Poster_Married By Accident

Married By Accident – Part 2

Author : Yuyu

Editor : Galih

Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Han Younji

Support Cast :

  • Choi Minho
  • Son Shinyoung (Oc)
  • Kim Jonghyun
  • Kim Hyunji (Oc)
  • Lee Taemin
  • Hwang Jungmi (Oc)
  • Key

Length : Sequel

Genre : Romance, Sad, Friendship

Rating : PG – 15

MARRIED BY ACCIDENT

Onew kembali menyeruput Iced Americano miliknya yang mulai habis sambil sesekali melirik ke arah yeoja yang tertunduk dihadapannya.

“Jadi…” Onew meletakkan gelas plastiknya lalu mencondongkan tubuhnya dengan perlahan, “Kau yakin dengan kata-katamu tadi? Maksudku, tentang menikah?”

Younji menarik nafas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan oksigen sebanyak yang ia mampu sebelum menghembuskannya kembali dan mengangkat wajahnya untuk menatap Onew dengan lekat.

“Onew-ssi, kau sudah menanyakan hal itu lebih dari tiga kali, dan sudah sebanyak itu pula aku menjawab pertanyaanmu. Aku yakin, sangat yakin. Jadi jangan tanyakan hal itu lagi.” gerutu Younji.

Onew meluruskan tubuhnya dan menggangguk pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

“Kalau begitu, kurasa aku harus menjelaskan beberapa hal padamu. Seperti yang kukatakan waktu itu, aku tidak menginginkan sebuah pernikahan yang didasarkan pada kontrak ataupun perjanjian. Kita akan menikah, dan menjadi suami-istri yang sah. Meski tidak didasari oleh cinta, aku akan memperlakukanmu dengan baik—layaknya seorang istri yang kucintai, layaknya sahabat yang memiliki arti penting dalam hidupku. Apa kau juga bisa memperlakukanku seperti itu?”

Younji mengangguk sebagai ganti jawaban yang diberikan pada Onew. Ia masih merasa ini adalah hal yang konyol, keputusan terbodoh yang pernah ia buat dalam hidupnya. Tapi, jika inilah satu-satunya cara agar dia bisa terlepas dari penderitaannya yang seolah tak berujung, ia tidak punya pilihan lain. Ia tak bisa lagi bertahan di dalam neraka itu. Cepat atau lambat, ia pasti akan terseret semakin dalam dan tidak akan bisa menemukan jalan keluar. Sebelum hal itu terjadi, ia harus meraih tangan pertama yang mampu ia raih. Dan untuk saat ini, setelah ia melepaskan genggaman tangan Minho yang hangat, hanya ada Onew yang mengulurkan tangannya. Ketika nama Minho terbersit di benak Younji, tubuhnya bergetar pelan. Seluruh kenangan manis yang mereka miliki kembali muncul di permukaan, menambah perih di luka Younji yang sama sekali belum mengering.

“Younji-ssi? Kau baik-baik saja?” tanya Onew yang bisa melihat perubahan ekspresi di wajah Younji yang sekarang memucat. Lagi-lagi Younji mengangguk sebagai jawaban, kali ini dengan agak ragu.

Onew memicingkan matanya, jelas sekali ia tidak mempercayai kebohongan Younji. Tapi, ia tidak ingin memaksa Younji untuk mengatakan sesuatu yang akan membuatnya merasa tidak nyaman. Onew mengangkat pundaknya dengan cuek sebelum melirik jam tangannya.

“Kita harus pergi sekarang kalau kita tidak mau terlambat.” ujar Onew agak terburu-buru sambil menyambar gelas kopinya, menyesapnya untuk terakhir kali lalu mengisyaratkan pada Younji untuk ikut berdiri.

“Memangnya, kita mau ke mana?” Younji memberanikan dirinya untuk bertanya.

“Apa aku belum mengatakannya padamu? Kita akan makan malam dengan Eunri-ssi.”

Younji mengerutkan keningnya saat mendengar nama asing yang meluncur dari mulut Onew sementara namja itu melangkah keluar café tanpa memedulikan raut kebingungan di wajah Younji.

“Onew-ssi…” panggil Younji setelah Onew dengan cepat meninggalkannya. Onew menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya sambil menatap Younji dengan tatapan datar yang selalu terpancar dari matanya.

“Berhentilah menggunakan bahasa formal padaku. Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, biasakan dirimu untuk berbicara dengan santai, mengerti?”

***

“Kemarilah, Younji.” panggil Nyonya Lee dengan suara yang sangat bersahabat sambil menarik tangan Younji. Younji menoleh ke belakang dan melotot pada Onew saat Nyonya Lee terus saja menariknya masuk ke dalam sebuah butik bridal. Onew hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya sebagai bentuk dukungan pada Younji.

Onew duduk di sebuah sofa panjang berwarna merah tua dan mengambil sembarang majalah yang berada di tumpukan teratas di meja sambil sesekali memerhatikan Younji dan Nyonya Lee yang berdiri di depan deretan gaun putih. Sesekali Nyonya Lee akan menunjuk sebuah gaun yang dirasanya bagus pada Younji dengan wajah berbinar, sementara Younji menggeleng dengan sopan untuk menolak gaun pilihan Nyonya Lee yang terasa sangat WAH bagi Younji.

Onew terkekeh sepelan mungkin saat melihat tingkah lucu kedua orang wanita itu. Onew kembali menatap Younji, kali ini dengan wajah serius. Wanita itu kelak akan menjadi istrinya dalam hitungan hari. Semuanya berlangsung dengan sangat cepat hingga Onew tidak benar-benar yakin apakah ini adalah kenyataan atau hanya mimpi belaka.

