninggalkan namja itu.

****
“Hei, apakah kau mau bergabung dengan kelompok belajar kami ?” tanya salah seorang teman sekelasku. Kalau tidak salah namanya… Rinran!

“Mianhae” ucapku pendek.

“Ayolah, kami kekurangan 1 orang lagi, mau ya Hyesun ?” dia masih berusaha membujukku. Aku menutup buku yang kubaca dengan kasar.

“Aku tidak tertarik sama sekali. Kau bisa mencari anak lain yang mau bergabung dengan kelompok mu” kataku dingin dan segera berjalan keluar kelas.

“Cih, dingin sekali” gumam Rinran namun aku dapat mendengarnya dengan jelas. Aku menghela nafas dan terus berjalan menyusuri lorong tanpa tau kemana tujuanku sebenarnya.

“Ya!” teriak seorang namja yang sepertinya ku kenal. Aku berbalik dan mendapati namja yang kemarin menabrakku sedang berlari kecil ke arahku.

“Mwo ?” tanyaku tak acuh.

“Ehm, Choi Minho” namja itu mengulurkan tangannya. Aku menatap uluran tangannya tanpa membalasnya.

“Mianhae aku buru-buru” aku melanjutkan perjalananku dan meninggalkan namja itu sendiri.

“Jangan dekati dia. Yeoja dingin seperti itu tidak pantas untukmu Minho-ya” samar-samar kudengar suara Rinran. Aku pun melambatkan langkah kaki ku.

“Jinjja? Nuguseyo ?” tanya namja yang bernama Minho itu.

“Lee Hyesun. Dia mahasiswi baru. Orangnya sangat dingin”

Aku mendengus sebal mendengar ucapan Rinran. Ku percepat langkah kaki ku agar tidak mendengar percakapan mereka lagi. Sekarang aku sudah tau kemana tujuanku.

****
“Kau tau? Dia mengatakan kalau aku adalah yeoja yang dingin” ucapku didepan batu nisan Taemin.

“Di Jerman pun aku hanya mempunyai sedikit teman karna terlalu tertutup” aku berusaha menahan air mataku.

“Tanpamu aku tidak bisa ceria seperti dulu. Aku merasa kalau Hyesun yang dulu sudah mati”

Lagi-lagi aku merasakan angin yang cukup kencang dan hawa dingin yang menyelimutiku. Merinding, hanya itu yang aku rasakan sekarang.

“Apakah kau ada disini Taemin-ah? Jeongmal bogoshippeo” aku menundukkan wajahku dan terisak.

“Kembalilah, aku mohon..” isakku.

****
Ting Tong!

Bel apartement ku berbunyi saat aku sedang membuat teh di dapur. Mungkin pegawai delivery makanan, fikirku.

“Annyeong..” namja itu tersenyum padaku. Aku pun segera menutup pintu apartement ku namun tangannya berhasil menahan pintu.

“Jankkaman.. Biarkan aku masuk dulu” ucapnya. Aku berfikir sebentar dan akhirnya membuka pintu.

“Masuklah” ucapku pelan. Dia tersenyum dan segera masuk ke dalam apartement ku dan duduk di salah satu sofa di ruang tamu.

“Mau minum apa ?” tanyaku.

“Terserah” katanya. Aku pun berjalan menuju dapur dan bermaksut membuatkannya teh.

“Ini. Udara diluar sangat dingin” ucapku sambil meletakkan secangkir teh dimeja tamu. Dia mengangguk dan langsung meminumnya. Aku duduk di sofa yang bersebrangan dengannya.

“Darimana kau tau rumahku ?” tanyaku. Dia terlihat kaget saat aku bertanya padanya.

“Kemarin aku mengikutimu..” ucapnya ragu. Aku terbelalak.

“Mwo ?!” pekik ku.

“Mianhae, habis aku penasaran denganmu” katanya. Aku tersenyum sinis padanya.

“Waeyo? Karna aku mengacuhkan seorang playboy kampus? Kalau hanya karna itu lebih baik kau pergi sekarang” aku berdiri hendak membuka pintu apartement namun tangannya menahan lenganku.

“Jebal, biarkan aku bicara..” ucapnya. Aku menatapnya dan menghentakkan tanganku lalu kembali duduk.

