Poster_Married By Accident

Married By Accident – Part 1

Title : Married By Accident

Author : Yuyu

Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Han Younji

Support Cast :

  • Choi Minho
  • Son Shinyoung
  • Kim Jonghyun
  • Kim Hyunji

Minor Cast :

  • Lee Taemin
  • Hwang Jungmi
  • Key

Length : Sequel

Genre : Romance, Sad, Friendship

Rating : PG – 15

Hatinya terluka, dan ia tak bisa melihat apapun ketika ia membuka matanya karena terlalu perih.

Hatinya tidak lagi merasakan apapun, dan ia justru meihat seseorang berdiri dihadapannya dengan warna-warna yang nyaris ia lupakan.

Saat ia mulai melupakan luka hatinya, orang itu justru menyentuh sayatan lukanya, membuat dia kembali teringat betapa perihnya luka itu selama ini.

 

MARRIED BY ACCIDENT

Onew kembali ke bar menggunakan taksi setelah mengantarkan Jonghyun pulang untuk mengambil mobilnya sendiri.

“Kau tau bagaimana perasaanku saat ini, jadi jangan memintaku untuk tenang. Aku tidak akan bisa tenang kalau orang yang kucintai bersama dengan orang lain.”

Onew meminggirkan mobilnya dengan cepat dan segera menghentikannya. Onew memukul stir mobilnya dengan kasar. Hebat. Hebat sekali. Jonghyun adalah temannya, satu-satunya orang yang ia percayai dan justru Jonghyun jugalah yang membuka luka lamanya. Onew menghela nafas dan menggelengkan kepalanya sendiri. Ia tak bisa menyalahkan Jonghyun, tidak disaat Jonghyun sedang down seperti ini.

Onew menoleh ke samping sekedar untuk melihat di mana dia sekarang. Dia melihat punggung seseorang yang ia kenal selama tiga detik sebelum menghilang dibalik tenda pojangmacha. Onew bersiap untuk menyalakan mesin mobilnya dan pergi—ke mana saja. Tapi tangannya terhenti, ia mematung selama sesaat. Onew kembali menoleh ke arah pojangmacha dan dengan ragu membuka seat-belt nya lalu melangkahkan kakinya ke arah tempat minum-minum di pinggir jalan itu.

Onew agak menundukkan kepalanya saat memasuki tenda. Matanya menyapu sekitar tempat itu dengan cermat untuk menemui sosok yang tadi ia lihat.

Younji meneguk gelas soju pertamanya dan langsung mengernyit. Dia tidak benar-benar suka minuman keras, hal ini membuatnya teringat pada sesosok makhluk mengerikan yang pasti sedang tertidur di rumahnya. Tapi untuk saat ini saja, dia ingin sekali meneguknya dan melupakan semua beban pikirannya. Younji mendongak saat kursi dihadapannya ditarik dan Onew duduk di sana. Younji mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” Tanya Younji bingung. Onew menatapnya dengan datar.

“Apa yang membuatmu berada di sini?” Onew balik bertanya.

“Untuk minum.” Jawab Younji bingung. Dia yang lebih dulu memberikan pertanyaan, kenapa namja itu justru balik bertanya?

“Kalau begitu aku juga sama.” Sahut Onew datar. Onew mengambil gelas yang dipegang Younji dan menuangkan soju ke dalamnya lalu meneguk habis dalam satu kali tegukan. Younji membuka mulutnya, ingin protes kenapa Onew seenaknya saja mengambil gelas yang seharusnya menjadi miliknya tapi mengurungkan niatnya dan justru memanggil seorang ahjumma untuk memberikan gelas baru padanya.

“Kau tau ke mana Hyunji pergi?” Onew bersuara setelah meneguk gelas ketiganya. Younji menggeleng pelan. Ia juga tidak tau ke mana Hyunji pergi kecuali Hyunji pergi ke suatu tempat. Dan kenyataan bahwa sekarang Hyunji tak lagi bersamanya benar-benar membuat Younji merasa rapuh. Ia tidak memiliki siapapun saat ini. Minho sudah tak ada lagi disisinya, Hyunji pun pergi begitu saja. Apalagi yang bisa ia lakukan? Tak ada lagi dorongan baginya untuk menutup matanya di malam hari dan kembali membukanya saat matahari mulai terbit.

“Kalau kau adalah Hyunji, kau akan pergi ke mana?” Tanya Onew lagi. Younji berpikir sesaat. Lalu menggeleng.

“Entahlah. Tidak  ada banyak tempat yang bisa dia kunjungi. Mungkin Jeju-do, tempat kakeknya? Tapi Hyunji bilang dia akan pergi dari Korea, mungkin Paris? Karena setauku, Seojung eonni sedang berada di sana sekarang.” Papar Younji panjang lebar.

Onew mengangguk pelan sebagai tanggapan. Mereka meneguk minuman mereka dalam diam. Sepertinya, selain Hyunji tidak ada lagi yang bisa mereka bicarakan.

“Kau memilih untuk bersikap realistis.” Ujar Onew begitu saja. Younji mengangkat kepalanya dan mengerjap beberapa kali. Apa yang sedang dibicarakan Onew?

“Kau pernah bertanya tentang bersikap realistis atau egois kan?” Jelas Onew seolah mengerti kebingungan Younji. Younji membuka mulutnya dan membentuk huruf O.