Roda kehidupannya berputar sepuluh kali lebih cepat dari yang ia bayangkan. Setelah Younji menyetujui lamarannya yang cukup dadakan, ia langsung membawa Younji untuk menemui Nyonya Lee pada malam hari. Dan keesokannya, di sinilah mereka sekarang. Di sebuah butik bridal untuk mengepas gaun pengantin yang akan dipakai Younji 6 hari dari sekarang.

“Jinki-ya, bagaimana pendapatmu tentang gaun ini?” Nyonya Lee menarik sebuah gaun keluar dari barisannya lalu memamerkannya pada Onew. Onew memicingkan matanya dan menggeleng. Gaun itu terlalu mewah, dan Onew yakin Younji pun tidak akan suka memakainya. Onew beranjak dari tempat duduknya, merangkul Nyonya Lee yang tengah memberengutkan wajahnya.

“Jangan cemberut, Eunri-ssi. Gaun itu memang bagus. Tapi kurasa, gaun itu tak akan bisa memperlihatkan pesona yang dimiliki Younji.” hibur Onew. Masih dengan wajah yang cemberut, Nyonya Lee menyetujui kata-kata Onew.

Onew melepaskan rangkulannya, melihat gaun-gaun itu sekilas lalu menarik sebuah gaun berwarna putih krem yang sangat polos. Onew mengangkat gaun itu, meletakkannya dihadapan Younji, seolah-olah wanita itu tengah memakai gaun itu sekarang.

“Cobalah yang ini. Kupikir ini akan terlihat cocok untukmu.” ujar Onew. Younji mengangguk dengan senang hati, bersyukur karena Onew memilihkan sebuah gaun sederhana untuknya. Seorang pelayan wanita membawa Younji untuk mencoba gaun yang dipilih oleh Onew. Setelah kain tirai tertutup dan sosok Younji menghilang dibaliknya, Nyonya Lee mendorong pundak Onew dengan pelan, memintanya untuk ikut mencoba tuxedo.

“Bagaimana? Apakah kau suka modelnya?” tanya Nyonya Lee setelah Onew keluar dari ruang ganti.

“Ya, aku suka.” jawab Onew singkat.

“Aigoo, anakmu memang sangat tampan!” puji Nyonya Lee.

“Tentu saja, karena aku memiliki seorang Eomma yang sangat cantik.” Onew balas memuji Nyonya Lee. Selang beberapa detik, hp Onew berdering lalu ia berjalan keluar untuk mengangkat telponnya karena suara-suara berisik dari dalam butik menganggu pendengarannya.

“Nona Younji sudah selesai memakai gaunnya.” salah satu pelayan wanita yang tadi membantu Younji memakai gaunnya memberitaukan Nyonya Lee tentang kesiapan Younji. Tirai terbuka, sosok Younji yang kini telah terbalut gaun putih krem—meski tidak terlihat mewah—membuat Nyonya Lee memandangnya dengan kagum. Nyonya Lee berjalan mendekati Younji, ia ingin melihat sosok calon menantunya dengan lebih saksama.

“Kau terlihat sangat cantik, sangat memesona.” puji Nyonya Lee tulus. Pipi Younji yang merona semakin membuat sosoknya terlihat berkilau. Younji tersenyum malu-malu, merasa senang atas pujian yang diberikan oleh Nyonya Lee.

“Gaun itu sangat cocok untukmu.” kata Onew yang tiba-tiba saja sudah berada disamping Nyonya Lee. Younji tersentak pelan dengan kehadiran Onew yang begitu mengejutkannya. Sementara Onew tidak bisa melepaskan pandangannya dari Younji, Younji pun tidak bisa melepaskan pandangannya dari Onew.

Sosok pria yang selama ini memiliki aura yang begitu mengintimidasi dirinya, kini berubah menjadi sosok yang penuh dengan kharisma. Bagaimana bisa auranya tiba-tiba berubah? Ataukah selama ini Younji yang tidak menyadari kharismanya?

“Kalian terlihat sangat serasi. Bolehkah kami memotret kalian dan memajangnya di butik kami?” tanya pelayan wanita yang dari tadi berdiri di belakang Nyonya Lee.

Onew menatap Younji, bertanya tanpa mengatakan apapun. Younji yang mengerti maksud pertanyaan Onew hanya menggeleng dengan sangat pelan, tidak ingin terlihat tidak sopan karena menolak permintaan pelayan butik tersebut tapi juga tidak ingin menerima permintaan mereka.

“Tentu.” jawab Onew, sama sekali menghiraukan jawaban Younji. Onew berdiri disamping Younji, meletakkan tangannya di pinggang Younji dengan lembut.

“Kenapa kau tidak menolak permintaan mereka?” Younji bertanya sambil berbisik sepelan mungkin.

“Kenapa? Apa salahnya kalau mereka memotret kita?” Onew balik bertanya.

Younji menghela nafas pelan dan menundukkan wajahnya. Mungkin karena Onew memiliki wajah yang rupawan, makanya ia sama sekali tidak keberatan jika orang-orang melihat wajahnya yang terpajang di butik ini. Tapi lain halnya bagi Younji, hanya membayangkan orang-orang datang ke butik ini dan melihat foto dirinya saja sudah membuat ia bergidik ngeri.

“Jangan minder…” bisik Onew, ibu jari dan telunjuknya menyentuh dagu Younji lalu mengangkat wajahnya dengan perlahan, “Karena kau adalah pengantinku, dan kau cantik.” lanjut Onew. Sedetik kemudian, Onew mengecup pipi Younji.

KLIK !!

Pada saat yang bersamaan, pelayan itu menjepretkan kameranya dan tersenyum puas dengan pose yang ia dapat.

“Terima kasih banyak.” ucap pelayan itu dengan sopan.

