Please don’t Him

Please don’t Him

Author             : Kim Rei In

Main Cast        : Kim Rei In, Kim Kibum (key), Choi Minho

Support Cast    : Song Hyora, Jung Meiri

Length             : One Shoot

Genre              : Romance, Friendship, Humor (?)

Rating              : General

Annyeong, Perkenalkan aku Kim Rei In *nama ngasal*.  Ini FF pertama ku kekeke. Maaf nanti kalau banyak kekurangannya ya. Selamat membaca !!!

Kim Rei In P.O.V

Sore ini Tuhan seakan mengerti dengan isi hati ku. Hujan rintik-rintik disertai angin senja, menambah kedinginan sore hari ini. Semilir angin menerpa diriku yang sedang berteduh sambil menunggu bus dihalte. Sambil menunggu bus yang tak kunjung datang dari tadi, aku memejamkan mataku, berusaha untuk mencerna semua kejadian yang ku alami hari ini. Kejadian itu sangat terasa berat bagiku. Bahkan aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar setelahnya. Semua itu benar-benar sulit untuk kuhilangkan dibenakku.

Kini pikiranku telah melayang kembali kekejadian tadi siang dikelasku. Ku kira siang itu akan menjadi hari yang menyenangkan. Hari dimana aku akan mulai mendekati namja yang telah menawan hatiku sejak aku bertemu dengannya saat masuk Senior High School. Aku sadar bahwa aku hanyalah seorang gadis yang tidak memiliki kelebihan apapun, tapi aku benar-benar tidak bisa berpaling dari namja berperawakan tinggi, yang dihiasi dada bidang itu. Walau kulitnya agak gelap dari kebanyakan orang korea, tapi itu juga menjadi daya tariknya. Wajah kecil yang dimilikinya, dihiasi dengan manik yang besar, hidung yang mancung, dan bibir yang mungil. Seakan-akan Tuhan belum puas dengan kesempurnaan wajahnya, dia juga memiliki kepintaran yang cukup dapat dibanggakan. Serta kemampuan dibidang olahraga yang sangat mencengangkan, dia hampir menguasai seluruh bidang olah raga. Sungguh namja yang sangat sempurna. Tak akan ada yeoja yang dapat memungkiri pesonanya.

– FLASHBACK –

Hari ini aku mendapat kesempatan untuk mendekati Choi Minho, dia adalah namja yang kusukai semenjak aku masuk ke Kyunghee Senior High School. Sudah dua tahun belakangan ini aku berada dikelas yang sama dengannya, tapi  walau begitu aku hampir tak pernah berbicara dengannya. Kalau bukan karena memiliki kepentingan, aku tak berani berbicara atau hanya sekedar menyapanya.

Kini aku sudah berada ditingkat akhir, aku tidak mau lulus tanpa mengutarakan perasaanku padanya. Maka hari ini kuputuskan untuk mencoba mendekatinya. Dan sepertinya Neptunus sedang berada dipihakku. Ya, kini aku sedang duduk bersebelahan dengannya, karena hari ini songsaengnim menugaskan kami untuk mengerjakan tugasnya secara berkelompok. Dan betapa terkejutnya aku, saat ku tahu ternyata aku dan dia satu kelompok.

Tapi bukan hanya itu, Tuhan sepertinya memang benar-benar mendukungku. Bayangkan saja, kini tempat duduk kami bersebelahan. Hahaha, ini bukan karena aku yang mencari-cari kesempatan untuk duduk bersebelahan dengannya, tapi mungkin karena memang kami yang ditakdirkan untuk segera bersama.

“Hemmmm ternyata Tuhan sangat baik padaku, kekekeke.”  pikir dibenakku.

Betapa senangnya diriku saat ini, senyum selalu saja mengembang di wajahku selama kerja kelompok. Aku yang tidak pernah berani untuk menyapanya selama ini, dan hanya bisa memandanginya dari tempat dudukku. Kini berkesempatan berdekatan dengannya. Benar-benar indah hari ku ini. Kejadian seperti ini lah yang selama ini aku impikan. Setelah pekerjaan kami selesai, senyum masih saja terus mengembang diwajahku, sampai tiba-tiba Namja tampan itu menegurku,

“Rei In, kau kenapa? Sepertinya dari tadi ku perhatikan kau selalu saja senyum seperti itu.” Dia menatapku dengan tatapan menyelidik.

