I Love Your Brother – Part 1

I Love Your Brother – Part 1

Title : I Love Your Brother – Part 1

Author : Park Sung Rin aka dorkyflames

Main Cast : Choi Minho, Krystal

Support Cast : Sulli, Jessica, dll

Length : Sequel

Genre : Romance,Friendship, Family

Rating :  PG-15

A.N : My first ff,, klo ada kemiripan jalan cerita, ini semua murni karena ketidaksengajaan. Dan maaf kalo nanti ceritanya agak aneh, hhee. Happy reading ^^ *bow*

 

                “Krystal-yaa, menginaplah dirumahku malam ini, arachi ?” bujuk Sulli. Dia adalah teman sebangku sekaligus terbaikku.

                Mungkin ini sudah yang ketiga kalinya dia membujukku dengan manja seperti ini. Padahal dia lebih tua beberapa bulan daripada aku, tapi dia suka sekali bermanja – manja begini padaku. Bahkan dia sering bilang dia sudah menganggapku seperti onnie nya sendiri.

                “Aku sudah menjawabnya, Suli-ah.. Aku tak bisa janji,” kataku tanpa memandangnya. Aku menyibukkan diri dengan memasukkan buku – bukuku ke dalam tas, berusaha menghindari  jebakan tatapan puppy eyes nya.

                “Jebal.. Krystal neomu yeppo,” dia merayuku sambil menyandarkan kepala di bahuku. “Ayolah..”

                “Besok tidak libur, aku tidak tahu apa umma akan mengizinkanku,” alasanku.

                “Aku sendiri yang akan bilang, bagaimana ?” dia mengangkat kepala sambil memandangiku dengan mata berbinar-binar.

                Aku mendengus kesal. Sebenarnya aturan yang tadi ku katakan tidak pernah berlaku untuk Sulli. Sama sekali. Ummaku begitu menyukai Sulli dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri, jadi tidak mungkin umma tidak mengizinkanku menemani Sulli. Apalagi Umma sudah tahu kalau orangtua Sulli berada di luar negeri dan dia hanya tinggal bersama-err,, oppanya.

                “Sudah, tidak usah bilang.. Aku datang jam 7,” kataku, akhirnya mengakhiri perlawananku yang sudah pasti sia – sia.

                “kyaaa~ gomawoo, krystal-yaaa!!!”

                Sulli sudah bersiap akan memelukku. Tapi aku yang sudah hafal dengan kebiasaannya langsung menghindar. Tapi tanpa ku duga dia malah mencium pipiku. Dia tahu aku tidak suka dicium olehnya. Menurutku akan memalukan kalau ada yang melihatnya dan Sulli tidak pernah ambil pusing.

                “Ya!” seruku marah, tapi Sulli sudah berlari sambil menyambar tas nya, meninggalkanku di kelas sendirian.

Sekali lagi aku mendengus kesal. Aku segera mengambil tas sekolahku dan berjalan keluar kelas. Mungkin supir ku sudah menunggu di depan sekolah. Aku berjalan menyusuri lorong kelas yang masih ramai, tapi aku tidak bisa menemukan Sulli. Entah kemana dia lari.

Sebenarnya bukannya aku tidak mau menemani Sulli. Tapi aku benar-benar sedang malas bertemu oppanya. Oppa Sulli benar – benar keren dan err, aku menyukainya. Sudah cukup lama sebenarnya. Namanya Choi Minho dan dia seorang anak band. Dia mempunyai mata berkharisma dan badan yang tinggi tegap. Banyak hal yang membuatku sangat mengaguminya. Salah satunya dia sangat perhatian pada dongsaeng kesayangannya, Sulli dan sikapnya yang begitu baik padaku.

#flashback

Jam 5 pagi di suatu hari Minggu.