“Benar katamu waktu itu, rasanya menyakitkan.” Younji tertawa pahit dan kembali meneguk sojunya.

“Kau sudah minum terlalu banyak, aku akan mengantarmu pulang.” Ajak Onew tapi Younji menolak dan sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya. Younji meminta pada ahjumma tadi untuk menambahkan botol soju di mejanya. Onew menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Younji. Onew berdiri sesaat, lalu memutuskan dia akan menemani Younji minum beberapa gelas lagi. Toh dia juga butuh sesuatu untuk melupakan sakit hatinya.

***

Onew menggeliat pelan dalam tidurnya. Tubuhnya terasa pegal tapi untuk suatu alasan yang tidak ia ketahui, ia juga merasa hangat. Onew membuka matanya dengan malas. Ruangan kamarnya yang didominasi warna putih serta diselingi beberapa perabotan berwarna hitam lagi-lagi menyambutnya saat ia bangun. Onew memutar tubuhnya ke samping dan kedua matanya langsung membulat seketika itu juga. Dengan tidak percaya, ditatapnya apa yang ada disampingnya dengan cermat. Ada seorang wanita bak malaikat tengah menutup matanya dengan tenang. Ini bukan hal baru bagi Onew. Dia sering terbangun di pagi hari dan melihat wanita yang tidak ia kenal berbaring disampingnya, menempelkan tubuh polos mereka hingga tak ada jarak yang tersisa. Tapi kali ini berbeda. Onew tidak sedang berada di kamar hotel ketika dia terbangun dengan sosok seorang perempuan disampingnya. Dan yang lebih penting lagi, wanita yang ada disampingnya bukan wanita asing, tapi Han Younji.

Dalam keadaan waras, ia pasti tidak akan berani menyentuh Younji, karena ia adalah sahabat Hyunji—dan Onew tau apa yang akan terjadi pada orang-orang yang menyakiti sahabatnya itu, tapi kenyataannya saat ini Younji sungguh-sungguh berbaring ditempat tidurnya, terlihat pulas. Onew membuka sedikit selimut yang menutupi tubuhnya dengan perlahan, berharap tidak ada hal yang lebih buruk lagi. Kemeja kotak-kotak hijau yang dikenakannya kemarin kini sudah tak terkancing lagi, tali pinggangnya sudah terlepas dan kancing celana denimnya sudah tak terpasang lagi.

Onew memberanikan diri melirik ke arah Younji lagi, menyadari bahwa wanita itu hanya mengenakan tank top hitamnya dengan rambut yang agak acak-acakan. Onew meremas rambutnya dengan frustasi, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam. Tapi tidak ada yang mampu ia ingat kecuali ia menemani Jonghyun minum di bar langganan mereka, mendengarkan keluhan Jonghyun tentang kepergian Hyunji yang tidak bisa dicegah oleh siapapun.

Lalu ia mengantar Jonghyun pulang–karena ia tidak minum sedikitpun. Ia ingat ia bertemu dengan Younji di perjalanan pulang dan memutuskan untuk berbincang dengan yeoja itu untuk mengetahui sesuatu mengenai Hyunji dan entah bagaimana mereka berakhir dengan keadaan mabuk, ia bahkan tidak yakin bagaimana mereka berdua bisa sampai di kamarnya–di tempat tidurnya. Dan yang terpenting, apa yang sebenarnya mereka berdua lakukan semalam?

Onew melirik ke arah Younji sekali lagi dan mengerang tertahan. Apalagi yang bisa terjadi semalam? Mereka berdua mabuk berat dan lihatlah keadaan mereka sekarang. Bukankah itu sudah cukup jelas bagi Onew?

Sementara Onew masih sibuk berpikir, Younji mulai mendapatkan kembali kesadarannya, perlahan-lahan membuka matanya dan menatap Onew yang menatapnya dengan ekspresi yang tak mampu ia ungkapkan.

Ekspresi Younji tidak berbeda jauh dengan Onew. Kedua matanya terbelalak lebar, nyaris membuat bola matanya terjatuh—kalau saja memang bisa. Younji menarik selimut setinggi yang ia bisa untuk menutupi tubuhnya yang hanya terbalut tank top tipis.

Onew membuka mulutnya, berniat mengatakan sesuatu meski ia sendiri tidak benar-benar yakin dengan apa yang harus ia katakan.

Pintu kamar Onew terbuka, Nyonya Lee muncul diambang pintu, melihat putranya setengah telanjang bersama seorang wanita dipagi buta.

“OMO!” Pekik Nyonya Lee, membuat dua orang yang masih kebingungan diatas tempat tidur untuk menoleh dan menyadari kehadirannya. Wanita yang berumuran tiga puluhan (Onewnya lulus SMA kan ya??? Biasanya wanita Korea menikah sekitar umur 25-28 dan mendapat anak pertama saat usia 27-30 tahun, jadi kalau Onew disini sekitar 19-20 tahun, umur Nyonya Lee harusnya sekitar 46-50 tahun. Lain cerita kalo Onew anak adopsi atau anak tiri.) itu memandang mereka berdua bergantian lalu menaikkan alisnya saat menatap Onew.

