Mianhae, Chagiya

Mianhae, Chagiya

Author: Park Young Mincha a.k.a Annisa Mira

Main Casts: Lee Hyojin, Kim Kibum aka Key

Support Casts: Park Young Mincha, Lee Jinki, Nicole, Choi Minho

Length: Oneshot

Genre: Hurt/Comfort, Romance, Friendship

Rating: PG-15 (yeaaah)

Aku balik lagi… mincha balik…. Setelah berbulan-bulan minggat dari SF3SI…. Hohoho….

~~~

 “Oppa?” panggil seorang gadis SMA di depan pintu kamar kakak lelakinya dengan pelan sembari tangan kanannya mengepal mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Dipanggilnya kakak satu-satunya itu sedikit lebih keras. Kini tidak lagi mengetuk pintu, tapi bisa dibilang menggedor pintu malang itu.

“HYAKK, OPPA! BUKA PINTU KAMARMU ATAU KUDOBRAK!” teriak gadis tersebut sembari menghentakkan kakinya. Kesal. Tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam.

“Haish! Oppa menyebalkan! Kemaren janji mau menemaniku ke toko buku! Tidur kayak kebo! Tidur aja terus sana!” seru Hyojin, gadis itu, kesal. Onew hanya menutupi telinganya dengan bantal. Tak ambil pusing dengan teriakan adiknya secara gila-gilaan tadi.

###

Saat makan malam, Onew yang sudah mempersiapkan diri untuk didamprat dongsaeng kesayangannya hanya bisa bingung bercampur panik melihat Hyojin hanya mengaduk makanan di piringnya tanpa niat untuk memakannya. Kekhawatirannya semakin mendekati batas maksimal saat menyadari sebulir cairan bening menetes dari wajah adiknya. Segera dihabiskan makanannya dan mengajak Hyojin untuk berbicara di kamar gadis itu. Onew yakin ada sesuatu yang terjadi saat Hyojin pergi tadi.

“Eomma, appa, kami duluan ya!” pamit namja tampan tersebut sembari memapah Hyojin. Orang tua mereka saling berpandangan kemudian menghela napas resah. Entah kapan anak lelaki mereka bisa lepas dari sikapnya yang satu itu. Posesif dalam menjaga Hyojin.

“Oppa?” Onew menjawab dengan gumaman kecil. Tetap mengelus lembut rambut gadis kecilnya itu. “Apakah Key oppa tidak merindukanku? Aku percaya sih dia memang sibuk. Tapi emangnya sibuk banget, ya sampai melupakanku? Aku benar-benar merindukannya,” curhat Hyojin manja sambil melingkarkan lengannya di pinggang namja berpipi gembil itu.

Mendengar pertanyaan Hyojin, Onew tersentak. Dia bingung harus menjawab apa. Di kampus, mereka jarang bertemu.

“Mian, Hyo~ah! Oppa sibuk, jadi tak pernah ada kontak ama Key! Oppa harap dia masih ingat janjinya dulu. Besok kalau oppa senggang, akan oppa tanyakan padanya,” ucap Onew berusaha menenangkan perasaan Hyojin. Untuk saat ini, hanya itulah yang bisa dia janjikan.

“Tidak usah, oppa! Aku tidak mau terus dianggap seperti anak kecil olehnya. Aku percaya kok sama dia.” Hyojin mengucapkan itu sambil tersenyum. Melihat itu, Onew pun ikut tersenyum.

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti ini, huh? Oppa tersindir nih,” ucap Onew sedikit merajuk. Hyojin terkekeh pelan kemudian mendorong tubuh Onew ke arah pintu kamarnya.

“Kalau oppa memang merasa seperti itu, sekarang hubungi Mincha eonnie! Tadi kulihat dia pergi dengan seorang namja tinggi dan tampan. Mereka terlihat akrab sekali. Apa mungkin eonnie berpaling karena kau tak pernah mengingatnya?” goda Hyojin lalu menutup pintu kamarnya tepat di depan wajah kakaknya yang sedang melongo bego.

“ANDWAEEEE…….. Hyaaaakk!! Eomma! Appa! Aku pergi dulu!” teriak Onew kalap. Di dalam kamar, Hyojin tertawa keras. Tadi mereka memang bertemu dan eonnie-nya itu mengenalkan namja tinggi itu padanya. Dan namja itu hanya sepupu Mincha.

“Emang enak, dikerjain? Rasain, tuh!” ucap Hyojin puas.

###

Onew POV~

Sekarang aku sudah berdiri di depan rumah Mincha. Kuketuk pintu rumahnya dengan perlahan. Tak sampai semenit, pintu itu terbuka. Mama Mincha muncul dari balik papan tersebut. Memandangku yang kini tampak berantakan dengan heran.

“Mincha ada, Ma?” tanyaku cepat. Kulihat beliau mengangguk pelan dan menunjuk ke dalam rumah, menyuruhku masuk ke dalam, mencarinya sendiri di kamarnya. Setelah permisi, aku pun masuk langsung ke depan kamarnya. Kuketuk pintu kamarnya dengan tidak sabar. Tak lama, pintu terbuka dan tampaklah sosok gadis yang sedang kucari.

“Chagiyaaa~,” seruku dramatis lalu memeluknya erat. Dia mendorongku sekuat tenaga dengan nafas tersengal.