Younji menoleh pada Onew, menatapnya dengan mata terbelalak. Dalam pernikahan mereka yang akan datang, tidak akan ada kontrak. Itu berarti tidak akan ada peraturan khusus apapun antara mereka, lalu bagaimana dengan skinship? Bagaimana dengan hubungan suami-istri lainnya? Mengapa hal itu baru terpikirkan oleh Younji setelah Onew mengecup pipinya?
Younji menelan gumpalan besar ditenggorokkannya. Ia bisa saja memperlakukan Onew sebagai keluarga, karena ia bisa mulai belajar melakukannya. Tapi selebihnya? Apa yang bisa Younji lakukan? Karena bagaimanapun juga, mereka hanyalah orang asing yang memutuskan untuk berkomitmen dalam ikatan pernikahan, dalam nama Tuhan.

***

“Hyung, sudah lama kau tidak ke sini.” sapa Taemin saat melihat Onew masuk ke dalam kamarnya.

“Yah, aku agak sibuk akhir-akhir ini. Di mana Jonghyun?”
”Jonghyun hyung sepertinya kerja lembur lagi.” Taemin mengernyit.

“Dia.. terlalu memaksakan diri, huh?” timpal Onew yang ditanggapi dengan anggukan setuju oleh Taemin.

“Omong-omong, apa yang membuatmu datang, Hyung?” tanya Taemin mengalihkan pembicaraan yang bisa menjurus pada Hyunji. Tidak hanya Jonghyun, Taemin pun sangat merindukan kakak perempuannya yang kejam itu, kakak perempuan yang tak penah sekalipun memberikan kabar pada adiknya sendiri. Mungkin Hyunji takut kalau Taemin akan membocorkan keberadaannya saat ini kalau dia memberikan sedikit saja informasi, makanya Hyunji memilih untuk tidak mengabari siapapun—baik Younji maupun Taemin, pikir Onew.

“Aku hanya ingin memberikan undangan untuk hari Sabtu nanti.” Onew mengeluarkan sebuah undangan dan menyodorkannya pada Taemin.

Taemin memiringkan kepalanya dan kembali mengernyit, “Hyung akan menikah? Dengan Younji noona!?” tanya Taemin tak percaya.

“Han Younji? Benarkah itu?” sahut Jonghyun yang muncul dari balik pintu dengan sedikit raut kelelahan di wajahnya.

“Hyung, kau sudah pulang!” ujar Taemin kegirangan. “Apa kau sudah makan? Mau kubuatkan sesuatu?” tawar Taemin dengan bersemangat.

“Tentu.” Jonghyun terkekeh pelan lalu menepuk punggung Taemin sebelum laki-laki berambut jamur itu melesat keluar. Jonghyun mengerti benar mengapa Taemin memperlakukannya dengan begitu baik. Dia tidak punya keluarga lain selain Hyunji. Dan sekarang, setelah Hyunji juga pergi, maka hanya tersisa Jonghyun yang bisa dia anggap sebagai keluarga, yang bisa dia perhatikan. Jonghyun menatap sosok Taemin yang telah menghilang dibalik pintu selama beberapa detik sebelum kembali menatap Onew.

“Kau akan menikah dengan Younji?” tanya Jonghyun lagi.

“Well, begitulah.” jawab Onew dengan santai, nyaris acuh.

“Yang kuingat, terakhir kali kau berkata bahwa kau tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Tapi sekarang, tiba-tiba saja kau datang dengan sebuah undangan pernikahan. Apa-apaan ini?” Jonghyun menuntut penjelasan yang lebih rinci lagi dari sahabatnya.

“Bukankah ini adalah hal yang bagus? Harusnya kau senang karena temanmu ini akhirnya jatuh cinta lagi dan memutuskan untuk membangun sebuah keluarga.” kilah Onew. Meski Onew sama sekali tidak memiliki rasa cinta pada Younji, ia tetap merasa jika sudah seharusnya orang luar berpikir bahwa cinta lah yang menjadi alasan dibalik pernikahan mereka. Bukan karena Onew tidak ingin dipandang miring, tapi ia tidak ingin pandangan orang-orang pada Younji nantinya menjadi buruk.

“Tapi kau juga tau kan, pernikahan adalah hal yang serius.” Ada setitik rasa penyesalan dalam sorot mata Jonghyun, seolah sedang memperingati Onew agar tidak menjadikan pernikahan sebagai sebuah permainan atau dia akan berakhir seperti dirinya saat ini.

“Aku tau, aku tau.” Onew menepuk pundak Jonghyun dengan pelan, mengerti benar apa yang sedang Jonghyun coba sampaikan, “Tapi percayalah, aku akan menjaga Younji dengan baik. Aku tidak akan menyakiti, apalagi mempermainkannya. Aku akan menjaganya seperti aku menjaga diriku sendiri.”

“Tapi kau bahkan tidak menjaga dirimu dengan benar.” gurau Jonghyun.

“Yaah!” Onew mengarahkan kepalan tangannya ke dada Jonghyun dan menghantamnya dengan pelan sebelum mereka berdua tertawa bersama.

“Jadi, bagaimana dengan Lee Eommonim? Apakah dia menerima Younji?”

“Dia bahkan sangat senang.” Onew tak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk tidak tersenyum mengingat sikap Nyonya Lee yang semakin kekanak-kanakan belakang ini sejak bertemu dengan Younji. Senyuman di wajah Onew yang memudar dalam hitungan detik selanjutnya tak luput dari pengamatan Jonghyun.

“Ada apa?” tanya Jonghyun perhatian.

“Seharusnya aku senang karena aku akan menikah dua hari lagi, bukan?” Onew menatap Jonghyun dan menunggu sebuah jawaban. Setelah Jonghyun menjawab ‘iya’, Onew tertawa garing dan menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamar Taemin yang berwarna lemon chiffon sambil menghela nafas panjang.

