SUPERMAN

Title: SUPERMAN

Author: BelBel

Main cast: Kim Kibum (SHINee Key), Jang Joori (Julie)

Support cast : –

Length: oneshot

Rating: general

 Genre : Fluff

Rajin, sederhana dan pendiam. Pasti di setiap sekolah ada satu atau dua orang yang seperti itu.

            Atau kalian bisa memanggilnya dengan “Kaum Buangan.”

            Tidak di antara “Jenius” ataupun “Populer.”

            Tidak di antara keduanya.

            Dan itulah aku. “Kaum Buangan.”

            Aku orang yang sangat biasa-biasa saja. Sama sekali tidak mencolok. Mungkin saja kau takkan menyadari keberadaanku meski aku duduk di sampingmu.

            Aku tidak pernah selalu mendapat A dalam setiap ulangan harian; aku pernah dapat D dalam Bahasa Perancis. Aku tidak pernah bisa memenangkan pertandingan sepakbola; bahkan untuk berlari saja terkadang aku tersandung kakiku sendiri.

            Yah. Rata-rata.

            Aku juga tidak tampan. Tapi aku menyukai tulang pipiku. Tapi aku tidak setampan Choi Minho, senior kelas 3, kapten tim Sepakbola yang terkenal (memang dan aku sudah pernah melihatnya sendiri) luar biasa tampan.

            Aku tidak pernah punya pacar. Jadi pengalaman berpacaranku sama sekali nihil.

            Tidak pernah aku merasa nyaman di dekat perempuan. Aku hanya merasa tidak pernah cocok dengan mereka.

            Tapi dia berbeda.

            Dia juga sama sepertiku. Sama-sama “Kaum Buangan” walau dia lebih populer dariku. Dia terkenal karena kepandaiannya melukis.

            ‘Hei, Key! Jangan melamun di pagi hari—kau sudah sarapan?’ tanya Julie.

            Aku tersadar dari lamunanku dan memandangnya, tersenyum lalu mengucapkan selamat pagi kepada dia yang selalu ceria.

            Ini Julie. Jang Julie. Nama aslinya Jang Yuri, tapi dia lebih suka dipanggil Julie—aku yang membuat nama panggilan itu.

            Key memang bukan nama asliku. Nama asliku Kim Kibum. Dia memanggilku Key karena tubuhku memang jangkung (“kunci” dalam bahasa Inggris dan “tinggi” dalam bahasa Korea memiliki pelafalan yang sama) dan juga karena aku memakai kalung berbandul kunci di kali pertamaku bertemu dengannya.

            Julie inilah yang sedang kubicarakan.

            Dia rajin, sederhana dan tak banyak bicara. Dia berasal dari keluarga kaya, tapi lebih suka menaiki bus untuk pergi ke sekolah. Julie tak pernah berbicara kepada orang lain kecuali diperlukan, tapi dia bicara sangat banyak terhadapku.

            Kepandaiannya melukis membuatku tercengang. Benar-benar menyihir. Dia pernah memperlihatkan karya terbaiknya kepadaku,Paralyzed, dan aku benar-benar lumpuh setelah melihatnya—sama seperti judul lukisan itu, Lumpuh.

            Semua orang tahu Julie adalah anak yang baik.

            Anak yang, bahkan, sangat baik.

            Dia tidak pernah dikirim ke ruang Kepala Sekolah. Dia tidak pernah mendapat detensi atau esai hukuman. Tidak pernah.

            Dan misterius.

            Tak ada orang lain di sekolah ini kecuali aku yang tahu persis siapa dia. Aku memang tidak 100% mengenalnya, tapi aku cukup tahu orang seperti apa Julie.

            Sudah 5 tahun kami berteman. Aku mengenalnya sejak kelas 1 SMP. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya, dia bisa menyenangkanku dengan ocehannya yang secepat kereta ekspres. Aku tahu dia berbicara sebanyak ini kepadaku karena dia sama sekali tak punya kesempatan untuk berbicara.

            Aku sangat mengenal Julie.

            Setidaknya, kupikir begitu.

