Love Without a Name – Part 8

Title                 : Love Without a Name

Author             : Flaming Tezqia

Main cast        : Lee Jinki, Kim Nara, Choi Minho, Kim Kibum, Lee Taemin, Kim Jonghyun.

Support cast    : Song Eun La, Park Yeon

Genre              : Romantic, Family, Friendship

Rating              : PG – 16

Legth               : Sequel

Summary        : Mohon maaf kepada para pembaca setia Love Without a Name, saya selaku author telah membuat kalian lama menunggu. Ke ke ke..

+++

Jinki POV

            Aku dan Nara naik ke lantai atas dengan langkah gontai. Hal lucu apalagi yang sudah disiapkan mereka untuk kami berdua. Tidur sekamar? Lagi dan lagi ? padahal aku sudah pernah meminta kepada Appa  bahwa aku dan Nara lebih baik tidur terpisah baik di rumah ataupun ketika liburan dan menginap seperti ini. Apa mereka hanya menganggap ini hanya lelucon untuk pasangan pengantin baru? Tidak lucu. Aku paham dan mengerti apa yang biasanya dilakukan para pengantin baru. Tapi pada kasusku ini berbeda. Aku tidak mencintainya, bahkan menyukainya saja tidak, mana mungkin aku melakukan suatu hal yang selayaknya dilakukan mereka ? bukankah semuanya harus dilakukan dengan cinta.

            “Ini diletakkan dimana?” tanya Nara begitu kami memasuki kamar. “Disini saja.” Jawabku pendek sambil meletakkan barang yang kubawa ketempat yang sama, didepan lemari pakaian.

            Nara meliarkan matanya kesegala penjuru kamar, mungkin menatap kagum pada ruangan yang cukup besar ini. Dia lalu berjalan lebih kedalam, ke kamar mandi. Wajahnya langsung berubah ceria ketika meliat sesuatu. Aku tau, itu pasti bathup porselin bening besar berukuran 2 meter x 2,5 meter  yang dilengkapi peralatan mandi juga segala macam tetek bengek perlengkapan spa.  Ketika kami berlibur kesini, kamar ini selalu menjadi kamar Appa dan Umma. Dan semua peralatan itu pasti milik Umma.

            “Wah. Daebak !” hanya kata itu yang terus-terusan diucapkannya daritadi. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. “Jinki oppa, apa semua kamar disini bathupnya sebesar ini?” tanyanya ketika aku baru saja meletakkan pantatku diatas tempat tidur. “Aniyo, Cuma di kamar ini saja. Biasanya ini kamar umma, makanya banyak barang-barang seperti itu.” Jelasku.

            “Jinjayo? Ini benar-benar daebak, aku belum pernah menemukan yang sebesar ini. Di rumahku tidak ada yang sebesar ini, dan di rumahmu? Aku juga belum pernah melihat yang sebesar ini.” Ocehnya. Aku hanya menanggapi dengan acuh tak acuh, “di rumah juga ada, tapi Cuma di kamar umma.” “Kau selalu tau isi kamar appa dan umma mu?” tanyanya lagi dengan nada yang sedikit…mungkin menganggap hal ini lucu?

            “aku tinggal dengan mereka sejak kecil. Aku selalu pernah masuk kedalam kamar mereka, apa ada yang aneh?” jawabku sedikit jengkel. “mm..kau benar juga. Ah, perjalanan yang panjang ini sangat melelahkan. Aku jadi ingin berendam, mencoba bathup ini.” Katanya manja. “Ya sudah, kau berendam saja sana.” Aku merebahkan diri keatas ranjang yang empuk ini. Ku nyalakan televisi yang tepat berada di depan tempat tidur, tapi tidak acara yang seru. Lebih baik aku tidur sebentar sebelum makan malam, umma pasti sudah menyediakan makan malam yang enak, selalu begitu ketika kami liburan kesini.

            “Yak! Oppa.” Teriak Nara ketika aku hampir masuk kealam mimpi.”Apa lagi?” jawabku parau. “Kau mau tidur disini? Kau tidur diluar saja, aku mau mandi.” Cerocosnya. “kalau kau mau mandi, ya mandi saja. Kenapa aku jadi tidak boleh tidur disini?” tanyaku tanpa membuka mata. “pokoknya kau tidak boleh tidur disini, nanti kau malah mengintipku!”

            Sedikit tercengang dengan pernyataannya, “Yak! Mana mungkin aku mau mengintipmu. Sudah mandi saja sana.” Nara manyun, “Baiklah, awas saja sampai kau ketahuan mengintipku, tunggu pembalasannya nanti.” Aku pura-pura tak mendengarnya. Aku lalu melanjutkan tidurku yang tertunda.

            Baru saja aku terlelap, lagi-lagi ada yang membuatku terbangun. Suara umma…..

            “Nara!!” terdengar suara umma dari luar kamar, sepertinya dia sudah berada didepan pintu.

            Ceklekk..

            “Jinki-ah, istrimu mana?” tanya umma begitu membuka pintu.

            “Sedang berendam, umma…” jawabku malas.

