FINDING YOU – 3

FINDING YOU – 3

Author : Mafharanisa
Cast : Kim ‘Key’ Bum, Choi Minho, Han Shin Ra
Genre : Romance, Family, Mystery
Rating : PG-15
Length : Sequel
Summary : One step more..
.
.
Minho berlari, terengah-engah. Sepanjang pesisir pantai telah dicarinya, ditelitinya. Namun tetap saja, secuil pun tak ia temukan tanda-tanda keberadan Key, ataupun.. bangunan besar yang tampaknya adalah rumah kuno itu.

Ya,Minhomemang sedikit curiga dengan foto bergambarkan bangunan tua dengan arsitektur megah itu. Mungkin saja hyung-nya tertarik, kemudian mengabadikannya dalam selembar kertas foto, kemudian penasaran masuk ke dalamnya. Tapi setelah ia pikir-pikir, rasanya seorang Key tak mungkin melakukan hal itu. Kalaupun dia kesana, tak mungkin hanya karena ia penasaran, pasti ada hal lain yang mendorongnya!

Ya, hal lain.. hal lain..

Tapi apa?! Ia benar-benar tak mengerti.

Hmm.. Ia kembali memandang ke foto tersebut. Bangunan mewah yang sudah lapuk. Di depannya menjulang tinggi sebuah pohon ukuran besar, yang sepertinya sama tuanya. Kira-kira di pulau seperti ini, dimanakah tempat seperti itu? Apa.. jangan-jangan ini berkaitan dengan hantu yang dimaksud oleh Key tempo hari. Tetapi ia tak pernah bercerita dimana ia dan hantu itu bertemu.

Debur ombak kian terdengar garang di telinganya. Jelas saja, matahari sudah semakin condong ke ufuk barat. Sebentar lagi bumi akan gelap. Lalu bagaimana dengan Key?

Semakin gelisah, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Saat ia memandang ke sekeliling, tiba-tiba ia menangkap sesosok kakek yang tengah berjalan dan terlihat tengah mengamati pantai.

Ah, mungkin dia tahu tentang bangunan ini.

Minhomengejar kakek itu. Entah mengapa, feelingnya berkata bahwa kakek itu tahu segala informasi yang ia butuhkan. Kemudian dengan napas yang terputus-putus ia memanggil kakek itu.

“Hosh.. hosh.. Kek, hh,, bi.. bisa..”

“Bisa tolong membantumu,kan?” Kakek itu menoleh dan tersenyum, misterius. Aneh sekali, dia bisa menebak apa yang ingin dikatakan olehMinho. Seketika Minho berdiri dari posisi awalnya, membungkuk. Siapa tak terperangah bila bertemu seorang seperti itu?

“Kau.. hendak mencari.. bangunan tua di pulau ini, benar?”

Ya! Tebakan jitu. Mengapa kakek ini tidak jadi dukun saja?

“Tak perlu bingung seperti itu, anak muda. Aku mengetahuinya dari garis wajahmu. Dan juga.. auramu.”

Tanpa sadar kiniMinhotelah meraba permukaan wajahnya. Garis wajah? Apakah aku nampak begitu tua? Aura? Benarkah?

“Mm.. mm.. Ne, benar sekali kek. Aku memang sedang mencari itu. Apakah kakek bisa membantuku?”Minhotak ingin menyia-nyiakan waktu dengan terpukau oleh kehebatan kakek tua misterius itu. Ia menatap sang kakek penuh harap. Membuat kakek itu tersenyum geli.

“Baiklah anak muda, ikut aku. Tak usah menatapku seperti tadi.”

Minhomenurut saja. Meskipun ia sedikit menaruh curiga, tetapi tak ada hawa ataupun aura suram yang dipancarkan oleh kakek ini. Malahan sebaliknya, aura hangat nan bersahabat. Molla..

Setapak demi setapak telah dilalui. Hari pun beranjak semakin sore.

Semoga masih ada waktu.

Dan beruntungnya, kakek di depannya itu memang memiliki kekuatan khusus. Ia berjalan sangat cepat. Bahkan Minho hamper tertinggal jauh di belakang.