Onew mendesah pelan, mencium bau masalah yang akan segera menyeruak keluar. Ini memang bukan kali pertama Onew bercinta—kalaupun memang itu yang terjadi pada mereka—tapi ini kali pertama Ibunya merangsek masuk ke dalam apartemen pribadi miliknya—karena memang dia tidak pernah melakukannya di apartemennya sendiri.

“Eunri-ssi kita bicarakan nanti, tunggulah aku di luar.” Onew mendorong Nyonya Lee keluar dari kamarnya dengan cepat sebelum Nyonya Lee sempat berkomentar apa-apa. Onew menutup pintu agak keras, lalu berbalik menyandar di pintu dan menatap Younji yang berusaha menyembunyikan kepanikannya. Onew sedikit bersyukur karena Younji tidak berteriak histeris, setidaknya itu cukup membantu bagi Onew.

“Pakailah bajumu, kuantar kau pulang.” Onew mengambil baju Younji yang berserakan dilantai dan dengan cepat Younji menyambarnya lalu berlari ke kamar mandi.

***

“Jadi, siapa wanita itu? Kekasihmu?” Nyonya Lee memulai interogasinya setelah Onew kembali sehabis mengantar Younji pulang. Tidak ada yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan. Onew tau mereka harus membicarakan masalah ini, tapi dia tidak tau bagaimana memulainya, juga tidak tau bagaimana untuk menyelesaikannya.

“Sudah berapa lama kalian saling mengenal?” Tanya Nyonya Lee lagi, tidak memedulikan bahwa puteranya masih belum memberikan jawaban

“Eunri-ssi, dia bukan kekasihku dan kami baru mengenal sekitar satu atau dua bulan yang lalu. Jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak.” Jelas Onew akhirnya.
”MWO!?” Teriak Nyonya Lee dengan kencang hingga membuat Onew harus sedikit memundurkan tubuhnya. “Dia bukan kekasihmu dan kau menidurinya? Sejak kapan aku membesarkan laki-laki brengsek sebagai anakku?” Omel Nyonya Lee.

“Eomma, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Tidak ada yang terjadi semalam, semuanya cuma kesalahpahaman saja.” Balas Onew lembut sambil tersenyum, berharap dia bisa membuat kemarahan Nyonya Lee mereda. Nyonya Lee berdecak pelan saat Onew memanggilnya dengan sebutan ‘eomma’ yang nyaris selalu diucapkan oleh Onew setiap kali ia menginginkan sesuatu darinya atau saat Onew sedang berbicara serius dengannya.

“Jangan coba-coba untuk merayuku Lee Jinki, kau tau kau tidak akan berhasil.” Dengus Nyonya Lee. Onew berdecak pelan. Senyum manisnya langsung menghilang setelah mendengar kata-kata Nyonya Lee.

“Jadi, kapan kau akan memperkenalkannya padaku?” Tanya Nyonya Lee bersemangat. Nyonya Lee beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Onew. Nyonya Lee menguncang lengan Onew dengan pelan, membuat perhatian Onew terarah padanya.

“Kapan, huh? Setelah kau memperkenalkannya padaku, aku bisa mencari tanggal yang baik bagi kalian untuk menikah.” Lanjut Nyonya Lee yang melompat-lompat kecil disofa. Onew ingin sekali terkekeh melihat tingkah laku Nyonya Lee yang terlihat seperti anak kecil, tapi jelas ini bukan saat yang tepat. Apakah tadi Nyonya Lee baru saja mengatakan ‘menikah’?

“Apa maksud mu dengan ‘menikah’? Aku baru saja masuk kuliah.” Elak Onew.

“Tapi kau sudah cukup umur, kau sudah bisa menikah dan memiliki keluarga sendiri.”

“Tetap saja itu mustahil. Kami tidak sedekat itu hingga kami harus menikah.” Elak Onew lagi. Nyonya Lee memberengutkan wajahnya sebelum menenggelamkan wajahnya dibalik telapak tangannya.
”Sejak kapan anakku jadi seperti ini?” Nyonya Lee—berpura-pura—terisak. Nyonya Lee mengangkat kepalanya dengan cepat dan menatap Onew dengan tajam. “Kau meniduri seorang perempuan dan tidak mau bertanggungjawab, huh? Apa kau mau menjadi seperti Appa-mu? Setelah membuat wanita itu hamil, lalu kau menghilang begitu saja?” Omel Nyonya Lee panjang lebar sambil memukulkan bantalan sofa ke wajah Onew.

“Eunri-ssi, hentikan! Aphayo!” Teriak Onew yang berusaha menyelamatkan wajahnya, “Arayo, arayo! Aku akan membawanya kehadapanmu!” Onew mengalah. Hanya itu jawaban yang diinginkan Nyonya Lee saat ini. Dan benar saja, begitu Onew mengatakan hal itu, Nyonya Lee berhenti memukulinya dan tersenyum kekanak-kanakan.
”Jeongmal? Eonje?” Tanya Nyonya Lee bersemangat.

“Najung-e. OW!” Onew mengelus kepalanya yang baru saja mendapatkan pukulan dari Nyonya Lee. “Waeyo?”

