Love Without a Name – Part 9

Title                 : Love Without a Name

Author             : Flaming Tezqia

Main cast        : Lee Jinki, Kim Nara, Choi Minho, Kim Kibum, Lee Taemin, Kim Jonghyun.

Support cast    : Park Yeon, Kang Minri, Shin Jojung, Kim Young Jin (ayah Nara)

Genre              : romance, mystery, humor, friendship

Rating              : PG – 16

Leght               : Sequel

 

[author POV]

            “Yeon..yeon dengarkan aku dulu!” Nara berlari dengan menyeret kakinya, rasa sakit di kakinya karena luka kemarin hari belum juga hilang.

            “Tak ada yang harus kau jelaskan, Nara! Aku bisa mengerti apa yang telah terjadi dengan apa yang baru saja ku lihat.” Yeon menghentikan larinya karena ia tak tega melihat Nara mengerjarnya dengan tertatih.

            “Tapi kau pasti salah paham, aku harus menjelaskan sejelas-jelasnya padamu.” Nara menatap Yeon tajam.

            “Baiklah, aku akan mendengarkan penjelasanmu karena aku menghargaimu sebagai sahabatku. Tapi, ku rasa kau sudah terlalu keterlaluan. Kita sudah berteman sejak 2 tahun yang lalu, ya walaupun itu terdengar sebentar, tapi tidak seharusnya kau menyembunyikan sesuatu yang penting kepadaku, mungkin kepada kami?”

            “Aku memang menyembunyikan sesuatu, yang penting….kepada kalian. Sekarang ikutilah aku kembali ke rumah.” Nara membalikkan badan, mencoba mengajak Yeon kembali ketempat tadi, saat Yeon mulai akan mengetahui salah satu rahasia pentingnya.

            “Aniyo, aku tidak akan kembali kesana. Dan aku juga tak mau mendengar penjelasan yang berbelit-belit darimu.” Yeon rupanya masih emosi dan Nampak tidak senang dengan kejadian ini. “Aku hanya ingin kau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ku berikan, dengan jujur.” Sambungnya dengan menekankan kata ‘dengan jujur’

            “Baiklah, kalau itu maumu.” Nara hanya bisa menjawab lemah. “Tapi bukan di tengah jalan ini….” Nara berjalan dengan terseok menuju kursi taman yang terletak tak jauh dari sana. Yeon mengikutinya dengan malas.

            “Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?” ujar Nara sesaat setelah mereka duduk dikursi taman dengan canggung, keadaan terlihat sangat tidak enak.

            “Apa hubunganmu dengannya? Dengan Jinki-ssi?” Yeon langsung melontarkan pertanyaan utama.

            “Ka…kami..kami…. Dia… sudah menjadi suamiku.” Jawab Nara dengan terbata namun bisa membuat Yeon tercengang dan bangkit dari duduknya. “Kau mau kemana? Hanya itu yang ingin kau tanya?” tanya Nara pelan.

            “A…aniyo. A..aku hanya kaget. Ternyata..kalian…” jawab Yeon sinis. Ia akhirnya kembali duduk dikursi itu dan mengajukan pertanyaan kedua. “Kapan kalian menikah? Saat liburan ini? Jonghyun bilang kau sedang berlibur dan tidak bisa..lebih tepatnya tidak boleh dihubungi.”

            “Saat semester 3 usai, sebelum pentas seni.” Jawab Nara datar namun lagi-lagi membuat Yeon tercengang.

            “MWO ? Igemwoya ? Sudah selama itu dan kau tidak memberitahu kami?”

            “Itu belum lama, Yeon..”

            “huh? Apa kau senang? Apa… Jonghyun sebenarnya sudah mengetahui ini?”

            “Dia sudah berteman lama denganku. Rumahnya juga dekat dengan rumahku, dan orang tua kami saling mengenal. Tak mungkin dia tidak mengetahuinya. Tapi, aku tak ingin kau salah paham dengan satu hal.. Aku tak menyukai Jinki, apalagi mencintainya. Kami menikah karena telah…”

            “Aku harus pulang sekarang.” Yeon kembali bangkit berdiri dari tempat duduknya dan memotong pembicaraan Nara.

            “Tunggu dulu! Kau mau kemana?” Nara menarik lengan Yeon yang sudah berbalik badan.

            “Apa lagi?” jawab Yeon ketus sambil mengayunkan tangannya mencoba melepaskan tangan Nara yang menariknya.

            “Kami menikah karena dijodohkan dan ada sesuatu yang sangat penting yang menyebabkan hal ini harus benar-benar dilaksanakan.” Kata Nara sambil bangkit berdiri.

