Help Me!!!

Title : Help Me!!!

Author: Alifah Diantebes Aindra a.k.a Choi Ha Neul

Main Cast: Lee Insa, Choi Minho dan Lee Jinki

Support Cast : Oh Rin He, Park So Hi, Min Eun ri, Kim Kibum(Key)

Length : Oneshot

Genre : Family, Friendship, Romance, sad

Rating: General, PG-13

Ahai!!! Kali ini aku muncul dengan fanfiction Oneshot dan mencoba diriku menjadi sudut pandang orang ketiga!! Hahaha… oke dah cekidot…!!! happy reading..

 

Insa berjalan menuju lokernya dengan menundukkan kepala dan sesekali menghela nafas, ia sudah dapat menebak apa yang akan terjadi setelah ini.

“Terjadi lagi…” Insa mendengus kesal namun tetap pasrah pada apa yang tertempel di pintu lokernya, rentetan permen karet yang membentuk tulisan ‘AWAS KAU’. Ia membuka perlahan pintu lokernya dan mengambil secarik kertas untuk membuang permen-permen karet dipintu itu. Lengket?? Jelas saja, bagaimana mereka bisa melakukan ini? Masak mereka menguyah permen karet sebanyak ini? Hanya pertanyaan-pertanyaan itulah yang terlintas di fikirannya.

“Lee Insa!! Mengapa kau berangkat duluan?? Bukankah aku sudah menyuruhmu menungguku?” teriak Namja yang wajahnya tak asing di benak Insa.

“Mianhae.. Jinki-Sii, aku.. ada janji dengan temanku pagi ini, jadi harus cepat berangkat.. hehehe” bohong Insa menyunggingkan senyum yang terkesan dipaksakan.

“Huh.. sudah kubilang kan jangan memanggilku seperti itu, tapi.. ya sudahlah terserah kau saja. Ada apa dengan lokermu??” tanya Jinki heran saat melihat bekas-bekas permen karet yang hampir setengahnya sudah terbuang.

“Aah..?? Ani.. ini hanya… hm.. teman-temanku hanya “ kini keringat dingin sudah membanjiri wajah insa yang terlihat kebingungan, apa yang harus ia lakukan?? Bagaimana jika Jinki mengetahui semuanya.

“Ya.. Jinki Oppa.. kau sudah datang rupanya.. kajja, kita ke kelas bersama, kita kan harus mengerjakan tugas kelompok kita.” ajak yeoja yang tak bisa dibilang biasa, karena dia sangatlah cantik dimata Insa.

“Aaah…. Ne.. ne, Insa, aku ke kelas dulu ya..” kata Jinki saat mulai berjalan meninggalkan Insa yang berdiri mematung di depan lokernya.

“Kau tau apa yang bisa kulakukan padamu kan? Kalau kau tetap mendekati Jinki ku.!!” Bisik yeoja itu sinis di telinga Insa.

“Ya.. Rin He, Kajja.. katamu kita harus mengerjakan tugas!!” teriak Jinki pada Rin He setelah Rin He membisikkan kata-kata tajamnya pada Insa.

__________________________

“Baiklah.. sampai di sini dulu pelajarannya, Annyeong Hi” kata Kim seosangnim meninggalkan kelas.

Setelah insa melihat Kim seosangnim sudah keluar dari pintu, Insa cepat-cepat membereskan buku yang berserakan di mejanya. Ku harap aku bisa pulang duluan tanpa Jinki!! Batin Insa. Setelah selesai ia lekas-lekas beranjak dari mejanya dan setengah berlari menuju pintu kelas hingga tak melihat ada orang di depannya.

“Ouuuch..” pekik Insa saat tubuhnya beradu dengan tubuh namja yang jauh lebih tinggi darinya.

“Kau tak bisa melihat ya!!! Dasar!!” kata Namja itu kesal.

“Mianhae Minho, aku terburu-buru..” Insa menundukkan badannya berkali-kali ke arah Minho sambil tetap berjalan ke arah pintu.

