Vanilla Love

Vanila Love

 

Author :   Thya  a.k.a  Choi Jinhya

Main cast :  Lee Jinki,   Choi Jinhya

Support cast :  Jinhya’s eomma

Length : Oneshoot

Genre : Romance

Rating : Teenager

A.N : Annyeong, sebelumnya aku mau ngucapin makasih buat admin yang udah mau nerbitin FF ku ini *bow*. Ini FF pertamaku, jadi mohon maaf kalo ada yang kurang. Mohon kritik dan saran soalnya aku baru di dunia FF, kekeke. Happy reading~~

Jinhya POV

Semilir angin menerobos malam sunyi. Jaket yang tebal ini tetep tidak bisa menghangatkan tubuhku yang memang benar-benar sangat dingin. Langit pun sepertinya tahu apa yang aku rasakan sekarang. Perlahan tetesan hujan jatuh ke bumi. Perlahan ku melangkah gontai kearah keramaian jalan yang banyak dilewat oleh mobil, lalu aku memejamkan mata ini.  yeah, ini adalah waktu yang tepat! sebenarnya aku belum siap, tapi ini harus ku lakukan sekarang, aku sudah muak dengan semua ini. Lampu hijau pun menyala, saatnya aku melangkahkan lagi kakiku ketengah jalan. Berharap ada mobil yang bisa mengambil nyawaku saat ini juga.

“tiiiiiiiiiidid….”

seperti itu suara mobil yang akan melancarkan misi ku ini. Selamat tinggal dunia…

“YA! Awaaaaaaaaaaaaaaaaaaass…!”

BRUK!

Aku masih memejamkan mata. apa aku sudah tak ada didunia? Jadi begini rasanya tertabrak? kenapa aku tak merasakan sakit? Malah yang kurasakan sekarang ada sesuatu yang empuk dibawahku. Heumb kalo tau begini, kenapa tadi aku tak bunuh diri dengan membuka mata saja?!

Perlahan aku membuka mataku. tepat beberapa senti dihadapanku, aku melihat seorang namja imut berpipi bakpau mengerutkan dahinya didepanku.

Apakah aku benar-benar sudah ada disurga? Tuhan, kau mengirim namja ini untuk menemaniku? menyelimuti hati yang sepi ini?

” yaa! Sampai kapan kau menimpaku? cepat bangun tubuhmu berat! ”
aku menoleh ke kanan kiri.

‘Mwo?ini masih ada dibumi??’ gumanku tak percaya

Dengan refleks aku bangun setelah sadar ternyata aku menimpa namja imut ini. Sial ternyata aku belum mati. aish, gara-gara namja ini aku jadi gagal menuju ke surga.

” ya! Apa kau sudah gila menyebrang saat lampu hijau dengan mata tertutup? ” ucapnya kasar

mwo?aish menyebalkan! Jadi untuk apa dia menolongku kalo akhirnya begitu. sungguh aku kesal. Lalu aku pun berlalu meninggalkannya, tak peduli dia berteriak-teriak kepada ku.

Jinki POV

aish sepertinya dompetku ketinggalan di restoran. Terpaksa aku harus balik lagi kesana. Malas sekali sebenarnya mana gerimis lagi, tapi kalo aku tak kembali ke restoran bagaimana aku bisa pulang, tak ada uang sama sekali saat ini.

Akupun berlari menuju restoran tempat aku bekerja. Tapi langkahku terhenti saat melihat seorang yeoja hendak menyebrang dengan mata tertutup. Hey, ini masih lampu hijau,kenapa dia mau melintas?

aku berlari ke tengah jalan lalu menariknya.

“YA! Awaaaaaaaaaaaaaaaaaaass…!”

BRUK!

hhhh..kita berdua jatuh ke tanah, tubuhnya menimpa tubuhku.
” yaa! Sampai kapan kau menimpaku? cepat bangun tubuhmu berat! ” yeoja itu membuka matanya lalu ia bangun setelah sadar ia sedang menimpaku.

” ya! Apa kau sudah gila menyebrang saat lampu hijau dengan mata tertutup? ”
tanya ku padanya, tapi dia malah menatapku dengan sinis dan berlalu begitu saja.
” Yaaa! Yaaaa! ” Aish jinja, benar-benar tidak tahu terima kasih. Masih mending aku tadi menolongnya. Kalo tidak dia mungkin sudah tertabrak.