            “Alasan klasik! Aku benar-benar harus pergi sekarang. Sampai bertemu ditahun ajaran baru, Nara. Semoga kau bisa bahagia dengan hidupmu yang baru! Annyeong!” Yeon berlari dengan kencangnya meninggalkan Nara sendirian yang sudah tak sanggup mengejarnya. Hanya raut wajah sedih dan kecewa. Tak tahu apa yang mungkin terjadi dikemudian hari. Mungkinkah semua sahabatnya akan membencinya karena hal ini ?

            “Nara! Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini. Apa Yeon?” tanya Jonghyun mengantung.

            “Pulanglah. Aku sudah jelaskan semuanya padanya. Kau tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja.” Jawab Nara. Hatinya miris ketika mendengar sendiri kebohongan apa yang telah dikatakannya pada Jonghyun. Nara hanya tak mau Jonghyun terlalu banyak memikirkan masalahnya ini.

[end author POV]

+++

[Jinki POV]

            “Kau darimana saja?” tanyaku saat Nara masuk kedalam rumah dengan raut wajah yang sangat tidak enak.

            “Apa yang kau lakukan? Bersantai saja disini? Kau tidak berusaha mengejarnya dan menjelaskan semuanya?” Nara menjawab pertanyaanku dengan beteriak.

            “Lama kelamaan mereka juga akan tahu, kau tidak perlu capek-capek mengejarnya dan menjelaskan hal yang berbelit-belit ini.” Nara menatapku nanar.

            “Maksudmu membiarkan mereka tahu saja, tanpa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya?”

            “Istirahatlah, kau pasti masih lelah, lagipula kakiku belum sembuh betul nanti malah akan semakin sakit.” Aku tak menggubris apa saja yang baru dia katakan. Aku mendekatinya dan menariknya masuk kedalam kamar agar beristirahat.

            “Tidak perlu! Aku bisa sendiri!” Nara kekamar tamu yang ada dilantai bawah dekat kami berada saat ini. Belum mungkin baginya untuk menaiki tangga karena kakinya masih sakit sekali, dan dia juga tak mau aku membopongnya untuk naik kelantai atas.

[end Jinki POV]

+++

[author POV]

            “Kau baik-baik saja?” tanya Jonghyun pada lawan bicara.

            “Ne, gwenchana. Kau tak perlu menelponku untuk menanyakan bagaimana kabarku.” Jawab Yeon ketus.

            “Mian, jika aku menganggu. Tapi aku hanya ingin bertanya, apa kau sudah mengetahui semuanya? Nara bilang dia sudah menjelaskannya padamu. Apa kau bisa menerima semua? Apa kau bisa mengerti keadaannya?”

            “Ne, arra. Kau tak perlu bertanya begitu banyak padaku. Aku lelah Jonghyun, aku harus tidur sekarang.”

            “Baiklah, aku akan meutup telponnya. Tapi aku harap kau memang benar-benar bisa mengerti. Mereka sama sekali tak menginginkan hal ini terjadi, kalau saja bukan karena keselamatan keluarga mereka yang terancam….”

            “Keselamatan? Terancam?” Yeon memotong pembiacaraan Jonghyun.

            “Kau sudah mendengarkan semua penjelasannya, bukan?” Jonghyun heran karena Yeon terdengar kaget dengan apa yang baru saja dia katakan.

            “Ne, aku mendengar penjelasannya. Tapi…..tidak semua.”

            “Mwo? Jadi kau belum mengetahui semuanya? Nara sudah bersusah payah menjelaskannya padamu dan kau malah……”

            “Berhenti menyalahkanku, Jonghyun! Jangan membuatku kembali emosi. Aku sangat marah padanya makanya aku tak mau mendengarkannya.”

            “Baiklah, mianhaeyo. Tapi kau benar-benar harus mengetahui semuanya. Yah, walaupun ini masalah pribadi keluarga mereka, tapi kau harus benar-benar tahu dan mengerti agar kau, mungkin juga bisa membantu mereka.”

            “Membantu? Jelaskan padaku semuanya!………..”

+++

            “Nara, kau kenapa? Kelihatannya lesu sekali?” tanya ibunya Jinki kepada Nara.

            “Aniyo, umma. Aku hanya sedang tidak nafsu makan.”

            “Kau harus banyak makan. Sebentar lagi kau akan masuk sekolah. Mana boleh sampai sakit lagi.” Dia meletakkan beberapa lauk-pauk dan sayuran kepiring makan Nara yang nyaris kosong. “Makan yang banyak, harus! Jinki perhatikan isterimu, jangan sampai dia sakit lagi. Pastika dia makan dengan baik. Umma harus pergi sebentar bersama Appa, baik-baik di rumah, sayang.”

            “Ne, Umma.” Jinki hanya tersenyum tipis. “Kau dengar, kau harus banyak makan!”

            “Ne, arasso.” Nara hanya menjawab lemah.

            “Apa kau mematikan ponselmu?” tanya Jinki.

            “Kau tahu darimana?”

