HANMADIMAN (ONE WORD)

HANMADIMAN(ONE WORD)

Author          : Lathace

Main Cast      : Lee Jin ki

Support Cast  : Lee Jun ki

Length          : One shoot

Genre           : Romance

Rating          : General

Summary       : it’s just one word.. but it’s already too late

hanmadiman neol saranghandago

(Just one word, ‘I love you’)

hanmadiman dolawa dallago

(Just one word, ‘Come back’)

kaseume chan malboda meonjeo nunmuli heulleo

(The tears flow before I can speak, the words filled up my heart)

hanmadigo mothan chae neol nohchyeokanabwa

(I failed to catch you before I could just say one word)

 

***

 Di sebuah ruangan putih dengan furnitur apa adanya, serta jendela besi dengan model standar yang tampak dingin dan mengekang. Terlihat seorang gadis duduk disudut, seluruh wajahnya tertutupi rambutnya yang hitam, panjang, lurus, dan basah karena air mata. Sekelompok orang dengan seragam putih masuk dan mengangkat gadis tersebut ke tempat tidur tipis yang diberi seprei bermotif garis. Gadis itu tidak memberontak, tatapannya kosong seperti tidak ada jiwa lagi di tubuhnya. Seorang pria mangambil jarum suntik dan mulai menyuntikkan sejenis cairan kepadanya. Dan sekali lagi gadis itu tidak menunjukan ekspresi apapun, ia hanya terdiam bahkan ketika jarum menusuk kulitnya yang kering, ia tidak bergeming.

“nah, sudah selesai! Sekarang kau dapat tidur dengan tenang” kata pria yang menyuntik tadi. Gadis itu tidak menjawab.

“baiklah kami pergi dulu, baik-baik ya” pria itu tersenyum seakan-akan orang yang diajaknya bicara memperhatikannya. Tapi gadis itu tetap diam, matanya tetap terpaku pada langit cerah yang terlihat di jendela besi.

Mereka semua keluar meninggalkan sang gadis sendiri di ruangannya. Sebelum pintu ditutup pria yang menyuntik tadi membisikkan” selamat tidur”. Lalu pintu ditutup

“dokter Jun ki apakah tidak papa, gadis itu kita tinggalkan sendirian? Kejadian seperti kemarin dapat terulang kembali nanti” tanya seorang perawat pria

“tidak papa, kita sudah mengeluarkan barang-barang berbahaya dari kamarnya”

Perawat itu mengangguk, lalu mereka berdua kembali ke ruang kerja masing-masing.

***

Gadis itu menatap nanar ke arah jendela, merasakan hangatnya mentari. Ia tahu sebentar lagi pengaruh cairan itu akan terasa. Ia tidak gila, hanya ia ingin mengatakan hal yang seharusnya dia lakukan sebelum orang itu pergi. Tapi hal itu sudah terlambat, orang itu tidak dapat menemuinya lagi, dan cara satu-satunya untuk mengatakan hal itu adalah pergi ke tempat orang itu berada. Matanya terasa berat, pengaruh cairan tadi sudah terlihat. Ia benci jika kesadarannya hilang, dan diganti dengan kenangan alam bawah sadar yang sangat menyakitkan hati. Dimana segala sesuatunya terlalu terlambat. Tubuhnya terasa kaku, dan perlahan-lahan ia menutup mata, mengenang kembali memori itu.

***

Hari itu sangat indah, kami membaringkan tubuh kami di rumput dan melepaskan kepenatan di tubuh kami. Angin semilir berhembus mengelus rambut kami. Aku menatap langit dan berharap dia akan selalu ada di sampingku. Tapi sayangnya harapanku tidak dikabulkan.

“jaggiii!!!!!” teriak Jin ki.

“heeem”

“jagii…” sekarang suaranya terdengar merajuk.

“heeem” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari langit.

“aisssh kau ini, liat aku dong!” ia terdengar seperti orang marah

“arraso.. ada apa?” aku menolehkan kepalaku ke arahnya, menatapnya. Ia tersenyum, senyum yang sangat aku suka. Senyum yang membuatku sukses menjadi yeojachingunya.