Aku bangun dan mengibas-ngibas pakaian bagian belakangku yang kotor karena terjatuh.
***
“annyeong ajusshi..”

“ah jinki-ah, kau belum pulang?”

“aku kemari mau mengambil dompetku yang sepertinya tertinggal didapur”

“oh ne, silakan cari saja” Lalu akupun segera menuju arah dapur restoran.

Ah itu dia. Hmm,, hari sudah malam, aku harus segera pulang.

“ajusshi, aku sudah menemukanya. Aku pamit pulang dulu” kata ku kepada pemilik restoran ini sambil membungkukan badan.

“ne jinki-ah. Hmm chakkaman sebentar, ini untukku”

“ah tidak usah ajusshi”

“sudahlah, tidak usah sungkan”

“gamsahamnida ajusshi”

aku menerima bibimbap pemberian ajusshi. Dia bos ku yang paling baik. Aku senang bisa bekerja dengannya. Setelah berpamitan aku segera menuju halte untuk pulang.

Author POV

Jinki turun dari bus. Ia harus berjalan lagi menuju rumah nya yang memang berada dipelosok *plak*. Sepanjang jalan ia masih kepikiran tentang yeoja yang tadi ditolongnya.

‘ada apa dengan yeoja itu ya? aneh sekali. Apa dia buta? Ani..ani..dia tadi bisa berjalan sendiri. keuroum, kenapa dia nyebrang dengan menutup matanya segala? Chakkaman! apa jangan-jangan dia mau bunuh diri???’ pikir jinki dalam hati *onew telat deh -_- ”

Lalu ia pun melirik pada bungkusan yang di berikan oleh ajusshi.

“aigoo,,banyak sekali bibimbapnya. Aku akan membagikannya pada tetangga. keundae, ini kan sudah malam sekali. Pasti mereka sudah pada tidur. Aku sudah kenyang, lantas apakah ini harus dibuang? Huft sayang sekali”

Saat melewati jembatan jinki melihat seseorang yang hendak melompat ke sungai. Lalu jinki menarik tangan orang tersebut.

” ya! Apa yang kau lakukan?”

Jinki POV

setelah aku menarik orang itu, dia tercengang melihat ku.

” cih, kau lagi ” desisnya

” ka-kaauu..?” aku kaget, ternyata dia yeoja yang sebelumnya aku selamatkan tadi.

” Apa mau heh? Selalu menggagal kan rencanaku?! ”

” ya! Jika kau punya masalah, bukan begini caranya”

” siapa kau, apa pedulimu? ” matanya memerah. Apa dia menangis?

” aku muak! Aku benci hidup ini! ” kini air matanya mulai mengalir, aku ingin mendekatinya tapi ku urungkan niatku.

” hidup ini memang sulit. Setiap orang pasti punya masalah, dan itu adalah cobaan dari tuhan apa kita bisa melewatinya atau tidak. Orang itu harus melewati semua masalahnya, tapi bukan dengan cara hal bodoh yang kau lakukan tadi ”

” DIAM KAU! TAHU APA KAU TENTANG MASALAHKU! ” Bentaknya

” jika kau tak mau berbagi masalahmu dengan orang lain, jelas bebanmu takan berkurang”

” di dunia ini tak ada satu pun yang peduli denganku, tak ada yang mau mengdengarkanku ” yeoja itu pun melangkah pergi meninggalkan ku.

” ya! Mau kemana kau ?”

” mau mati ! ”

” aku mau mendengarkan masalah mu” dia berbalik menoleh ke arahku.

” kau tak an pernah mengerti masalahku! ” sahut yeoja itu

” bagaimana bisa mengerti kalo kau belum menceritakannya? Kajja, ikut aku ” aku menarik tangan nya tapi dia menghempaskan nya. ” ya, aku bukan orang jahat. Palli ”

akhirnya dia menuruti ku, dan dia berjalan dibelakangku.
***

aku membawa yeoja itu kerumah ku. Di perjalanan tadi dia hanya diam tak bicara sama sekali. Tapi syukurlah dia tak lari dan mencoba kabur untuk bunuh diri lagi. Sebegitunyakah dia sampai-sampai melakukan berbagai cara untuk mengakhiri hidup nya? padahal kulihat dia masih sangat muda.