            “Yak, kenapa langsung berendam. Umma mau mengajaknya menyiapkan makan malam.”

            “Ya sudah, cari saja di kamar mandi..”

            “Yak, kau ini. Ya, sudah tidur saja sana. Nara….!” Umma lalu berjalan masuk kedalam.

End Jinki POV

+++

Author POV

            “Nah, panggil Jinki dan Kibum sana, umma mau memanggil appa dulu.”

            “Ne.” Nara lalu berjalan naik ke lantai atas mengikuti perintah ibu mertuanya untuk membangun Jinki dan Kibum.

            “Oppa…Jinki oppa, makanan sudah siap! Cepat turun kebawah.” Satu menit..dua menit..belum ada jawaban. Dengan cemberut akhirnya Nara masuk kedalam kamar dan mendapati Jinki masih tenggelam dalam selimutnya.

            “Oppa..cepat bangun.” Nara menguncang-guncang tubuh Jinki seraya menurunkan selimut yang menutupi wajah Jinki. “Aishh..kenapa belum bangun. Jinki oppaaaaaa!!!” Jinki masih belum bergerak..apa mungkin mati ? MWO ??

            Nara duduk ditepian tempat tidur, masih berusaha membangunkan Jinki. Diguncang-guncangnya tubuh Jinki, belum bereaksi. Akhirnya Nara memilih cara lain, berteriak telinga Jinki. “Oppa!!! Bangunnn!!!!” Seketika itu juga Jinki membalikkan badannya yang tadi tidur miring menjadi telentang. “Ada apa ?” akhirnya Jinki membuka mata. Tapi, wajah mereka berubah merah seketika.

            Nara masih terpaku pada posisinya membangunkan Jinki tadi, wajahnya hanya terpaut beberapa senti diatas wajah Jinki, membuatnya dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk wajah suaminya itu, mata sipitnya, alisnya, hidungnya, bibirnya…

            Begitu pula Jinki, untuk beberapa saat dia hanya memandang wajah istrinya yang hanya beberapa senti diatas wajahnya. Matanya, alisnya, hidungnya, bibirnya..sempurna. Sempat terlintas dipikirannya untuk menarik Nara kedalam pelukannya sebentar saja. Tapi mungkin itu suatu perbuatan nekat, yang nantinya malah membuat Nara mengira macam-macam padanya.

            Ceklekk.. suara pintu terbuka lagi. Nara dan Jinki kelabakan membetulkan posisi mereka.

            “wae? Hey, umma menyuruhmu membangunkannya, bukan malah bermesaraan sekarang.” Goda ibunya Jinki. Dibelakangnya terlihat Kibum juga ikut tersenyum.

            “Aniyo.. aniyo!!” elak Nara dan Jinki.

            “Aigoo.. sudahlah, ayo cepat kebawah, nanti makanannya jadi dingin.

            “Ne.” jawab mereka bersamaan.

End author POV

+++

Jinki POV

            “Mari makan…”

            “appa, tau tidak. Waktu mau makan malam, aku meminta Nara memanggilkan Jinki dan Kibum. Tapi lama sekali, akhirnya aku sendiri yang memanggil Kibum. Rupanya… Nara dan Jinki malah bermesraan di kamar. Aigoo…anak muda zaman sekarang, kalau ada waktu, sempat-sempatnya..” cerocos umma. Appa yang mendengarnya malah tertawa, juga Kibum yang daritadi senyum-senyum tak jelas.

            “kalau begini terus, kita bisa cepat punya cucu.”

            “Umma!” teriakku.

            Uhukk..uhukk..uhuukk.. Nara tersedak begitu mendengar umma tadi. “Nara, gwenchanayo?” refleks, aku menepuk-nepuk punggungnya dan menyodorkan air minum padanya.

            “aigoo..lihatkan, memang mesra.” Lagi-lagi umma menggoda kami.

            “umma, hentikan.” Aku tak mau membuat wajah kami semakin bersemu merah karena malu.

            “ah… Kibum juga harus cepat-cepat punya pasangan. Nanti lama-lama kau malah cemburu dengan kelakuan mereka“ kata umma kepada Kibum.

            “Mwo ? a..aniyo. aku masih belum mau menikah. Lagipula juga belum ada wanita yang mau denganku.” Jawab Kibum disela makannya.

            “Kenapa bilang begitu. Kau tampan, pintar, baik, pasti banyak wanita yang tergila-gila padamu. Apa perlu ku carikan hmm?”

            “a..andwae. Tidak usah.” Jawab Kibum malu-malu.

            “Umma benar, kau pasti bisa jadi suami yang baik oppa.” Celetuk Nara. Aku kaget dan memandangnya tajam. “Waeyo ? matamu menjadi besar begitu oppa.”

            “uuu… Jinki-ah cemburu?” sahut umma.

            “aniyo!” jawabku. Umma terkekeh. Aku lalu melanjutkan malam malamku dalam diam.

+++

            Jam menunjukan pukul 8 waktu setempat. Kami berlima berkumpul diruang keluarga sedang asyik menonton televisi, tiba-tiba….

            “Kyaaaa! Mati lampu!” Nara menjerit ketika pandangan kami menjadi gelap. Mati lampu!