“hari ini kan perayaan hari jadi kita yang pertama, bagaimana kalau kita saling mengabulkan satu permintaan masing-masing. Bagaimana?” tanyanya

“anio, itu sangat kekanak-kanakan Jin ki-ah. Kalau kita tidak bisa mengabulkannya gimana? Aku tidak suka membuat perjanjian yang seperti itu”

“ayoolah, ya? Pasti bisa! Permintaanku tidak macam-macam kok” bujuknya dengan wajah memelas

Entahlah apa yang ada dipikiranku saat itu, tapi aku mengiyakan perkataannya. Ia tertawa senang mendengar penyetujuanku. Kadang-kadang ia memang terlihat seperti anak-anak tapi di saat lain ia terlihat lebih dewasa dariku.

“sekarang apa kau mau mendengar permintaanku?” tanyanya. Aku mengangguk

“permintaanku adalah kau mengucapkan ‘saranghaeyo’ padaku”

“bo?” tanyaku tidak percaya

“ne, selama setahun kita pacaran kau tidak pernah mengucapkan saranghaeyo padaku, bahkan saat aku memintamu menjadi yeojachinguku dan mengucapkan saranghaeyo untuk pertama kalinya padamu, kau tidak membalasnya dengan mengatakan’na do saranghae’ kau hanya mengangguk” jelasnya

Aku tertegun, permintaannya sulit sekali.

“ayolah jagi, kenapa kau tidak pernah mengatakan saranghaeyo padaku? Itu kan hanya satu kata” tanya Jin ki

“permintaanmu sulit sekali, aku tidak seperti wanita lainnya yang gampang mengucapkan saranghaeyo, bagiku kata saranghaeyo adalah kata keramat yang mempunyai konsekuensi yang sangat besar, menunjukkan kasih yang tulus tanpa balasan dan kau harus yakin apakah orang yang kau cintai itu adalah orang yang benar-benar kau cintai, cinta sejatimu, untuk itu aku berhati-hati dalam mengucapkan kata itu”

“jadi kau tidak mencintaiku?” tanyanya dengan wajah cemberut

“bukan seperti itu, aku hanya akan mengucapkannya saat pernikahan kita nanti…”jelasku. Lalu kulihat matanya menyipit serta bibirnya membentuk seringai, seakan-akan berkata, -kau ketahuan-. Aku langsung menyadari kesalahan yang kubuat. Perkataan ku yang tadi pasti diartikan olehnya sebagai…

 “ooh jadi kau ingin aku menikahimu, iya kan?” godanya

Mukaku memerah, aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Lidahku rasanya tercekat, mati rasa. Bagaiman jika nanti Jin ki tidak mau menikah denganku?

  “baiklah aku akan melamarmu nanti bila kau sudah lulus kuliah, tapi kau mau menerimanya kan?” tanyanya langsung, dalam kata lain saat ini dia sedang melamarku.  Mukaku tambah memerah, aku tidak tahu harus menjawab apa, aku terlalu senang.

“ne..” kataku akhirnya,  masih dengan malu-malu. “bagus, berarti kau sudah berjanji untuk nanti mengucapkan saranghaeyo padaku ya?” aku mengangguk, tanda persetujuan.

“baiklah calon istriku, sekarang apa permintaanmu?” Jin ki membaringkan tubuhnya di dekatku.

Aku hanya tersenyum”entahlah aku belum memikirkannya”

“ayo cepat, permintaan itu masa berlakunya hanya saat ini saja, selebihnya tidak berlaku loh!” katanya memaksa.

“mana ada peraturan seperti itu?”

“tentu saja ada.. kan aku yang membuatnya, ayo cepat katakan” nada merajuk kembali terdengar

“baiklah, aku ingin kau…” aku membisikkan kata itu di telinganya.

Mukanya memerah,”kalau itu mah gampang”.

 Tentu saja aku tahu itu, tapi untuk saat ini itulah yang kuinginkan. Ia membelai rambutku dan mendekatkan wajahnya padaku. Ia menatap langsung ke mataku, tatapan intens dan tersenyum lalu dengan perlahan tapi pasti ia menciumku. Jantungku berdetak sangat cepat saat itu, rasanya perutku seperti diaduk-aduk. Memacu adrenalin sekaligus menyenangkan. Masih sambil menciumku ia merangkulkan lengannya ke tubuhku.  Kami masih berbaring di rumput tapi rasanya nyaman sekali, kami berciuman cukup lama. Rasanya hari-hari itu sangat sempurna sebelum hal itu terjadi.

