Bunseog

Bunseog

 

 

Author: GDehaminsai

 

Main Cast: Lee Jinki, Shin Youngmi.

 

Support Cast: Lee Taemin

 

Length: OneShot

 

Genre: Mistery, Horror, Tragedy

 

Rating: G

Have a nice read^^

Lagi-lagi kota digemparkan oleh berita pembunuhan. Sungguh ironis, semua korban yang terbunuh tewas dengan cara yang sama. Apa memang si pelaku pembunuhan adalah orang yang sama?

“Bos, saya sudah dapat info. Kabarnya pelaku pembunuhan adalah siswa dari Gwanhok High School”, ucap seorang asistenku yang tiba-tiba datang saat aku sedang membaca koran Seoulnews.

“Begitukah?”, ucapku dengan sebuah pertanyaan singkat dan langsung pergi untuk menyelidikinya sambil mengendarai BMW yang baru saja kuterima dari atasanku.

Benar, aku adalah seorang detektif. Namaku Shin Youngmi, teman-temanku cukup memanggilku Young. Saat ini aku sedang sibuk menyelidiki kasus pembunuhan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Dan sekarang, aku akan menuju ke Gwanhok High School untuk membuktikan apa yang disampaikan oleh asistenku tadi. Di tengah perjalanan, terlintas dipikiranku untuk menyamar sebagai siswi di sekolah itu. Mungkin dengan hal itu aku akan lebih leluasa untuk mencari si pelaku.

***

Penyamaranku dimulai dari hari ini. Tak masalah jika aku harus menjadi siswi ‘lagi’. Ini kulakukan demi reputasiku sebagai detektif handal di negri ini. Toh penampilanku masih pantas untuk menjadi seorang siswi SMA.

BRUUKK!!! Aww… Siapa yang telah berani menabrakku!? Ternyata seorang lelaki berkulit putih dan berwajah suram yang telah menabrakku. Ia menatapku dengan tajam, lalu pergi meninggalkan aku yang terjatuh. Sepertinya dia murid di sekolah ini. Bukannya membantuku bangun atau minta maaf, malah pergi begitu saja. Orang yang menyebalkan! Oh iya, kenapa tadi dia menatapku seperti itu ya? Mencurigakan…

Ya ampun, aku lupa! Jam olahraga akan segera dimulai, dan aku belum mengganti pakaianku. Aku melihat di kelas sudah sepi, murid-murid lainnya sudah berkumpul di lapangan untuk memulai jam olahraga. Tinggal aku dan seorang Namja manis yang sedang bermain netbook nya di kursi paling belakang di kelas. Ah, untuk apa aku pedulikan dia? Biarkan saja. Aku pun pergi ke toilet untuk mengganti pakaian.

***

Beberapa menit kemudian, aku selesai mengganti pakaian, kemudian keluar dari toilet. Tiba-tiba,  aku merasakan suasana sekolah mulai hampa, bulu kudukku mulai berdiri. Ada apa ini? Firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu… Atau..telah terjadi sesuatu..?

Tidak mungkin! Sebentar saja kutinggalkan kelas, sudah kudapati namja yang tadi kulihat sedang asyik bermain dengan netbook nya telah tewas dengan cara yang mengenaskan. Pembunuh itu! Mungkinkah orang yang sama? Langsung saja kuambil peralatan detektif yang kumiliki. Aku memotret jasad namja itu untuk bukti. Kucermati baik-baik apa yang mencurigakan dari jasad itu. Caranya sama seperti korban lainnya. Si pelaku menikamnya dari belakang menggunakan benda tajam, sehingga darah korban berhamburan kedepan mengenai netbooknya. Pelaku cukup cerdik, ia menggunakan sarung tangan atau alat bantu lainnya supaya sidik jarinya tidak terbaca. Seperti…orang yang sudah sering melakukan pembunuhan.