“Ayo cepat, jika tak mau terlambat, anak muda..”

Akhirnya setelah menempuh rute yang cukup jauh, tibalah mereka di sebuah tempat yang agak jauh dari keramaian. Di situ, berdiri tegak sebuah bangunan tua. Persis selayaknya dalam foto. Minho mulai tersenyum sumringah, meski ada sedikit getar ketakutan dalam hatinya.

“Jangan takut, anak muda. Di sini tak ada yang perlu kau cemaskan.” Ujar kakek itu seraya menepuk pundak Minho, yang lagi-lagi bisa menebak tepat pikirannya.

Ajaib! Sentuhan tangan kakek tua itu benar-benar menghilangkan kekhawatiran Minho.

“Baiklah kek.. Aku.. apakah boleh masuk? Aku ingin mencari hyung-ku yang semenjak pagi tadi belum pulang..” Minho memalingkan wajah ke arah kakek itu. Sang kakek, lagi dan lagi tersenyum.

“Silakan.. Tapi aku tidak bisa ikut.. Kau masuk sendirian.” Katanya tertunduk.

“Lho, kenapa kek?” Pernyataan barusan menghadirkan kembali rasa khawatir yang sempat terhapus. Kakek tadi terlihat ragu-ragu. Tapi sejurus kemudian menatap Minho, tegas.

“Aku tak diperbolehkan masuk.. Hanya kau, dan hyung-mu..” Minho tersentak. Hanya hyung-nya dan dirinya? Seperti sebuah geledek besar tengah menyambar-nyambar pikirannya.

“Sekali lagi, jangan kau takut nak. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, aku yakin hyung-mu memang ada di dalam. Aku akan menjaga di sini, agar tak terjadi apa-apa. Cepatlah.. waktumu tak banyak!”

Akhirnya, tekad pun membulat. Minho mulai melangkahkan kaki ke dalam bangunan itu. Entah mengapa, ia begitu percaya pada perkataan sang kakek.

Minho memasuki ruangan besar yang sangat gelap itu.

“Aish, celaka.. aku tidak membawa senter!” rutuknya pada diri sendiri. Dan seketika, tepat setelah ia bergumam, tring! Lampu menyala. Minho begidik ngeri. Tapi.. apa boleh buat. Demi Key! Justru sebenarnya ia merasa terbantu dengan menyalanya lampu. Mungkinkah ini perbuatan kakek sakti di luar? Molla..

Ia mencari agak cepat. Waktu semakin mepet. Mata besarnya meneliti ke seluruh sudut ruangan. Hingga ia tiba di depan sebuah pintu besar, berukiran sangat bagus. Tersirat keinginan untuk membukanya, tetapi.. saat ia hendak melangkah..

“Huwaaaaa! Key hyung! Ireona!”

Sungguh, Minho senang tak terperi. Seakan menemukan harta kaum bajak laut yang kapalnya karam di tengah lautan. Namun rasa senang itu juga terkontaminasi dengan rasa khawatir. Bagaimana tidak? Ia menemukan hyung-nya dalam keadaan terbaring!

Minho memeriksa denyut nadi Key. Yap! Masih hidup… syukurlah…

“Key,, Key hyung! Bangunlah.. Jebal..” Ujar Minho agak memohon. Ia menepuk-nepuk pipi tirus Key. Sungguh! Tak bergeming sedikit pun. Tapi Minho yakin, hyung-nya masih hidup. Tak berpikir panjang lagi, ia langsung mengangkat tubuh Key agar berdiri, kemudian mencoba menggendongnya di punggung. Hah.. Untunglah.. Key rajin diet. Sehingga tak menyusahkan orang di saat seperti ini. Hehe..

Minho bergegas beranjak meninggalkan rumah tua itu. Meskipun mewah, dan tak ada penampakan apapun, tetap saja bulu kuduknya agak berdiri. Dan lagi, ia ingat, kata kakek itu, waktunya sudah tinggal sedikit. Minho percaya, karena ia sudah membuktikan sendiri kebenaran kata-kata kakek itu, bahwa Key memang berada di sini. Namun, kini pikirannya dipenuhi begitu banyak tanda tanya.