Mungkin sepertinya dia terganggu dengan kelakuanku ini. Tapi, tapi bukan itu yang aku tanggapi, hahaha aku malah kaget kalau ternyata dia menyadari kelakuanku. Bukan kah itu berarti kalau dia dari tadi memperhatikanku? Dia memperhatikan ku? benarkah? Jangan-jangan dia juga menyukaiku.

“aisssssh, apa yang kau pikirkan Rei In-ah. Hahaha percaya diri sekali dirimu.” Cepat-cepat kugelengkan kepalaku untuk menghapus pikiran anehku ini.

Tidak mungkin kalau Minho juga menyukaiku. Dia saat ini sedang menatapku menanti jawaban.

“Tapi, tapi, kenapa dia menatap ku sedekat ini? Lihat Rei In-ah, bahkan dia sama sekali tak mengedipkan mata indahnya.” Pandangannya itu kini sukses membuat semburat merah jambu di pipiku. “aishhh Minho, jangan lihat aku seperti itu” gumamku pelan yang tak mungkin didengar olehnya.

“Kau itu kenapa Rei In? Bukannya menjawab pertanyaanku, kau malah menggeleng-gelengkan kepala seperti ini.” Kini Minho meniru gerakan menggeleng kepala seperti ku.

“Omona, keyoptaaaa.” Kelakuannya benar-benar sukses membuatku membatu. “Jangan seperti itu Minho, kau bisa membuatku gila hanya karena mu.” Aku hanya bisa menunduk mengalihkan pandanganku yang tadi sejenak bertemu dengan mata namja disampingku ini.

Tak berapa lama, setelah aku kembali tersadar dari mimpi indah itu, aku langsung menjawab pertanyaanya yang tertunda. Karena Minho masih saja melihat kearahku, seakan-akan memintaku untuk menjawabnya.

“Ah, ani. Aku hanya senang saja bisa belajar dengan bekerja kelompok seperti ini. Ini lebih menyenangkan dari pada aku hanya mendengarkan Lee Songsaengnim meracau sendiri didepan kelas. Hehehe” jawabku sekenanya sambil tertawa hambar.

“oh kukira kau kenapa” ujarnya sambil menunjukkan senyum menawannya.

“Ya Tuhan, tolong kuatkan jatungku ini. aku terlalu terkejut dengan semua kesempatan indah darimu” pikir bahagia.

“Cih, dia itu memang aneh Minho! Tak usah kaget seperti itu!” suara cempreng terdengar dari belakangku.

Tanpa melihatpun aku tau siapa pemilik suara cempreng itu. Suara yang benar-benar tidak ku sukai. Suara yang selalu sukses menggangu kebahagiaanku, seperti saat ini. Key, dia lah namja yang selalu mengusikku. Walau wajahnya imut, tapi dia memiliki sorot mata yang tajam. Aku juga memiliki tatapan tajam, tapi itu tak sebanding dengan tatapan mematikan miliknya. Karena memang tidak akan ada yang bisa melawannya jika dia sudah mengeluarkan tatapan tajamnya, bahkan banyak orang yang bilang kalau matanya bisa mengeluarkan laser yang dapat mengintimidasimu untuk melakukan semua hal yang diinginkannya. Tapi asal kau tau, dia juga sangat tampan seperti Minho, mungkin karena itulah mereka dapat berteman sangat dekat. Karena kalau dilihat dari sifat, mereka sangat jauh berbeda. Dia itu sangat menyebalkan, berisik, dan cerewet. Berbeda sekali dengan Minho yang kalem, tenang, dan tak banyak bicara. Sepertinya teori tentang orang tampan akan selalu berteman dengan yang tampan benar-benar terbukti pada mereka.

Aku langsung berbalik dan menatapnya tajam, namun seperti yang aku bilang tadi, kini aku hanya bisa tertunduk, karena dia tengah membalas tatapanku dengan sorot mata yang jauh lebih tajam. Minho yang melihat kelakuan kami hanya bisa tertawa terbahak. Kami yang merasa sebal dengan tawanya, langsung mengalihkan tatapan kami kearahnya, dan kini dialah yang tertunduk karena tak bisa membalas. Setelah itu suasana diantara kami kembali hening. Aku yang merasa kesal pada key, langsung kembali membalikkan tubuhku seperti semula.