Lagi – lagi Sulli memintaku menginap di rumahnya. Dan pagi ini Minho oppa memaksa Sulli dan juga aku untuk jogging karena alasan kami berdua terlalu gemuk. Meskipun sambil menggerutu kami berdua menyusul minho oppa yang sudah menunggu di depan rumah. Begitu sampai, angin subuh berhembus menyambut, lumayan dingin juga. Untung kami memakai jaket.

“Sulli, bisa tidak memasang risleting jaketmu dengan benar?” Minho oppa memandang galak jaket Sulli yang terbuka risletingnya. “Kau mau masuk angin?”

“Ne..ne..ne,” sahut Sulli kesal, dia menutup risleting sambil cemberut.

Lalu minho oppa juga menatapku tak kalah galak. Jaketku juga terbuka. Aku yang terlalu ngeri melihat tatapan matanya langsung membenarkan risleting jaket tanpa banyak protes.

“Kajja!” Sulli menggandeng tanganku.”Kita tinggalkan oppa bawel ini,” dan kami berdua berlari duluan.

Minho oppa menyusul di belakang. Dia berlari santai dengan earphone di telinganya. Sambil sesekali bersenandung dia melihat sekitar, seolah – olah memastikan keselamatan adik-adiknya terjamin. Sesungguhnya oppamu ini tidak bawel, Sulli.. dia hanya sangat menyayangimu.

Begitu sampai di sebuah taman..

“Aku capek, ayo istirahat dulu,” kata Sulli.

Minho oppa berhasil menemukan bangku panjang dan menyuruh kami duduk disana sementara dia entah pergi kemana. Sulli tampak cuek – cuek saja, padahal aku penasaran mau kemana minho oppa? Kenapa dia meninggalkan kami? Apa dia marah karena di sepanjang jalan Sulli ngambek padanya?

Tapi semua penasaranku segera terjawab. Minho oppa kembali dengan sebotol air mineral dan langsung memberikannya pada Sulli.

“Bukain botolnya, tanganku berkeringat.” Kata Sulli.

Terdengar masih sedikit marah. Tanpa protes Minho oppa membukakan botol untuk Sulli dan segera memberikan kembali pada Sulli yang langsung diminum olehnya. Baik sekali minho oppa. Aku sangat iri pada mereka. Aku  juga ingin menjadi seperti Sulli, mempunyai oppa sebaik itu.

“Ini,”

Sebotol air mineral sudah ada di depan wajahku.

“Sudah dibukakan juga tutupnya,” kata Minho oppa.

Aku menerimanya dengan canggung. Ternyata Minho oppa juga membawakan air mineral untukku. Jadi seperti ini ya rasanya di perhatikan oppanya. Aku tidak tahu karena aku tidak punya oppa dan minho oppa membuatku mengerti. Minho oppa bukan hanya oppa yang baik untuk Sulli, tapi dia juga teman yang baik untuk siapa saja. Termasuk untukku.

Tadinya aku selalu iri melihat perhatian – perhatian Minho oppa pada Sulli. Tapi Minho oppa tidak pernah membiarkanku merasa sendirian di tengah – tengah mereka. Karena itulah dia memperlakukanku sama seperti Sulii. Gomawo, oppa..

#flashback end

 

 Tak peduli betapa bawelnya Sulli, begitulah minho oppa tetap saja sangat memperhatikan Sulli. Sayang sekali aku tidak bisa menceritakan pada Sulli tentang perasaanku.

“Aku tidak suka oppaku punya pacar,” pernah Sulli bilang begitu.

“Wae?” tanyaku pura-pura cuek, padahal sebenarnya kata – kata Sulli barusan sukses menghujam jantungku.

“Meskipun oppaku  cerewet, tapi aku akan kesepian kalau dia membagi waktu dan perhatian dengan pacarnya,” jawabnya.