“Hyakk! Onew! Kau ingin membunuhku? Sesak, pabbo! Kau itu ada apa, sih?” gerutunya kesal sambil berusaha mengatur nafasnya lalu menarikku masuk ke dalam kamarnya agar tidak mengganggu kedua orang tuanya. “Kau ini aneh sekali? Datang ke sini acak-acakan begitu!” marah Mincha sambil merapikan rambutku. Rasanya ingin menangis melihatnya begitu perhatian padaku meski aku jarang memperhatikannya.

Aku menatap wajahnya dengan intens berlebih. Kusentuh pipinya dengan perlahan. Tanganku sedikit bergetar. Mincha memandangku dengan bingung.

“Cha, mian mengabaikanmu beberapa waktu ini. Aku sibuk. Kau bisa mengerti kan, chagi?” ucapku sambil menyibakkan poni yang menutupi matanya. Kulihat dia mengangguk pelan walau tetap ada tatapan heran. “Jangan berpaling pada namja lain, ya!” pintaku yang rupanya membuat kedua matanya membulat kesal. Didorongnya kedua bahuku sedikit kasar.

“Onew.. tidak percaya padaku? Lagi?” tanyanya retoris. Diliriknya aku dengan mata yang mulai digenangi air mata. “Saat kita beda negara saja, aku berusaha untuk setia. Apalagi sekarang yang hanya beda kelas di kampus?! Baru juga setahun, kamu udah ngeraguin perasaanku lagi! Apa kamu tahu rasanya tidak dipercaya?”

Segera kutarik tubuhnya dalam sebuah pelukan erat. Dapat kurasakan dirinya bergetar menahan isak tangis. Semakin membuatku merasa bersalah. Aku ini apa-apaan sih? Dia saja percaya padaku, kenapa aku nggak percaya? Tapi Hyojin juga tidak mungkin bohong. Apa mungkin dia hanya ingin menyadarkanku agar tidak terlalu mengacuhkan Mincha?

“Mian! Tadi Hyojin bilang, dia melihatmu bersama namja jangkung. Aku takut kalau kau berpaling dariku. Maafkan aku!” pintaku sambil terus mendekap tubuh mungilnya. “Mungkin dia ingin menyadarkanku agar tidak mengacuhkanmu. Mianhae!”

Mincha melepaskan diri dari pelukanku dan menatapku dengan lembut. Diraihnya telapak tanganku dan menggenggamnya erat. Hangat. Kemudaian dia menyandarkan punggungnya dengan manja di dadaku. Berusaha menyamankan diri.

“Ada apa? Manja banget? Nanti aku bisa menyerangmu loh!” godaku sesekali menciumi puncak kepalanya. Dia tidak segera menjawab. Malah menarik kedua tanganku melingkar di pinggangnya.

“Seharusnya kamu nggak cemburu sama sepupuku kan?” ucapnya pelan. Hah? Sepupu? Namja tinggi. Jangan bilang… “Masa kamu jealous sama Changmin oppa? Kamu kan udah tau kalau aku sering pergi sama dia.”

Astaga, beneran si jangkung itu. Kalau memang dia, sih, aku cemburu. Walaupun gadis ini tidak menyadarinya, tapi aku tahu, aku tahu bahwa Changmin hyung ada rasa pada kekasihku ini. But, setidaknya aku yakin kalau perasaan yeoja manis ini hanya untukku. So, si ‘tiang’ itu bukan masalah. Biarlah, membuat orang lain bahagia itu pahala kan?

“Ya sudah kalau begitu! Aku pulang dulu ya, chagi! Sudah terlalu malam. Tidak enak dengan kedua orang tuamu. Kalau ada waktu senggang segera beritahu aku. Barangkali aku juga sedang senggang, jadi kita bisa kita kencan. Wajahmu jangan cemberut seperti itu ah. Ntar aku ngambek loh!” ucapku menatap wajahnya lamat-lamat. Tiba-tiba saja dia menarik lenganku *entah untuk yang ke berapa kalinya* dan mencium pipi gembilku. Aku kaget dan melihat wajahnya yang tersipu malu, aku langsung tersenyum jahil. Kutangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Kukecup bibir merahnya kemudian memagutnya dengan lembut selama beberapa detik.

###

Hyojin POV~

Cklek

Mampus!!

“Gomawo, Hyo~ah! Seandainya kamu tidak memanas-manasi oppa tadi, oppa tidak akan menyadari bahwa sesungguhnya oppa merindukan eonnie-mu. Saranghae, Dongsaeng~ah! Besok oppa akan menemui Kibum untuk menanyakan kesibukannya. Siapa tahu dia ada waktu kosong?!” ucap Onew oppa dengan cepat. Tak lupa dengan tangannya yang aktif memberantakkan rambutku.

“Eh? Oppa nggak marah?” Dia hanya menggeleng dengan senyum manisnya tertera di wajah tampannya. “Ah! Jangan! Nanti dia tahu kalo aku ngelapor sama oppa! Biar saja lah oppa! Mungkin dia memang sibuk. Aku nggak apa-apa kok. Tenang saja!”

Kulihat Onew oppa menatapku dengan khawatir. Aku tersenyum. Ini masalahku dan hanya aku sendiri yang bisa menyelesaikannya. Takkan kubiarkan oppa ikut campur walau ini bersangkutan dengan sahabatnya. Aku nggak mau bikin mereka berantem hanya karenaku.

