Sadness Is a Blessing

Sadness Is a Blessing

Author : Zika

Main Cast :

–          Kim Hyeo So

–          Kim Kibum a.k.a Key

Supporting Cast :

  • Choi Minho

Genre : Family, Teen Life, Psychology,  Romance

Rating : PG+ 13

Foreword : Sebuah cerita fiksi yang berdasar dari kisah nyata.

A/N : Thanks buat Nataem, yaaa ^^. Rupanya aku sangat gak berbakat bikin oneshot *brb cry a river*, aku masih terus menerus belajar bikin oneshot sampai akhirnya batas hiatus ku hampir habis ;_; . Dengan sangat terpaksa aku menyerahkan cerita mengecewakan ini pada kalian, maaf atas kegagalan ceritanya. Aku masih belajar nulis oneshot sampai sekarang, semoga aja oneshot berikutnya bisa lebih baik dan bermutu. Thanks ._.v

Recommended Backsound :

–          Adele – Rolling In A Deep

–          Lykke Li – Sadness Is A Blessing

–          Onew covering – Incurable Disease

–          Owl City – Vanilla Twilight

♛♛♛

Hyeo So menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan semua energinya untuk melirik ke meja belajarnya. Beraharap seluruh tugas sudah diselesaikan dengan baik. “Damn.” Umpatnya saat sadar masih tersisa satu tugas lagi. Ia berjalan tersaruk menuju dapur untuk membuat coffee, teman yang selalu menemaninya saat harus terjaga demi tugas.

“Hyeo So?” seseorang menyalakan lampu ruang kerja. “Oh, mom. Kenapa bangun? Apa aku mengganggu?” tanya Hyeo So tanpa mengalihkan pandangan dari layar computer. “Pulang jam berapa kamu?” tanya Ny.Kim sambil berjalan mendekat. “Satu jam yang lalu mom, tidurlah. Maaf kalau mengganggu, sebentar lagi aku selesai.”

“Sampai kapan sekolahmu akan membuatmu selalu pulang larut malam seperti ini? Aku tidak habis pikir dengan mereka.” Hyeo So menatap wajah penuh kasih sayang itu dengan rasa bersalah. “Cepat selesaikan dan tidurlah dengan nyenyak. Hari ini kubangunkan jam 6 kalau memang mau sekolah, jadi kamu punya waktu 4 jam untuk tidur.” Hyeo So mengangguk lemah. “Love you.” Hyeo So mengangguk. “Mom.” Panggilnya kemudian. “Maaf~.”

“Sudahlah, selesaikan tugasmu dan cepat tidur. Malam.” Hyeo So menatap layar computer dengan nanar, lalu beralih pada 2 buah lemari yang penuh terisi buku. Mana Hyeo So yang dulu?

♛♛

*Tin.tin*

Sebuah jeep kuning berhenti di depan pekarangan rumah Hyeo So, sementara pemilik rumah berusaha menyadarkan diri untuk segera menyantap sarapannya. “Siapa pagi-pagi begini sudah bertamu?” selagi Ny.Kim berjalan keluar, Hyeo So menatap jam dinding yang terpasang di atas meja makannya. “Jam 6.15?! Sial!” Hyeo So menelan rotinya bulat-bulat lalu meneguk susunya hingga habis, sebagai pelancar perjalanan sang roti menuju usus.

“Hai,” Hyeo So masih tidak sadar dan tetap sibuk memasang sepatu. “Yujin, ambilkan kunci mobilku!” pinta Hyeo So sedikit berteriak. “Lho, bukannya kamu akan berangkat bersama Kibum pagi ini?” Hyeo So berdecak. “Apa sih, mom? Dia pasti sudah di sekolah jam segini. YUJIN!!”

“Yah! Hyeo So, kalau Kibum di sekolah. Lalu aku ini siapa?” Hyeo So mendongak. “KEY!” pekik Hyeo So riang. Ah! Tidak ada waktu.Mom! Aku berangkat, bilang Yujin kalau mau pakai mobilku isi bensin sendiri. Bye!” Hyeo So memeluk sang ibu cepat lalu menyeret Key menuju jeep nya. “Tumben menjemput?” tanya Hyeo So setelah memasang sabuk pengaman. “Memastikan kekasihku sampai di sekolah dengan aman.” Gurau Key sambil menyalakan mesin. “Haaahhhh… rasanya badanku pegal semua.” Hyeo So meregangkan otot-otot nya, sementara ekspresi riang Key memudar.

 “Kita kemana? Ini kan sudah mau bel masuk.” Key tidak menjawab, malah masuk ke lapangan parkir sebuah café yang terletak di persimpangan jalan. Memesan dua hot chocolate dan dua iced cappuccino, melalui drive thru service. “Key, kalau kamu mau ngajakin aku bolos. Lebih baik aku turun di sini!” Lagi-lagi Key tidak menjawab, kembali melajukan jeep nya tak tentu arah.

“Key! Aku mau sekolah, aku mau ngumpulin tugas! Hari ini ada rapat anggota organisasi. Bawa aku ke sekolah sekarang atau aku turun di sini.” Hyeo So menaikkan nada bicaranya. “Jangan sok!” tuding Key tegas, sejurus kemudian jeep nya telah terparkir rapi di sebuah jalanan yang rindang akan pepohonan dan begitu lenggang. “Jangan sok perduli pada sekolah dan pendidikan mu, Hyeo.” Tuding Key lagi, membuatnya menatap Key tidak mengerti. “Aku ngelakuin kesalahan apa ke kamu?”

