A Year Love Story Part 4 : Still In February [2.2]

A Year Love Story

{NC-17} Part 4 — Still in February 2.2

Author             : HanaKimchi a.k.a Hana Eonni (하나 언니)

Main Cast        : Lee Jinki (Onew), Lee Chaerin (Chaerin)

Support Cast   : Key, Jonghyun, Minho, Taemin, Raena, Ahra and so many others ………

Genre              : Romance, Humor, Family, Parental Guidance, No Children

Length             : Sequel/ ??? (More than 10 maybe)

Rating             : {NC-17} NO CHILDREN!! WARNING!!

Summary         : Apakah Ahra akan mengalah dengan posisinya sebagai yang kedua?? Apa yang akan Ahra lakukan selanjutnya?? Apa yang dipikirkan Onew saat Chaerin pingsan dihadapannya?? Bagaimana selanjutnya reaksi member SHINee lainnya??

Note                :  Kelihatannya, ………. bakalan ada NC-21 nih!!! Wek wek wek wek ……

                           Buat para staff dan editor yang gak boleh baca (*blm cukup umur kayak Lana J*/// PLAK!!!! ditabok Lana 1000x), Hana eonnie ucapkan chongmal mianhae (*deep bow) Happy reading yach???!!!

 A.N : Maaf banget bangetan, kayaknya Anggi eon sang editor yang bertugas menjadwal FF gak ngeliat part ini di draft jadi yaaa terlewat dua part deh ._., baru aja sadar pas aku lagi cek draft sama jadwal. Sungguh maaf kawan-kawan sekalian *bow*

-Founder-

~ ~ ~

*J* Quotes:

♥    ‘Love is an irresistible desire to be irresistibly desired – Robert Frost’

♥    ‘Love begins with a smile, grows with a kiss, and ends with a teardrop’

♥    Hana eonni said ‘Setiap kata yang terucap, setiap perbuatan yang dilakukan, semua pasti akan kembali. Maka, berhati-hatilah. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tak terduga terjadi yang disebabkan diri sendiri’

~ ~ ~

Tiga jam kemudian ……

*J* Chaerin POV

Ya tuhan, ……

Dalam keadaanku seperti ini …… masih sempatnya diriku berfikir tentangnya …… Lee Jinki ……

Dia terlihat sempurna, badannya, sopan santunnya, perlakuannya dan tatapan matanya. Masih sempat dirinya melepas kacamataku dan menarik naik selimutku. Semoga keputusanku kali ini tak salah, karena semua demi Umma dan aku sendiri. Apa Jinki-ssi sudah tidur ya???

Dengan pelan kubuka mataku, kulihat dia meringkuk di sofa. Ya tuhan, kasihan sekali dia dan …… pasti tidak nyaman tidur dengan posisi seperti itu. Seharusnya dia yang tidur di ranjang ini, bukan aku. Walau masih agak pusing, kucoba bangun dan berjalan kearahnya. Perlahan kebenahi letak bantal dan selimutnya yang berserakan.

Aroma tubuhnya sangat khas, wangi laki-laki (?) … kuhirup pelan. Aaiiisssshhhh, … bagaimana aku masih bisa melakukannya? Lalu kemudian, ……

BRUK???

~ ~ ~

*J* Jinki POV

Sebenarnya aku belum tidur, hanya mencoba memejamkan mataku saja. Mencoba mendinginkan pikiranku dan mengistirahatkan badanku yang lelah. Tapi tiba tiba yeoja bangun dan berjalan menuju ketempatku sekarang. Dia membenahi letak bantalku dan selimutku lalu memandangiku sesaat dan memejamkan matanya. Apa yang dia lakukan sebenarnya?

Dan ……

BRUK?

“Heh, ….. no??” kataku langsung bangun.

Yeoja itu pingsan didepanku, apa yang harus kulakukan? Aku masih mengerjapkan mataku yang belum sepenuhnya terbuka. Kulihat jam dinding, ternyata sudah jam 1 malam. Bagaimana ini? Apakah harus kutelefon Dokter Jung? Atau membangunkan Umma dan Appa?

Kubopong dia kembali ketempat tidur dan kusibakkan rambut hitamnya. Ya tuhan, …….

DEG DEG DEG DEG

Jantungku berdetak semakin tak karuan, entah panik, bingung ataukah karenanya?

Kumiringkan tubuhnya, lalu aku mengambil minyak gosok dan menuangkannya di tanganku. Aku harus memasukkan tanganku ke punggungya, tapi bagaimana? Ya tuhan, berikan aku keberanian untuk melakukan hal itu.