“Jadi nama mu Hyesun ?” tanyanya. Aku memutar bola mataku. Baiklah ini pasti trik klasik seorang playboy. Aku sudah siap menendangnya keluar dari apartement ku jika dia berani berbuat macam-macam.

“Apa makam yang kemarin kau datangi itu makan namja chingu mu ?” lanjutnya. Aku tercekat dan diam untuk beberapa saat.

“Itu bukan urusanmu” kataku. Mataku tidak menatapnya, aku menatap cangkir teh di depanku yang sepertinya sudah mulai dingin.

“Apa kau menjadi seperti ini karna kehilangan namja chingu mu ?” tanyanya. Aku merasakan hawa panas yang menjalari tubuhku saat dia berbicara tentang Taemin.

“Jebal jangan marah. Aku hanya tidak ingin semua orang mengatakan hal buruk tentangmu” katanya.

“Kamsahamnida Minho-ssi. Aku terharu dengan kepedulianmu terhadapku namun lebih baik kau keluar sekarang” ucapku padanya sambil menyunggingkan senyum palsu.

“Kau mahasiswi baru kan? Pasti kau sendirian disini” katanya tanpa memperdulikan kata-kataku barusan.

“Kau salah. Aku lahir dan tinggal disini selama 16 tahun” balasku. Dia tampak kaget.

“Jinjja? Lalu kenapa kau pindah ?” tanyanya. Entah kenapa aku merasa butuh menceritakan hal itu padanya. Selama 3 tahun aku memendam ini sendiri. Dan sekarang aku ingin menceritakan rahasiaku pada orang yang baru kutemui 2 hari lalu? Dimana otak mu Hyesun?

“Eomma dan Appa ku bercerai. Lalu Appa memutuskan untuk pindah ke Jerman dan menikah lagi” kata-kata itu keluar saja dari bibirku tanpa sempat kucegah.

“Nado..” ucapnya.

“Mwo ?” tanyaku tidak mengerti.

“Eomma ku meninggal saat aku berumur 10 tahun dan akhirnya Appa memutuskan untuk menikah lagi” lanjutnya. Aku terhenyak.

“Oohh” komentar ku.

“Atau kau pindah lagi kesini karena namja chingu mu ?” tanyanya.

“Ne” kataku pendek.

“Aku baru pertama kali bertemu dengan yeoja sepertimu. Kau sangat setia” katanya. Aku terkekeh.

“Aku suka melihatmu tersenyum. Kau cantik” lanjutnya. Pasti wajahku sudah merah sekali sekarang.

“Ngomong-ngomong kau mengingatkan ku pada seseorang. Kau terlihat mirip dengannya” kataku.

“Jinjja? Nugu ?” tanyanya semangat.

“Kau mengingatkan ku pada orang yang membunuh namja chingu ku” canda ku. Kulihat dia yang cemberut.

“Seburuk itu kah ?” tanyanya. Aku tertawa.

Lee Taemin, setelah 3 tahun akhirnya aku bisa tertawa lagi. Semoga Minho adalah namja yang baik dan akan terus membuatku tertawa. Kau pasti melihatnya kan dari surga?

****
“Minho-ya, apakah kau mau pulang bersamaku ?” tanya Rinran pada Minho yang ada di sampingku. Aku pura-pura tidak mendengar dan terus berkonsentrasi dengan tugas yang sedang ku tulis.

“Mianhae Rinran-ssi, aku tidak bisa” ucap Minho. Rinran menarik tangan Minho keluar kelas.

“Waeyo? Karna Heerin ?” suara Rinran dapat kudengar dengan jelas dari dalam kelas.

“Kenapa akhir-akhir ini kau dekat dengan yeoja dingin sepertinya? Dia tidak baik Minho-ya!”

Aku berusaha tidak memperdulikan percakapan mereka. Namun suasana kelas yang sepi membuatku dengan mudah mendengar percakapan mereka.

“Stop Rinran-ssi! Apa hak mu melarangku berteman dengannya? Mulai sekarang jangan ganggu aku lagi!” Minho berteriak cukup keras. Aku menghentikan aktifitas menulisku.

“Ya! Minho-ya!” teriak Rinran saat Minho kembali masuk ke dalam kelas ku.

“Mianhae” ucapnya sambil duduk di sampingku. Aku bangkit dan membereskan buku-buku ku lalu keluar dari kelas sambil tetap mengacuhkannya.