Aku diam saja, dan saat itu juga aku berjanji untuk berusaha sebisa mungkin untuk berhenti menyukai Minho oppa. Aku tidak mau kehilangan sahabatku. Selain itu, minho oppa sepertinya juga sudah menganggapku seperti adiknya juga. Dia memperlakukanku sangat baik, hampir sama dengan Sulli. Jadi tidak mungkin dia juga menyukaiku. Belum lagi berapa banyak yeoja pengagumnya yang jauh lebih cantik dan sexy daripada aku. Aigo, kenapa begitu banyak penghalang ??!!

 Tapi berhenti menyukainya bukan hal yang mudah. Setiap kali bertemu dengan minho oppa, jantungku berdegup tak terkendali. Dan bayangan wajahnya tidak pernah pergi dari benakku.

Aku terus berjalan menuju gerbang sekolah. Dan tanpa terduga, telah berdiri seorang namja dengan sweteer abu – abu gelap, bersandar pada gerbang. Dengan melihat postur tubuhnya saja aku sudah tahu siapa dia.

“Krystal, apa kau melihat Sulli ?” tanya namja itu setelah menyadari kedatanganku.

“Mianhae minho oppa,” ucapku berusaha mengabaikan degupan jantungku, “Aku tidak tahu.”

See ? semakin berusaha menjauhinya malah semakin sering bertemu. Tapi aku tidak mau berpikir bahwa ini takdir. Aku terlalu jauh untuknya. Like i said before, namja tampan sepertinya punya banyak sekali pengagum yang cantik dan sexy.

“Tumben kalian tidak bersama..Biasanya sudah seperti kembar siam”, gumamnya tersenyum mengejek.

Dia mengeluarkan handphone dari saku celananya. Pasti dia sedang menghubungi Sulli. Bersamaan dengan itu datang mobil jemputanku. Aku ingin berpamitan pada minho oppa tapi dia tampak sedang ngobrol di telepon. Ya sudahlah, aku memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan.

“Krystal,” tiba – tiba dia memanggilku.

Aku menoleh dan berusaha sebisa mungkin tidak tersenyum kegirangan.

“Gomawo sudah mau menemani Sulli nanti malam,” katanya.

Aku tersenyum, aku merasa mungkin senyumku terlalu lebar. Tapi dengan segera minho oppa kembali sibuk dengan HP nya. Aku segera naik ke mobil dan saat mobil bergerak menjauh aku masih terus memandanginya.

— xxx —

                Jam 7 malam aku benar – benar sudah sampai di rumah Sulli. Beruntung Sulli sendiri yang membukakan pintu untukku, bukan minho oppa. Kami langsung ke kamar Sulli dan aku langsung membaringkan diri di ranjangnya.

                “Ya ! Kau disini untuk menemaniku, bukan untuk tidur.” Protes Sulli.

                “Yang paling penting aku masih di sebelahmu, tidak usah khawatir.” Jawabku sambil memejamkan mata.

                “Arasseo, aku cuma bercanda. Nice dreams, princess.. aku mau update me2day ku dulu, hhii” candanya.

                Terserah kau saja, Sulli. Kalau sudah begini dia bisa lupa tidak tidur nanti.

                “Yeoja macam apa kau ini Krystal-yaa? Masa sore begini sudah mau tidur?” omel seorang namja.

                Aku membuka mata dan dugaanku benar, minho  oppa.

                “Aku berangkat sekarang, sulli-ah.. Jangan tidur terlalu malam..”pesannya pada Sulli sambil mengacak poninya.

                “Ya!” protes Sulli, dia merapikan poninya dengan cemberut dan menatap oppa nya sebal.

                Tapi minho oppa tidak peduli dan berjalan keluar kamar. Sebelum dia pergi dia berkata padaku, “Jaga adikku, putri tidur!” Dan seolah dalam gerak slow motion, tangannya bergerak ke arah kepalaku, dan mengacak poniku selama beberapa detik. Dia langsung pergi, tapi aku masih terpana. Mungkin ini hal biasa bagi minho oppa dan Sulli. Minho oppa juga biasa melakukan itu padaku. Tapi bagiku ini selalu menjadi hal yang luar biasa. Karena belum ada namja yang mengacak poniku selain appaku—dan juga dia.  Jadi begini ya rasanya punya oppa, sungguh beruntung menjadi seorang Sulli.