“Dasar!!” bisik Minho geleng-geleng pada dirinya sendiri dan menyunggingkan senyumnya.

“Ya!! Kau mau kemana?? Ayo pulang bersamaku” kata Jinki di depan pintu mengagetkan Insa yang sudah ingin berlari lagi secepatnya.

“Hmm.. Jinki-sii, aku.. harus ke rumah teman” Insa mengigiti bibir bawahnya karena gugup dan kaget saat melihat Jinki sudah berada di depan kelasnya.

“Aigoo~ pasti kau bohong!! Aku tak percaya, kau kemarin baru saja bilang seperti itu.” Kata Jinki mengingatkan Insa dan meraih tangan Insa.

“Aniyo.. aku tak berbohong” Insa melepaskan genggaman tangan Jinki dan mengerak-gerak kan telapak tangannya ke arah Jinki, yang kini mata Jinki sudah menatap tajam ke arah Insa.

“Aku tetap ti-“

“Insa, kajja kita berangkat..” kata Minho menyela perkataan Jinki yang terlihat ngotot sekali. “Maaf Hyung.. ada tugas yang harus kami selesaikan” lanjut Minho meyakinkan Jinki.

“Ha.. Baiklah.. kalau dengan Minho aku percaya kau tak berbohong, Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu, Annyeong Hi” kata Jinki membalikkan badannya dan mengerak-gerakkan tangannya keatas.

“Huftft.. untung saja ada kau. Gomawo Minho” kata Insa menepuk-nepuk pundak Minho yang jauh lebih tinggi darinya.

“Aiish.. kau ini!! Lain kali kau harus membayar jasaku ini!! Aratseo??” kata Minho pura-pura marah pada Insa.

“Ahh.. Ne.. ne.. aku duluan ya Minho.. Annyeong hi..” Insa segera bergegas pergi dari kelas dengan berlari, karena ia tau, walau Jinki sudah pulang terlebih dahulu masih ada bahaya yang menunggunya.

Insa memperlambat larinya saat melewati kelas 3-1, ia menolehkan kepalanya ke kiri dan kekanan memastikan bahwa hanya dia yang berada di lorong sekolah ini.

“Syukurlah.. “ Insa menghembuskan nafas lega saat melihat sungguh tak ada orang yang menunggunya di lorong itu.

“Kau mencoba untuk kabur ya!!” teriak Rin He, refleks Insa membalikkan badannya dan melihat tiga yeoja yang selalu menganggunya.

“Kemari kau!!!” bentak So Hi salah satu yeoja yang berdiri di samping kanan Rin He menarik paksa tangan Insa untuk mengikuti mereka bertiga. Insa tau pasti akan terjadi seperti ini lagi, tapi ia tak kuasa memberontak karena ia takut, semakin ia memberontak semakin besar pula siksaan yang ia dapatkan.

“Aaaw..” pekik Insa saat tubuhnya di hempaskan begitu saja hingga menabrak dinding dan terjatuh, saat kini mereka ber empat berada di pinggir lapangan basket yang memang selalu sepi.

“Kau tak tau malu ya!! Sudah aku peringatkan bukan.. Jangan mendekati Jinkiku..!!!” bentak Rin He dan meletakkan kedua tangannya di pinggangnya.

“Mianhae.. aku tak bermaksud begitu ak-“ kata Insa terbata-bata.

“Mianhae???” ejek Eun ri yang merupakan teman Rin He juga.

“Huh?? Tak bermaksud bagaimana?? Aku sendiri yang melihatmu memegang tangan Jinki bukan!!” bentak Rin He lagi.

“Ani, Jinki yang memegang tanganku terlebih dahulu, karena ia ingin mengajakku pul-“ kata Insa mencoba menjelaskan kejadian didepan kelas bersama Jinki tadi.

“Jinki yang memegangmu!!! Kau fikir kau yeoja yang cantik apa!! Hingga Jinki mau memegang tanganmu!!” Bentak So Hi.

“Heh.. karena kau sudah sembarangan menyentuh tangan Jinki ku, rasakan Ini!!” seringai Rin He muncul dan dengan kerasnya menginjak tangan Insa dengan kuat.

