My Little Bride – Part 10

Title : My Little Bride (chapter 10)

Author : Choi Ji Yeon

Main Cast : Choi Minho, Choi Ji Yeon, Lee Jinki, Kwon Yuri

Support Cast : Im Yoona, Taemin, Choi Siwon, Yoogeun

Length : Sequel

Genre : Comedy, Romance

Rating : PG 15

Credit Song :

C.N Blue – Love Light

SHINee – Amigo, In My Room, Last Gift, Please Don’t Go

 

Choi Ji Yeon POV

“Taemin-ah, ngomong-ngomong Minho tahu kan kau sekolah disini?” tanyaku. Kalau Minho tidak tahu, bisa gawat urusannya!

“Anio.”

Mataku langsung membulat saking kagetnya. Apa yang ia katakan tadi? “MWORAGU?! Minho tidak tahu?!”

“YA TAEMIN-AH!” teriak seseorang di belakangku.

Omo… aku pasti akan kena masalah lagi!

“Taemin-ah wae irrae?!”

Aku langsung membalikkan badan ke belakang mengikuti Taemin. Benar, sekarang Minho sudah ada di depan kami dengan raut wajah yang sangat membuatku merinding. Tak lama lagi, aku yakin pasti magma didalam otaknya akan segera meletus.

“Oh… hyung…” kata Taemin dengan senyum ramahnya. Masih bisa-bisanya anak ini?

“APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!” bentak Minho langsung. Benar kan, dia memang pemarah! Dasar hyung yang buruk! Bagaimana bisa sikap kedua kakak beradik ini berbeda 180 derajat?

“Aku? Sekolah,” jawab Taemin masih dengan santainya, seolah kemarahan Minho adalah makanannya sehari-hari. Taemin… kasihan sekali kau punya hyung seperti Minho.

“Choi Ji Yeon!” tiba-tiba Minho menyebut namaku. Aissh, celaka! “Kenapa kau diam saja? Kau mau mencari cara untuk melarikan diri dari masalah ini?”

“Hyung, Ji Yeon noona tidak salah. Dia tidak tahu apa-apa,” Taemin membelaku. Omo, kau benar-benar adik ipar yang baik!

“Nah, sekarang apa kalian mulai saling membela?”

“Minho, apa maksudmu?” aku mulai angkat bicara. Minho sudah keterlaluan. Apa dia menggunakan adiknya sendiri sebagai pelampiasan atas rasa frustasinya ditinggal mati oleh Yoona?

“Jujur saja, kau suka kan dengan kehadiran Taemin. Karena dengan itu kau bisa terlindungi kalau aku memarahimu.”

“Mworagu?”

“Apa jangan-jangan kau mulai ‘menyukainya’ ya?”

“Ya! Apa kau menilaiku serendah itu?!” tanyaku meninggikan nada bicaraku. “Memang kau anggap aku yeoja murahan? Kenapa kau tega sekali sih?”

Minho tertawa kecil, meremehkanku lagi. “Bukannya memang begitu?”

PLAK! Aku menampar Minho dengan tanganku sendiri. Aku tidak menyangka Minho akan berkata seperti itu padaku. Dia benar-benar keterlaluan!

“Noonaaa!!!” teriak Taemin memanggilku. Aku tidak memedulikannya. Aku berlari pergi dari tempat itu sambil menyeka air mata di wajahku. Minho, kau benar-benar berubah!

Akhirnya, langkahku berhenti di lapangan basket indoor sekolah. Aku menangis keras disana. Aku menumpahkan semua kekesalanku dengan berteriak. Hatiku benar-benar sakit saat ini. Kenapa Minho berpikir serendah itu padaku? Apa salahku sebenarnya? Apa ia sudah lebih mencintai Yuri dari pada aku? Apa semua ini gara-gara Yuri? Karena Yuri mirip dengan Yoona?

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHH!!!! AKU BENCI CHOI MINHOOOOOO!!!!!!” teriakku lagi. Aku memegangi kepalaku yang terasa sakit sekali lalu terduduk di lantai sambil menangis.

“Noona…”

Aku tidak menghiraukan panggilan Taemin yang telah berdiri disampingku. Aku terus menangis. Seolah air mataku tidak akan pernah habis.

