My Lovely Friend – Part 3

[FF] My Lovely Friend Part 3 of 3

Author             : zea a.k.a onzea a.k.a zesha

Cast                 : Shin chaerin, Key a.k.a kim kibum

Support Cast   : Choi minho, Choi eunra

Length             : Sequel

Genre              : Romance, a bit sad

Rating             : PG 15

A/N                 : Ini ff keduaku. Kalau kata-katanya masih banyak yang berantakan author mohon maaf. Maklum author masih belajar. So jangan lupa kritik dan sarannya. Please tinggalkan jejak bagi yang sudah membaca ff ini. Dari situ author jadi lebih mengenal reader ^_^ jangan lupa kunjungi wp author juga ya!!! leezesha.wordpress.com

Happy reading~

———————————————————————————————————————

***

 “eunra~” panggilku pada eunra saat aku menemukannya sedang duduk di balkon.

“ne, ada apa?”

“boleh aku menanyakan sesuatu?” dia mengangguk, matanya masih fokus pada buku yang ia baca.

“apakah kau dan key sebelumnya sudah pernah bertemu. Aku lihat tadi, kau tidak terlalu terkejut saat melihatnya.” Dia hanya diam dan pandangannya menerawang jauh ke depan.

“aku lelah chaerin, bolehkah aku menjawabnya besok?” dia berdiri dan berniat meninggalkanku.

“tak perlu eunra. Sepertinya aku tau jawabannya” dia berhenti dan memandangku dengan tatapan bingung.

“kau sudah pernah bertemu key sebelumnya bukan?”

“apa maksudmu chaerin?” nada bicaranya mulai meninggi.

“kenapa kau tidak pernah cerita kalau kau sudah pernah bertemu dengannya? Kau tau aku sangat mencemaskannya. Kerena dia tak pernah mengirimkan kabar padaku”

“jadi kau menyalahkanku? Kau bahkan tidak pernah bertanya padaku chaerin”

“aniyo, aku tidak bermaksud seperti itu”

“apa alasannya aku harus memberitahuimu? Kau pernah bilang padaku key melanjutkan sekolahnya di luar negri karena paksaan orang tuanya. Aku tak perlu mencemaskannya. Tapi kenapa sekarang kau yang begitu gusar, saat tiba-tiba bertemu dengannya. Dan tau kalau selama ini aku bersamanya?” jawabnya ketus.

“….”

“kenapa kau diam? Kau takut aku mengetahui kebohonganmu chaerin?”

“apa maksudmu?” aku terpojok.

“aku sudah tau semua chaerin. Selama ini kau memohongiku. Kau bilang key pindah untuk melanjutkan sekolahnya. Padahal selama ini dia pergi untuk menyembuhkan penyakitnya.  Kenapa kau tak pernah memberitahuku? Kenapa harus dari orang lain aku mendengarnya, WAE??Apa kau berfikir aku akan meninggalkan key karena penyakitnya? Tidak chaerin, aku sangat mencintainya. Aku tidak akan pernah meninggalkannya. Apa lagi dalam keadaan seperti itu” teriaknya di depan wajahku.

“ mianhe eunra~ tapi key sendiri yang menyuruhku untuk tidak memberitahumu. Dia tidak ingin kau cemas” pipiku mulai basah karena airmata. Aku merasa menjadi orang yang sangat menyedihkan saat ini.

“dan kau menurutinya. Apa kehadiranku disisinya tidak terlalu penting. Sehingga dia mengabaikanku dan kau yang malah menggantikan tempatku di sampingnya. Kau yang membuatku jatuh cinta pada key, apa harus kau juga yang memisahkan kami?”

“mianhe, aku…” dadaku terasa sesak saat melihat tatapannya.

“jadi benar, selama ini kau mencintainya? Dan hanya memanfaatkan kakakku. Aku tidak pernah menyangka kau seperti itu chaerin. Apa kau berniat menjauhkan key dariku?”

Tubuhku lemas mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“aniyo eunra, aku tak pernah bermaksud seperti itu…” aku mulai terisak.

