The Oishii Cafe – Part 1 [2]

Tittle : The Oishii Café Show

Author : karenagatha

Rating : T (Teen)

Genre : Humor, Friendship, Life

Main Cast : Onew (SHINee),  Jonghyun (SHINee), Key (SHINee), Minho (SHINee), Taemin (SHINee)

Support Cast / Other Cast : Park Seong Jin as Egawa Hirochinomoto / Mr. Smile (The owner of the Oishii Café), Choi Min Hwan (F.T. Island) as Jejung Hirochinomoto (Egawa’s Son), Lee Hong Ki (F.T. Island) as Raymond / Raymonkey (Jonghyun’s Friend), Asaka Yuki, Asai Kanon, Super Junior’s members, and other.

Disclaimer : I don’t own Korean Artist, they belong to their artist management. Everything that happens in this story is just fanfiction. If there is equality of names and events, is just a coincidence. (Aku tidak memiliki Artis Korea, mereka milik manajemen artis mereka. Segala sesuatu yang terjadi dalam cerita ini hanya Fanfiction. Jika ada kesamaan nama dan peristiwa, hanyalah kebetulan.)

The Oishii Café Show

Chapter 1 – Part 2

Lima pemuda asal Korea Selatan itu kini berada di luar The Oishii Café. Mereka saling bingung satu sama lain. Dan keluarlah sang pemilik kafe bersama anak laki-lakinya sambil meminta lima pemuda itu serta para pelowong kerja yang lainnya untuk masuk ke dalam. Setelah sampai di dalam kafe, satu persatu pemuda itu masuk ke ruang pemilik kafe itu untuk melamar kerja.

— Onew P.O.V –

“Tak usah tegang. Santai saja,” kata Jejung kepadaku di dalam kafe.

Aku hanya sedikit cemas karena takut tak diterima, dan akhirnya namaku terpanggil untuk memasuki ruang pemilik kafe. Dengan perasaan sedikit cemas, aku mencoba untuk berusaha tetap tegar. Setelah itu aku dipersilahkan duduk, dan diwawancarai selayak seperti wartawan sedang mewawancarai narasumber.

“Kamu, Onew, temannya anak saya, bukan?” tanya pemilik kafe.

“Iya, pak. Hmm, aku datang ke sini untuk melamar kerja,” jawabku tersenyum sedikit.

“Ingin bekerja menjadi apa?” tanyanya.

“Kepala pelayan. Apakah disini masih tersedia pekerjaan itu?”

“Iya. Disini masih ada pekerjaan itu. Baiklah, saya akan memeriksa terlebih dahulu surat lamaran kerjamu, dan dokumen lainnya.”

“Hmm, jelaskan mengapa saya harus menerimamu bekerja di kafe baru saya?” tanyanya sambil membaca berkasku. “Ahh.., Ehh..,” ucapku ragu-ragu, beliau hanya menatapku dalam hitungan detik saja lalu kembali membaca berkasku. “Hmm, karena.., saya mempunyai kemampuan dalam pelayanan. Dahulu saya adalah seorang penyiar radio, pekerjaan yang melayani seseorang dan membuat orang menjadi nyaman. Dan itu adalah tujuan dari hidup saya saat ini (melayani seseorang dan membuat orang nyaman).”

“Lalu, mengapa kamu memilih bekerja sebagai kepala pelayan, kenapa tidak menjadi penyiar radio saja?” tanya dia yang heran, “Karena penyiaran radio, tempat saya bekerja telah bangkrut. Ya, jadi saya mencari pekerjaan yang baru. Dan mencari pekerjaan itu sangat susah, jadi saya menerima bekerja apa adanya. Asalkan pekerjaan itu adalah positif dan dapat melayani orang sehingga membuatnya nyaman.”

“Oh.. begitu. Bagus, bagus. Ambisimu kuat, dan semangatmu tak menyerah. Saya suka orang seperti itu,” katanya yang membuatku tersenyum namun masih agak canggung.

Beberapa menit kemudian, kulihat ayahnya Jejung masih sedang memeriksa dokumen yang aku berikan. Aku hanya menunggunya dengan khawatir, sampai-sampai aku tak sengaja meminum kopi ayahnya Jejung. Dan ayahnya Jejung hanya tertawa saja, melihat perilakunya aku yang bodoh.

Aku pun meminta maaf atas telah melakukan hal yang bodoh, dan dia hanya menggangguk sambil tersenyum. “Baiklah tak apa. Oh ya, untuk hasilnya, kamu mesti menunggunya terlebih dahulu. Oleh sebab itu, jangan pergi dahulu. Nanti dengan ringan hati, akan saya beri kabar,” katanya sambil tertawa sedikit.

