Loving You – Part 1

Tittle                : Loving You

Author             : Dewi_MVP

Main cast        : Lee Jinki, Seohyun, Kibum (Key)

Support cast    : Han Seung Yeon, Park Gyuri, Lee Taemin

Length             : 3. 273

Genre              : Romance

Rating              : PG-14

A.N                  : Annyeong ^^ ini adalah FF kedua yang ku post di blog ini. Tapi walaupun udah pernah bikin FF, kata-kataku masih terlalu kurang berkenan. Jadi saya mohon please give me your comment.

 

Jinki POV’s

P.U.T.I.H

Hanya ada putih pucat di ruangan ini, kalaupun ada warna lain hanya beberapa perabot dan baju pengunjung pasien. Kutatap wanita yang sekarang sedang terbujur kaku di ranjang pasien dengan infus di tangan kirinya dan pendektesi jantung. Dia masih tetap cantik di balik wajahnya yang putih pucat. Hanya alisnya yang hitam memberi warna lain di wajahnya. Bibirnya yang pink juga sudah pucat kering. Aku menatapnya lama sampai ku dengan suara derit pintu terbuka. “Jinki-sshi”. Aku berbalik dan menatap ke pemilik suara, seorang wanita yang umurnya sekitar 40 tahunan, dia adalah Ibu wanita itu. Matanya terlihat sembab dan merah. “ahjumma” panggilku dan mendekatinya, ku tuntun tangannya untuk mendekat ke sisi ranjang anaknya. “apa yang dikatakan dokter ? apa dia baik-baik saja ? sakitkah parahnya ?”. pertanyaan itu terus bergumul di otakku sejak ahjumma ini dipanggil dokter untuk ke ruangannya.  Tapi dia tidak menjawab. Ahjumma itu memegang tangan sebelah kanan anaknya yang dingin dan meletakkan ke pipinya. Lalu dia menangis. Aku jadi tidak tega untuk memberi pertanyaan lebih banyak. “Seohyun. . .jangan tinggalkan umma seperti appamu meninggalkanku” ucapnya di sela-sela tangisan dan senggukkannya. SEOHYUN. . .aku menelan ludah. Ternyata namanya Seohyun ? sudah lama aku ingin tahu namanya. Tapi kenapa malah seperti ini ? aku mengetahui namanya saat kondisi seperti ini ? sama sekali tidak tepat !. aku menunduk. Tiba-tiba suara pintu kembali terbuka. Seorang namja, masuk ke kamar pasien. Saat melihatku dia membungkukan tubuhnya untuk member salam dan mendekati ranjang pasien. Namja itu menatap seohyun dengan tatapan nanar. Siapa namja itu ? apakah kakaknya ? adiknya ? tapi sepertinya mereka seumuran. Namja itu tinggi dan putih, rambutnya pendek berwarna blonde. Mungkin sebaiknya aku keluar, pikirku. Tanpa memberi salam apa-apa aku membuka kenop pintu perlahan dan menutupnya kembali. Pelan. Supaya tidak ada suara yang mengganggu.

 “siapa namja itu ?” suara namja terdengar dari dalam kamar. Pasti namja berambut blonde tadi, pikirku. “Jinki-sshi, dialah yang membawa Seohyun ke rumah sakit saat seohyun pingsan” jawab ahjumma itu. “Seohyun. . .” terdengar suara namja dengan nada bergetar, seperti ingin menangis. Ku putuskan untuk tidak mendengarkan pembicaraan itu lebih banyak. Karena itu bukan hakku. Aku berjalan dan duduk di kursi tamu, tidak jauh dari kamar inap seohyun.  Dreet. . .Dreet. .Dreet. .Dreet. .handphone ku bergetar tanda telepon masuk. Ku ambil handphone itu di saku jaketku. KLIK ! tombol jawab.

 “Yeoboseyo. .umma. .waeyo ??”.

“Jinki ! dimana kamu sekarang” terdengar suara umma dari seberang sana.

 “aku. .masih di rumah sakit”jawabku lesu.

“pulanglah, umma memasakkan sup untukmu. Ini sudah malam”.