***

            Karena kelelahan setelah rapat Persatuan Pelajar setiap hari yang membuatnya pulang setelah matahari terbenam, Kibum menyandarkan kepalanya di kaca jendela bus lalu matanya terpejam sedikit demi sedikit.

            Busnya berhenti di halte tempat Kibum biasa turun, halte kecil yang tak jauh dari rumahnya. Tapi kali itu Kibum tertidur di dalam bus, tidak sadar kalau busnya melaju lebih jauh.

            Ia membuka matanya pelan-pelan, kemudian terkesiap sampai terlonjak berdiri. Kibum menarik tali di atas kepalanya kemudian busnya berhenti di halte terdekat dari situ.

            ‘Aku ketiduran, sial,’ desisnya. Turun lalu menatap papan nama halte. ‘Seogyo-dong. Jauh sekali.’

            Ia memaki pelan, mengusap mata dengan tangan kemudian memutuskan untuk berjalan kaki sampai rumahnya di Hongje-dong. Dia tak pernah ke daerah situ sebelumnya, karena ibunya berkata bahwa Seogyo-dong adalah “tempat yang penuh dengan orang tidak baik.” Karena itu Kibum tidak pernah sedikitpun sudi menginjakkan kaki disana.

            Saat itu musim dingin.

            Hanya beberapa hari sebelum Natal.

            Kibum sudah membelikan Julie hadiah Natal, dan Kibum yakin Julie pasti juga akan memberikannya hadiah Natal.

            Ia berjalan dengan takut-takut, menyurukkan tangannya masuk ke dalam saku jaket kemudian menaikkan syalnya sampai menutupi bibirnya yang hampir membiru karena kedinginan.

            Tubuhnya langsung menggigil begitu dia dipanggil. Bukan namanya yang dipanggil. Hanya ‘Hei, Nak!’ Dia tahu dialah yang dipanggil.

            Kibum berhenti berjalan kemudian memutar tubuhnya pelan-pelan. Pelan sekali. Kemudian matanya membelalak.

            Tiga orang pria berdiri kemudian mendekatinya; memasang senyuman mesum kemudian menjilat bibir mereka. Kibum tahu ada yang salah. Dia tahu sesuatu akan terjadi.

            Sebelum apa yang dia takutkan terjadi, Kibum berlari. Berlari secepat mungkin. Dia tidak peduli ia dipanggil lagi ataupun ketiga pria itu mengejarnya. Dia hanya bisa berlari.

            Kibum sadar dia telah berlari ke arah yang salah.

            Dia justru malah semakin jauh dari rumahnya.

            Ia masih berlari, sampai akhirnya dia menabrak sesuatu.

            ‘Aduh!’ Kibum berteriak. Ia terjatuh ke tanah.

            Orang yang ditabraknya menoleh ke arah suara yang dia kenal. Syal Kibum terlepas dari lehernya kemudian ia segera mengambilnya dan melingkarkannya di lehernya. Lalu ia mendongak.

            Dia tahu mata itu. Dia selalu melihatnya selama 5 tahun mereka saling kenal.

            Orang itu menarik turun syal ungu tuanya yang menutupi hidung, lalu berkata pelan, ‘Key…’

            ‘Julie?’ Key terperangah.

            Itu bukan Julie, Kibum berpikir. Julie yang dia kenal tidak pernah berkumpul dengan anak-anak jalanan yang memiliki reputasi buruk. Julie yang dia kenal tidak pernah mencoret-coret tembok dengan pilox dan berubah menjadi pelopor vandalisme. Itu bukan Julie.

            ‘JJ? Kau kenal dia?’ Salah seorang teman Julie berkata. Asap rokok keluar dari mulutnya.

            Julie tidak berkata apa-apa, ia mengulurkan tangan kemudian Kibum meraihnya agar dia bisa berdiri.

            ‘Ayo pergi, J, kita harus sudah selesai sebelum fajar. Dan jangan lupa berikan ciri khasmu agar yang lain bisa tahu. JJ telah menguasai kota ini!’ Ia tertawa.