“Banyak!” kali ini Key menatap kedua bola mata bulat itu dengan tajam dan lekat. “Sampai kapan kamu mau hidup seperti ini?” nada bicara Key melunak. “Tidak usah ikut campur Key, biar aku menjalani hidupku yang sekarang,”

“Melewati batas menuju kesesatan, dan tak akan pernah kembali?” timpal Key. “Key-“

“Hyeo, sudah cukup satu tahun aku membiarkanmu seperti ini. Aku yang melihat saja merasa tersiksa, selalu pulang malam dan tidur kurang dari 5 jam sehari. Memang prestasimu tidak pernah turun, tapi stamina mu yang akan turun Hyeo. Aku takut pada akhirnya kamu drop dan terpaksa masuk ke rumah sakit.” Key menyodorkan gelas cappuccino pada Hyeo So. “Itu tidak akan terjadi Key, tenanglah.” Balas Hyeo So kalem. “Ya, tidak akan terjadi jika kamu bukan workaholic dan deadliner sejati! Sadarlah, dan sayangi dirimu sendiri Hyeo So. Aku sendiri lelah melihatmu menjalani dua dunia berbeda sekaligus, menjadi sosok yang berbeda pada siang hari dan malam hari. Berbohong pada orang tua mu? Ya tuhan, Hyeo So!”

“Aku tidak berbohong pada mereka Key, aku hanya tidak pernah berkata jujur.”

“Apa bedanya jika kamu selalu mengiyakan dugaan salah mereka? Menjadikan sekolah dan organisasi sebagai alasan. Tidak usah lagi kamu sekolah kalau begini caranya! Merusak diri sendiri  dan bergaul dengan orang yang salah.” Papar Key. “Aku? Merusak diriku? Aku tidak sebodoh itu Key! Aku masih tahu batasannya, aku masih sadar akan kewajibanku di dunia dan di Negara ini sepenuhnya. Masih sadar benar bahwa aku tidak boleh menjadi sampah masyarakat.”

“Itu katamu sekarang, tapi aku tidak menjamin bulan depan semuanya masih sama. Sedikit-demi sedikit lama kelamaan menjadi bukit. Dari duduk di antara para perokok, akhirnya menjadi perokok. Lalu duduk bersama peminum, dan akhirnya menjadi perokok sekaligus peminum. Selanjutnya? Satu langkah lagi menuju penyesalan yang abadi, Hyeo. Kapan kamu akan sadar?”

“Sudahlah Key! Aku nyaman dengan duniaku sekarang. Hanya tempat itu yang dapat menyalurkan semua emosi, mengisi kekosongan, dan hanya di tempat itu aku merasa aman.”

“Berhenti sekolah mulai hari ini, dan berhenti menjadi beban orang tuamu. Sekarang apa bedanya dirimu dan para wanita malam itu? Sama-sama selalu pulang pagi dan menikmati dunianya tanpa mau di singgung. Sekalian saja bergabung dengan mereka agar cepat kaya. Cari klien dari kalangan konglomerat dan bangsawan, kalau perlu. Pergi dari dunia ini, dan menjauhlah dari orang-orang yang menyayangimu. Jangan bawa mereka seperti mu.”

“Apa katamu barusan, Key?” Hyeo So memicingkan matanya, menatap wajah di depannya tidak percaya. “Don’t you hear it? Get lost you fucking slut!!” sempurna. Telapak tangan pucat dan halus itu menampar pipi Key dengan sangat sempurna dan bunyi yang begitu nyaring. “Jaga mulutmu, Key!” rutuk Hyeo So sebelum akhirnya menjeblak pintu mobil Key dan membantingnya kasar. “I’m here Hyeo So. Why don’t you get it, beib?”

“Hoy, Key!” Minho melempar satu kaleng coke ke arah Key, yang langsung di sambut cepat oleh reflek Key. “Thanks!” hari ini benar-benar panas, terima kasih Minho karena membawakannya coke dingin. “Aku dengar kabar ada masalah dengan kalian berdua.” Gumam Minho pelan. “Masalah apa?” tidak biasanya Minho mencampuri urusan orang lain.

“Mereka bilang kalian berdua sudah mengakhiri hubungan, benar?” Key menggeleng lemah. “Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang aku tahu pasti, aku hanya ingin Hyeo So berubah.” Ucap Key lalu meneguk coke nya. “Aku mengerti, tapi sepertinya mulutmu mengacaukan semuanya.” Tebak Minho. “Aku tidak tahu mana yang lebih baik, membiarkannya atau melakukan tindakan tapi berakhir seperti ini.”

“Kadang, untuk merubah kebiasaan apalagi orang lain kita harus tahu alasan paling kuat yang menjadi pendorong orang itu melakukannya. Apa kamu tahu alasan Hyeo So seperti ini?” Key terdiam, dua tahun menjalin hubungan ia baru sadar kalau dirinya sama sekali tidak mengenali sosok Hyeo So yang sebenarnya. “Pikirkan dulu sebelum bicara. Berikan dia alasan dan jalan keluar jika ingin membuatnya berhenti dari aktifitasnya setiap malam, patahkan alasannya.” Tapi apa? Apa alasan Hyeo So sebenarnya, dan jalan keluar apa yang bisa ia berikan?

“Bagaimana mungkin kamu menyuruhnya menjauhi dunia gemerlapnya, jika dirimu tidak lebih gemerlap dari dunianya. Mungkin kamu harus minta maaf pada Hyeo So, Key. Perbanyak waktu untuk mengobrol berdua dan bertukar pikiran. Aku yakin kamu bahkan tidak tahu kalau Hyeo So itu broken home.”

Broken Home?

Key menatap jalanan di depannya kosong, kalimat Minho terus mengiang di kepalanya. Bagaimana mungkin sahabatnya jauh lebih mengenal Hyeo So di banding dirinya? Minho tahu hampir seluruhnya tentang Hyeo So. “Perusahaan keluarganya bangkrut waktu ia duduk di kelas 6 SD, orangtua nya mulai bertengkar, Hyeo So yang supel berubah jadi si pendiam dan kutu buku. Perlahan ekonomi keluarganya meningkat, namun tidak memperbaiki keharmonisan keluarganya. Tapi Hyeo So bukan tipikal depressed broken home, dia hanya muak dengan hidupnya dan mencoba menikmati hidup dengan cara lain. Melampiaskan semuanya pada sesuatu yang tidak akan terluka, membalas, atau protes. Dan clubbing satu-satunya jalan keluar bagi Hyeo So yang sudah terjerat dengan dunia nya sendiri.” Papar Minho memperjelas pernyataannya saat itu. “Komunikasi kalian yang tidak baik, atau kamu yang tidak peka?” cecar sohibnya. Membuatnya semakin sadar dan bangun, melihat kenyataan yang telah di lempar tepat di wajahnya.