“Loh? Ringan hati? Memangnya ada kata ‘Ringan Hati’? Saya baru tahu tuh,” ujarku yang tak nyambung.

“Haha, itu hanya bercanda saja. Ejekan dari kata ‘Berat Hati’. Hahaha.Hmm, jadi harap bersabar, ya,” katanya sambil tertawa dan bersalaman denganku. Aku lalu berterima kasih kepada ayahnya Jejung, dan seusai itu keluar dari ruang ayahnya Jejung sambil tersenyum.

— Jonghyun P.O.V –

Setelah orang itu keluar dari ruang pemilik kafe. Tiba-tiba, aku mendengar bahwa namaku telah dipanggil. Aku pun bersiap diri untuk memasuki ruang pemilik kerja sambil membawa dokumen dataku untuk melamar kerja. Di dalam, suasana yang tadi biasa-biasa aja, berubah menjadi mencekam. Apakah ini perasaanku saja? Kata-kata itulah yang terlontar di benakku.

“Ohayou Gozaimasu (Selamat pagi), ayo silakan duduk,” ajaknya dengan tersenyum, aku pun menjawab sambil melemparkan senyuman juga, “Arigatou (Terima kasih)”, aku pun akhirnya duduk sambil memperkenalkan diri, “Hmm.., Saya Jonghyun, saya mahasiswa asli Korea Selatan tetapi kuliah di Jepang. Kedatangan saya ke sini, hanya untuk melamar pekerjaan sambilan saja.”

Pemilik kafe sedikit tampak berakting berpikir, “Hmm.., jadi begitu. Baiklah, coba saya periksa surat lamaran kerjamu,” aku pun mengambil surat lamaran kerja serta surat-surat yang lainnya di tasku. Akan tetapi, kejadian yang tak terduga dan tak diinginkan telah tiba. Surat lamaran kerja serta surat-suratku yang lainnya tak ada di tasku.

“Ada apa, nak? Mengapa kamu tampak begitu gelisah seakan saya menyakitimu?” tanya pemilik kafe dengan cemas. “Bukan begitu, pak. Heh..,” nafasku terengah-engah dan aku melanjutkan kembali kalimatku, “Maaf sekali, pak. Surat lamaran kerja serta surat-surat yang lainnya saya tertinggal di kamar kos saya. Hmm, bolehkah saya menelepon teman saya sebentar?”

Beliau hanya mengangguk, sesaat itu aku berdiri di dekat pintu sambil menelepon teman kuliahku, Raymond (temanku yang membantuku mencari pekerjaan). Terdengarlah suara Raymond, “Moshi-moshi (Halo)?”

“Moshi-moshi, Raymonkey-san (ejekanku terhadapnya). Haha, ini aku, Jonghyun. Sekarang kamu sedang berada di mana?” tanyaku sembari mengejeknya. “Oh, Sharkbasket-san (Tong hiu, maksud dia). Aku ada di kamar kos, memangnya ada apa?” jawabnya yang juga membalas dengan ejekan.

“Ah kau ini. Nah, kau kan ada di kamar kos, bisakah kau ke kamar kosku? Surat lamaran kerja serta dokumenku yang lainnya tertinggal di sana karena aku terburu-buru. Jadi tolonglah, ya,” ujarku sambil memohon padanya. Dia pun menghela nafas seakan tampak berat hati mendengar perkataanku, “Ah.., ya sudah. Nanti aku ke sana. Tunggulah beberapa saat lagi. Juga, jangan lupa lagi ya.”

Dia segera menutup telepon, dan aku hanya membungkukkan punggungku sebagai permintaan maaf atas kesalahanku kepada pemilik kafe. Lima menit telah berlalu, temanku belum datang ke sini, membuat sang pemilik kafe itu sudah mulai tampak seperti sedang mendongkol. Aku pun menelepon kembali dengan perasaan kesal. Dan di saat itu, tiba-tiba pintu ruang kerja pemilik kafe terbuka.

Ternyata yang membuka pintu itu adalah temanku, Raymond. Aku langsung bergesa-gesa mematikan panggilan telepon dariku. Dia pun langsung memberikanku dokumenku yang tertinggal seraya mengejekku, “Kau ini kan sudah bukan kecil lagi. Jadi, mengapa kau meninggalkan dokumen penting? Hmm, apa mungkin kau ingin aku juluki “Ōkina akachan (Bayi Besar)”, Sharkbasket-san (Tong hiu/Keranjang Hiu)?”