Dengan perlahan aku memasukkan tanganku kedalam bajunya dan mulai menggosok gosokkan tanganku yang sudah terguyur minyak gosok untuk menghangatkannya. Yeoja ini, badannya dingin sekali! Walaupun ada pemanas ruangan tapi tubuh yeoja ini terlalu dingin seperti hipotermia.

Sesekali, tanganku tersangkut di pengait bra miliknya. Hal itu membuat jantungku seakan mau meloncat keluar dan tanganku bergetar hebat ……

Aku membalikkan badannya kembali, kemudian meraih kedua tangannya dan kembali menuangkan minyak gosok diatasnya. Lalu kucoba untuk menggosok dan memijat tangannya pelan.

“Ehmmmpph ……” desahnya pelan. Dia sudah sadar rupanya, dan mungkin kembali tidur.

Aku terus disampingnya, duduk mematung, ternyata …… yang ditakutkan Umma benar. Yeoja ini pingsan lagi. Sebenarnya mataku sudah ngantuk sekali, mungkin …… sebaiknya aku berbaring disebelahnya saja.

What should I do now? She is too beautiful, unfamiliar and …… weak.

~ ~ ~

 

Esok paginya ……

*J* Chaerin POV

Mataku berat sekali, sebenarnya aku tidur jam berapa sih? Kok, ada yang mengganjal di leherku, apa yang kutindih ini?

“Mmmph?” kututup mulutku seketika saat tahu yang kutindih adalah tangan Jinki-ssi. Dia tidur disebelahku, sangat nyaman, nyenyak dan tak bergeming.

Apa yang dilakukannya disini? Bukankah tadi malam dia tidur di sofa? Kenapa bisa pindah disebelahku? Haaaaa, aku ingat sekarang, …… tiba tiba aku pingsan waktu berusaha membenahi selimutnya tadi malam. Berarti ……?

Tadi malam, diakah yang menggendongku? Aku turun pelan dari ranjang, lalu aku menuju kearahnya dan membenahi selimutnya. Ya ampun, …… dia tampak sangat manis jika tidur seperti ini (sempat memuji juga nih??)

Aku kemudian pergi kekamar mandi dan mencari handuk baru. Yang ada disitu handuk warna putih yang tergantung bersebelahan dengan hem yang dipakainya tadi malam. Parfumnya sangat harum, lembut dan menggoda. Setelah selesai mandi dan berbenah, aku segera turun dan langsung menuju kedapur. Disana sudah ada Nyonya Lee yang sedang menyiapkan masakan.

“Annyeong haseyo” sapaku.

“Eh, Chaerin. Sudah bangun rupanya. Jinki mana?” tanyanya padaku.

“Jinki-ssi masih tidur. Mungkin kelelahan” sahutku.

“Kalo sarapan sudah jadi, tolong bangunkan dia ya?” pintanya padaku.

“Ne. Anda ingin memasak apa? Bisa aku bantu?” tanyaku.

“Heh, ….. chongmallyo?” Nyonya Lee menatapku dan mengerutkan keningnya.

“Memangnya, masakan kesukaan Jinki-ssi apa?” tanyaku kemudian.

“Anak itu suka semua yang berbau ayam. Apa kau yakin Chaerin-ah?” tanyanya padaku.

“Serahkan itu padaku” kataku sejurus kemudian.

Tak lama berselang, aku sudah mengaduk aduk lemari es mencari bahan apa saja yang bisa kumasak untuk sarapan pagi ini. Baiklah, ……………………. aku akan buat 3 masakan.

Chaerin, FIGHTING! Teriakku untuk menyemangatiku sendiri. (*habis gak ada yang membantu sih, author cuman suka makannya doang, masaknya …… pasrah deh??)

———

Tiga puluh menit kemudian, masakanku sudah jadi dan aku telah menaruhnya di meja makan.

“Waaaaa, ….. sudah selesai semuanya?” tanya Nyonya Lee yang baru selesai berbenah diri dan dibelakangnya Tuan Lee menyusul turun.

“Eh, iya …. aku akan membangunkan Jinki-ssi dulu sebentar” kataku langsung naik ke lantai 2 untuk membangunkannya.

Ketika aku sampai diatas ternyata Jinki-ssi sudah bangun dan sedang berada dalam kamar mandi.