~~~

Sudah tiga bulan berlalu dan tetap tidak ada kabar darinya. Aku sudah terbiasa. Tapi memangnya dia itu sibuk apa sih? Buat sms aja segitu nggak ada waktunya. Meski aku percaya dia nggak macam-macam di luar sana, hatiku mulai meragukan itu. Bagaimanapun, aku ini butuh kepastian!

Bagaimana caranya memberitahukan bahwa aku direkomendasikan di kampus yang sama dengannya? Aku ingin menghubunginya, tapi dia pasti akan merasa terganggu. Lebih baik aku minta tolong pada Onew oppa saja untuk memberitahu padanya. Aku capek harus begini terus.

“Yak! Hyojin~ah! Kamu apa-apaan sih mau masuk kampus yang sama denganku? Kayak nggak ada kampus yang lain saja!” bentak seseorang dari telpon.

“Apaan sih, oppa? Aku direkomendasikan! Kenapa aku harus memilih kampus lain kalau aku sudah tinggal masuk saja di sana?” tegasku menahan sakit di dadaku ini.

“Yang ada, kamu akan merepotkanku saja!”

“Terus maumu apa, huh?! Aku capek oppa, kau beginikan terus! Pura-pura tak kenal denganku saja kalau memang kau menganggap aku merepotkanmu!”

“Itu tidak mungkin kan? Statusmu saat ini masih pacarku!”

“So? Kalau satu kampus dengan pacar akan merepotkan, begitu? Onew oppa dengan Mincha eonnie baik-baik saja tuh, buktinya!”

“Aku dan dia berbeda! Jangan samakan kami!” marahnya lagi. Aku yang mendengarnya menghela nafas dengan kesal.

“Terus? Sudahlah oppa! Kalau kau menelponku hanya untuk memarahiku dan menyuruhku menolak rekomendasi itu, lebih baik kututup saja!”

“Kamu apa-apaan, sih, Hyo? Kenapa malah kamu yang marah?” debatnya keras.