***

Gadis itu terbangun, tubuhnya masih terlihat lemah. Ia menoleh ke arah meja dan mendapati baki makanan telah diletakkan, berisi nasi dan daging panggang serta sayur yang kuahnya terlihat pucat . Ia tidak suka makanan di rumah sakit ini, hambar dan lagipula ia tidak selera makan.Tapi kemudian dia melihat sebuah benda yang mengkilat, ia tersenyum pilu. Sepertinya para perawat itu lupa menjauhkan benda ini darinya. Pisau itu masih tergeletak disana, ia cepat-cepat meraihnya takut jika ia ketahuan dengan penjaga. Setelah ia meraihnya, suara orang yang sedang berjalan terdengar. Ia segera berbaring di tempat tidur- pura-pura tidur-, pisau yang tadi disembunyikannya di bawah tubuhnya. Pintu dibuka, perawat masuk.

“ooh masih tidur” perawat itu mengambil baki makan tadi dan pergi. Tidak menyadari salah satu benda di baki itu telah menghilang. Setelah pintu ditutup ia bangun dan pergi ke sudut ruangan. Ia tersenyum pilu lagi. Hari ini ia tidak boleh gagal, ia harus mengakhirinya. Ia harus menepati janjinya..

Gadis itu mengenggam pisau tadi mulai mengiris nadinya. Tidak sakit, justru ia merasa senang. Darah segar mulai keluar dari kulitnya, menetes dari tangannya ke lantai. Ia melepaskan pisau tadi. Terdengar suara denting saat pisau membentur lantai, ia tersenyum lagi dan menutup matanya. Ia ingin menikmati saat-saat ini, saat ia akan menepati janjinya yang dulu. Mengabulkan permintaan kekasihnya. Darah segar terus mengucur dan menggenangi lantai.

“saranghaeyo jin ki-ah” katanya tulus didalam hati

 ***

“pergilah! aku tahu kau sibuk”

“kumohon…. maafkan aku jagiya” ratap Jin ki,

“shireo… kau lebih mementingkan karirmu dari padaku, lebih baik kita berpisah saja jika kau begini terus, “

“andwae.. aku masih mencintaimu moon ha ra” sudut matanya tertarik ke bawah, menunjukkan ekspresi yang lebih memelas daripada sebelumnya

“mencintaiku? Kau mencintaiku tapi selalu memberi janji palsu? Aku sudah capek jin ki, sudah capek dibohongi terus olehmu..”

Jin ki menunduk mendengar perkataanku, sebenarnya aku tidak tega melihatnya seperti ini. Tapi mau apa lagi, ini kulakukan agar hubungan kami bisa lebih baik. Aku bahkan tidak ingin memutuskannya. Mana mungkin aku bisa memutuskannya…., aku menghela napas, melanjutkan perkataanku.

“semenjak kau bergabung dengan grup band SHINee itu, kau selalu tidak punya waktu untukku. Aku sudah cukup sabar, waktu kau tidak mengakuiku sebagai yeojachingumu. Aku juga mengerti kau sibuk tapi aku hanya meminta waktumu sedikit saja. Apa tidak bisa?  Setiap kita kencan, kau selalu bilang akan datang, asal kau tahu aku selalu menunggumu selama berjam-jam, lalu pada akhirnya kau hanya menelpon dan mengatakan bahwa kau menyesal karena tidak bisa datang dan meminta maaf padaku. Kalau kau hanya melakukannya satu atau dua kali aku  masih dapat memakluminya, tapi kalau kau sudah berkali-kali aku sudah tidak bisa… Lebih baik kau mengatakan tidak bisa bertemu denganku daripada mengucapkan janji palsu bahwa kau akan datang”

Perlahan-lahan kepala jin ki terangkat, sekarang aku bisa melihat matanya yang sembab. Lalu ia berkata” aku memang salah…. ha ra-ah, aku tidak pernah menepati janjiku untuk datang. Aku minta maaf, tolong maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukannya lagi…, tolong maafkan aku. Aku tidak ingin kita berpisah, aku… aku tidak bisa hidup tanpamu” Sekarang air mata telah mengalir di mata jin ki.