“Jebal Rin He.. hentikan.. saa..Kiiit..” Insa kini mulai meneteskan air matanya dan memegangi kaki Rin He yang menginjak tangan kanannya.

“AaaW!!!” teriak Rin He saat bola basket yang melambung tinggi tepat mengenai belakang kepalanya.

“Uuups.. maaf Rin He noona.. aku tak melihatmu” kata Minho yang tiba-tiba datang mengambil bola basketnya dan tersenyum riang.

“Aah.. Gwaencana Minho.. lain kali hati-hati ya..” kata Rin He dengan lembut, sangat berbeda saat ia membentak Insa.

“Apa yang Noona lakukan?? Bukankah Jinki Hyung sudah menunggumu di tempat biasa??” bohong Minho dan berpura-pura heran, karena dia tak ingin Rin He semakin gencar menyiksa Insa.

“Jinja..?? dia tidak mengatakan apapun padaku tadi” Rin He terlihat heran

“Tadi saat Jinki Hyung aku ajak main basket, katanya dia ada janji denganmu di tempat biasa.. makanya aku hanya main basket sendirian saja.”

“Oh.. ne, aku kesana, Annyeong hi Minho, dan Gomawo atas informasinmu” kata Rin He manis memeluk Minho sebentar dan pergi bersama So Hi dan Eun ri.

“Gwaencana??” kata Minho pada Insa yang masih terduduk di tempatnya memegangi tangannya yang di injak oleh Rin He tadi.

“Ne, Gwaencana..” Insa mengangguk ragu menahan tangisnya agar tak semakin deras mengalir.

“Ani, kau tidak baik-baik saja..kemari” Minho mengajak Insa menuju keran *apasih bahasa yang lebih enaak!!* yang berada di dekat lapangan basket dan mencuci tangan Insa perlahan agar Insa tak kesakitan. Bagaimana ia bisa tahan?? Bagaimana ia bisa bilang baik-baik saja saat tangannya sudah mengeluarkan darah seperti ini??, Minho meringis sedih melihat darah yang mengalir bersama air yang diguyurkan ke tangan Insa.

“Tunggu disini sebentar” kata Minho dan berlari menuju tengah lapangan mengambil tasnya.

“Kau seharusnya melawan tadi..” kata Minho lagi yang kini sedang berkutat dengan handsaplas t yang akan ia tempelkan ke tangan Insa.

“Aku tak bisa.” Jawab Insa lirih masih menahan tangisnya dengan menundukkan kepalanya tanpa mau melihat sedetikpun kewajah Minho.

“Huh.. Selesai.” Kata Minho meletakkan perlahan tangan Insa dan meraih wajah Insa untuk menatap ke wajahnya.

“Kau bukannya tak bisa, tapi tak mau. Dan lagi.. saat kau ingin menangis.. menangis saja, jangan kau tahan seperti ini.” Kata Minho pelan.

“Aku tak mau menangis,” tegas Insa

“Baiklah.. untuk kali ini ku biarkan kau seperti ini.” Kata Minho beranjak meninggalkan Insa.

“Minho.. “ panggil Insa yang melihat Minho baru berjalan beberapa langkah. “Gomawo” kata Insa tersenyum tulus. Minhopun hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman.

__________________________

“Insa, bisa tolong bawakan bola basket ini ke gudang olah raga?? Aku di panggil kepala sekolah,” pinta Minho saat pelajaran olah raga kelas Insa telah usai.

“Ne..” kata Insa singkat dan meraih bola yang di sodorkan oleh Minho.

“Ya!! Memang kau melakukan apa lagi hingga kau di panggil kepala sekolah huh??” kata Key, teman sekelas Insa mengejek Minho. Hingga semua teman-teman tertawa.

“Aiigoo~ awas kau ya!!” kata Minho pura-pura marah dan mengejar beberapa teman-teman.

“Minho memang selalu riang dan banyak teman ya.. tak heran dia salah satu namja populer selain Jinki Oppa disini.” Celetuk salah satu yeoja yang sedang melihat Minho bercanda bersama teman-teman.