Tubuhku terkulai lemah di lantai, hanya bisa menangisi keadaan ini. Menangis untuk kebodohanku. Menangis untuk kesalahanku. Menangisi keadaan yang membuatku seperti ini. Menangisi perasaan yang menyiksaku.

Plakk~

Tamparan minho di pipi eunra cukup keras aku dengar. Membuat pipinya sangat merah

“CUKUP EUNRA!!! Kau tak seharusnya berbicara kasar seperti itu”

Eunra berlari sambil menahan airmatanya. Meninggalkanku dan minho yang masih terdiam.

“ kau tak seharusnya melakukan itu pada adikmu minho-ya. Dia benar, aku yang salah”

“kau tak akan mengatakan itu kalau tau apa yang selama ini dia lakukan”

Minho mendekatiku lalu memberikan tiga buah surat dan sebuah kotak persegi berwarna ungu dan sebuah pita merah besar yang menempel di atasnya padaku. Mataku kembali berkaca-kaca saat membaca surat yang diberikan bersama kotak itu. Kubungkam mulutku tidak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang.

“eunra menyembunyikan ini semua darimu. Kotak itu adalah kado ulangtahun dari key untukmu. Seharusnya dia memberikannya 4 bulan yang lalu. Aku harap kau mau memaafkan adikku, chaerin”

“gwenchana minho-ya, aku yakin dia melakukan semua ini karena terlalu mencintai key. Aku merasa bersalah padanya. Aku tidak pernah bermaksud mengambil key darinya. Asal melihat key baik-baik saja, sudah membuatku tenang.” Dia membelai lembut rambutku, mendekapku dalam pelukannya. Hangat, aku merasa hangat bila berada dalam pelukannya.

~~~

 “ eunra bisakah kita bicara sebentar” ucapku saat melihatnya duduk di kursi meja makan.

Dia tidak bergeming bahkan mulai beranjak pergi. Tanganku dengan sigap menarik lengannya. Dia sedikit meronta mencoba melepaskan genggamanku. Aku tau dia masih marah.

“mianhe eunra, aku tau aku salah. Tolong maafkan aku. Akhir tahun ini aku dan minho akan melangsungkan pernikahan.” dia terdiam sesaat.

“kami tidak ingin menikah tanpa restumu eunra. Jadi aku mohon maafkan aku” lanjutku.

“jangan membohongi dirimu sendiri chaerin. Kau tidak mencintai kakakku. Itu akan melukai kalian berdua”

“kau salah eunra. Aku mencintainya, karena hanya dia yang aku miliki”

~~~

“oppa, boleh aku meminta sesuatu?” minho memiringkan wajahnya menatapku bingung.

“ne, waeyo?” aku duduk di disebelahnya dan mengapit lengannya dengan manja.

“aku ingin kita berempat berlibur bersama. Aku ingin memperbaiki hubungan yang terkesan canggung ini oppa”

“emm… kenapa tiba-tiba”

“sepertinya eunra masih salah paham, mungkin dengan kita liburan bersama eunra mau memaafkanku”

“ baiklah, akan ku fikirkan dulu”

“aniyo oppa!! Waktu liburan kita tinggal beberapa hari, kita akan berangkat besok”

“aish~ kau ini, keureyo besok kita berangkat”

“gomawo oppa”

Keesokan harinya sesuai rencana kami berempat pergi ke perkebunan anggur yang letaknya lumayan jauh. Butuh waktu 3 jam untuk sampai ditempat itu. Hamparan padang rumput dan bunga yang sangat indah, membuatku menikmati perjalanan ini. Begitu pula dengan key yang tak pernah melepaskan pandangannya sepanjang perjalanan.

Kami bermalam disebuah villa dekat perkebunan yang sudah minho sewa sebelumnya.

“udara semakin dingin, masuklah!! Nanti kau bisa sakit” aku sedikit mendongak menatap orang yang berdiri disampingku.