Kulirik sejenak jam yang melingkar ditanganku. Masih ada waktu 10 menit sebelum bunyi bel yang menandakan pelajaran ini berakhir. Disenggang waktu ini aku akan memanfaatkan kesempatan yang diberikan Tuhan. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka seperti ini. Maka mulailah aku membuka percakapan dengannya.

“Ehmmm Minho, Hyora gimana kabarnya? Udah lama aku ga ketemu sama dia”.

Aku sengaja menanyakan kabar MANTAN yeojachingu-nya ini. Song Hyora, dia adalah teman Junior High School ku. Dulu saat masih satu sekolah dengan gadis itu, aku cukup dekat dengannya. Namun saat mulai masuk ke Senior High School, kami mulai jauh, karena kami berbeda sekolah. Bahkan aku sempat lost contact, sampai suatu hari aku bertemu dengan Hyora didepan sekolahku. Dia bilang, dia akan menemui namjachingunya. Dan betapa terkejutnya aku saat ku tau ternyata Choi Minho lah yang menjadi namjachingunya. Namun kini mereka sudah PUTUS. Ya, putus hahaha betapa senangnya aku saat mendengar berita itu. Dan saat ini, aku tengah berpura-pura menanyakan hal ini pada Minho untuk sekedar berbasa-basi membuka celah untuk mengobrol dengannya. Jahat? Licik? Biarkan saja, toh nanti aku yang akan menggantikan posisi Hyora, kekekekeke. Lagipula aku tak tau harus apa lagi yang kubicarakan dengannya selain Hyora.

“Ah… kami sudah tak bersama lagi Rei In. Memangnya dia tak menceritakannya padamu? Aku kira kalian cukup dekat”. Jelas Minho padaku.

Kini senyum tipis terlihat dari bibirnya, sepertinya dia masih cukup sulit dengan perpisahannya itu. aku yang merasa tak enak telah mengungkit ini pun langsung segera meminta maaf padanya

“Mian Minho, aku tak tahu” ujarku berbohong.

“gwencana Rei In.” Hanya itu jawabannya. Aku yang merasa tidak enak, hanya bisa membalas senyumnya.

Suasana kembali hening diantara kami, walau keadaan kelas cukup ramai, karena hampir semua kelompok telah menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Namun hanya hening yang dapat ku rasakan diantara kami. Aku dan Minho memang cukup canggung jika hanya berdua.

“ahhhhhh.. tapi masa kau tidak tau beritaku ini. Walau pun Hyora tak memberitahukan, seharusnya kau tetap tahu tentang berakhirnya aku dan dia. Hahahahaha aku kan orang terkenal” candanya mencairkan suasana diantara kami.

“issssssshh, ternyata kau itu percaya diri sekali ya hahahaha”

“hahahaha…” tawa kami bersama-sama

Setelah tawa kami berhenti, lagi-lagi suasana diantara kami hening. Aku cukup grogi dengan kejadian ini. aku tak menyangka bahwa aku dan Minho bisa tertawa bersama-sama. ini benar-benar awal yang baik untuk memulai langkahku. Kami sejenak kembali kepikiran masing-masing.

 “Jangankan berita tentang putus mu dengan Hyora. Semua tentangmu saja aku tau. Dan walau kau bukan orang terkenal, tapi aku akan tetap tau tentangmu. Karena memang aku menyukai dirimu. hemmmm bahkan mungkin setelah kejadian ini aku bisa menjadi mencintaimu hahaha” batin ku senang. Kini senyum mengembang dibibirku.

“Tapi Rei In…” Kata Minho terputus.

 “Tapi apa Minho?” Tanyaku penasaran, dengan masih mempertahankan senyumku.

“Tapi kini aku sedang mulai menyukai orang lain…” kata Minho lagi-lagi terputus.

Deg… apa-apaan ini. “Jangan katakan kau sudah menemukan pengganti Hyora, Minho?” pekikku dalam hati.