“Benar, seharusnya aku bahagia. Tapi besok pasti akan menjadi hari yang panjang. Hari yang menyebalkan.” Onew menggerutu pelan.
”Besok adalah akhir pekan terakhir dalam bulan ini.” lanjut Onew setelah melihat raut kebingungan yang masih terpancar di wajah Jonghyun. Mendengar penjelasan singkat dari Onew, kerutan di kening Jonghyun langsung menghilang dan mulutnya terbuka lebar membentuk huruf O besar.

“Makan malam rutin dengan Lee Eommonim, huh?” terka Jonghyun yang hanya mendapatkan helaan nafas Onew sebagai jawaban.

“Sudahlah, jangan terlalu kau pusingkan. Toh, kau sudah menjalani ritual makan malam itu lebih dari 8 tahun.” Jonghyun mencoba menghibur Onew, meksi hal itu sama sekali tidak ada efek apapun bagi Onew.

***

“Bukankah kau bilang kita akan makan malam dengan Eommonim?” tanya Younji kebingungan setelah mobil yang dikendarai Onew masuk ke dalam pekarangan rumah mewah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dan jelas rumah ini berbeda dengan rumah Nyonya Lee yang waktu itu ia kunjungi.

Onew menghela nafas pelan sambil menggigiti bibir bawahnya, entah karena ragu atau kesal. Tangannya mencengkram stir kemudi dengan erat, sedang menimbang-nimbang antara kembali melajukan mobilnya keluar dari pekarangan ini atau justru turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang terlihat begitu mengerikan di matanya.

“Onew-ssi?” panggil Younji untuk menyadarkan Onew yang berada di dunianya sendiri.

“Huh?” gumam Onew.

“Bukankah kita akan makan malam dengan Eommonim?” Younji mengulang kembali pertanyaan meski rasa kesal menjalarinya karena ternyata Onew tidak mendengarkan pertanyaannya sejak awal.

“Oh, memang benar.” jawab Onew singkat.

“Tapi ..” Younji menghentikan kata-katanya. Ia kembali menatap rumah mewah yang menjulang dihadapannya. Benarkah rumah ini tidak sama dengan rumah Nyonya Lee yang ia kunjungi waktu itu, atau hanya perasaannya saja?

Onew menghiraukan kebingungan Younji dan justru turun dari mobil, dengan cepat telah berada di sisi mobil lainnya untuk membukakan pintu bagi Younji.

“Kita sudah terlambat, sebaiknya kita segera masuk.” saran Onew. Younji turun dari mobil dengan perlahan-lahan, tidak ingin sepatu berhaknya membuat ia terjatuh karena kehilangan keseimbangan.

“Dan, bukankah sudah kukatakan padamu untuk berhenti menggunakan bahasa formal padaku? Kau memanggil namaku dengan begitu formal, padahal besok kita sudah akan menikah. Tidakkah menurutmu itu aneh?” tanya dengan nada yang agak memaksa.

“Oh…” jawab Younji pelan. Ia memang tidak begitu mengenal Onew, tapi selama beberapa hari ini mereka terus bertemu untuk mengurus segala hal tentang pernikahan mereka—yang sebagian besar dikerjakan oleh Nyonya Lee—dan dari beberapa hari itu, Younji belum pernah melihat Onew gelisah seperti ini. Ke mana perginya sosok Onew yang tenang dan lembut itu?

“Kalian hampir saja terlambat.” Nyonya Lee langsung menyambut mereka begitu pintu utama terbuka. Tanpa basa-basi, Nyonya Lee langsung merangkul Younji dan menariknya ke ruang makan tanpa memedulikan Onew yang masih bermuka masam di belakang mereka.

Kali ini, Younji yakin bahwa rumah ini bukanlah rumah yang sama dengan yang ia kunjungi beberapa hari lalu. Jelas berbeda. Selain perabotan mewah yang menghiasi setiap sudut ruangan rumah ini—meskipun rumah Nyonya Lee juga dipenuhi barang-barang mewah—letak ruangannya pun berbeda. Belum sempat Younji menyuarakan rasa penasarannya, mereka telah sampai di ruang makan.

Berbeda dengan makan malam sebelumnya yang hanya dihadiri oleh tiga orang—Nyonya Lee, Onew dan dirinya—kali ini ada sepasang pria dan wanita yang berusia diatas 40 tahun tengah duduk di meja makan—seperti sedang menanti kehadiran mereka, dan juga seorang pria yang terlihat seumuran dengan Younji dan Onew.

“Jadi, inikah calon istri Jinki? Kau bisa memanggilku Tuan Kim, ini adalah anak dan istriku.” jelas pria paruh baya itu dengan senyum yang membuat Younji bertanya-tanya. Di mana ia pernah melihat pria itu—di mana ia pernah melihat senyum itu? Younji tersenyum tipis sebagai jawaban.

“Kibum-ah, kau tidak mau mengucapkan salam pada tamu kita?” panggil Tuan Kim sambil menyenggol lengan anaknya—Kibum yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya. Kibum yang namanya dipanggil mengangkat wajahnya dengan malas lalu terbelalak dan mengarahkan jari telunjuknya pada Younji.

“Kau…” Kibum menghentikan kata-katanya lalu melirik Onew dengan tajam. Kibum menyeringai dengan tatapan mencemooh.

“Apa kalian.. saling mengenal?” tanya Tuan Kim.

“Tentu, bukankah begitu, Younji-ssi?” tanya Kibum dengan sinis, membuat bulu kuduk Younji berdiri. Untuk alasan tertentu, Younji yakin ia dapat merasakan kebencian yang dipancarkan oleh Kibum untuknya.