“Yah… pasti enak menjadi dirinya” bisik Insa pada dirinya sendiri, ia sadar itu semua. Ia adalah yeoja yang bisa dibilang menjauhkan diri dari teman-temannya, bukan di sengaja tentunya, semua ini memang sifatnya yang tak bisa cepat beradaptasi dengan teman-temannya, dan salah satunya karena Jinki. Namja populer nomor 1 di Seoul High School ini.

“Huh?? Kenapa Pintu gudang tak dikunci??” Insa keheranan saat ia sudah berada didepan pintu gudang. Mungkin Minho lupa menguncinya, siapa yang tau kan??. Insa membuka Pintu perlahan dengan susah payah karena saat ini ia membawa 2 bola basket di tangannya. Baru selangkah Insa mulai masuk ke gudang tapi ada beberapa tangan yang mendorongnya masuk dan menutup rapat-rapat pintu gudang.

“Ya!! Buka pintunya!!! Nuguseyeo??” teriak Insa mengetuk-ngetuk pintu gudang beberapa kali.

“Huh.. karena kemarin aku belum puas menghajarmu, jadi untuk kelanjutannya.. kau aku kunci digudang sampai ada yang membukakan pintu!! Hahaha..” suara Rin He dapat Insa dengar dengan jelas.

“Rin He.. jebal.. buka pintunya..” Insa kembali meronta-ronta tidak karuan tapi untuk yang kedua kalinya ia merengek kini tak ada jawaban apapun yang terdengar. Apa Rin He sudah pergi?? Batin Insa.

__________________________

“Siapapun!!! Tolong buka pintu ini!! Ada orang didalam..!!!” teriak Insa berkali-kali, sudah berjam-jam ia terkurung disini. Dan terus berteriak-teriak hingga rasanya suara yang ia miliki hampir habis sepenuhnya.

“Jebal..!! buka pintunya!!” suara Insa terdengar parau kali ini.

“Minho!!! Kau benar, aku tak baik-baik saja.. kau benar, aku harus melawan mereka, kau benar Minho!! Jadi tolong.. bukakan pintu ini.. aku takut!!” Insa tak tau mengapa,mengapa ia berfikiran kalau Minho pasti akan menolongnya, padahal Minho baru 2 kali menolongnya. Dan yang membuatnya bingung sendiri adalah mengapa ia membenarkan setiap kata yang Minho ucapkan. Apakah selama berjam-jam terkurung disini membuatnya berfikiran jernih??

“Insa!! Kau ada didalam??” suara Minho terdengar cemas dari balik pintu gudang.

“Minho!! Jebal.. keluarkan aku dari sini… aku takut!!” setiap kata-kata yang Insa keluarkan selalu disertai isakan.

“Ne, menjauhlah dari pintu.. aku akan menghancurkan pintunya” perintah Minho. Insa pun hanya menurutinya, menjauh dari pintu gudang.

“BraAAaaAAak!!!!” suara pintu gudang yang dihancurkan terdengar sangat keras.

“Gwaencanayo??” kata Minho menatap ke mata Insa yang merah dan sembab akibat kebanyakan menangis saat didalam gudang tadi.

“Ani” kata Insa menggeleng-gelengkan kepalanya persisi seperti anak kecil.

“Aigoo~” Minho menyunggingkan senyumnya yang penuh kegembiraan dan menarik Insa masuk kedalam pelukkannya.

__________________________

“Baiklah.. apa yang ingin kau katakan?” tanya Minho. Karena Minho sudah menolong Insa, maka saat hari Minggu seperti ini Insa mengajak Minho keluar untuk membalas kebaikan Minho.

“Saat aku dikunci digudang oleh Rin He, aku tau bahwa apa yang kau katakan saat menolongku di lapangan basket itu benar, bahwa aku harus melawan Rin He.” Semangat Insa.

“Huh?? Jinja??” Minho menaikkan alis sebelah kirinya hingga kedua alisnya tidak sama rata.