            “Yak! Kenapa bisa mati lampu disini.” Aku berjalan hati-hati menuju jendela kaca yang ada didekat kursi. “Lampu didekat pantai dan rumah lain sepertinya tidak mati.” Kataku setelah menengok keluar jendela memastika keadaan diluar sana.

            “Sepertinya Cuma disini. Beberapa waktu yang lalu penjaganya bilang ada masalah dengan listriknya..appa lupa mengeceknya dulu.” Dia menyalakan handphonenya untuk melihat jalan.

            “aku ikut. Yang lain cari lilin saja.” Ucapku sembari mengikuti appa. “Umma mana?” tanyaku lagi begitu ku sadari sejak tadi suaranya tidak terdengar.

            “umma tidur.” Jawab Nara pendek, aku hanya mengangguk.

            Aku mengikuti appa kebagian belakang  vila untuk mengecek listrik yang sedang bermasalah. Dari jendela ku lihat Nara dan Kibum yang berjalan menuju dapur untuk mencari lilin atau alat penerangan lainya.

            Langit malam terlihat gelap sekali. Udara luar juga terasa sangat dingin dari biasanya. Sepertinya akan turun hujan ? tapi itu mustahil, inikan musim panas.

            Beberapa menit berlalu, listrik belum kembali baik. Tampaknya appa kesulitan karena kekurangan cahaya untuk melihatnya.

            “Sebentar, aku akan masuk kedalam mencarikan lilin.” Aku bergegas masuk kedalam vila. Sesaat setelah aku masuk terdengar suara Guntur bergemuruh dan kilatan petir. Sepertinya benar-benar akan turun hujan. Aku kembali berlari keluar, tidak jadi mencari lilin. Yang lebih dikhawatirkan adalah keadaan appa. Bahaya kalau ada petir seperti ini dia sedang memegang listrik.

            Baru saja akau berbalik, tapi sosok appa sudah ada di hadapanku. “Ohh..kau menakutiku.” Teriakku kaget. “ada sambaran petir, lebih baik membetulkannya besok saja.”

            “Ya, aku rasa juga begitu. Appa juga takut tersambar petir. Sudah, lebih baik kita tidur saja. Mana Nara dan Kibum tadi.”

            “Sepertinya diatas, sebentar aku cek dulu.” Aku berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Tiba-tiba ada kilat dan petir menyambar lagi.

            “Kyaaa! Oppa..!!!” terdengar teriakan Nara ketika itu. Nara yang kelihatannya sangat ketakutan lalu memeluk Kibum yang sedang memegang sebatang lilin yang menyala. Aku memperhatikannya dari kejauhan. Dengan segera aku datangi mereka.

            “Masuk!” ucapku seraya menarik lengan Nara yang masih memeluk Kibum. “Mwo?” wajahnya terlihat kaget dengan keberadaanku. “Masuk kamar! Appa tak mungkin memperbaikinya malam ini. Kita semua tidur saja.”

            “Tapi, Kibum oppa….”

            “Aku bilang masuk kamar!” bentakku. Nara langsung diam dan menundukan kepalanya. Aku menariknya masuk kedalam kamar meninggalkan Kibum yang masih berdiri terdiam.

+++

            “Aku rasa kau perlu membenarkan cara bersikapmu.” Ucapku datar.

            “Apa maksudmu?” tanyanya tanpa memandangku.

            “Kelakuanmu denganku yang bagaimana, dengan temanmu bagaimana, dan dengan laki-laki lain yang bagaimana.”

            “Kau cemburu melihatku memeluknya?” tanyanya. “Aku hanya ketakutan dan aku refleks me..”

            “Aku tak perlu pembelaanmu. Aku juga bukan cemburu. Aku hanya bilang padamu agar kau menata ulang sikapmu jika bertemu dengan orang lain. Jika appa atau umma yang melihatnya kau mau bilang apa ?”

            “Kau benar-benar mulai menyiksaku.” Jawabnya datar lalu berjalan menuju pintu kamar.

            “Kau mau kemana?” cegatku. “tidak terlalu gelap dengan 2 lilin menyala disini. Oh, atau kau takut jika ada suara petir lagi? Tenang saja ada aku disini. Apa perlu aku memelukmu sampai kau tertidur?”

            Nara kembali berjalan mendekat kearahku, memandangku tajam dan mengarahkan telapak tangan kanannya kearah wajahku.

“Kenapa tidak jadi?” tanyaku ketika kusadari tangannya belum mendarat dipipiku.

            “aku takut tanganku akan sangat kotor jika menampar orang sepertimu.” Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. “Lebih baik kita tidur saja. Terserah kau mau apakan aku, memelukku, menyiksaku atau apapun itu, bukankah kau suamiku? Predikat itu yang selalu kau ucapkan padaku kan?” sambungnya dengan suara bergetar lalu berjalan menuju tempat tidur.

            Terbersit rasa bersalah dihatiku. Apa kata-kata yang ku ucapkan tadi terlalu menyakitkan hatinya?

+++

            “Nara..kau mau ikut umma berjemur dipantai?” teriak umma dari luar.