            ‘Kalian pergi saja duluan,’ kata Julie dengan otoritas yang aneh dan mutlak dalam suaranya.

            ‘Sampai ketemu nanti, J.’

            Kibum dan Julie masih berdiri berhadap-hadapan, tidak berbicara. Kibum masih memikirkan beberapa kemungkinan yang bahkan dia sendiri tak mau mengakuinya.

            ‘Kenapa kau ada disini?’ Julie bertanya.

            ‘A-aku… Ketiduran di bus… Harusnya aku yang bertanya begitu padamu, Julie. Apa yang kaulakukan disini?! Lalu’—Kibum menangkap pilox berwarna hijau yang dipegang oleh tangan kiri Julie—‘apa itu?! Kenapa kau jadi mempunyai jiwa vandalisme begini? Kemana dirimu yang—‘

            ‘Inilah aku.

            Kibum mundur selangkah. ‘Tidak,’ ia berbisik.

            ‘Kau tidak tahu aku, Key… Kau hanya menyentuh permukaanku saja. Kau tidak berusaha menggali lebih dalam.’

            Entah kenapa Julie malah memojokkan Kibum, padahal seharusnya dialah yang terpojok.

            ‘Kau benar,’ Kibum berkata. ‘Ternyata di balik topeng tuan putrimu yang manis, wajahmu seburuk Phantom!’

            Julie tidak bereaksi. Kibumlah yang terkejut dengan ucapannya sendiri. Ia menatap Julie sambil membekap mulutnya.

            ‘Aku senang kau sudah tahu,’ kata Julie dengan nada suara yang kaku dan datar. ‘Aku akan mengantarmu pulang.’

            ‘Tidak usah,’ sergah Kibum, hampir dengan kasar. ‘Aku akan pulang sendiri.’

            ‘Oh,’ Julie mengangkat sebelah alisnya. Walau kata-kata dan tindakannya sama sekali tidak menunjukkan kesinisan, Kibum merasa tersinggung dengan itu. ‘Baiklah kalau begitu. Selamat mencari jalan pulang.’

            Julie mengangguk kepada Kibum lalu berbalik kemudian berjalan dengan santai meninggalkan Kibum yang terperanjat. Apa-apaan itu tadi? Kibum berpikir.

            Kibum melihat sekelilingnya kemudian mendadak tubuhnya gemetar. Apa yang akan kulakukan disini? Seharusnya aku menerima bantuan Julie tadi.

            ‘Julie, tunggu!’ ia berteriak, kemudian mengejar Julie.

            Kibum berlari secepat yang dia bisa untuk mengejar Julie, berbelok ke tikungan dimana Julie menghilang. Ia hendak berlari lebih jauh saat ia sadar seseorang berada tak jauh dari ujung tikungan.

            ‘Aku tahu kau,’ kata Julie pelan. Ia bersandar di tembok, melipat tangan di dada dan menyilangkan pergelangan kakinya.

            Kibum berhenti berlari, membungkuk dan memegang kakinya. Hari ini dia berlari terlalu banyak, mungkin saja kakinya akan kaku besok.

            ‘Terimakasih.’ Hanya itu yang bisa Kibum ucapkan.

            Julie beranjak dan Kibum mengikutinya dari belakang. Hanya tertinggal beberapa langkah pendek. Kibum terus menahan diri untuk bertanya hal-hal semacam ‘Siapa kau?’ atau ‘Kenapa kau melakukan ini?’ dan ‘Apa kau sudah tidak waras?’

            ‘Kau siapa?’ tanya Kibum, membuka mulutnya yang bergetar dan mengatakannya dalam satu tarikan napas pendek.

            Kibum berhenti berjalan, tapi Julie tidak.

            ‘Superman.’

            ‘Kenapa kau adalah Superman?’

            ‘Menyembunyikan wajah seorang pahlawan di balik kacamata—itu Superman, bukan?’

            ‘Tapi kau bukan pahlawan,’ Kibum mengepalkan tangannya, menginginkan jawaban yang lebih tegas dan masuk akal dari Julie.