            “Kemarin malam Yeon menelponku. Dia bilang sudah beberapa hari ini dia tidak bisa menghubungimu. Dia bilang dia ingin minta maaf padamu.” Jelas Jinki.

            “Kau bercanda?”

            “Mana mungkin aku bercanda? Terserah kau mau percaya atau tidak, yang pasti aku hanya ingin menyampaikan pesannya itu padamu.” Wajah Nara terlihat berbinar mendengar apa yang dikatakannya Jinki. “Dan satu lagi….” Jinki menyunggingkan senyum membuat matanya yang sudah sipit nyaris terlihat tidak ada.

            “Satu lagi apa?” Nara bertanya dengan antusias.

            “Kau tau kenapa Yeon marah padamu karena kau tidak memberitahunya apa apa?”

            “Aku rasa wajar saja dia marah.”

            “Tidak terlalu wajar! Dia tidak mungkin semarah itu, yah memang marah tapi tidak terlalu.”

            “Memangnya ada apa?”

            “Ah, aku tak menyangka, ternyata aku begitu tampan. Pancaran karismaku menyebar kemana-mana, membuat siapapun pasti menyukaiku.” Jinki bergaya bak sedang berperan disebuah opera.

            “Yak! Oppa, kau kenapa?” Nara terheran-heran dengan kelakuan  Jinki yang sedikit aneh pagi ini.

            “Yeon. Dia ternyata…. Menyukaiku! Aahahahhaha….”

            “MWO? Mana mungkin?”

            “Mungkin saja! Waeyo ? kau tidak percaya? Dia menelponku dan menjelaskan semuanya, dia menjelaskan kenapa dia bisa sangat marah padamu. Ternyata dia juga menaruh hati padaku, makanya dia cemburu padamu.” Jelas Jinki sambil memancarkan tingkat kepedean super tinggi.

            “Berhenti bersikap seperti itu! Sini ponselmu! Berikan padaku!”

            “Yak! Yak! Yak! Kenapa aku harus melakukan itu? Kau mau mengecek apa? Eee..cemburu kah?” ujar Jinki jahil.

            “Aniyo! Mana mungkin aku cemburu? Kau tidak tampan, oppa. Yeon pasti cuma bercanda saja.”

            “Ishh..mana ada yg seperti itu. Apa kau tidak senang punya suami tampan sepertiku? Jadi maunya yang seperti apa?” goda Jinki. Nara hanya diam dan manyun. “Aha, lebih tampan mana, aku atau Onew?”

            “Siapa Onew?”

            “Kau tidak kenal? Kalau begitu benar, aku memang tampan, buktinya kau tidak memandang laki-laki lain selain aku. Ahahaha” Jinki lagi-lagi tertawa.

            “Kalau begitu lebih tampan Onew!” celetuk Nara.

            “Mana boleh berkata begitu? Kau tak takut suamimu akan sakit hati mendengar ucapanmu itu.”

            “Kau aneh, oppa! Aku begini salah, begitu juga salah. Ishh..jadi yang benar yang bagaimana?”

            “Yang tidak bagaimana.” Jinki masih tersenyum jahil. “Hei..” katanya lagi sambil menyenggol tubuh Nara yang masih duduk disampingnya.

            “Waeyo?”

            “Kau pasti tahu rumahnya Yeon, kan? Boleh antarkan aku kesana?” tanya Jinki sambil memperlihatkan puppy eyesnya.

            “Kau benar-benar……! Guru dan murid mana boleh ada apa-apa!” jawab Nara marah, namun malah membuat Jinki makin menggodanya.

            “Lalu kau dan aku itu apa, hmm?”

            “Aku tak pernah memintamu untuk menjadi guru di sekolahku!” jawab Nara semakin kesal.

            “Ishh.. banyak marah bisa cepat tua. Ya, sudah, aku menanyakan pada Jonghyun saja, dia pasti tahu dimana rumah Yeon.” Jinki bangkit berdiri dan berjalan menuju garasi.

            “Oppa!!!!! Aduhh….” Nara meringis kesakitan karena kakinya yang luka tidak sengaja terkena kaki meja.

            “Nara, gwenchanayo?” tanya Jinki khawatir.

            “Gwenchana! Kau pergi saja sana. Temui Jonghyun, tanyakan dimana rumah Yeon. Jangan lupa bawakan sesuatu jika datang kesana. Mengobrol dan bersenang-senangnya sepuasnya.” Teriak Nara cemburu.

            “Baiklah kalau begitu. Aku akan melaksanakannya. Sepertinya yang kau bilang tadi menarik juga. Annyeong Nara! Beristirahatlah, jangan sampai sakit. Aku pergi dulu..” ujar Jinki seolah tak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan Nara. Ia tahu, Nara pasti cemburu dan tidak ingin dia menemui Yeon. Tapi Jinki hanya ingin menggodanya.