“Sungguh miris nasibku, dokumenku tertinggal, aku dijuluki Sharkbasket-san dan sebentar lagi ditambah julukan “Ōkina akachan (Bayi Besar)”, dan juga punya teman bawel lagi namanya Raymonkey-san,” balasku sambil bersiul.

Dia hanya terkejut saja sambil melotot, dan hal itu tentu saja membuatku tertawa. Karena matanya yang sipit, dan dia melotot tetaplah saja sipit. Ia pun langsung meninggalkan kami berdua sambil memandangku dan mengejekku dengan “Ōkina akachan (Bayi Besar)”.

Karena dia lengah, tak sengaja dia menabrak tembok, dan membuat aku dan pemilik kafe tertawa terbahak-bahak. Raymond langsung merasa malu dan menatapiku kembali dengan muka kesal. Lagi-lagi dia lengah, dan kejeduk pintu. Tentu saja membuat kami semua tertawa terbahak-bahak melihat kecerobohannya.

***

“Hmm, jadi kamu hanya bekerja sambilan saja di kafe saya?” tanyanya.

“Hai (Iya), saya hanya bekerja Sembilan saja. Juga tenang saja, saya sudah mendapat izin dari pemerintah Jepang untuk bekerja Sembilan. Semua itu telah saya urusi secara sendiri,” jawabku dengan santai.

“Oh, begitu. Baguslah. Hmm, dari kata-katamu, saya telah mempredeksikan bahwa kamu adalah tipe cowok gentle (pemberani), antusias, dan optimis. Satu pertanyaan penting untukmu, Jika seandainya kamu telah diterima di kafe ini, apakah kamu akan mau jika saya memindahkan pekerjaanmu dari pelayan menjadi pencuci piring yang bergaji lebih kecil dari pelayan?”

“Hmm.., apapun yang saya lakukan tentu harus saya terima dengan lapang dada. Meskipun itu pekerjaan yang kelasnya lebih kecil dari pelayan, asalkan itu mengandung positif, ya saya akan laksanakan. Saya hanya ingin mempunyai sebuah pengalaman saja, jadi it’s okay bagiku.”

Kulihat pemilik kafe itu bergeming tampak sedang berpikir. Aku hanya ikutan bergeming sambil menunggu hasil ucapan dari mulut pemilik kafe itu.

“Baiklah. Untuk hasilnya, kamu jangan pergi dahulu. Nanti saya akan kabarkan secara langsung,” ujar pemilik kafe itu tersenyum.

“Doumo arigatou gozaimasu (Terima kasih banyak), pemilik kafe,” tak sengaja aku mengucapkan kata “Pemilik Kafe”. Beliau pun hanya tertawa saja melihat kecerobohanku juga setelah kecerobohan Raymond, yang membuatku tersipu malu.

“Jangan panggil saya “Pemilik Kafe”, panggil saja Egawa-san.”

— Key P.O.V –

Ketika aku sedang menunggu, temanku si Akano ini meneleponku.

“Moshi-moshi, Key-san. Maaf kalau ganggu, bisakah kau mempercepat lamaran kerjamu?” tanya dia dengan cepat, suaranya seperti dikejar maling saja dia.

“Moshi-moshi, kau ini kata-katamu sama persis dengan kata-kata kemarin. Hmm, memang ada apa?” jawabku dengan agak sedikit santai.

“Begini, kau kan tahu kalau aku takut sama Coco mu ini.”

“Haha, hanya titip sebentar tak apa kan? Aku kan sudah menolongmu, sekarang kau tolongi aku, juga jangan lupa beri dia makan ya.”

“Ya titip sih, boleh. Tapi, masalahnya Coco mu ini tampangnya menyeramkan. Ya sudah, ayo buruan kau melamar kerjanya. Oh ya, makanan dia apa kalau boleh tahu?”

“Hey, sembarangan. Coco ku ini lucu tahu. Hmm, ya sabarlah, kau pikir hanya aku sendirian yang melamar kerja? Ini ngantri nih. Hmm, beri dia makan darah manusia,” candaku sambil tertawa seperti setan.

“Lucu dari jidatmu. Seram begini juga. Iya, iya, pokoknya buruan ya. Sudah gak tahan nih. Apa?! Darah manusia? Dia itu…” berhenti sejenak, dan lalu melanjuti kembali dengan berdesus-desus, “Dia itu vampire?”.