            ‘Memang. Dan sebaiknya kau berjalan lagi atau bus terakhir akan segera pergi.’

            Kurasa akulah Lois Lane, pikir Kibum

***

            Keesokan harinya, Julie datang ke sekolah seperti biasanya, hanya saja dia tidak seceria biasanya. Kedatangan Kibum di tempat seharusnya dia tidak berada membuat Julie berubah.

            ‘Hai,’ sapa Julie kalem. ‘Kau tidak memberi tahu siapapun, kalau begitu.’

            ‘Tidak.’ Kibum tidak membalas sapaan Julie ataupun memandangnya sementara Julie meletakkan tasnya di kursi dan mulai belajar.

            Kibum mengambil buku hariannya dan bolpen dari tasnya, menyandarkan punggungnya ke kursi kemudian menulis. Bukunya diletakkan di telapak tangannya, jadi tak ada yang bisa membacanya kecuali orang yang membacanya dari belakang kepala Kibum.

5 Mei 2011

Siapa dia?

Sungguh. Tak kukenal.

Apa aku cuma Lois Lane…

…yang tidak bisa melihat jubah merah di balik kacamata Clark Kent?

Benar-benar…

Seorang Superman.

Aku bisa melihatnya melepas kacamata.

Terbang dengan perkasa, jubahnya berkibar di udara.

Dan menghancurkan hatiku.

Benarkah…

Julie yang selama ini menjadi sahabatku

Sebenarnya tak pernah ada?

Dia duduk di sebelahku. Sedang belajar untuk kuis nanti.

Tapi sosoknya tak ada di mataku.

Dia menghilang atau mataku yang rusak?

Mungkin keduanya.

Dia menyembunyikan bayangannya dengan sangat baik dan aku tertipu.

Dimana Clark Kent-ku?

Apa dia terlalu sibuk menyelamatkan dunia?

Tidak. Dia bukan seorang pahlawan.

Hanya seorang Julie.

Tapi Julie masih tidak ada.

Dimana Julie yang kukenal…

            Julie pulang tepat setelah pelajaran terakhir usai. Biasanya dia akan menghabiskan sore hari di perpustakaan bersama Kibum atau ke supermarket belanja bersama. Kali ini tidak.

            Kibum sedang membersihkan papan tulis. Hari ini dia kebagian jatah piket dan teman-temannya sudah pulang duluan, menyerahkan semua tugas membersihkan kelas kepada Kibum yang non-asertif.

            ‘Ah, Kibum, kau masih piket? Lho, Yuri sudah pulang?’ Seorang pria berusia kepala lima yang berkacamata tebal dan berkemeja hijau zaitun memasuki kelas kemudian memanggil Kibum.

            Kibum menurunkan tangannya yang memegang penghapus kemudian menoleh ke arah gurunya. Untuk apa ia mencari Julie?pikir Kibum, dahinya berkerut sedikit.

            ‘Ju—Yuri sudah pulang dari tadi. Memangnya ada apa?’

            Pria tua itu menaruh tangannya di dagu, wajahnya terlihat kesal dan bingung. ‘Payah. Dia belum mengumpulkan berkas aplikasi ke Fakultas Pertambangan. Waktunya hanya sampai besok. Tapi dia belum tanda tangan. Telepon di rumahnya juga tidak diangkat. Dia niat kuliah atau tidak, sih? Kibum, kalau kau bertemu dengan Yuri, tolong sampaikan itu padanya, ya? Terimakasih.’

            Meski sudah berbalik, orang itu masih menggumamkan Ah, payah. Kibum meletakkan penghapus di tempatnya kemudian mengambil tasnya dan pergi.

            Ia mendapati dirinya berada di jalan yang sama dengan kemarin malam, di tempat dia bertemu dengan Julie. Matanya terpaku kepada gambar di tembok—atau yang biasa disebut dengan vandalisme—yang diciptakan oleh Julie. Seperti lukisannya, meski media dan tekniknya berbeda, gambarnya mengagumkan. Menghipnotis. Akan membuatmu takkan mau berhenti memandangnya.