                “Kau tidak jadi tidur?” kata Sulli di balik layar laptopnya.

                “Ne, ne, aku tidur sekarang” kataku.

                Aku kembali memejamkan mata. Kali ini aku juga menutup wajahku dengan selimut untuk menyembunyikan senyumku. Perlahan aku menyentuh poniku. Setidaknya tangan minho oppa pernah menyentuhnya, kataku dalam hati.

—xxx—

                Entah jam berapa sekarang, yang pasti sudah lewat tengah malam. Tenggorokanku rasanya kering sekali. Aku berjalan menuju ruang makan di lantai bawah untuk mengambil air minum. Segelas air putih sukses melegakan tenggorokanku. Sekarang saatnya kembali tidur, ketika membalikkan badan betapa kagetnya melihat sesosok namja berdiri tepat di belakangku.

                “Ya, kau memandangku seperti memandang hantu !” kata minho oppa kesal.

                “Sejak kapan oppa disitu?”aku mengelus dada.

                “Belum lama, baru saja pulang.” Jawabnya.

Dia juga mengambil segelas air dan meneguknya. Bahkan saat minum pun dia terlihat sangat keren.

“Aku ingin minta tolong sesuatu,” katanya tiba – tiba.

“Minta tolong apa?” jawabku dengan bertanya balik.

“Nanti kau akan tau, kajja!”

Sebelumnya aku pikir minho oppa akan berjalan duluan dan menyuruhku mengikutinya. Tapi ternyata dia menarik tanganku, menggenggamnya erat. Tidak ada kesempatan bagiku untuk menolaknya. Ini kesempatan langka. Aku melirik tangan kami dengan takjub. Dia benar – benar memegang tanganku. Aku berjalan sedikit di belakangnya, menatap punggungnya yang tegap. Berada dalam genggaman tanganmu membuatku merasa hangat dan aman, oppa. Tapi juga membuat jantungku berdegup tak karuan.

“Aku ambil gitar dulu, kau tunggulah di balkon,” katanya.

Bersamaan dengan itu dia melepas gandengan tangan kami untuk membuka pintu. Jujur, aku sedikit kecewa, kenapa begitu cepat berakhir. Tapi rasa kecewa itu segera tergantikan dengan rasa kagetku. Ternyata kami sudah berada di depan kamar minho oppa, dia masuk duluan. Aku penasaran, jangan – jangan dia mau minta tolong membersihkan kamarnya. Tadi dia bilang suruh menunggu di balkon, jadi aku harus melewati kamarnya dulu. Aku melangkah ke dalam kamar sambil melihat-lihat keadaan sekitar. Aku belum pernah masuk kamar namja sebelumnya. Kamar minho oppa agak messy,tapi tidak terlalu messy. Banyak poster musisi di tembok. Mejanya penuh dengan majalah dan buku – buku tentang musik dan ada satu buku chord gitar terbuka di ranjangnya.

“Sebelah sini,” dia membukakan pintu lain yang menuju balkon untukku, sebelah tangannya membawa gitar.

Aku segera berjalan kearahnya, dan menuju balkon. Di balkon kamar ini terdapat karpet tebal, dia duduk disana sambil bersandar di tembok. Aku mengikutinya. Saat menyandarkan kepalaku, aku bisa melihat langit serta bintang – bintangnya dengan jelas.

“Aku baru saja membuat sebuah lagu, aku ingin kau mendengarnya dan beri pendapatmu, oke?”

“oh, nee..” karena asik melihat bintang aku bahkan sampai lupa tentang ini, jadi dia minta aku memberi pendapat tentang lagunya? Padahal aku sama sekali tidak mengerti musik, otteohke??