Tok tok tok tok ……

“Jinki-ssi, sarapan sudah siap. Tuan dan Nyonya Lee sudah menunggu dibawah” kataku padanya.

“Ne, eh ……. tolong kau ambilkan jeans hitam yang ada di rak lemari paling atas dan bawakan kemari” sahutnya.

“HEH? Jeans? Baiklah ……” kataku. Kemudian aku membuka lemari dan waaaaa …… aku mendapati almarinya tersusun dengan rapi. Jaket, hem, kaus, dan celana yang terlipat sempurna. Jeans hitam ……. ah, itu dia. Aku mengambilnya dan berjalan menuju kamar mandi.

“Bisakah kau …… membukakan pintunya sekarang?” kataku. Aku menyodorkan jeans itu dengan menutup kedua mataku supaya aku tidak melihatnya TELANJANG.

“Kenapa kau menutup matamu? Takut aku telanjang lagi ya?” katanya menggoda J*

“KAU! BISAKAH KAU TIDAK MENGGODAKU KALI INI!” teriakku padanya, kesal.

“Wooooo, kau bisa marah juga?” katanya sambil mengambil jeansnya dan kurasakan ….. tangannya mengacak acak rambutku. Kemudian aku membuka mataku dan menatapnya.

Jinki-ssi tersenyum padaku, manis dan hangat ….. J*

“Apa kau mulai terpesona padaku?” sahutnya sambil menutup pintu kamar mandi.

Ya tuhan, bodohnya aku ini. Mengapa tadi aku membuka mataku …… apa dia bisa membaca pikiranku ya?? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rupa wajahku tadi?

Aissshhhhhh, ……

~ ~ ~

Di meja makan ……

*J* Author POV

(*cieeeee, author akhirnya muncul juga ya? Chukkae!)

“Chaerin, kau ada acara hari ini?” tanya Tuan Lee.

“Ani, cuman aku kemarin janjian dengan temanku saat pulang sekolah” kata Chaerin.

“Pentingkah?” tanyanya kemudian.

“Ehm, …… sebenarnya ada artikel yang harus aku edit untuk penerbitan lusa. Tapi tidak apa apa kok” jawab Chaerin.

“Jinki, kau tak ada jadwal kan?” tanya Nyanya Lee.

“Issoyo, ada recording malam nanti di Sukira” jawab Jinki sambil menikmati sarapannya.

“Kau bisa mengantar Chaerin kan?” kata Nyonya Lee.

“HEH? Ne ……” jawab Jinki menyerah.

“Ngomong ngomong, menu sarapan hari ini kok …… agak beda ya?” tanya Tuan Lee.

“O, itu. Iya, …… semua ini Chaerin yang masak. Aku malah gak bantu sama sekali tadi.” Kata Nyonya Lee.

“Ooooo, begitu. Darimana kau belajar masak seenak ini?” tanya Tuan Lee.

“Dari Umma, aku selalu membantunya memasak jika ada pesanan” jawab Chaerin.

“Kapan kapan, masak seperti ini lagi ya? Kelihatannya suamiku juga suka dengan masakanmu, Chaerin” kata Nyonya sembari mengerling suaminya.

“Dengan senang hati, Nyonya Lee” sahut Chaerin.

“Jangan panggil aku nyonya lagi ya? Panggil Umma juga, kan ntar lagi jadi Umma-mu juga?”

“Ne, ……Umma” jawab Chaerin kemudian.

“Jinki, tumben sarapanmu lahap sekali?” sela Tuan Lee sembari mengerlingkan mata ke istrinya.

“HEH? Aku …… tadi malam aku gak makan banyak so, pagi ini lapaaarrrrr banget” jawab Jinki. Mukanya bersemu merah menahan malu, atau mungkin karena ketahuaan saat menikmati masakan Chaerin yang enak.

Setelah selesai sarapan, Tuan Lee segera berangkat ke kantor dan Nyonya Lee ke butik. Ya, …… Nyonya Lee memang mempunyai butik yang sangat besar dan sudah mempunyai 15 cabang di Korea.

~ ~ ~

After lunch ……

*J* Jinki POV

JoJo! seulpeun eumagi heureul ttae neol saenggakhae

JoJo! janinhan neoneun wae jiwojiji annnyago

“Yoboseyo”

“Hyung, tadi malam gimana”tanya Key penasaran.

“Gimana apanya?” jawabku kembali bertanya padanya

“Ya, …… gitu deh?” goda Key padaku.