            “YAKK!!! KAU!!!?”

+++

            “Lepaskan aku.” Kata seorang yeoja kepada namja dihadapannya.

            “Kenapa aku harus melepaskanmu? Aku tak akan melepaskanmu, dan kau tak mungkin bisa pergi dariku.” Jawab namja itu.

            “Lalu aku harus bagaimana? Kau mau apa?” jawab yeoja itu lagi dengan mata berkaca-kaca.

            “Mengikuti apa yang telah aku katakan padamu.” Jelas namja itu.

            “AKU TIDAK MAU! DAN AKU TAK AKAN MELAKUKANNYA!” perlahan-lahan air mata mulai membanjiri wajah yeoja itu. Namja dihadapannya terlihat luluh melihatnya mulai menangis.

            “Tenang saja, aku tak akan menyakitimu..asal kau juga mau menuruti kata-kataku.”

            “Aku akan menurutimu, tapi tidak semuanya!”

            “Waeyo?”

            “Karena yang kau lakukan itu salah, dan tak seharusnya kau melakukan itu.” Air mata masih saja mengalir dipipinya.

            “Tak ada yang boleh menyalahkanku.” Namja itu kemudian menghimpit tubuh sang yeoja ke tembok dinding yang ada dibelakangnya membuat si yeoja tak leluasa bergerak. Dilingkarkannya lengannya dipinggang yeoja itu dan mengecup bibir si yeoja.

            “Kau mau apa?” tanya yeoja itu kemudian.

            “Mau apa? Kau sering sekali bertanya itu. Aku akan memberimu sesuatu, agar kau mau menurutiku.” Jawab namja itu. Diciumnya bibir yeoja itu dengan lembut, makin lama semaking bringas. Bibirnya menyapu habis bibir sang yeoja, membuat yeoja itu semakin kesulitan bernafas.

            “Mm..m.mm..le.hmm..lepaskan..hh..hh..” didorongnya namja itu dengan keras hingga ia berhasil melepaskan ciuman dan pelukan namja itu. Namja itu menatapnya nanar, tak percaya yeoja itu kali ini menolaknya. “Aku sedang tak ingin melakukannya denganmu.” Air matanya kini sudah berhenti mengalir, yang ada adalah rasa marah yang mendalam terhadapa namja itu.

            “Apa yang sedang kalian lakukan?” tiba-tiba seorang namja paruh baya masuk kedalam kamar tempat mereka berada. “Lebih baik kalian keluar dan melihat-lihat keadaan sebenarnya. Aku menunggu kalian diluar” Sambung namja paruh baya itu dengan wajah serius.

            “Aku hanya ingin meyakinkannya.” Sahut namja yg satunya. “Baiklah, ayo kita keluar, melihat-lihat dunia luar, mengetahui keadaan mereka.” Ditariknya lengan yeoja tadi agar mengikutinya berjalan keluar kamar. Namja paruh baya tadi sudah lebih dulu keluar dari kamar itu.

            “Apa maksudmu?” tanya si yeoja.

            “Jangan berpura-pura tak mengerti lagi.” Dia terus berjalan tanpa menghiraukan yeoja itu yang sejak tadi berusaha melepaskan cengkaraman tangannya.

            “AKU TIDAK MAU! SUDAH KU BILANG AKU TIDAK MAU!! LEPASKAN AKU…JEBAL!!” yeoja itu lagi-lagi mengeluarkan air matanya.

            “DIAM!! Atau aku akan terus menyakitimu!”

            “Tapi aku tidak mau!” namja itu menghentikan langkahnya membuat si yeoja juga ikut berhenti. “KYAAAAA!!”

+++

            “OPPA!”

            “Annyeong, Nara.” Kibum menyunggingkan senyumnya. “Jinki mana?” tanyanya kemudian.

            “Aku disini. Sudah datang rupanya, bawa masuk barang-barangmu.” Jinki berjalan kedepan pintu dan membawa beberapa barang bawaan Kibum.

            “Itu siapa, oppa? Dan kau kenapa kesini lagi?” tanya Nara heran.

            “Siapa? Dia supir taksi. Kau belum tahu? Mulai sekarang aku akan tinggal disini.” Jawab Kibum sambil membawa barang-barang yang tersisa masuk kedalam rumah naik kelantai atas mengikuti Jinki yang ada didepannya.

            Nara menutup pintu lalu kemudian berjalan mengiringi Jinki dan Kibum kelantai atas.

            “Ini kamarmu.” Jinki kemudian membuka pintu sebuah kamar.

            “Bukankah ini kamar halabeoji?” tanya Kibum heran.

            “Memang. Tapi dia sedang tidak disini. Sejak hari pernikahanku, dia harus pergi keluar negeri menemui Junki. Dan mungkin masih akan lama disana. Dia sudah bilang padaku kamar ini menjadi kamarmu. Toh dia juga jarang beristirahat di kamar ini. Dia lebih sering beristirahat dilantai bawah.” Kibum hanya mengangguk pelan.