Aku sudah membuka mulutku ingin protes, tapi minho oppa sudah mulai memetik gitarnya. Dan baru petikan pertama aku langsung terdiam. Iramanya mengalun dengan indah, ditambah lagi minho oppa tampak begitu menghayati. Kemudian dia mulai menyanyikan liriknya. Suaranya yang berat sangat pas dengan lagu ini. Dia melirikku sekilas, lalu meneruskan lagunya sambil menerawang ke arah langit. Liriknya begitu dalam, tentang cinta terpendam seorang namja. Betapa namja itu sangat mengagumi seorang yeoja apa adanya dan betapa dia hanya ingin selalu melindungi yeoja itu. Tanpa peduli apakah yeoja itu tau tentang perasaannya atau tidak. Benar-benar cinta yang tulus.

Semakin lama aku semakin terlarut dalam lagu minho oppa. Aku tidak jadi memprotes, melainkan tetap duduk bersandar dan melihat keindahan langit malam hari. Bahkan kerlipan bintang seolah serasi dengan lagu minho oppa.

“Bagaimana ?” tanyanya, menoleh padaku.

“”Sudah selesai ?” aku bahkan tidak sadar kalau lagunya sudah selesai.

Minho oppa mengangguk mantap, dia meletakkan gitar di sebelahnya dan kembali memandangi langit.

“Aku tidak mengerti musik, pasti oppa tau kan? Tapi tidak tau kenapa aku sudah sangat menyukainya sejak petikan gitar pertama,” jawabku jujur.

“Gomawo,” dia tersenyum puas. “Aku tidak bisa minta pendapat pada Sulli, dia tidak suka lagu cengeng.”

“Ini bukan lagu cengeng,”kataku.”Ini lagu romantis.”

“Ya,” dia tersenyum lagi. “Tapi kau tau kan Sulli punya selera musik yang aneh.”

Aku mengangguk.

“Kajja, aku antar kembali ke kamar Sulli dan jangan bilang…”

“Aku akan ke kamar sendiri,” potongku. “Dan aku janji tidak akan bilang apa pun pada Sulli.” Aku langsung berdiri cepat.

“Gwenchana?” Minho oppa tampak heran dengan perubahan sikapku.

“Ne,” jawabku pendek.

Aku hanya ingat kalau tadi aku bilang lagu itu romantis. Entah kenapa aku jadi malu sendiri dengan perkataanku tadi. Tadi aku bersikap seolah-olah lagu itu untukku. Padahal aku tahu minho oppa suka sekali menulis lagu dan dia bisa mendapat inspirasi dari mana-mana. Tidak mungkin lagu itu untukku. Aku berjalan cepat meninggalkan kamarnya, tak berani menoleh lagi.

Sulli masih tampak terlelap dikamarnya. Aku segera berbaring disebelahnya dan kembali menutup wajahku dengan selimut. Aku berusaha memejamkan mata, tapi bayang – bayang minho oppa masih menghantuiku. Aku masih ingat betul bagaimana dia memetik gitar dan sungguh mempesona cara dia menyampaikan kata demi kata dalam lagunya.

Meskipun mataku terpejam, tapi mungkin aku tak akan bisa tidur sampai besok pagi.

— xxx —

                Paginya semua berjalan normal. Kecuali Sulli yang agak repot membangunkanku karena di luar dugaan aku tertidur saat hampir pagi. Jadi saat Sulli membangunkanku rasanya masih sangat mengantuk. Kami sarapan bertiga, tentunya bersama Minho oppa. Sesuai dugaanku, minho oppa tampak santai dan biasa saja. Tapi aku belum berani menatap langsung padanya.

“Kau yakin tidak ada yang tertinggal?” sebelum berangkat Minho oppa berkata pada Sulli.

“Ahni,” jawab Sulli cuek.

Minho oppa membukakan pintu dan Sulli segera masuk. Aku menyusul di belakangnya sambil berusaha menghindari pandangan Minho oppa.