            “Aniyo.” Jawab Nara tak bersemangat.

            “Kau masih marah padaku?” tanyaku.

            “Aniyo.”

            “Kau lapar?”

            “Aniyo.”

            “Yak! Apa omonganmu hari ini hanya aniyo..aniyo ?” Nara menggeleng.

            “Mianhae..Mianata. aku tak bermaksud menyakiti hatimu. Waktu itu, aku hanya…terbakar..emosi.”

            Akhirnya aku mengucapkan kata-kata itu. 2 hari ini dia tak banyak bicara padaku. Seharian kemarin dia hanya menelpon teman-temannya, dan hari ini dia juga hanya berdiam diri. Aku juga takut, lama-lama umma menjadi curiga pada kami dan menanyakan Nara kenapa.

            “Kau belum mau memaafkanku?” tanyaku lagi. Nara hanya memandangku sebentar lalu menunduk lagi. “Mianhamnida, apa yang perlu aku lakukan agar kau bisa memaafkanku?”

            “kau mau bersepeda bersamaku?” ucapnya tiba-tiba.

            “Mwo?”

+++

            “Aku sudah berpikir banyak. Dan aku rasa, aku tidak berhak marah padamu. Aku memang perlu mengubah sikap terhadap orang lain, karena sekarang aku bukan sendirian lagi dan juga sudah mempunyai keluarga besar. Tapi…kata-katamu kemaren memang benar-benar keterlaluan, oppa.” Kata Nara sambil mengayuh pedal sepedanya.

            “Ne, ara. Aku rasa juga begitu. Mianhae..”

            “OK, aku akan memaafkanmu.. asal kau bisa menang dariku. Kita lomba balap saja, siapa yang bisa sampai tercepat di rumah ujung jalan itu, berarti dia pemenangnya.” Ujar Nara seraya menunjuk sebuah rumah putih besar yang ada diujung jalan. “Jika kau yang menang, maka aku akan memaafkanmu, tapi jika aku yang menang.. kau harus memenuhi permintaanku lagi, baru aku akan memaafkanmu.”

            “Mwo? Baiklah, pasti aku yang akan menang, kakimu pendek begitu mana mungkin bisa lebih cepat.”

            “Kau! Benar-benar.. mari kita lihat, siapa yang akan menaaannnngggg.” Nara mengayuh sepeda lebih dulu tanpa ada aba-aba.

            “Yak!! Kau curanggg! Awas kauu!!….” aku mengayuh sepeda sekuat tenaga agar aku bisa menang dan dia akan memaafkanku.

+++

            “Pemenangnya sudah ketahuan.. Sudah ku bilang, pasti aku yang akan menang..hhh..” ucapnya setengah ngos-ngosan.

            “Aigoo, capek..hhh.. ternyata jauh sekali..hh.. Baiklah oppa, kau menang, ku terima permintaan maafmu…hh..”

            “Ya, gomawo. Itu yang ku mau… Kita istirahat dulu…” aku turun dari sepeda dan memarkirnya didepan rumah itu. “Sejak kapan ada rumah disini? Seperti waktu terakhir kali aku kesini, ditempat ini bukan ada rumah besar ini.” Ucapku sambil mengintip kedalam pagar. Sepertinya sedang ada acara besar didalam.

            “ah, ahjumma. Boleh aku bertanya didalam sini sedang ada apa?” tanya Nara pada seorang perempuan separuh baya yang lewat.

            “Ini, gereja. Katanya ada acara pernikahan. Tapi aku tak tahu siapa, kelihatannya bukan penduduk sini.” Jelasnya. Oh, aku baru ingat, waktu kali terakhir aku kesini tempat ini hanya sebuah gereja kecil dan belum menyerupai rumah besar. Pantas saja aku tak mengenalinya.

            “oh begitu.. Gamsahamnida.” Sahut Nara sambil membungkukkan badan.

            “Ne….” perempuan paruh baya itu melanjutkan jalannya lagi.

            “Ayo kita masuk kedalam.” Ajak Nara.

            “Mwo? Buat apa? Kita tidak tahu siapa menikah didalam.”

            “Karena tidak tahu, makanya aku ingin tahu. Sudah masuk saja, siapa tahu yang sedang menikah itu artis. Dia takut ketahuan public makanya diam-diam menikah disini.” Nara menarikku masuk kedalam.

            “Kau mengada-ada?” tanyaku sambil berusaha mengimbangi langkahnya.

+++

            “Wuahh.. memang benar, sedang ada pernikahan.” Nara menengok kedalam gereja. “Sepertinya tidak banyak yang hadir. Benar dia bukan penduduk sini?”

            “Tapi pakaian pengantin mereka lumayan bagus.”

            “Kau benar juga oppa.”

            Kami berdua masih memperhatika pasangan pengantin itu, mereka sedang bertukar cincin dan….. berciuman. Itu yang tak ku lakukan pada Nara dulu.

            “Bukankah itu……. Eun La ?”

            “Eun La ?” Eun La, temannya Nara itu? Mana mungkin?

            “Dan………. Minho-ssi ? Apa yang mereka lakukan diss…. MENIKAH ??????”