“Ne.. ku fikir aku harus berubah. Jadi.. Maukah KAU!!” kata Insa menujuk wajah Minho dengan sendok ice creamnya. “Membantuku??” lanjut Insa cengengesan saat melihat wajah Minho yang kaget.

“Aiish!! Kau ini!!! Hmm.. baiklah.. tapi.. apa yang mau kau berikan sebagai imbalan kalau kau berhasil melawan Rin He??!!” Minho menyeringai ke arah Insa yang kini sedang berkutat dengan fikirannya.

“Mollayo.. akan aku fikirkan nanti sesudah aku bisa melawannya. Ottoke??”

“Baiklah.. kita mulai saja..” Minho menarik tangan Insa pelan untuk mengikutinya.

__________________________

“Hoo… ini rumahmu?? Mangapa kau mengajakku kerumahmu??” Insa keheranan karena tiba-tiba Minho mengajaknya ke rumah yang walau sederhana terkesan megah ini.

“Ani.. ini rumah teman sekelas kita. Key.” Kata Minho dan mulai mengetuk pintu rumah itu perlahan.

“Nugu?? Key?” kata Insa bersamaan dengan pintu rumah yang diketuk Minho tadi terbuka.

“Minho?? Insa?? Ada Apa??” tanya Key melihat kearah Minho dan Insa bergantian.

“Aku minta bantuanmu merubah angsa buruk rupa ini menjadi angsa yang anggun. Kau mengerti maksudku kan??” Minho mengedipkan sebelah matanya ke arah Key. dan Key hanya membalas dengan anggukan saja.

“Ok!! Kau ingin bagaimana?? Pendek?? Atau tetap Panjang??” tanya Key pada Insa saat mereka berdua kini sudah menghadap cermin yang berukuran sedang.

“Pendek saja lah.. biar keliatan sporty” Minho berpendapat tanpa menoleh ke arah Key dan Insa karena sedang sibuk berkutat dengan PSP milik Key.

“Aku setuju denganmu Minho. Aku juga berfikir begitu” Kata Key yang kemudian memulai aktifitas awal untuk merombak penampilan Insa.

“Jadi.. Insa, kenapa kau tak bilang saja kepada Rin He noona tentang hubunganmu dengan Jinki hyung, kalau kau bilang dari awal kau pasti tak akan sampai begini.” Kata Key disela-sela aktifitasnya.

“Ani.. aku tak mau seperti itu.. pasti aku akan jadi terkenal seperti Jinki-sii dong.. hehe” canda Insa.

“Sepertinya kau sudah terbiasa memanggilnya seperti itu ya..” kata Key

“Hmm.. seperti itulah.. tapi.. bagaimana kau bisa mengetahuinya?? Bukankah hanya Minho dan teman Jinki-sii.. mm.. kalau tidak salah namanya Jonghyun-sii??” tanya Insa heran.

“Haha!! Kau bercanda ya.. akukan teman dekat Minho.. bagaimana aku bisa tidak tau coba.”

“Aaah.. ya.. benar!!” Insa membenarkan perkataan Key tadi. Namun wajahnya kini terlihat cemas. Akankah Key memberitahu semua orang tentang hubungannya dengan Jinki?? Bagaimana kalau ini sampai terjadi?? Apakah kejadian di SMP itu akan terjadi lagi??

“Huh.. Insa.. kau tenang saja, aku akan merahasiakan hubunganmu dengan Jinki hyung.. Yagsog!!!” Kata Key masih berkutat dengan rambut Insa seolah-olah ia bisa membaca apa yang sedang Insa fikirkan.

“Gomawo Key..” jawab Insa lirih.

__________________________

Ring.. Ding.. Dong…

Bel masuk sekolahpun berbunyi tepat saat Insa baru saja meletakkan sepatunya diloker.

“Ada permen karet lagi di pintu lokermu??” kata Minho menghampiri Insa yang sedang menghela nafasnya.

“Ne… Sepertinya aku harus bicarakan ini kepada Rin He.. hajiman..” kata Insa nampak ragu.