“KAU! …… tak usah tanya macam-macam, belum waktunya” teriakku kini.

“Ehm …… cuman penasaran aja sama yang dikatakan Jjong hyung”sahut Key pelan.

“YA! APA YANG DIKATAKAN JONGHYUN PADAMU!” teriakku padanya.

“AKU TAK KATAKAN APA APA KOK!”sahut Jjong kudengar teriakannya dari seberang.

“AKU TAK PERCAYA” teriakku gantian kini.

”Hyung, …… kau tak asik??”sela Key.

“Nanti kuceritakan padamu” jawabku mengalah.

“ARASSO, YEOBO”jawab Key menggoda.

“KAU!” potongku.

Ah, Key sudah mulai diracuni Jjong macam-macam. Tunggu aku balik ke dorm nanti, pasti …… aaaiiiisssshhhh ……!!

Yeoja itu dimana ya? Oh, …… dia sedang di dapur. Lagi ngapain ya?

Kuakui, masakan yeoja tadi itu sangat enak sekali. Tiba tiba dia keluar dari dapur dan membawa sepiring cemilan, baunya harum, warnanya kecoklatan dan bentuknya aneh ……

“Jinki-ssi, aku buatkan cemilan dan minuman hangat. Silahkan dicicipi” katanya sejurus kemudian.

“Ehm, masakan kamu tadi pagi, namanya apa ya?” tanyaku sembari mengambil sebuah cemilan dan memasukkannya ke dalam mulutku. Ehm, ….. enak.

“Oh, itu Pollo En Escabeche atau Marinated Chicken, masakan favoritku” katanya sembari duduk menyeruput minumannya.

“Kalo ini, apa?” tanyaku kemudian.

“Ini Thai Spring Roll, isinya sayuran dan daging cincang. Kalo di cangkir itu Masala Chai, hawa dingin begini sangat enak diminum karena ada cengkeh dan kayu manisnya” jawabnya.

Aku ingin mencoba rasa minuman buatannya. Ketika sampai ditenggorokanku, terasa harum dan hangat. Ehm, …… dia pintar memasak rupanya. Lalu aku berdiri dan berjalan kearahnya. Aku duduk disampingnya dan ……

“Mana hp-mu?” tanyaku padanya.

“Memangnya kenapa?” sahutnya.

“Sudahlah, berikan padaku” kataku. Yeoja itu memberikan hpnya dan ketika sampai ditanganku ……

Sepertinya aku pernah melihat hp ini? Tapi dimana ya?

“Apa kau pernah kehilangan hpmu?” tanyaku sembari memencet nomorku di hpnya dan menyimpannya.

“Iya, kenapa?” sahutnya.

“Gara gara kau jalan sembarangan? Hpmu dikembalikan di parkiran sekolahmu?” tanyaku agak memaksa.

“Iya? Darimana kau tahu semua itu?” tanyanya heran.

“KAU! LAIN KALI KALO JALAN HATI HATI!” teriakku. Dia kelihatan agak bingung lalu ……

“JADI, KAU! KAU NAMJA ITU YA!” teriaknya dan menunjuk padaku kemudian.

“IYA! Gara gara kau, aku harus menyamar segala untuk pergi kesekolahmu. Aaiisshh, ……!” kataku.

“Mianhae” jawabnya sambil menunduk.

“Tadi Umma bilang, kita mampir dulu sebelum aku mengantarmu kesekolah. Kita berangkat sekarang” kataku. Aku kemudian ke kamar untuk mengambil jaketku, tas dan juga sweaternya.

“Kajja” sahutku dan langsung menggandeng tangannya keluar rumah. Sebenarnya, aku ingin membiasakan diri dengannya dan bagaimanapun juga dia bakal jadi istriku, 3 minggu lagi.

~ ~ ~

Di dalam mobil Onew ……

*J* Chaerin POV

Ya tuhan, dia menggandeng tanganku. Kenapa dadaku bergetar hebat tadi? Apa yang terjadi?

Saat dibutik tadi, dia juga tak melepaskan pandangannya dariku. Emang, ada yang salah padaku ya? Umma-nya Jinki memang menyuruhku fitting dan mencoba beberapa baju. Tadi ada 2 baju untuk resepsi dan 2 untuk acara pokok di gereja. (*mianhae reader, author cuman ngikutin kepercayaan mereka. So gak ada ijab qobul di masjid dech??).

Jik Ki-ssi tadi mencoba 3 pasang jas, …… sangat tampan, menawan dan elegan.

