MR Poster

Miracle Romance [Chapter I]

Author : diyawonnie

Title : Miracle Romance [Chapter I]

Cast : Lee Taemin, Shim Chaesa, Park Chaeri (imaginary cast), Lee Jinki, Choi Minho, dan Kim Jonghyun.

Genre : Friendship, Romance, Fantasy, and Life.

LEE TAEMIN menyipitkan matanya yang kelam. Selain hebat menari dan berkarisma, secara tidak adil ia juga dikaruniai penampilan fisik yang memancarkan pesona sensual yang kental. Bola mata yang hitam, hidung panjang-lurus, bibirnya yang berwarna pucat dan rambut merah menyala dengan poni menyamping hampir menutupi mata kanannya.

Selembar foto tercengkeram erat di tangan, matanya membandingkan gadis yang ada dalam foto tersebut dengan gadis berwujud nyata yang kini ada di hadapannya. Ingatannya melayang pada malam beberapa minggu lalu…

“Jadi, aku akan dijodohkan dengan gadis ini?” tanyanya sambil mengacungkan selembar foto.

      Kedua orang tuanya mengangguk pasti.

      “Namanya Shim Chaesa, sekarang masih sekolah di Goojung High School. Ia seumur denganmu,” sahut Appa.

      “Jadi, bagaimana?” tanya Eomma hati-hati.

      Mata Taemin masih tak teralihkan dari foto tersebut. “Aku tak mau!” tolaknya mentah-mentah.

      “Setidaknya kau lihat dulu orangnya, baru memutuskan,” bujuk Eomma.

      “Kenapa harus dijodohkan? Ini sungguh tak rasional. Aku masih mampu mencari jodohku sendiri, Eomma.”

      Appa bangkit dari kursinya dan duduk di samping Taemin. Ia menepuk bahu anak semata wayangnya tersebut sambil berkata, “Ini bukan masalah kau mampu atau tidak, Taemin-ah, tetapi mengenai masa depan keluarga kita. Kau tahu sendiri perusahaan kita sudah bangkrut, biar bagaimanapun bertahan hidup adalah suatu keharusan. Ayah Chaesa adalah teman lamaku, beberapa hari yang lalu kami bertemu dan masing-masing dari kami menagih janji lama untuk menjodohkan anak-anak kami. Melalui perjodohan ini dia bersedia menginvestasikan uangnya untuk menghidupkan kembali bisnisku.”

      “Kalian… menjualku?” tanya Taemin tak percaya.

      Appa tertawa. “Yaah! Kau anak kami satu-satunya. Mana mungkin kami setega itu. Yang penting, bertemu gadis itu dulu, suka atau tidak, kami takkan memaksa.”

      Sunyi sejenak. Taemin nampak sedang berpikir. Kepalanya menunduk dengan kedua siku bertumpu pada lutut. “Oke, kalau begitu izinkan aku mutasi ke sekolahnya…”

Kembali ke masa kini…

Di dalam ruang dewan perwakilan siswa pandangannya tertumpu pada seorang gadis yang duduk di seberangnya. Saat ini ia sedang menghadiri pertemuan ketua klub, konsentrasinya terhadap tujuan awal mutasi ke Goojung High School untuk mencari Chaesa terpecah ketika sebuah pencalonan ketua klub dance digelar. Taemin malah fokus pada pencalonan tersebut. Barulah hari ini ia menemukan Chaesa, di tempat ini, dalam momen ini, terlebih gadis itu duduk di seberangnya.

Taemin membiarkan tatapannya bergerak liar memperhatikan gadis tersebut. Hingga tanpa ia sadari, sosok dirinya yang jangkung dan kokoh itu menegang. Pemandangan indah di hadapannya itu membuat rahangnya terasa kaku.

Penampilan gadis itu benar-benar memesona, bahkan jauh lebih baik dari selembar foto bladus yang selama ini Taemin selipkan di dalam dompetnya. Untuk hal ini memang tak perlu diragukan lagi.