“Hyesun-ah !” Minho berlari mengejarku yang sudah ada jauh di depannya.

“Jankkaman..” Minho menahan tanganku, membuatku menghentikan langkahku.

“Mwo? Aku bukan yeoja yang butuh belas kasih mu. Lebih baik kau cari yeoja lain disana yang dengan senang hati mau berteman denganmu” aku menatapnya nanar.

“Sstt !” Minho meletakkan telunjuknya di bibirku. Air mata sudah menggenang di pelupuk mataku.

“Aku berteman denganmu karna kau berbeda dari yeoja-yeoja lain. Aku tidak perduli kau menganggap ku playboy atau apapun tapi… Saranghae” ucap Minho sambil tersenyum manis.

“Biarkan aku menjadi obat dari luka hatimu, jebal..” lanjutnya. Aku menatapnya dalam. Mencari kebohongan dari kata-katanya tadi namun aku tidak dapat menemukannya sama sekali.

“Kau berjanji tidak akan meninggalkan ku seperti Eommaku dan Taemin ?” tanyaku dengan tatapan sendu. Dia mengangguk dan menarikku ke dalam pelukannya. Kurasakan tatapan dari orang-orang yang melintas disamping kami.

Taemin, sekarang aku telah menemukan penggantimu. Semoga dia tidak akan meninggalkanku seperti dirimu dan Eomma. Apa kau bahagia disana?

****
“Oppa kita mau kemana ?” tanyaku pada Minho yang sedang berkonsentrasi menyetir mobil. Dia menatapku sesaat lalu tersenyum dan kembali menatap ke jalanan yang sedang di lewatinya.

“Aish jangan buat aku penasaran” aku membuang wajahku dan menatap jalanan yang kami lewati lewat kaca mobil.

“Haha jangan cemberut seperti itu. Aku mau mengajakmu bertemu dengan Eomma dan Appaku” kata Minho. Mataku melebar.

“Mwo? Kenapa tidak bilang dari awal? Aish aku kan bisa bersiap-siap dahulu” kataku makin cemberut.

“Gwaenchana. Eomma dan Appa sudah menunggu dirumah. Mereka penasaran denganmu” ucap Minho sambil tetap tersenyum. Rasanya amarahku langsung menguap entah kemana tiap melihat senyumnya.

“Kkajja !” Minho menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dengan cat warna putih yang cukup besar. Aku menatap ragu kearah Minho.

“Aish jangan tegang seperti itu. Mereka tidak akan memakanmu” ucapnya asal sambil terkekeh. Aku tersenyum dan turun dari mobil setelah Minho membuka pintunya.

“Oppa….” aku memeluk lengan Minho kuat. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang tuanya. Apa yang akan mereka katakan nanti? Apakah mereka menyukaiku atau sebaliknya? Hanya itu yang terus berputar-putar di otakku.

Minho membuka pintu rumahnya dan menarikku ke arah dapur. Jantungku berdegup lebih cepat. Semoga orang tua Minho memberikan kesan positif padaku.

“Appa, Eomma.. ini yeojachinguku, Hyesun” Minho sedikit berteriak dan

Prang!

Piring yang dipegang wanita itu jatuh ke lantai dan pecah saat dia melihatku. Aku pun tak kalah terkejut dengannya.

“Hyesun…” orang yang dimaksut Minho sebagai Eomma nya kini mendekatiku. Sedetik kemudian aku sudah berada di pelukannya. Tanganku masih menggenggam tangan Minho yang ada di sampingku.

“Eomma menyukai Hyesun kan? Dia yeoja yang baik..”

“Eomma merindukanmu..” ucap wanita itu memotong perkataan Minho. Minho menatap bingung ke arahku dan wanita yang sedang memelukku.

“Minho-ya! Dimana yeojachingu mu…” tiba-tiba seorang pria datang dan ikut terkejut melihatku.

“Apa yang sebenarnya terjadi ?” tanya Minho karna wanita itu tidak berhenti menangis sambil tetap memelukku. Rasanya aku ingin menangis juga. Pelukan ini, aku merindukan pelukan ini selama 3 tahun. Aku ingin membalas pelukannya namun hatiku berkata lain.

“Apa kabar Eomma ?” tanyaku dengan suara parau pada wanita yang sedang memelukku ini dan tidak lain adalah Eomma kandungku sendiri.