Setelah sedikit basa-basi yang agak canggung, hidangan pembuka mulai disajikan. Onew menyantap makan malamnya tanpa benar-benar menikmati rasanya. Ia menjadi lebih diam malam itu. Younji bahkan belum mendengar sepatah kata pun yang Onew lontarkan sejak masuk ke dalam rumah ini.

“Tidak kusangka kalau Jinki akan menikah diusia semuda ini.” kata Nyonya Kim memulai percakapan ringan selama makan malam berlangsung.

“Oh, tentu saja. Karena Jinki adalah anakku, dia adalah anak yang hebat.” balas Nyonya Lee sambil tersenyum manis. Hanya perasaan Younji saja, atau memang ada sesuatu dalam tatapan yang dibagi oleh Nyonya Lee dan Nyonya Kim? Sesuatu yang terlihat seperti, persaingan?

Satu jam kemudian, hidangan penutup telah selesai disajikan. Onew beranjak dari tempat duduknya dengan cepat dan pergi ke toilet masih tanpa mengucapkan apapun sementara Nyonya Lee dan sepasang suami-istri tadi juga sudah menghilang entah ke mana.

Younji bangkit dari tempat duduknya, hendak menyusul Onew. Ia merasa tidak nyaman seorang diri di rumah yang tidak ia kenal.

“Jadi, karena dia?” tanya Kibum yang kehadirannya ternyata masih ada ditempat yang sama dengan Younji. Younji terlonjak kaget, tapi segera menenangkan perasaannya kembali.

“Jadi, kau membatalkan pernikahanmu dan Minho karena pecundang itu?” tanya Kibum dengan tatapan tajam.

“Key-ah..” Younji memanggil Kibum dengan nama panggilan yang memang lebih sering digunakan oleh teman-temannya.

“Aku sungguh tidak mengerti mengapa Minho begitu mencintaimu, padahal kau sudah melukainya seperti ini. Bahkan sampai detik ini, dia tidak pernah berhenti memikirkanmu. Sampai detik ini juga, dia tidak pernah membuka mulutnya untuk mengatakan alasan mengapa pernikahan kalian batal. Yang membuatku lebih marah lagi adalah, mengapa Minho masih saja melindungi wanita yang jelas-jelas telah merenggut senyuman dari wajahnya!?” sentak Key dengan suara meninggi, tak mampu lagi menahan emosinya.

Younji melangkah mundur, merasa terpojok dengan pertanyaan Key. Tidak seharusnya Key menghakimi Younji jika dia bahkan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Younji juga tidak bisa menyalahkan Key yang berada di pihak temannya.

“Bisakah kau bicara lebih sopan padanya? Atau kau memang tidak memiliki sopan santun?” hardik Onew yang telah kembali dari toilet. Key ganti menatap Onew dengan tajam, tatapannya terasa menyayat orang yang sedang ia tatap.

Key berdecak pelan, berjalan melewati Younji dan Onew serta dengan sengaja menyenggol pundak Onew cukup keras. Onew menghembuskan nafas dengan kasar, menahan dirinya sendiri agar tidak mengejar Key dan langsung menghajar.

“Ayo pulang.” ajak Onew pada Younji. Masih terdengar nada kekesalan di suara Onew meski sebisa mungkin ia telah mencoba untuk berbicara lebih halus pada calon istrinya.

***

Onew duduk diatas karpet putih di ruang nontonnya yang gelap sambil bersandar di sofa dan menuangkan Cabernet Sauvignon—anggur merah kesukaannya—buatan tahun 1997 ke dalam gelas dengan perlahan.

Onew menjepit gelas itu menggunakan ibu jari dan telunjuk, mengangkatnya ke udara dan memutar-mutar gelas itu sehingga anggur merah di dalamnya ikut berputar pelan. Onew menarik tangannya turun, menyesap anggur merah itu dalam satu tegukan setelah ia menghirup aromanya selama beberapa detik.

“Aku sudah selesai membereskan semuanya.” kata Younji yang masih memakai pakaian yang sama dengan yang ia kenakan saat makan malam tadi.

“Kemarilah.” panggil Onew tanpa menoleh seinci pun. Younji menuruti kata-kata Onew, duduk disamping pria yang kembali menuangkan anggur merah ke dalam gelasnya sambil menekuk lutut nya tanpa berkata apa-apa.

“Kau kenal dengan Key?” tanya Onew, lagi-lagi tidak menoleh pada Younji. Mata Onew terus terarah pada layar televisi yang menampilkan film klasik hitam-putih berjudul She Done Him Wrong.

“Ya, dia teman dari temanku.” jawab Younji, enggan menyebutkan nama Minho. Entah karena dia tidak ingin pria disampingnya ini mendengar nama Minho terucap dari mulutnya, atau karena Younji sendiri yang masih terluka setiap kali ia mengucapkan nama Minho?

Untuk pertama kalinya, Onew menoleh pada Younji. Wajah wanita itu terlihat pucat dibawah bayang-bayang sinar bulan yang menerobos masuk dengan malu-malu melalui tirai jendela yang tipis. Onew berdeham pelan dan meletakkan gelas anggurnya diatas meja kaca. Matanya kembali terarah pada layar televisi, mendengar Lady Lou mengucapkan kalimatnya yang terkenal ‘why don’t you come up sometime and see me?’ kepada Capt. Cummings.

“Apa alasan yang membuatmu membatalkan pernikahanmu waktu itu?” tanya Onew yang tak lagi bisa menutupi rasa penasarannya. “Kupikir kalian saling mencintai?” Onew mengernyit mendengar kata-katanya sendiri.

Cinta… Kata-kata itu semakin terdengar asing ditelinga Onew. Seolah kosakata itu telah menghilang dari kamusnya.