Hyeo So menikmati kepedihannya sendirian, dan kamu sebagai kekasihnya sama sekali tidak membantu apa-apa. Hyeo So layak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik darimu. Key memejamkan matanya erat-erat, berharap dapat mengenyahkan suara-suara yang meneriakinya, dan menghakiminya.

“Baiklah! Tapi tidak sekarang, tidak sebelum aku menyelesaikan ini semua. Sebelum Hyeo So berubah, aku tidak akan melepaskan tanggung jawabku. Setelah ini, Hyeo So bebas pergi dan mendapatkan laki-laki yang lebih baik.” Tidak tahu mendapat kekuatan dari mana, tapi Key telah membulatkan tekatnya.

♚♚

Hyeo So merapatkan jaketnya ketika hujan yang terbawa angin mulai membelainya, sisi kanannya mulai basah. Setelah puas memandangi pondok kecil tempatnya dan Key pertama kali bertemu, kakinya kembali melangkah menembus hujan. Membawanya ke sebuah jembatan kayu tua di dermaga kecil, dan membiarkan tubuhnya terguyur air hujan di sana. Dirinya yakin hujan akan membawa pergi semua penat dan bebannya, begitu juga dengan apa yang terjadi hari ini. Biarkanlah ia yakin bahwa hujan membawa beban itu jauh-jauh, karena hanya dengan itu, kakinya mampu berdiri tegak dan paru-parunya dapat bekerja dengan normal. Dan hanya dengan begini, hujan dapat menjadi air matanya.

“Itu hanya masalah kecil, jangan di besar-besarkan.”

“Tapi ini semua memang salahmu!”

“Iya, aku sudah mengakuinya kan tadi? Masih kurang? Aku salah, tapi kamu juga salah. Aku sudah mengakuinya kan?”

“Tapi tetap saja kamu orang yang melakukan kesalahan pertama!”

“Iya! Aku sudah bilang kalau aku salah, tapi kamu juga ikut melakukan kesalahan! Apa-apaan sih? Kenapa semua kesalahan kecil yang aku lakukan selalu terlihat besar di depan mu?”

“Memang itu kenyataannya, kamu memang selalu berbuat salah.”

“Brengsek! Aku ini sudah lelah, aku tidak mengusikmu sama sekali, kenapa kamu sangat senang mengusik ku, huh?!”

“Aku tidak sedang mengusik, ini kenyataannya-“

“Cukup, bajingan!”

Di tengah guyuran hujan ini, kejadian tadi membuat tubuhnya sangat panas. Bahkan angin kencang yang berhembus tidak mampu membuatnya—yang telah terbakar emosi—menggigil kedinginan. Kepalanya langsung berputar hebat ketika kembali mendengar suara erangan wanita di kamar ayahnya, perutnya seolah baru saja diaduk-aduk.

Lutut Hyeo So langsung lemas ketika mendengar dengan jelas suara erangan dan rancauan dari kamar sang ayah. Baru saja 5 menit yang lalu berkelahi dengan ibunya, kini ia bersetubuh dengan wanita jalang itu. Wanita berumur 22 yang mengincar harta ayahnya, bagaimana mungkin ia bisa menganggapnya ibu? Bahkan dengan embel-embel tiri pun Hyeo So tidak akan sudi.

“KEEEYY!! AKU HARUS APA??” jerit Hyeo So pada udara, suaranya bersaing dengan suara guyuran hujan. “Bagaimana caranya aku bertahan, Key? Hidupku hancur oleh mereka Key, kenapa kamu tidak pernah mengerti? Hanya kelab itu yang menenangkan, hanya kelab itu yang selalu menemaniku. Aku bodoh, ya, aku sadar aku bodoh. Tapi kenapa kamu tidak mengajariku Key? KIM KIBUM! AJARI AKU UNTUK MENJALANI HIDUP YANG LEBIH BAIK!”

Dare!” semua langsung bertepuk tangan. “Ya ya, terserah kalian. Berikan tantangan apapun, akan aku lakukan.” Rancau Jess yang sudah setengah mabuk. “Kami mau kamu menari di atas meja ini.” Usul Els membuat yang lain semakin riuh. “Gampang!” dan sejurus kemudian aksi di mulai. Mantan kakak kelas Hyeo So yang sudah setengah mabuk itu kini naik ke atas meja dan menari sesuka hati, lalu mulai membuka kancing kemejanya.

“Cukup, cukup. Aku bosan melihat tubuhmu, turun!” gadis lain tertawa sambil menarik Jess turun. Botol kembali di putar, dan kali ini kepala botol tersebut menunjuk Hyeo So yang tengah terbatuk di sela tawanya. “Kena!” seru Jeje heboh. Hampir setiap malam mereka bermain permainan ini, tapi tidak satu kalipun Hyeo So tertunjuk untuk melakukan sesuatu yang mereka pinta. “Aku memilih truth.” Kata Hyeo lantang. “No! Harus dare, pecundang.” Cecar Beth yang tidak kalah maboknya dengan Jess. “Please deh Beth, jangan mencoba untuk menghancurkan si suci ini.” Bela Els.

“Aku Cuma mau dia bermain adil, kami selalu dare. Truth hanya pilihan bagi para pecundang dan pengecut, kamu bukan golongan itu kan Hyeo?” sergah Beth. “Baiklah, terserah kalian.” Jawab Hyeo pasrah.

“Bagus! Berhubung kamu yang paling suci dari yang terhina, maka kami masih akan menjaga reputasi mu. Ini, minum satu gelas vodka ini.” Mata Hyeo So membulat. “Mau apa? Sampanye? Itu mah bukan tantangan, kamu juga beberapa kali sudah minum sampanye.” Papar Jess seolah membaca pikiran Hyeo. Hyeo So memandangi gelas Kristal yang terisi oleh vodka. “Kami kan hanya memberi satu gelas, masa tidak berani? Ayolah bawang putih,” dorong Jeje. “Baiklah baiklah, kami beri toleransi nih. Pilih satu dari dua opsi ini, ok? Pertama, minum vodka ini dan selesai sudah tantanganmu. Kedua, bawa pacarmu ke sini untuk minum vodka ini.”