Hah.. Akhirnya, sampai juga ia di luar. Keadaan sudah semakin gelap. Ini jam 5 sore, beruntungnya lagi, ia memakai jam tangan. Hoh.. Ia harus cepat-cepat pulang.

“Hei nak! Sudah ketemu, tubuh hyung-mu?” Sret. Satu gerakan Minho menoleh. Oh ya ampuun.. ia hampir lupa dengan kakek ini. Tapi apa maksudnya, ‘tubuh hyung-mu’ itu? Bukankah Key masih hidup? Mengapa ia bertanya seolah Key sudah tak bernyawa?

“I.. iya kek. Syukurlah.. Tapi, kenapa kakek bilang ‘tubuh hyung-mu’ tadi? Kan Key hyung masih hidup kek..” Tanya Minho penasaran. Kakek itu hanya tersenyum. Lagi-lagi, misterius.

“Ia dalam keadaan tak sadar kan?” kakek itu malah balik bertanya.

“Iya. Tapi nyawanya masih ada, nadinya masih berdenyut. Yah.. walaupun berdetak sangat lemah..” Kakek itu malah tertawa. Membuat dahi Minho berkerut-kerut.

“Sudahlah,nanti aku ceritakan. Bagaimana? Apa aku boleh menginap di rumahmu?” Minho memutar bola matanya. Tanda sedang berpikir.

“Hmm.. OK! Kajja kek!” Sang kakek tersenyum, dan mengikuti langkah Minho yang menggendong Key dari belakang.
.
.

“Nah, ini kek.” Minho meletakkan secangkir teh panas di meja depan sang kakek yang tengah duduk di atas sofa. Kemudian Minho pun turut duduk di seberangnya. Kakek menyesap sedikit demi sedikit teh yang disuguhkan untuknya.

“Jadi, bagaimana Kek?” Tanya Minho langsung. Ia sudah terlanjur penasaran. Sang kakek masih asyik dengan cangkir tehnya. Lalu sebentar kemudian menatap Minho.

“Kau sudah menidurkannya di kamar?”

Malah mengalihkan pembicaraan. Minho mengangguk, namun kakek ini malah tertawa.

“Kau lupa? Aku bisa membaca pikiranmu?” Katanya sedikit mengejek di sela kekehannya.

“Lalu mengapa kau bertanya? Itu pertanyaan konyol kan?” protes Minho agak kesal.

Kakek itu memandang Minho sekilas, kemudian berdiri dan hendak beranjak pergi. Minho ternganga. Sebisa mungkin ia mencegat kakek itu.

“Ya! Kakek mau kemana? Kau belum menceritakan padaku apa pun!”

Minho merentangkan tangannya, untuk mencegah si kakek keluar dari villa itu.

Sang kakek tersenyum.

“Kalau begitu, sabar dan dengarkan semua perkataanku, anak muda.” Minho hanya bisa mengangguk pasrah. Kakek itu kembali ke tempat duduknya.

“Baiklah, karena kau nampaknya tidak begitu sabar, maka aku akan mulai bercerita.” Tatapan mata Minho serius memandang ke arah kakek tersebut.

“Dulu, di sebuah tempat, tinggal seorang kakak dan adik di sebuah rumah yang begitu megah. Mereka tak hanya tinggal berdua, melainkan bersama appa dan umma-nya yang baik hati.”

“Sang kakak bernama Kibum, dan adiknya Shin Ra. Saat Kibum berusia 8 tahun, dan Shin Ra 6 tahun, appa mereka baru mengetahui bahwa Kibum rupanya bukanlah anak darah dagingnya. Umma mereka selingkuh diam-diam, sebelum menikah dengan appa mereka. Karena hal itu, sang appa naik pitam. DI suatu malam, ia mabuk dan membunuh istrinya. Sementara sejak saat itu, hidup Kibum dan Shin Ra tak lagi bahagia.”