Tunggu sebentar, namja ini sepertinya menggenggam sesuatu. Aku melihatnya dan ternyata itu adalah sebuah kalung dengan bandul berbentuk bintang. Apa ini miliknya? Mungkin ini bisa menjadi barang bukti, biar kusimpan dulu. Barang-barang milik namja itu ataupun bukan miliknya yang ada disekitarnya aku ambil sebagai barang bukti. Tapi sekarang, bagaimana dengan mayat ini? Tidak mungkin mayat ini kubiarkan disini dan membuat gempar satu sekolah. Mayat ini harus kusembunyikan dimana?

Jam olahraga tinggal 15 menit lagi. Tak ada waktu, aku harus bergegas! Aku akan mengambil keranjang basket yang ada di gudang dekat toilet. BRUUK!! Siapa lagi kali ini? Mengganggu saja. Hahh… dia lagi, dia lagi… Apa kerjaannya hanya menabraki orang.

“ Tak ada waktu lagi ”, katanya.

“ Apa? ”, tanyaku kepada orang misterius itu yang tiba-tiba bicara.

“ Aku tau apa yang sedang kau lakukan ”, katanya.

Dia langsung menarikku ke gudang dan membantuku mengeluarkan bola-bola basket dari keranjangnya. Kami langsung lari sambil membawa keranjang basket yang cukup besar itu menuju ke kelas. Dia pun membantuku memasukkan mayat itu ke dalam keranjang basket dan kututupi mayat dengan kain lebar yang kutemukan di gudang tadi.

“ Untuk kali ini, kelas seni adalah tempat yang aman karena guru seni hari ini tidak masuk ”, kata orang misterius itu sambil merapikan pakaiannya.

Bel berbunyi, pelajaran apa ya sekarang? Aku harap sekarang waktunya istirahat, aku sudah lelah! Namja yang terlihat kecil ini ternyata cukup berat juga. Eh… tunggu, mana lelaki misterius tadi? Sudah pergi? Hahh… pergi kemana dia? Aku belum menanyakan namanya, tapi… kenapa tadi dia ada disana? Dan kenapa dia mengetahui apa yang sedang kulakukan tadi? Apa dia pembunuhnya? Ah, itu tidak mungkin! Tampangnya tidak memungkinkan, dia tidak seperti pembunuh.

***

Jam 15.00, waktunya pulang sekolah. Semua anak beranjak meninggalkan sekolah, sementara aku berjalan menuju kelas seni. Apa, terkunci!? Bagaimana ini!? Mayatnya itu masih didalam… Ini gawat! Payah! Harusnya aku meletakkan mayat itu di gudang!

“ Membutuhkan ini? ”, sebuah suara yang tak asing lagi bagiku, ohh.. lelaki misterius tadi.

“ Detektif payah! Seharusnya kau tau apa yang kau butuhkan! ”, lanjut lelaki misterius itu sembari membuka pintunya.

“Huh, apa maksudmu! Kau pikir kau siapa!?”, bentakku kesal. Apa-apaan dia, beraninya menghinaku! Dengan kesal aku masuk dan melihat mayat itu, menyedihkan. Kasihan anak ini.

“Hei, detektif payah! Mau kau apakan mayat itu?”, tanya lelaki itu mengagetkanku.

“Eh? Apa? Detektif? Siapa?”, kataku pura-pura bingung, layaknya orang bodoh. Ah, ada apa denganku?!.

“Haha.. dasar payah!”, dia menghinaku lagi.

“Huh! Diam kau! Tentu saja membawanya ke rumah sakit untuk diotopsi!”, bentakku.

“Kau bisa membawanya sendiri? Kau bawa mobil?”, tanyanya cuek dan duduk di depan peralatan memahat.

Darimana dia tau aku detektif? Apa dia juga detektif dikasus ini? Kalau itu benar, berarti dia partnerku.

“Aku bawa mobil. Bantu aku membawanya..”, kataku santai. Kuharap dia memang partnerku.

“Eh.. tunggu… darimana kau tau aku detektif? Apa kau juga detektif?”, aku menyelanya saat dia hendak mengangkat mayat namja yang bernama Lee Taemin itu.

“Kau benar-benar detektif payah… Aku Jinki, dan aku bukan detektif…”, katanya santai. Mungkin lebih tepat dibilang ‘dingin’. Mendengar perkataannya aku spontan kaget. Apa maksudnya!? Lalu, siapa dia sebenarnya!? Ya Tuhan… kenapa hidupku penuh dengan pertanyaan..??