Membawa Key? Tidak, itu sama dengan melempar daging di tengah kerumunan karnivora yang kelaparan. Dan lagi, Key tidak akan mungkin mau menginjak lantai ini walau hanya setengah centi. Mungkin meminum vodka ini satu-satunya pilihan, apa salahnya hanya minum satu gelas?

Sedikit-demi sedikit lama kelamaan menjadi bukit. Dari duduk di antara para perokok, akhirnya menjadi perokok. Lalu duduk bersama peminum, dan akhirnya menjadi perokok sekaligus peminum. Selanjutnya? Satu langkah lagi menuju penyesalan yang abadi, Hyeo. Kapan kamu akan sadar?

Tiba-tiba saja bayangan wajah Key muncul di kepalanya, cepat-cepat ia menggelengkan kepala lalu menyambut gelas tersebut. Dengan gerakan sangat cepat Hyeo So meneguk vodka nya, namun ada tangan yang lebih cepat darinya. Hanya seteguk dan gelas tersebut telah berpindah tangan, ke seorang laki-laki yang kemudian meneguk habis minuman tersebut. “Kita pulang.” Key langsung menyeret Hyeo So keluar, tidak perdulil gadisnya sudah meronta-ronta tidak karuan.

Key melempar kasar Hyeo So ke dalam mobil lalu mendorongnya masuk, menutup pintu dan menguncinya. “Kamu apa-apaan sih, Key? Kamu pikir aku mainan, bisa dengan seenaknya kamu seret kesana-kemari?” cerca Hyeo So. “Bahkan belum sampai satu bulan kamu udah menjilat ludahmu sendiri, menggelikan.” Hyeo So melawan tatapan tajam Key. “Sudah merasa jagoan? Manusia paling berharga di dunia? Percaya diri kalau kamu bukan sampah masyarakat?”

“Itu urusanku, Key! Jangan ikut campur! Kamu belum puas mencap ku sebagai wanita jalang? Aku pikir hubungan kita sudah selesai, karena aku yakin kamu gak akan mau punya pacar wanita jalang.” Hyeo So menajamkan nada bicaranya. “Sadar dong, Hyeo! Kalau aku saja sudah bilang seperti itu, apalagi orang lain? Kamu mau semua orang memberikan label wanita jalang di jidat atau dada mu? Kamu bangga? Kalau tidak, kenapa kamu tidak mau berubah?” tuding Key. “Karena cuma ini satu-satunya hal yang bisa bikin aku lega! Kamu gak ngerti apa-apa soal aku Key!”

“Kamu yang gak pernah cerita sama aku! Bagaimana caranya aku bisa bernyanyi kalau mendengarkan lagunya saja belum pernah?”

“Itu karena kamu tidak pernah perduli!”

“Aku perduli, Hyeo!” bentak Key reflek. “Kamu yang gak pernah sadar, bahwa orang-orang di sekitarmu perduli. Kamu sendiri yang menolak semua orang untuk mengisi kekosongan, menghibur, atau mendengar ceritamu. Mereka perduli, aku perduli, kami menyayangimu. Apalagi yang kurang?” nada bicara Key melunak ketika perlahan kepala di depannya itu menunduk, dalam-dalam menahan sesuatu.

“Aku tahu label broken home memalukan dan kamu benci itu, tapi bukan berarti kamu harus menutup diri dari orang lain dan menjadi orang lain.” Key menangkap jelas ekspresi terkejut Hyeo So ketika mendengar Key menyebut kata tersebut. “Itu merupakan salah satu factor penting hubungan kita, tapi kamu tidak pernah cerita apa-apa tentangmu. Bagaimana bisa aku mengerti kalau aku saja tidak tahu kondisinya? Hentikan ini semua Hyeo, banyak jalan yang lebih baik dari ini. Kamu punya aku, mereka semua juga ada untuk mu.”

“Omong kosong! Aku muak dengan semuanya, kalian semua hanya pembual. Aku tidak butuh rasa kasian dari mereka, ataupun dari mu! Aku bisa jalani hidup ini dengan diriku sendiri, aku tidak butuh mereka, dia, atau kamu!”

“Kamu butuh! Jangan bohongi diri sendiri, Hyeo. Tidak mungkin kamu meminta orang lain untuk menerima mu atau mengertimu kalau kamu sendiri tidak mengerti dengan dirimu sendiri, jangan seperti ini Hyeo.” Hyeo So berusaha berbicara namun di saat yang sama ia menahan tangisnya. “Kamu gak tahu rasanya punya orangtua seperti mereka, hidup seperti ini. Kenapa semua orang senang menarik ulur hidup orang lain? Kemana mereka saat aku butuh? Kenapa kalian semua datang saat aku sudah menikmati semuanya, merasa ini yang terbaik dan mendapatkan satu-satunya alasan untuk tetap bertahan hidup di dunia ini. Kenapa semuanya terjadi di saat yang tidak tepat? Menghancurkan benteng orang lain seenaknya, memberikan label tanpa tahu yang sebenarnya. Kenapa kalian semua begitu kolot?” papar Hyeo So datar namun dengan nada menuntut dan protes.

“Kami tidak pernah kemana-mana, kamu yang selalu mundur dan membangun tembok agar semua orang tidak mendekat. Kamu butuh waktu untuk menerima ini semua, waktu untuk menyendiri, maka kami berikan. Kami sama sekali tidak pergi ketika kamu membutuhkan kami. Kamu tidak menikmati hidupmu yang ini Hyeo, jangan membohongi dirimu sendiri. Jika ada satu-satunya alasan untuk membuatmu tetap bertahan hidup, maka ibumu lah alasannya. Sadarlah sudah berapa lama kamu berbohong padanya? Memanfaatkan rasa percayanya untuk secara perlahan-lahan menghancurkan dirimu sendiri. Ini bukan jalan keluar Hyeo, kamu hanya lari dari kenyataan. Tidak mau orang lain tahu keadaan mu, dan menjadi sesat sendiri.  Sudahlah, malam semakin larut. Kita pulang sekarang, dan pikirkan ini baik-baik Hyeo sebelum semuanya terlambat. Besok tidak usah masuk, walaupun hanya seteguk aku yakin vodka itu memberi dampak buruk nantinya. Kamu butuh waktu istirahat full dari rutinitas mu yang tidak kenal waktu begini.”