“aniyo, aku masih ingin disini”

Dia terduduk disampingku dan menatapku dengan pandangan yang aneh “ aku sudah menepati janjiku chaerin”

“mwo? Janji??”

“ne, janji ketika aku sembuh. saat itu juga aku akan kembali di sampingmu”

Aku tersentak mendengar ucapannya “maksudmu sekarang kau benar-benar sudah sembuh?”

“ne” senyum mengembang dari bibir mungilnya. “bogoshipeoyo chaerin” lanjutnya lagi. Tiba-tiba jantungku berdetak dua kali lebih cepat, perasaan apa ini?

“nado” ucapku lirih. Sungguh aku tak pernah mengira perasaan itu akan tumbuh lagi setelah sekian lama. Apalagi berada sedekat ini dengannya.

“minggu depan aku akan kembali ke seoul. Kita bisa bersama lagi seperti dulu chaerin”

“ne, aku merindukan saat-saat seperti itu key. Tapi…”

“setelah pulang nanti kau harus menemaniku belanja. Kita belanja sepuasnya. Terus kita mampir ke cafe milik onew hyung. Lama sekali kita tidak kesana”

“ satu tahun lebih…” ucapku mengenang masa-masa saat kami masih bersama.

“ne, aku ingin sekali minum strowberry latte buatan onew hyung” ucapnya ceria.

“ itu tidak mungkin key”

“Wae?”

“onew oppa menutup cafenya. Dia pindah ke jepang setelah menikah”

“aish~ sayang sekali. Kenapa dia tidak pindah setelah aku datang saja? Tak apa, masih banyak tempat lain yang bisa kita kunjungi nanti”

“aku juga akan segera menikah key…”

Dia terlihat sangat kaget mendengar ucapanku “MWO?????”

“ne, aku dan minho akan menikah akhir tahun ini”

“begitu rupanya. Aku ikut bahagia untuk kalian” dia tersenyum padaku, walaupun senyumannya terkesan dipaksakan.

Why, did I fall in love with you?

No matter how much time has flown by

I thought you would always be here

But what you chose was a different path

 

“ sebaiknya kita segera masuk…”

“ne…” Dia mendahuluiku masuk ke dalam villa.