“Karena aku adalah wanita bodoh yang tidak bisa bersikap egois.” tutur Younji, tidak membuat Onew puas dengan jawaban Younji yang mengambang. Tapi ia tak memaksa Younji untuk menjelaskannya dengan lebih rinci.

Kecuali suara dari layar televisi dan kendaraan dari luar apartemen, tidak ada suara lain yang terdengar.

“Bolehkah aku bertanya?” Kali ini gantian Younji yang bertanya. Ia masih merasa canggung di dekat Onew. Sulit baginya untuk berpura-pura kalau hubungan mereka sangat dekat dan dia bebas bertanya sesuka hatinya. “Siapa pasangan suami-istri Kim itu?” lanjut Younji setelah Onew mempersilakan. Younji bisa melihat tubuh Onew menegang saat pertanyaan itu keluar. Dari lamanya jeda jawaban yang tak kunjung diberikan oleh Onew sejak pertanyaannya keluar, Younji menyimpulkan mungkin Onew juga sama seperti dirinya, masih tidak terbiasa untuk berbagi terhadap satu sama lain.

“Laki-laki itu…” Onew menghentikan kata-katanya, meneguk Cabernet Sauvignonnya sekali lagi dalam satu tegukan, kemudian melanjutkan kata-katanya, “Karena dia ada, maka aku ada.”

“Dia adalah Appa mu?” Tanya Younji tak yakin. Tapi pertanyaan ini sekaligus menjawab pertanyaannya yang lain. Wajar saja ia merasa familiar dengan senyum Tuan Kim, karena Onew memilik senyum yang sama dengannya.
Onew mengatupkan rahangnya dengan erat saat ia hampir saja mengeluarkan kata-kata yang kasar. Onew menenangkan dirinya dan kembali menjawab pertanyaan Younji, “Pria itu mengumbar sejuta janji manis pada Eunri-ssi kurang lebih dua puluh tahun yang lalu. Lalu dengan seenaknya pria itu menabur benihnya dan justru pergi meninggalkan Eunri-ssi saat tau bahwa ternyata aku telah ada di dalam rahin Eunri-ssi. Waktu itu, Eunri-ssi masih kelas 3. Padahal hari kelulusannya tidak sampai setengah tahun lagi. Tapi karena ada aku, ia tidak menyelesaikan sekolahnya.”

Lagi-lagi Onew menghentikan kata-katanya dan tertawa selama beberapa detik, entah karena rasa marahnya pada orang yang tidak bertanggungjawab itu, atau rasa syukurnya karena ia pernah berada di dalam rahim seorang Ibu yang luar biasa.

“Saat Eunri-ssi memutuskan untuk membiarkanku terus tinggal di dalam rahimnya selama 9 bulan lebih, pria itu menghilang. Tidak ada kabar apapun yang dia berikan, tidak ada juga jejaknya yang tertinggal. Saat Eunri-ssi memberikan kesempatan padaku untuk melihat dunia yang belum pernah kulihat, pria itu tetap tak pernah muncul. Kalimat pertama yang kuucapkan adalah ‘Eomma’, sementara kata ‘Appa’ telah terblokir dari kamusku. Meski terkadang aku mendambakan sosok seorang Appa, tapi aku sudah puas dengan memiliki Eomma yang luar biasa. Dan tiba-tiba saja, pria tidak tau malu itu datang dalam kehidupan kami, mengakuiku sebagai anaknya padahal ia tak pernah berada di sisiku setiap kali aku terjatuh ketika sedang belajar berjalan.” Ada dorongan emosi yang membuat mata Onew berkaca-kaca. Tapi cahaya yang remang-remang berhasil menyamarkan butiran airmata yang telah tergenang di pelupuk matanya.

“Jadi, apa yang kau rasakan tentang dirinya—Tuan Kim?”

“Aku membencinya.” jawab Onew tanpa ragu.

“Bagaimana pun juga, dia adalah Appa mu. Apa kau tega untuk membencinya?”
”Lalu, apa kau bisa menyayangi Appa yang selalu melukaimu!?” Onew balik bertanya. Sedetik kemudian, ia merasa ingin memukul dirinya sendiri. Mengapa ia justru bertanya seperti itu? Emosinya selalu tak terkontrol setiap kali ia memikirkan Tuan Kim.

“Aku tidak bisa menyayanginya. Tapi aku juga tak bisa membencinya.” ungkap Younji dengan jujur, wajahnya berubah kelam, membuat Onew semakin merasa bersalah.

***

Onew melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar lebih segar. Sepasang handuk kecil berwarna pink dan biru yang soft tergantung di samping wastafel sempat membuat langkahnya terhenti. Onew membasuh wajahnya dengan air dan mengusapnya dengan pelan.

Sepasang sikat gigi yang bertengger manis disudut wastafel tak luput dari penglihatan Onew. Onew memajukan jari telunjuknya, menggeser sikat gigi di sebelah kiri hingga menyentuh sikat gigi lainnya. Kedua sudut bibir Onew terangkat naik dan membentuk garis melengkung yang cukup lebar.

Onew berjalan keluar dari kamar mandi, menolehkan kepalanya ke arah tempat tidur, melihat Younji masih tertidur pulas disana. Onew mendekati Younji, merapikan letak selimutnya yang sudah agak berantakan. Wajah Younji terlihat begitu lelah malam ini, atau memang wajahnya selalu terlihat lelah tanpa Onew sadari?

Setelah film yang Onew tonton tadi selesai, ia baru sadar kalau Younji tertidur. Mungkin karena begitu makan malam selesai, Younji langsung membereskan barang-barangnya yang telah dibawa masuk ke apartemen Onew pagi hari tadi membuat wanita itu agak kelelahan. Dan Onew pun tidak tega jika harus membangungkan Younji hanya untuk mengantarnya pulang. Jadi ia putuskan untuk membiarkan Younji tidur di kamarnya, toh mulai besok wanita itu juga akan menghuni apartemennya. Merasa sudah cukup memperhatikan Younji yang tertidur, Onew memutuskan untuk minum segelas air hangat sebelum ia tidur.