“Hyesun, bagaimana keadaanmu sekarang ?” tanya pria yang sedang berdiri di sampingku dan tidak berhenti menatapku.

“Jelaskan padaku! Ada apa sebenarnya ?” teriak Minho sambil menatapku dan orang tuanya secara bergantian.

“Dia adalah anak kandungku” balas wanita yang sedang memelukku dan kulihat Minho yang terkejut setelah mendengarnya.

“Jeongmal bogoshippeo Hyesun-ah..” wanita ini mengusap rambutku lembut. Aku masih belum membalas pelukannya. Tidak terasa air mata sudah mengalir di pipiku.

“Jinjja? Kau merindukanku? Lalu kenapa kau meninggalkanku ?” tanyaku. Dia menarik wajahnya dan menatapku. Ku tatap wajahnya yang masih cantik seperti 3 tahun lalu.

“Mianhae, Eomma tidak bermaksut meninggalkanmu” ucapnya diikuti isakan tangis.

Aku mengalihkan pandanganku dan menatap pria yang ada di sampingku.

“Apa kabar Siwon-ssi ?” tanyaku dengan senyum sinis. Kulihat matanya yang sedikit berkaca-kaca. Pertemuan yang benar-benar tidak pernah ku harapkan kini terjadi.

“Jadi kau… Anak kandung Eomma…” lirih Minho. Aku menatapnya sendu.

“Kau tau betapa tersiksanya Eomma karna kehilanganmu..” Eomma masih terisak. Aku mendorongnya menjauhi tubuhku.

“Jangan anggap aku anakmu..karna aku tidak pernah mempunyai Eomma sepertimu..” Aku melangkah mundur untuk menjauhi 3 orang yang ada di depanku. Yang aku inginkan sekarang adalah keluar dari tempat ini untuk selamanya.

“Hyesun! Apa yang kau katakan ?!” teriak Siwon sambil mencoba menenangkan Eomma ku yang tampak terguncang.

“Diam kau! Kau adalah pembunuh… Kau telah membunuh Taemin!” histerisku. Aku berlari keluar dari rumah Minho sambil menutup telingaku agar tidak mendengar teriakan mereka yang sedang memanggilku agar kembali.

Aku terus berlari dengan wajah yang tertunduk. Kudengar langkah kaki Minho yang sedang mencoba mengejarku. Aku mempercepat langkah kaki ku. Dan saat aku akan menyebrang jalan

“Hyesun awas !” teriak Minho. Samar-samar kudengar suara klakson mobil dan sedetik kemudian tubuhku sudah terpental ke jalanan. Aku mencoba membuka mataku dan mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Darah segar membanjiri tubuhku. Apakah ini akhir hidupku?

-flashback end-

Kunaiki tangga menuju atap rumah sakit dengan langkah gontai. Sepertinya rasa sakit di tubuhku kini makin menjadi. Saat aku membuka pintu atap ternyata pintunya tidak terkunci sehingga aku bisa masuk dengan mudahnya.

Aku melangkahkan kaki ku menuju bagian pinggir atap gedung. Aku mengambil tempat dan duduk disitu dengan kaki menjuntai kebawah.

Tanganku memegang selembar foto ku bersama Minho yang baru beberapa minggu lalu kami ambil.

“Minho-ya, kukira kau adalah malaikat penolongku tapi ternyata aku salah..” aku menatap nanar foto tersebut dan langsung merobeknya dengan kasar menjadi potongan-potongan kecil.

“Taemin-ah, biarkan aku menyusulmu. Aku ingin berada di sampingmu..” isakku. Saat aku menatap Siwon, rasanya aku kembali ingat dengan apa yang sudah menimpa Taemin 3 tahun lalu.

Aku berdiri dan menatap kebawah. Kulihat beberapa orang berkerumun dan berteriak untuk menyuruhku turun. Kulihat juga Minho disitu. Rasanya aku masih sangat mencintainya. Setidaknya dia pernah menemaniku selama 2 bulan kami berpacaran.

“Mianhae Appa, aku sangat menyayangimu. Begitu juga Yoona. Tapi aku sudah tidak tahan.. Aku ingin menyusul Taemin sekarang” gumamku. Berharap Appa disana mengiyakan permintaan terakhirku ini.