Aku sungguh tidak kuat melihatnya seperti ini. Aku segera memeluknya. Berusaha menghapus kesedihannya.”maafkan aku Jin ki, seharusnya aku tidak mengatakan hal seperti itu padamu, seharusnya aku tidak egois” Jin ki melepas pelukanku, menatap langsung ke mataku. Tatapan matanya begitu intens.

“kita tidak akan berpisah kan?”

Aku menggeleng”ya, mana bisa aku berpisah denganmu”

Jin ki tersenyum, gurat-gurat matanya tertarik ke atas”na do..”

Itu sebelum Jin ki kembali melakukan yang sama. Berkata akan datang tapi ternyata tidak bisa. Lalu kami pun berpisah. Rasanya memang menyakitkan. Walaupun kami berada di dunia yang sama, kami hidup di dunia yang berbeda. Tapi aku tidak tahu bahwa jin ki sangat menderita ketika kami berpisah. Ia jarang makan dan suka mabuk, juga tidak memperhatikan kesehatannya. Akhirnya peristiwa yang ku takutkan pun terjadi. Jin ki mengalami kecelakaan karena mengemudi sambil mabuk. Ia koma selama satu tahun, dan selama itu juga aku menjaganya terus, menememaninya, mengajaknya mengobrol walaupun Jin ki tidak ada perkembangan.

***

Seperti biasa, sore ini dokter Jun ki pergi mengecek makanan pasien-pasiennya.

“ini makanan siapa?” tanyanya menunjuk baki makanan yang masih terisi penuh

“ooh itu makanan pasien kamar 252” jawab seorang perawat

“kenapa masih penuh?”

“tadi dia masih tidur,dok”

 “hmmm” dokter Jun ki memeriksa baki makanan pasien lainnya. Lalu ia terhenti dan melihat ke arah baki makanan pasien kamar 252 kembali. “apakah hari ini pisau digunakan?”

“ne, karena hari ini menunya daging panggang kami menyertakan pisau di baki makanan”

“apa kalian ingat untuk tidak memberikan benda tajam untuk pasien 252?” wjah dokter Jun ki mulai terlihat panik

“aah maaf kami lupa, tapi tenang saja ia masih tertidur karena pengaruh obat bius” jawab perawat tadi

“bagaimana kalian ini!!! Lihat pisaunya sudah menghilang dari baki makanan. Kita harus segera memeriksa keadaanya!” dokter Jun ki mulai terlihat marah. Ia segera berlari diikuti para perawat ke arah kamar 252.

***

Hari ini… hari jadi kami yang kedua jika kami tidak berpisah, dan tepat satu tahun dari hari dimana Jin ki mengalami kecelakaan. Aku seperti biasa, mengunjungi Jin ki pada sore hari setelah sekolah.

“annyeong…. jin ki-ah, hari ini aku spesial membawakan coklat untukmu, kau tau kenapa?” tidak ada jawaban. Aku tersenyum, berusaha menguatkan hatiku dengan mengingat bahwa suatu keajaiban Jin ki masih hidup setelah kecelakaan yang menimpanya.

“hari ini hari jadi kita yang kedua jika kita pada waktu itu tidak berpisah….” suatu keputusan yang sangat aku sesali.

“ooh ya selain membawa coklat, aku juga membawa alat cukur untukmu. Setelah satu tahun tidak bercukur sepertinya ketampananmu berkurang karena terhambat kumis-kumismu itu. Bisa-bisa nanti fansmu berkurang. Hahahaha”aku berusaha bercanda walaupun terdengar tidak lucu.

Aku mengambil handuk kecil yang lembut dan mencelupkannya ke baskom air hangat di sampingku dan menyeka wajah Jin ki, berhati-hati agar tidak menyentuh semacam kabel yang ditempelkan ke tubuhnya. Kabel itu tersambung ke monitor kecil yang ada di samping tempat tidur Jin ki, monitor yang menunjukkan detak jantungnya. Setelah itu aku memoleskan shaving cream mulai dari atas bibir jin ki hingga ke bawah dagunya, dan perlahan-lahan mencukur dengan alat cukuran yang kubeli tadi pagi. Setelah selesai aku kembali menyeka wajahnya, membersihkan sisa shaving cream. Kurendam lagi handuk itu ke baskom dan memerasnya. Sekarang aku menyeka matanya agar dia terlihat segar. Sambil menyeka matanya, aku mengajaknya mengobrol.