 “sebentar lagi umma, aku belum bisa pamitan dengan pihak keluarga wanita itu. Kalau keadaan sudah membaik, Jinki janji bakalan cepat pulang” aku meyakinkan agar umma tidak cemas.

“baiklah” kata umma dengan nada pasrah. KLIK ! mati. Aku menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Kembali ingatan dua minggu yang lalu. Saat senyum Seohyun masih menghiasi mimpiku. Senyuman seorang wanita yang bahkan aku tidak tahu siapa namanya.

Flashback . . .

Mentari pagi di musim dingin, tidak terlalu hangat tapi cukup untuk menerangi pagi ini. Salju masih  turun walaupun tidak banyak seperti kemarin. Sebentar lagi musim dingin akan berlalu dan ucapkan selamat datang untuk musim semi. Aku suka musim semi, mentari akan terasa hangat. Setelah memakai setelan jasku, aku bercermin sebentar. Menyisir rambutku, dan berkata “Hey ! kau tampan Jinki ! hehe”. Hari ini aku harus cepat-cepat ke kantor, segala persiapan presentasi perusahaan telah disiapkan di laptop. Apa lagi  yang kau perlukan Jinki ? tanyaku dalam hati. Aha ! tentu saja, SARAPAN !!. umma masak apa pagi ini yah ? nasi goreng ? sup panas ? atau. .hanya roti ? dengan berselai nanas ? strawberry ? atau selai kesukkaan ku seperti selai coklat ?. Aku mengambil handphone dari laci di sebelah tempat tidurku, dan menekan nomor tempat bengkel langgananku. Tuut. .Tuut. .KLIK ! dijawab

“Yeoboseyo ??” terdengar suara berat seorang laki-laki dari seberang sana.

 “oh, ya aku Lee Jinki. Motorku pagi ini bisa diambilkan ?”.

“Lee Jinki ? tunggu sebentar. Emm. . .Belum selesai jadi tidak bisa ambil pagi ini” ucap laki-laki pemilik bengkel itu dengan santai.

 “apa ? bukankah aku kemarin mengantar motorku ? kenapa hari ini belum selesai juga ? padahal hanya di servis dan ganti oli kan ?”.

“maaf tuan Lee, tapi langganan kami bukan hanya anda. Kami mengerjakan sesuai urutan pelanggan yang datang. Dan anda kemarin datang terakhir” suara laki-laki itu masih terdengar santai.

SIAL ! umpatku dalam hati.  Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Tenang Jinki. .atur emosimu.

“baiklah kalau begitu, sore ini saya akan ke bengkel untuk mengambil motorku. Saya harap ketika sampai disana, motornya sudah selesai di servis. Selamat pagi”.

KLIK ! ku tutup telepon. Arrrrrgh ! apa yang harus ku lakukan ? aku harus cepat ke kantor pagi ini.

aku keluar kamar dan langsung menuju meja makan. Disitu sudah ada Taemin, adikku yang sudah siap dengan seragam SMA-nya. Appa yang sedang minum kopi sambil membaca Koran hari ini, dan umma yang sedang menyiapkan nasi goreng untuk sarapan kami. Aku duduk di sebelah Taemin dan menyikut lengannya. Dengan wajah polosnya, Taemin rifleks memandangku. “ada apa Hyung ?” tanyanya.

“emm . .hari ini tolong antarkan hyung ke kantor yah. Hee” aku nyengir lebar, supaya manis. Taemin garuk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Sepertinya dia bingung.

“tapi hyung, sekolahku dan kantormu kan beda arah. Kalau aku nganterin hyung dulu, wah bisa telat ke sekolah dong”.

Aku mengerut-ngerutkan keningku. Dan menopang dahuku pada tangan kanan di atas meja. Benar juga sih, malah Taemin yang bakalan datang telat ke sekolahnya.

“tapi kamu pake motor, kan bisa ngebut” kataku sambil menyuap nasi goreng ke mulutku. Mungkin karena aku makan sambil ngomong, nasinya muncrat-muncrat deh ke wajahnya Taemin. Taemin yang asyik makan langsung terganggu karena adanya serangan peluru dari pihak lawan.