Taemin pun berjongkok agar tingginya sama denganku. Ia mengelus punggungku. “Noona… uljima…” ucapnya tapi aku tidak bisa melakukannya kali ini. Aku tidak bisa berhenti menangis!

“Hiks… Hikss…”

Perlahan Taemin membenamkan kepalaku di dadanya. Aku menangis dalam pelukannya. Ya, mungkin yang aku butuhkan saat ini adalah pelukan dari orang terdekatku. “Noona, uljimayo. Lupakan saja kata-kata hyungku. Dia memang sering begitu…”

“Tapi dia sudah keterlaluan sekali Taemin…”

“Aku juga sering dimarahi olehnya. Jangan sedih noona… Aku tidak mau melihat noonaku sendiri menangis seperti ini,” hibur Taemin sambil menepuk-nepuk kepalaku pelan.

Aku melepaskan pelukan Taemin dan mengusap air mataku. Aku menatapnya sambil tersenyum. “Keurae, aku juga tidak ingin membuatmu khawatir. Gomawo..” kataku sambil mengacak-acak rambutnya.

“Hehehe…” Taemin tertawa lucu. “Noona, apa kau tahu aku jago nge-dance loh!”

“Jeongmal? Tunjukkan padaku!”

“Keurae!” Taemin pun berdiri. Ia menyiapkan posisi lalu memulai Popping dancenya. Aigo, keren sekali! Aku sampai dibuat kagum melihatnya. Setidaknya, aku bisa sedikit melupakan Minho…

Choi Ji Yeon POV END

Choi Minho POV

Haah… aku malas masuk ke kelas hari ini. Aigo, sepertinya kebiasaan burukku saat masih di Korea kambuh lagi. Ini semua gara-gara Ji Yeon! Kenapa sih dia selalu membuatku marah? HAAAAAAAAHH! Aku pusing! Lebih baik tidur di UKS saja!

“Hai Minho!” tiba-tiba ada Yuri menghampiriku. Aigo, kenapa hari ini dia… dia…

“Minho, apa yang salah denganmu?”

Yoona noona… tiba-tiba aku teringat padanya. Saat aku sedang murung begini, Yoona noona selalu menanyaiku dengan kata-kata yang lembut. Lalu ia mendekapku dalam pelukannya, seperti yang selalu dilakukan Ummaku saat aku kecil dulu.

“Minho? Minho?” tanpa sadar Yuri sudah mengibaskan tangannya di depan wajahku.

“Oh, maaf Yuri. Ada apa?”

“Minho… aku mau tanya padamu apa kau jadi ikut…”

“Minho, apa kau berkelahi lagi dengan temanmu? Aigo, kau ini! Kenapa kau belum juga menghilangkan kebiasaan burukmu itu? Lihat, kau terluka sekarang. Minho, kau selalu membuat noona khawatir!”

Yoona noona… kenapa aku merasa seolah ada kehadiranmu disisiku sekarang? Kenapa aku merasa sangat merindukanmu? Aku ingin kau ada disini noona. Aku ingin kau menghiburku, menyentuh wajahku, mengelus rambutku… seperti yang dulu selalu kau lakukan. Noona… aku sangat mencintaimu…

“Minho… Minho… apa kau mendengarkanku? Kenapa kau menangis?”

“Noona…” tiba-tiba aku memeluk Yuri. Entah, aku seperti ingin melampiaskan ini semua. Aku benar-benar ingin melakukan apa yang dulu selalu dilakukan Yoona noona. Andai ia tidak pergi secepat itu… Aku memejamkan mataku, merasakan kehangatan tubuh Yuri seolah itu adalah tubuh Yoona noona yang dulu selalu memelukku…

“Minho… kau baik-baik saja?” tanya Yuri tapi aku tidak menjawabnya. Cukup pelukan ini, akan sedikit menenangkanku…

Choi Minho POV END

Choi Ji Yeon POV

Apa lagi yang mereka lakukan? Sekarang Minho sudah mulai memeluk Yuri? Lalu apa yang akan mereka lakukan lagi? Kenapa semuanya jadi begini?

“Noona… gwaenchana?” tanya Taemin disampingku.

Aku merasakan wajahku memanas dan air mata turun membasahi pipiku lagi. Hatiku lebih sakit kali ini. Aku melihat nampyeonku sendiri memeluk yeoja lain dengan sangat mesra. Apa ini gila? Apa Minho masih menyimpan Yoona didalam hatinya? Apa dia tidak bisa menerimaku sebagai pengganti Yoona, walau aku sendiri tidak akan bisa sebaik Yoona.