            Kamar itu memang sedikit sekali memiliki barang-barang, hanya ada satu tempat tidur besar dengan dua meja kecil disisinya sebagai tempat lampu tidur berada. Satu buah lemari besar dan satu meja kerja dengan satu set komputer lengkap. Juga kamar mandi yang memiliki wastafel dan bathup lengkap yang hanya disekat dengan kaca untuk memisahkan antar kamar tidur dan kamar mandinya.

            “Kenapa kau mau tinggal disini, oppa?” tanya Nara tiba-tiba.

            “Aku akan menjadi pengajar di sekolahmu. Jadi, karena tempat tinggal yang sebenarnya lumayan jauh dari sekolah, lebih baik aku tinggal disini.” Jawab Kibum santai.

            “Mwo ? Kau ? Jadi pengajar di sekolahku?” Nara tercengang. “Bukankah kalian bisa bekerja diperusahan Tuan Lee? Kenapa malah jadi pengajar semua? Di sekolahku pula?”

            “Aku tidak suka kerja kantoran. Lagipula aku menempuh pendidikan untuk menjadi pengajar, menjadi guru SMA. Kalau kau bertanya kenapa tidak bekerja diperusahaan milik halabeoji, kau seharusnya menanyakan itu pada Jinki saja.”

            “Kenapa aku? Tanyakan saja pada halabeoji langsung, kenapa dia menyuruhku jadi guru disana. Sudah, kau bereskan saja barang-barangmu.” Jinki berjalan keluar kamar. “Oh ya, Nara. Kau juga harus melihat kamar barumu.” Sambungnya sambil berjalan keluar kamar, diikuti Nara.

            “Kamar baru?”

            “Ini, kamarmu.” Jinki berhenti didepan sebuah kamar lain yang terletak tak jauh dari kamar Kibum lagi, dan… bersebrangan dengan kamar mereka, kamarnya dan Jinki terdahulu. “Kau masih ingat aku sudah bilang pada appa tentang hal ini? Nah inilah kamarmu yang baru. Sepertinya kau juga harus bebenah sekarang, 3 hari lagi sekolah akan mulai.” Jinki lalu masuk kedalam kamarnya untuk mengambil barang-barang Nara yang sebagian masih berada didalam koper.

            Nara memperhatikan kamar barunya. Letaknya persis ditengah-tengah kamar Jinki dan Kibum yang memang tidak terlalu dekat atau berselahan melainkan dipisahkan oleh sebuah ruangan terbuka yang terdapat sebuah sofa memanjang besar dengan permadani lembut besar dibawahnya, tampaknya hingga kemarin ini belum ada, dan dia tidak memperhatikannya karena kamar Jinki mempunyai 2 pintu, dan dia biasa keluar masuk melalui pintu yang satunya, yang menghadap langsung ketangga sebelah kiri.

            Kamar itu ternyata juga mempunyai 2 buah pintu, satu tepat diarah utara kamar, dan satunya menghadap ke kamar Jinki. Pintu yang menghadap ke kamar Jinki terbuat dari kaca bening sama seperti dinding sampingnya sehingga Nara bisa melihat jelas ke kamar Jinki yang juga berpintu kaca yang serupa. Ia jarang melihat kamar ini karena biasanya Jinki menutupi kaca itu dengan gorden dan jarang membukanya.

            “Ini barang-barangmu. Sebagian lagi masih ada didalam lemari.” Jinki masuk kedalam kamar Nara dengan membawa 3 buah koper besar juga menenteng sebuah notebook milik Nara.

            “Dulu ini kamar siapa?” tanya Nara tanpa menghiraukan apa yang dikatakan Jinki tadi.

            “Kamar Junki. Sejak SMP kami terbiasa tidur terpisah.” Jawab Jinki sembari meletakkan barang-barang tadi kelantai dan keatas meja.

            “Bagus juga. Tampaknya sudah dibersihkan dan ditata agar sesuai denganku?”

            “Memang. Beberapa barang-barang Junki sudah dipindahkan dan diganti dengan barang baru.”

            “Kenapa ada dua pintu disini?”

            “Ntahlah, sejak pindah kesini keadaannya sudah begini. Agar tak terlalu kosong mereka meletakkan sofa ditengah-tengah sana.” Jinki menunjuk kearah luar pintu kaca. “Sewaktu-waktu juga bisa berubah untuk kepentingan acara keluarga ataupun acara kantor, halabeoji biasa mengadakan pesta disini.” Nara mengangguk paham mendengarkan penjelasan Jinki. “Sudah, lebih baik sekarang bereskan barang-barangmu, aku akan membantu membawakan yang lainnya kesini.