“hyung ! jorok ih, makan aja nasinya loncat-loncat ke luar mulut. Makanya kalo lagi makan jangan ngomong”, kata Taemin menceramahi.

 Hey ! aku juga tahu itu, jangan sok ceramahin, aku hyungmu !. ku jitak dahi Taemin dengan Ttak-bam andalanku. Aww, Taemin mengerang kesakitan. Dahinya langsung memerah.

“Jinki ! jangan ganggu adikmu” tegur umma.

“iya umma” aku nurut.

Ku lirik Taemin yang masih asyik makan sambil ngusap-ngusap dahinya. Sakit yah Taemin ? hehe maaf yah.

“jadi ? mo nganterin hyungmu yang ganteng ini tidak ?” kataku tidak mau menyerah.

“SAKIT !” Taemin merengut dan menunjuk dahinya.

 “Yaaah, sini dahimu biar hyung tiup”. Taemin malah membuang muka dan makan lagi. Ku usap-usap dahinya.

 “Taemin~ah, antar hyung yah”.

 “gak mau hyung, jauh”.

 Aku manyun.

“kamu naik bis aja atau naik taksi kan bisa” saran umma.

Taemin ngangguk-ngangguk tanda setuju. Ku sentil lagi dahi Taemin, tapi dia malah berdiri jadi sentilanku gak kena “week”. Dijulurkan lidahnya tanda mengejek dan berlari ke luar rumah. Tidak lama terdengar deru suara motor dari knalpot motor Taemin.  Lee Taemin sudah pergi. Aku menghela nafas dan memandang umma dan appa bergantian. Aku mengambil tas ranselku dan melengos pergi.

“aku berangkat~”.

Aku berjalan dengan langkah lesu menuju halte bis. Sebenarnya ingin naik taksi, tapi sepertinya hari senin pantas di sebut hari kerja. Apalagi kota padat seperti Seoul ini. Tidak ada taksi yang mau memberiku tumpangan ! mungkin taksi-taksi ini sudah punya tumpangan di mobilnya.

Tidak ada pilihan lain, harus naik bis daripada aku terlambat. Aku terus berjalan dan melewati simpangan jalan. Langkahku terhenti, tidak jauh dari tempatku berdiri seorang wanita sedang mengamati seseuatu di toko gaun. Wanita yang berumur sekitar 20 tahunan itu berdiri tepat di depan gaun-gaun paling indah milik toko itu dipajang di sebuah ruang sempit berpintu kaca etalase. Dia sangat manis, gumamku.

Wanita itu menggunakan legging hitam dan jaket dingin dengan bulu di bagiah kerahnya berwarna coklat muda. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Aku terus mengamatinya. Sepertinya dia tidak sadar aku terus melihatnya seperti ini. Tapi memang itu yang aku harapkan. Aku ingin terus memandanginya seperti ini. Dia benar-benar cantik. Apalagi tiba-tiba saja dia tersenyum, pipinya yang chubby jadi semakin mengembung, betapa imutnya. Aku benar-benar terhipnotis. Halte bis ada di seberang jalan tempat aku berdiri sekarang, jadi selama bisnya belum datang biarlah aku memandangnya sebentar. Aku cuman mematung, sedangkan orang-orang yang lewat sudah bisik-bisik melihat tingkahku yang seperti orang bodoh. Terdengar suara deru mesin bus, aku menoleh ke seberang jalan. Benar ! bisnya sudah datang. Dengan setengah berlari aku menyebrang jalan dan langsung naik bis. Dengan sigap ku pilih tempat duduk dekat jendela. Tapi saat ku lihat lagi ke arah wanita itu, dia telah berjalan menjauh dari toko gaun. Aku menghembuskan nafas berat. Bis sudah mulai berjalan. Besok aku akan berangkat lebih awal, mungkin aku bisa bertemu dengannya lagi.