            Julie terkenal dengan lukisan abstraknya. Tak ada yang spesifik, itulah ciri khasnya. Dia hanya menggambar sesuai dengan isi hatinya. Sesuai dengan apa yang ingin dia sampaikan. Semuanya, lukisannya, berasal dari hatinya.

            ‘Apa-apaan aku ini…’ Kibum menggumam. Menepuk dahinya keras-keras dan menyesali kedatangannya kesana. ‘Untuk apa aku susah payah mencarinya kesini?’

            ‘Hei.’

            Seperti reaksinya malam lalu, Kibum tersentak kemudian gemetaran lagi. Entah itu pencopet, pemerkosa, atau bahkan pembunuh, Kibum tidak tahu. Ia berbalik.

            Pria itu nampaknya tidak jahat, menurut Kibum. Usianya mungkin 30-an, berpakaian necis dan simpel tapi jelas bermerek.

            ‘Ada perlu apa disini?’ tanya pria itu. Mata pria itu mengamati Kibum dari rambutnya hingga sepatunya, sampai Kibum merasa risih dengan kelakukan pria itu.

            ‘Aku mencari… Seorang teman…’ Kibum berkata lirih. Apa Julie masih bisa dianggap teman? pikirnya.

            ‘Oh,’ pria itu membuat isyarat seolah mengerti. ‘Kau mencari Julie? Seragam kalian sama. Ayo ikut aku, biasanya dia main ke tempatku setiap hari.’

            Dia menarik tangan Kibum dan Kibum hampir menjerit ketakutan, banyak pertanyaan dan pemikiran-pemikiran bercokol dalam batinnya. Aku akan dibawa kemana?

            Pria itu membawa Kibum ke bar miliknya. Sebuah bar yang mewah dan berkelas. Tidak seperti bar murahan yang berbau rokok dan dipenuhi preman-preman rendahan. Bar itu sepi. Dan gelap. Gelap sekali.

            Kibum, sekali lagi, terpana oleh dinding-dinding di bar itu yang setiap sentinya ditutupi oleh lukisan yang berkilau di dalam gelap. Entah cairan apa yang digunakan oleh sang pelukis. Lukisan itu hanya… Wow. Luar biasa.

            ‘Keren sekali, bukan? Semua ini Julie yang melukisnya.’

            Kibum menganga. Julie yang melukis ini semuanya? Wow. Tapi seharusnya aku tidak kaget. Dia kan memang jenius dalam melukis.

            ‘Ini semua… Julie yang…?’

            ‘Benar,’ pemilik bar mengangguk, meski Kibum takkan bisa melihatnya. ‘Julie jatuh cinta dengan dunia lukis-melukis. Dia seniman muda yang sangat luar biasa berbakat. Sayangnya, ayahnya tidak setuju dengan impiannya dan memaksanya mewarisi usaha tambang berlian di Afrika Selatan.’

            Tapi lampu bar menyala. Kibum dan pria pemilik bar berbalik.

            ‘Apa yang kaulakukan disini?’ desis Julie. ‘Dan Bos, tolong jangan seenaknya berbicara.’

            ‘Julie…’ kedua laki-laki itu berbicara bersamaan.

            Tapi Julie tidak mengindahkannya. ‘Apa maumu kesini?’

            Julie selalu mendesis ketika marah, dia tidak pernah menaikkan volume suaranya ketika marah. Tidak pernah. Dan suara desisan Julie, apalagi Julie yang sekarang, sangatlah mengerikan.

            ‘Pak Guru pesan soal aplikasi kuliah,’ jawab Kibum dengan suara pelan, menciut karena Julie marah.

            ‘Kau kesini hanya untuk itu?’

            ‘Itu penting…’

            ‘Demi Tuhan, Kibum’—Kibum terkejut, Julie tidak pernah memanggilnya dengan nama aslinya—‘kau sinting atau otakmu bergeser ke lututmu? Datang kemari masih memakai seragam sekolah! Apa sih yang kaupikirkan? Ini bukan tempat untuk orang sepertimu, tahu!’