“Bagaimana denganmu?” dia juga bertanya padaku.

“Tidak ada yang tertinggal, oppa.” Jawabku tanpa memandangnya.

Setelah kami berdua duduk dengan nyaman di bangku belakang, minho oppa mulai menjalankan mobil menuju sekolah kami. Kalau tidak ada aku biasanya Sulli akan duduk di depan bersama Minho oppa.

Di sepanjang perjalanan Minho oppa asyik dengan earphone nya. Dan Sulli sibuk bermain – main dengan hanphone nya sambil sesekali ngobrol denganku. Sisanya aku habiskan dengan memandang keluar jendela, ke arah langit yang berwarna biru cerah. Yang kemarin malam penuh dengan bintang dan aku menikmatinya bersama Minho oppa.

—xxx—

Aish, benar – benar babo !! Bagaimana bisa aku meninggalkan charger HP ku di rumah Sulli?! Padahal tidak ada orang di rumah ini yang chargernya sama denganku. Dan sudah beberapa kali HP ku mengeluarkan bunyi peringatan lowbat. ARGGH !! aku Cuma bisa mengacak rambut dengan kesal.

“Minho oppa akan mengantarkannya,” kata Sulli setengah jam yang lalu melaui telepon.

“Kau juga ikut kan?” tanyaku, aku masih ingin menghindari minho oppa.

“Ahni,” jawabnya. “Aku mengantuk.”

“Ya! Kenapa kau tidak ikut?” aku tiba – tiba jadi panik.

“Aku baru saja mengatakannya, aku mengantuk. Lagipula dia sudah berangkat..”

Bersamaan dengan perkataan Sulli tadi HP ku kembali mengeluarkan bunyi peringatan. Terpaksa kami harus menyudahi perbincangan kami. Dan kini aku sedang menunggu Minho oppa sambil melihat ke arah luar jendela. Belum ada tanda – tanda kedatangannya.

“Krystal, ada yang mencarimu!!” Jessica onnie memanggilku sambil membuka pintu kamarku. “Oppanya Sulli datang,” tambahnya.

“Jinjja ? Aku belum melihat mobilnya lewat.” Aku bergumam heran.

“Tidak ada mobil, hanya motor yang aku lihat.”

“Onnie, kenapa bukan onnie saja yang menemuinya dan minta chargerku yang ketinggalan, ” pintaku dengan penuh harap.

“Shireo, aku sedang memasak kue.” Jawabnya tak sabar.

“Onnie..”

Aku memberinya tatapan puppy eyes tapi Jess onnie balas menatapku dengan galak. Huh, aku pun melangkah dengan malas sementara Jess onnie kembali ke dapur. Sungguh tak adil. Kenapa Sulli selalu berhasil dengan puppy eyesnya sementara aku tidak ?

Sampai ruang tamu, minho oppa sudah duduk disana. Dia langsung berdiri ketika melihatku datang.

“Ini,” dia menyerahkan charger tersebut dan aku menerimanya.

“Gomawo,” kataku.

“Ck, benar – benar ceroboh. Sama saja seperti Sulli,” gerutunya. “Kalau tidak salah tadi pagi sudah aku ingatkan kan?”

“Mianhe oppa, sudah merepotkan,” tambahku lagi.

“Bukan begitu, jangan minta maaf padaku. Tapi kalau masih ceroboh begini kelak kau akan kesusahan sendiri,” omelnya. Cara dia mengomel sama persis kalau sedang menceramahi Sulli.

“Sebenarnya ada yang ingin ku katakan,” kata minho oppa.

Deg ! jantungku berdegup kencang. Wajah minho oppa tampak serius sekarang. Aku sangat penasaran apa yang ingin dia sampaikan. Jangan – jangan dia … argghh, jangan mikir macam – macam, Krystal !

“Ah, tapi sepertinya tidak sekarang.” Katanya lagi.