YA! JANGAN TERLALU TERHANYUT OLEHNYA CHAERIN!

Kalimat itu terngiang ngiang di otakku dan seketika itupun aku memukul kepalaku.

“Kwanchana?” tanya Jinki-ssi padaku.

“Eh, …… ani. Apa kau nanti perlu menyamar lagi?” tanyaku padanya.

“Tak perlu, memangnya siapa yang bakal kau temui?” tanyaku kemudian.

“Teman sebangkuku, yang dulu pernah bertemu denganmu saat kau mengembalikan hpku diparkiran” jelasku padanya.

“Oooo, kalo begitu kenalkan aku padanya ya? Katamu dia SHAWOL” jawabnya.

“Chongmallyo?” selaku.

“Ehm, it’s OK” jawabnya mantap sembari membenahi kacamata hitam yang dipakainya.

Saat tiba di parkiran sekolahku ……

“Kau tunggu di dalam mobil saja ya? Aku akan kebangku didepan itu menunggu Raena. Lagian aku tak mau melihat teman temanku pingsan karena melihatmu” kataku.

“OK!” jawabnya pelan.

Ketika aku turun dari mobilnya dan berjalan ke bangku taman, semua mata memandang kearahku dengan tatapan penuh tanya.

Siapa yang mengantarku dengan mengendarai BMW semewah itu? Mengapa aku tidak masuk sekolah hari ini? Bahkan lelaki atau perempuankah yang didalam mobil itu? Mereka, para yeoja dan namja disekolahku, dengan sengaja memperlambat laju jalan mereka. Melihatku atau melihat mobil yang mengantarku?

Sesaat kemudian, kutatap para yeoja yeoja itu menutup mulut mereka, mata mereka terbuka lebar selebar mulut mereka yang bengong. Mereka berhenti tiba tiba dan memfokuskan pandangan pada satu titik. Dan para namja tak berhenti menggeleng gelengkan kepalanya sembari bengong dan melotot juga. Lalu mereka mulai merangsek mendekat kearahku. Bukan kearahku tapi ke titik itu. Lalu aku menoleh ke titik itu dan membalikkan tubuhku ……

Ya tuhan, Jinki-ssi keluar dari mobilnya, melepas kacamata hitamnya dan berjalan kearahku. Kemudian dia duduk disampingku!

“Waeyo?” tanyanya kemudian.

“Jinki-ssi, mengapa kau keluar dari mobilmu?” tanyaku sambil mendorongnya agar masuk ke dalam mobilnya lagi.

“Katanya kau akan mengenalkan temanmu padaku?” jawabnya mematung, tak bergerak sama sekali.

“Kau tahu kan, kalo yeoja yeoja itu……” kataku sambil melepaskan tanganku dari tangannya.

“SHAWOLS juga?” jawabnya singkat sembari menoleh kearahku.

“IYA!” teriakku.

“Heh? Jangan buat mereka marah dan benci padamu karena membentakku!” jawabnya tak kalah keras.

“Chaerin-ah ……..?” teriakan riang Raena yang kemudian berhenti begitu saja. Dia bengong, mulutnya terbuka lebar, matanya melotot dan diam mematung.

“KAU? …… ” sahutku. Aku langsung menghentikan pertengkaran bodoh ini dan kembali fokus pada Raena yang mematung.

“Raena, kenalkan ini ……” belum selesai perkataanku dan ……

“LEE JINKI SHINee!!!!!!” teriaknya. Buru buru aku menutup mulutnya dan menariknya untuk duduk bersebelahan denganku dan menaruh telunjuk dimulutku. Tanda ‘KAU JANGAN BERISIK’

Raena akhirnya mengangguk setuju dan mengelus dadanya dan mulai menarik nafasnya dalam dalam.

“EHM!” dia akhirnya mendehem tanda tahu apa yang kumaksudkan.

“Jika kau teriak lagi, aku akan membunuhmu tanpa ampun, sekarang juga!” kataku sembari mengarahkan tanganku satunya ke lehernya. Setelah dia tenang dan mengangguk kedua kalinya, aku melepaskan bekapanku di mulutnya.

“Kau tega ya, pada temanmu sendiri?” katanya kemudian setelah bisa bernafas.

“Mianhae” kataku memelas L*

“HEH. APA YANG KALIAN LIHAT. PERGI SANA!” kata Raena sembari mengusir para yeoja dan namja yang sejak tadi memandang kami tanpa berkedip. Dan akhirnya, merekapun pergi, menyerah dengan teriakan Raena yang menakutkan.