+++

            “Kenapa kau tidak cerita padaku?”

            “Mian, Nara. Tapi aku…”

            “Kau juga tidak mengundangku!”

            “Aniyo, Nara. Mianhae, aku tak bermaksud begitu.”

            “Lalu kenapa kalian menikah disini?”

            “Itu, karena… Minho…”

            “Apa kau sekarang sudah…………?”

            “Yak!Yak!Yak! Kau bisa diam sebentar? Biarkan dia bicara dulu.” Aku mencoba menengahi mereka. Rentetan pertanyaan Nara juga membuatku yang mendengarnya jadi pusing.

            “Aku…hanya kesal dia tidak cerita dulu padaku.”

            “Sebelumnya, mianhae.. kami tidak memberitahumu lebih dulu.” Kata laki-laki dengan suara berat itu, Minho. Sepertinya aku pernah melihatnya? Apa Nara mengenalkannya padaku?

            “Kami.. memang sudah membicarakannya seminggu yang lalu. Dan sekarang orang tua Eun La kembali ke Seoul. Tidak ada alasan lain, hanya karena kami sudah merasa siap makanya kami menikah. Aku juga belum melakukan apa-apa kepada Eun La.” Sambung Minho.

            “Lalu kenapa menikahnya disini?” tanya Nara lagi.

            “Tempat disini bagus, makanya kami berdua ingin menikah disini. Dan sekalian, berbulan madu selama seminggu disini.” Minho masih berusaha menjelaskan.

            “Oh.. Ne, arasso.” Kini Nara mulai tersenyum senang. Mwo ?? tadi dia tak berhenti bertanya, sekarang baru mendapat jawaban seperti itu dia bisa tersenyum senang? “Ah, orang tuamu mana Minho-ssi? Sepertinya tidak hadir ?”

            “aa…kau sadar itu? Orang tuaku sedang sibuk dan tidak bisa hadir kesini. Beberapa waktu yang lalu mereka sudah mengobrol dengan Eun La dan orang tuanya melalui video call.” Jawab Minho. Nara hanya manggut-manggut seperti anak kecil yang baru dapat pengetahuan baru.

            Aku terus memperhatikan Minho, mengingat-ingat dimana aku pernah bertemu dengannya. Kantor appa? Sepertinya bukan… Sekolah? Sepertinya juga tidak… Kepalaku mulai sakit ketika berusaha mengingatnya, aku ingin sekali ingat dimana aku pernah bertemu dengannya. Tunggu… sakit ?

            Iya, itu! Sakit ! Rumah sakit! Dia yang bicara pada Nara keluar dari kamar rumah sakit kakek waktu malam itu. Untuk apa dia di rumah sakit waktu itu? Sakit? Sepertinya tidak. Kalau saja dia bilang dia sudah mengapa-apakan Eun La, aku pasti tau jawabannya apa. Ha..ha..ha.. Tapi ya sudahlah, itu tak penting, yang penting aku sudah ingat dimana aku pernah melihatnya.

            “Kami liburan seminggu disini bersama appa, umma, juga Kibum sepupunya Jinki.” Jelas Nara pada mereka berdua. “Kalian juga berbulan madu disini kan? Kalau begitu kita bisa jalan-jalan bersama disini.”

            “Boleh..boleh.. kau juga berbulan madu disini?” tanya Eun La.

            “Aniyo. Aku bilang kami liburan keluarga. Bukan bulan madu!”

            “Aishh..bilang saja iya, tak usah malu.” Goda Minho. Kami bertiga tertawa, Nara tampaknya mulai memasang tampang merajuknya.

            “Eun La, Minho, umma dan appa pulang dulu.” Tiba-tiba ayah dan ibu Eun la datang menghampiri kami yang sedang duduk-duduk di taman samping gereja. “Wah, ada Nara? Lama tak bertemu..” ibunya Eun La mendekati Nara.

            “Ne, ahjumma. Lama tak bertemu.” Mereka lalu berpelukan. “Anda akan tinggal di Seoul ?”

            “Aniyo, Cuma sebentar karena ada urusan pekerjaan dan pernikahan Eun La.”

            “Eumm.. Curang sekali tak ada undangan untukku.”

            “Mianhae, tapi kami memang sengaja penikahannya agak sedikit tertutup. Ini siapa?” ibunya Eun La menunjukku.

            “Choneun,  Lee Jinki imnida.” Aku berdiri dan memperkenalkan diri.

            “Oh, kau pacarnya Nara?” tanyanya lagi.

            “Eee..dia…”

            “Saya … suaminya Nara.” Aku menyerempet omongan Nara.

            “Mwo? Jadi Nara sudah mendahului ? Yak! Eun La, kau tidak cerita pada umma? Ya, sudah.. kami harus cepat-cepat kembali. Jaga dirimu baik-baik sayang.. Minho, jaga kesehatan juga. Nara juga… semoga bisa cepat dapat…… Jinki kecil. Ahahaha.. annyeong!”

            “Jinki kecil apa? Ah, ahjummaa…” Nara menggerutu pelan.