” apa kau lapar ? Ini makanlah ” aku menyodorkan bibimbap yang tadi diberikan ajusshi.
” shiroh! ”

kriuk..kriuk.. *anggap aja suara perut*

” hey,, perutmu tak bisa berbohong. Makanlah, aku tak meracunimu kok ”
hah, muna sekali yeoja ini. lalu diapun memakannya. Aku menatap wajahnya yang sedang menyantap bibimbap. Hihi..lucu sekali dia, seperti orang kelaparan.

” kenapa kau meliati ku terus? apa kau mau makan juga ”

” ani, aku sudah makan ” dia melanjutkan aktivitas makannya. Tak ku sangkan hampir semua bibimbap di masukan ke mulutnya.

” sekarang kau bisa menceritakan padaku”

“……” dia terdiam dan menunduk.

” waeyo? Aku bisa jaga rahasia kok ”  ujarku padanya.

” oh ya, namamu siapa? kenalkan aku jinki, lee jinki imnida ”

tapi dia masih saja terdiam menunduk. Dan..dia menangis! aigo, memang ada kata-kata yang salah ya sehingga dia menitikan air mata?

” sebenar nya kau siapa? Kenapa kau peduli padaku yang rapuh ini? Kenapa kau mau aku berbagi masalahku dengan mu? Bahkan aku dan kau tak saling mengenal sama sekali ”
katanya sambil menangis.

Aku sendiri tak tau mengapa aku harus peduli dengan nya. Padahal dia bukan siapa-siapa aku.

” aku benci diriku. aku benci hidup ini. aku benci takdirku menjadi seorang Choi Jinhya. ”
ternyata nama yeoja ini adalah Choi Jinhya. Lalu dia meneruskannya.
” kenapa tak ada yang mengerti perasaan ku? Bahkan orang di sekitarku tak peduli sama sekali. Yang paling mengenaskan adalah disaat ulang tahunku, dimana seharusnya aku mendapatkan kebahagian. Tapi aku malah mendapatkan keburukan dan kesedihan ”

aku mendengarkan ceritanya, terdengar isakan disela ceritanya.

” umma ku tak penah sayang padaku, dia tak pernah mengerti ku. Dia bahkan bukan seperti layaknya ibu untukku. Appa ku hanya mabuk-mabukan dan sering menganiaya ummaku. Saat yang paling menyakitan, yaitu aku tak diterima di universitas yang ku inginkan. mereka sama sekali tak menanya keadaanku yang sedang menangis sedih karna gagal. Mereka tak mempedulikan ku. Aku ditinggalnya sendiri dirumah. Dan kau tau, umma bilang dia akan menjodohkan ku pada seorang ajusshi yang kaya raya. Kami memang hidup dengan ekonomi yang kurang. Aku sudah berusaha untuk bekerja mencari nafkah, tapi tetap saja umma bilang itu tak cukup untuk memenuhi hidup. Dia tetap memaksaku pada perjodohan itu. Dia hanya memikirkan harta, tak peduli perasaanku, tak peduli keinginan ku yang ingin menggapai cita-cita. Dan juga sesuatu yang menyakitkan hari itu datang lagi padaku. Namja yang aku cintai ternyata bermain hati dengan yeoja lain. Aku memergokinya saat mereka sedang bermesraan. ”
kini tangisan jinhya makin menjadi jadi. Aku sangat iba melihat wajahnya yang sangat sedih itu.

” lalu akupun menghampiri mereka. Kau tau dia bilang apa? Dia bilang aku ini bukan kekasihnya. Aku hanya seorang yeoja yang mengejar – ngejarnya. Aku sangat muak saat itu!  Dulu ketika nenek ku masih ada, dialah yang mengertiku. aku ingin menyusulnya ke surga. Aku lelah, sangat lelah jinki ” dengan refleks aku mendekapnya ke dalam pelukanku. Dia menangis membasahin bajuku. Akupun mengelus rambut panjang nya. Sungguh, aku tak tega melihatnya sangat sedih. Dia benar benar sangat tertekan dalam kesepian.

Jinhya POV

Dia mendekap ku yang sedang menangis kedalam pelukannya. Entah kenapa aku tak menolaknya. Aku merasa nyaman didalam pelukannya. 1 jam berlalu, tangisan ku mulai berhenti ternyata benar, setelah aku berbagi kesedihan pada orang lain, hati ini tidak terlalu sesak seperti sebelumnya.

“minumlah, mungkin bisa membuatmu sedikit tenang” Jinki menyodorkan segelas susu hangat padaku. Akupun meminumnya. Hhh,, beda rasanya.

“itu hot creamy vanila, apa tidak enak?”