“Raena, ini  Lee Jinki. Jinki-ssi, ini Raena temanku” kataku memperkenalkan mereka berdua.

“Halo, Jinki-imnida panggil saja aku Onew” kata Jinki-ssi memperkenalkan diri.

“Waaaaa, seharusnya kau menjadikannya headline lusa Chaerin-ah. Onew SHINee kesekolah kita???” katanya kegirangan.

“Ah, sudah sudah. Aku mau mengambil data disk yang harus aku edit buat lusa. Apa kau bawa?” tanyaku padanya.

“Nih, kalo dah selesai, kabari aku ya? Aku ambil kerumah dech. Boleh nanya nih, ……?” katanya kemudian sambil menyerahkan kepingan data disk padaku.

“Ne?” jawabku sambil memasukkannya kedalam tasku.

“Kok bisa ya, kamu diantar sama Onew-ssi. Emang kenal dari mana?” selidik Raena padaku. Aku ingin menjawabnya tapi tak ingin mengejutkannya. Apakah aku harus berbohong lagi padanya? Pertama, bohong akan penyakitku, kedua bohong akan keberadaan Jinki-ssi. Tiba tiba ……

“Oooo, …… itu. Dia calon istriku” kata Jinki-ssi kemudian. Seketika itu aku langsung membekap mulut Jinki-ssi dan langsung menggeleng kearah Raena yang langsung bengong total untuk yang kedua kalinya.

“Mwohae?” elak Jinki-ssi yang berusaha melepas bekapanku.

“YOU?” teriakku padanya sambil melotot.

“Temanmu harus tahu juga kan?” sahutnya kemudian.

“Eh, Raena, aku buru buru. Kapan kapan kujelaskan ya? Aku permisi dulu dan makasih ya? Bye???” kataku cepat pada Raena sembari menggelandang tangan Jinki  untuk masuk ke mobilnya.

~ ~ ~

Dalam perjalanan pulang ……

*J* Jinki POV

Yeoja ini lucu juga? Saat dia panik, marah, malu dan bingung …… terlihat sangat riang dan manja. Aku semakin penasaran dibuatnya, ekpresinya, kata-katanya dan masakannya juga ……

“Kau sukses membuat temanku kena serangan jantung” katanya padaku. Dia menoleh kearahku, matanya melotot dan menunjukkan wajah sewotnya. Tapi pipinya bersemu merah, bibirnya manyun dan ……. lucu.

“Kenapa kau diam saja?” tanyanya kemudian.

“Ani, aku merasa …… kau lucu saja?” jawabku.

“Lucu, apanya yang lucu? Kau terlau percaya diri. Bagaimana kalo tadi para yeoja itu mengerubungimu? Trus minta tanda tanganmu? Mencubitmu gemas? Menarik narik bajumu? Kau kan tanpa pengawalan tadi?” katanya.

“Lalu, kalo emang begitu, kenapa kau yang cemas?” jawabku enteng.

“Kau!” dia menatapku tajam dan hampir memukulkan tangannya padaku tapi tak jadi. Aku lalu menoleh kearahnya dan mencondongkan tubuhku ketubuhnya. Dia semakin melotot dan mulai membuat barikade dengan kedua tangannya.

Ketika tubuhku hanya berjarak tak lebih dari 10 senti dari tubuhnya, aku merasakan tangannya yan menempel didadaku mulai berusaha mendorongku agar menjauh.

“Apa yang kau lakukan?” katanya mulai panik, napasnya mulai memburu, tangannya mulai lebih kuat mendorong tubuhku. Dalam 5 detik ……

— CUP —

Bibirku sudah mendarat sempurna di bibirnya yang mengatup rapat. Aku mulai memutar kepalaku sedikit kekanan, menempatkan hidungku agar tidak bertabrakan (*tabrakan dengan hidungnya Chaerin gitu???) J*

Aku mulai membuka mulutku agak lebar, supaya bisa mengulum bibirnya. Dia tetap mengatupkan bibirnya rapat rapat, dan sempat kulirik dia yang setengah melotot kaget kearahku. Lidahku mulai bergerak keluar, menyentuh bibir bawahnya dan mulai kuketuk ketukkan. Hal itu kulakukan agar dia mau membuka bibirnya supaya lidahku bisa masuk kedalam bibirnya yang merah merona, lembut, hangat dan menggoda.