Ternyata aku terlambat untuk mengisi kekosongannya. Ternyata sudah ada yang dia pilih. Aku langsung melemah mendengar kata-katanya barusan. Baru saja aku akan mulai melangkah, tapi aku malah mendapati kenyataan seperti ini.

“Apakah menurutmu itu terlalu cepat Rei in? Aku takut pandangan orang lain pada yeoja ini. Pasti mereka akan berpikir kalau kehadiran orang ketiga dari pihakku lah yang memicu berakhirnya hubungan kami. Pasti mereka akan berpikir kalau yeoja ini yang menyebabkan perpisahanku dengan Hyora. Dan mungkin mereka akan memperlakukan yeoja itu dengan kasar jika mereka tahu siapa sebenarnya dia itu. Kau tau kan kalau banyak yang menyukai MinHyo Couple?”

Aku hanya bisa mengangguk-anggukan kepalaku mendengar pertanyaannya. Aku hanya berharap minho tidak melanjutkan kata-katanya. Aku tidak mau mendengarnya.

“Sudah Minho, sudah!! Jangan teruskan cerita mu padaku! Bagaimana kau bisa bercerita segamlang ini kepadaku. Bahkan kita baru mengobrol hari ini.” ingin rasanya mengatakan ini pada Minho.

Kini aku semakin melemah mendengar semua kata-katanya. Memang banyak orang yang menyukai MinHyo Couple, sebutan untuk Minho dan Hyora, meraka menganggap bahwa Minho dan Hyora sangat lah cocok. Seperti realityshow WGM, yang penontonnya mengharapkan pasangan itu akan benar-benar bersatu dalam pernikahan. Mungkin hanya akulah yang sebal dengan sebutan MinHyo, karena menurutku seharusnya itu yang benar adalah MinRei -Minho Rei In- bukan MinHyo -Minho Hyora-.

“Padahal bukan hal itulah yang menyebabkanku mengakhiri hubunganku. Aku baru menyukai yeoja ini beberapa hari yang lalu, setelah aku mulai menyadari akan kehadirannya. Sungguh Rei in, itulah yang aku rasakan saat ini. bagaimana menurutmu? Apa aku bisa mendekati gadis itu?” tanya Minho mengakhiri semua kata-katanya.

Kini aku sudah benar-benar tertunduk lesu. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Bahkan untuk melihat wajahnya pun aku sudah tak sanggup. Aku benar-benar seperti tersambar petir. Semua anggan yang baru saja terbayang dibenakku, seketika hancur begitu saja setelah mendengar semua kata-katanya.

“Ring ding dong.. ring ding dong..”

Bel yang menandakan berakhirnya kelas hari ini terdengar. Aku sangat ingin kabur dari namja disampingku ini. Sudah tak kuat rasanya untuk menahan tangisku. Tetapi aku tak mau, aku tak mau dia sampai melihat ku menangis. Apa nanti yang akan dikatakannya jika tiba-tiba aku menangis didepannya tanpa dia tau penyebabnya. Akan sangat aneh kan.

“Minho sudah bel. Aku permisi ya. Aku harus segara pergi. Lain kali saja kita lanjutkan lagi.” Kataku padanya sambil sebentar menatap wajahnya.

Dia hanya melihatku dengan tatapan bingung. Mungkin kini dimataku sudah dipenuhi kaca-kaca bening, aku merasakan air sudah memenuhi pelupuk mataku yang siap kapan saja akan tumpah. Aku segera pergi dari hadapannya, menghampiri mejaku dan merapikan semua barang bawaanku kedalam tas. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih. Segera aku berlari keluar kelas. Aku berlari dikoridor tanpa memperhatikan orang lain, beberapa orang jatuh karena tertabrak olehku, dan tak sedikit kata-kata umpatan yang mereka berikan padaku. Aku sudah tidak peduli apa yang dikatakan mereka. Sampai tiba-tiba ada tangan yang menarikku.

“Gwencana?” tanya pemilik tangan itu, suara itu bisa kukenali walau tak melihat wajahnya. Aku menatap wajahnya nanar. Kini terlihat wajah Jung Mei Ri, aku sangat lega saat bertemu dengannya. Dia adalah sahabat ku sejak kami kelas 4 di sekolah dasar. Saat itu dia murid baru, dan duduk bersebelahan denganku. Kami menjadi sangat dekat semenjak itu. Dan kami akan selalu bercerita satu sama lain.