“Hyakk! Oppa pikir aku ini apa? Aku punya hati! Mana mungkin aku tidak marah jika sikapmu seperti itu?! Berbulan-bulan tidak pernah menghubungiku, sekalinya telpon hanya untuk membentakku! Hebat sekali!” ucapku sinis.

“Kamu nggak berhak untuk marah! Karena aku memang sibuk dan saat aku sedang banyak pikiran aku dapat berita kau akan masuk sini. Aku tidak mengizinkan!” larangnya tetap dengan nada marah.

“Kau nggak berhak untuk mengatur hidupku, Kibum~ssi! Walaupun kau ‘pacar’ku, tapi kau sudah nggak pernah lagi bersikap sebagai pacar yang baik untukku. Kalau kau memang sudah bosan denganku, bilang! Aku itu butuh kepastian!”

“Akhirnya kamu sadar juga, Hyojin~ah! Aku memang sangat bosan padamu. Kamu masih seperti anak kecil.”

“Yayaya…. Terserahlah!! Memang pada dasarnya kau tidak bisa menepati janji. Seharusnya dulu aku tidak pernah kenal denganmu!”

“Kamu saja yang bodoh!”

“Oh, ya? Hhhh~ Besok bisa bertemu sebentar? Aku tidak ingin Onew oppa tahu kita putus karena hal ini! Bagaimanapun juga, kau sahabatnya dan aku tidak ingin kalian bertengkar! Aku ingin mengembalikan cincin yang pernah kau berikan dulu!” pintaku melunak.

“Di tempat biasa jam 4 sore!” perintahnya yang hanya kujawab dengan gumaman sebelum kumatikan ponselku.

Tidak boleh seperti ini. Aku harus kuat! Hwaiting, Hyo~ah! Lebih baik aku jalan-jalan saja cari udara segar! Ke taman saja lah. Sudah lama tidak main ke sana. Kuambil Ipod pink kesayanganku. Kupasang headset di telinga lalu berjalan dengan santai.

Saat akan melangkah menuju ayunan, kulihat sosok yang telah menyakitiku tengah duduk di bangku taman dekat ayunan. Wajahnya tampak lesu. Biarlah. Bukan urusanku. Kuteruskan langkahku seraya bersikap seolah aku tak melihatnya. Aku duduk di ayunan kemudian memejamkan mataku sebelum kurasakan ada yang menepuk pundakku.

“Changmin oppa?” tanyaku ragu. Namja itu tersenyum evil. “Oppa sendirian? Mana Mincha eonnie?” kulihat dia terkekeh pelan. Membuatnya tampak semakin tampan. Tapi aku masih cukup waras untuk tidak menaruh hati pada namja yang terpaut tujuh tahun di atasku.

“Memangnya kalau aku pergi harus dengannya? Ayolah tidak mungkin begitu kan? Bisa-bisa aku dihajar oleh pacarnya. Hahaha…,” sahutnya lalu tertawa renyah. Aku ikut tertawa mendengar ocehannya. “Ada masalah? Wajahmu keruh banget!”

Aku terdiam mendengar pertanyaan itu. Kulirik sedikit namja yang tadi sempat kulewati. Dia memandangiku dengan raut wajah kesal. Seperti saat aku digoda berandalan saat kami baru sebulan pacaran dan itu sudah lama sekali. Tidak salah, dia menunjukkan ekspresi seperti itu? Bukankah dia sendiri yang bilang kalau sudah bosan padaku? Kenapa menatapku seperti miliknya di tangan orang lain? Kenapa selalu mengacaukan perasaanku?

“Hyojin, gwenchana? Kalau kau tak ingin bercerita tak apa. Tak usah diingat lagi masalahmu,” ujarnya lagi lalu mengacak rambutku pelan. Membuatku teringat dengan perlakuan Key oppa saat kami masih pasangan baru. Dia juga selalu mengacak rambutku dengan lembut seperti ini. Perlahan air mataku menetes. “Ah, mian! Kau tak nyaman ya? Mian, jangan menangis!” ucapnya kikuk.

“Berbagilah dengan orang yang kau percaya. Jangan pendam hal yang menyakitkan sendirian! Itu hanya membuatmu semakin terluka. Jangan pulang malam, kau tau sendiri kan, Onew orang yang seperti apa? Aku pergi dulu! Annyeong!” pamitnya. Aku tidak terlalu memperhatikannya. Yang jelas, sepupu kekasih oppa-ku ini sangat perhatian dengan orang lain.