Aku mencelos kecewa.

“Wae?” tanyaku agak kesal.

“Terlalu panjang dan Sulli sedang di rumah sendirian, nanti dia kesepian.” Jawabnya.

Aku ingin bilang bahwa Sulli tidur tapi aku yakin Minho oppa pasti tetap bersi keras mau pulang. Dia tak pernah membiarkan dongsaengnya sendirian. Itulah sebabnya ketika dia pergi, aku selalu di minta menemani Sulli.

“Akan kita bicarakan nanti, sebuah rencana.” Dia terlihat bersemangat. “Tapi aku harus pulang sekarang.”

Dia meraih kunci motornya di atas meja. Lalu aku mengantarnya ke depan rumah. Ternyata benar dia mengendarai motornya. Dia memang terkadang memakai motor gede nya itu kalau hanya pergi sendiri tanpa Sulli. Dia tidak mengijinkan Sulli naik motor, menurutnya terlalu bahaya. Makanya dia bawa mobil kalau pergi bersama Sulli.

“Nanti kita bicarakan di telepon, Annyeong..” dia berkata sebelum meng-gas motornya.

Motornya melaju dengan cepat. Aku melihatnya menjauh. Dia terlihat lebih keren dengan motornya. Dan tadi dia bilang akan bicara lewat telepon, jadi dia akan meneleponku? Entah kenapa aku jadi lebih bersemangat. Mungkin hanya perasaanku, tapi langit menjadi lebih cerah dalam seketika. Dan tiba – tiba saja aku jadi ingin sekali segera mencharge HP ku.

—xxx—

“Kau sedang menunggu telepon dari siapa ?”

“Ne?”

“Kau makan sambil terus – terusan melihat HP, kau sedang menunggu telepon dari siapa ?” ulang Jess onnie.

Eomma dan Appa menggeleng – geleng bersamaan.

“Aniya!” sanggahku. “Aku..aku cuma..cuma..melihat jam!”

“Simpan dulu HP mu dan makan dengan benar,” kata Eomma dengan bijak.

Aku sekali lagi melirik HP ku yang ada di sebelah piring. Huh, minho oppa sama sekali tidak memberi kabar. Jangankan telepon, sms pun tidak. Aku menghabiskan makanan dengan cepat dan langsung meninggalkan ruang makan. Bahkan aku tak peduli dengan ekspresi heran dari onnie dan eomma – appa ku.

Aku berbaring di bed dengan HP masih dalam genggamanku. Minho oppa.. mana janjimu ?? Kataku dalam hati. Aku terus –terusan menunggu telepon darinya. Tapi hingga jam 11 malam belum ada kabar darinya. Jangan – jangan Minho oppa lupa dengan janjinya. Apa aku harus menelepon lebih dulu? Ah..ahni! Dia sudah bilang dia yang akan menghubungiku. Aku hanya perlu menunggu. Tapi aku tak sabar lagi ingin tahu, apa yang sebenarnya ingin kau katakan oppa?

Sudah jam 1 malam sekarang dan rasanya sudah tidak ada harapan lagi untukku. Sudah jelas Minho oppa pasti lupa. Seharusnya tadi dia tidak usah janji begitu padaku. Membuatku banyak berharap saja.

—xxx—

“Krystal-ya, aku ke toilet dulu..tunggulah di kantin,” kata Sulli.

“Kau yakin? Biasanya kau menyuruhku mengantarmu ke toilet juga,” kataku heran.

“Tidak apa – apa, pesankan orange juice untukku, ok?” jawabnya.

“Ok.”

Aku pun berjalan sendirian menuju kantin. Seperti biasa, kantin sekolah kami selalu penuh di jam istirahat. Setelah memesan 2 orange juice aku duduk di satu – satunya meja yang tersisa. Menuggu Sulli. Tak lama kemudian bukannya Sulli yang datang, tapi oppanya. Dia berjalan ke arahku.

