Finding You – Part 2

FINDING YOU-2                                              

Author : Mafharanisa

Maincast : Kim ‘Key’ Bum, Han Shin Ra, Choi Minho

Support cast : Selain maincast tentunya ^^

Genre : Romance, mystery, family

Rating : PG-15

Length : Sequel

Summary : Janji itu akhirnya mulai tampak.. Ketika kau memang adalah takdirku. Semuanya bagai dilatasi, kau tahu? Hingga pada akhirnya kau akan menemukan satu titik. Promise can be hurt if we don’t catch it.

A.N. : Ini fanfics sequel perdana asli karyaku. Mudah-mudahan kalian suka.. ^^

HAPPYREADING!

.

.

“Aku.. melihat.. hantu..Minho-ya..”

“Mwo?” dahiMinhoberkerut seakan tidak percaya. Namun Key balik menatap seraya mengangguk yakin.

“Kau kira aku bisa berantakan seperti ini gara-gara apa eoh?” mencoba memikirkan kata-kata hyung-nya itu. Sulit dipercaya. Ya, memang siapa yang akan langsung percaya di pulau seindah ini ada yang namanya hantu?

“Err.. Tapi, mana mungkin hyung? Di sini?”

“Tapi.. molla.. ah.. dia bisa menyentuhku..”

“Nah, mungkin itu hanya khayalanmu!” kini mata besarMinhoterlihat berbinar. Yeah, setidaknya ada sedikit bukti yang menguatkan kalau itu bukanlah hantu.

Key menggeleng lemah.

“Maybe.. Ah, aku lelah. Aku ingin mandi kemudian beristirahat.” Katanya sambil beranjak meraih handuk.

Minhomenatap sembari menggeleng-gelengkan kepala.

“Haah.. sejak kapan Key hyung jadi pandai berkhayal? Ckck..” berdecak pelan, meraih remote dan menekan tombol turn on.

.

.

“Oppa!” seorang gadis kecil berlari ke arah taman dengan sebuah boneka kelinci ukuran sedang di pelukan. Menghampiri namja kecil yang terlihat beberapa tahun lebih tua dibandingkan dirinya. Mendengar seseorang memanggilnya, namja itu menoleh, kemudian tersenyum.

“Adaapa adik kecilku yang manis, hm?” berjongkok menyetarakan wajah dengan yeoja di hadapannya. Gadis kecil itu menyodorkan boneka kelinci dengan telinganya yang hampir lepas sebelah. Terlihat begitu ingin menangis.

“Kibum oppa..  bonekaku.. hiks.. boneka dari oppa.. hiks..” menatap iba pada adiknya yang menangis sesenggukan, kemudian mengelus rambut panjang itu lembut.

“Shin Ra.. Uljima.. oppa akan benarkan lagi boneka itu. Jangan menangis lagi, ne?” mengangkat dagu adik kecilnya, meminta untuk menatap matanya, percaya. Ya, sukses menjadikan gadis kecil itu tersenyum.

“Gomawo Kibum oppa~” tangisannya reda, berganti senyum yang terlihat begitu manis. Kibum berdiri, kemudian menggandeng tangan kecil itu untuk masuk ke dalam rumah besar mereka.

“Ya! Kalian! Jangan hanya bermain! KEMBALI BEKERJA!” Sesosok tubuh tinggi membentak dengan suara besarnya di ambang pintu. Sontak sepasang kakak-adik itu terperanjat.

“Apa ini?! Boneka jelek!” Tangan besarnya merebut boneka kelinci dari tangan sang kakak, dan melemparnya tepat ke kolam ikan di pekarangan.

“Appa! Appa keterlaluan!” Kibum balik membentak appa-nya yang sudah terlampau jahat itu. Sementara tangan kanannya mengelus punggung adiknya yang mulai menitikkan air mata.

“Hahaha.. makanya, seperti kubilang. BEKERJA! ARA?!SANA!” Sosok menyeramkan yang ternyata adalah appa mereka itu malah tertawa seraya memandang sinis. Bukan hanya itu, bahkan tangan besarnya itu ia gunakan untuk mendorong Kibum dan Shin Ra ke halaman, hingga keduanya terjungkal.

“SHIT!” Kibum mengepalkan jemarinya di lantai. Sangat marah.