            “Sudah sore. Kalian juga pasti masih capek, kita pulang saja.” Aku mengajak Nara pulang.

            “Ne, aku juga capek. Eun La, Minho, kami pulang dulu. Vila kami berdua ada di ujung jalan sana, lurus saja dari sini.” Eun La mengangguk.

            “Selamat berbahagia.” Ucapku sebelum kami pergi dari hadapan mereka.

+++

            “Eun La dan Minho ada di luar ! cepat bangun, oppa!” Nara berteriak dan menguncang-guncang tubuhku mencoba membangunkanku.

            “Aku masih mengantuk, kau saja yang menemui mereka, dia kan temanmu.” Ucapku parau.

            “Huh, ya sudah. Umma dan app sedang pergi jalan-jalan. Kalau kau bangun, makanan ada didalam kulkas, panaskan saja sendiri. Aku kebawah dulu.” Cerocosnya. “Jangan lupa mandi oppaaa!” teriaknya sebelum menutup pintu kamar.

            Akhir-akhir ini hubunganku dengan Nara memang baik. Sejak kejadian waktu waktu dan aku meminta maaf padanya, liburan ini terasa benar-benar menyangkan. Kalau lama-lama sekamar dengannya begini juga tidak aka nada rasa canggung lagi. Memandang wajahnya saat tidur pun membuatku senang….. Aigoo~ aku kenapa ? >

            Aku merasa sedikit bersalah pada Kibum, karena sepertinya  secara tidak langsung aku menyuruhnya untuk tidak terlalu dekat-dekat dengan Nara. Kemarin sore dia bicara padaku, bahwa dia tidak akan merebut Nara dariku. Memangnya ada apa antara kami bertiga? Aku juga bingung dengan sikapku ini yang bagaimana.

            Aku tidak dapat memejamkan mataku lagi, akhirnya aku memutuskan untuk bangun dan mandi. Perutku juga makin sering berbunyi.

            Selesai mandi, aku turun ke lantai bawah. Rupanya Nara dan Eun La sedang bermain dipinggir pantai, seperti anak kecil saja. Aku segera memasuki dapur dan mencari makanan. Ketika aku meletakkan makananku yang sudah panas kembali diatas piring, spertinya ada seseorang yang memperhatikanku. Itu….. Minho ?

            Kenapa dia? Menempel didinding seperti cicak begitu. Wajahnya dan tubuhnya menempel kedinding kaca rumah ini. Sepertinya dia melihat aku memperhatikannya. Tapi, dia masih tetap menempel seperti itu. Aku segera keluar untuk mengecek dia kenapa dan sedang apa..

            “Yak! Kau kenapa?”

            “Ahh…hari ini panas sekali. Aku tak sanggup bermain bersama mereka.” Dia menunjuk Nara dan Eun La yang asyik bermain air. “Boleh aku masuk kedalam? Sepertinya didalam dingin.”

            “Oh, begitu. Aku pikir kau sedang belajar acting menjadi cicak. Kalau begitu, masuk saja.”

            “Gomawoo…”

            Aku dan Minho masuk kedalam rumah. Aku kembali ke dapur untuk mengambil makanan yang tadi ku tinggalkan.

            “Lebih sejuk disini.” Minho mengibas-ngibas kaos oblongnya. Kalian Cuma berdua? Mana yang lainnya?”

            “Umma dan appa sedang pergi jalan-jalan, tapi .. Kibum, sepupuku, aku tak tau dia dimana..” baru saja aku mengatakan itu terdengar suara dengkuran keras, sepertinya tak jauh dari tempat kami berada. “Ini dia.. sedang tidur rupanya.” Rupanya itu suara dengkuran Kibum yang sedang tertidur disofa. Minho yang melihatnya Cuma nyengir kuda.

            “Eee.. itu, boleh aku minta … minumanmu itu?” tanya Minho seraya menunjuk gelas jus yang sedang ku pegang.

            “Ini? Tunggu sebentar, aku ambilkan yang baru untukmu.”

            Aku kembali datang dengan membawa segelas jus apel segar untuk Minho. Kami berdua duduk dimeja makan karena disofa luar ada Kibum yang tidur.

            “Bagaimana rasanya jadi pengantin baru?” tanya Minho memulai pembicaraan.

            “Pengantin baru apa? Bukannya kau lebih baru?” tanyaku balik.

            “Eii..tapi aku penasaran kenapa kalian harus menikah secepat ini? Bukankah Nara masih sekolah?”

            “Itu..apa Eun La tidak cerita padamu? Aku rasa dia kenapa..” aku tak mencoba menjawab pertanyaannya.

            “Dijodohkan? Tapi kenapa harus cepat-cepat? Apa ada sesuatu hal yang….”

            “Auu.. aduh sakit sekali!”

            Aku refleks berdiri mendengar jeritan kesakitan Nara. Minho juga berhenti bertanya dan mengikutiku keluar.

            “Nara, waeyo?” Nara terlhat kesakitan sambil memegangi kaki kanannya yang terluka.

            “Kakiku berdarah.. terkena batu karang.” Jawabnya setengah meringis.