“Hajiman apa?? Kau takut?? Katamu kau ingin berubah?? Percuma saja penampilanmu dirubah seperi ini oleh Key, kalau kau tetap saja tak berani.” Kata Minho nampak sedikit emosi.

“Huuuftft… baiklah, pulang sekolah aku akan membicarakan ini semua dengannya.”

“Begitu dong.. Kajja.. kita ke kelas!!” Minho meraih tangan Insa dan mengajaknya untuk bergegas menuju kelas mereka.

__________________________

“Kesini KAU!!!!” teriak Rin He saat Insa baru saja beranjak dari bangkunya untuk pulang.

“Mworago??” kata Insa mencoba untuk tenang tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.

“Kau sudah berani pada kami ya!!!” ejek So hi meletakkan kedua tangannya ke pinggang.

“Apa yang perlu ku takutkan??” tantang Insa, walau tangannya kini sudah bergetar hebat akibat pertengkaran dengan dirinya sendiri dan Rin He. Haruskah ia melakukan ini?? Apakah Insa bisa melakukan ini??

“Ya!!!” teriak Rin He berlari ke tempat Insa berdiri dan menamparnya keras.

“Kau sungguh tak tau malu!!! Sudah kubilang kau jangan mendekati Jinki!! Tapi kau tetap saja mendekatinya!!” teriak Rin He garang.

“Dan liat saja sekarang!!! Kau merubah penampilanmu untuk mendekati Jinki?? Supaya Jinki melihatmu??” Eunri yang sejak tadi berdiam diri angkat bicara.

“Sadarlah!! Kau kalah cantik dengan Rin He..!!” lanjut Sohi.

“Huh.. memangnya salah kalau aku dekat dengan Jinki-sii Huh?? Aku?? Kalah cantik katamu??”  Insa menatap Rin He dan So Hi bergantian.

“Secantik apapun kau!! Kau takkkan pernah mendapatkan perhatian Jinki, kalau dia tau sifatmu seperti ini!!” teriak Insa pada Rin He yang nampak tak gentar sedikitpun.

“Kurang Ajar kau!!!” Erang Rin He bersiap untuk menampar Insa lagi, namun terlambat. Geraknya kelewat lambat, hingga Insa dapat memegang tangan Rin He dan menghempaskannya begitu saja.

“Kau fikir aku akan tinggal diam saja atas perlakuanmu selama ini!! KAU!! Yang setiap hari mengotori pintu lokerku dengan permen karet!! Kau!! Yang kemarin mengunciku di gudang.. dan kau!!! Yang selalu menindasku hingga aku terluka!!” Teriak Insa dan mendaratkan tamparannya tepat di pipi kiri Rin He.

“Beraninya KAU!!” Rin He dengan cepat mendorong tubuh Insa hingga Insa terjatuh.

“Pegangi Dia!!!” perintah Rin He lantang kearah Eunri dan So Hi, yang dengan cepat menuruti apa yang diperintahkan Rin He.

“Terluka katamu?? Itu belum seberapa.. demi Cintaku pada Jinki!! Aku bisa melukaimu lebih daripada itu..” seringai Rin He kini muncul. Getaran tubuh Insa kini mulai muncul lagi saat ia melihat Rin He mengeluarkan silet dari saku bajunya dan berjalan perlaha-lahan mendekati Insa.

“HENTIKAN!!!!” Teriakan Minho yang terdengar lantang, mampu mengalihkan perhatian ke empat yeoja tadi menatap ke arah sumber suara.

“Noona!! Kali ini kau sungguh keterlaluan..!!!” Nada benci kini terdengar dari suara yang dikeluarkan oleh Minho.

“Hyung.. apakah kau sudah mendengar semua kejadian tadi..??” tanya Minho pada orang yang nampak bersembunyi di balik pintu kelas.

“Ne..” kata Jinki yang tiba-tiba masuk ke kelas mendekati Insa di ikuti dengan Minho.

“Rin He!! Aku tak pernah menyangka sifatmu seburuk ini” kata Jinki sinis membantu Insa berdiri. “Minho.. bantu aku” Jinki menyerahkan tubuh Insa yang bergetar ke arah Minho.