“Hiks.. sudahlah oppa..” Shin Ra berusaha meredam amarah kakaknya itu.

“Lihatlah! APPA MEMBUANG BONEKA ITU KE KOLAM! ITU KETERLALUAN, KAU TAHU?! DIA BUKAN APPA KITA!” Kibum berteriak kencang. Hal ini menjadikan Shin Ra semakin mengencangkan tangisan. Menyadari hal itu, Kibum mengubah kembali rona wajahnya.

“Ssst,, sudahlah.. uljima.. Mianhae.. Oppa hanya terbawa emosi. Oppa akan mengambilkan boneka itu untukmu, ne? Asalkan kau tidak menangis lagi.” Bujuk Kibum, menatap adiknya lembut.

“Ah? Ne? Gomawo..” Shin Ra memeluk Kibum senang. Merasa aman dalam dekapan oppa-nya.

Aku tak akan pernah membiarkan orang lain membuatmu menangis lagi.. Tak akan.. 

.

.

“Hhh.. Hhh..” Key terbangun dari tidurnya. Memegangi dadanya yang terasa sesak. Asma? Ia tak pernah memiliki penyakit semacam itu.

Nope. Bukan asma.

Mimpi.

Mimpi apa ia barusan? Mimpi-kah? Mengapa terasa begitu nyata?!

Key memegangi kepala dengan kedua belah tangannya. Meremasnya kuat-kuat, hingga rambutnya semakin berantakan.

“Aaaargh..” mengerang kecil. Mata kucingnya terpejam, berusaha menafsirkan apa yang barusan telah ia alami.

Ani.. Pikirannya buntu. Rasanya ia tak ingin melanjutkan tidurnya.

Key bangkit meninggalkan kasur empuknya, menuju ke jendela besar dengan tirai tipis yang sedikit melambai karena semilir angin yang sedikit berembus dari celah kecil jendela.

BRAK!

Jendela terbuka lebar. Menampilkan pantai pulau Kaledonia yang sungguh mempesona. Tetapi nampaknya namja berambut legam itu tidak tertarik sama sekali. Matanya memandang jauh ke tengah lautan. Anehnya, tak ada rasa takjub dalam manic mata kucingnya.

“Aish.. sebenarnya apa maksud mimpi tadi? Mengapa.. mengapa ada diriku sewaktu kecil di situ?” bergumam sembari menopangkan dagu pada tangan kanannya.

“Apa itu kenanganku sewaktu kecil?” Tapi ia segera menepis pikiran itu. Bagaimana bisa ia memiliki masa kecil ganda? Konyol! Ia ingat benar masa-masa kecilnya. Dan lagi, adiknya adalahMinho! Tetapi tak ada Minho disana. Yang ada hanyalah seorang gadis kecil..

Ya! Gadis kecil itu.. Seperti…

Seperti gadis kecil yang hendak bunuh diri itu! Gadis yang ia sangka adalah hantu. Tapi aneh, pasalnya di situ, ia benar-benar merasakan bahwa gadis kecil itu adalah adiknya.Adaperasaan nyaman saat berada dalam mimpi itu. Dan.. gadis kecil dalam mimpinya juga memanggilnya Oppa.. sama persis seperti gadis kecil itu…

Key kembali memejamkan mata. Terlalu berat memikirkan itu semua. Tuhan…

Saat Key merasa pikirannya semakin kacau, ia memutuskan untuk kembali tidur. Lagipula matanya mulai terasa lelah. Ia menutup jendela kamar, kemudian melangkah lesu dan menjatuhkan tubuh rampingya ke atas kasur.

Tanpa ia sadari, seseorang mengintipnya dari tepi pantai. Menyunggingkan senyum yang sulit diartikan, kemudian beranjak pergi. Seseorang dengan boneka kelinci di genggamannya.

.

.

Langit Kaledonia begitu mendung. Sangat kontras dengan cuaca kemarin yang sangat cerah, ceria. Tapi sesuatu yang aneh terjadi pada Key.

“Ya!Minho! Ayo kita jalan-jalan.” Key mengguncangkan bahu Minho yang tengah serius membaca selembarsuratkabar.Minhomenoleh pada Key, mengernyit heran.

“Kau hyung? Kau yang mengajakku jalan-jalan?”