“Wah, baru tahu aku kalau jidatku itu lucu. Haha, kau ini dibohongin gampang banget ya. Polos sekali kau. Ya gak lah, masa dia vampire. Kalau dia vampire, aku sudah keburu dibunuh sama dia kali. Hmm, beri dia daging, tapi bukan daging sembarangan, beli di toko kebutuhan hewan peliharaan, sebaiknya beli di toko kesayanganku aja, ini alamatnya catat ya,…”

***

“Silakan duduk, dan silakan perkenalan diri,” kata pemilik kafe tersebut.

“Ohayou Gozaimasu (Selamat pagi), saya..,” belum perkenalan diri saya kelar, tiba-tiba terbunyi suara ringtone handphoneku. Terpaksa aku meminta waktu sebentar untuk mengangkat telepon. Ternyata yang meneleponku adalah ibuku. Mau tak mau, harus kuangkat dengan berdesah.

“Moshi-moshi, aisoku (Putra tercinta), ibumu kangen sekali sama kau, nak. Kau dimana sekarang? Dan kata ayahmu, kamu tadi sempat balik ke rumah buat apa, nak? Kasih tahu ibu!” ujar ibu dengan nada sedikit teriak.

“Moshi-moshi, okaa-san (Ibu). Meskipun aku anak ibu satu-satunya, tapi ibu tak bisa mengatur-ngatur keinginanku seenaknya, bu. Obaa-san (Nenek) saja tak menghiraukan keinginanku, dan malah ia sangat mendukung agar aku menjadi seorang koki. Jadi tolonglah, bu. Berikanlah aku suatu kebebasan, aku bukan anak kecil lagi, aku sudah dewasa, aku dapat menjaga diriku sendiri dan aku tahu apa yang terbaik untukku. Aku tahu, ibu melarangku menjadi seorang koki, agar aku tidak diolok-olok sama orang lain kan? Tapi, itu pekerjaan sehat bu, baik luar maupun batin. Sebenarnya aku malas mengangkat telepon ini, tetapi karena aku mencintai keluargaku, aku mengangkatnya walaupun dengan terpaksa. Urusan aku ada dimana, itu adalah masalahku, tapi yang terpenting aku ada di suatu tempat yang aman. Maafkan aku, bu. I Love you,” jelasku yang membuat airmataku bergenang.

Aku langsung menutup teleponku tanpa basa-basi, dan melanjutkan perkenalanku.

“Hmm, maaf, kalau tadi agak lama. Baik, saya akan memperkenalkan diri. Saya Key, saya lahir di Korea Selatan, tetapi beberapa tahun yang lalu keluarga saya pindah ke Jepang. Jadi bahasa Jepang saya sudah mulai lancar. Saya lulusan Utsukushii Interantional Vocational High School bagian Tata Boga.”

“Tak apa, silakan. Oh begitu, namamu lucu juga ya, Key itu Kunci, haha. Oh begitu, bahasa Jepang mu lumayan bagus, nak. Apa?! Lulusan sekolah menengah kejuruan yang internasional Jepang itu? Wah, kamu benar-benar hebat, nak. Untuk masuk sekolah di sana saja sudah susah payah, apalagi untuk mencoba lulus disana. Itu sekolah kan ternama di Jepang, dan biayanya pun cukup mahal. Akan tetapi, mengapa kamu ingin bekerja di kafe saya? Ya setidaknya, kamu itu pintar, tetapi mengapa ingin kerja di kafe saya?” tanya pemilik kafe itu.

“Haha, bisa aja, pak. Terima kasih, pak. Ah, jangan merendahkan kafe bapak. Menurut saya, kafe bapak itu bagus kok. Juga, saya orangnya bukan tipe pemilih. Apapun yang ingin saya lakukan, akan saya kerjakan dengan baik meskipun saya membenci itu. Karena itu sudah kewajiban saya dalam melaksanakan tugas saya. Dan, saya ingin bekerja di kafe bapak itu hanya ingin mencoba memberi pelayanan kepada masyarakat dan sekedar pengalaman kerja saja,” jawabku dengan santai.

“Hmm, prinsipmu sungguh bagus, nak. Saya suka tipe orang seperti itu, sungguh memiliki tujuan hidup. Jadi, kamu ingin melamar kerja sebagai apa? Dan, silakan kamu boleh menyerahkan dokumenmu.”

“Saya melamar kerja sebagai koki. Dan ini dokumen tentang diri saya serta surat lamaran kerja saya,” seraya memberikan dokumenku.

Pemilik kafe itu membaca dokumenku, dan aku hanya berdiam diri saja sambil menyender pada kursi dan menengadah, menatap plafon ruangan pemilik kafe yang hitam putih.