Seperti inikah rasa sakitnya. Aku harap ini hanya mimpi dan setelah aku bangun kau yang akan disampingku.

~~~

Tiga minggu sebelum acara pernikahan tiba, hatiku goyah. Sama sekali tidak ada keyakinan untuk melanjutkan pernikahan ini. Entahlah aku benar-benar tak yakin dengan pilihanku sekarang.

Ting tong ~

Ku dengar seseorang membunyikan bel apartemenku. Selama kuliah aku memilih untuk tinggal sendiri di sebuah apartemen yang aku sewa tak jauh dari rumah minho. Alasannya tentu saja agar kami semakin dekat.

Saat aku buka ternyata orang yang berada di depan pintu apartemenku adalah “key???”

Dia berdiri dengan tubuh yang sedikit menggigil dan memakai pakaian yang basah. “apa yang kau lakukan, kenapa bisa basah kuyup seperti ini?” tanyaku kawatir.

“apa kau tidak ingin mempersilahkanku masuk sebelum aku menceritakannya? Kau tau di luar sangat dingin”

“mianhae, masuklah!!”

“tadi aku kehujanan” ucapnya saat sudah duduk di depan TV.

Ku lihat tubuhnya semakin menggigil, kakinya terangkat ke atas sofa dan tangannya memeluk kakinya sendiri. Aku kembali kekamar dan mengambilkan baju appa yang aku simpan di lemari pakaian.

“pakailah, kau bisa sakit jika terus memakai bajumu yang basah itu” ku sodorkan baju yang ada ditanganku padanya.

“aku harus ganti dimana?”

“pakai saja kamarku” dia mengerti dan langsung pergi ke kamarku.

Sudah lebih dari setengah jam aku menunggunya. Cokelat panas yang aku buat sekarang jadi cokelat dingin. Apa yang sebenarnya dia lakukan di dalam sana?

Ku coba masuk kedalam dan ternyata pintu tidak dikunci.

“APA YANG KAU LAKUKAN??????” teriakku mendapatinya sedang membaca buku deary milikku.

Ku rebut buku itu dari tangannya. Mendekap erat buku itu sambil terus berlari tanpa tujuan.

Tak ku perdulikan hujan yang terus turun mengguyur tubuhku. Aku terhenti dan akhirnya memutuskan untuk duduk di sebuah kursi kosong di taman yang sekarang sangat sepi.

“ chae-rin…” ucap seseorang sambil tersengal-sengal.

“aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau ada disini” lanjutnya lagi

“ayo pulang!!” dia menyodorkan sebuah payung padaku.

 “tak seharusnya kau membacanya key” ucapku lemah.

“mianhae, aku tak bermaksud seperti itu”

“ TAPI KAU TERLANJUR MEMBACANYA!!!” teriakku padanya.

“aku membencimu key..” aku berlari meninggalkannya. Menepis kasar tanggannya saat mencoba menghentikanku.

“ Kenapa selama ini kau menyembunyikannya? Apa kau takut mengakuinya, mengakui kalau kau mencintaiku?” langkahku terhenti mendengar ucapannya.

“lupakan semua yang telah kau baca key. Anggap aku tak pernah menulisnya”

“Itu berarti kau menyuruhku melupakanmu?”

Aku berbalik menghadapnya yang sekarang tepat berada di depanku. “jika itu yang terbaik. Lupakan aku dan akupun akan melupakanmu”

“Jjinjayo? Coba saja kalau kau bisa”

Tiba-tiba saja sesuatu yang hangat menyentuh bibirku. Awalnya aku hanya diam menerima perlakuannya. Entah mengapa aku malah membalas ciuman hangatnya dibibirku. Ku buka sedikit mulutku mempersilahkan bibirnya menciumku lebih dalam. Untuk beberapa saat mataku tertutup dan tanganku mulai berpindah menggantung dilehernya. Guyuran hujan sekalipun tak mampu menghentikan kami.

Nafasku terengah-engah, aku mulai kehabisan nafas. Akhirnya dia melepas ciumannya dan menatapku tajam. “katakan sekali lagi, apa kau bisa melupakanku?”

Aku hanya terdiam, rasanya mulutku terkunci. Pikiranku kacau, tak seharusnya ini terjadi.

Dia kembali melumat bibirku agak kasar. Dan kali ini aku berusaha menolaknya. Kudorong dadanya menjauh dari tubuhku. Tapi tangannya malah menarik pinggangku kedalam pelukannya.

“mmm..hen…hmmti…kanhmmm key” raungku mencoba melepas ciumannya. Airmataku mulai mengalir membasahi kedua pipiku. Membuat key iba dan menghentikan aktivitasnya.

“KITA TAK SEHARUSNYA MELAKUKAN INI KEY!!!” teriakku di depan wajahnya. Kudorong tubuhnya hingga dia jatuh tersungkur di tanah.

“ Aku akan menikah, ingat itu!!!” ucapku lagi. Aku kembali terisak, dan dia hanya memandangiku.

Kurasakan tubuhnya memelukku dari belakang saat aku berbalik memunggunginya.

“Saranghae~” ucapnya lirih di telingaku.

Kata itu yang selalu ku nantikan keluar dari bibirnya. Tapi kenapa aku malah merasa semakin sakit setelah mendengarnya. “jeongmal saranghae chaerin. Aku mohon jangan tinggalkan aku” ucapnya lagi.

“ terlambat key. Tiga minggu lagi aku akan menikah dengan namja lain. Seharusnya kau mengatakan itu dua tahun yang lalu sebelum kedua orang tuaku menjodohkanku. Kau terlambat…”

Kurasakan bahuku mulai basah, bukan karena air hujan tapi airmatanya. Lengannya semakin erat memelukku. “jangan membohongi perasaanmu. Aku tau kau masih mencintaiku”

Ku kendurkan pelukannya, ku balikkan tubuhku dan kembali memeluknya. “ semoga ini bukan pelukkan terakhir kita”

Kami bertahan beberapa saat sebelum kulepas pelukannya. “ Sudah berakhir key. Ini pilihanku. Sekalipun aku mencintaimu, bukan berarti kita bisa bersama. Ada orang yang lebih membutuhkanku. Biarkan aku pergi, aku mohon…” aku tak berani menatap wajahnya secara langsung, aku tak ingin melihatnya menangis, kecewa dengan pilihan bodohku ini.

“gwenchana, aku mengerti”

Ku dongakkan kepalaku menatapnya “ apa kau akan bahagia?” tanyaku padanya.

“molla. Asal kau bahagia”

Dia tersenyum tipis saat menggenggam tanganku untuk pergi dari tempat itu.

 “ gomawo key, nado saranghae” ucapku dalam hati.