“Ne. Siapa lagi memang yang ada di sini? Kau kira hantu, huh?” Key merengut sebal. Menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.

“Tapi ini tidak biasa hyung. Kau tiba-tiba mengajakku keluar? Apa kau sakit hyung?” Tangan Minho meraba-raba kening Key, dengan kasar Key menepis tangan itu.

“Enak saja! Aku masih normal, kau tahu?! Sudahlah, kau mau tidak menemaniku?” Tanya Key ketus. Dan sesaat kemudian ia mendapatiMinhomenggeleng pasti.

“Shireo, aku ingin dalam villa saja hari ini. Moodku sedang tak ingin keluar. Lagipula sebentar lagi akan ada pertandingan baseball di tv.” Ujarnya seraya mengalihkan pandangannya pada layar datar di seberangnya. Menciptakan dengusan kecil pada Key.

“Ya sudah, aku pergi sendirian. Huh..” Melengos kesal dan menghilang di balik pintu keluar.

Minhomenolehkan kepalanya sedikit. Benarkah ia tak apa? Tingkahnya jadi aneh sekali sejak tragedy kemarin itu. Tak biasanya ia memaksa ingin keluar di saat cuaca sedang buruk begini. Kemarin cerah saja ia enggan. Kenapa sekarang…..

Beribu pertanyaan muncul  di pikirannya. Segera ia menepis pikiran buruk yang tiba-tiba saja menghampirinya. Key hyung mungkin sedang ingin mencari udara segar, atau mood-nya sedang baik hari ini.

Minhoterus mencoba berpikir positif selama acara tv berlangsung.

 .

.

Bangunan tua itu masih tetap kokoh berdiri. Seorang namja berambut legam memandanginya dari kejauhan.

Ah! Itu dia..

Sesosok gadis kecil yang tengah duduk di undakan masuk ke rumah besar itu. Tapi.. aneh.. kok sepertinya gadis itu.. terlihat semakin besar? Ani.. bukan besar membesar.. tapi.. Nampak lebih dewasa dibandingkan kemarin.

Hah?!

Namja yang rupanya adalah Key itu membulatkan matanya. Gadis itu..

Membawa boneka kelinci? Selintas mimpi semalam muncul kembali. Ia ingat boneka itu! Tapi, boneka itu kini sudah lebih baik. Berbeda dengan yang ada di mimpi, dengan telinga yang rusak sebelah.

Sekarang, Key bingung. Haruskah ia kesana? Sebenarnya cuaca mendung seperti ini sudah menyurutkan semangatnya sejak tadi. Tapi ia rasa semua ini tak akan selesai jika ia tak kemari. Untuk melenyapkan semua rasa penasarannya.

Yap.

Key mulai melangkah. Dan.. sret. Gadis itu menangkap kehadiran Key. Ia tersenyum senang, ah.. ani.. lebih gembira sepertinya.

“Oppa!” teriaknya dari jauh. Ia berdiri menyambut Key.

“Oppa.. sudah kukira oppa akan datang lagi kemari..” ucapnya pelan sembari memeluk Key erat. Sementara Key.. molla.. ketakutan? Sedikit. Yeah.. tapi demi rasa keingintahuannya.

“Emm.. ehm.. dik, kemarin aku lupa tidak bertanya. Siapa namamu?” Tanya Key sambil melepaskan pelukan itu. Disambut tatapan kecewa dari gadis di hadapannya.

“Mwo? Oppa juga lupa namaku? Oppa.. aku ini dongsaengmu. Shin Ra. Masa’ kau tidak ingat?”

Aigoo.. Key seperti tersihir. Manis sekali gadis ini ketika menggembungkan kedua pipinya. Sejenak, Key terpana. Tetapi sebentar kemudian tersadar. SHIN RA?!

“K.. kau.. benarkah namamu Shin Ra?” Key tergagap. Lidahnya terasa kelu untuk terlalu banyak berkata-kata. Entahlah.. seperti bukan Key yang biasanya.

“Ne, Oppa. Oppa sudah mulai pikun ya? Haha..” Gadis itu menutup mulutnya yang tertawa pelan, jeongmal.. Neomu yeppeo!

“Ah.. Oppa kenapa diam saja? Eh, lebih baik kita masuk, kajja!” Key hanya bisa pasrah saat lengannya ditarik oleh gadis itu, yang mengaku bernama Shin Ra.