+++

            “Yoboseyo? Ne, appa.. mwo? Tapi… baiklah, aku akan katakan padanya dulu. Ne, arasoyo.”

            Plipp…

            Nara mematikan ponselnya. Baru saja ayahnya memberitahukan sesuatu padanya. Dia segera keluar kamar dan berjalan lurus kearah kamar Jinki. Dari pintu dilihatnya Jinki sedang bersantai ditempat tidur, ya sejak pindah kamar Nara meminta Jinki untuk mengganti gorden di kamar Jinki menjadi lebih tipis agar dia tahu apa sedang dilakukan Jinki apakah sibuk atau tidak. Diketukknya pintu dan memberi isyarat bolehkan masuk ke kamar itu. Jinki bangkit berdiri.

            “Ada apa?”

            “Appaku baru saja menelponku.”

            “Lalu?”

            “Dia bilang besok kita harus menginap di rumahku.”

            “Memangnya ada apa?” tanya Jinki heran.

            “Appa dan umma besok pergi keluar hingga sore. Dia bilang ada seorang kolega yang datang ke rumah, orang itu tidak punya banyak waktu karena juga harus pergi ketempat lain. Appa memintamu yang menemuinya dan menerima barang titipannya.” Jelas Nara.

            “Baiklah kalau begitu. Aku tidak keberatan. Kita berangkat sekarang?”

            “Aku bilang besok bukan sekarang…”

            “Ohh.. tapi tidak ada salahnya juga kalau kita kesana sekarang. Aku belum pernah ke rumahmu dan bertemu orang tuamu disana.” ajak Jinki.

            “Ka..kau maunya begitu?” jawab Nara sedikit salah tingkah. “Baiklah, tapi kita perlu memberitahu orang tuamu juga. Dan satu lagi, lusa sudah masuk sekolah. Kau perlu membawa pakaian kerjamu.”

“ Tidak masalah untuk memberitahu appa dan umma, lagipula ada Kibum disini. Ahh, kau juga perlu membawa seragam dan bukumu.”

“Ne, aku tahu…..” tiba-tiba ponsel Nara berdering lagi. Panggilan masuk…. Appa. “Ne, appa. Ya, aku sudah memberitahunya. Mwo? Menginap hari ini? Dia juga meminta begitu. Untuk apa? Bilang pada umma, tak perlu masak besar-besaran, dia tidak doyan makan.” Jinki memicingkan matanya mendengar perkataan Nara, sedangkan Nara hanya membalasnya dengan menjulurkan lidah. “Ne..ne aku tahu.. annyeong.”

“Apa katanya?” tanya Jinki setelah Nara menutup telepon.

“Dia meminta kita menginap hari ini saja. Sama seperti permintaanmu.”

“Ahahahaha. Berarti kami sehati. Ya, sudah, kau siapakan barang-barangmu. Aku juga akan berkemas dan memberitahu umma.”

Jinki kembali masuk kedalam kamarnya begitupula Nara. Mereka sibuk mempersiapkan barang-barang yang mau mereka bawa untuk 3 hari kedepan.

Jinki menarik nafas panjang, berulang dilihatnya dirinya dicermin. Mempersiapkan diri untuk bertemu dengan orangtua Nara. Setelah pernikahan waktu itu dia belum pernah berkunjung ker umah Nara dan mengobrol dengan orang tuanya. Dia harus bisa meyakinkan orang tua Nara bahwa dia adalah menantu yang baik.. eh? Dia harus bisa meyakinkan orang tua Nara bahwa dia adalah laki-laki yang bisa menjaga Nara.

+++

            Ting..tong..

            “Naraaaa…..” seorang perempuan paruh baya membukakan pintu dan langsung meyambut dengan pelukan hangat.

            “Umma…………” Nara balas memeluk ummanya.

            “Umma, rindu sekali padamu. Kenapa lama sekali tidak kesini.”

            “Hanya belum sempat saja..”

            “Ishh.. kalau bukan karena appa menyuruhmu kesini pasti tidak ada kesempatan. Ah, Jinki-ah apa kabar?”

            “Baik ahju..ee eomeoni.” Balas Jinki dengan canggung namun tetap berusaha tersenyum santai.

            “Masuk dulu, bawa barang-barang kalian.” Ibunya Nara mempersilahkan mereka masuk. Jinki meliarkan pandangannya kesegala penjuru rumah berlantai dua ini. Rumah ini sebenarnya tidak terlalu besar. Dilantai satu ada ruang tamu dan ruang keluarga yang langsung menyambung kearah dapur. Hanya ada satu kamar tidur dan satu kamar mandi dilantai bawah. Meskipun tidak terlalu besar, namun suasananya sangat nyaman dengan interior warna putih bersih yang menyejukkan juga wallpaper bergambar langit biru dilangit-langit rumahnya.

            “Naik kesini.” Ibunya Nara menujukan jalan.