“Lalu kau siapa?”, tanyaku penasaran. Image-ku pasti rusak sekarang!

“Bukankah maksudmu darimana aku tau?”, katanya. Image-ku sudah benar-benar rusak sekarang! Memalukan!

“Sudahlah, jawab saja!!”, bentakku sambil menyembunyikan rasa maluku.

“Kau seharusnya jadi korban, bukan detektif! Payah! Kau meninggalkan tanda pengenalmu tadi…”, kata Key sambil memberikan tanda pengenalku.

“Benarkah? Dimana kau menemukannya?”, tanyaku panik sambil meraba-raba sekitar kantong bajuku.

“Ini!”, kata lelaki itu sambil memasukkan tanda pengenalku ke dalam kantong bajuku. Aku hanya terdiam tak peduli dengan tingkahnya yang cuek dan dingin. Kuperhatikan sekeliling jalan raya yang kami lewati dengan mobil BMW ku, menikmati kencangnya laju mobil yang dikemudikan bocah yang baru saja kukenal.

Tapi tiba-tiba BMW ku melesat kencang melewati pintu gerbang utama rumah sakit yang merupakan tujuan kami. Aku tak berbicara apapun, mungkin ia akan melewati pintu gerbang yang lain.

***

“Kita sampai”, ucap Jinki sambil mematikan mesin mobilku.

“Tempat apa ini? Kenapa kau memarkir mobilku disini?”, tanyaku bingung melihat sebuah rumah tua kosong yang dikelilingi pagar besi dimana-mana.

“Sudahlah, tak usah banyak tanya! Kau bantu saja aku membopong bocah malang itu!”, suruhnya dan tidak menjawab segala pertanyaanku. Sial! Apakah dia mengira aku ini pembantunya!?

Aku mengangkat kaki mayat Taemin yang malang itu, sedangkan dia mengangkat kepala dan badannya.

“Ahh! Kau membuat anak ini semakin berat diangkat. Sudahlah! Biar aku saja yang menggendongnya!”, bentaknya dan mulai menggendong mayat tak berdosa itu di bahu kirinya.

“Hey, ambillah kunci di kantong celanaku!”, suruhnya lagi tapi dengan nada ramah sekarang. Dia mulai membuka semua gembok rantai dan kami pun masuk ke dalam.

“Gelap sekali disini”, ucapku reflek karena ruangan yang begitu gelap. “TLEK” sebuah saklar berbunyi dan lampu pun menerangi sekitar ruangan. Aku ternyata sedang berdiri di tengah-tengah ruang tamu. Tepat dibelakangku ada sebuah sofa berwarna putih yang begitu lembut. Dinding-dinding ruangan ini dihiasi berbagai lukisan tak berarti dengan corak-corak warna indah dan membuat ruangan ini terasa tenang.

“Jadi ini rumahmu?”, tanyaku penasaran.

“Begitulah”, jawabnya dingin.

“Ayo ikuti aku”, sambungnya lagi.

“Baiklah. Eh, sebentar…”, aku menyelanya.

“Apa?”

“Mayatnya mulai membusuk”, ucapku seraya memasang masker. Aku ikuti langkah kakinya. Dia mula-mula melewati dapur dan kemudian berhenti di depan sebuah pintu. Laki-laki bernama Jinki itu sekilas menatapku dingin.

“Ada apa?”, tanyaku tegang. Ia malah langsung membuka pintu, tak peduli dengan pertanyaanku. Ruangannya gelap, dan bocah menyebalkan itu tidak menyalakan lampu apapun. Mayat Taemin di bahunya diletakkan di atas kursi panjang dalam ruangan itu. Aku bingung, kenapa dia meletakkan mayat Taemin di tempat seperti gudang ini? Entah, apakah dia pantas untuk dicurigai?

“Kenapa kau menaruhnya disini? Bukankah seharusnya kita membawanya ke rumah sakit untuk diotopsi?”, tanyaku memberanikan diri.

“Memang”, jawabnya singkat dan berjalan menuju pintu.