Dalam bayanganku, aku mengingat sesuatu momen yang paling penting ketika diriku masih sekolah di Utsukushii International Vocational High School. Di dalam kelas jurusan Tata Boga, hanya sekitar 5 murid laki-laki saja termasuk diriku mengambil jurusan itu, dan sisanya 20 orang adalah murid perempuan. Karena jumlah kami – murid laki-laki, kalah dengan murid perempuan, kami selalu diolok-olok oleh mereka. Kami dijuluki “Gonin no Okama (Lima Orang Banci)” oleh mereka. Kami adalah murid laki-laki yang bukan pecundang, jadi kami selalu mengalah kepada perempuan. Karena aku sudah tak sangguh menahan amarahku melihat teman-temanku diolok-olok termasuk diriku, aku membentak mereka semua.

Sampai-sampai mereka semua diam berdiri tanpa berkata apapun, tetapi hanya tiga orang perempuan yang masih berani mengolok-olok kami. Karena aku sangat kesal, sehingga ketika sedang ada praktek memasak, aku hampir mau menusuk dengan pisau dapur, ke salah satu dari tiga murid perempuan itu. Untung saja, aku langsung dicegah oleh para guru. Perempuan itu langsung menangis, tampaknya ia menyesali apa yang dia lakukan.

Dan sesudah terjadi insiden itu, tampaknya ibuku khawatir dengan diriku. Karena sejak dulu, dia setuju saja aku menjadi koki. Tetapi, karena aku sering diolok-olok oleh kaum perempuan, dan aku hampir saja membunuh satu orang gara-gara hal itu, ibuku langsung tak menyetujui aku menjadi seorang koki.

Meskipun itu insiden sudah cukup lama, tapi masih terbayang dalam pikiranku sampai saat ini. Pada saat aku sedang bersenderan di kursi sambil melamun, tiba-tiba aku dikejutkan dengan muka pemilik kafe sambil berkedip-kedip mata dengan cepat. Reaksiku tentu saja langsung mendadak seperti mundur, dan tak sengaja kursi dan aku terjatuh ke belakang.

“Walah, pak kafe bisa aja nih. Saya kan jadi jatuh,” risihku sambil membangunkan diri dan mendirikan kursi. Dia hanya tertawa kecil saja dan meminta maaf. “Haha, maafkan saya. Mengapa di pagi buta ini, kamu sudah melamun, nak? Juga, mengapa kamu menyebut saya itu Pak Kafe? Apa saya mirip dengan kafe?”

“Haha, maaf. Tapi bagiku, bapak sangat mirip sekali,” candaku sambil beranjak duduk. “Dasar anak zaman sekarang, hmm, panggil saya Egawa-san. Bukan yang lain, ok?”

“Ya, anak zaman sekaranglah, Egawa-san. Masa anak zaman baheula. Haha, baik, Pak Kafe eh salah, Bu Kafe eh salah, Egawa-chan eh salah lagi, Egawa-san nah itu baru betul,” ujarku sambil tertawa dan melihat Egawa-san hanya nyengir saja.

“Baiklah cukup, setelah saya kenyang dengan humor dari anda. Saya juga kenyang minuman ejekan dari anda. Jadi, selain itu kamu juga berbakat dalam bidang memasak,” katanya sambil tertawa kecil.

Aku terus berpikir. “Hmm, untuk masalah hasilnya. Nanti akan saya kabarkan, jadi tolong jangan pergi dahulu,” jelasnya.

 “Oh baiklah, doumo arigatou gozaimasu (terima kasih banyak), pak.”

— Minho P.O.V –

“Nak.. jagalah dirimu baik-baik, umma disini akan selalu bersamamu, satu pesan untukmu, ‘jangan bertindak gegabah, nanti kamu akan menyesal seumur hidupmu’..” Mendengar ucapan ibu, aku langsung berteriak memanggilnya untuk tak pergi. Aku pun langsung terbangun dari tidurku, “Ah, itu hanya mimpi. Tapi.. baru kali ini umma datang dalam mimpiku.”

“Minho-san..,” panggil dari seorang laki di depan pintu ruang kerja pemilik kafe.

Aku yang masih belum sadar, tak mendengarnya. “Minho-san! Apakah disini ada yang bernama Minho?” bentak lelaki itu.  Mulai menyadari hal itu, aku langsung salah tingkah seakan seperti seseorang sedang jatuh cinta dan bertemu dengan perempuan itu. “Yo (Iya)! Watashi (saya)!” balasku sambil mengangkatkan tangan kananku.

“Hai, douzo (Bailkah, silakan),” kata lelaki itu sambil membukakan pintu.