Tidak lama Minho masuk ke dalam mobilnya dengan seorang gadis. Tidak ada yang mau ambil pusing, sudah terlalu lelah dengan kerasnya hidup yang mereka jalani. Minho menarik nafas dalam lalu mulai melajukan mobilnya dengan cepat, memecah keheningan malam dengan suara knalpot nya yang menderu. Perlahan mata Hyeo So terpejam, kepalanya mulai terasa pusing, dan perutnya mulai mual.

Begitu mobil Minho berhenti di depan pekarangan sebuah rumah, Yujin menyambut dengan wajah khawatir. Key tersenyum lemah sambil menggendong Hyeo So di punggungnya, berjalan menuju kamar dan membaringkannya dengan hati-hati.

“Maaf, Yujin jadi merepotkan.” Ucap Key baru akan pergi. “Opa… sudah hampir pagi, menginaplah di sini. Tidak baik mengemudi dalam keadaan mengantuk apalagi mabuk.” Key menggeleng. “Tidak apa-apa, terlalu segar untuk tidur sekarang dan juga aku tidak mabuk kok. Hanya minum sedikit, itu juga terpaksa. Tidur yang nyenyak yah, tolong jangan biarkan Hyeo sekolah.” Yujin mengangguk lalu memandangi punggung Key yang berjalan mendekati pepohonan, tempat dimana Key memarkirkan jeep nya.

Hari ini akan menjadi puncak usahanya, selama 3 minggu lebih Key mengamati dari jauh dan mempelajari lebih banyak tentang Hyeo So. Ia bersumpah, setelah ini akan melepaskan gadis itu dan membiarkannya mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya. Dengan harapan siapapun laki-laki itu, ia akan membimbing Hyeo So ke perubahan yang lebih baik. Malam ini, dirinya akan tertidur dengan harapan. Harapan jangka pendeknya yang terbesar.

“Bagaimana semalam?” tanya Minho, yang di tanya hanya menghela nafas sambil berusaha menyadarkan diri dari tidur lelapnya. “Tidak tahu lah, hasilnya masih abstrak. Hari ini kan Hyeo So aku larang masuk,”

“Masa? Terus yang tadi pagi aku liat siapa dong kalau bukan Hyeo?” Key langsung mengangkat kepalanya. “Serius deh, tadi pagi aku ngeliat Hyeo dari lapangan. Pokoknya lemes banget deh, jalannya kayak tidak punya gairah hidup.” Baru Key akan membuka mulut, Ba Woo tiba-tiba datang sambil berlari dan menggebrak meja Key. “Hyeo So… hhh… Hyeo So mu ituh tadi.. hhh.. pingsanh..hhh..”

“Pingsan?” Key dan Minho membeo. “Iyah.. hhaaahhh, nafasku! Pokoknya tadi aku dengar dari Yumi kalau Hyeo So pingsan sewaktu akan ke ruang kepala sekolah. Pingsannya sih di kel-“ tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, Key sudah lebih dulu berlari tanpa arah. Minho cepat-cepat menyusul, ia tahu seberapa panic sahabatnya itu. “Key, mau kemana? Hyeo pasti ada di ruang kesehatan!” Minho cepat-cepat menarik Key yang hendak berlari ke lorong kelas Hyeo So. Dalam perjalanan keduanya berpapasan dengan segerombolan laki-laki kelas Hyeo So, yang langsung menyuruh keduanya cepat-cepat ke ruang kesehatan.

“Key…” guru pengurus ruang kesehatan langsung mengurungkan niatnya untuk mengusir Key keluar, berita soal hubungan keduanya yang sudah di persimpangan membuat beberapa orang menjadi hectic sendiri.

Selama hampir seharian penuh, Key tidak beranjak dari tempatnya. Masih berada di sisi Hyeo So, menjaganya dan sesekali mengganti kompresnya. Namun sudah lebih dari 3 jam, Hyeo So masih tidak juga sadar dan suhu tubuhnya semakin meninggi membuat guru dan Key semakin khawatir. Setelah memberi konfirmasi pada sang ibu, kepala sekolah setuju untuk memanggil ambulance yang akan membawa Hyeo So ke rumah sakit.

Selagi menunggu Key merapihkan barang-barang Hyeo So di kelas, dan memasukkannya ke mobil. Hyeo So adalah gadis paling gila yang pernah ia kenal, mengemudi dalam keadaan sakit. Key tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang seperti Hyeo So yang sebegitu gilanya dengan pekerjaan, nilai, dan dunia.

“Key? Kamu tidak sekolah?” tanya Ny.Kim bingung saat melihat Key sedang duduk di sebelah kasur Hyeo So. “Engh… aku minta izin pada sekolah untuk menjaga Hyeo, sebelum anda datang.” Key membungkuk lalu membantu Ny.Kim meletakkan tas berisi baju Hyeo So di kursi. “Pulang lah, Nak. Hyeo So akan baik-baik saja, aku telah banyak merepotkanmu.” Key menggeleng. “Tidak ahjuma, aku merasa bertanggung jawab karena tidak bisa menjadi pelindung yang baik.”

“Kamu adalah pelindung terbaik yang pernah ada, Key. Aku sangat bersyukur tuhan mempertemukan kalian berdua, aku mengerti tujuanmu sebenarnya. Sungguh terima kasih banyak karena mencoba merubah Hyeo. Bahkan aku ibunya sendiri hanya bisa diam dan menyalahkan diri sendiri tanpa bisa berbuat apa-apa.” Key mengerutkan alis. “Aku tahu kalau selama SMA ini, Hyeo mulai terjerat dengan pergaulan bebas yang salah. Tapi aku tidak bisa menyalahkannya, karena sebab utama ia mengalami masa ini adalah aku dan ayahnya.”