Gadis bernama Shim Chaesa tersebut berdiri dan mulai menyampaikan beberapa patah kata untuk mewakili klub balet yang diketuainya. Tatapan Taemin yang jeli mengamati dengan teliti.

Dengan tinggi sedang dan profil tubuh langsing, gadis itu mengenakan seragam dengan sangat baik―seperti siswi lainnya, namun Chaesa jauh lebih bersinar ketika mengenakannya. Rambut cokelatnya yang ikal berponi tergerai di atas pundaknya dengan selipan bando beledu merah muda di puncak kepala yang senada dengan jam tangan di pergelangan kiri. Kulitnya yang putih terlihat semakin berkilau ketika ia sedang tersenyum.

Taemin menyeringai, puas dengan apa yang sedang dilihatnya.

“Sebuah paket yang sempurna,” gumamnya lirih.

Chaesa sedikit membungkukkan badannya ketika ia selesai bicara. Suara lainnya yang berat―suara seorang lelaki―yang terdengar dari pangkal ruangan, mulai berbicara dan membahas anggaran yang diperlukan klubnya. Itu Choi Minho, ia ketua klub basket. Taemin menemukan semburat merah di pipi Chaesa ketika Minho berbicara dan anehnya itu membuatnya tak suka.

“Aku ingin mengucapkan selamat pada Lee Taemin yang baru saja terpilih sebagai ketua klub dance,” ujar Lee Jinki, Presiden Siswa Goojung High School.

Lamunan Taemin buyar ketika mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh dan buru-buru berdiri kemudian membungkuk ke berbagai arah pada orang-orang yang juga duduk di sekitar meja panjang tersebut.

“Terima kasih atas dukungannya, aku akan berusaha lebih keras,” di akhir kalimat, ia sempat melirik Chaesa di mana gadis itu juga sedang menatap ke arahnya. Taemin buru-buru merunduk dan tanpa sadar wajahnya memerah.

Lima belas menit kemudian pertemuan tersebut berakhir. Semua orang mulai meninggalkan ruangan. Mata Taemin mengikuti Chaesa yang berjalan keluar. Gadis itu menengadahkan wajahnya tinggi-tinggi, membuat gerai rambutnya yang ikal tampak semakin liar dan garis lehernya terlihat jenjang. Tangan kanannya menyibakkan rambut yang ada di bahu, menyingkap kilau berlian yang menggantung cantik di telinganya.

“Taemin-ah, kau semakin populer setelah terpilih. Selamat…,” puji Jinki menghampiri Taemin ketika ruangan sudah kosong.

Hyung, kau kenal Shim Chaesa?” tanya Taemin mengalihkan pembicaraan dengan mata masih tak teralih dari pintu masuk.

“Tidak juga. Wae?”

Taemin menoleh, tatapannya menusuk. “Bagaimana bisa kau menjawab seperti itu. Kau kan presiden siswa!”

“Kalau maksudmu sekedar menyapa, ya aku sering melakukannya. Tapi jika untuk mengobrol secara personal di luar konteks urusan sekolah, tentu tidak.”

“Kenapa?”

Jinki tertawa renyah. “Percuma. Berbicara dengan Chaesa sama saja seperti bicara pada dinding.”

Taemin mengerutkan dahinya. Tak mengerti.

“Kau tahu pria bernama Choi Minho ketua klub basket tadi?” tanya Jinki dan Taemin mengangguk, mereka mengobrol sambil berjalan keluar ruangan. “Chaesa menyukainya. Di matanya, hanya ada satu pria di dunia ini, Choi Minho. Semua orang mengetahuinya. Ini rahasia umum di Goojung.”

Mata Taemin membelalak lebar, seperti baru saja mendengar kabar kalau air laut berubah rasa jadi manis. Ia berjalan meninggalkan Jinki tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pikirannya kini dipenuhi oleh Shim Chaesa, Choi Minho, dirinya, dan perjodohan konyol itu.

“CHAESA-YA,” panggil Park Chaeri.