Saat mulai menginjakkan kaki di bangunan tua itu, Key merasakan hawa yang lain. Seperti.. seperti lebih hangat dari yang kemarin. Hingga ia tiba di hadapan sebuah pintu besar.

“S.. Shin Ra, i.. ini.. pintu untuk kemana?” Shin Ra hanya tersenyum, kemudian menjulurkan boneka kelinci yang ada dalam genggamannya pada Key.

“Bawa ini, Oppa.. Oppa harus ingat.. Semuanya.”

Key menoleh pada gadis itu. Kali ini ia menangkap senyum yang sedikit berbeda dari wajah manis itu. Seulas senyum .. ah.. apa ya? Penuh harap. Seolah dengan ini ia mengharapkan sebuah keajaiban. Tapi apa? Key benar-benar tidak mengerti.

Sedetik kemudian, Shin Ra menarik pintu besar. Ia terpejam. Dan pintu itu terbuka, bersamaan dengan seberkas cahaya putih menyilaukan, membuat Key ternganga sembari menyipitkan pandangan. Sayup-sayup ia masih dapat mendengar,

“Pejamkan mata oppa..” Ia menuruti perintah itu. Kemudian splash! Tubuhnya terasa terpental, tersedot masuk dalam lorong penuh cahaya.

.

.

Minhomasih saja duduk di depan televisi. Memandangi siaran baseball yang kini tengah berlangsung. Tetapi, pandangannya kosong. Membuktikan bahwa sesungguhnya pikirannya tidaklah di sini, melainkan sedang menerawang entah kemana.

Trak.

Ia meletakkan remote pada meja kaca di depannya. Kembali memandang layar datar hitam itu, mati. Tiba-tiba moodnya berubah. Tak berminat lagi menghabiskan kacang koro sambil menonton tv. Ia memikirkan Key.

Aneh..

Hyung-nya itu.. Kenapa dia? Apa.. ia kerasukan?

Minhomenepuk jidatnya pelan.

Tidak, tidak mungkin. Ia tak mungkin percaya terhadap hal mistis semacam itu.

Tapi kalau begitu, kenapa?

Minhotak habis pikir akan sikap hyung-nya itu. Kini ia beranjak melangkah ke lantai dua. Dan setibanya di persimpangan, ia belok ke kanan.

Mwo?! Bukankah kamarnya ada di belokan ke kiri?

Rupanya ia memang berniat memasuki kamar Key. Nampaknya ia terlalu penasaran.
Sret. Ia membuka pintu kamar itu. Berantakan. Ia sedikit mengernyitkan dahinya.

Ya. Itu adalah kamar Key. Sekarang Minho benar-benar tak mengerti, apa yang terjadi? Sampai-sampai seorang Key, yeah.. si Mr. Perfect itu meninggalkan kamarnya dalam keadaan berantakan.

“Apa ia terburu-buru tadi?” Pikir Minho. Tapi untuk apa? Mengapa harus terburu-buru jika hanya ingin berjalan-jalan?

Minhomenghamipiri meja kayu di ruangan itu. Duduk di kursinya, dan mengamati meja tersebut.

Iseng, ia membuka-buka laci meja itu. Seketika mata besarnya agak semakin membesar ketika mendapati sesuatu.. sesuatu yang ganjil menempati laci yang seharusnya kosong itu.

.

.

Aaaaaaaaaaarrrrrrghhhh…

Hap.

Key memandang sekeliling bingung. Saat melihat tangannya, boneka itu masih tergenggam erat disana. Tapi… mana Shin Ra?!

“Kyaaa!” Key otomatis menoleh ke arah suara berasal. Ia tampak terkejut, ketika melihat pemandangan yang begitu dramatis.

Shin Ra.

Ya, dia ada disana. Entah sejak kapan ia beranjak dari sisi Key.

Terlihat jelas oleh Key, ketika tubuh besar itu menampar keras pipi Shin Ra. Tubuh besar yang semalam ia lihat di dalam mimpi. Gigi-gigi Key menggeretak geram. Tangan kirinya mengepal. Molla, ia tidak tega ketika Shin Ra diperlakukan sedemikian rupa. Shin Ra… entahlah, ia benar-benar merasa harus melindungi gadis itu.