            Kibum terkejut lagi.

            ‘Julie, jangan keterlaluan! Jangan kasar,’ pemilik bar membela Kibum.

            Julie terdiam, ia memalingkan wajah. ‘Kamu cerdas, kan? Ayo keluar sebelum terluka.’

            Ia mendekati Kibum kemudian menarik tangannya, membawanya pergi. Kibum berjalan menunduk dan berpikir. Tangannya hangat; tangannya selalu hangat. Ia mendongak kemudian menatap Julie yang masih memasang ekspresi datar. Dia menakutkan dan berbahaya. Tapi aku malah ingin dekat dengannya. Ingin lebih mengenalnya. Ada apa denganku?

            Hari berikutnya, mereka mulai menjauh. Kibum-lah yang menjauh. Tapi dia masih terpancing setiap kali nama Julie disebut. Misalnya seperti seorang teman sekelas memanggil nama Julie untuk memintanya mengajari membuat skesta perspektif, Kibum dan Julie tak sengaja bertemu mata dan Kibum buru-buru membuang muka.

            Apa aplikasi kuliah Julie sudah beres? Ia terkesiap lagi. Tolol. Seharusnya aku fokus saja ke ujianku. Tolol.

            Kibum sedang berada di ruang guru sepulang sekolah, menyerahkan tugas Bahasa Perancis yang terakhir saat gurunya meminta ijin ke toilet. Ia menunggu dengan tenang, mendengarkan obrolan para guru yang kebanyakan mencemaskan murid-muridnya yang mendapat nilai merah.

            ‘Ada apa?’ Kibum mendengar suara guru Konselingnya.

            ‘Aku punya berita penting,’ kali ini suara guru Matematikanya. ‘Aku lihat Yuri di bar minuman keras. Di Seogyo-dong. Itu lho, Jang Yuri, yang pandai melukis.’

            Kibum tercekat. Gawat…

            ‘Anda yakin? Sudah tanya dengan Yuri sendiri?’

            ‘Tidak, tidak perlu tanya. Aku yakin sekali, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!’

            ‘Baiklah, malam ini kita cek kesana.’

            Tanpa memperdulikan gurunya yang sudah kembali dari toilet, Kibum langsung berlari keluar. Dia kembali ke bar, langsung berlari begitu turun dari bus. Pemilik bar sudah membukakan pintu untuknya, saat ia melihat Kibum berlari tergopoh-gopoh menuju barnya (jarak halte ke bar cukup jauh), dan Kibum langsung menerobos masuk tanpa menghiraukan sapaan pemilik bar.

            ‘Julie!’

            Ia berhenti mengetik. Ia mengangkat alisnya. ‘Mau apa kesi—‘

            ‘Pak Guru akan kesini!’

            ‘Kau serius?’ Wajah Julie masih santai, walau sebenarnya jantungnya berdegup kencang.

            ‘Ada guru yang melihatmu disini. Jadi mereka akan mengecek. Cepatlah pergi dari sini,’ kata Kibum terburu-buru. Sedikit merasa aneh karena sudah 2 hari belakangan ini dia tidak bertegur sapa, apalagi mengobrol dengan Julie.

            Julie terdiam kemudian mematikan laptopnya dan berdiri.

            ‘Kenapa… Kau berusaha menolongku?’

            ‘Eh?’

            ‘Apa kau suka padaku?’

            Wajah Kibum bersemu merah. Entah dia memang menyukai Julie atau hanya karena digoda. Wajahnya selalu memerah saat digoda oleh Julie.

            ‘A-aku…’ Kibum tergagap.

            ‘Bikin repot saja,’ Julie mendesah. Mereka bertatapan dan tatapan Julie mungkin saja membunuh Kibum. Dingin. Tak berperasaan. Bukan Julie yang hangat dan ceria.

            ‘Aku tidak pantas untuk anak baik sepertimu. Kamu juga tahu itu, kan, Kibum. Sudah kubilang, jangan datang lagi kesini.’

            Hanya dengan itu, Kibum menunduk dan berlari keluar. Dia berlari kembali ke halte. Airmata menuruni pipinya.