            “Makanya hati-hati. Sini ku lihat… Kita masuk kedalam saja.” Ku lihat kakinya, sepertinya tidak terlalu parah. Ku bopong dia masuk kedalam vila diikuti Eun La dan Minho. Agak berat memang, karena ini pertama kalinya aku mengangkatnya. Lantai jadi agak licin karena air yang merembes dari baju Nara dan celanaku.

            “Kibum-ah, kau bisa bangun sebentar. Ambilkan obat merah dan alat p3k lainnya.” Aku menurunkan Nara disofa dan mencoba membangunkan Kibum.

            “Mwo? Bajumu merah apanya? Bajumu berwarna biru begitu.” Celetuknya, masih setengah tak sadarkan diri.

            “Aishh.. aku bilang ambilkan obat merah, bukannya bajuku yang berwarna merah.” Umpatku. Kibum segera bangun dan berjalan sempoyongan kearah dapur menuju kotak obat yang memang ada disana.

            “Ini, siapa yang luka? Mwo??? Nara kenapa? Kakimu berdarah?” baru sadar rupanya dia -__-

            “Kakiku terkena karang, oppa. Perih sekali.”

            “Makanya hati-hati. Kenapa pula kau sampai terkena karang?” tanyaku sambil membersihkan lukanya.

            “Tadi Eun La melamun, aku hanya berniat mengagetinya, tapi kakiku malah terkena batu karang.”

            “Mwo? Aku kenapa?? Mianhae, kau jadi terluka.” Eun La mencoba meminta maaf pada Nara.

            “Sudah, darahnya sudah berhenti keluar . sebentar lagi lukanya juga pasti akan sembuh.” Aku baru selesai memperban kaki Nara yang terluka.

            “Darah ? Bukannya kau takut darah, Jinki?” ujar Key.

            “Aku takut darah?” aku memandang kapas-kapas yang ku pakai untuk membersihkan luka Nara tadi. Darah? Semuanya dipenuhi darah..dan tanganku, ada bekas darah disana. Aku lupa kalau aku taku darah !

            Perlahan-lahan ku rasakan kepalaku mulai berdenyut kencang. Mataku terasa berkunang-kunang dan perlahan tapi pasti pandangan ku makin kabur dan makin lama makin gelap…

End Jinki POV

+++

 Author POV

            “Jonghyun-ah, gomawo untuk traktiranmu hari ini! Hari ini juga seru, lebih seru kalo seandainya kita ke amusement bersama Nara dan yang lain. Sayang mereka sedang tidak disini.”

            Baru saja Jonghyun mengangkat teleponnya, cerocosan Yeon yang seperti kereta api langsung menyambarnya.

            “Ne, cheonma. Minggu depan kalau mereka sudah disini, kita pergi lagi!”

            “Oke, sip lah itu. Oh, ya.. besok boleh aku ke rumahmu?”

            “Boleh boleh saja memangnya ada apa?”

            “Besok sajalah ku ceritakan. Sekarang sudah waktunya tidur, aku tutup dulu ya telponnya. Annyeonghi jumuseyo Jonghyuniii..” Plipp. Telepon ditutup tanpa sempat Jonghyun membalas salamnya.

            Jonghyun meletakkan handphone ke meja samping tempat tidurnya. Apa yang sebenarnya ingin diceritakan Yeon padanya besok? Tanya Jonghyun dalam hatinya.

            Tapi, besok bukannya hari Senin? Berarti Nara sudah kembali dari liburannya di Jeju? Asyik, itu artinya besok aku bisa bertemu Nara. Tapi bukannya dia akan pulang ke rumah Jinki? Ya sudahlah, yang penting besok Nara sudah kembali.

            Jonghyun mencoba memejamkan matanya yang sudah sangat mengantuk sedari tadi. 5 menit kemudia dia sudah terlelap masuk kealam mimpinya.

+++

            “Aku mau pergi ke rumah Jinki-ssi! Kau mau kan menemaniku pergi kesana?” kata Yeon bersemangat. Tapi ini malah membuat Jonghyun pucat seketika.

            “MWO??? Andwae..andwae..andwae.. aku tak mau menemanimu dank au tak boleh kesana!”

            “Waeyo? Sudah susah payah aku mencoba mendapatkannya tapi kau malah melarangku kesana? Memangnya ada apa?”

            “Pokoknya, kau tidak boleh kesana! Arasso?”

            “Ani! Aku tak mengerti. Kalau begitu aku yang akan pergi kesana, sekarang!!” Yeon berjalan menjauh dari rumah Jonghyun. Jonghyun berusaha mengejarnya tapi seseorang telah mencegatnya lebih dulu.

            “Jonghyun-ah! Bantu aku sebentar!!” kakak perempuan Jonghyun keluar dan menarik lengannya.

            “Jangan sekarang, aku tidak bisa. Aku harus mengejarnya!!” Jonghyun mencoba melepaskan cengkaraman tangan noona-nya.

            “Andwae! Kau harus membantuku sekarang!! Mengejar apa? Yeoja itu? Sudah belajar mengejar seorang yeoja kau sekarang ? sepertinya dia tidak menyukaimu, cari yang lain saja, tapi nanti. Sekarang bantu aku dulu. A-Yo !!!!”