“ani,, ini lumayan. Kau beli dimana?”

“aku membuatnya sendiri”

“eh?” aku ragu padanya.

“ya,, kau tak percaya? aku adalah pekerja di sebuah restoran. Dan itu salah 1 menu favorit disana” katanya bangga.

Memang sih, vanila ini beda dari yang kurasa kan sebelumnya. Ini seperti diberi tambahan caramel. Juga ada krim di atasnya. Aku meneguk nya sampai habis.

“jinki-ssi..”

“ne?”

“gamsahamnida.. gamsahamnida kau sudah mau mendengarkan ku”
dia pun tersenyum dan mengacak-acak rambutku. senyum nya sangat manis dan tulus. aish, apa yang kau pikirkan jinhya!

“jinhya-ssi, berapa umur mu?”

“minggu lalu aku berulang tahun yang ke 18, wae?”

“ani,,berarti kau lebih muda dariku. Umurku 21 tahun”

“aku tak bertanya”

“aish, kau ini” aku menjulurkan lidah padanya. Tak kusangka jinki lebih tua dariku, kukira dia seumuran denganku, wajahnya imut sih seperti anak kecil. Kita terdiam sejenak, dan terjun dipikiran masing-masing.

“kau tau jinhya, kau itu masih beruntung dibanding ku.”

“maksudmu?” tanyaku bingung.

“kau beruntung masih mempunyai orang tua, sedangkan aku? Aku tak tahu siapa orang tuaku sejak lahir. Aku dibesarkan di panti asuhan. Setelah berumur 17, aku merasa sudah saat nya aku hidup mandiri.” dia bercerita dengan santai. Bagaimana bisa dia hidup dengan tenang, sedangkan dia hanya sebatang kara.

“lalu akupun mencari pekerjaan, aku bekerja disebuah restoran untuk menghidupi kebutuhan ku sendiri”

“apa kau tak kuliah?”

“sudah tamat, dulu aku kuliah sambil kerja paruh waktu. Tapi ijazah ku tak berguna. Aku salah mengambil jurusan”

“memang kau masuk jurusan apa?”

“aku mengambil jurusan manajemen”

“bukankah itu bagus?”

“ne, tapi bakatku tertuju pada musik. tapi aku belum bisa menggapainya, seperti yang kau tahu, masuk sekolah musik itu tak mudah dan tak murah”

aku mengerti, masuk sekolah musik itu sangat mahal. Sama sepertiku yang ingin melanjutkan ke kedokteran, tapi di situ aku gagal menempuhnya. Biayanya sangatlah mahal ditambah lagi Kuota untuk masuk ke jurusan kedokteran sangat kecil. Betapa terpuruknya aku saat aku tak diterima, aku merasa aku mempunyai otak yang sangat bodoh sehingga aku tak bisa masuk kedokteran.

“sama dengan orang lain, akupun punya cita-cita” kini mata jinki menatap ke langit yang bertaburan bintang bintang.

“ne, nado.. Aku punya mimpi. Aku sangat ingin jadi dokter. Tapi harapan ini seakan pudar setelah aku gagal menempuh tes masuk kedokteran”

“yeah, begitu juga dengan ku, hobi menyanyi ku seakan membawa ku terbang untuk jadi seorang penyanyi”
“kita senasib, tak bisa menggapai mimpi indah kita”

“ani, aku tidak seperti mu yang slalu putus asa. Aku berusaha mengikuti audisi konter bernyanyi yang diadakan di seoul. Yah, walaupun sampai sekarang belum ada yang menerimaku. Tapi aku yakin suatu saat aku akan menjadi penyanyi” mendengar kata kata itu dari jinki dia sangatlah percaya diri. Dia terlihat tak pernah putus asa. Dan itu membuatku berpikir atas kebodohanku selama ini.

“hmm,,sudah pukul 2 malam. Sebaiknya kau tidur dulu jinhya, besok aku akan mengantarmu pulang”

“shireo! Aku tidak mau pulang kerumah”

“keuroum?”

“……” Aku terdiam menunduk.

Memang kali ini aku tak mau lagi mencoba untuk bunuh diri. Tapi aku tak mau pulang ke rumah. Aku ingin menenangkan diriku disuatu tempat. Tapi dimana?aku tak punya uang sepeser pun ;__;
“yasudah jika kau mau, tinggallah disini bersamaku”

mwo?dia menawariku untuk tinggal disini?hmm baiklah tak ada jalan lain. Lagipula seperti nya dia orang baik.