***

“Ternyata, kamu ini adalah seorang model. Lalu mengapa kamu ini ingin melamar sebagai pelayan disini? Kan pekerjaanmu itu sudah sukses besar,” tanya Egawa-san (pemilik kafe) kaget.

“Hmm, bicaranya pelan-pelan saja. Saya tak ingin sampai diketahui oleh siapa-siapa, tolonglah,” bisikku ke telinga Egawa-san, “Nih, begini. Ada dua alasan saya ingin melamar kerja sebagai pelayan. Yang pertama, karena saya sedari kecil ingin sekali menjadi seorang pelayan, karena tugas pelayan adalah membantu orang dalam melayani. Yang kedua, karena ibuku. Dia menikah dengan seorang pelayan (ayahku). Dan mereka saling mencintai satu sama lain, maka dari itu dalam keluarga saya belum pernah bertengkar. Namun suatu hari, di tempat ayahku bekerja, terjadilah kebakaran. Dan menewaskan ayahku dan orang-orang lainnya yang berada di situ. Hal ini membuat ibuku terkejut dan jantungan. Akhirnya ibuku masuk rumah sakit, waktu itu keadaannya sangat kacau sekali. Aku anaknya yang tunggal tak bisa berbuat apa-apa hanya pasrah saja,” jawabku sambil mengucurkan air mata.

“Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?” tanya kembali beliau dengan penasaran.

“Hmm, yang terjadi selanjutnya.. keadaan ibuku semakin kritis. Pada keadaan kegentingan, ibuku menyempatkan diri untuk menasihatiku. ‘Nak.. jagalah dirimu baik-baik, umma disini akan selalu bersamamu, satu pesan untukmu, jangan bertindak gegabah, nanti kamu akan menyesal seumur hidupmu.. umma ingin kamu seperti ayahmu, bijaksana, baik hati, suka menolong, serta melayani seseorang dengan tulus ikhlas..’ Setelah menasihatiku, ibuku langsung menghela nafas yang terakhir,” jelasku yang terus membasahiku pipiku dengan air mataku.

Egawa-san hanya menganggukkan kepalanya sambil menyabariku. “Hmm, begitu ternyata. Yang sabar. Apakah sudah siap untuk diajukan pertanyaan kembali?”

“Hmm,” ujarku sambil manggut-manggut.

“Jadi, jika kamu diterima disini sebagai pelayan. Apakah kamu sanggup mengatasi semua kepedihanmu yang melanda dalam hidupmu? Karena, ayahmu kan juga seorang pelayan, kami takut kamu menjadi berlarut-larut kesedihanmu..”

Berpikir sejenak. “Hmm, kurasa saya sanggup mengatasi itu. Tenang saja, saya janji.”

“Baiklah kalau begitu, tunggulah hasilnya nanti. Jangan pergi dahulu, nanti ada pengumuman.”

Mendengar perkataan itu, aku menganggukkan kepala seraya mengucapkan, “Doumo arigatou gozaimasu (Terima kasih banyak), Egawa-san,” dengan semangat sambil bersalaman dengan Egawa-san terus menerus. Membuat ia menjadi terkejut.

“Haha.. Tolong lepaskan salamannya, jangan terus menerus,” tertawanya kecil.

“Haha.. gomenasai (maaf), saya terlalu bersemangat,” ucapku sambil melepaskan dengan ketawa kecil juga. “Lah? Kan belum diberitahu apa kamu diterima atau tidak,” tanya dia bingung. “Hmm, karena sudah terlalu yakin bahwa saya diterima. Haha..” jawabku sambil berdiri.

“Kalau begitu, Sumimasen (Permisi),” sambil beranjak keluar ruangan Egawa-san.

“Hey! Tunggu sebentar!” tiba-tiba suara itu terdengar dari belakangku, yang ternyata suara itu berasal dari mulut Egawa-san. “Heh? Saya?” tanyaku memasang wajah bodoh sambil membalikkan badanku. “Ya kamu lah! Siapa lagi coba yang kupanggil disini, selain kamu?” tanyanya sambil geleng-geleng. “Ah, gomenasai (maaf). Hmm, ada keperluan apa ya, pak?”

“Ini..” sambil menjulurkan tangannya yang berisi berkas dokumen. “Oh iya! Saya lupa, berkas saya tertinggal. Haha, gomenasai (maaf),” menerima berkas dokumenku dan beranjak pergi.

— Taemin P.O.V –

“Ring ding dong, ring ding dong, ding ding ding ding ding..” ucapku sambil mendengarkan lagu dengan I-podku.