“Aku serius!”, protesku yang mulai kesal dan membuatnya menghentikan langkah kakinya tepat di tengah-tengah lorong pintu.

“Aku harus menyelidikinya dulu”, jawabnya seraya berjalan kembali keluar pintu.

“Siapa? Siapa yang ingin kau selidiki?”, aku terus mengikutinya hingga kami sampai dalam ruang tamu. Dia mendudukkan badannya di sofa putih miliknya, dan akupun latah meniru.

“Mayat itu. Aku harus menyelidiki dulu mayat itu dan juga pembunuhnya”, ucapnya tegas, dan ketika ia mengucapkan ‘pembunuhnya’, matanya terasa tajam kepadaku. Aku mulai bingung dan hanya bertanya-tanya di dalam pikiranku. Sebenarnya siapa dia? Identitasnya tak jelas. Apakah dia itu sama sepertiku? Seorang detektif yang menyamar sebagai murid SMA?

“Sebenarnya kau ini siapa? Seorang detektif? Apa kau partnerku? Atau seorang pengoleksi mayat?”, candaku sedikit serius.

“Hahaha… Kau bercanda?”, balasnya dengan sedikit tertawa.

“Kau ingin minum apa? Biar kubuatkan sebentar”, tambahnya menghiraukan lagi pertanyaanku.

“Kopi hangat cukup”, kataku cuek.

“Tunggu disini, aku ke dapur dulu”, pintanya dan segera beranjak dari sofa putih miliknya.

Tak terduga dari awal bahwa secepat itu aku menemukan korban berikutnya dari si pembunuh pengecut. Tak ada yang menduga juga bahwa ternyata ada yang membantuku menyelidiki masalah ini. Ya, walaupun sebenarnya aku belum tau pasti siapa Jinki itu. Partnerku? Musuhku? Atau hanya bocah yang merecoki tugasku? Tapi aku yakin dia anak baik walaupun sikapnya dingin dan cuek serta misterius. Aku mengeluarkan kalung bintang dari kantong kecil ranselku. Apakah kalung ini benar-benar bisa menjadi petunjuk dari semua kemisteriusan ini? Atau hanya barang tak berguna yang seharusnya kubuang?

“Ehm…”, suara lembut Jinki mengalihkan konsentrasiku. Dia mulai berjalan menuju tempatku duduk dengan sebuah cangkir coklat kemerahan di tangannya. Aku segera memasukkan kalung yang tak jelas latar belakangnya ke dalam tasku.

“Ini, minumlah!”, ucapnya meletakkan secangkir kopi di atas meja disebelahku.

“Gomawo…”, kubuka masker yang menutup mulut dan hidungku, kemudian menyeruput kopi hangat yang menyiram rasa kering di tenggorokan.

“Sebenarnya, aku seorang asisten detektif yang masih duduk di bangku SMA”, ucap Jinki tiba-tiba membuatku kaget dan hampir tersedak kopi.

“Jadi kau adalah asisten detektif yang sedang mencari tau profokator masalah ini?”, tanyaku kaget.

“Seperti itulah”, jawabnya dan melihat jam tangan yang ia pakai di tangan kirinya.

“Aku harus pergi, ada urusan. Kau ingin pulang, atau tetap disini menunggu mayat anak malang itu?”, sambungnya.

“Apakah akan jadi masalah jika aku tetap berada disini?”, tanyaku.

“Oh, tidak juga”, jawab Jinki, kemudian ia segera pergi meninggalkanku sendiri di dalam rumah tuanya.

***

Rasa bosanku mulai meluap sekarang, sepertinya lebih baik aku menyelidiki mayat tadi daripada berdiam diri melamun. Segera saja kulangkahkan kaki beranjak dari ruang tamu menuju gudang tadi. Oh, tidak, aku lupa memakai maskerku lagi. Tapi tak ada bau bangkai yang tercium, hanya bau aneh seperti pengawet. Ya, seperti bau formalin disini. Aku mendekati mayat namja yang bernama Taemin itu. Tepat pada kulit di bagian urat nadinya tergambar sebuah seni tatto berwarn ahitam dengan gambar bintang yang cukup indah. Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata bintang itu sama dengan binang yang ada pada kalung anak itu sendiri.