“Aku tidak mau mendengar jawaban seperti itu. Kapan pastinya?” Desak Nyonya Lee. Ia mengerti benar sifat Onew. Ketika Onew mengatakan ‘nanti’, itu berarti Onew tidak bersungguh-sungguh.
”Aku tidak bisa memberi kepastian, aku juga harus bertanya dulu padanya, kan?”

“Tapi harus dalam minggu ini, kalau tidak kau akan tau akibatnya, Lee Jinki.” Nyonya Lee memicingkan matanya. Onew terkekeh pelan dan merebahkan tubuhnya. Kepalanya bertumpu dipangkuan Nyonya Lee, terasa sangat hangat.

“Aku senang hari ini.” Ujar Nyonya Lee. Onew menaikkan sebelah alisnya. Nyonya Lee senang karena memergoki anaknya meniduri seorang wanita?

“Ya, aku senang karena memergokimu hari ini.” Jawab Nyonya Lee seolah bisa membaca pertanyaan Onew, “Karena itu membuktikan kalau kau bukan gay.” Ujar Nyonya Lee senang. Onew hanya terkekeh pelan. Nyonya Lee tidak pernah bisa berhenti berpikir seperti itu karena Onew tidak pernah membawa teman wanita pulang ke rumah, yang selalu dia bawa hanyalah Jonghyun, dan itu benar-benar membuat Nyonya Lee khawatir setengah mati.

“Eunri-ssi, kau tidak bekerja hari ini?” Onew mendongak untuk melihat wajah Nyonya Lee.

“Sebentar lagi. Bukankah hari ini kau masuk kuliah? Aku ingin mengantarmu.” Nyonya Lee membelai rambut Onew dengan pelan, memperhatikan lekuk-lekuk wajah Onew yang lebih banyak menyerupainya—dan ia bersyukur untuk hal itu. “Banyak hal yang tidak bisa aku lakukan ketika kau masih kecil, tapi sekarang aku ingin melakukan apapun yang aku bisa untuk melihat putra tampanku ini bahagia.”
”Aku bahagia ketika eomma berada didekatku seperti ini, dan ketika aku tau bahwa eomma memikirkanku—setiap hari.”

Nyonya Lee tersenyum lebar dan mengangguk dengan cepat. Onew merasa heran, laki-laki mana yang begitu bodoh hingga meninggalkan wanita berhati hangat dengan paras cantik ini?

***

Onew mengecek jadwalnya sekali lagi untuk memastikan tidak ada kelas yang tersisa. Pertemuan pertama terasa agak membosankan apalagi seharian ini dia tidak mendapatkan kelas yang sama dengan Jonghyun. Bagaimana keadaan sahabatnya sekarang?

“Jonghyun!” Panggil Onew begitu dia melihat sosok Jonghyun yang berbaur dengan kerumuman mahasiswa lainnya. Jonghyun menatap Onew dan tersenyum kecil.
”Bagaimana keadaanmu?” Tanya Onew hati-hati.

“Sangat baik.” Jonghyun tersenyum tipis dan segera melanjutkan, “Maaf tentang semalam.”

Bukan sakit hatinya yang ia ingat saat Jonghyun mengucapkan kata ‘semalam’, melainkan bayangan wajah Younji yang ia lihat pagi tadi. Onew menggelengkan kepalanya, untuk menyingkirkan bayangan itu sekaligus jawaban untuk Jonghyun.

“Jangan dipikirkan. Yang terpenting sekarang, aku tidak mau melihatmu seperti semalam lagi.” Ucap Onew dengan tegas.

“Araseo. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku sudah memutuskan untuk membantu di perusahaan Appa sambil menunggu dia kembali.”
”Yah, memang. Butuh sesuatu untuk menyibukkan pikiran kita dari hal yang tidak ingin kita ingat. Untunglah kau bisa menemukan kegiatan yang positif.” Kekeh Onew.

“Mau keluar dan makan sesuatu sebelum aku ke kantor?” Ajak Jonghyun. Hampir saja Onew mengiyakan ajakan Jonghyun tapi buru-buru menolaknya setelah ia teringat dengan janjinya pada Nyonya Lee.

Onew dan Jonghyun mengobrol sebentar. Onew memastikan bahwa Jonghyun baik-baik saja sebelum dia mengendarai mobilnya ke sebuah rumah kecil yang ia datangi kemarin.

Onew keluar dari mobilnya, memandang rumah itu dengan ragu. Apa yang harus dia katakan pada Younji? Bahwa Nyonya Lee ingin Onew menikahinya? Itu jelas tidak mungkin. Orang macam apa yang akan menerima orang asing menjadi suaminya begitu saja? Setidaknya, untuk saat ini, Onew harus berhasil meyakinkan Younji untuk menemui Nyonya Lee terlebih dahulu. Mungkin Onew bisa memikirkan sesuatu untuk menghentikan pikiran liar Nyonya Lee nantinya.

Onew memantapkan langkahnya mendekati rumah Younji. Onew menarik nafas dalam-dalam dan sebelum dia sempat mengetuk pintu, terdengar suara teriakan dari dalam rumah. Onew melangkah ke samping dengan cepat, mengintip dari balik jendela yang tidak tertutup.