“kau tahu Jin ki-ah, hal yang paling aku suka darimu adalah matamu, matamu sungguh sangat indah. Dan yang paling aku suka tatapanmu saat menatapku. Entah apakah itu benar atau tidak ya?, tapi aku merasa tatapanmu begitu intens.” Aku berhenti sesaat

“Kapan lagi ya kau bisa memberi tatapan itu lagi padaku? Mengulang masa-masa indah kita dulu” tanpa terasa bulir-bulir air mata telah mengalir di pipiku.

Tiba-tiba kulihat kelopak mata Jin ki mulai membuka. Aku segera menghentikan kegiatan menyekaku. Apakah itu hanya imajanasiku? Tidak matanya memang terbuka, mata itu menatapku, tatapan intens itu lagi. Lalu kudengar suara suaranya,

“ha ra-ah….” napasnya seperti diburu sesuatu

“Jin ki-ah!!! Kau bangun!! Tunggu sebentar ya, aku akan memanggil dokter” kataku sambil membalikkan badan. Tapi dia mencengkramkan jarinya di lenganku, menahanku.

“ada apa Jin ki?”

“aku sudah tidak kuat lagi, waktuku tinggal sedikit. Aku hanya ingin mendengar mulutmu mengatakan kata itu. Kumohon, agar aku dapat pergi dengan tenang”napasnya terengah-engah.

“hah?” tanyaku tidak mengerti. Saat itu otakku memang sedang tidak berjalan, mungkin karena terkejut atas bangunnya Jin ki.

“aah” erang Jin ki kesakitan sambil memegang kepalanya.” Aku sudah tidak kuat lagi Ha ra, sedikit lagi”

“bertahanlah Jin ki, aku akan memanggil dokter” aku takut sebentar lagi ia akan pergi. Aku tidak mau kehilangan Jin ki.

“gomawoo Ha ra…. Moon Ha ra”napasnya terputus-putus

“saranghae… “ lalu mata cemerlang itu tertutup. Monitor di sebelahnya menunjukkan garis datar, menunjukkan detak jantungnya sudah tidak ada. Apa Jin ki sudah pergi? Apa dia sudah benar-benar pergi? Aku berusaha menyangkal pikiranku yang tadi.

“Jin ki bangun!!!” aku berteriak memanggil namanya, menguncang-guncang tubuhnya. Tapi matanya masih tertutup, aku kembali menguncang-guncang badannya dengan keras, Jin ki masih belum membuka matanya. Aku masih belum mau percaya, air mata mengalir deras dari pelupuk mataku.

“Jin ki-ah bangun!” aku memukul pelan tubuh Jin ki yang sudah tidak bernyawa.”bangun! jangan tinggalkan aku” aku kembali memukul pelan tubuhnya. Air mataku mengalir deras, mengaburkan pandanganku. Aku tidak bisa menerima kenyataan Jin ki telah pergi untuk selamanya. Lalu aku teringat janjiku waktu itu, itukah kata yang diinginkan jin ki?

“Jin ki-ah kau akan bangun kan jika aku mengatakan ‘saranghaeyo’ padamu? Iya kan?” tanyaku padanya. Tidak ada jawaban

“aku anggap itu iya,” aku menarik napas, mengahapus air mataku. Berusaha tersenyum walaupun rasanya menyakitkan.

“SARANGHAEYO JIN KI-AH” teriakku. Jin ki masih belum bangun. “saranghaeyo…” suaraku mulai mengecil

”saranghaeyo….jin ki-ah” tapi semua sudah terlambat, hanya tersisa penyesalan

Saranghaeyo… itu hanya satu kata,

Seharusnya aku mengatakannya sejak dulu

Seharusnya aku tidak mengikuti prinsipku yang aneh

Seharusnya aku tidak berpisah dengannya

Seharusnya….seharusnya….seharusnya….seharusnya….seharusnya….seharusnya…seharusnya…

Setelah kematian Jin ki, aku mulai tidak dapat berpikir lagi. Kata terakhir dari Jin ki selalu terngiang di kepalaku. Aku lebih sering melamun, tidak mau makan, tidak mau bicara, tidak ada kehidupan. Karena itu omma dan appaku membawaku ke pskiater dan aku akhirnya berakhir di rumah sakit jiwa. Akhirnya tercetus di kepalaku, aku harus menemui Jin ki. Menepati janjiku. Jika dia tidak bisa menemuiku, aku yang akan menemuinya. Dan satu-satunya cara adalah bunuh diri….