Kududukkan badanku di sebuah kursi yang bersebelahan dengan kursi panjang tempat mayat Taemin diletakkan. Tapi tiba-tiba, aku merasa sepatuku menginjak suatu benda tebal dan cukup keras. Apa itu? Kutundukkan kepalaku untuk melihat benda disekitar sepatuku.

“Aaahh!!”, aku menjerit ngeri sekaligus terkejut. Akhirnya kuputuskan untuk mendekat ke lantai dan melihatnya secara seksama.

“Ya Tuhan, ternyata ini benar-benar tangan sungguhan. Lalu ini mayat siapa? Kenapa Jinki menyimpannya disini juga? Ataukah dia pelaku pembunuhan yang selama ini kucari?”, ucapku berbisik pelan, tak mengerti dengan kejadian nyata ini semua. Kuperhatikan kembali mayat lelaki yang baru saja kuinjak tangannya tadi. Kuprediksikan mayat ini baru 2 hari yang lalu terbunuh. Tangannya? Sama. Tepat di bagian atas urat nadi sama seperti mayat Taemin ada sebuah tatto bintang. Apa maksud semua ini? Atau jangan-jangan Jinki  juga sedang menyelidiki mayat ini?

Aku mengerti sekarang. Mungkin si pembunuh memangsa korban yang memiliki ciri-ciri sama dengan korban lainnya. Aku butuh lampu, dimana saklarnya? Tanganku terus meraba-raba tembok di sekitar pintu. Tapi, tiba-tiba…

“Hey, rupanya kau disini!”, Jinki masuk dan sukses mengagetkanku.

“Ya, aku jenuh bila hanya duduk”, jawabku.

“Emm… jadi sebelum mayat Taemin, kau juga menyelidiki mayat lain yang terbunuh dengan motiv dan ciri-ciri yang sama?”, tanyaku penasaran dan tegang.

“Ya”, jawabnya singkat.

“Kau tahu, aku sudah mendapatkan informasi lain tentang si pembunuh. Ternyata selama ini dia menjadikan anggota keluarganya sebagai korban. Kau lihat kan tatto bintang yang ada di tangan anak itu dan mayat lelaki dewasa tadi? Itulah tanda bahwa mereka adalah satu keluarga. Konon katanya, si pembunuh adalah orang yang cukup pendiam. Tapi sifatnya yang pendiam itu menjadikannya kurang bersosialisasi dan menjadi awal dari jati dirinya menjadi seorang pembunuh. Dia amat tertekan dengan semua tingkah keluarganya yang selalu meniksa jiwa. Mulai dari ayah dan ibunya yang tak pernah sedikitpun memberikan perhatian padanya. Dia selalu disalahkan, dicaci, dimaki, dan diabaikan. Ayah dan ibunya pun sering bertengkar fisik, hingga membuatnya benar-benar kesal dan tidak tahan lagi. Sehingga akhirnya si pembunuh mengambil benda tajam dan menghabiskan nyawa keluarganya. Dan kau tahu yang lebih tragisnya? Si pembunuh menjadi bocah psycho yang senang sekali membunuh orang, terutama dari bagian keluarganya. Beberapa sepupunya telah mati menjadi bangkai, dan kemarin terakhir adalah Taemin, adik kandungnya sendiri!”, ucapnya panjang lebar dan begitu menghayati cerita yang membuat bulu kudukku berdiri tegak.

“Kau tau itu semua? Darimana? Ataukah kau memang dekektif yang sangat andal?”, aku mulai tegang sekarang. Detak jantungku mengencang.

“Tentu saja aku tau”, ucapnya dingin seraya menggulung lengan panjang kemejanya. Sekilas aku melihat sesuatu yang aneh di lengannya, seperti melepuh terbakar.

“Masuklah! Akan kujelaskan lebih rinci padamu, Nona detektif!”, dia mendorongku masuk dan menutup pintu gudang serapat mungkin. Disini benar-benar gelap, tak ada udara masuk dan bau formalin menusuk hidungku, membuatku ingin mengeluarkan seluruh isi perutku.