“palli masuk, kau tidur dikamarku. Aku diruang depan dengan kasur lantai.”
dia mendahului ku masuk kedalam. Tak ku sangka ada orang yang baru aku kenal tapi dia sangat baik padaku.

“hhh..gomawoo op..pa..” kata ku terbata-bata. Yeah, dia sudah baik dan aku harus bersikap sopan padanya.
“mwo?”

“bolehkan aku memanggilmu oppa?”

“tentu saja dongsaeng” ucapnya seraya mengacak-ngacak rambutku
***

Author POV

kini sudah hampir sebulan Jinhya tinggal bersama Jinki. Jinhya menganggap Jinki seperti oppa kandungnya, begitu pula sebaliknya. Jinki sempat menawarkan kepada jinhya agar bekerja bersamanya di restoran. Tapi jinhya menolak, dia takut suatu saat akan bertemu ummanya dan memaksanya untuk menikah dengan seorang ajusshi kaya. Akhirnya Jinhya memutuskan untuk membuat kue yang akan dijual di sekitar daerah tempat jinki tinggal dan juga dia selalu membersihkan rumah jinki. Setiap malam mereka duduk di depan rumah untuk sekedar menatap bintang dan berbincang-bincang sambil meminum hot creamy vanila buatan Jinki.

Jinki POV

Seperti biasa, aku dan Jinhya menatap indahnya bintang di atas langit *yaiyalah bintang dilangit, kata siapa ditanah* #dijitakonew#
jinhya meneguk hot creamy vanila buatan ku. wajahnya kini berseri, tak ada lagi kesedihan seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya. senyumnya membuat wajahnya menjadi sangat cantik. Aku senang dengan keadaannya sekarang. Kini aku menjadi seperti punya keluarga baru, dia sudah ku anggap sebagai adik kandungku.

“apa kau suka vanila ku?”

“hmmp,, suka..sangat suka! vanila buatan mu benar-benar enak oppa, gomawo” sahutnya padaku. Aku mengacak-ngacak rambutnya.

“oppa, kau bilang suka bernyanyi. Aku ingin mendengarnya”

“eh?ah jinhya..suara ku jelek”

“ya! cepat nyanyi dongsaengmu ingin mendengarnya”

“ne,ne, arraso. Aku akan bernyanyi untuk mu”

Nuneuro ni mameul algi deowodo kkok buteo itgi
Georeul ttaen paljjangkkyeojugi jip apui dalkomhan kiseu

Cause I love you (I love you), cause I need you (I need you)
Cause I love you (I love you), cause I need you (I need you)

Haruman mot bwado ppoppohago sipeo
Dalkomhan neoege ppoppohago sipeo
Summakhil teojil deut geudae anajulkke
Yeongwonhi geudaereul saranghae

Seksihan yeojareul bwado amman bomyeo georeo gagi
Neujeunbam nege jeonhwahae saranghae subaekbeon malhae

Cause I love you (I love you), cause I need you (I need you)
Cause I love you (I love you), cause I need you (I need you)

Haruman mot bwado ppoppohago sipeo
Dalkomhan neoege ppoppohago sipeo
Summakhil teojil deut geudae anajulkke
Yeongwonhi geudaereul saranghae

#prok..prok..prok..#

dia menupuk kedua tangannya saat aku selesai bernyanyi.
“suaramu benar-benar bagus oppa! merdu sekali”

“jinja?”

dia menganggukan kepalanya. Ah, aku jadi malu.

“aku yakin oppa, suatu saat kau akan menjadi penyanyi yang terkenal” aku tersenyum padanya. Dan dia membalas senyuman ku. Tapi apakah ini senyum terakhirnya untukku?apa aku tak an pernah bertemu dengannya?
*FLASHBACK*
“jinhya-ah, ada telpon”  kemana dia? ah sepertinya masih keliling. Ponselnya tertinggal dirumah. Apa aku angkat saja ya?ku liat nomor yang tertera di ponsel milik Jinhya. Nomor nya tidak dikenal.

“yoboseyo”

“yoboseyo jinhya-ah, kau ada dimana?” ku dengar suara yeoja disebrang sana

“mianhamnida, Jinhya sedang tidak ada, ponselnya tertinggal. Saya kakaknya, ada yang mau di sampaikan pada jinhya?”