Author POV’s

Keesokan harinya, Jinki memang bangun lebih awal dari biasanya. Lee Taemin yang biasanya bangun lebih pagi 20 menit sebelum Jinki pun bingung. Dia kecurian start hampir 15 menit. Lee Jinki melirik jam tangannya, kini dia sudah ada di depan toko gaun tepat di tempat wanita itu kemarin berdiri. Motornya di parkirnya di pinggir jalan. Tapi lama dia menunggu wanita itu tidak juga muncul. Di antara lalu lalang kendaraan di pinggir jalan, di seberang sana tepatnya di halte bis terlihat wanita manis sedang duduk bersama calon penumpang bis. Jinki terperanjat. Dia. .dia adalah wanita kemarin. Kenapa dia naik bis ? kemarin dia hanya jalan kaki. Dia sangat cantik, sama seperti kemarin. Walaupun rambutnya di kucir kuda, memakai jeans longgar, jaket, dan sepatu kets tapi dia tetap cantik, tetap menawan.  Dan Jinki tetap terpana.

Tidak lama setelah itu, bis datang. Jinki masih saja memperhatikan wanita itu sampai bis itu benar-benar sudah pergi. Jinki menarik nafas. Disentuhnya dadanya, bisa dia rasakan jantungnya berdebar sangat kencang. “aku. . .mungkinkah aku jatuh cinta ?”.

Hari ke hari tidak ada kata lelah di hidup Jinki untuk hanya sekedar melihat wanita yang telah mencuri hatinya. Menunggunya di depan toko gaun itu, menatapnya di seberang sana. Memperhatikan seseorang yang duduk menunggu bis. Seseorang yang selalu dia mimpikan setiap malam. Sampai suatu hari Jinki berhasil membuntutinya ke tempat kerja, ternyata wanita itu bekerja di sebuah cafe. Setiap hari itu juga sepulang dari kantor kalau dia tidak lembur dia menyempatkan diri berkunjung ke cafe itu walaupun hanya minum kopi atau makan kue. Baginya setiap hari melihatnya saja sudah cukup, tanpa tahu namanya. Jinki benar-benar tidak punya keberanian untuk mengajaknya berkenalan. “Seo malam ini kamu yang jaga kan ?”. Jinki menoleh ke arah suara saat dia menjadi pelanggan di cafe tempat wanita itu bekerja.  Nama wanita itu Seo ? tapi Seo apa ?, kata Jinki dalam hati dan kembali fokus mendengarkan pembicaraan yang Jinki ketahui namanya Seo, wanita yang dia buntuti beberapa hari ini. Seo mengangguk, “ya, aku yang akan bersih-bersih dan membuang sampah malam ini”.

Membuang sampah-sampah sisa makanan pelanggan setelah cafe tutup memang sudah jadi kewajiban pekerja. Cafe tempat Seohyun baru tutup saat menjelang malam. Manajernya bilang tidak sopan membuang sampah saat pelanggan masih berada di cafe.

 “aku harap kamu bisa pulang cepat , para pemabuk berkeliaran saat larut malam” tegur temannya.

Seo hanya tertawa. Jinki mengerutkan keningnya. Benarkah ? dia akan pulang larut malam ?.

Malamnya Jinki benar-benar gelisah, jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Dia sedang berbaring di tempat tidurnya, tapi dia tidak juga bisa tidur. Berbalik ke kanan dan kekiri. Sesekali tengkurap dan telentang. Pikirannya benar-benar kacau dan galau. Seo. . .apakah dia sudah pulang ? sudah sampai di rumah ? dia baik-baik saja ?. Wajah wanita itu menari di benaknya. Setelah menghela nafas, dan meyakinkan diri. Jinki bangkit memasang jaket kulitnya dan mengambil kunci motornya.

Seorang wanita terlihat sedang membawa plastik sampah keluar dari cafe.  Setelah membuang plastik sampah itu ke tempat sampah dia mengunci pintu cafe dan mulai berjalan pulang.  Sepanjang perjalanan pulang dia merasa ada orang membuntuti dirinya. Tapi saat ditengoknya, tidak ada siapapun disana. Jalanan juga sepi. Dia meniup telapak tangannya dan menangkupkannya agar tangannya hangat, lalu dimasukkan ke kantong jaket.  Dia terus berjalan dengan santai, walaupun dia agak takut tapi dia buang jauh-jauh pikiran mengerikan yang ada di benaknya. Mungkin itu hanya suara angin ? pikirnya menenangkan diri. Saat di dengarnya suara langkah kaki dibelakangnya, dia benar-benar tidak bisa menghindari rasa takutnya. Langkah kaki itu bukan halusinasinya tapi benar-benar langkah kaki manusia dengan menggunakan sepatu boot. Tidak hanya ada satu orang dibelakangnya, tapi ada dua orang. Seo mempercepat langkahnya.