Chaesa menoleh dan memamerkan senyum indahnya. “Chaeri-ya,” sambutnya dan merangkul gadis mungil yang berlari ke arahnya tersebut. Mereka bersahabat sejak masuk ke sekolah ini. Tubuh Chaeri lebih mungil, matanya juga sangat berbinar, ia salah satu siswi terpintar di sekolah ini.

“Apa saja yang terjadi dalam rapat tadi?”

“Hm? Tak ada yang spesial, kecuali Choi Minho yang semakin bersinar―”

“Sudah berapa watt memang sekarang kadar ketampanannya? Setiap detik kau selalu memujanya seperti itu!” sela Chaeri.

Chaesa tersenyum. “Ah, Chaeri-ya, hanya dia―”

“―pria satu-satunya yang sama sekali tidak menggubrismu,” sambung Chaeri, lagi-lagi menyela.

Yah!” protes Chaesa, senyum masih mengembang di bibirnya, ia mengeratkan rangkulannya pada Chaeri. “Jadi, siapa pria yang akhir-akhir ini membuatmu sinting?”

Chaeri tiba-tiba menghentikan langkahnya. Seluruh tubuhnya kaku dengan mata membelalak. “Dia…,” lirihnya. Chaesa mengerutkan dahinya dan mengikuti arah pandang Chaeri hingga mendapati seorang pria jangkung dengan rambut merah menyala di hadapannya.

Taemin berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana. Tatapannya yang dingin sangat menusuk dan membuat Chaesa sedikit mengkeret di rangkulan Chaeri.

“Taemin-ssi, a-annyeong,” sapa Chaeri terbata. Kelima jari di tangan kanannya terbuka lebar.

Taemin menoleh dan tersenyum hangat. “Oh, Chaeri-ya, annyeong,” sahutnya dan kembali menatap Chaesa, seketika senyum itu menghilang. “Siapa namamu?”

Tubuh Chaesa menegang. Ia menelan ludah. “Shim Chaesa. Wae?”

Taemin menatap tubuh gadis itu dari bawah hingga atas dan terpaku pada wajahnya. Kemudian ia berjalan meninggalkan mereka berdua tanpa berkata apapun.

Chaesa memutar tubuhnya mengikuti sosok Taemin yang pergi. Ia mendengus dan merutuki tingkah pria tersebut. “Cih, apa maksudnya? Tidak sopan!”

“Ah, keren! Dia sangat keren. Iya kan, Chaesa-ya?” racau Chaeri dengan tatapan memuja.

“Jadi pria aneh itu yang kau suka?”

“Dia tidak aneh, dia tampan.”

Yah, Park Chaeri, sadarlah!” Chaesa menguncang-guncang tubuh Chaeri yang masih ‘mabuk’.

“Chaesa-ya, dia tersenyum padaku. Astaga, dia bahkan memanggilku ‘Chaeri-ya’. Apa mulai sekarang aku juga harus memanggilnya ‘Taemin-ah’? Kyaaa~ Molla, molla, molla…”

“Terserah kau!” Chaesa melepaskan rangkulannya dan bergegas meninggalkan Chaeri yang mulai sinting.

Aigoo. Yah, kau mau kemana?”

“Lapangan basket.”

“Lagi?!”

CHAESA memandangi gerombolan anak basket yang sedang berkumpul di tengah lapangan dari tribun penonton. Matanya tak lepas dari sosok Choi Minho, pria yang telah menarik perhatiannya sejak masuk ke sekolah ini satu setengah tahun yang lalu. Setiap gerak tubuh Minho tak pernah luput dari matanya. Jika sedang dalam keadaan seperti ini, membuat Chaesa kembali teringat apa yang terjadi satu setengah tahun lalu…

Saat itu ia sedang berjalan-jalan di sekitar pertokoan Apgujong, melihat koleksi pakaian musim panas terbaru di setiap butik. Di sisi jalan ia melihat Minho tengah memayungi anak kucing yang dibuang pemiliknya ke dalam kotak. Ia juga menuangkan setengah botol air minumnya ke dalam mangkuk kecil dan membirakan kucing tersebut meminumnya.