“kakak? dia tak punya kakak. Aku umma nya”

ternyata yang telpon itu umma nya Jinhya. Ottokkae?

“oh mian ahjumma”

“dimana anakku?”

apa harus kukatakan yang sebenarnya? Aku bingung~

“jebal, katakan dimana anak ku. Aku sudah lama mencari nya. Apa dia baik-baik saja?”
aku masih terdiam. Umma Jinhya mengkhawatirkan nya?tapi dulu Jinhya bilang umma nya sungguh tak peduli.

“yeboseyo?? palli katakan dimana jinhya sekarang?”
Sepertinya sekarang umma Jinhya sudah sadar. Huft,,dia wajib mengetahui dimana anaknya karena begitu dia adalah ibu kandungnya.

*FLASHBACK end*

“Jinhya-ah”

“ne, oppa?”

“pulanglah”

“hhm??”

“umma mu mencari mu, dia khawatir padahalmu”

“shireo oppa! lagi pula darimana kau tahu dia mengkhawatirkan ku?”

“aku tahu dia sangat ngekhawatir kan mu, dia itu umma mu, orang yang telah melahirkanmu”

“apa kau sudah mulai risih oppa dengan adanya aku disini?”

“yaaa,,tentu saja tidak”

“lalu kenapa kau menyuruhku pulang?” matanya memerah, dan kini dia meneteskan air mata. Aigo, aku telah membuatnya menangis padahal tadi ia masih sempat tersenyum. Aku segera memeluknya.

“bukan begitu maksudku Jinhya, kau sebenarnya sangat rindu ibu dan ayahmu kan?kau menyayangi mereka kan?”

“ne oppa, keundae..” dia tak meneruskan kata-katanya, dia menangis dan terus menangis.

“aku tak ingin berpisah denganmu oppa, kau oppa ku dan aku dongsaeng ku!”

“jika kau kembali ke rumahmu, kita masih bisa bertemu jinhya.”

“kau jahat oppa” dia memukul-mukul dadaku.

“miahae jinhya, tapi benar umma mu khawatir padamu. Saat itu dia menelpon, nada suaranya sangat cemas” jinhya berhenti dari tangisannya.

“jinjayo??”
Aku mengangguk pelan. Sampai akhirnya dia setuju untuk pulang ke rumah. Sebenarnya aku tak rela dia pergi, tapi kembali bersama keluarga asli itu lebih baik untuknya.
***

Author POV

“kau bisa menghubungiku saat kau butuh. Aku akan selalu ada untukmu”

“Gomawo jinki oppa, aku pergi dulu” jinhya pergi meninggalkan jinki, ibunya menjemput dihalte  untuk pulang bersamanya. Kini jinki hanya bisa melihat punggung jinhya yang semakin menjauh darinya. ‘semoga kita bisa bertemu lagi jinhya-ah’ harap jinki dalam hati.

***

Jinki POV

aku duduk di depan teras rumah. Malam ini sepertinya hanya ada sedikit bintang, bulan punya tak mengeluarkan semua sinarnya. Ini sudah 5 bulan sejak jinhya pergi. Huft, rumah ini terasa sepi seperti dulu lagi. Aku meneguk Hot creamy vanila ku. Biasanya disampingku ada Jinhya yang menemani minum vanila dan menatap bintang bersama.

“Jinhya, aku ingin berbagi kebahagian ini denganmu” aku menatap golden tiket yang ada ditanganku.

Yeah, seminggu yang lalu aku mengikuti audisi yang diadakan oleh perusahaan SM Entertaiment. Dan aku pun lolos. Tapi kebahagian ini tak lengkap tanpa adanya Jinhya. Aku merindukannya, sangat merindukannya. Apakah disana dia merindukanku? Apa dia masih ingat padaku? Tidak sudah tak pernah menghubungiku. Ketika aku mencoba menghubunginya, nomornya selalu tak aktif. Hati ini benar-benar hampa. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku belum sempat mengatakan kalau aku mencintainya. Bukan cinta seorang oppa terhadap dongsaeng nya, tapi ini cinta seorang namja kepada yeoja. Aku tidak bisa membohongi perasaanku. Setiap dia didekatku hatiku merasa nyaman. Oh Tuhan, aku menyayanginya.

ring ding dong ring ding dong diggi ding diggi ding ding ding

“yoboseyo?”

“oppa, tolong aku jebal..”