Melihat lelaki itu baru saja keluar dari ruangan pemilik kafe, aku langsung melepaskan headsetku dan mematikan I-podku. “Taemin-san,” panggil lelaki di depan pintu ruang tersebut. Aku langsung terburu-buru memasukkan I-pod ke dalam tas, dan tergesa-gesa memakainya ke ruang pemilik kafe.

“Douzo (Silakan),” ucap lelaki itu sambil membantu membukakkan pintu.

Sesampai di ruangan pemilik kafe, aku langsung memberi salam, dan beliau memintaku untuk duduk. “Hmm, apakah kamu juga berasal dari Korea Selatan?” tanyanya.

“Haha, iya. Bagaimana anda bisa mengetahui itu?” tanyaku bingung. “Haha, kamu ini lucu sekali. Ya tentu saja dari tampangmu. Juga keempat orang tadi yang melamar pekerjaan disini juga satu bangsa denganmu,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Aku pun langsung tersipu malu, “Hmm, saya..” ucapku gugup.

“Mengapa kamu gugup seperti itu? Santai saja, saya bukan penjahat kok,” santainya yang membuatku agak nyaman.

“Hai (Baiklah), bisakah saya langsung memberikan berkas data saya?” tanyaku ragu-ragu. “Douzo (Silakan)!” balasnya. Aku langsung memberikan berkas dataku, sambil menunggu jawaban darinya. Lima menit telah berlalu, sang pemilik kafe ini masih berlarut dalam membaca berkas dataku. Aku yang menunggunya sudah hampir ketiduran. Pada akhirnya aku tertidur.

Pada saat aku sedang keasyikan bermimpi (sedang memenangkan penghargaan piala fotografer), tiba-tiba mimpi itu kabur sendiri. Dikarenakan pemilik kafe itu membangunkanku, aku hanya menguap sembari mengucek-ngucek mataku, yang setengah buram sehabis bangun tidur. Akhirnya pandanganku menjadi jelas kembali, dan kudengar pertanyaan dari pemilik kafe, “Pekerjaanmu adalah seorang fotografer. Namun mengapa kamu ingin menjadi seorang pelayan? Tolong jelaskan.”

“Hmm, karena saya hanya bekerja sambilan saja. Untuk memenuhi kebutuhanku yang tercukupi selama berada di distrik Shinjuku-ku. Sebab, aku tinggalnya di distrik Shibuya-ku. Aku ingin bekerja di Shinjuku-ku karena termotivasi oleh distrik ini. Meskipun aku bekerja sebagai pelayan yang terkadang orang memandangnya itu rendah, namun bagiku pekerjaan pelayan itu sangat penting sekali,” jelasku.

“Hmm, jadi begitu. Lah, lantas mengapa kamu ingin bekerjanya di distrik ini? Kan di distrik tempat kamu tinggal itu, juga terdapat banyak pekerjaan disana.”

“Hmm, karena aku mendapat ujian dari temanku yang telah menjadi senior fotografer. Aku sangat terobsesi padanya, maka dari itu aku sering dijuluki Obseser. Aku mendapat ujian dari dia yaitu, memfoto distrik Shinjuku-ku ini sebanyak 20 foto, dan diberi waktu sebanyak 2 Minggu. Di waktu yang luang ini, aku sempatkan untuk bekerja sambilan. Kan sangat menguntungkan. Tetapi akhirnya kusadari, ternyata perjuangan seorang pengangguran sungguh melelahkan. Kulihat para penganggur di TV hanya bisa geleng-geleng kepala saja, tetapi sekarang aku langsung angguk-anggukkan kepalaku.”

“Wah, tampaknya kamu ini seorang pekerja keras, nak. Semangat terus, ya! Haha.. Selain itu kamu juga seorang Obseser yang hal positif. Perjuangkan terus, nak. Jadi tadinya, tujuan kedatanganmu di distrik ini, hanya untuk melakukan sebuah ujian saja? Akan tetapi, kamu pergunakan waktu di Shinjuku-ku untuk bekerja sambilan. Benar-benar calon bisnisman kamu, haha..”

“Hmm, betul sekali, pak. Arigatou (Terima Kasih) atas pujiannya. Kalau boleh, saya ingin bertanya nama bapak siapa ya?”

“Haha, dari pertanyaanmu seperti seorang wartawan saja yang sedang menacri berita. Hmm, saya Egawa Hirochinomoto, panggil saja saya Egawa-san, warga disini pada menjuluki saja “Mr. Smile”, Taemin-san.”