Chaesa terpaku dan takjub melihat pria yang bahkan hampir tak pernah bicara tersebut berlaku hangat pada hewan. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk terus mengikuti Minho. Itulah mengapa ia mencalonkan diri sebagai ketua klub balet. Karena hanya di setiap pertemuan para ketua-lah ia bisa mendengar suara Minho.

“Awas!”

Seseorang memblok sebuah bola yang melayang ke arah Chaesa. Ia menabrak tubuh gadis tersebut hingga terjungkal ke belakang.

“Kyaaa!”

Pria tersebut buru-buru bangkit dan membantu Chaesa bangun. “Kau tak apa-apa?”

“K-kau?” Chaesa terperangah menatap penolongnya.

Taemin tercenung melihat kecantikan Chaesa dari dekat. “Bo-bodoh! Melihat seseorang sampai tak peduli keselamatan sendiri.”

Chaesa melotot, ia merasa dilecehkan. “Apa aku minta pendapatmu? Jika kau merasa keberatan menolongku, kenapa tak membiarkanku terhantam bola saja? Toh, aku pun tidak pernah berharap ditolong olehmu. Kau… siapapun kau―”

“Lee Taemin,” sela Taemin sambil mengulurkan tangannya.

Chaesa hanya melirik singkat tangan tersebut. “Kau pikir aku peduli?” ujarnya sambil bergegas pergi dari sana.

Taemin tersenyum tipis. “Menarik!”

Sedangkan di bawah, di lapangan basket, seorang pria tengah mengamati bangku tribun. Kedua matanya yang tajam menyipit dan tak pernah lepas dari targetnya.

“Saingan baru nih?” goda Kim Jonghyun menghampiri sambil menepuk pundak Minho.

“Saingan? Apa maksudmu, Hyung?”

“Jangan tertawa! Kau selalu saja seperti ini. Pura-pura tidak peka. Berhenti membangun image cool, Minho-ya!”

“Membangun―apa? Jadi kau pikir selama ini aku berakting? Ah, jincha…”

“Lalu apa? Bukankah kau juga tertarik pada gadis itu? Datangi dia sekarang sebelum menyesal. Sepertinya si ketua klub dance itu juga tertarik padanya.”

Minho diam sejenak. Sekali lagi ia mendongakkan kepalanya ke arah tribun, namun sudah tak ada siapapun di sana.

“Sudah saatnya latihan, Hyung. Kaja!”

SESAMPAINYA di rumah, Chaesa masih menghentak-hentakkan kakinya ketika berjalan. Ia masih kesal dengan tingkah Taemin di sekolah tadi. Padahal itu adalah pertemuan kedua mereka bagi Chaesa, namun cukup untuk membuatnya membenci anak itu.

“Delikan matanya yang persis ikan mati, tubuh kurus yang seperti pohon nyaris tumbang, dan… dan rambut merah kembang gula, juga ekspresi dinginnya yang memuakkan! Sudah kuputuskan kalau aku takkan pernah menyukai orang seperti itu. Aku bersumpah!” teriaknya penuh emosi sembari melepaskan kaos kaki dan melemparnya hingga tepat mengenai seseorang yang muncul menghampirinya.

NOONA!” protes anak itu.

“O-oh, Changmin-ah. Mian aku tak sengaja!”

Lelaki bernama Shim Changmin itu menyingkirkan kaos kaki noonanya dengan ekspresi jijik. “Eomma dan Appa baru saja sampai. Mereka ada di dalam.”

“Benarkah?!” pekik Chaesa. Ia memakai sandal rumah dan berlari ke ruang tengah. “Eomma, Appa!”