“Dasar tidak tau diri!!” *hik* Kau *hik* sama saja seperti wanita itu! Kalian selalu *hik* membuatku muak!” Seorang pria paruh baya dengan penampilannya yang urak-urakkan mengacungkan tangannya tinggi-tinggi ke udara. Onew tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang menjadi lawan bicara pria tua itu karena terhalangi tubuhnya yang besar. Mungkinkah itu Younji?

Onew berdiri di samping pintu dengan kedua tangannya terlipat rapi sambil menunggu Younji keluar. Onew menoleh dengan cepat saat pintu dibuka.

Younji balas menatap Onew. Keterkejutannya terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. Untuk apa Onew datang ke rumahnya?

“Maaf karena mengganggu. Aku hanya—“ Onew menghentikan kata-katanya saat ia menyadari warna kemerahan di pipi kiri Younji yang agak membengkak. Younji memalingkan wajahnya setelah sadar apa yang membuat Onew tidak melanjutkan kata-katanya.

“Kau kenapa?” Tanya Onew masih mencoba untuk melihat pipi Younji dengan lebih jelas. Onew memalingkan wajahnya saat sebuah kemungkinan menghampirinya. Dari jendela yang tadi memperlihatkannya pada seorang pria tua, kali ini Onew melihat pria itu terbaring diatas lantai di tempatnya berdiri tadi. Meski tidak terlalu jelas, Onew bisa menduga bahwa pria itu tengah mabuk.

***

“Jonghyun belum pulang?” Tanya Onew pada Taemin yang berbaik hati membiarkan Onew menunggu Jonghyun di kamarnya.

Taemin menggelengkan kepalanya dengan pelan, masih terlalu fokus pada video gamenya. Onew mengecek jamnya sekali lagi. Sudah lewat jam pulang, seharusnya Jonghyun sudah pulang dari kantor Tuan Kim. Ke mana anak itu? Mungkinkah Jonghyun pergi ke bar? Onew mencoba menepis rasa khawatirnya yang ia rasa mulai berlebihan. Bukankah Jonghyun sudah terlihat baik-baik saja tadi?

“Taemin-ah.” Panggil Onew.

“Ne?” Jawab Taemin cuek.

“Apa kau kenal baik dengan Younji?”

Taemin menghentikan permainannya, merasa tertarik karena tiba-tiba saja Onew mengungkit tentang Younji. Sejak kapan Onew dan Younji menjadi dekat?

“Tentu saja. Selain Hyunji noona, dialah orang yang sangat dekat denganku. Memangnya kenapa Hyung?”

“Aku melihat wajahnya agak lebam, kau tau kenapa?” Tanya Onew hati-hati. Raut wajah Taemin berubah dengan cepat. Taemin berdecak kesal.

“Tentu saja karena Han Ahjussi. Dia selalu saja mabuk-mabukkan dan memaki noona, bahkan hampir selalu memukulnya. Dia itu bukan manusia.” Omel Taemin geram.

Seorang wanita yang harus menghidupi dirinya sendiri dan bertahan hidup dari sosok Ayah yang selalu menyakitinya, apalagi yang dialami Younji selain itu? Kalau saja dia dan Minho jadi menikah, mungkin sekarang Younji sudah terbebas dari kungkungan monster itu.

Itu dia! Kalau saja Younji dan Minho jadi menikah… Kenapa Onew baru mengingat kejadian semalam?

***

“Hei, di mana rumahmu?” Tanya Onew pada Younji yang duduk disampingnya.

“Yaaa, Younji-ssi.” Panggil Onew sekali lagi, tapi Younji masih saja bergeming. Onew berdecak pelan sebelum melajukan mobilnya kembali ke apartemen. Onew tidak yakin bagaimana dia bisa mengendarai dengan ‘aman’ padahal kesadarannya juga sudah mulai menghilang karena soju yang ia minum, tapi dia berhasil sampai ke apartemennya dalam keadaan utuh.

Onew menggendong Younji dengan hati-hati, takut kalau Younji akan langsung terjatuh jika dia menyandung sesuatu. Onew memasukkan kode dan mendorong pintu agar terbuka lalu menutupnya kembali menggunakan kakinya. Onew meletakkan Younji diatas tempat tidur, lalu merebahkan tubuhnya sendiri disamping Younji untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Onew memutar tubuhnya, menatap seorang wanita cantik yang terlihat rapuh. Onew menyapukan punggung tangannya di pipi Younji, mengelusnya dengan lembut. Younji membuka matanya yang berat dan balas menatap Onew.

“Kalau kau dan Minho sudah menikah sekarang, maka aku tidak akan bisa melihatmu dari jarak seperti ini.” Gumam Onew.  Younji tidak menjawab, hanya terpana pada aura memesona yang selalu dipancarkan Onew. Terlalu mabuk untuk menyadari apa yang diperbuatnya, Onew hanya membiarkan dirinya bergerak sesuai dengan kerja otaknya. Onew mendekati Younji, menempelkan bibir mereka dengan lembut, tapi lama kelamaan semakin mendalam. Younji tidak memprotes, justru memejamkan matanya dan menikmati sentuhan lidah Onew. Onew bergerak perlahan, mengubah posisi hingga ia berada diatas Younji dan bisa bergerak dengan lebih leluasa. Tangan Onew yang besar merengkuh pipi Younji, memberikan kehangatannya pada Younji.

Onew menghentikan ciumannya, menempelkan kening mereka dan sama-sama menghirup oksigen sebanyak mungkin.