“Jadi…-“

“Aku bersyukur kamu mau merubahnya untuk ku, Yujin yang menceritakannya padaku. Tidak ada seorang ibu yang tidak memiliki firasat buruk ketika putrinya pulang malam setiap hari, tapi kemudian aku sadar bahwa tidak sebaiknya aku marah pada Hyeo. Jika mau marah, maka aku harus memperbaiki keadaannya dulu. Namun sampai sekarang aku masih tidak bisa melakukannya. Ketika pertama melihatmu, aku pikir kalian berdua akan sama-sama terjerumus. Tapi terima kasih tuhan, karena ternyata kamu adalah penyelamat.” Key tersenyum lemah, tidak tahu harus berkata apa lagi.

 ♛

Hyeo So menunduk di depan pintu kamarnya, tangannya berpegangan pada dinding untuk menopang tubuhnya, dan telinganya berusaha mendengar orang tuanya yang sedang berkelahi di dalam kamar tempatnya di rawat. Meributkan soal itu lagi rupanya. Batin Hyeo So. Bibirnya menyunggingkan senyum masam.

“Anakmu itu sedang sakit! Bisa-bisanya kamu tidak perduli dengannya. Orangtua macam apa kamu? Sibuk sendiri dengan istri mudanya dan kantor. Sadarlah! Dia begini karenamu.” Tuding Ny.Kim. “Karena ku?! Jelas ini karena mu, ibu yang tidak becus merawat anaknya!”

“Bagaimana bisa aku mengurus Hyeo dengan baik, kalau ayahnya saja tidak pernah perduli dan jarang memberikan uang pada ku? Jangan pernah menganggap dirimu ayahnya kalau tetap seperti ini!”

“Apa hak mu?! Dia anakku juga, dia darah dagingku!”

“Oh ya? Kalau memang demikian, buktikan! Aku yakin kamu lebih memilih memberikan uang untuk istri barumu itu ketimbang untuk anak kandungmu sendiri! Laki-laki tidak tahu diri! Baru senang sedikit saja sudah bertingkah!” saat air matanya hampir menetes, Hyeo So merasakan sentuhan tangan di lengannya. Key, menurunkan tangannya perlahan lalu menggandeng tangan Hyeo So lembut. Menuntunnya menuju taman belakang rumah sakit, tempat para pasien mencari udara segar.

Key menunggu hingga gadis ini menangis untuk melepaskan semua emosinya, tapi hinga 15 menit duduk tanpa bicara. Sosok di sebelahnya tidak juga menangis atau setidaknya menyatakan perasaannya, hanya untuk membuat dirinya sendiri lega pun tidak mau.

“Hyeo.” Key menyentuh dagu Hyeo So, mengarahkannya perlahan untuk menatap wajahnya. “Jangan di pendam sendiri, aku ada di sini kan?” Hyeo So menatapnya tanpa emosi, matanya tidak kosong namun sama sekali tidak focus. “Kalau memang tidak mau mengeluarkannya sekarang tidak apa-apa, tapi aku selalu ada kalau kamu butuh.” Key bergerak hati-hati untuk memeluknya, ia tahu Hyeo So sangat gusar. Dirinya yakin saat ini Hyeo So sedang berusaha keras meredam semua perasaannya, mengubur dalam-dalam rasa kecewa juga amarahnya.

Tenanglah dalam pelukan ini, Hyeo. Mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya aku memelukmu, luapkan lah semua emosi mu selagi aku di sini. Aku, sangat tidak ingin meninggalkanmu. Tapi ini memang harus kulakukan. Aku sudah banyak menghancurkan perasaanmu, tidak ada gunanya lagi bertahan atau mencoba untuk memperbaiki. Batin Key selagi lengannya mempererat pelukan tersebut. Lambat laun pundaknya merasakan sesuatu hangat menetes, dan tanpa sadar sebuah senyum kelegaan terukir di wajah Key.

Key, jangan lepaskan pelukan ini sekarang. Jangan pernah sekalipun berfikir untuk pergi meninggalkanku, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu kalau itu terjadi. Hanya dalam pelukan ini, aku merasa lebih tenang. Berada di rumah sakit membuatku sadar kalau alasan sebenarnya yang membuatku tetap bertahan hidup adalah pelukan ini, pelukan seorang Key. Aku berjanji setelah ini aku akan melakukan semuanya, merubah apapun yang kamu minta. Aku akan berubah demi pelukan ini dan dirimu, karena itu berjanjilah jangan pernah sekalipun berfikir untuk meninggalkanku. Hyeo So meneguk ludahnya, hidungnya terasa semakin perih.

“Key,”

“Hm?”

“Saranghae.”

♛♚

“Bisa!” Key meyakinkan sekali lagi, tangannya semakin erat menggenggam tangan Hyeo So. “Gak bisa.” Hyeo So menggeleng lagi, benar-benar menolak untuk melakukan ini. “Kamu sudah janji, Hyeo. Tepati, ok? Lakukan ini untukku dan untuk dirimu sendiri. Oke?” Selama beberapa menit, pada mata yang penuh keraguan itu Key memandang. Hingga akhirnya ia mengangguk yakin, dan membuat Key tersenyum. “That’s my girl.” Key lalu mencium punggung tangan Hyeo So, keduanya sama-sama menarik nafas.

“Kamu sudah bisa pulang lusa, Hyeo.” Ny.Kim datang setelah berbincang dengan dokter. “Well, finally after this sucks bed rest.” Hyeo So bernafas lega. 1 bulan, bayangkan! Selama satu bulan kurang 3 hari, Hyeo So menghabiskan hari-hari suramnya di rumah sakit ini. “Eeehh… mom.”

Yes, honey?”

“Aku, mau memberi sebuah pernyataan.” Ny.Kim memusatkan perhatian penuh pada anak gadisnya, yang memperkuat genggaman tangannya dengan Key. “Aku, minta maaf.” Ny.Kim mengangkat alis. “Selama lebih dari 2 tahun ini, aku bohong padamu mom. Aku… tidak pernah pulang larut hanya karena menjadi ketua organisasi siswa intra sekolah, itu semua karena aku… sebenarnya…-“

“Nongkrong di NightClub?” potong Ny.Kim dan sukses membuat Hyeo So mendelik kaget, sementara Key tersenyum jahil. “Mom tahu?” Ny.Kim mengangguk yakin. “Dan diam saja?” Ny.Kim pura-pura berfikir lalu melirik Key. “Dia malaikatnya, berterima kasihlah Hyeo. Aku yang merasa sangat bersalah ternyata tidak bisa berbuat apa-apa, terlalu merasa bersalah sehingga jadi bodoh.” Hyeo So benar-benar tidak mengerti apa maksud ibunya ini. Key? Malaikat?