Dua orang yang dipanggilnya menoleh dan menyambut kedatangan anak sulung mereka. Sedangkan Changmin lebih memilih masuk ke dalam kamar. Chaesa menghenyakkan diri di sofa, duduk di antara kedua orangtuanya. Ia terlihat sangat senang. Bagaimana tidak, bisa dikatakan kalau ayah dan ibunya itu hanya pulang setahun dua kali karena kesibukan mereka di Jepang mengurus kerajaan bisnisnya.

“Ah, anak kami semakin cantik,” puji Eomma sambil memeluk Chaesa.

“Tentu saja. Kalian akan membuangku jika aku terlahir buruk rupa,” candanya.

Appa tertawa seraya menyentil dahi Chaesa. “Kau tak pernah berubah.”

“Hmm… ngomong-ngomong apa sekarang sedang santai? Bukankah biasanya hanya salah satu dari kalian yang pulang? Ada apa dengan kali ini?”

Eomma menatap Appa, begitu juga sebaliknya. Mereka terlihat sangat bingung dan ragu.

Waeyo?” tanya Chaesa.

“Hmmm, Chaesa-ya, ada yang ingin kami sampaikan…,” ujar Appa dan Chaesa menatapnya, menunggu. “Aku memiliki seorang teman lama. Kami lahir di distrik yang sama, tumbuh bersama, dan tak pernah terpisahkan. Hingga akhirnya kakekmu mengirimku ke Seoul University untuk menuntut ilmu di sana dan kami pun berpisah. Saat aku lulus, kudengar ia juga pindah ke Seoul. Kami bertemu dan membuat sebuah kesepakatan. Itu janji kami sebelum menikah, dan setelah delapan belas tahun berlalu, kami bertemu beberapa minggu yang lalu. Dan masing-masing dari kami menagih janji tersebut.”

Chaesa hampir tak mengedipkan matanya. Ia berkonsentrasi menangkap semua pembicaraan yang Appa sampaikan. “Janji apa?” tanyanya.

Appa lagi-lagi menatap Eomma. Ia terlihat ragu untuk mengatakannya. “Ka-kami akan menjodohkan anak-anak kami, Chaesa-ya.”

Chaesa terdiam sejenak, kemudian berbicara, “Tapi Changmin masih SD, umurnya baru delapan tahun―”

“Bukan, bukan dia…,” Appa membenahi letak kacamatanya, “…itu kau!”

“A-apa? Aku?” Appa mengangguk. Chaesa langsung melompat berdiri. “Dijodohkan?!” teriaknya. Appa dan Eomma menutup kuping mendengar jeritan putri mereka. “Appa-Eomma mau menjodohkanku?!”

Kedua orangtuanya memandangnya dengan wajah bersalah.

Mianhae…,” ujar Appa, “…tapi janji kami itu harus terealisasikan. Anak itu seumur denganmu, dia anak yang baik dan sopan―”

Appa, kau kenapa… kenapa melakukan ini padaku? Jadi, inikah alasan mengapa kalian kembali di tengah kesibukan?” gumam Chaesa. Entah kenapa ia sudah merasa pasrah dengan keputusan kedua orangtuanya. Mereka memang sangat baik, namun juga sangat otoriter. Hingga saat ini belum ada orang yang bisa membantah keduanya, termasuk Chaesa dan Changmin.

Chaesa menghempaskan kembali tubuhnya di sofa yang cukup jauh dari Appa dan Eomma.

“Secepatnya kami akan mempertemukan kalian,” kali ini Eomma yang berbicara.

Eomma, aku tidak mengatakan setuju. Aku tak mau dijodohkan dengan anak idiot teman Appa itu!” gerutu Chaesa.

Appa tertawa. “Yah, siapa yang mengatakan anak itu idiot? Kau keterlaluan. Lagipula siapa juga yang ingin memiliki menantu idiot.”

Appaaa!!!” jerit Chaesa memekakkan telinga.