“Haha, bisa aja, pak. Oh begitu, kalau begitu saya panggil bapak dengan Mr. Smile saja ya. Lah? Bagaimana bapak tahu nama saya?”

“Saya kan memeriksa berkas datamu. Ya tentu saja di datamu itu tercantum namamu. Bagaimana kamu ini? Haha..”

“Aduh,  gomenasai (maaf) atas kebodohan saya,” kataku sambil malu tersipu-sipu. “Haha, tak usah malu seperti kucing. Kamu itu tidak bodoh kok, namun ceroboh. Hmm, kalau begitu saya akan berikan sebuah keputusan untukmu,” balasnya dengan bijaksana.

Mungkin ini saatnya yang ditunggu-tunggu, sebuah ketakutan mulai merajai diriku. Cucuran keringat membasahi kulitku, hingga membuatku tak tenang. Gelisah. Itu yang sedang kulakukan. “Saya memutuskan bahwa kamu, saya terima sebagai pelayan di kafe saya. Terima kasih atas partisipasinya, Taemin-san. Oh ya, nanti kamu..” jelasnya yang langsung kusela, “Apa?! Haha, arigatou, arigatou, doumo arigatou, Mr. Smile!” sambil kegirangan bukan main.

“Tunggu sebentar, Taemin-san. Perkataan saya belum kelar. Nih jadi begini, nanti kamu jangan pulang dahulu, dikarenakan ada pengumuman untukmu dan yang lainnya. Ok? Douzo.”

Sekembalinya daku di lobby kafe, seseorang dipanggil dan menghadap ke Egawa-san. Lima menit, Sepuluh menit, Tiga puluh menit telah berlalu, hingga keluarlah Egawa-san dari ruang kerjanya sambil membawakan sepucuk kertas.

Dibacakannya dengan nada tegas, “Atas nama The Oishii Café, saya selaku pemilik kafe. Dengan ini, menyatakan bahwa lowongan kerja telah ditutup. Dengan demikian telah diterimanya lima orang bekerja disini. Mereka adalah, Onew, Jonghyun, Key, Minho, dan Taemin. Untuk para pelowong kerja yang tak terdaftar, kami ucapkan banyak doumo arigatou atas partisipasinya dan doumo gomenasai karena tidak terpilih. Selain kabar itu, mulai kelima orang yang terpilih, kalian akan diberi latihan besok. Sekali lagi, saya ucapkan doumo arigatou.”

To Be Continued..

P.S : Mohon maaf, apabila ada kata-kata salah, atau kurang berkenan bagi para pembaca. Semoga cerita ini dapat menghibur para pembaca. Sekali lagi mohon maaf. 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

11 thoughts on “The Oishii Cafe – Part 1 [2]”

  1. Aaaa taemin kerja di cafe
    Minho jadi pelayan ????
    Wah yang dateng pesen makanannya lama deh
    Kelamaan liatin mukanya pasti wahahahah
    Mana key jadi koki
    Gakebayang rasa makanannya jadi seenak apa
    Tapi itu masa lalu key sedih +serem banget
    Sampe bikin eomma nya khawatir

  2. Wahaha kayanya ntar ceritanya rame,

    semunya yg kerja org korea,,
    waaah ditunggu part selanjutnya thor

    nice ff 🙂

  3. Ahahahah lawak banget waktu sesi wawancara! Apalagi key tuh ampunn deh -_-
    Aku suka alasan Jinki kenapa mau ngelamar disitu. Top banget! Minho jugaa!
    Terus mr smile nya juga kocak deh. Friendly gituu
    Top top! Lanjut yaaahh 😉

  4. Waaaaaaaaaaaah~~
    FF yang udah lama gak muncul akhirnya muncul jugaaaaa…
    hem, kangen deh sama nih ff haha

    Hem, Sukaaa deh sama cafe nya!!
    Orang2nya jugaa~ Onyu pas ngelamar pekerjaan lucu aja deh tingkahnya
    lanjutt eonnie ^^

  5. wuahahaha.. suka pas wawancara 😀
    mau banget deh ke cafe itu kalo bisa ketemu shinee~<3
    hmm… rasanya pernah aku baca deh ini FFnya. pernah posting di AFF ga? atau blog lain? atau gapernah? huahahaha..
    pokoknya lanjutttt 🙂

  6. huwaa lucu pas bagian jjong .. ahahah tuh enak bgt org di katain onyet .. ckcckck
    ahahah pemilik kafenya juga baik bgt…
    ya minho kok ceritanya menyedihkan ?? -_-”

    huwaa di tunggu bgt nih lanjutanya …

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s