So, begini Hyeo. Mungkin kamu memang seorang murid yang cerdas luar dalam, juga gila luar dalam. Tapi ibumu ini tidak sebodoh dirimu, yang bisa-bisanya tidak memikirkan kemungkinan pahitnya. Hanya menjalani apa yang ada, yang seharusnya membohongi malah di bohongi. Tidak ada ibu yang tidak curiga dengan jadwal full anaknya, dan tidak ada ibu yang tidak khawatir dengan putrinya yang gila kerja. Jadi tanpa perlu pengakuanmu, ibumu yang tercinta ini sudah tahu kelakuanmu yang sebenarnya. Luckily, ada angel di sini yang secara sengaja tidak sengaja membantu ibumu menyelesaikan ini semua.”

“Jadi… untuk apa selama ini aku berbohong, kalau ternyata mom sudah tahu semuanya?! Siaaalll!!” erang Hyeo So kesal. “Hahaha, sudahlah Hyeo. Setidaknya, reaksi ibumu jadi tidak sedramatis ibu-ibu lain. Bayangkan kalau ibumu belum tahu dan tidak bisa menerima pernyataanmu, lalu beliau menendangmu keluar melalui jendela.”

“Key, berlebihan(-.-).”

“Yaaa anggap saja buruknya begitu Hyeo.” Key terkekeh. “Ah siaaalll. Lalu kenapa kamu maksa aku untuk mengakui hal yang tidak perlu di akui?!” protes Hyeo So. “Formalitas lah.” Jawab Key asal. “Iiiihh, Key mah! Putus ah putus.”

“Ya udah.. mau putus? Nanti nyesel, nangis, ngambek, marah, terus clubbing lagi.” Hyeo memukul pundak Key lalu memberenggut. Sementara Key dan Ny.Kim sudah tergelak. “Sudah-sudah kalian lebih baik membereskan barang-barang, biar nanti tidak usah repot lagi. Aku akan beli makan dulu ya.” Keduanya mengangguk lalu Key mengambil tas besar Hyeo So. “Gara-gara hampir satu bulan kerjaan ku tidur, bangun, tidur, bangun aku jadi mudah mengantuk nih.” Gumam Hyeo So lalu menguap.

“Sebenarnya sih tidak cukup 3 tahun kerja jor-joran dan hanya di balas satu bulan. Begitu keluar dari rumah sakit mau ngapain?” tanya Key sambil memasukkan beberapa baju Hyeo So. “Belajar laaahh, ngerjain tugas-tugas yang terlewat, dan nyalin catetan.” Key mengerutkan alis. “Catetankan udah aku foto copy, kenapa masih di salin juga?”

“Oh iya lupa, ya sudah kerjakan pr lah.” Key langsung cemberut. “Gak puas apa semester satu udah dapet ranking 2 paralel?” tanya Key keki. “Ya enggak lah! Coba siapa ranking satunya?”

“Kibum.”

“Tuh! Sebelum aku bisa ngalahin si Kibum sialan itu aku tidak akan berhenti belajar.” Key melotot. “Yah! Bocah sialan! Siapa tadi yang kamu bilang Kibum sialan? Sembarangan!” oceh Key mencak-mencak. “Lagian gaya, sok sokan nyebut Kibum. Biasa Key aja!”

“Apa kata kamu deh.” Key sudah kesal setengah mati, ikan tidak juga menangkap umpannya. “Lah, emang selain belajar aku bisa ngapain lagi? Katanya gak boleh ke NightClub lagi? Ya udaahh tuh, aku gak ke sana.” Key makin cemberut. “Ya jalan-jalan lah sama akuuuu!!!” rajuk Key membuat Hyeo So tergelak. “Gitu aja kesel, entar ngambek. Aku tahu dari tadi kamu pasti mau ngajakin jalan, tapi bukannya ngajak malah mancing-mancing.” Goda Hyeo So. “Ya habisan kamu, gak inget pacar!”

“Mau banget di inget?” Hyeo So terkekeh begitu Key melotot. “Ya udah, jalan ke perpus aja yuk. Temenin aku baca buku koleksi baru.” Key mendengus jijik. “Eh, kutu buku! Pacar kamu nih buku apa aku sih?” Key sudah benar-benar keki tingkat aku setiap Hyeo So membicarakan buku, rasanya dia seperti manusia terbodoh karena lebih suka baca komik dan tidak berwawasan sangat luas.

“Maunya buku, tapi berhubung kamu dulu maksa yaaa mau gak mau aku selingkuh.” Hyeo So tergelak lagi. “Terus maunya kemana? Salon? NightClub?” Key berfikir sebentar. “Ke Salon, habis itu nonton, terus ke Everland.” Hyeo So mangut-mangut sambil terus melipat bajunya. “Ya udah terserah kamu, aku sih asalkan semua biaya di tanggung pengajak oke oke aja.” Lagi-lagi ia terkekeh. “Oh iya Hyeo, mulai sekarang kamu tidak usah bawa mobil ke sekolah ya.”

“Kenapa?” Key tersenyum bangga. “Biar aku aja yang bawa mobil. Keki juga sih denger cewek-cewek memberi sindiran secara halus karena kita hampir tidak pernah pulang berdua, dan Minho juga sepertinya tuh bangga banget nganterin cewek nya pulang.” Hyeo So menggeleng cepat. “Aku gak suka naik jeep kamu, serem.”

“Kan biar cowok banget, terus terkesan cool gimana gitu.” Key terkekeh sendiri. “Mane nya cool? Cool-I iya deh.” Umpat Hyeo So. “Ya udah terus kamu mau naik apa? Sedan apa SUV?” Hyeo So menimbang-nimbang. “Sport car aja, yang pintu dua. Hohoho~”

“Hah? Aku mana ada uang beli mobil gituaaann!” Hyeo So mendesis. “Makanya gak usah sok!”