            “Ke kamarku?” tanya Nara terkejut.

            “Mau ke kamar mana lagi? Kau tau hanya ada dua kamar disini. Dan kita tidak memiliki ruang tamu.”

            Nara tidak bisa mengelak. Diikutinya saja ibunya naik ke lantai atas dan masuk kedalam kamarnya yang sudah cukup lama tidak dia diami. Jinki hanya diam dan masih memandang sekelilingnya mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan baru.

            “Nah, umma sudah merapikan dan membersihkannya. Waktu kau pergi kamar ini sangat berantakan.” Nara hanya bisa cemberut. “Jinki-ah, semoga kau bisa nyaman disini. Umma tinggal dulu. Kalau sudah berganti pakaian langsung turun kebawah, kita akan makan malam. “ sambungnya. Ia lalu pergi keluar kamar dan menuruni tangga menuju lantai bawah meninggalkan Nara dan Jinki berduaan didalam kamar.

            “ahh.. jadi ini kamarmu?” Jinki menghempaskan tubuhnya ketempat tidur Nara yang berukuran sedang, tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil.

            “Ne, waeyo?”sahut Nara sembari meletaknnya tas tangannya keatas meja belajar.

            “Aniyo. Lumayan juga. Oh iya, aku ingin menanyakan sesuatu..”

            “Tanya apa?”

            “Itu.. jabatan appamu sama dengan appaku. Tapi, sejak tadi aku perhatikan. Rumah ini sederhana saja dan tidak terlalu besar, yahh walaupun rumah kami sebenarnya adalah rumah halabeoji. Mian, jika aku menying…..”

            “Aniyo.” Nara memotong omongan Jinki. “Kenapa aku harus tersinggung? Kami sebenarnya memiliki dua rumah. Yang satunya memang lebih besar dari yang ini. Tapi appa lebih suka tinggal disini, dia bilang disini lebih nyaman dan kami hanya bertiga, jadi tidak memerlukan rumah yang terlalu besar. Rumah yang satunya sedang disewakan.” Jawab Nara santai.

            “Whoaa, kau suka nonton film?” tanya Jinki ketika dia baru menyadari ada sebuah peralatan home theater lengkap berhadapan lurus dengan tempat tidur Nara.

            “Dulunya iya, tapi sekarang tidak lagi. Sudah, ini pakaianmu cepat ganti.” Nara menyodornya t-shirt dan celana pendek milik Jinki. Jinki bangkit duduk diatas tempat tidur dan melepaskan satu persatu kancing kemeja yang dipakainya. “MWOYA ? Kau mau apa?”

            “Mau apa lagi? Kau bilang ganti baju?” jawab Jinki polos.

            “Tapi tidak disini, dikamar mandi sana.”

            “Ishh.. memangnya kenapa? Kau takut melakukan apa-apa padamu? Bukankah kita sudah sering sekamar?”

            “Tapi kita tidak pernah ganti baju bersama-sama dikamar.” Celetuk Nara.

            “Whoaa.. jadi kau mau sekali-kali kita ganti baju bersama. Baiklah, sekarang saja. Sekarang, kau dan aku lagi-lagi berada disatu kamar yang sama, dengan suasana yang berbeda lagi….” Jinki berdiri dan perlahan-lahan mendekati Nara yang sedikit demi sedikit bergerak mundur. “Bagaimana, kalau sekarang saja? Lagipula…tidak ada yang bisa menyalahkan apa yang akan kita lakukan.” Nara tak dapat bergerak mundur lagi. Punggungnya sudah tepat mengenai dinding, dia hanya bisa menunduk karena takut, wajah Jinki sangat dekat sekali dengan wajahnya. “Nara-ahh” bisik Jinki setengah mendesah.

            “OPPA!! KAU MAU APA HAH?” Nara memberanikan diri, dipukulnya wajah Jinki, ehmm..lebih tepatnya ditampar. Spontan Jinki memegang pipi kirinya yang terasa panas.

            “KENAPA KAU MENAMPARKU?” teriak Jinki kaget. “AKU MAU GANTI BAJU! DIMANA KAMAR MANDINYA HAH?”

            “Mianhae! Aku takut sekali tahu! Kamar mandi ada disana.” Nara menunjuk kearah lemari pakaian besar miliknya.”

            “Dimana? Itukan lemari pakaianmu?” tanya Jinki heran.

            “Buka saja.” Jawab Nara tanpa memperhatikan Jinki, dia sibuk mencari-cari pakaian gantinya. Hampir semua pakaian santai dibawa ke rumah Jinki.

            “Hmm… Apanya yang dibuka?” tanya Jinki jahil.