Onew membuka lemari tempat ia biasa menyimpan peralatan makannya. Lagi-lagi ada hal yang menarik perhatiannya. Onew mengeluarkan dua mug, yang satunya ia letakkan di atas konter dapur, sementara yang satu lagi ia isi dengan air hangat. Onew meminum beberapa teguk air tersebut, lalu meletakkannya diatas konter juga. Onew menopang dagunya dengan satu tangan lalu tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Mengapa ia merasa begitu senang? Seharusnya, bayangan tentang kehidupannya bersama orang lain dalam satu atap yang sama membuatnya sebal, membuatnya muak. Tapi mengapa tidak ada perasaan semacam itu pada dirinya saat ini? Ia justru tidak sabar ingin cepat-cepat mengalaminya—kehidupan setelah pernikahan.

***

Younji memandangi pantulan wajahnya dari cermin besar di depannya. Sekali lagi, ia melihat dirinya sendiri dibalik balutan gaun putih berkilau. Tak ingin ia pungkiri, Minho kembali masuk ke dalam memorinya. Beberapa waktu lalu, Younji juga mengenakan gaun putih yang tak kalah cantik dengan yang ia pakai saat ini. Rasa bahagianya yang berlimpah karena dalam hitungan menit ia akan menjadi Nyonya Choi rusak dalam sekejab, karena keputusannya yang bodoh.

Tapi ia tak menyesali keputusannya saat itu. Meski ia memiliki kemampuan untuk memutar waktu dan sekali lagi berdiri di depan altar bersama Minho, Younji tetap akan membatalkan pernikahan tersebut. Seperti itulah dirinya. Jelas-jelas ia tau ia akan terluka, tapi asalkan hal itu bisa membuat orang yang ia cintai bahagia, ia rela jika harus hancur berkeping-keping.

“Wah, kau tetap terlihat sangat cantik.” Nyonya Lee menyeruak masuk ke dalam dan langsung menatap Younji dengan penuh kagum.

“Eommonim terlalu memuji.” balas Younji malu-malu.

“Kau tau, memakai gaun pengantin dan mengucapkan sumpah setia dihadapan Tuhan adalah harapan terbesar setiap wanita. Aku juga seperti itu. Aku ingin sekali memakai gaun pengantin yang cantik, berjalan menuju altar didampingi oleh orangtuaku lalu melihat pria yang kucintai tengah menungguku di sana.” Nyonya Lee tersenyum pahit dan melanjutkan kata-katanya, “Tapi sayangnya, aku tidak seberuntung itu. Makanya, begitu melihatmu sekarang, aku merasa sangat iri sekaligus senang.”

Younji yang tidak tau harus mengatakan apa pada Nyonya Lee hanya tersenyum simpul. Nyonya Lee mengangkat tangannya dan mengelus rambut Younji dengan hati-hati karena tidak ingin merusak tatanan rambutnya yang sudah rapi.
”Aku merasa lega karena Jinki akan menikahi wanita sepertimu. Walaupun Jinki terlihat sangat dewasa, tapi sesungguhnya jiwanya itu masih kekanak-kanakan. Karena kalian akan hidup bersama mulai hari ini, kalian harus saling menjaga, araseo?” tukas Nyonya Lee.

“Ne..”

“Aku jadi ingin menangis karena merasa terharu.” kekeh Nyonya Lee, “Kau tidak keberatan untuk memberikan sebuah pelukan pada wanita tua ini kan?”
Younji maju selangkah dan memeluk Nyonya Lee dengan erat.
”Aku hampir lupa betapa hangatnya pelukan yang diberikan oleh Eomma semasa hidupnya dulu. Dan sekarang, akhirnya aku bisa mengingat kembali rasa hangat itu.” ungkap Younji yang tiba-tiba saja teringat pada mendiang Ibunya.

“Kau boleh menganggapku sebagai Eomma mu sendiri. Kalau Jinki menyakitimu, adukan saja padaku dan aku akan menghukumnya.” timpal Nyonya Lee.

TOK! TOK! TOK!

Baik Nyonya Lee maupun Younji saling melepaskan pelukan mereka dan menoleh ke arah pintu.

“Silahkan masuk.” Nyonya Lee mempersilakan tamu dibalik pintu tersebut untuk masuk.

Nafas Younji langsung tercekat saat melihat tamu itu. Dia tidak berharap mereka akan bertemu dengan cara seperti ini, di tempat seperti ini. Tapi mengapa takdir Tuhan tidak pernah sejalan dengan keinginan Younji.

“Kau temannya Younji?” tanya Nyonya Lee pada Minho yang masih berdiri diambang pintu dengan ragu.

“Benar. Bisakah kami bicara berdua?” tanya Minho. Nyonya Lee menatap Younji dan Minho bergantian lalu keluar dari ruangan itu untuk memberikan sedikit ruang bagi mereka.

Younji tak sedikit pun bergerak dari tempatnya sejak tadi. Tubuhnya mematung sejak kehadiran Minho. Minho melangkah dengan perlahan, seolah tau apa yang dirasakan oleh Younji saat ini.

“Kau terlihat cantik.. Sama seperti hari itu.” puji Minho tulus. Ada sebersit rasa penyesalan karena Younji bukan lagi miliknya saat ini. Tapi juga ada rasa bersalah yang timbul dalam dirinya saat melihat kedua bola mata Younji yang menampakkan luka hatinya.