~~~

“oppa boleh aku menanyakan sesuatu?” tanyaku pada namja yang duduk disampingku.

“ apa?”

“kenapa oppa mencintaiku? Apa yang membuat oppa mencintaiku”

Dia terlihat sedang berfikir, hingga akhirnya mulai bersuara.

“molla~ waktu umma mengatakan tentang perjodohan itu yang ada dalam pikiranku hanya berusaha menggagalkannya. Dengan terus menggodamu, berharap kau menentang. Tapi lambat laun, aku mulai merasa nyaman berada disampingmu. Dan ingin terus berada disampingmu, sekalipun kau tak mencintaiku”

“oppa~” mataku mulai berkaca-kaca mendengarnya.

“ aku ingin sekali melepasmu, dengan begitu kau bisa bahagia. Tapi hatiku berkata lain dan aku tak mampu menolaknya. Mungkin eunra juga akan sangat terpukul bila aku menyerahkanmu pada key. Aku memang egois. Hanya untuk kebahagianku kau harus merelakan kebahagianmu”

“aniyo, aku pasti akan bahagia bersamamu. Dan eunra akan bahagia bersama key”

Dia memelukku dan menghapus airmata yang mulai menetes dari kedua mataku dengan ibu jarinya.

“sepertinya aku mulai berubah pikiran” ku lepas pelukanku dan menatapnya. Dia hanya tertawa membalas tatapanku.

“tidak perlu menatapku seperti itu. Aku punya kejutan untukmu” lanjutnya lagi.

“mwo?”

“besok kau akan tau. Istirahatlah, aku pulang dulu” ia mengerlingkan sebelah matanya dan pamit pulang.