“Gomawo, oppa!” perlahan aku mengucapkan kalimat itu dengan lirih. Walau kutahu dia tidak mendengarnya karena sudah beranjak pergi. Kuhapus sisa-sisa air mata di wajahku. “Benar katanya! Sebentar lagi Onew oppa pulang! Aku juga harus pulang! Dia tidak boleh melihatku seperti ini. Hwaiting!” ucapku menyemangati diriku sendiri. Kulihat ke tempat di mana Key oppa tadi duduk. Dia sudah tidak ada di sana. Baguslah! Melihaat kehadirannya semakin membuatku dadaku sakit.

###

No One POV~

“Kenapa kemarin kau menatapku seperti itu? Tidak cukup kah kau membuatku menunggu kepastian darimu selama ini? Kenapa oppa seperti memberiku harapan? Sakit, oppa, saat tahu ternyata kau tak lagi menganggapku! Bahkan menganggapku sebagai pengganggu!” tanya seorang gadis pada seorang namja yang seumuran dengan oppa-nya. Tanpa memandang wajahnya. Takut akan menangis lagi seperti kemarin.

Tak terdengar jawaban apapun dari namja yang duduk di hadapannya saat ini. Pria tampan tersebut hanya diam sembari terus menatap sang yeoja dengan intens. Enggan melepaskan pandangannya barang sedetik pun. Menyadari Key tidak menanggapi ucapannya sama sekali, Hyojin akhirnya terpaksa mendongak menatap wajah pria yang pernah mati-matian melindunginya dulu. Disodorkannya cincin yang pernah diberikan kepadanya dengan perlahan.

“Fine, oppa! Ini cincin yang kau berikan dulu! Kukembalikan! Berikan pada yeoja yang benar-benar kau cintai! Annyeong!” ujar yeoja itu lagi lalu segera pergi dari tempat itu. Meninggalkan namja yang kini tengah memandang punggungnya dengan tatapan sendu.

“Mianhae, chagi! Sebenarnya aku masih sangat mencintaimu. Aku terpaksa menyakitimu seperti ini!” ucap Key lirih lalu menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya. Frustasi. “Kenapa harus seperti ini hubungan kita? Bukan maksudku untuk membuatmu menunggu tanpa kepastian seperti itu! Apa kau tidak menyadari perasaanku?”

###

“Kau masih memperhatikan gadis itu, Kibum~ah! Kau ingin gadis itu terluka, rupanya! Baiklah! Dengan senang hati akan kukabulkan keinginanmu itu!” ucap seorang yeoja bernama Nicole begitu menyadari namja di sisinya mengacuhkannya dan memandang ke satu arah. Menatap sosok gadis yang hingga kini masih menempati ruang terbesar dalam hati seorang Key~ah.

“Jangan coba-coba melukai gadis itu, Nicole! Aku sudah mengikuti kemauanmu untuk menjauhinya! Jangan sakiti dia, kumohon! Sudah cukup aku menyakitinya!” pinta Key yang kini tengah berlutut di hadapan gadis itu. Pikirannya kali ini benar-benar kalut.

“Kalau begitu, berhenti mencintai dan memperhatikannya!! Kau hanya boleh menjadi milikku!” bentak Nicole kesal.

“Kenapa kamu begitu mengekangku? Aku bukan boneka yang bisa dipaksa untuk mencintai seseorang! Aku punya perasaan!” keluh Key dengan pelan. Dipijatnya keningnya dengan satu tangan.

“Karena aku sangat mencintaimu, Kibum! Harus berapa kali aku mengatakannya?” jerit gadis itu lagi. Belum sempat namja tampan itu menjawab sebuah suara menginterupsi pertengkaran mereka. Bukan pertengkaran tepatnya adu mulut.

“Kalau begitu, kamu tidak sungguh-sungguh mencintainya! Itu hanya obsesimu untuk mendapatkan cinta Key! Kalau kamu memang mencintainya, kamu tidak memaksakan kehendak seperti ini!”

“Minho~yah? Sedang apa kau, huh? Tidak usah sok tahu!” marah Nicole saat tau ada yang mencoba menghalangi rencananya.