Aku harus menceritakan kejadianku dengan Minho dikelas tadi padanya agar sedikit beban bisa terangkat. Seperti mengerti akan keinginanku. Kini Mei ri tengah menarikku ke café samping sekolahku. Tempat itu memang menjadi favorit kami. Karena selain suasananya yang tenang. Disana aku dan Mei Ri bisa saling bercerita tanpa harus takut didengar oleh orang lain yang kami kenal. Ya, walau café itu bersebelahan dengan sekolah, tapi tak banyak siswa yang akan datang kesana, karena bisa dibilang harganya memang cukup mahal. Hanya golongan orang ataslah yang bisa masuk kesana.

Setelah memesan, aku pun mulai menceritakan semuanya pada Mei Ri. Mulai dari awal sampai akhirnya aku bertemu dengannya. Tanpa menambahkan atau menguranginya sedikitpun. Tak terasa air mata ku sudah mengalir dipipiku. Dia hanya mengelus punggungku perlahan untuk menguatkanku. Dia mendengarkan ku dengan sabar dan tenang. Dia tidak memotong sedikitpun kalimatku dan hanya akan mengangguk-anggukan kepalanya untuk merespon, sampai aku benar-benar selesai menceritakan semuanya. Dia sungguh mengerti diriku, bahkan lebih mengerti dari pada diriku sendiri. Aku sudah menganggapnya seperti onni ku, aku yang notabene tidak mempunyai onni, karena aku anak tunggal, sangat senang memiliki orang seperti dia disisiku.

Saat aku selesai, aku menghapus air mataku dan menghela napas panjang. Kulihat Mei Ri sudah mulai membuka mulutnya untuk berkata. Entah apapun nanti yang ia katakan, tapi pasti itu akan bisa membuatku tenang. Mungkin kalimat-kalimatnya saat sedang menasehatiku memiliki magic.

“Rei In-ah” aku hanya menganggukan kepala. Kini giliranku yang merespon seperti dirinya.

“Tenang lah. Aku sedih melihatmu seperti ini hanya untuk seorang namja”. katanya sambil menatapku dalam. Aku yakin dia benar-benar sedih dengan keadaanku. Karena kami memang bisa saling merasakan apa yang dirasakan satu sama lain.

“Kau harus bisa menerima kenyataan kalau mungkin Minho bukan untuk mu. Dia bahkan seperti tidak menyadari perasaanmu. Kalian tidak pernah berbicara kecuali jika kalian memiliki kepentingan” lagi-lagi aku hanya bisa menganggukan kepala.

“Kata umma ku, yah mungkin ini sudah banyak dikatakan orang lain. Tapi aku benar-benar menyakini kata-kata ini. Umma bilang bahwa, kita harus bahagia disaat orang yang kita kagumi, sukai, sayangi, dan cintai bahagia. Bahkan katanya, kita harus tetap bahagia jika musuh kita bahagia. Walau pun mereka bahagia bukan karenamu, kau harus tetap berbahagia melihatnya. Karena kau akan jadi orang yang merugi kalau kau hanya merasa sedih saat orang lain merasakan kegembiraan.” Kini mataku mulai terasa basah lagi.

Aku hanya bisa menganggukan kepala mengamini kata-katanya. Karena aku tau memang benar semua yang dikatakan Mei Ri.

“Kau bilang kau menyukai Minho kan?” tanyanya memastikan.

“Ne.” jawabku lemah

“Jadi kau harus rela dengan kebahagian nya. Aku tak mau melihatmu menjadi orang yang merugi. Bahkan banyak laki-laki yang jauh lebih tampan dan jauh lebih baik dari pada Minho Rei In-ah? Hahaha. Araseo?” tanyanya mantap

Aku tahu betul apa maksud kata-katanya itu. Lagi-lagi aku menganggukan kepala, yang kemudian dilanjutkan dengan menunduk sambil terisak. Aku benar-benar sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dan Mei Ri pun segera mengelus punggungku mencoba memberikan kekuatannya padaku agar aku menjadi lebih tenang. Tanpa sedikitpun mengganggu kegiatanku ini.