“Kau berkeringat.” Onew menyeka beberapa tetes keringat di leher Younji, “Apa kau merasa panas?”

Younji mengangguk pelan. Onew menyelipkan tangannya dibalik kaos yang dikenakan Younji dan dengan lihai melepaskannya dari tubuh Younji.

“Lebih baik?” Tanya Onew yang ditanggapi dengan anggukan lagi.

Onew kembali berbaring disamping Younji, menyejajarkan wajah mereka agar dia bisa memandang mata indah Younji. Onew tersenyum manis dan merapikan rambut Younji yang sekarang menjadi lembab karena bercampur keringat.

“Mungkin ada orang yang akan menjagamu lebih baik dari Minho, makanya Tuhan menghalangi kalian bersama.” Gumam Onew sebelum mereka menutup mata dan terlelap. Onew mengerang pelan dalam tidurnya. Kemeja dan celana denim sama sekali bukan pakaian yang nyaman untuk digunakan saat tidur. Ia merasa agak kesulitan bergerak karena celananya yang terikat kencang disekitar pinggangnya. Tanpa benar-benar menyadarinya, Onew membuka ikatan tali pinggangnya. Karena masih merasa sulit bergerak, Onew membuka kancing celananya dan kali ini barulah dia merasa agak lebih nyaman.

***

Onew duduk sendirian di bar langganannya. Beberapa yeoja mencoba untuk menarik perhatiannya, tapi ia terlalu fokus dalam pikirannya sendiri dan tidak memedulikan mereka. Hampir saja Onew menelpon Nyonya Lee untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi setelah dia akhirnya bisa mengingat semuanya. Tapi ia mengurungkan niatnya. Ada banyak hal yang harus dia pikirkan sebelum mengambil keputusan, dan itu tidaklah mudah.

Sudah beberapa hari berlangsung sejak kejadian itu, dan tentu saja Nyonya Lee masih terus mendesak Onew untuk membawa Younji kepadanya karena tenggat waktu yang diberikan Nyonya Lee tinggal dua hari lagi.

Onew meneguk minumannya sedikit demi sedikit. Apa yang sebaiknya dia lakukan? Jika dia meminta Younji untuk menikah dengannya—sesuai dengan keinginan Nyonya Lee, gilakah itu?

Awalnya Onew juga merasa itu adalah hal yang sangat gila, yang tidak mungkin dia lakukan jika dia masih waras. Tapi setelah memikirkannya berkali-kali, kenapa Onew justru semakin tertarik?

Sebuah sentuhan hangat dipundak Onew membuyarkan semua pikirannya. Onew sedikit menoleh ke belakang, melihat Younji berdiri di belakangnya.

“Duduklah.” Pinta Onew masih kembali menatap lurus dan meneguk minumannya dalam satu tegukan. Tidak mudah bagi Onew untuk mengambil keputusan dan memanggil Younji datang.

“Waeyo?” Younji duduk di samping Onew, sedikit bertanya-tanya apa yang ingin dikatakan namja itu. Sudah beberapa hari berlalu sejak pagi memalukan di apartemen Onew dan sekarang mereka kembali bertemu. Younji tidak benar-benar mengingat semua kejadian malam itu, tapi samar-samar ia yakin mereka tidak melakukan hal yang melebihi batas.

Onew meneguk minumannya lagi, sebelum akhirnya ia membuka mulut,  ”Ayo menikah.”

Younji mencerna kata-kata Onew beberapa menit lebih lambat. Benarkah Onew baru saja mengatakan ‘ayo menikah’? Kenapa Onew terlihat gampang sekali saat mengucapkannya?

“Ne??” Tanya Younji tidak mempercayai apa yang ia dengar.

Onew menarik nafas dalam-dalam sebelum ia kembali membuka mulutnya, “Menikahlah denganku. Meski apa yang kita lakukan waktu itu masih termasuk hal yang wajar, tapi aku tidak bisa membiarkannya berlalu begitu saja. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab. Jadi, menikahlah denganku.” Onew menatap Younji dengan serius, menegaskan kata-katanya sendiri.

“Kau bercanda, Onew-ssi.” Tukas Younji. Onew menarik nafas dalam-dalam. Seperti inilah reaksi yang pasti dia terima. Siapapun pasti akan mengatakan hal yang sama kan kalau orang asing yang kalian kenal tidak lebih dekat dari seorang teman mengajak menikah.

“Aku serius. Aku tidak merasa ini merugikan kau ataupun aku.”
Younji mengangkat alisnya, semakin tidak mengerti dengan Onew.
”Dengar, aku sudah tau kondisi di rumahmu. Jika kita menikah, kau bisa keluar dari rumah itu, kau bisa terbebas dari pecandu alkohol itu. Masalah biaya hidup, tentu kau tidak perlu memikirkannya lagi karena akulah yang berperan sebagai suami. Kau tidak dirugikan, bukan?”

“Lalu, apa untungnya pernikahan ini untukmu?” Tanya Younji ngotot.

“Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan jatuh cinta dan menikah serta memiliki keluarga harmonis seperti yang diidam-idamkan oleh eommaku. Pernikahan bukanlah prioritasku, dan tidak pernah menjadi prioritasku. Tapi aku tau, eommaku tidak akan berhenti mendesakku untuk menikah. Dan kurasa, daripada menikah dengan orang yang dipilihkan oleh eomma, akan lebih baik jika aku menikah dengan orang yang kukenal.” Jelas Onew untuk meyakinkan Younji.

“Maksudmu, seperti pernikahan kontrak?” Younji berusaha untuk mendapatkan semua detail yang ia inginkan.

“Tidak, bukan pernikahan kontrak. Kita akan menikah secara hukum dan agama, tanpa kontrak. Apa kau tau bahwa ada orang yang menikah tanpa rasa cinta? Mereka menikah layaknya kekasih dan hidup layaknya sahabat. Dan kuharap kita juga bisa melakukan hal seperti itu.”

Younji hanya menatap Onew tanpa ekspresi lalu tersenyum tipis dan menggeleng pelan.

“Ini konyol, Onew-ssi. Tidak ada alasan bagiku untuk menerima tawaran pernikahan darimu. Apapun masalah yang kau hadapi sama sekali tidak ada hubungannya denganku, dan kurasa kita sudah sepakat untuk melupakan kejadian malam itu, bukan? Jadi kuharap lain kali kau tidak akan memintaku untuk menemuimu dan membahas masalah ini lagi.” Younji beranjak pergi dari bar yang hingar bingar. Onew menatap Younji dengan lekat, berharap yeoja itu akan memutar tubuhnya dan melangkah kembali pada dirinya. Onew meneguk minumannya dengan kasar setelah Younji menghilang dari jarak pandangnya. Onew berdiri dan melangkah gontai ke lantai dansa. Ia menggerakkan tubuhnya dengan acuh sembari mengikuti irama musik yang memenuhi bar tersebut. Beberapa orang yeoja yang berdiri tak jauh darinya berbisik-bisik pelan sambil melirik penuh arti. Onew hanya menyeringai tipis yang lebih terlihat seperti ajakan bagi para yeoja itu untuk bergabung dengannya. Dengan cepat, para yeoja itu menghampiri Onew, menari bersamanya sambil menempelkan tubuh mereka yang nyaris terlihat menyatu.

***

Younji duduk diatas lantai yang dingin di sudur ruang kamarnya. Kedua lututnya tertekuk, sementara tangannya memeluk erat tubuhnya sendiri. Terdengar suara pecahan dari luar kamarnya serta gumaman yang tidak begitu jelas.

Tubuhnya bergetar pelan tanpa ia kehendaki. Ini mungkin selalu terjadi hampir setiap hari, tapi tetap saja ia merasa ketakutan setiap kali Tuan Han mengamuk saat ia sedang mabuk. Samar-samar, dari balik pintu kamarnya, Younji bisa mendengar suara langkah kaki Tuan Han yang semakin mendekat ke kamarnya. Younji berdiri dengan cepat tanpa memedulikan kakinya yang terasa lemas dan hampir tak mampu menopang berat tubuhnya. Younji memastikan pintu kamarnya terkunci dengan erat lalu bersandar dibaliknya sambil menunggu kata-kata yang akan dilontarkan oleh Tuan Han.

“ANAK BRENGS*K! BUKA PINTUNYA SEKARANG JUGA!!” Teriak Tuan Han dengan kencang, tak merasa takut meski para tetangga bisa mendengar suaranya dari luar. Pintu digedor dengan kuat, membuat tubuh Younji ikut bergoyang akibat dari getaran tersebut.

“KAU! KAU SAMA SAJA SEPERTI WANITA ITU!! DASAR J*LANG!” Teriak Tuan sekali lagi. Kali ini kata-kata Tuan Han meningkatkan amarah Younji. Tuan Han bebas mengatakan apapun pada Younji, karena ia tidak pernah benar-benar menanggapi semua kata-kata yang keluar dari mulut kotornya itu. Tapi satu hal yang tidak bisa ia terima, yaitu ketika Tuan Han mulai memaki Nyonya Han, mendiang Ibunya.

“Berhenti menjelek-jelekkan eomma! Kau bahkan tidak berhak untuk sekedar menyebut namanya!!” Balas Younji dengan emosi yang membuncah. Lagi, Tuan Han menggedor pintu kamar dengan keras. Kata-kata cacian yang lebih pedas justru dilontarkan oleh Tuan Han, sengaja untuk membuat Younji semakin kesal.

Younji tidak pernah bisa mengerti. Apa yang telah ia perbuat di masa lalu hingga ia harus mendapat makhluk pemabuk dibalik pintu itu sebagai sosok ‘Ayah’ yang sama sekali tidak pernah menjalankan kewajibannya dengan benar.

Bukannya Younji tidak ada keinginan untuk keluar dari rumah ini. Ia sudah menabung cukup lama, mengumpulkan uang secukupnya bagi ia untuk menyewa rumah di luar dan hidup mandiri. Sayangnya, semua uang tabungannya harus ia gunakan sebagai jaminan untuk Tuan Han yang waktu itu ditahan karena merusak fasilitas umum. Dan sejak itu, Younji semakin membenci dirinya sendiri. Mengapa ia masih harus menolong Tuan Han dan mengorbankan kebebasannya?