Eomma mengambil alih situasi. “Kami tidak memaksamu untuk menikah dengan pemuda itu sekarang. Kalian hanya perlu mengenal dulu. Jika memang tidak cocok, ya apa boleh buat. Setidaknya kau harus datang jika pertemuan itu tiba…”

Eomma benar-benar diktator! Batin Chaesa makin kesal. Ia tidak menyahutnya, hanya diam tenggelam dengan pikirannya.

“Kau marah?” tanya Appa. “Kami benar-benar minta maaf, Chaesa-ya.”

Chaesa sudah tahu kalau kalimat dengan nada seperti itu adalah senjata Appa. Namun ia memang selalu kalah dan kembali pasrah. Ia menggeleng pelan dengan terpaksa.

Appa berdecak puas dan senyum mengembang dari bibirnya. “Itu baru anak kami. Nah, kami belum menentukan harinya, tapi pertemuan itu akan dilaksanakan minggu depan.”

“Kami tidak memiliki fotonya, jadi bersabarlah menunggu,” Eomma tersenyum mengerikan, membuat Chaesa tak dapat melontarkan sepatah kata pun. “Tapi kalau nama tentu dia punya, cuma kami lupa menanyakannya. Appanya sering memanggilnya ‘Tampan’.”

Chaesa mendengus. Ya, hanya orang buruk rupa yang mendapat panggilan seperti itu untuk disenangkan hatinya. Sungut Chaesa dalam hati.

“Apa aku benar-benar harus bertemu dengan si idiot itu?” tanya Chaesa lemah.

Appa mengacungkan telunjuknya. “Dia tidak idiot, Shim Chaesa,” ralatnya tegas.

“Tentu saja. Kan kau yang dijodohkan,” goda Eomma.

Chaesa mendelik dan dengan langkah penuh emosi menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Ia menyeret tasnya dengan kepala merunduk. Tidak ada senyum lagi di wajah cantiknya.

“Sudah saatnya kau melepaskan semua gambar ‘Keroro’ dari dinding, Chaesa-ya, tidak enak jika nanti dilihat calon tunanganmu,” ultimatum Eomma.

Chaesa membanting pintu kamarnya. Ia melempar tasnya ke sisi ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasur. Beberapa foto Choi Minho yang Eomma sebut ‘Keroro’ tadi menyambut hangat Chaesa di dinding.

“Kyaaaaaaaaaa!!!” teriaknya frustrasi sambil berguling-guling di atas kasur.

TAEMIN berbaring di atas kasur milik Jinki sambil membaca komik One Piece. Sebatang es krim teracung dari mulutnya. Sedangkan si pemilik kamar duduk di meja belajar, membuka-buka lembaran buku dan sesekali terdengar goretan pena di atasnya.

“Sudah malam, kau sebaiknya pulang, Taemin-ah,” usir Jinki lembut.

“Setelah aku menyelesaikan ini,” sahut Taemin santai, ia berguling mengubah posisi tidurnya.

“Kenapa tadi siang tiba-tiba kau menanyakan Shim Chaesa?” tanya Jinki dengan konsentrasi masih tertumpu pada buku pelajarannya.

“Oh, aku lupa belum cerita…,” Taemin menaruh komik di rak tempatnya semula, kemudian ia duduk menghadap Jinki yang memunggunginya. “Kau tahu kan, Hyung, kalau aku mutasi ke sekolahmu karena perjodohan konyol itu?”

“Hm,” sahut Jinki namun sedetik kemudian ia memutar kursinya dan menatap Taemin dengan mata terbelalak. “Jadi Chaesa…”

Taemin mengangguk. “Hm. Dia gadis yang dijodohkan denganku. Tapi, sepertinya aku tak bisa lagi menyebutnya ‘perjodohan konyol’ setelah melihat seperti apa rupa gadis itu…”

“Eeeiii~ Kau harus hati-hati, Tae-ya, sudah kubilang kalau dia hanya melihat Choi Minho―”

“Apa bagusnya si Choi Minho itu? Dia hanya memiliki modal tubuh tinggi―”

“Dia sangat tampan tahu!” sela Jinki sambil mengetuk pelan kepala Taemin menggunakan pena. “Aku bahkan sering merasa minder jika berdiri di sampingnya.”