– FLASHBACK  END –

Akhirnya aku terbangun dari lamunanku akan kejadian siang ini. sedih memang. Dan tanpa terasa air mata lagi-lagi membasahi pipi ku. kata-kata Mei Ri memang benar, walau mungkin agak sulit aku akan menjalaninya. Tapi aku tau, memang itulah yang harus aku lakukan. Aku tidak mau terlarut-larut memikirkan Minho, yang bahkan mungkin tidak tau apa yang kurasakan kepadanya. Aku mau hidupku juga bahagia.

“Bukan hanya Minho yang bisa bahagia. Kim Rei In, kau juga bisa bahagia, Araseo? Kim Rei In, Hwaiting!!” kataku dalam hati menyemangati diri sendiri.

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba untuk menenangkan diri sambil berkata.

“Ya Tuhan… aku memang bukan orang yang baik, namun aku tau kau akan selalu memberikan yang terbaik. Jadi aku mohon, jika memang namja itu bukan untukku, bahagiakan dia dan bantu aku untuk melupakannya. Dan Tuhan, tolong pertemukan aku dengan yang terbaik bagiku. Pertemukan aku Ya Tuhan. Kalau bisa secepatnya ya. Yakso???”. Kekekeke, Aku membuka mataku, sambil tersenyum tipis.

Namun sejenak aku berpikir, “ish, sudah tahu kau bukan orang baik, tapi kenapa kau harus memaksa Tuhan seperti itu Kim Rei In. Babo, bagaimana kalau nanti ternyata Tuhan marah padamu dan memberimu namja aneh untuk menjadi pasanganmu. Isssssh babo” kataku menyesal, sambil memukuli kepalaku sendiri.

Aku melirik jam ditanganku, yang kini menunjukan pukul 18.17. Ternyata aku sudah lebih dari 15 menit di halte ini, dan bus pun tak kunjung datang. Aku yang kini kesal langsung berdiri dan menendang batu kerikil yang tergeletak tak jauh dari kaki jenjangku ini. Tanpa sengaja batu itu mengenai orang yang tengah bersandar membelakangi ku ditiang halte ini.

“Hya, siapa itu yang melempar batu?” tanya pria itu berapi-api.

Aku tak berani mengangkat wajahku. aku hanya menatap tanah dalam-dalam, berharap dia tak menyadari kalau aku lah yang menendang batu sial itu. Sampai ada sepasang sepatu berwarna biru, lengkap dengan kaki yang dibalut jeans. Berada pada pandangan mataku.

*hayo ada yang tau ini kaki siapa?* hahaha

Ya, dilihat dari kaki saja aku sudah tau kalau ini kaki namja, dan pasti dia namja yang keren hahahaha. Kini ku sadari sepertinya itu bukan batu sial, tapi itu batu keberuntungan yang diutus Tuhan untuk mempertemukanku dengan namja pilihannya. Senyuman mengembang diwajahku. Perlahan ku angkat kepala ini. Namun setelah kulihat wajahnya, ternyata namja itu adalah

“KEY?????” pekik ku kaget melihatnya.

“Aissssh apa-apaan kau ini, jangan berteriak. Cepat minta maaf, sudah melemparku dengan batu itu. Hey ppali!!” perintahnya sambil menatapku tajam.

“AHHHHH.. Andweeeeeee” aku hanya bisa menatapnya nanar sambil mengelengkan kepala.

”Ya Tuhan, apa kau benar-benar marah padaku? Aku tak memaksamu Tuhan. Jangan, jangan namja ini Tuhan. Kenapa harus dia? Kenapa harus Key yang kau berikan padaku? Kenapa harus namja berisik, meyebalkan, dan bawel seperti dia????” tanyaku dalam hati.

Dia hanya menatapku aneh sambil tetap meracau, entah apa yang dia katakan. Aku sudah tak peduli. Memang itulah kebiasaannya. Kini aku hanya merutuki diriku sendiri.

“huaaaaaa, andwe andwe andweeeeeeeeeeee”. Kataku sambil berlari meninggalkannya. Aku tak mau berada disitu dengannya. Segera kucegat taksi yang berjalan melintasi ku.