***

aku segera bergegas ke tempat itu. jinhya meminta untuk menolongnya. Yang aku lakukan ini memang cukup bodoh, tapi aku tak ingin melihat jinhya terluka. Yah, mungkin ini adalah kesempatan kedua untukku. Aku harus memperjuangkan cintaku, aku tak mau kehilangannya.

***

Author POV

waktu menunjukan pukul 22.45 . Jinki memasuki gang kecil pinggiran seoul. Ia berlari menuju sebuah rumah paling ujung. Disana sudah ada gadis menunggu kedatangannya.

“oppa..akhirnya kau datang. Kajja!”

“kau yakin dengan ini?”

“hmm..selamatkan aku oppa, jebal”
***

jinki membawa jinhya ke sebuah taman. Mata jinhya terlihat sembab. Mereka berdua terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“kau habis menangis?” jinki memulai pembicaraan.

“umma belum berubah oppa” katanya lirih. Jinki menatap jinhya yang tampaknya sangat lesu.

“ternyata umma membawaku pulang untuk meneruskan perjodohan itu. Aku tak sudi!”
kini air mata mulai mengalih dari mata jinhya.

“jinhya-ah, uljima..”

“boleh aku pinjam bahumu oppa?” jinki mengangguk pelan. hati jinki sungguh sakit melihat yeoja yang dicintainya larut dalam kesedihan. Ia tak ingin Jinhya menangis, tapi jinki berjanji dalam hati bahwa ia akan segera membuat jinhya tersenyum kembali.
***

# 2 hari kemudian #
Jinki POV

“oppa, kau mau kemana?”

“aku harus ke restoran sebentar, kau tak apa sendiri”

“ne~”

aku terpaksa membohonginya. Ini memang harus segera diselesaikan. Aku harus berbicara dengan umma Jinhya. Aku tak ingin Jinhya terus bersedih. Walaupun kini ia sudah mulai tersenyum tapi matanya tak bisa berbohong ia masih larut dalam kesedihan.
***

“annyeong ahjumma”

“yaa..neo!”

sudah aku duga ahjumma pasti marah dengan kedatanganku.

“kau bawa kemana anakku?”

“dia aman bersama ku, kau tak usah khawatir”

“kembalikan jinhya, apa kau mau ku laporkan pada polisi”
nada suara ahjumma meninggi, dan kini dia mulai mengancamku.

“kau tahu ahjumma? Hati nya sangat sakit. Kenapa kau tega sekali padanya? Kau tak pernah mengerti perasaannya”

“ya..tahu apa kau? Aku ibu nya!”

“aku tak yakin kau yang melahirkannya” kini aku mulai emosi, benar-benar tak tahan dengan semua ini. “dia terluka, dia tertekan. Saat dia tak lolos test kau acuhkan dia, saat dia patah hati kau tak ada untuk mendengarnya, dan kau tega menjodohkannya hanya demi harta!” aku merasa tak sopan mengatakan ini. Tapi tangisan jinhya selalu terngiang-ngiang di otakku. “dia butuh kasih sayang mu ahjumma, dan juga ahjussi. Apa kau tak sedih melihatnya tersiksa selama ini?”

ku liat mata umma jinhya berair.

“kau tidak tahu kenapa aku melakukan ini, ini untuk kebahagian dia. Aku tak ingin dia selalu hidup sengsara seperti ini ”

“tapi nyatanya dia tak bahagia, cara yang kau lakukan ini salah”

umma jinhya terjatuh, dia menunduk dan menangis.
“mianhae, hanya ini yang bisa kulakukan. Aku menyesal..”

Aku membangunkan ahjumma yang sedang menangisi perbuatannya. “ini belum terlambat ahjumma, sekarang kau tebus kesalahan mu padanya. Beri dia kasih sayang seperti dulu saat kau melahirkannya”