“Taukah kau? Mereka sangat dekat sedari kecil. Dekat sekali. Tak terpisahkan. Tetapi sang appa selalu marah jika Shin Ra sering bermain dengan oppa-nya. Ia kembali mengingat perselingkuhan almarhum istrinya dengan lelaki lain. Ia memang tak pernah memberitahu kedua anaknya. Ia sudah terlanjur frustasi. Apalagi mengetahui Shin Ra yang tak pernah bisa lepas dari oppa-nya.”

“Laki-laki itu memperlakukan mereka dengan kasar. Tak layaknya seorang appa. Mereka disuruh bekerja setiap waktu. Tak boleh berleha-leha. Shin Ra yang lebih muda dibandingkan Kibum, seringkali tak kuat menerima perlakuan appa mereka. Kibum-lah tempatnya mencurahkan isi hatinya. Hingga lambat laun, cinta mulai tumbuh dalam jiwa mereka. Dan seyogya-nya pun, mereka bukanlah kakak dan adik kandung. Yah, meskipun mereka tak tahu.”

“Akhirnya, tiba hari itu. Ketika Kibum dan Shin Ra telah beranjak dewasa. Shin Ra yang dianggap tak becus bekerja ditampar oleh appa-nya. Kibum yang melihat hal itu, segera melakukan perlawanan. Tapi malang, appa mereka saat itu membawa sebilah pisau dan menusukkannya ke perut Kibum, hingga ia sekarat. Menyadari hal itu, laki-laki itu bingung, dan malah kabur dari rumah besar tersebut. Shin Ra menangis sejadi-jadinya. Ia tak ingin kehilangan seorang, yang sangat ia cintai dan sayangi.”

“Dan.. tahukah?”

Kakek menatap tajam pada Minho. Minho hanya bisa menggeleng.

“Sebelum Kibum benar-benar meninggal, ia mengikrarkan sebuah janji, bersama Shin Ra, bahwa di suatu masa, mereka akan hidup kembali, tetapi bukan sebagai kakak dan adik, melainkan sebagai orang lain. Sehingga mereka bisa menjadi seorang kekasih.”

Minho mengernyit. Mana mungkin hidup kembali? Ah! Kecuali…

“Dan firasatku mengatakan, bahwa Key, hyung-mu itu, adalah perwujudan reinkarnasi dari Kibum di masa lampau.”

Tebakannya benar. Reinkarnasi. Ia pernah membaca sebuah buku yang mengisahkan cerita semacam itu, namun ia tak pernah menyangka bahwa sesungguhnya reinkarnasi itu benar-benar terjadi.

“La.. lalu.. apa yang harus Key hyung lakukan sekarang? Apa.. apa ia tidak apa-apa?” Tanya Minho, merasa sedikit cemas mengetahui apa yang terjadi.

“Tidak. Kurasa, ia hanya sedikit kaget..”

“Kaget?”

“Ya, karena ia baru saja mendapatkan sebuah petunjuk.. Sepertinya..”

Kakek itu kembali menyeruput secangkir tehnya, mungkin kerongkongannya kering setelah begitu banyak berbicara.

Sementara Minho masih merenungi kisah yang diceritakan kakek itu. Sambil sesekali melirik ke arah kakek yang tengah asyik menyeruput teh itu. Antara percaya dan tidak. Ah… Molla..

“Siapa kakek sebenarnya?” Kecurigaan itu kian tersirat di raut wajah Minho. Kakek itu memandangnya remeh.

“Aku? Hanya seorang penjaga…” meletakkan tehnya di atas meja, tersenyum misterius. Dan sedetik kemudian, wus! Minho terperangah, menatap tak percaya.

“Si.. siapa.. k.. kau?”
.
.
Sriiiiiiiiiiiingg

Cahaya mentari pagi mulai menyingsing. Perlahan menyusup masuk melalui celah-celah tirai kamar yang transparan.

Sosok yang terbaring lemah itu perlahan mulai mengerjapkan kelopak matanya. Beberapa detik kemudian, ia terbangun. Matanya memandang sekeliling.

“Aiish.. ini.. ini di villa kan? Bu.. bukankah aku seharusnya berada di bangunan besar itu?” Gumam sosok yang adalah Key itu sambil beranjak keluar kamar.

Sepi.