“Tapi… aku melakukan ini demi kau.. aku cinta kau Jinki. Aku tak rela kau di dekati oleh anak itu” Kata Rin He lembut menunjuk Insa yang dipapah oleh Minho.

“Cinta katamu?? Kau hanya bernafsu.. kalau kau mencintaiku, kau takkan berbuat seperti ini, apalagi terhadap adikku.!!” Kata Jinki tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

“Mwo?? Adik mu??” Rin He nampak heran dan gelisah dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Ne, walau dia adik tiriku, aku tetap menyayanginya.”

“Mianhe.. aku tak tau kalau dia-“

“Apakah saat kau tau dia adalah adikku kau akan memanfaatkannya untuk mendekatiku?? Huh.. memang benar kata Insa selama ini.. Jika para yeoja tau kalau Insa adalah adikku, Insa akan di manfaatkan oleh mereka. Sebab itu, Ia keras kepala sekali menutupi hubunganku dengannya.” Jinki menggeleng-nggelengkan kepalanya, kini ia mengerti apa yang selama ini Insa maksudkan. Tapi untuk kali ini, Jinki tak bisa diam saja, rencana yang Insa maksudkan untuk melindungi dirinya, kini malah membuatnya lebih terluka.

“Mianhae.. aku-“

“Jangan pernah kau mendekati Insa lagi, dan jangan sekali-kali kau menampakkan wajahmu kearahku.” Kata Jinki Sinis dan pergi meninggalkan Rin He, So Hi dan Eunri yang bergeming dari tempatnya.

__________________________

Tok.. tok.. suara ketukan pintu kamar Insa terdengar.

“Masuklah..” kata Insa mempersilahkan orang yang mengetuk pintu kamarnya untuk masuk.

“Boleh aku bicara denganmu??” kata Jinki nampak ragu saat melihat wajah adik tirinya menatapnya penuh arti.

“Boleh..” Insa menganggukkan kepalanya dan merebahkan dirinya ke tempat tidur. Jinkipun ikut-ikutan merebahkan tubuhnya tepat disamping adiknya itu.

“Mianhae” Jinki memulai pembicaraan.

“Untuk apa??” tanya Insa heran menaikkan alis kirinya hingga kedua alisnya tak sama rata.

“Untuk semua yang telah terjadi padamu. Seharusnya aku bisa melindungimu, yah.. aku kan kakakmu.. walau yah.. aku ka- kakak tiri” kata Jinki gelagapan saat menyebut dirinya sebagai ‘kakak tiri’.

“Hahaha.. Gwaencana.. aku tak apa kok. Dan lagi.. aku tak pernah mengganggapmu sebagai kakak tiri.. aku 100% mengganggapmu kakak kandungku.” Kata Insa riang.

“Oh ya?? Huh.. pantas saja kau selalu ketakutan di sekolah, tak taunya itu gara-gara Rin He toh..” kini Jinki nampak lebih bersemangat dari pada beberapa menit lalu.

“Ne.. Ya sudahlah.. lupakan itu semua. Sekarang aku bisa maklum kok. Rin He sangat mencintaimu. Makanya ia melakukan itu”  Jelas Insa yang kini telah bangun dari rebahannya* gak enak banget bahasanya*.

“Huh..?? Ia hanya mencintaiku dari fisikku saja, aku.. ingin mencari yeojachingu yang menerimaku apa adanya” Jinki kini ikut bangun untuk mensejajarkan badannya dengan Insa.

“Hahaha.. benar juga..” tawa Insa riang. “Oh ya.. bagaimana kau bisa ke kelasku?? Bukankah sebelumnya aku bilang ingin pulang sendiri??” lanjut Insa heran mengingat kejadian tadi siang.

“Sebenarnya aku juga ingin pulang, tapi Minho mencegahku dan mengajakku ke kelasmu” Jinki menaikkan kedua bahunya.