“Aku tahu segala hal mengenai dirimu. Kamu saja yang menutup mata. Kamu tidak bisa memaksa agar orang lain mencintai dirimu. Key~ah bukan robot! Dia juga punya hak untuk mencintai gadis pilihannya. Kamu jangan menghalangi hak orang,” tegur Minho lagi. “Ayolah, Nicole! Lepaskan Key! Tidakkah kamu tahu, tidak hanya Key yang terluka. Gadis itu, kamu, bahkan aku, ikut terluka karena sikapmu yang seperti ini. Sampai kapan kamu akan bertahan dengan kenyataan bahwa Key tidak akan pernah mencintaimu! Aku tahu kamu tidak setegar itu, Nicole~ah!” bujuknya lagi menyadari Nicole hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun.

“Kamu bodoh, Key! Kenapa takut hanya dengan ancaman seperti itu? Apa kamu terlalu takut untuk melindunginya? Kalau kamu takut, kan ada aku yang sudah pasti akan melindunginya!! Aku menyesal sudah menyerahkan dongsaeng tersayangku pada namja pengecut dan bodoh sepertimu.”

Wajah tampan Kibum pucat melihat sahabatnya ada di situ. Mendengar dan bahkan sudah mengetahui semua penyebab permasalahan hubungannya dengan dongsaeng kesayangan sahabatnya tersebut.

###

Kibum POV~

“Kenapa? Tumben kamu tidak menyangkalnya? Apakah kata-kataku benar? Aku kecewa padamu, Key! Kupikir kamu benar-benar serius menyukai Hyojin. Seharusnya hal seperti ini tidak membuatmu menyerah akan perasaanmu!” ucap Onew marah. Kulihat dia beralih menatap Nicole. “Dan kamu! Berani-beraninya kamu mengancam sahabatku! Kamu pikir siapa dirimu? Sok hebat sekali!”

Bahaya! Dia tidak akan segan-segan untuk memukul wanita kalau orang itu membahayakan orang terdekatnya. Onew semakin mendekati Nicole. Tidak baik menyakiti seorang gadis. Bullshit sebenarnya kalau aku berkata seperti ini, tapi tidak boleh melakukan kekerasan terhadap seorang yeoja. Aku langsung berlari menghalangi langkahnya.

“Onew, hentikan! Kamu mau apa?” tanyaku keras. Onew menatapku dengan sinis.

“Oh, jadi kamu memang sudah berniat untuk berpaling? Kalau memang benar begitu, tak ada gunanya aku membelamu! Aku benci pada orang yang mempermainkan dongsaengku walaupun dia sahabatku!” ucapnya sarkatis lalu beranjak menghampiri Mincha yang berdiri di dekat pohon dan menatapku sedih. Kentara sekali matanya berkaca-kaca.

“Pergilah!”

“Eh?” ucapku kaget dan langsung menoleh dengan cepat.

“Pergilah! Aku melepaskanmu sekarang. Mian telah membuatmu terpuruk seperti ini. Gomawo telah membelaku tadi.” Nicole berkata dengan tenang. Tanpa ada kilat terpaksa di wajahnya. “Sekarang, selesaikan masalahmu dengan sahabatmu tadi. Dia kakak kekasihmu kan? Aku benar-benar menyerah sekarang. Aku akan mencoba membuka hati untuk namja lain. Mian telah membuatmu terkekang.”

Kata-katanya membuatku terpekur sejenak. Setelah menyadari semua ketulusannya aku tersenyum dan segera berlari mencari Onew. Tak lupa kuucapkan terima kasih sebelumnya.

###

Hyojin POV~

“Oppa!” seruku. “Kenapa Mincha eonn menangis? Eonnie tidak terluka kan? Ada apa?”

Loh? Kenapa mereka malah menatap iba padaku? Memang aku kenapa? Eh? Kok Mincha eonnie tambah nangis sih? Seseorang! Please tell me now! What happen in here?

“Hyo~ah, mianhae! Oppa tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Aduh… iya, chagi! Sabar!” ucap Onew oppa mulai mencoba untuk menjelaskan.