“Iya-iya ah, kamu sih gitu maunya macem-macem. Tabungan ku abis deh, kalau gini caranya.” Hyeo So terkekeh jahil. “Ya elah, Key. Demi calon istri, gitu.” Key memutar bola mata. “Iya kali kita udah pasti nikah gitu.”

“Oh gak mau? Ya udaaahh, aku mah gampang. Tinggal buka waiting list terus pilih deh yang lebih ganteng dan lebih kaya dari kamu.”

“HYEO SO, AH!” bentak Key, sudah tidak tahan Hyeo So dari tadi menggodanya. “Bercandaaaa!” ingin sekali Hyeo So kabur dari kamarnya sebelum tangan itu benar-benar menggelitiknya hingga terkencing-kencing, tapi tumpukan baju di kakinya menghalangi dan sial ia menjadi korban. “Ampuuunnnnn!”

♛♚♛♚

Dulu, aku mencari-cari alasan mengapa tuhan menciptakanku di dunia ini. Kenapa tuhan yang begitu baik, memberikan takdir menyedihkan seperti ini. Kenapa tuhan yang sangat penyayang, membiarkan umatnya ini terlantar tanpa kasih sayang dari orang tua.

Namun itu dulu, ketika aku tidak mengerti tentang hidup. Ketika aku tidak mensyukuri apa yang ada, ketika aku terlalu banyak menggerutu, ketika aku selalu melihat ke satu arah, ketika aku belum menemukan makna kesedihan yang aku alami.

Sejauh ini, aku bisa menyimpulkan bahwa kesedihan adalah sebuah berkah. Layaknya perpisahan yang selalu membawa kita pada pertemuan yang baru. Kesedihan, membuatku merasakan apa itu bahagia, sadar akan pentingnya mengenali diri sendiri, sadar bahwa jalan menuju roma itu memang tidak cuma satu, sadar kalau rumah butuh tiang penyangga dan atap nya.

Percayalah, saat mereka bilang bahwa rumah tangga mereka hancur maka hanya kisah mereka yang hancur. Kisah kita tetap berjalan sebagaimana semestinya, sebagai anak mungkin merasa terganggu. Tapi jangan pernah menjadikan kehancuran kisah mereka, sebagai akses menuju kehancuran hidup kita. Ketika aku bilang, keluar setiap malam berkumpul dengan teman-teman nakal itu enak. Yakinlah, bahwa itu hanya pelindung.

Hanya mereka yang rapuh dan tidak mengenal dirinya yang akan menganggap pergaulan bebas itu nikmat, sadarlah dan coba rasakan dengan baik. Itu semua tidak berguna dan tidak pernah senikmat yang di bayangkan. Selama ini aku hanya bersembunyi, menyimpan pecahan perasaanku dalam sebuah kotak di dalam tanah tanpa pernah mencoba untuk memperbaikinya. Aku hanya mencari alasan untuk setidaknya menjadi tempatku bertahan, maka kehidupan yang seperti itupun aku anggap penyelamat.

Ketika kalian berfikir mereka mengasihanimu, maka sadarlah bahwa mereka menyayangimu, mereka perduli padamu, buang jauh-jauh gengsi itu. Kenapa selalu mencari yang tak nyata ketika nyata berada tepat di depan kita?

Dengan kesadaran penuh, aku menutup buku ini dan membuka buku lain untuk memulai kisah yang lain.

Terima kasih tuhan.

Terima kasih mom.

Terima kasih untuk dia-yang-selalu-mencintaiku.

END

©2010 SF3SI, Zika

This post/FF has written by Zika, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

105 thoughts on “Sadness Is a Blessing

  1. waaah,, ffnya mndidik spaya kta hrus brbagi *mnurut aku sih*
    smga aku ktemu cwok yg kyak key *ngayal loe*
    oy, aku da bingung nih,, pas key lgi ngomong sama hyeo kok tiba-tiba muncul kata-kata minho msuk ke mobil smbil mmbawa cwek ???
    bingung jadinya
    tp, critanya daebak deh !!!
    authorr daebak karena pnya ide kyk gni…
    heebbaaaaaat !!!! #dilempar pake panci krena brisik

  2. Ya Tuhan….
    asli lah aku sukaaaaa…. bgt sm gaya bahasanya…
    bahasanya bagus + ceritanya bagus jg… komplit lah…
    2 thumbs up…

  3. Wah,,,sekali lg terharu…
    gr2 bc 2 ff oneshoot mu, mlm ku jd mharu biru…
    bnr2 daebak….20jmpol deh…
    »Anggap aja jariku jempol semua…hehe

  4. Zika eonni!!!!!!~
    Aku ada tugas bahasa Indonesia suruh cari cerpen terus dianalisis gitu. Nah, cerpennya harus ada masalah/konflik yang dihadapi sang pelaku. Yang kepikiran cuma ff ini….soalnya ini ff konfliknya jelas dan penyelesaiannya juga jelas. Jadi aku ambil ini yah dan aku print out😀

    Boleh ya?
    Hihihihi Zika eonni baik deh~
    Kamsahamnida!!!

  5. Hai, aku reader baru salam kenal🙂
    Amanatnya dapet banget, aku suka ceritanya dan gaya bahasanya
    tapi abang key jadi dewasa ya? hehe keren

  6. Aq bru baca,dan ff ini keren abis
    Cerita akhirnya bner2 bagus.’kenapa harus mencariyang tidak nyata ketika yang nyata tepat di depan kita’.’mereka yang disekitar kita bukan mengasihi,tapi perduli hanya kita yang terlalu gengsi mengakuinya’
    Dan masih banyak lagi kalimat2 inspirite…bener2 nice
    Dan Klo ini kisah nyata,really appreciate that you want to share it…

    1. Keren aja gak pake abis kekekke
      belum pantes dibilang keren abis ^^
      Aku bersyukur deh kalo bisa menginspirasi
      Well, feels worth if there’s someone who wants to read this😀

      Makasih banyak ya udah mampir ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s