“Taemin, aku mau sendiri. Kau bisa kan meninggalkanku?”

“Noona, tapi apa kau akan baik-baik saja?”

“Tentu saja!” kataku mencoba bercanda dengannya. “Aku tidak mungkin sampai bunuh diri kok. Cha, pergilah. Masuklah kekelasmu,” suruhku dan Taemin menurutinya.

Sepeninggal Taemin, aku berdiri sendiri menatap Minho dan Yuri berpelukan seerat itu. Mereka seperti sepasang kekasih. Apa memang begitu? Minho berselingkuh dibelakangku.

Tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku terkejut dan langsung menatap orang itu.

“Ikutlah denganku,” kata Jinki oppa.

“Ini,” Jinki oppa memberiku satu cup besar kopi hangat.

Aku menerimanya sambil tersenyum. “Gomawo…”

Lalu Jinki oppa duduk disisiku. “Aigo, matamu bengkak. Apa kau menangisinya sampai air matamu satu liter?” Jinki oppa berusaha mencairkan suasana.

“Oppa…” balasku.

“Sayang sekali ya. Minho menyia-nyiakan yeoja secantik dan sebaik kau,” kata Jinki oppa membuatku menoleh padanya. Apa maksudnya?

“Maksud oppa?”

Jinki oppa menatapku lembut. “Ji Yeon… Saranghae…”

Mataku membulat seketika. Apa Jinki oppa tidak salah bicara? Atau aku yang salah dengar? “Oppa…”

Jinki oppa memegang tanganku lalu menempelkannya di dadanya. “Ji Yeon, aku berjanji akan selalu mencintaimu sampai kapanpun. Aku janji akan selalu menjagamu. Ji Yeon, maukah kau hidup bersamaku?”

Aku langsung menarik tanganku. “Andwae oppa. Nan mottae. Aku adalah anaenya Minho. Aku miliknya, bukan orang lain lagi,” kataku tanpa menatap Jinki oppa sedikitpun. Aku terlalu takut.

Jinki oppa memegang pundakku, membuatku mau tidak mau harus melihat wajahnya. “Tapi apa kau lupa apa yang diperbuat Minho padamu? Dia telah mengkhianatimu dan berselingkuh di belakangmu kan?”

“Tapi…”

“Ji Yeon, dengarkan aku. Minho tidak pernah sungguh-sungguh mencintaimu kan? Lalu kenapa lagi kau pertahankan pernikahan kalian? Toh apa sekarang ia peduli padamu? Minho sudah bersama Yuri. Dan kau… bersamaku…”

Aku menatap kedua mata Jinki oppa. Ya Tuhan… aku benar-benar bingung.

“Hiduplah bersamaku Ji Yeon…” pinta Jinki oppa lalu mengendurkan tangannya dan melepaskan pundakku.

“Apa kau bisa memberiku waktu?” tanyaku.

“Waktu?”

Aku mengangguk.

Senyum Jinki mulai mengembang. “Keurae. Sampai nanti malam. Aku akan menjemputmu di taman. Kalau kau datang, berarti kau mau. Tapi kalau kau tidak datang, berarti kau menolakku. Arachi?”

“Ne… beri aku sampai jam sepuluh malam.”

Jinki oppa mengangguk. Lalu ia tersenyum.

Aku pulang ke rumah dan langsung menemukan Minho sedang menonton tv. Aku memperhatikannya dengan malas.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang ingin kau sampaikan?” tanyanya tanpa melihatku sedikitpun.

“Keurae,” jawabku tapi Minho masih tidak bergeming. “Aku mau kau memutusaknnya nanti malam.”

Minho pun akhirnya menatapku sambil mengerutkan kening. Tapi sebelum ia bertanya aku sudah menyelanya. “Soal pernikahan kita. Datanglah nanti malam ke taman kalau kau mau melanjutkan pernikahan ini. Dan itu berarti kau masih mencintaiku. Tapi kalau kau tidak datang, berarti kau sudah tidak mencintaiku…. Dan kita… bercerai.”

“Mworagu?!”