“Emmpphhh” desahnya. Mungkin dia mulai kehabisan nafas, tapi bagiku itu terdengar seksi. Akupun semakin gencar dan bergairah untuk kembali mengetuk ketukkan lidahku. Tak terasa, tanganku mulai meraih tengkuknya, kupegang dan mulai kutekan agar dia tidak berusaha melepaskan ciumanku. Sekian lama aku mempermainkan bibirnya, semakin terasa hangat. Tubuhnya mulai melemas, dorongan tangannya semakin mengendur, mungkin dia sudah kehabisan tenaga untuk menolakku.

Lalu, ….. kurasakan bibirnya mulai terbuka pelan pelan. Secara langsung kujulurkan lidahku masuk masuk ke rongga mulutnya dan aku merasasakan lidahnya kelu, tak bergerak. Dia mulai menutup matanya, mungkin merasa ciuman yang kuberikan semakin membuainya. Aku mulai menggerakkan lidahku semakin dalam, hingga menyentuh lidahnya yang terus kupermainkan. Mengapa dia diam saja?

Beberapa detik kemudian, aku mulai menggeser tubuhku lebih dekat kearahnya. Kulepaskan tangan kiriku yang masih memegang setir sedari tadi dan kuarahkan ke tangannya yang masih memblokade dadaku dari tadi. Kulepaskan tangannya dari dadaku dan mulai kupegang erat, lama kelamaan kuremas dan kurasakan tangannya mengendur …… tidak sekencang dan setegang tadi.

Dia mulai bereaksi dengan ciumanku rupanya. Tengkuknya yang kupegang juga semakin melemas, badannya juga tidak setegang tadi saat kumulai menciumnya. Akupun semakin luluasa memainkan lidahnya dan aku tidak tahan untuk tidak menggigit bibir bawahnya.

“Emmmpppphhh …..” desahnya kehabisan nafas. Tiba tiba …… matanya terbuka dan tangannya mendorong kuat tubuhku agar aku melepaskan ciumanku. Akupun menyerah, melepaskan ciumanku lalu tanganku dari tengkuknya.

Ya tuhan, …… tadi itu enak sekali. Ciumannya terasa beda, …… Tiba tiba, dia mengusap bibirnya dan  ……

“Kita sudah sampai, …… bahkan dari tadi sebelum aku menciummu” kataku.

“HEH? Kenapa kau tak bilang?” tanyanya ketus.

“Aku sengaja, …… karena ingin menciummu” jawabku singkat.

Tiba tiba yeoja itu menatapku tajam, matanya nanar dan merah. Lalu, …… ada air mata menetes dipipinya.

“Did you know something?” katanya sembari menahan tangisnya.

“What?” tanyaku.

“That was my first kiss!” katanya sembari keluar dari mobilku dan berlari kedalam rumahnya.

Aku masih terpaku diam, aku diliputi rasa heran dan kaget. Lalu aku tersenyum sendiri dan ……

“Exactly, that was my first kiss too … my real kiss …” kataku sendiri.

Diotakku sekarang hanya ada kata kata yang terus berkeliaran ……

“Aku ingin menciumnya lagi dan lagi, bahkan secara sembunyi sembunyi ataupun dihadapan orang banyak. Ciumanmu sungguh beda Chaerin…. Saat aku menciummu, kurasakan ada kepasrahan, penderitaan yang dalam, kesendirian, keinginanmu bersama seseorang yang bisa menerimamu apa adanya dan melindungimu. Mungkihkah aku seseorang itu?”

~ ~ ~

Ketika sampai di dorm ……

*J* Jinki POV

“Hyung, …… “ sapa Jjong yang baru pulang dari gym.

“Hyung, kau sudah kembali” kata Minho keluar dari kamar mandi.

“Ehm, … ne” jawabku singkat.

“Yeobo, ottohke?” tanya Key yang tiba tiba duduk disebelahku, mengapit tanganku dan tersenyum nakal.

“Kau! ……” decakku heran.

“Waeyo? Palli palli, mumpung Baby belum pulang” runtuk Key memohon.

“Arasso!” kataku kalah telak oleh ketiga dongsaengku ini. Setelah mendengar jawabanku, mereka bertiga duduk diam tak bergerak dan mata mereka terfokus kearahku semua. Seakan-akan ingin menelanku hidup-hidup dan rasanya nafasku sesak karena pandangan mereka.