***

Dokter Jun ki menyesali keteledoran bawahannya. Pasien kamar 252 merupakan gadis bernama Moon Ha ra yang depresi karena kematian kekasihnya. Ia terus berusaha bunuh diri. Jun ki teringat usaha bunuh diri yang dilakukan Moon Ha ra sebelumnya, Ha ra mengambil gunting yang dipakai untuk menggunting perban dan menusukannya ke perutnya. Untungnya daerah yang ditusuknya bukanlah daerah vital sehingga tidak ada hal serius yang terjadi. Tapi Jun ki takut dirinya, kali ini telah terlambat untuk mencegah Ha ra. Ia sampai di kamar 252 dan langsung mendobrak pintunya. Betapa terkejutnya dia, mendapati Moon Ha ra telah tergeletak lemas di sudut ruangan dengan genangan darah di sekitarnya. Ia telah terlambat, Moon Ha ra telah tiada.

***

“Jin ki-ah kaukah itu?” Ha ra membuka matanya dan mendapati seseorang berdiri di depannya. Orang di depannya tersenyum, menatapnya-tatapan intens itu lagi-.

Jin ki mengangguk dan mengulurkan tangan untuk Ha ra, mengajaknya untuk pergi ke tempat di dimensi lain. Ha ra seakan-akan tau apa yang terjadi dan menerima uluran tangan Jin ki. Sekarang ia tahu, ia telah bersama Jin ki dan mereka tidak akan terpisah.

“Jin ki-ah, saranghaeyo” kata Ha ra kepadanya, sekarang ia telah mengabulkan permintaan Jin ki.

“na do” jawab Jin ki. Lalu  mereka berdua melayang menuju cahaya terang di atas sana.

***

“beritahu orang yang kau cintai bahwa kau mencintai mereka

jangan menundanya atau kau tidak bisa lagi mengucapkannya

dan menyesal seumur hidupmu”

-pasien kamar 252-

By Lathace

Song tittle        : one word(hanmadiman)

Artist               : Lee jun ki

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

47 thoughts on “HANMADIMAN (ONE WORD)”

  1. Huwaaa, keren.
    Daebakkk thor!
    Kirain onewnya ngga meninggal, taunya meninggal juga.
    Terus aku kira si haranya bakal bareng Junki, taunya meninggal.
    Keren thor! Lanjutkan 🙂

  2. Ihhhh,, Keren thor..
    Sedih banget waktu Onew nya meninggal..
    Akhirnya mereka ketemu lagi deh di dunia lain…
    Like this.. 🙂

  3. wuuaaaah makasih ya semuanya ,sudah mau komen
    *hug semua*
    komen kalian sangat berarti
    oh ya ini ff oneshoot ku yang pertama, juga ff pertama yang kukirim ke sini
    mohon maaf jika salah, tapi kritik sangat diterima

    kesimpulannya : aku bakal sering-sering deh main ke sini

  4. huaaaaaaaaaa bingung mau komen apa…yg jelas kereeeen…
    tapi knpa mesti bundir sih…?aku paling ga suka sma orng yg mlih jlan untuk bundir…khan kasian sma orng yg ditinggalin sma dia…

    Good Job Author….

    1. makasih atas pujiannya dan udh mau komen 🙂

      bundir itu bunuh diri ya? kalau soal itu karena dari ide asli pembikinan cerita ini pengen salah satu tokohnya bunuh diri, jadi ya author bikinnya gitu, gak diubah-ubah.
      aku juga gak suka orang bunuh diri, tapi itu kan pilihan mereka. dan mereka pasti punya alasan masing-masing, kaya Ha ra di ff ini.