“Jinja?” Insa nampak kaget dengan apa yang diceritakkan oleh Jinki. Nampaknya ia harus mengucapkan terima kasih lagi pada Minho. Tanpa sadar senyuman kini muncul di bibirnya Insa.

“Ya!! Kau menyukainya ya…??” goda Jinki.

“Mwo?? Aku.. aku..” Insa gelagapan dengan pertanyaan Jinki tadi.

“Insa!!! Jinki!! Cepatlah ke dapur.. makan malam sudah siap..!!!” teriakan seorang wanita kini menyelamatkan Insa dari pertanyaan Jinki.

“Ne Eomma!!” jawab Insa dan Jinki berbarengan.

“Siapa yang terakhir ke dapur, nanti mencuci piring!!” kata Jinki jahil kemudian bergegas menuju dapur di ikuti dengan Insa.

__________________________

“Ya!!! Kenapa kau mentraktirku dengan ice cream lagi??” rengek Minho, saat Insa datang ke taman tempat janjian mereka berdua dengan menenteng dua ice cream di tangannya.

“Huh..?? jadi kau tak mau nih..??” tanya Insa.

“Karena tak ada yang lain.. baiklah.. aku terima” kata Minho mengambil ice cream dari tangan kanan Insa.

“Gomawo atas semua pertolonganmu selama ini” Kata Insa masih menjilati Ice creamnya.

“Cheonmaneyo,”jawab Minho.

“Insa” panggil Minho.

“Hemmm??” jawab Insa tanpa menoleh ke arah Minho.

“Insa..” panggil Minho lagi.

“Hem…” Insa tetap sibuk memakan ice cream di tangannya. Tiba-tiba Insa merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Segeralah ia menoleh ke arah Minho yang memasang seringai puas di wajahnya.

“Apa yang kau…” kata-kata insa terhenti saat ia melihat bibir Minho yang belepotan karena Ice cream sedikit menghilang.

“Habis..  kau tak menatap ke arahku, jadi ku cium saja pipimu.” Jawab Minho cengengesan.

“Mwo?? Wae??” kata Insa heran.

“Saranghaeyo,” Minho tersenyum ke arah Insa.

“Huh??”

“Aku menyukaimu” kata Minho tetap tersenyum.

“Huh??”

“Aigoo~.. aku mencintaimu!!” kata Minho tak sabar lagi dengan reaksi kebingungan yang dari tadi di perlihatkan oleh Insa.

“Och..” jawab Insa masih mencoba berfikir.

“Geurom?? Apa jawabanmu??” tanya Minho bersemangat.Sedangkan Insa masih berkutat dengan fikirannya.. apa yang harus ia katakan?? Apakah ia mencintai Minho??

“Na do.. Na do saranghaeyo Minho..” kata Insa mantap. Perlahan-lahan senyuman Minho mengembang penuh arti dan dengan cepat menarik tubuh Insa kedalam pelukannya.

The End…………^_^

Gimana?? Gimana?? Gaje ya..?? jangan lupa comment yaaach..^_^ gomawo udah baca FFku..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

20 thoughts on “Help Me!!!”

  1. kyaaaaaaaaaa seru-seru…
    awal na ngira klw jinki sma insa pacarn atau saling suka gtu…
    tapi pas ditengah2 yg insa lagi di make over key…mrka b3 ngomongin hbungan insa sma jinki…jdi mulai curiga klw jinki sma insa itu adek kakak…
    wah tnyta bnr adek kakak toh…walau cuma tiri…

  2. wwkwwkwkwwwkwk

    jinki populer nih ye di skul.. wakakakakaak

    baru ngeh pas di tengah cerita kalo insa adiknya jinki.. aku kira kandung.. ternyata tiri..

    seru…

  3. all!! ini pernah di share di FF party, aku inget banget, baca judulnya aja aku langsung ngeh. FF pertama yang aku baca di blog shiningstory nih. wuah, masih tetap enak dibaca. hahah.

  4. Aku juga ga tau mesti komen apa lagi, abiz uda diborong ama yg di atas..
    Poko’y nice lha thor
    ditunggu ff slnjt’y

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s