            “Yak! Kauu …. Aku harus kesana dulu !!! Yaaaaaaaaa………”

+++

            Ting..tong..

            Tiba-tiba bel rumah berbunyi.

            “Biar aku yang buka.” Ujar Nara. Dia lalu bergegas menuju pintu rumah. Hari dia sudah kembali ke Seoul bersama Jinki dan Kibum, appa dan umma katanya ingin sehari lebih lama disana.

            “Nuguseyo..” kata Nara ketika dia membukakan pintu.

            “Nara?? “

            “Nugu?” tiba-tiba Jinki datang menghampiri Nara didepan pintu.

            “Jinki-ssi??”

            “Ye..yeon?” ucap Jinki terbata.

            “Kenapa kalian berdua ada disini? Ah, kau Nara! Kenapa kau ada disini?” tanya Yeon dengan emosi. Diperhatikannya Nara yang mengenakan pakaian rumahan, juga pakaian Jinki. Tunggu… mereka berdua masih mengenakan piyama… couple? Pajamas couple? Apa-apaan ini?

            “A..Aku…”

            “Yeon, tolong masuk sebentar.” Jinki mencoba meminta Yeon masuk, tapi Yeon menolaknya.

            “Tidak usah! Sepertinya aku sedang menganggu kalian…berduaan? A..aku pergi dulu.. sampai jumpa nanti disekolah.” Yeon bergegas pergi dari rumah Jinki. Nara bergegas mencoba mengejar Yeon yang langsung berlari dengan kencangnya. Iya tak mau Yeon mengira yang macam-macam antara dia dan Jinki. Yah, paling tidak hal ini perlu diluruskan lagi..

+++

            “Hoshh…hosshh..hhh.. Jinki-ssi, a..aku datang ingin memberitahu kalau, Yeon ingin kesini! Aku tau kau dan Nara pulang hari ini, aku takut dia melihat kalian berdua dan nantinya malah mengira yang macam-macam.” Ujar Jonghyun seraya mencoba mengatur nafasnya. Dia berusaha datang dan mengabarkan hal itu pada Jinki dan Nara.

            “Kau terlambat.. Nara sedang berusaha mengejarnya.” Jawab Jinki datar.

            “Mwo?? Aishh.. aku terlambat! Ini gara-gara siluman wanita itu yang selalu meminta bantuanku, memangnya aku supermannya?”

            “Siluman wanita siapa?”

            “ah, aniyo… Kau, tidak ikut mengejarnya juga?”

            “Ketahuan ya ketahuan, lama-lama semua orang juga pasti akan tau. Aku sedang tidak mau ambil pusing dengan kejadian seperti ini. Aku masuk dulu.. oh, ya, dia kan temanmu juga, kau pasti lebih mudah menjelaskan padanya.” Jinki masuk kembali kedalam rumah tanpa menutup pintu.

            “Aku yang menjelaskan? Kau yang punya masalah kenapa aku yang harus repot. Kau juga sudah merebut Nara-ku!” gerutu Jonghyun pelan.

            “Apa yang kau katakana tadi?” tiba-tiba Jinki keluar lagi.

            “Aniyo! Tidak ada! Kau bersantai saja didalam. Aku yang akan mengejarnya.”

            “Briliant! Selamat berjuang anak didikku. Fighting!”

            Jinki kembali masuk dan menutup pintu meninggalkan Jonghyun sendirian yang sedang terlihat kesal dengan sikap santainya.

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

12 thoughts on “Love Without a Name – Part 8”

  1. ahahah jinki mulai emosi sma nara yg meluk kibum, lucu di bagian minho kayak cicak !! ahahhaah
    si jjong ahahah .. sabar ya … kayaknya jinki emang mau klo semua org tau kalau dy sma nara udah nikah! biar tidak ada yg mengganggu ! wkwkkwwkw
    ayoo lanjutannya !! kibum ma aku ya thorr!! #plak!!!

  2. baru baca maraton dari part 1.. seru…

    aduh aduh.. part ini bener2 bikin ngakak.. mulai dari minho yg nemplok di dinding kyk cicak, key yg gak denger soal obat merah… sampe apa td itu jinki pingsan… lol sumpah kocak…

    ahhh masih penasaran sama no one pov itu.. aku nebak2 si minho ato hyera.. eh itu kan yg mantan jinki itu.. abis 2 org itu masih misterius…

    ayo author, lanjut…. penasaran sama kejadian2 selanjutnya….

  3. sedikit lupa sama jalan cerita sebelum y….
    jinki udah perhatian sama nara secara ngak sadar dia cemburu ma kedeketan nara n kibum….
    minho gerak gerik y mencurigakan, kenapa eunla n minho nikah y sembunyi2 n ortu minho ngak dateng…….
    Lanjut……….

  4. jinki itu guru mrka disekolah khan…?ko smw manggil na cuma jinki-shi…ga sopan…jewer kuping satu2…

    Btw “no one pov” ga muncul ya…pdhal dia yg bkin seru…walau aku udh hampir yakin klw dia itu minho…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s