  5. author. misi yah.
    kok tadi si hara bilang ‘hari ini hari jadian kita yang kedua dan hari ini pula 1tahun jinki mengalami kecelakaan’
    trus yang tengkar itu kapan?
    kan hari jadian pertama itu pas lagi so sweet tuh,si jinki ma hara saling janji bwt ngabulin permintaan masing-masing…

    1. oh iya ya? aku juga baru nyadar itu salah.
      jadinya gak ada waktu pas mereka bertengkar.
      emang ya manusia itu tidak sempurna.

      solusi : gimana kalau diganti jadi hari jadian kita yang ketiga?

      makasih ya aku jadi terbuka matanya

  6. saeng jeongmal daebak.
    aku masa ga nemuin typo yang dibilang vina haha
    ceritanya bagus banget cuma aku ada kalimat yang kurang ngerti maksudnya hehe
    terus suka bingung antara flashback atau engganya hehe

    request ff aku sama key duooongs mau banget bangetan yaaa
    good job saeng 😉 *lemparTOP

    1. akhirnya si onnie komen juga -_-

      aku sengaja onnie bikin kata-katanya agak beda sama bahasa sehari-hari.

      kalau masalah flashback, aku jugasengaja gak bikin kaya gini *flashback*
      biar kaya novel-novel gitu onn.
      hehehe makasih ya udah baca dan komen onn

  7. Wah, author ceritanya keren bgt
    Kata’ ya itu dalem bgt
    Hehehhe…
    D kirain hara ya bs sembuh eh ternyata mati jg toh
    Gpp bgs koq ceritanya

  8. keren 😀

    Sedig bgt bacanya
    pgn nangis bawaanya

    Jinki-ah Saranghaeyoooo
    aQ takut menyesal
    makanya ku ucapkan
    rasa cinta ku sekarang (?)

  9. wahh thor!
    ceritanya kerenn bgt !
    daebakkk!
    aku aja sampe nangis bacanya,,
    kasian banget Jinki meninggal,,
    Nice FF

  10. wih .. ini bahasanya keren sangat ..
    bikin novel gih .. hehehe

    sip banget. cuma deskripsi ttg depresi ceweknya tuh agak kurang ngena , V^^
    btw , bikin lagi yang temanya angst ya .. berbakat di genre itu deh kayaknya ..
    gomawo 🙂

  11. sukaaaaaaaaaaa sama ceritanya XD
    sedih ya.. penyesalan emang selalu dateng terakhir.
    nice ff

    eh aku kira dr. lee junki itu kembarannya jinki XD ternyata bukan ya

  12. Ceritanya keren bangeeet :’)
    itu juga kalimat terakhirnya mantep!
    Sampe gatau mau ngomong apalagi, pokoknya daebak deh! ^^d

  13. Ehhhh ternyata komenku belum masuk ya? jiakakaak yasudah~ -_-”
    Tadinya aku baca FF ini di hape, pas aku kebangun jam 1. Kecepetan tuh harusnya jam 4–” tapi entahlah tau-tau mata melek dan akhirnya daripada terus-terusan parno, aku baca FF deh kekekek.. *note: aku orangnya parnoan-_-*

    Dan……..omgomg apa yang aku rasakan? Lagi parno baca ff ginian….jadi campur aduk.
    Antara ketakutan, sedih, miris, tragis dan….kagum. FF ini keren banget. Apa ini FF debutmu, thor? Kalau iya, aku kasih kamu seribu jempol *buset, jempol siapa ajatuh?* akakaka yang penting jempol thor~ Jempol kaki gapapa kan? wkwkwkw ._.v

    Feel si cast ceweknya *lupa namanya* itu dapet banget kayak dia depresi gitu terus duduk di pojokan. Mana dokternya namanya Junki-_- Kirain aku nanti si junki itu kakanya Jinki *biasalah sotoy* kekekek..
    Tetap tulis FFmu dan berkarya di SF3SI ya thor~ Kamu kereeeen 😀

  14. Aasdfghjklqwertyuiopzxcvbnm
    Kenapa penyesalan selalu dateng belakangaaan
    Duuh yaampun hampir nangis niih
    Kata-katanya ituu jleep banget asli
    Untung ya mereka bisa ketemu di atas sana
    Oh ya, daripada nyesel, aku juga mau ngomong ah
    Saranghae jinki-ya ❤ heheh
    Bagus baguuusssss banget! Top daebak lalala wkwk (y) (y) (y)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s