“ne..gamsahamnida anak muda”
***

Jinhya POV

aku tak menyangka jinki oppa bisa membuat hati umma luluh. Yeah, sekarang aku tinggal lagi bersama keluargaku. Umma benar2 menyesali perbuatanya. Dia kini tulus menyayangiku dan memberi perhatian. Setiap pagi aku dibangunkan oleh nya,tak lupa dia mebuatkan sarapan untuk aku dan juga appa. Aku senang appa sudah tidak seperti dulu. Appa yang sekarang sudah bekerja. Dia tak lagi mabuk-mabukan atau melukai umma. Kini aku pun meneruskan kuliah jurusan perawatan, meskipun bukan di universitas chun-ha. Aku juga kerja paruh waktu sebagai pelayan kafe dan mempunyai bisnis game online dengan salah 1 perusahaan. Keliatannya mungkin aneh berbagai macam profesi kulakukan. Tapi selagi aku bisa, kenapa tidak. Keluarga, pendidikan, karier sudah ada di hidupku. Lalu cinta? Ah, aku sangat merindukan seseorang. Sudah 2 bulan aku tak bertemu dengannya. Seseorang yang selama ini menyemangati ku untuk bangkit kembali, seseorang yang slalu ada disaat aku butuh, seseorang yang slalu mendengarkan curahan hatiku, seseorang yang selalu meminjamkan bahunya saat aku menangis. Aku sungguh mencintainya. keundae, apa dia juga mencintaiku? Sepertinya aku harus menemuinya.
***
Jinki POV

malam ini banyak bintang, tapi hatiku sangat kosong. Lagi-lagi aku tak sempat mengutarakan hati ini padanya. Apa dia bukan jodohku? Aku membuat 2 cup vanila. Masih berharap saja dia disini, jelas-jelas di sudah kembali ke kehidupannya yang dulu. Apa kabarnya ya? Ah, mungkin sekarang dia sudah mempunyai namjachingu. Aku menundukan kepalaku. Tiba-tiba saja ada yang menutup mataku.

“nuguseyo?” ku balikan pandanganku kebelakang.

Aku sungguh terkejut. Seorang yeoja berparas manis berdiri dihadapanku, yeah dia yeoja yang aku cintai. Apakah aku sedang bermimpi?

“oppa, ini aku Jinhya!” sapanya membuyarkan lamunanku.

“naega bogosipho oppa..” yaa, aku tidak bermimpi ini Choi Jinhya.

Lalu dia memelukku erat. DEG! Omo~ kurasakan jantungku bedetak kencang. dia kembali menemui ku? apakah aku harus mengatakan sekarang?ya, aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yg ke 3.

“yaa, kau buat 2 cup vanila?” dia tersenyum lalu langsung menengung vanila milikku.

Kini aku bisa membuatnya tersenyum lagi. Seperti dulu, senyum nya sangat manis. Kita duduk memandang langit luas. Ini seperti yang biasa aku dan dia lakukan dulu. Minum vanila dan menatap indahnya bintang-bintang bersama.

“jinhya-ah, apa kau bahagia?”

“tentu saja oppa,”

“syukurlah”

“ini semua berkat kau, jeongmal gomawoyo oppa” saat aku meliriknya dan tatapan kita bertemu, aku memcoba mengangkat dagunya dan kuletakkan bibirku di bibirnya. Aku menciumnya dengan hangat, dan tak ku sangka dia membalas ciumanku. Lalu aku melepaskan bibirku yang menempel di bibirnya.

“saranghae jihya-ah, jeongmal saranghae..” bisik kulembut.

“nado saranghae jinki oppa”

aku memeluknya sangat erat dan dia membalas pelukanku. Kini aku telah mendapatkan cinta sejatiku. Choi jinhya, you’re my vanila love. Saranghae yongwonie~

—-END—-

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

50 thoughts on “Vanilla Love”

  1. Kereeen bangeeet ceritanyaaa!! Yaampun onew top banget! Hehe
    Sedih ya cerita jinhya.. Untung ada onew :* /plak
    Keren thor kereen (y) ^^

  2. aigo.. Seru bnget. Ampe nangis terharu baca’a. Pkok’a 4 jempol deh buat author *trmasuk jmpol kaki*.
    nice bnget deh pkok’a (^o^)

  3. ga’ nyangka chicken-oppa bz jd romantis gitu…*dtabok mvp*
    apapun ituw, ttep aja nie epep semanis jdlnx! Bkin lg thor! Versi oppa dh jd artis..
    Okok?;)

  4. suka suka suka… ou ou… ppo ppo habis minum cream vanilla… aih pasti manis bgt rasanya.. mau juga dong… (?) heheheehehe

  5. kereenn(≧▽≦) sweet banget suer. beneran yah kalo castnya onew malah jadi kerasa banget sweetnya:3
    jadi pingin nyoba hot creamy vanila deh._. hayo author tanggung jawab, hehe

  6. huah so sweet… tpi syg gak ada bagian onew uda jadi penyanyi. kan so sweet klo pas onew nyanyi di tv itu buat jinhya #abaikan 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s