Kalau saja ia tidak membatalkan pernikahannya dan Minho dua minggu lalu, sekarang pun ia pasti sudah keluar dari rumah. Tapi lagi-lagi, Younji justru mengorbankan dirinya sendiri dan memutuskan bahwa pernikahan mereka tidak akan berhasil. Tidak setelah ia tau apa yang sebenarnya dirasakan oleh Minho.

Hatinya kembali terasa perih, tapi tak ada lagi airmata yang tumpah. Mungkinkah karena ia sendiri sudah terlalu lelah untuk meneteskannya?

***

Onew mengusap wajahnya dengan pelan sambil memasukkan kode apartemennya. Kepalanya masih terasa berat karena kebanyakan minum dan ‘kegiatan’ nya semalam sama sekali tidak membantu untuk meringakan sakit di kepalanya.

Onew menghela nafas berat lalu menutup pintu apartemennya.

“Dari mana saja kau?” Tanya sebuah suara. Onew terlonjak kaget dan menghembuskan nafas lega saat dilihatnya Nyonya Lee berdiri dihadapannya dengan berkacak pinggang.

“Eunri-ssi, kau mengejutkanku.”

“Kau tidak pulang semalaman. Apa saja yang kau lakukan?” Nyonya Lee memelototi Onew yang sama sekali tidak gentar. Onew hanya tersenyum pada Nyonya Lee lalu memeluknya dengan erat.

“Apa yang membawa nyonya cantik ini datang ke sini, huh?” Onew menghindari pertanyaan Nyonya Lee, karena ia tau Nyonya Lee tidak akan senang jika mendengar jawaban dari Onew.

Tatapan tajam Nyonya Lee berubah. Matanya langsung berbinar-binar setelah Onew menanyakan tujuannya datang kemari, “Sudah hampir seminggu. Jadi kapan kau akan membawa yeoja itu menemuiku?”

Onew melepaskan Nyonya Lee dari pelukannya segera setelah mendengar pertanyaan Nyonya Lee. Ia menggaruk kepalanya dengan canggung. Apa yang harus ia katakan agar Nyonya Lee melepaskannya dan tak lagi memaksa untuk menemui Younji?
”Hmm, begini Eunri-ssi. Kurasa.. hmm.. Younji.. Dia..” Onew merutuk pelan. Ia kehabisan kata-kata.

“Kenapa dengan dia?” Desak Nyonya Lee yang semakin tidak sabar mendengarkan jawaban Onew yang terputus-putus.

“Dia—“ Kata-kata Onew kembali terputus. Dering hp nya yang terdengar nyaris seolah menjadi juru selamat. Setidaknya, ia bisa menunda beberapa menit sebelum memberikan jawaban dan mendapatkan omelan bahkan rengekan dari Nyonya Lee.

Onew mengeluarkan hp nya dari dalam saku, mengabaikan tatapan tidak sabar dari Nyonya Lee. Onew mengernyit saat melihat nomor tidak dikenal di layar hp nya. Ia menimbang-nimbang untuk mengangkatnya atau tidak. Tapi toh, berbicara dengan orang asing lebih baik daripada terus didesak oleh Nyonya Lee.

“Yeoboseyo.” Sapa Onew. Tidak terdengar suara apapun dari seberang telpon, “Yeoboseyo?” Ulang Onew yang mulai tidak sabar. Semoga saja ini bukan ulah iseng orang yang tidak ada kerjaan, karena melihat keadaannya saat ini, ia sedang tidak ingin bercanda. Onew mendengus kesal dan hampir saja menjauhkan hp dari telinganya untuk menghentikan panggilan telpon itu saat orang diseberang telpon mulai bersuara.

“Onew-ssi?” Panggil orang itu akhirnya.

Onew kembali mengernyitkan keningnya. Ia mencoba mengingat di mana ia pernah mendengar suara itu sebelumnya?

“Han Younji?” Terka Onew. Senyum di wajah Nyonya Lee mengembang sedetik setelah ia mendengar nama Younji di sebut. Nyonya Lee menggoyang-goyang kan lengan Onew dengan bersemangat, membuat Onew jadi tidak bisa fokus untuk mendengarkan apa yang sedang dikatakan oleh Younji. Onew menempelkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan Nyonya Lee untuk sedikit lebih tenang, tapi sama sekali tidak berhasil. Onew melangkah dengan cepat dan mengunci pintu kamarnya sebelum Nyonya ikut masuk dengannya.

“Maaf, bisa ulangi apa yang kau katakan tadi?” Pinta Onew pada Younji. Onew bisa mendengar suara tarikan nafas Younji yang tersalurkan dengan jelas.

“Baiklah. Ayo kita menikah.” Ucap Younji dengan mantap.

TO BE CONTINUE . . .

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


179 thoughts on “Married By Accident – Part 1

  1. Hallo author i’m a new reader. Salam kenal. Aku udah baca ff eonni yang berjudul incomplete marriage sekitar beberapa bulan yang lalu maaf author aku ngak sempet kasih tanggapan di setiap part im. Waktu baca teaser mba aku belum mengerti kenapa harus baca im dulu baru mba. Eh pas baca part ini waktu youji keingat perasaan minho padanya barulah aku ngerti younji itu sahabatnya hyunji. itu sebabx hyunji berpenampilan seperti laki2 untuk menjaga adik serta sahabatx.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s