Key melangkah.. satu langkah.. dua langkah..

BRUKK.

Tiba-tiba Key terjungkal ke belakang. Hah? Wae?

Key kembali bangkit dan mencoba untuk menghampiri Shin Ra.

Dan kau tahu? Lagi-lagi gagal. Key lemas kali ini. Tenaganya serasa terkuras habis saat melangkah dan terjungkal tadi.

Kini Key sadar, ia tak akan bisa menjangkau dan menolong gadis itu. Sesuatu telah menghalanginya. Seperti tabir transparan yang memisahkan dunia mereka. Sementara pemandangan di hadapannya semakin membuatnya miris.

Sesaat kemudian tampak seorang laki-laki. Dia Kibum! Dirinya sendiri.. hah?

Mengapa ia pun terlihat lebih dewasa sekarang? Jika pada mimpinya namja itu masih seumuran anak SD, kini ia tampak seperti anak SMA.

Key melihat jelas, Kibum meninju lelaki besar – yang dalam mimpi adalah appa mereka – hingga terbanting ke belakang. Key berdecak pelan, hebat juga dia. Tetapi tiba-tiba matanya membulat. Lelaki besar itu mengeluarkan pisau! Key menutup matanya.

Aiishh.. kenapa ia jadi penakut begini?

Key tidak bisa membantu. Lelaki besar itu mulai mengarahkan pisaunya ke perut Kibum. Sleb!

Darah mengucur deras dari perut Kibum, ia tampak sangat pucat. Dan Shin Ra, berteriak dan menangis memilukan. Ia memangku Kibum, menidurkan kepalanya di atas pahanya. Sedangkan si penusuk itu lari, kabur entah kemana. Membiarkan korbannya tergolek lemah.

SHIT!

Umpat Key dalam hati. Ia tak pantas untuk menjadi seorang appa!

Dari kejauhan, Key masih bisa mendengar suara Shin Ra di seberang sana. Meskipun suara itu terdengar begitu lirih.

“Saranghae.. Oppa..”

Key tersentak, ketika melihat Shin Ra menautkan bibirnya ke bibir tipis Kibum, berlinang air mata. Deg!

Aneh, Key merasa .. merasa bahwa Kibum adalah benar-benar dirinya. Tapi kenapa Shin Ra.. Shin Ra berkata seperti itu? Bukankah Kibum adalah Oppa-nya? Semua pikiran itu bergelut dalam pikiran Key. Sayup-sayup kembali terdengar suara. Key menghentikan pikirannya sejenak.

“Na.. nado.. Shin Ra..” Apa?! Kibum juga?! Tapi kenapa?! Key benar-benar tak habis pikir. Kibum juga menyukai Shin Ra? Kakak-adik macam apa ini? Teriak Key dalam hati. Sementara matanya kian melebar.

“Shin Ra..” suara Kibum terdengar semakin serak, Shin Ra menatapnya iba.

“Maukah.. kau.. kau ber.. jan.. ji?” tanyanya terbata-bata. Shin Ra hanya mengangguk pelan, berusaha tersenyum.

“Ki.. ki.. ta.. a.. a..kan.. hhi.. dup.. kem.. ba.. li.. te.. ta.. pi..” gadis itu menatap Kibum lekat.

“bu.. bu..kan.. se.. ba.. gai.. kak.. kak.. dan.. ad.. ik… mme.. la.. in..kan..hh.. hh..” kata-katanya terpotong sebanding dengan napasnya yang kian menipis. Key benar-benar tak mengerti.. Hidup kembali? Bagaimana bisa?

“sse.. sebaga..i.. sep.. sepasang.. ke.. kas.. ih..” lanjutnya. Manik matanya memancarkan suatu pengharapan. Gadis di hadapannya mengangguk. Bulir-bulir air matanya berjatuhan, seiring dengan kelopak mata Kibum yang semakin menutup. Shin Ra menangis sekuat-kuatnya. Meneriakkan satu nama yang kini telah pergi.

Pedih. Kini rasa itu dirasakan oleh Key. Janji.. Janji itu kah? Sejujurnya ia masih bingung, seakan menonton pertunjukan drama di gedung opera. Tetapi ini berbeda! Ini begitu nyata! Pernahkah.. pernahkah ia berjanji? Tuhan.. apakah.. apakah..