 “Hahaha sepertinya dia sudah tau keberadaan kita” kata seseorang dengan suara berat.

 Detak jantung Seo semakin cepat, dia semakin takut. Tuhan tolong aku, mereka pasti pemabuk. Seo mulai berlari kencang, tapi dua orang laki-laki yang sedang mabuk itu mengejarnya. Dikerahkannya kekuatannya yang masih ada untuk berlari menghindari dua lelaki itu yang entah apa yang akan mereka lakukan terhadapnya. Tapi salah satu mereka berlari sangat cepat dan menarik paksa tangan Seo. “aaaarggh lepaskan ! lepaskan” Seo meronta. Mereka hanya tertawa kejam.

 “halo apa kabar manis” kata laki-laki berjanggut sambil menyentuh dagu Seo. Seo menepisnya. “lepaskan aku, aku mohon” kata Seo memohon.

“melepaskanmu ? oh no no no. kami tau apa yang harus kami lakukan terhadap wanita semanis dirimu. Hahahaha”.

Seo benar-benar takut, tubuhnya mulai gemetar. BUK ! tiba-tiba seseorang meninju bagian pinggang belakang laki-laki berjanggut.  Laki-laki itu langsung tersungkur akibat pukulan yang sangat keras dan mendadak. Lelaki yang satunya lagi punya perawakan lebih tinggi, langsung menghantam bagian pipi namja yang memukul lelaki berjanggut tadi. Namja itu jatuh namun bangkit lagi, dia mulai menyerang bagian perut dengan kepalanya dan meninjunya beberapa kali sampai lelaki tinggi mengerang dan duduk kesakitan. Merasa nyawa mereka akan terancam, mereka pun langsung kabur. Seo yang masih ketakutan hanya bisa duduk lemah di pinggir jalan. Namja itu menarik tangan Seo dan membiarkan tubuh Seo jatuh dalam pelukkanya.

 “Kibum. . .aku takut” ucap Seo sambil menangis.

Namja bernama Kibum itu membelai kepala Seo dengan lembut.

 “tenanglah Seohyun, aku ada disini. Aku akan selalu menjagamu. Tenanglah” Kibum meyakinkan. Masih tetap menangis, Seohyun mengangguk dan membenamkan wajahnya  ke bahu Kibum.

 “aku antarkan pulang yah” kata Kibum sambil tersenyum.

 Seohyun mengangguk.

“tunggu apa ini ?” Kibum mengusap cairan berwarna merah yang keluar dari hidung Seohyun.

“ah, i..ini bukan apa-apa”jawab Seo agak takut. “aku lelah, aku ingin pulang sekarang” pintanya.

Kibum mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk Seohyun. Mobil yang dikendarai Kibum itu pun langsung melaju kencang di antara jalanan yang diselimuti salju.

Sedangkan Jinki yang sedari tadi tidak menghiraukan desiran angin dingin menerpa tubuhnya akhirnya merasa lelah. Dia mengendarai motornya di jalan raya tanpa ada tujuan.

 “tidak ada dia, mungkin dia sudah pulang” ucap Jinki dalam hati. Dibelokkannya motornya ke simpangan menuju rumahnya.

***

“Tadaaaaa !! saengil chukkha hamnida. . .saengil chukkhae hamnida” Key bernyanyi sambil bertepuk tangan. Seohyun yang duduk di sampingnya tersenyum bahagia.