“Sejujurnya, sampai saat ini aku masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa pernikahan kita telah batal. Terkadang, aku terbangun di pagi hari dan berharap kau ada disisiku.” tukas Minho setelah berdiri tepat di depan Younji.

“Semuanya sudah terjadi. Tidak ada gunanya meski kau berharap. Sekarang, carilah kebahagiaanmu sendiri. Jangan biarkan aku merasa aku telah membuat keputusan yang salah waktu itu.” Younji menundukkan wajahnya, tidak berani menatap Minho. Bagaimanapun juga, Minho adalah pria yang pernah ia cintai—masih ia cintai. Bohong jika Younji berkata ia tak merasakan apapun saat ini karena sesungguhnya jantungnya berdetak tak karuan.

“Sudahlah, jangan bahas masalah seperti ini lagi. Aku datang… karena ingin menyelamatimu. Maaf karena aku tidak bisa mewujudkan janji-janjiku padamu, itu karena aku tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya. Kuharap, calon suami mu itu bisa memberikan sebuah keluarga yang selalu kau impikan. Jika kau butuh aku, aku pasti akan langsung datang padamu. Ingatlah, kau adalah wanita yang kucintai dengan sepenuh hati dan kau akan terus memiliki tempat tersendiri di dalam hatiku.” Minho merengkuh wajah Younji dengan sangat perlahan.

Oh, betapa Younji merindukan sentuhan hangat Minho. Hampir saja ia menangis saat Minho mengecup keningnya dengan lembut. Tidak taukah Minho bahwa gerakannya membuat hati Younji goyah? Ia kembali mempertanyakan keputusannya tentang pernikahan tanpa cinta ini, akankah pernikahan semacam ini berjalan dengan baik?

“Semoga kau bahagia, Younie..”

***

Rasanya seperti déjà vu saat Younji harus kembali melangkah masuk menyusuri jalanan panjang menuju altar. Hanya saja, dengan gereja yang berbeda, dengan tamu yang berbeda juga mempelai pria yang berbeda.

Tapi perasaannya sama. Meski alasannya tidak sama, tapi rasa gugup, ragu dan takut bercampur menjadi satu membuat perasaannya menjadi kacau. Ada bisikan kecil di dalam hatinya yang meminta ia untuk berbalik dan berlari pergi. Ia pesimis bahwa kehidupan mereka nanti akan berjalan semulus yang mereka rencanakan. Tapi, jika ini adalah harga yang harus ia bayar untuk meninggalkan nerakanya, mengapa tidak?

Younji menarik nafas panjang sambil mengangkat dagunya dan melangkah dengan lebih pasti. Dalam beberapa langkah, Onew telah menatapnya dengan lekat dan mengulurkan tangannya dengan senyuman kecil menghiasi wajahnya. Younji menatap telapak tangan yang terbungkus sarung tangan putih itu sebelum meraihnya.

Sekarang, ia telah menggenggam tangan itu—tangan yang kelak akan menjadi pelindungnya.

“Jangan gugup.” bisik Onew pelan. Younji mendongak untuk menatap Onew dan rasa percaya dirinya tumbuh. Ia yakin—entah apa alasannya—pria ini akan bisa memberikan kebahagiaan yang hampir ia lupakan.

Sumpah setia diucapkan diikuti dengan tepuk tangan riuh dari seluruh tamu undangan, termasuk Nyonya Lee yang terus menatap mereka dengan tatapan mata yang berbinar-binar.

“Mempelai pria dipersilakan untuk mencium mempelai wanita.”

Onew mengangkat tangan Younji yang ia genggam, sementara ia agak membungkukkan tubuhnya lalu mengecup punggung tangan Younji dengan lembut.

Suara sorakan para tamu kembali membahana dan memenuhi seisi gereja dengan teriakan suka cita.

TO BE CONTINUE . . .

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


159 thoughts on “Married By Accident – Part 2

  1. ya ampuun ..
    FF ini sunguhan udah bikin aku patah hati .. foto jinki yang aku bingkai di kamar langsung retak!!
    ini .. tunggu .. nama authornya sapa ya? *balik ke halaman atas

    oh iya

    yuyu-ah.. ka-kamu pernah ngalamain ini ya??
    beneran,, berasa banget ni cerita.. akh .. mo langsung lanjut ninggal jejak dulu.
    ya ampun yuyu,, kalo kita ketemu aku traktir ayam goreng deh.. bagus FF nya!!^^
    aku peluk ya.. HUG HUG XO

  2. haemin | ilmacuccha | vinz_b2wolz | YOOnee_chan | Rirariruu | vanieshawol | shawolism | tariel | choi_hyun.ae | chota | hoshishinee | flaming | hanah | SelphiaSarangMinho | Tae-ah | hae chan | lee jio | PSY | amal | chartika | ayunarra | flaming | Zuleykha Lee (@beibiiilee) | liedda | AlwaysLuvRain | firda | eva | park min | jinkibiased | Sicafiramin | bloglin10 | ara | yani | /b> | infinee | rivast | Lee Chika | raqueensha | liana | bibib dubu | Zahraaa | greenee | auliarahma | Anonymous | Shin Eun Young | Song eun cha | Hikma | siti hajar
    gomawoyo^^

  3. Hah? Demi apa? Aku emang pernah baca FF ini ya? ko udah ada komen aku aja? Kkkk~ Yu, demi apa, aku terbawa suasana beedh pas ngikutin alurnya. Keknya aku ngerasa juga apa yang dirasain Onew ma Younji. Aigoo~ *ambil tissue*

  4. masih penasaran dengan alasan batalnya pernikahan Younji n Minho?

    jadi … Onew sama Key itu saudara tiri doooonnngggg.

    akhirnya mereka nikaaaaahhhhh. Younji gak kabur lagi dari pernikahannya. ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s