“ne, ” kulambaikan tanganku mengiringi kepergiannya.

~~~

“chaerin, ada surat untukmu” umma menyodorkan sebuah surat padaku dengan muka yang sangat kusut.

“ada apa umma? Kenapa wajah kalian seperti itu” umma dan appa hanya menggeleng.

“kau akan tau setelah membaca surat itu”

Langsung saja ku buka surat itu di depan kedua orang tuaku. Aku tak tau apa yang harus ku lakukan saat ini. Menangis, ataukah bahagia?

“oppa~ pabo…kenapa kau lakukan ini semua?” gerutuku.

Umma memelukku dengan sangat erat. Akhirnya airmatapun tumpah. Ia memilih untuk mengakhiri semuanya dengan meninggalkanku.

Chaerin, mianhae~

Aku yakin kau tak akan bahagia bila bersamaku, bersama dengan orang yang tak kau cintai. Kau tak perlu mencemaskanku. Aku akan bahagia dan mencari yeoja yang lebih cantik darimu. Ikuti kata hatimu chaerin, jangan sampai membuatmu menyesal nantinya. Jaga dirimu baik-baik.

                                                                                    Minho

 

“Jadi ini kejutan yang kau siapkan untukku oppa? Kau berhasil membuatku sangat terkejut. Gomawo oppa, aku tak akan pernah melupakanmu”

Ku ambil kotak berwarna ungu dari lemari pakaianku. Aku berniat mengembalikan kotak ini kepada pemiliknya. Ku rasa ini waktu yang tepat.

Ku tekan bel rumahnya berkali-kali tapi tak seorangpun keluar membukakan pintu untukku. Apa dia juga pergi meninggalkanku?

“apa anda mencari tuan key?” seorang yeoja tiba-tiba datang dan mengagetkanku.

“ne, nuguya?”

“saya pembantu disini. Tuan key sedang dirawat di rumah sakit”

“Mwo? Bukannya dia sudah sembuh?”

“saya kurang tau, sebaiknya anda melihat sendiri keadaannya di rumah sakit”

“ ne, gomawo”

Ketika tiba di rumah sakit aku melihat eunra sedang duduk disamping ranjang key.

“chaerin~”pangil eunra yang terlanjur melihatku di ambang pintu.

Dia menuntunku menghampiri key. “bukannya kau ingin menjenguk key, kenapa malah pergi?”

“aku tidak ingin menganggu kalian. Aku bisa datang lain kali” ucapku hendak pergi tapi eunra menghentikan langkahku.

“sebelum kau pergi boleh aku meminta sesuatu?” eunra melirikku dan key secara bergantian.

“…”

“bisakah kau menggantikan tempatku?”

Ucapannya membuatku membelalakan mata. “mwo??” keypun terlihat sangat kaget mendengarnya.

“ne, besok aku akan kembali ke paris menyelesaikan studyku. Kau yang seharusnya berada disamping key bukan aku. Dari awal aku yang jadi dinding penghalang di antara kalian. Dan sekarang dinding itu telah runtuh”

“eunra~” ucap key yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“aku sudah menerimanya key. Bahagiakan chaerin, pernikahannya dengan kakakku sudah dibatalkan. Kalian bisa bersama sekarang”

Aku tak mengerti kenapa akhirnya seperti ini. Sejujurnya aku merasa sangat bersalah dengan mereka berdua. Mereka terlalu baik untuk tersakiti seperti ini.

~~~

*lima bulan kemudian*

“ chaerin~ bisakah jalanmu jangan secepat itu. Aku lelah…” aku berhenti sejenak dan menatapnya.

“wae? Kenapa menatapku seperti itu?” lanjutnya lagi.

“aish~ kau itu namja atau yeoja sih. Jalanmu lamban sekali. Kita bisa telat nanti” omelku pada namja itu.

“aigo~ kau yang terlalu cepat. Aku sampai kelelahan seperti ini”

“omo!! Kenapa aku memiliki namjachingu sepertimu”

“YA!!! Jangan menghinaku. Kalau tidak…”

“kalau tidak apa???”

Dia mengecup kilat bibirku, membuat tubuhku beku seketika. “kalau tidak aku akan melakukan yang lebih dari ini”

“YA!! Berani-beraninya kau mengancamku. Awas kau key!! Hey, jangan lari!!”

~ END ~

Akhirnya selesai juga

Mian kalau endingnya gak terlalu memuaskan

Semoga tetep dapat menghibur 😀 *bow*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

11 thoughts on “My Lovely Friend – Part 3”

  1. Wuaaaah~ minho nya baik banget!! Uff……
    Salut ama minho,, sini2 minho, gw traktir deh utk menghiburmu xD
    Aaah, chukhahamnida chaerin n key, ditunggu undangannya xD
    #plaaak!! *sarap*

  2. Suka sih sama endingnya …
    Tapi, kasian minho ku (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)
    Pas baca surat dari minho tadi akk nangis :'(, minho ooppa mending km sama akk ajj 😀 pasti km bahagia #evillaugh

  3. tuh kan*nujuk nunjuk ffnya*
    eunra jahat aku udah nebak itu dari dulu*padahal baru nebak beberapa hari aja*
    tapi udah baik lagi jadi seneng.
    apalagi akhirnya happy ending. 😀

  4. huwaaa pantesan ajah .. ada yg aneh dari eunra !! ckckck
    minho baik, eunra juga baik akhirnya ..
    key ma chaerin .. huwa!! keren !! happy ending .. ayo thorr yg lainnya …

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s