Sekarang mereka sedang berada di taman, dan merayakan ulang tahun Seohyun  hanya berdua. Bintang-bintang di langit seakan ikut gembira untuk hari ulang tahun Seohyun, mereka berkerlap-kerlip dengan indah. Walaupun di luar sangat dingin Karena salju masih saja turun, tapi mereka tidak punya pilihan lain. Bodyguard umma Key pasti akan mencari seluruh restoran di Seoul setelah tahu anaknya kabur lagi entah ke berapa kalinya untuk menemui Seohyun.

Key termasuk namja yang nekat. Dia sangat mencintai Seohyun, segala cara pasti akan dia lakukan asal bisa bersama orang yang disayanginya.

“Gomawo” kata Seohyun dengan wajah berseri.

“close your eyes and make a wish” Key memerintah.

Seohyun mengangguk dan memejamkan matanya. Dia berdoa dengan serius. Kibum menatapnya dengan penuh tanda tanya, apa yang sedang diharapkan yeojachingunya ini. Tidak lama kemudian Seohyun membuka mata dan tersenyum kepada Kibum yang sedari tadi memandangnya. Lalu dia memandang cake coklat kesukaannya, di atasnya disusun rapi lilin-lilin ulangtahun yang jumlahnya 20. Sesuai dengan umurnya sekarang. Lalu meniupnya. Kini cake itu sudah tidak seterang saat api di lilin-lilin kecil itu masih meneranginya.

“kau. .kenapa memandangku seperti itu ?” tanya Seohyun.

“tidak bolehkah ? kau berdoa sambil tersenyum dan itu membuatku penasaran. Apa harapanmu ?”

“haruskah aku mengatakannya ? itu bukan urusanmu” kata Seohyun sambil mendengus.

“hey, aku calon suamimu. Sudah seharusnya aku tahu semua rahasia calon istriku kan”

Seohyun tersenyum simpul. Lalu mulai memotong kue.

“buka mulutmu, aku akan menyuapi kue ini untukmu. Ayo aaaaa” kata Seohyun sambil menyodorkan potongan kue ke mulut Kibum.

Tapi Kibum hanya menggeleng “aku tidak mau”. Seohyun merengut “apa maumu ?”.

 “aku ingin tahu harapanmu”

“harapanku ?”

“aku tidak bisa tenang, mungkin saja di harapanmu kau ingin selingkuh” Key  mencoba mengajak Seohyun bercanda.

“kau. .kau kenapa bisa tahu ?”

APA ? Seohyun tadi bilang apa ?

“kau benar ingin selingkuh ?”

“tentu saja !” Seohyun mengangguk.

 Kibum tentu saja sangat shock. Seohyun. .beraninya kaaaau, umpat Kibum dalam hati. Melihat wajah Kibum yang hampir mati karena terkejut, Seohyun tidak bisa menahan tawanya. Dia tersenyum dan menyandarkan kepala di bahu Kibum.

“tentu saja aku bohong Kibum-sshi. Aku berharap bisa terus seperti ini denganmu, bersamamu, selamanya !”

Mendengar itu, wajah Kibum langsung memerah. Sungguhkah ? aku juga ingin terus seperti ini. BERSAMAMU ! SELAMANYA !

Seohyun pov’s

Sesuatu yang basah dan hangat itu mengalir lagi dari hidungku. Ini bukan untuk pertama kalinya, ini sudah hal biasa tidak terasa sakit memang tapi dengan keadaan seperti ini wajahku terlihat lebih pucat. Ku sapu daerah bawah hidungku, bercak merah terlihat membasahi jari-jari ku yang semakin kurus.

“Seohyun ! hidungmu berdarah lagi” Gyuri terlihat khawatir. Dia mengambil beberapa helai tisu dan mengusapkannya ke sisa-sisa darah yang masih menempel di kulitku.

“aku tidak apa-apa, tenanglah” ku dongakan kepalaku ke atas agar darah itu berhenti.

“pulanglah, kau perlu istirahat nanti aku akan menemanimu ke ruangan manager untuk meminta izin pulang”

Aku menggeleng, itu tidak perlu. Dulu aku sudah sering pulang dari sekolah gara-gara kejadian seperti ini, haruskah saat bekerja pun aku melakukan hal itu ? tidak ! umma pasti akan khawatir.