“Paling lambat jam sepuluh malam. Karena saat itu Jinki oppa akan menjemputku untuk

tinggal bersamanya,” lanjutku lagi tanpa member kesempatan Minho untuk berbicara.

“M… Mwo?! Jinki? Andwae, kau tidak usah melakukan hal konyol seperti ini,” tolaknya.

“Ani, aku sudah berjanji pada Jinki oppa. Ini semua tergantung padamu,” aku bersikeras.

“Aku tidak bisa. Nanti malam ada acara.”

“Ya sudah, berarti kita bercerai,” kataku lalu masuk ke kamar, tanpa menghiraukan panggilan Minho. keurae, mungkin pernikahan kita hanya sampai disini Choi Minho. Mungkin takdir itu hanya bersifat sementara…

Malam harinya…

Ugh! Berkali-kali aku melihat jam tanganku. Sekarang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Minho belum datang juga. Aku menjadi takut. Bagaimana kalau ia benar-benar tidak datang? Apa yang harus kulakukan? Apa aku akan bisa menerima tinggal bersama Jinki oppa?

Aku merasakan wajahku mulai memanas dan air mataku seolah mau tumpah saat mengingat Minho. Dari awal pertemuan kita, semua pertengkaran kita, sampai saat-saat dimana Minho menunjukkan perhatian dan rasa sayangnya padaku. Choi Minho… apa benar takdir kita hanyalah berakhir seperti ini? Apa Choi Couple akan berakhir begitu saja? Kumohon… datanglah Minho… peluk aku seperti dulu. Jangan biarkan aku direbut orang lain…

Minho… Minho… Minho…

“Choi Ji Yeon!”

Aku langsung membuka mataku dan melihat siapa yang memanggilku. Minho?

“Ji Yeon!”

Senyumku langsung berkerut saat ternyata yang datang adalah… Jinki oppa. Ia tersenyum padaku, tapi aku membalasnya dengan senyum yang dipaksakan. “Apa ini sudah jam sepuluh malam?” tanyaku lemas.

“Aigo, wajahmu memerah kedinginan,” Jinki oppa memegang kedua pipiku dengan tangannya yang tertutup sarung tangan yang hangat. Tidak Jinki, wajahku memerah karena aku menangis.

“Ayo kita pergi, kau bisa hypothermia disini,” ajak Jinki sambil menggandeng tanganku. Aku menahannya. “Ada apa?” tanyanya.

Aku berpikir sejenak. Apa ini jalan yang benar? Aku takut aku tersesat, dan…tidak ada Minho yang menuntun jalanku.

“Ji Yeon?” panggil Jinki oppa membuyarkan lamunanku.

Ani, Minho kan tidak mencintaiku. Lupakan dia Ji Yeon! “Ne, oppa,” ucapku sambil tersenyum dan Jinki oppa membukakan pintu mobilnya untukku.

“Kita mau kemana oppa?” tanyaku. Tapi Jinki oppa malah memasangkan sabuk pengaman terlebih dahulu padaku. Aigo, kenapa ia begitu romantis?

“Kemanapun kau mau,” jawabnya sambil mulai menyetir mobilnya.

Aku tersenyum. Ya,walaupun sedikit menyakitkan pada awalnya, tapi mungkin ini yang terbaik untukmu, Choi Ji Yeon…

Drrrt…drrrt… Aku merasakan handphoneku bergetar. Aku membaca nama Taemin di layarnya. Ada apa anak ini menelponku?

“NOONAAAA…”

Aku sampai menjauhkan handphoneku dari telinga mendengar teriakan Taemin sekeras itu. ”Wae Taemin-ah? Kenapa berteriak-teriak begitu?”

“Minho hyung… “

“Wheyo?” perasaanku mulai tidak enak.

“Dia kecelakaan…”

Dia kecelakaan… Aku langsung menjatuhkan handphoneku. Wajahku memucat dan aku merasakan semua aliran darahku berhenti. Tubuhku menjadi sedingin es. Minho…. kecelakaan?

To be Continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

61 thoughts on “My Little Bride – Part 10

  1. yah minho y kecelakaan…..
    q agak sedikit bingung sama cerita y minho kok bisa ngomong kasar gt sama jiyeon padahalkan jiyeon sama taemin afik y minho sendiri nasa cemburu y sampe ngeluarin kata2 kyk gt……..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s