            ‘Julie…’ pemilik bar berkata.

            Julie memandangnya lembut. ‘Bos, sebelum ketahuan, sebaiknya aku pergi dari sini. Kalau mereka datang dan bertanya, aku percaya kau akan melindungiku. Terimakasih untuk semua kesempatan yang sudah kauberikan.’

            ‘Kau boleh datang kapan saja, Julie. Bar ini terbuka untukmu,’ kata pemilik bar dan memeluk Julie seperti memeluk anak perempuannya sendiri.

***

            Setelah itu, Julie tidak muncul di sekolah.

            Di hari berikutnya, dia tidak datang lagi.

            Di hari seterusnya dan seterusnya, dia tidak kunjung datang.

            Ternyata Julie sudah berhenti sekolah atas keinginannya sendiri. Entah dia melanjutkan sekolah dimana. Tak ada yang mengetahui keberadaan Julie.

            Kibum memandang meja di sampingnya yang sudah kosong selama 2 bulan. Terkadang ia masih terbayang sosok Julie yang bagaikan patung ketika sedang belajar, terkadang pula senyuman Julie melayang di pikirannya.

            Apa kau suka padaku? Pertanyaan itu menohok Kibum.

            Aku tak tahu, Kibum berpikir. Apakah aku suka padanya, atau tentang siapa dia sebenarnya. Aku tidak tahu. Yang pasti…

            …aku merindukannya.

 

***

            Julie menggelar semua alat melukisnya di meja bar, sang pemilik memperhatikannya dengan serius. Ia mulai mencoret-coret sebidang kertas. Sesekali ia membaca buku di sisi yang berbeda dengan alat melukisnya.

            ‘Kenapa kau belajar disini? Di rumah kan lebih nyaman,’ kata pemilik bar sembari membuatkan frappucino kesukaan Julie.

            ‘Di rumah tak ada tempat untukku. Ayah marah besar saat tahu aku berhenti sekolah. Jadi disinilah aku sekarang,’ jawab Julie kalem.

            ‘Apa kau menyesal?’ tanya pemilik bar.

            ‘Tidak. Tentu tidak. Karena sekarang aku jadi bisa fokus kepada apa yang kusukai.’

            Pemilik bar bertopang dagu.

            ‘Lalu laki-laki itu… Bagaimana, ya, kabarnya sekarang? Sudah 2 bulan sejak saat itu. Pasti dia sudah lulus. Kau sengaja membuatnya jadi benci kepadamu, kan? Dasar bodoh.’

            Julie menyesap frappucino-nya kemudian membuka sebuah halaman di bukunya.

            ‘Jangan ngaco. Aku hanya melakukan yang terbaik untuknya. Aku yang sekarang, apalagi setelah dia tahu aku yang sebenarnya, tidak baik untuknya. Tapi…’

            Pintunya terbuka. Pelan sekali.

            Pemilik bar menoleh.

            ‘Kalau Kibum tetap datang setelah perkataanku itu, aku rela melakukan apapun. Lagipula sebenarnya aku…’

            ‘Serius nih?’ Pemilik bar tersenyum ke arah tamu yang baru saja masuk. ‘Kalau begitu, lakukan itu. Sekarang juga.

            Julie menoleh. Sang tamu tersenyum.

            ‘Hai, Superman.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

26 thoughts on “SUPERMAN”

  1. Iih…suka ih sama ceritanya! Authornya berbakat nih! Kenalan dong. Ehehe *sok akrab*
    Kalimat2nya akrab dan pas. Trus ga cengeng. Ff ini nggak ngegambarin supeman dlm wujud pahlawan,malah sbaliknya. Imejnya clark kent tp dalemnya joker. Hehe.
    Nice ff dan salam kenal 😀

  2. keren !!! biasanya karakter julie di mainkan oleh cwo tapi ini keren !!
    julie hanya pelukis bukan org macem2… dy kaya gini karena ayahnya … huhuh masa superman .. ??
    ayoo sequelnya dong !!!