“Saat selesai bertemu Umma dan Appaku, yeoja itu pingsan. Dan Appa langsung memanggil Dokter Jung dan Umma langsung menelfonku kemarin. Ya Tuhan …… yeoja itu pingsan lebih dari 6 jam dan itu membuatku takut, karena aku belum pernah mengalami hal ini sebelumnya” jelasku lalu menghela nafas sebentar.

“Trus, …… oje pame?? Ottohke?” tanya Jjong kemudian.

“Saat makan malam dia sadar dan Umma menyuruhku menemaninya” jelasku lagi.

“Menemaninya?” tanya Key.

“Ne, aku tidur disofa” kataku yang seketika disambut tatapan kecewa mereka.

“Aaaiiiisssshhhh” desah semua dongsaengku ini.

“WAEYO??” tanyaku heran.

“Lalu?” tanya Minho yang sedari tadi diam.

“Aku sebenarnya tidak bisa tidur. Dan yeoja itu pingsan lagi saat membenahi selimutku” terusku kemudian.

“Selimutmu?” tanya Jjong penasaran.

“Ehm, …… kubopong ke tempat tidur karena aku bingung tak tahu harus bagaimana. Kutuang minyak angin ketubuhnya yang sangat dingin dan menggosok-gosok punggungnya agar hangat dan kembali sadar” jelasku sambil menyandarkan bahuku di sofa.

“Cieeee, …… lalu?” tanya Minho sambil tersenyum.

“Aku tak bisa menahan kantuk hingga tertidur disampingnya sampai pagi” kataku mengakhiri cerita ini.

“DAEBAK DAEBAK hyung!!” tepukan tangan mereka riuh terdengar ditelingaku.

“KALIAN! ITU TAK SEBERAPA!” kataku setengah berteriak kini.

“HEH!” tepukan tangan mereka serempak berhenti dan langsung bengong memandangku.

“Aku mengantarnya kesekolah karena ada keperluan dan membuat sekolah itu heboh akibat kemunculanku. Tapi ada satu hal yang tidak aku mengerti sampai saat ini ……” kataku yang enggan meneruskan.

“Ayolah hyung …… teruskan …?” rajuk Key dengan puppy eyes-nya yang membuatku tak tega.

“Dalam perjalanan pulang tadi …… ehm …… I kissed her” jelasku malu yang kini menutup seluruh wajahku dengan bantalan kursi yang sedari tadi kupeluk.

Ketika aku membuka bantalan kursi dari wajahku, aku hanya bisa melihat ketiga dongsaengku ini dengan wajah semerah tomat, mulut menganga lebar, terbengong seperti habis tersengat listrik.

Key beringsut berdiri, menyilangkan tangannya didepan dadanya sambil merengut menahan amarah. Ya, …… aku tahu kalo Key sangat manja padaku dan sudah seperti ‘istri’ pertamaku. Pantas saja buatnya untuk marah karena ‘suaminya’ akan mempunyai istri lain.

Sedangkan Minho yang masih polos tapi tak sepolos Taemin berdiri dengan mata yang terus bergerak dan memegang bibirnya terus. Seakan dia kaget dengan kata ‘ciuman’ tadi atau bahkan mungkin membayangkan bagaimana aku berciuman tadi.

Lalu, si ‘Cassanova’ yang malahan duduk disampingku dengan terus tersenyum dan mengerlingkan sebelah matanya padaku. Dialah dongsangku yang memang merasa lebih ‘dewasa’ dari aku. Dan aku tahu maksud dari senyuman nakalnya itu.

“YA! KALIAN!!” teriakku kini.

“Yeobo, kau menghianatiku. Keundae, …… kwaenchana, setidaknya kau normal karena suka pada wanita” kata Key yang tadi merengut kini telah tersenyum lagi.

“Hyung, …… ppoppo …… ottohke?” tanya Minho yang terlihat semakin penasaran dan terus mondar-mandir sambil memegang bibirnya.

“Chukkae. Isn’t it sweet?” kata Jjong yang mengambil remote dan menyalakan TV.

“Ne ne ne …… my sweetest first kiss” kataku menyandarkan kepalaku ke bahu Jjong.

“YEOBO!! IGE MWOYA!!” lompat Key kemudian.

Seketika itu aku ikut melompat dan semua terfokus melihat ke layar TV ……

Bagaimana hal ini terjadi secepat itu??

J To Be Continued J

Don’t be passive reader, your critics and suggestions could make anyone or anything better.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

80 thoughts on “A Year Love Story Part 4 : Still In February [2.2]”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s