“Eomma… Ku harap kau bahagia bersama Siwon. Dan Minho, terima kasih telah datang dalam hidupku sebagai takdirku” ucapku lirih. Sebentar lagi aku akan menyusul Taemin dan kami tidak akan pernah terpisahkan lagi.

Aku memajukan langkahku dan memejamkan mataku. Sedetik kemudian aku merasa seperti melayang untuk beberapa saat. Ku rasakan sakit yang amat sangat saat tubuhku menghantam aspal panas dibawah namun tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku. Cairan kental mengalir dari kepalaku dan bagian tubuhku yang lain. Aku tidak bisa menggerakan tubuhku dan mataku semakin menutup. Makin lama pandanganku semakin gelap.

“The only thing I know is that I just really hurt”

“My formerly burning heart is slowly becoming cold”

“I’m afraid that if I close my eyes they will flow even as I look up to the sky”

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

40 thoughts on “After You Were There”

  1. Aihhhh parahhh
    Nyesek banget
    Kenapa ga happy ending hueee
    Mau nangis
    Jessica teganya dirimu
    Udah ninggalin malah bilang kangen ???
    Sebenernya minho ga salah
    Yang salah tuh jessica ama siwon kan (menurut heysun)
    Tapi kenapa rasanya minho kena imbasnya
    Tapi nyesek banget emang jadi hyesun
    Baru bisa ketawa lagi
    Tautau langsung sedih sedih sedihhh banget
    Kereeenn

  2. uwaaaaa
    udah lama gabaca ff bunuh diri, langsung emosional gini
    aku…nangis -__-

    udah lama juga gabaca ff
    emosional banget aku hari ini!

    aaah hyesun, bunuh diri itu gabaik
    tapi kalo aku diposisinya, mungkin aku juga mikir demikian
    tapi tetep aja cuma dipikiran aja
    aku gaboleh bunuh diri

    aaaaaa
    Minho kasihan yah
    tapi Donghae lebih kasihan
    tapi Minho ditinggal mati
    tapi Hyesun juga ditinggal mati sama Taemin

    oiya
    kalo bunuh diri kan gamasuk surga
    ga ketemu Taemin dong? -__-
    yah percuma

  3. sad story…
    kasihan hyesun saat dia udah pnya pengganti taemin eh dia ketemu sama mama nya.
    daripada bunuh diri mendingan mati pas tabrakan aja, hehe

  4. Sedih bngt…
    Mulai nangis pas bagian TaeMin mati.
    Smpai akhir gagg brhenti nangis#lebay

    bgus thor ceritax, udh lma gagg bca ff kya gini. 🙂

  5. huaaaaaaaa …….
    author’na harus tanggung jawab niey bikin aku nangis ……
    ceritanya tragis banget ,,,,,

  6. yaaah..kasian hyesunnya 😥 😥

    kenapa malah bunuh diri..bunuh diri kan ngg baik + dosa
    blum tentu kan dia nnti ktmu sm taemin #hanya ff

    tp keren bgt thor..endingnya menyedihkan.. :’) 🙂

  7. akhirnya begini? nyesek banget jadi hyesun 😦 btw, itu quotes-nya dari lirik coagulation ya? ehe. lagunya emang dalem banget

  8. nangis. makasih ya author udah bantu aku ngeluarin air mataku. soalnya, akhir-akhir ini aku pengen nangis tapi nggak bisa-bisa. jeongmal gomawoyo.

  9. aku menangis…
    Just want to say that, I know what you feel hyesun, but I can’t do like you’re doing… I keep my promise to live, even its without my beloved boy, *ngomong apa iki?
    Aku suka ff ini, tp masih berharap kalo happy end..
    Haha, *jabat tangan sama authornya, peace,*

  10. OK, walau aku telat baca dan telat komen tapi gak apa-apa ya…

    Huwaaa, aku nyesek, air mata udah hampir keluar pas baca part2 terakhir….
    Tragis banget siihhh… Kok pake bunuh diri segala…. Huuuu…. anda menyedihkan, Hyesun…

    Bener nih, kalo bunuh diri kan gak masuk surga…

    Haha, percuma deh kau pake bunuh diri segala….

    Tapi daebaklah… Keren….

  11. keren22. coba cast nya suamiku #digampar lockets# pasti rumahku sekarang makin banjir gara2 aku nangis baca ff ini.. hahaha… kerenkeren…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s