“Bisakah kau menyalakan lampu dan membuka pintunya? Aku tak tahan dengan bau ini!”, bentakku kesal.

“Baiklah, kunyalakan lampunya. Triiingg!! Lampu menyala”, balasnya konyol. Aku benar-benar terkejut ketika lampu menyala, ternyata tak hanya ada dua mayat, tapi ada sekitar enam mayat diruangan ini.

“Apa ini semua? Kau menyelidiki semuanya sampai sejauh ini? Aku benar-benar tak mengerti!”, teriakku kaget tak karuan.

“Tak usah kaget melihat semua kerja kerasku! Lagipula melakukan ini semua tak membutuhkan tenaga besar”, Jinki memiringkan senyum bibirnya padaku.

“Maksudmu? Aku tak mengerti!”, ucapku tak membalas senyumannya itu.

“Kau tak mengerti? Aku sangat mudah menjadikan makhluk-makhluk ini mayat yang tergeletak manis di gudangku!”, omongannya tak kumengerti sekarang.

“Kau tak usah tegang dan takjub melihat mayat-mayat ini di sekitarmu!”, sambungnya.

“Hey, Nona Detektif, kau tau apa ini?”, tanyanya gila sambil menunjukkan sebuah kulit yang seperti terbakar di lengannya. Aku melihat itu seperti tatto yang berusaha ia hilangkan. Tapi masih ada sedikit gambar tatto disana. Ya, seperti seperempat gambar bintang.

“Young, sang detektif yang menyamar menjadi murid SMA, aku punya info menarik, bahwa yang akan menjadi mangsa si pembunuh berikutnya adalah seorang wanita yang berusaha menemukannya. Dia sangat membenci orang yang selalu menyelidikinya!” lanjut Jinki panjang lebar. Aku terus terdiam mencerna kata-katanya.

“Young, akulah yang selalu kau cari! Dan kaulah mangsaku selanjutnya! Karena akulah tangan di balik semua pembunuhan misterius ini!”, Alviss berteriak kencang padaku, menatap mataku tajam dan memegang sebuah pisau runcing serta tajam yang siap menerjang tubuhku.

“AARRGGHHHH!!!!”, teriakkan kencangku melengkapi semua kenyataan ini.

FINAL

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

22 thoughts on “Bunseog”

  1. bagus … keren tapi kesannya buru2 .. n banyak typo ya .. hehehehe
    ngeri juga …
    coa alurnya di buat setenang mungkin heheh pasti lebih ke dapet feelnya .. tpi ini juga cukup bagus kok .. ^^

    huwaaa kasian taemin .. -_-”
    dari awal aku dah tau pasti tuh org …
    ^ ^ good job thor ..

  2. aduh aduh mian ya, alviss sama keynya itu kebawabawa *bow* *typo*
    thanks ya yg udah komen^^
    authornya ini ber-6 lhoo #sekadarmemberitahu

  3. ada beberapa typo ya.. tapi gapapa deh.. =D
    ceritanya bagus.. lumayan horrornya dapet..
    tapi ga bisa bayangin aja kalo onew jadi kaya gitu.. hii..

  4. ini yg bunuh key jinki atau alvis-_-
    terus darimana youngmi tau itu jinki, sedangkan jinki tidak memperkenalkan dirinya
    ada beberapa typo sepertinya
    tapi ceritanya cukup bikin merinding, dan endingnya nangung
    kayak film asia deh:D
    bagus sih thor, cuma ada yg salah itu
    good job thor

  5. … sempet ada feeling juga sih ttang cerita ini,, yang akhirnya kaya gini..
    klo ak boleh saran.. terusin ajj FF in, mungkin lebih baik.. hehehe.. -_-V

  6. key?? alviss?? saha eonni??? haha tapi tetep lah, ff ini bagus!!! tapi jinki kok jahat amat yak?? hehehe..#dibakar MVP#

  7. huaaaa!!! kenapa jinki oppa jadi pembunuh ??? aku kira sama kyak di film “detective in 40 minutes” ternyata beda, huhu pikiranku meleset, daebak author!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s