“Mianhae, kemarin tidak jadi menelepon. Aku lupa pulsaku habis,” minho oppa berkata padaku tanpa duduk.

“Gwenchana, oppa. Duduklah dulu,” jawabku.

Aneh melihatnya berbicara sambil berdiri begitu. Dan hari ini dia sedikit terlihat canggung. Tumben sekali dia bersikap seperti ini. Tapi dia malah meneruskan perkataannya lagi masih sambil berdiri di depanku.

“Oh iya, yang ingin aku bicarakan itu..” dia berkata tapi kemudian menggantung kalimatnya dengan tiba – tiba, membuatku semakin penasaran.

“Apa oppa?” potongku.

“Aku menyukaimu..”

“…”

TBC

Haha, nanggung ya ? biar penasaran deh. Tunggu lanjutannya ya klo suka^^

Gomawo sudah baca 🙂

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

35 thoughts on “I Love Your Brother – Part 1”

  1. ya ampuun beruntungnya jadi krystal, terutama sulli yang punya oppa super ganteng hahaha 😀 pengen deh jadi krystal, hahaha 🙂

    it’s nice, ditunggu yang lainnya ya chingu ~

    1. iya..sama..aq jg pgen jd krystal/sulli..
      authornya aj yg bqin cerita jd envy sendiri, hhee..
      thx yaa udh baca+komen 😀

  2. Wuah…ternyata Minho nya suka sama krystal.
    Tapi..kira2 si sulli nya nyetujuin apa gak yah?? #penasaran
    daebak thor! 🙂
    Jgn lama2 yah next partnya 😉

  3. minho cara nembaknya ga asik nih..harusnya pas dia lagi nanyiin lagunya itu dia nembak…khan momennya lebih pas…lebih romantis gmna gtu…

    sulli beruntung bngt punya kakak kya minho…py tar sulli marah ga ya pas tau minho suka sma krystal…dinutnggu part 2nya..

    1. tau tuh minho gak asik, tapi cuma minho dan author yg tau jalan pikiran minho..
      hhehehe ..
      mkasii ya buat komennya (:

  4. waahh, ga nyangka d post juga..
    senengnyaaa,,
    mkasii buat yg udh baca nd komen^^
    tp mian part berikutnya mungkin agak lama cz baru mau aq kirim besok..
    tp tenang aja, bsok aq kirim semua part sampe end kok..
    jd ntar part 2 ampe selese di post nya ga begitu lama (mudah2an) hhee..
    skali lagi gomawoo ^^

  5. huwaaa kaget .. kira renca na apa si minho tuh !! ckckckk
    jessica bisa masak !!! keren !!!
    ahahahahahaha …..
    ayo…ayo kelanjutannya … aduhh minho romantis .. keren ajah ….
    ^^

  6. wahhh…. seruuu .. tapii aku mau minho pov donkk thor … hahhahaa

    pengen tau prsaan na minho ….

    d tunggu lnjutan na … jgn lama” yahh thor …. hahhhaa

  7. bahasanya nge flow banget deh … aku sangat sukaaa #pelukauthor

    terus aku suka nggak ada minho pov di part ini jadi kita nggak perlu tau apa yang ada di pikiran minho, jadi pas dia bilang suka, jadi surprise banget . AUTHOR KEREEN !!
    pokoknya aku seneng sama ff yang kualitas tulisannya keren kayak gini.

    Lanjutannya ditunggu loh .. 😀

  8. Min Ho bilang cinta juga ke Krystal. Tapi bagaimana reaksi Krystal setelah dia berusaha keras melupakan perasaannya demi Sully yang tidak suka kakaknya punya pacar?
    Nice story. Lanjut!

  9. JENGJENGJENGJEEEEENG!
    Itu pas dinyanyiin pake gitar ttg cowo yang mendam perasaannya
    Itu……..udah mulai punya feeling kalo minho suka
    Aigoaigooo
    Lanjuuuut!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s