Saat dia baru membuka mulut untuk melanjutkan ucapannya tadi suara Key oppa berdenging di telingaku. Perasaanku saja atau memang dia yang memanggilku. Aku segera menoleh dan mendapati Key oppa berlari ke arah kami dan langsung memelukku dengan erat. Aku yang tidak mengerti apa-apa, hanya bisa bingung. Ini sebenarnya ada apa?

“Mianhae… Mianhae, Chagi! Mian! Mi….” ucapnya berulang-ulang dan terputus karena bentakan dari Onew oppa.

“Masih berani kamu menampakkan dirimu di hadapanku? Aissh! Ayo, pergi, Hyojin!” ucap Onew oppa yang terdengar marah. Kenapa daritadi nggak ada yang menjelaskan ada apa sebenarnya ini?!

“Hentikan! Ada apa sih? Dan kau, oppa? Kita sudah putus, bukan? Kenapa masih memanggilku ‘chagi’? Bukankah sudah kukatakan untuk tidak membuatku berharap lagi?” ucapku frustasi. Tapi bukannya melepaskan diriku, dia semakin erat memelukku.

“Mianhae! Aku benar-benar bodoh saat itu! Aku… aku benar-benar takut kalau kamu akan dicelakai oleh Nicole. Seharusnya aku berusaha melindungimu walau dia mengancamku seperti itu. Tapi aku takut, saat kamu tidak dalam pengawasanku, dia akan menyakitimu!” jelasnya sambil terisak. Aku mengerti sekarang. Jadi alasan dia menjauhiku, tidak menghubungiku karena diancam oleh seseorang bernama Nicole? “Selama ini, aku mengawasimu dari jauh. Ternyata justru aku sendiri yang melukaimu. Mianhae! Aku masih sangat mencintaimu. Tidak ada yang bisa menggantikanmu. Kata-kataku saat itu, karena Nicole berdiri di dekatku. Aku terpaksa mengatakan itu. Sekarang, aku akan melindungimu dari dekat. Kamu mau memaafkanku dan menerimaku kembali?”

“Kamu pikir aku mengijinkan? Tidak, Kibum. Aku tidak akan membiarkan adikku berhubungan denganmu lagi!” kata Onew oppa keras.

“Onew! Kau ingin menghalangi kebahagiaan Key dan Hyojin? Kau ingin membuat adikmu tersiksa menahan perasaannya hanya karena kau melarangnya? Aku tidak menyangka kau begitu picik. Semua orang bisa khilaf. Mereka masih saling mencintai. Tidak bisakah kau lihat perasaan itu? Berilah Key kesempatan satu kali lagi! Toh, sekarang mereka satu kampus. Akan lebih mudah bagi Key untuk mengawasi Hyojin. Atau kau memang mau menutup mata?” tegur Mincha eonnie. Aku menoleh pelan ke arah tunangan oppaku. Dia tersenyum kecil walau wajahnya masih sembab sehabis menangis tadi. Perlahan, dia mendekat dan memelukku setelah menyuruh Key oppa menyingkir. “Kau sudah bisa memilih keputusan yang terbaik untuk dirimu sendiri. Jaga diri, ya! Aku pulang duluan. Kalau kau sudah tidak ada kelas lebih baik segera pulang, ara?” aku mengangguk dan melihatnya tersenyum kecil.

“Jinki, mian aku tak pernah mengatakan hal ini padamu. Tanpa kamu sadari, aku sering mengawasi dongsaengmu ini dari jauh. Aku memang salah. Sudah menyakiti Hyojin seperti itu. Aku juga tersiksa. Benar katamu. Aku bodoh. Aku tadi melindunginya bukan karena aku berniat berpaling. Bagaimanapun juga, Nicole adalah yeoja. Dan menggunakan kekerasan pada seorang yeoja, itu tidak bagus. Walaupun dia yang salah, tetap saja kamu yang akan disalahkan. Aku tidak ingin dirimu dianggap namja yang kasar. Aku lebih mengenalmu dari mereka. Kamu adalah sahabatku yang paling lembut sayang dengan orang terdekatnya.” Key oppa memohon pada oppa dengan air mata terus mengalir. Kudekati dirinya dan kuulurkan tanganku untuk mengusap air matanya itu. Tak tahan melihatnya menangis.