Mungkin Minho belum bangun.

Key berjalan ke dapur, ia lapar. Ia ingin membuat makanan.

Suara berisik peralatan masak berdentingan, menimbulkan kesan yang berisik. Tetapi beberapa saat kemudian, mulai tercium bau harum.

“Lho, hyung? Sudah bangun?” Dengan rambut acak-acakan, Minho menghampiri Key.

“Ne. Kau lebih baik cuci muka dulu. Jorok!” Seru Key tanpa mengalihkan pandangan dari masakannya.

Dan kini masakan telah siap. Berbagai macam hidangan tersaji di atas meja. Sungguh beruntung memiliki hyung sepandai ini.

“Waw, sepertinya lezat..” celoteh Minho sekenanya.

“Tentu saja. Mari makan!”

Selama sarapan pagi itu, Minho sesekali melirik pada Key yang nampak biasa-biasa saja. Ingin rasanya ia bertanya, tetapi ia urungkan. Ini momen yang kurang pas. Nanti saja selesai mereka menghabiskan semua masakan ini.

“Err.. hyung.. sebenarnya, apa yang kemarin kau lakukan di rumah besar itu?” celetuk Minho, memecahkan keheningan antara kedua kakak-adik itu.

Key mengelap mulutnya dengan selembar tissue di atas meja.

“He? Kau.. kau tau aku pergi ke sana?” Mata kucing itu mendelik ke arah Minho, curiga. Minho melengos.

“Tentu saja, pabo! Bagaimana kau bisa ada di sini jika aku tak ke sana, huh?”

“Hehe.. ne.. ne..” Jawab Key tak acuh. Minho melengos lagi.

“Jangan berpura-pura tak ada apa-apa hyung. Aku sudah tau semuanya..”Minhomemicingkan matanya pada Key, yang seketika tersedak di tengah minumnya.

“Maksudmu?”

“Ne, apa petunjuk yang kau dapatkan di sana hyung?”

Key terdiam. Entahlah.. Apa maksud Minho petunjuk itu adalah kejadian kemarin itu?

“Kau tahu dari mana? Apa tadi malam aku mengigau sesuatu?” selidik Key penuh Tanya. Minho terkekeh kecil.

“Kau ceritakan dulu, baru aku akan menjawab pertanyaanmu.” Balas Minho.

Key menghela napas berat.

“Ya.. Kemarin..” Key bercerita panjang lebar. Minho ternganga. Seperti itukah.. reinkarnasi? Sulit dipercaya..

“Dan, setelah kau mengetahui semuanya, kau akan mencari gadis itu?” Minho menatap Key yang menerawang. Entahlah.. mungkin pikirannya tengah melayang ke suatu tempat.. Tempat dimana ia akan menemukan jawaban. Titik temu dari semua ini.

“Ne.. Kau tahu? Itu tugasku…” Key memandang dongsaengnya, serius. Meskipun ia tak pernah tahu, apa yang harus ia lakukan untuk mengawali semua.

Ck, hanya tinggal menunggu waktu-kah? Molla..

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

15 thoughts on “FINDING YOU – 3”

  1. huwaa makin keren .. eh itu kakek2 nya gmna ?? ngilang gitu ajah ??!! huuu bener2 misteri !!
    huwaa key .. minho .. ckckck
    aku mau tau klanjutannya .. ^^ seru nih ..

    hawiting author!!

  2. q kirain arwah key lg jalan2 kmn …
    untungnya dy sadar ,,,,,,,
    kakek2 itu siapa sich ??
    koq misterius gituw …..
    jd penasaran ama tuch kakek ,, hehehehe

  3. tebakan aku benar, kalo key adalah reinkarnasi kibum dan harus mencari reinkarnasi shinra.. hahaha 😀
    kasian juga liap appanya key yang frustasi gara2 eomma key selingkuh. tapi, sumpah tega banget sampe ngebunuh, ckckck
    kakek itu misterius banget.. tapi, kayaknya dia baik 🙂
    ayo ayo dicari si shinra nya~~ #kayakpedagangdipasar
    hehe :p
    ditunggu lanjutannya^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s