  3. huaaaaaaaaaaa KEREN KEREN KEREN….
    walau aku aga ngerasa jiwa mrka dsni kebalik…
    maksudnya…key dsni kya na lbh pnts yg jdi cwe…trus julie cwo nya…
    tapi KEREN BNGT…..

  4. ADUDUH ini ceritanya gimana julie itu hantu??
    atau julie itu anak2 liar??
    kok key sampai kagetnya gitu??

    aduuuh menurutku agak gantung nii mian bsa nyerca doang padahal nulis cerita aca takut hehehehe author hwaiting

  5. Kereen,,, butuh daya imajinasi yg tinggi buat bikin FF kayak gini,, bahasa ny juga enak.. Yg paling aq suka judulnya menipu,, bener2 menipu,, pas baca tuh judul superman,, dlm bayanganku pasti Key yg jd sentral alias superman-nya, ehh ternyata,, jauh dari bayangan,,

    author!! I Love you full!!! Lebih i Love you lagi klo dibikin sequel,, hehehe

  6. UWAAAAAAAAAHHHHH
    Kemarin aku baru baca setengaaaahhh
    hwua hwua hwuaaaaa~

    Akhirnya baca sampe akhir dan aku tersepona eh
    Awalnya aku mikir, gila ini si Key banci banget. But then, woooowww
    Gak ada yang spesifik buat bilang Key itu cowok banget, tapi saat dia dateng di akhir
    itu cukup bikin aku senyam-senyum hahaha~

    Intinya ini FF bagus, penuturan ceritanya, kalimatnya, perbendaharaan kata, kerapian menulis, well aku bukan seorang ahli bahasa
    jadi aku gak ngeh ada typo apa enggak, overall ini bagus kok

    Eh tapi aku bingung saat dikaitkan sama superman
    entah otakku lagi istirahat atau emang begini hahaha~

  7. Aaaaaaaaaa endingnyaaaaa top abiiss
    Endingnya gaul gituu. Seriusan thor wkwk
    Pas ajusshi nya bilang “kau sengaja membuatnya benci kepadamu kan? Dasaf bodoh.” Itu udh mulai nebak banget kalo julie juga suka sm key
    Aduh gatau lg lah mau ngomong apa, ff nya terlalu cool (y) daebaaaaakkk! 😀

  8. kyaaa… nama panggilan ‘Julie’ nya sama sama ff yang lagi aku buat. Daebak!
    terkesan ama si julie yang berer-bener waw 😀
    key? gak populer? hahahaha mungkin dia satu-satunya yang paling tampan di antara ‘Kaum Buangan’
    Daebak! hahaha mianhae baru bisa comment~

  9. iih..Sumpah KEREN banget..
    Biasanya aku cuma dapet feel cerita sama Fiksi tertentu aja..
    Tapi ini bedaaa, yg ini bener-bener menjiwai, lebih dapet feel nya dari FF yg kadang aku baca..hehe -,-
    Authoorr.kerennn!!!!! Suka bangeet~

    Kata-kata nya.. cool banget, kalem, simple, nyantai tapi berisi..
    Kyaa.. semangat bikin fiksi berikutnya yaa..
    Salam kenal author BelBel^^

  10. keren bgd sumpah,kl pny 100 jempol,aq acungin deh.
    Ff ini ga biasa.dan critany jauh dr dugaan awalku wkt liat judulny.speechless sumpah,author’a keren deh.
    Ayo dtunggu bgd karya slanjutny

  11. aaaaa ini ceritanya keren . beda sama kebanyakan ff yg lain . walopun kadang ngebayanginnya ga nympe tp top bgt deh authornya ini .

  12. bagus banget ceritanya
    penyusunan kalimat2nya jga bagus
    authornya berbakan nulis nie
    tp ceritanya agak gantung itu
    but nice ff
    aq suka bgt
    author lanjutkan!!!
    d tunggu karya2 berikutnya

  13. FFNYA KEREN!
    apalagi sm tokoh Julie yg misterius…Key polos bgt disini
    ska sma ceritanya ma karakter tokohnya jg ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s