“Hhhh~ sepertinya benar kata Mincha. Aku tidak akan menghalangi kalau adikku mau memaafkanmu. Untuk selanjutnya, aku titip dia. Aku tidak ingin membuat kedua orang tuaku cemas lagi karena melihat ke-posesif-anku. Nyusul Mincha saja ah. Awas kalau kamu mengembalikan Hyojin dalam keadaan acak-acakan!” ancam oppa sebelum meninggalkan kami.

Aku menatap kepergian oppa dengan malas. Apa-apaan itu? Katanya tidak ingin orang tua kami cemas karena posesif tingkat akut-nya. Tapi barusan mengancam sahabatnya karenaku? Tidak konsisten sekali orang itu. Dasar oppa bodoh!

“Errr, Hyo! Masih adakah kesempatan untukku? Kali ini aku benar-benar berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi dalam keadaan apa pun! Saranghae, Hyojin~ah! Perasaanku tidak akan berubah sampai kapan pun. Aku sudah memilihmu dan tidak akan melirik gadis lain lagi. Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku saat itu.” Kulihat Key oppa memandangku penuh harap. Pandangan yang sama seperti sore itu.

“Apa perasaanmu ketika tidak memberi kabar apapun padaku selama berbulan-bulan? Kau tahu bagaimana rasanya diabaikan, oppa? Aku tidak mau mengalami hal seperti itu untuk yang kedua kalinya,” ucapku sarkatis. Aku menatap kecewa padanya.

“Aku mohon, Hyo! Untuk selanjutnya aku tidak akan meninggalkanmu lagi! Bahkan, kalau kamu mau menerimaku lagi, aku akan langsung membawamu ke rumahku untuk meminta restu pada orang tuaku. Aku ingin bertunangan denganmu. Aku serius, Hyo!” pintanya kini berlutut di depanku sambil menunjukkan cincin yang sudah kukembalikan padanya beberapa bulan yang lalu. Aku bolak-balik menatap cincin itu dan dirinya. Tak percaya.

“Aku serius. Tak pernah aku bisa bertahan selama ini dengan yeojachinguku sebelumnya. Apalagi selama ini mereka lah yang memintaku untuk menjadi kekasih mereka. Jika aku yang menyatakan cintaku duluan, itu berarti aku serius padamu, Hyojin! Kamu mau kan, bertunangan denganku? Setelah kamu lulus kuliah baru kita membicarakan pernikahan,” paparnya dengan mantap.

“Baiklah. Asal kau berjanji tidak akan pernah meninggalkanku, bahkan mengabaikanku.” Kutawarkan sebuah perjanjian padanya. Dan dia mengangguk yakin.

“Mianhae, chagiya! Aku tidak akan mengabaikanmu lagi! Aku bisa menjanjikan itu! Sekarang ikut aku ke rumah. Aku akan minta mereka datang ke rumahmu untuk membicarakan pertunangan kita pada orang tuamu!” ajaknya sambil menarik tanganku agar mengikutinya.

Semoga kau menepati janjimu, oppa! Aku tidak yakin bisa bertahan jika kau mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya! Saranghaeyo Kim Kibum!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

27 thoughts on “Mianhae, Chagiya”

  1. Ha, akhirnya balikan juga.. Jadi senang deh. Itu apa’an sih si Nicole ganggu aja? Dasar Trouble maker! Hehe.
    FFnya bagus thor, seandainya ada sequelnya tambah seru, aku pengen tahu kelanjutan persetujuan ortunya Key terhadap acara pertunangannya ma Hyojin. Hehe..

  2. huwaaaaaaaa keren … iya bener coba si hyojin di bikin ma changmin .. jdi 2 part tak apalah .. tapi geregetan gitu ahahha .. jadi konfliknya banyak .. heheheheh
    terus buat nicole sidenya dong .. penasaran tau .. dari awal nicole kenal key sampe dy nemuin org lain yg dy cinta .. ^^
    pasti keren !!!

    huwaaa heheheh bgus thor .. mantabbb …

  3. iya thor, tanggung. penasaran ama nicole. changmin juga. pertunangan and…minho dikit banget thor?? waaa~ kalo bisa sequelnya thor

  4. keren deh ceritanya. kepengen juga jadi hyojin. sequel sequel!!! hhahaha…#napsu amat-__- # hahahaa… daebakkkkk…….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Leave a Reply to pymincha91 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s