FIN

Menurut kalian gimana? Kepanjangan kah? Membosankan kah?

Atau pasti banyak kata-kata yang rancu ya? Pasti kalimatnya banyak yang ga enak dibaca ya? Pasti masih banyak yang berantakan kan?

Gpp kok, jujur aja. Walau harus nangis darah, aku pasti terima kok *langsung nangis didekapan hangat Key* hahahaha

Karena emang ini FF pertama aku, Biasanya cuma nulis buat sendiri doang, cuma lagi sok sok-an aja mau ngepost hehehe eh iya maaf kalau sudut pandangnya cuma satu orang, aku emang ga biasa nulis dari berbagai P.O.V. Kalau diberi kesempatan nanti aku belajar bikin yang lebih memuaskan.

Sebenernya aku mau bikin sequel tapi ga jadi deh. pasti ga ada yang baca, cuma oneshot aja ga ada yang baca apa lagi sequel. Jadi yaudah aku bikin fin disini aja Huhuhuhuuuuu

Makasih ya buat yang mau baca *walau kayanya sih ga ada hahahaha*, makasih juga buat yang udah ngepublish tulisan aku yang hancur ini. sekali lagi makasih semua *bow 90°*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

21 thoughts on “Please don’t Him”

  1. hmm bagus kok, tp masih belum jelas siapa yang disukai minhonya. gimana kalo ternyata yg disukai rei in? jd salah sangka dong-__-

    overall, bagus ^^ hwaiting!

  2. ayooo sequelnya dong … ini dah keren … tpi karena buat penasaran .. jdi ngak ngerti ma jalan ceritanya … rei in suka ma minho… minho suka ma org lain .. lah key ?? masih belom jelas … sequelnya ok..ok.. ^^

  3. author!!!!!!!!! sequel~~~~~~
    ini bagus kok…. bagus deh.. (?) tapi agak.. ih.. agak… yah.. sesuatu banget.. (?)
    maksudnya.. siapa cewenya??? penasaran….. :3
    huahahaha… semoga author punya waktu untuk bikin sequel 😉
    semangat!!!

  4. seruuu!!!
    tapi kayanya kalo di bikin sequel boleh juga,
    dan makin seru perdebatannya 🙂

    antara key sama minho. thor… siapa cewek yg disukain ama minho? aku ya? ahaha becanda

    lanjut ya thor kalo bisa 🙂
    HWAITING!!!
    nice ff

  5. huuuu~
    masih belom puas..
    mestinya dibikin aja sequelnya!
    mestinya (lagi) Rei In bersyukur bisa dapet Key, karena aku nggak bisa #BLETAK *ya iyalah*
    nanti beneran dilanjutin ya thor? *maksa*

  6. AUTHOR, SEBENERNYA AKU KESEL, LHO PAS KAMU BILANG KAYAK GINI
    Gpp kok, jujur aja. Walau harus nangis darah, aku pasti terima kok *langsung nangis didekapan hangat Key* hahahaha
    JUJUR, SAYA CEMBURU. KALO SAY COMMENT ARTINYA SAYA SUKA FFNYA TAPI SAYA TIDAK SUKA KALIMAT YANG INI
    Gpp kok, jujur aja. Walau harus nangis darah, aku pasti terima kok *langsung nangis didekapan hangat Key* hahahaha”
    nah, itu bagian yang aku sukaaaa
    fighting terus ya thoooorrr!!! endingnya gaje….
    minhe kepanjangan, soalnya nggak rela kalo ngomong key kayak gitu
    #please abaikan comment ini, OKEH??

  7. endingnya beneran gantung. siapa yang di suka minho?! *pasti aku ya. hahahaha
    terus juga kelanjutan key sama rei in giman? ayooooo dong di lanjut.
    semangat semangat 🙂

    peluk cium buat author :*
    hehehehehe

  8. aigoo~ cerita’a sama banget kaya pengalaman hidupku thor. persis persis.

    paling suka kata2 yg ini “Bukan hanya Minho yang bisa bahagia. Kim Rei In, kau juga bisa bahagia, Araseo? Kim Rei In, Hwaiting!!”

    ceritanya sangat menyemangatiku thor
    author daebak !

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s