“itu tidak perlu Gyuri, aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya terlalu lelah” ujarku sambil tersenyum.

“kau sudah sering seperti ini, sebaiknya kita periksa ke rumah sakit, gimana ?”

Lagi lagi aku menggeleng. Gyuri hanya menatapku dengan prihatin.

Triling !

Bel tanda pelanggan datang berdering. Bel itu berada di atas pintu masuk cafe, dan bel itu akan berdering saat pelanggan membuka pintu café.

Seohyun segera mendekati meja pelanggan yang baru datang tadi dan bersiap menulis pesanan pelanggan.

“selamat datang, anda mau pesan apa ?”

Pelanggan tersebut menyebutkan pesanannya, dan Seohyun mencatatnya.

PRAAAAANG !

“Hey apa-apaan ini !” suara wanita terdengar setengah berteriak.

“ma. .maafkan saya Nyonya” dengan nada takut Gyuri meminta maaf dan berkali-kali membungkukkan badannya.

Seohyun membalikkan badan kearah suara. Dilihatnya Gyuri sedang menundukan kepalanya sedangkan wanita yang dihadapan Gyuri sibuk membersihkan coklat-coklat kue di baju mewahnya. Seohyun segera berlari mendekat dan membantu wanita itu membersihkan bajunya.

“maafkan saya nyonya, saya benar-benar tidak sengaja. Saya tersenggol kaki meja dan terjatuh hingga kue yang saya bawa terjatuh ke baju anda. Maafkan saya” Gyuri berkali-kali meminta maaf.

“kau tahu harga baju ini ? mungkin setara dengan gaji mu 5 tahun ! panggil manager cafe ini ! biar ku suruh dia memecat pekerja tidak becus seperti kamu dan. . .” kata-kata wanita itu terhenti saat melihat Seohyun.

Seohyun juga terkejut melihat wanita yang sedang melototinya.

“kaaauu. .Seohyun. .” wanita itu berdiri dari kursinya dan menarik tangan Seohyun keluar cafe. Dan melepaskannya dengan kasar.

“kau ! bagus ya ! ternyata kau masih bekerja disini. Kenapa kau tidak menghilang saja dari kota ini heh ? sudah ku suruh kau berhenti dari pekerjaan ini dan menghilang dari Seoul. Apa kau masih bertemu anakku ? keluar dari pekerjaan ini !” kata wanita itu dengan geram.

Seohyun yang sedari tadi hanya menunduk, lalu menatap mata ahjumma cantik ini.

“anda tidak punya hak untuk mengatur hidup saya. Ini pekerjaan saya, dan saya menyukai pekerjaan ini. Kota ini adalah kota kelahiran saya dan siapapun berhak tinggal disini. Anda tidak punya hak apa-apa untuk menyuruh saya seperti keinginan anda” Seohyun berbicara dengan tegas. Lalu dia membungkuk dan masuk kembali ke cafe tempat dia bekerja.

Wanita itu mendengus kesal, dia mengambil handphonenya “Hallo, Tiffany. Kita batalkan pertemuan kita membahas perjodohan Kibum hari ini di cafe La Via dan jangan pernah memilih cafe ini lagi jika ingin bertemu dengan saya”

***

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

10 thoughts on “Loving You – Part 1”

  1. widih emaknya kibum galak bnr dah…
    ah jinki cemen nih…beraninya cuma ngekiatin doang..kenalan dong..
    key dipasangin sma seo ???hemmm dua karakter yg bertolak belakang..

  2. huwaaa love for kibum !!
    ahahah jinki gmna tuh sebelah tangan dong .. huwaa!
    seohyun punya penyakit kah???
    taemin ngak sopan sama hyung mu!!
    ahahhah sedikit miris ya .. klo tau apa yg terjadi sama seohyun ..
    huwaaaaa

  3. Penasaraan.
    Err, tapi yang tadi masi flashback kan? Aku takutnya salah. Hehe, ada yg kurang jelas deh. Mungkin dipart selanjutnya dijelasin.
    Tapi serius, ini bagus !! Aku suka . Lanjut . Haha

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s