Key menitikkan air matanya sekarang. Mata kucing itu.. mata yang tak pernah menangis. Kini mulai menjatuhkan bulir-bulir air mata, mendarat di atas boneka milik Shin Ra.

SSSHHHHAAAT!

Kembali Key merasa tersedot.. ke lorong putih itu lagi.

Hap.

Sekejap kemudian, ia telah sampai di depan pintu besar di bangunan tua tempatnya sebelum melihat tragedy tadi. Dan mendapati Shin Ra ada di sampingnya, tersenyum bahagia.

Err.. bahkan sekarang Shin Ra tampak lebih dewasa lagi. Seperti gadis perguruan tinggi.

“Oppa..” sapanya lemah. Molla.. tapi bibirnya tampak begitu pucat. Key bergerak mendekati Shin Ra. Hendak meraih tangannya.

Mwo?! Sungguhkah ini? Tangan Key tak bisa meraih tangan Shin Ra. Hanya udara yang ia dapatkan. Tangannya.. tangannya menembus tubuh itu. Key ternganga, menatap tak percaya.

Shin Ra mengangguk.

“Ne, Kibum Oppa.. aku harus pergi.. tugasku telah selesai..” perlahan, bayangan Shin Ra semakin menghilang.

“Andwae! SHIN RAAAAAAA!” Key berteriak keras, terdengar menyedihkan. Dan sebelum gadis itu benar-benar lenyap, Key sempat mendengar sepotong kalimat.

“Temukan aku.. oppa.. kau pasti.. akan bertemu denganku.. di suatu tempat..” Akhirnya, Shin Ra benar-benar lenyap. Menghilang tanpa bekas. Key menangis sejadi-jadinya. Kemudian, tak terasa pandangannya mengabur. Semakin berkunang-kunang, dan akhirnya.. tergolek begitu saja di lantai berdebu itu.

 .

.

“Foto apa ini?” Minho memandangi sepotong kertas di tangannya. Foto sebuah bangunan tua yang mungkin sudah berumur ratusan tahun itu. Itu adalah foto yang ia dapatkan dari laci di kamar Key.

Aneh. Apa Key mengoleksi foto seperti ini? Aah.. ani.. kalau koleksi? Mengapa hanya satu?

Perasaan Minho semakin tak tenang, ia memasukkan foto itu ke saku celananya dan bergegas keluar dari villa-nya. Firasat buruk semakin menghantuinya ketika hari semakin sore dan hyungnya belum juga terlihat.

TBC

Nah.. ini yang ke dua. Mianhae telat lama ngepost-nya. Soalnya pikiranku akhir-akhir ini lagi nggak fokus. Dont forget comment ya ! ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

14 thoughts on “Finding You – Part 2”

  1. Yeiiiiiii!! pertamaaaaa :DD
    aku comment dulu baru baca yah 🙂 aku lagi nyari yg part 1 karena belum baca sampe selesai. hahaha.. mau lanjutin nih… ga sabarrrr~~ hahaha
    wait for me 😉
    bagus nih.. hahaha

  2. aduh,,,
    q pnasaran,,
    next part jngan lma-lma ya,,,
    brung kenari, brung perkutut,,
    yuk mari, lanjuuttt…….

  3. ooh, jadi key yang sekarang itu reinkarnasi dari kibum trus si shinra punya tugas untuk mengembalikan memory key yang dulu dan si shinra nyuruh key buat nyari reinkarnasi shinra untuk jadi kekasih key seperti janji kibum dan shinra dahulu…
    keren keren keren…
    ini mah harus kudu musti dilanjutin… *maksa*
    ditunggu lanjutannya^^

  4. Sebenarnya Kibum tuh kakak tirinya Shin Ra atau kakak nemu di tengah jalan? Kok bisa saling jatuh cinta? Ntar, part 3nya di jelasin ya alasannya, gak mungkin kan kalo saudara kandung jatuh cinta. Oke-oke? 🙂

  5. huwaaa bener2 horror,misteri,romance,family !!
    keren bgt .. ngak nyangka ceritanya bakal kayak begini .. huwaa prok..prok..prok.. deh buat author …
    huwaaa aku suka latar tempatnya …
    ^^
    lanjutannya jgn lama bgt ya …

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s