Taemin mendengus dan memandang rendah Jinki. “Kau payah!” ejeknya dan berdiri mengenakan jaket, menyampirkan ranselnya, juga menyambar kunci motor dari atas meja belajar Jinki. “Aku pinjam lagi motormu.”

“Cih, sampai kapan kau terus memakai barang-barangku?”

“Aku malu jika ketahuan miskin!” Taemin menghampiri cermin dan berkaca di sana. “Wajahku sama sekali bukan tipe orang miskin. Aku akan melindungi ini, juga ini…,” ia menunjuk wajahnya dan mulai menari.

Jinki menggelengkan kepalanya dan tersenyum. “Appamu sudah bekerja keras. Jadi berhenti mengeluhkan kondisi finansial keluargamu saat ini!”

Hyung, angkat aku jadi adikmu! Marga kita kan sama.”

“Untuk apa? Bukankah semua orang di sekolah memang mengira kau adikku?”

“Aku muak jadi orang miskin. Aku ingin tinggal di sini juga,” keluh Taemin sembari menatap berkeliling. Kamar Jinki memang dua kali lebih besar dari ruang tengah rumahnya saat ini.

Jinki bangkit dari kursi dan memeluk Taemin dari belakang serta mendorongnya keluar kamar. “Cepat pulang! Jangan buat Appamu khawatir!”

Setibanya di ruang tengah, Taemin berlari ke sofa TV, ia pamit pada orangtua Jinki. “Eomoni, Abeoji, aku pulang…”

“Kenapa tidak menginap saja? Ini sudah malam,” ujar Tuan Lee.

Taemin melirik Jinki penuh kemenangan, namun Jinki segera mendorong Taemin untuk segera keluar dari rumah. “Taemin-Appa sudah menyuruhnya pulang. Dia harus pulang. Kaja!”

“O-oh, annyeonghi giseyo,” pamit Taemin. “Ah, Hyung, lepaskan!”

Jinki melipat kedua tangannya saat sampai di halaman rumahnya yang luas. “Bukannya tidak ingin kau ada di sini, Tae-ya, tapi aku sedang belajar untuk persiapan masuk universitas dan kau tak pernah berhenti mengangguku.”

Taemin menyalakan motor besar berwarna merah milik Jinki.

“Aku janji akan mengangkatmu sebagai adik jika berhasil lolos masuk Seoul University. Oke?”

“Mustahil! Itu sangat sulit, Hyung! Terserah kau saja…,” sahut Taemin sambil mengenakan helm dan menutup kacanya. Ia melambaikan tangan pada Jinki dan motor pun meluncur keluar halaman rumah.

Jinki melambaikan tangannya hingga Taemin menghilang dari pandangan. Ia menggelengkan kepalanya dengan bibir tak berhenti menyungging.

“Dasar anak nakal!”

..to be continued..

 

Preview next part:

Chaesa: “…aku… akan dijodohkan.”

Chaeri: “He? Astaga, Shim Chaesa, bagaimana kalau pria itu jelek dan idiot?”

Chaesa: “Itu juga yang kutakutkan…”

Chaesa: “Kau?! Dari mana kau tahu rumahku?”

Taemin: “Dari Park Chaeri.”

      Taemin mendekatkan bibirnya di telinga Chaesa. Gadis itu mendorong tubuh Taemin.

Chaesa: “Yaaah! Jika tunanganku tahu, matilah kau!”

     

+ Ahhh sungguh nggak pede. Nggak seru ya? -_______-“

©2011 SF3SI, Diya.

This post/FF has written by Diya, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

117 thoughts on “Miracle Romance [Chapter I]

  1. posternya bkn taemin ya? itu yg member boyfriend?
    keren loh ff nya. saingan taemin banyak nya. kok aku lebih setuju chaesa sama minho xD
    gaya bahasa dan tulisannya aku sukaaaaa….❤

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s