            “Yak! Oppa! Hentikan pikiran mesummu itu. Dilemari itu, dua pintu paling tinggi. Bukalah, dalamnya kamar mandi, bukan lemari pakaian seperti dua pintu lainnya. Aku ganti baju dibawah saja. Jangan lupa setelah selesai segera turun kebawah, appa dan umma pasti sudah menunggu.” Nara bergegas turun kebawah sambil membawa pakaiannya meninggalkan Jinki yang masih terheran-heran.. Kamar mandi didalam lemari?

            Perlahan-lahan dibukanya dua pintu lemari yang lebih tinggi. Mulutnya langsung ternganga ketika melihat dalamnya. Ada cermin besar dengan wastafel dengan berbagai macam barang perawatan wajah dan tubuh wanita. Masuk ketempat yang lebih dalam, ada closet dan showerbox kaca, semuanya sangat bersih.

            “Benar-benar kamar mandi didalam lemari….” Ucap Jinki dengan mulut masih ternganga karena kagumnya (?)

+++

            “Masakan eomeoni enak sekali.” Jinki tak henti-hentinya melahap makanan yang ada dihadapannya.

            “Jinjayo? Kalau begitu makan yang banyak.” Ibunya Nara menyodorkan semakin banyak makanan kepada Jinki yang juga masih sibuk mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya. “Appamu jarang sekali memuji masakanku, tapi dia selalu habis memakannya. Apa dia tidak tahu wanita juga butuh pujian secara lisan.”

            “Ibumu kenapa?” Kim Young Jin, ayah Nara baru bersuara. Nara hanya angkat bahu tanda tidak tahu.

            “Nara belum pernah memasakan sesuatu untukku.” Celetuk Jinki.

            “Wae?? Aku sering ikut umma memasak untuk makan siang dan makan malam di rumah.” Nara membela diri sendiri.

            “Berarti itu masakan umma.”

            “Jinki benar, seharusnya kau membuatkan sesuatu untuknya dari dirimu sendiri.” Sahut ibunya Nara.

            “Aha, membuatkan sarapan pagi ketika dia belum bangun saja sudah cukup berkesan.” Ayah Nara ikut bersuara lagi.

            “Benarkah yeobo?” orangtua Nara saling pandang. “itu benar sekali.” Sahut ayah Nara.

            “Sejak kapan kalian jadi seperti ini?” tanya Nara heran, tidak biasanya appa dan ummanya bersikap seperti ini. Jinki yang melihatnya hanya tertawa.

            “Setelah ini mau apa? Ini pertama kalinya Jinki kesini. Mau bermain playstation denganku?”

            “Ah, aniyo abeoji. Aku tidak hebat bermain itu.” Tolak Jinki. Tidak disangka, ternyata ayahnya Nara senang bermain game.

            “Kalau begitu, kita mengenang masa lalu saja. Kau harus liat bagaimana Nara kecil. Oh ya, aku masih menyimpan foto kalian bertiga sewaktu kecil.”

            “Aku tidak ikut, aku mau menonton saja di kamar. Sudah lama aku tidak melakukannya.”

            “Baiklah, kalau begitu appa akan menceritakan semuanya. Kebiasaanmu sehari-hari. Pada sangat lucu dan memalukan. Tapi tidak usah malu lagi, Jinki suamimu dan sudah selayaknya dia juga tahu.”

            “Terserah.” Nara kesal dan bangkit berdiri. Jinki terlihat sangat senang dengan ajakan ayah mertuanya. “Kau senang?” tanya Nara pada Jinki.

            “Sangat.” Jawab Jinki tersenyum senang.

+++

            Hampir dua jam Nara berada di kamar. Matanya belum dapat terpejam. Suara cekikikan appa, umma, Jinki terdengar hingga kelantai atas, tampaknya mereka benar-benar sangat senang. Beberapa saat kemudian suasana mulai hening, terdengar suara langkah seseorang menuju kamar.

            “Kau belum tidur?” tanya Jinki begitu memasuki kamar.

            “Belum, aku belum mengantuk.” Jawab Nara seadanya.

            “Belum mengantuk apanya? Matamu lelah begitu. Apa yang sedang kau tonton?” Jinki naik keatas tempat tidur dan duduk disamping Nara yang sedang berbaring.

            “Tidak ada seru.” Jawab Nara sambil sesekali menguap.

            “Kau lihat. Kau sudah begitu mengantuk. Sudah, tidur saja sana. Aku yang akan mematikan televisinya nanti.”

            “Andwae.. kau mau tidur dimana?”

            “Disini, kan? Dimana lagi?”

            “Disitukan bisa?” Nara menunjuk kekarpet lembut yang ada disamping bawah tempat tidur.

            “Mwo? Aniyo, aku tak akan tidur disana. Kau tega sekali, memangnya kalau disini ada apa?  Sama saja seperti biasanya.”

            Hening..tak ada jawaban.

            “Aigoo~ sudah tidur rupanya?” Jinki memmperhatikan Nara yang sudah lelap tertidur. Dinaikkannya selimut hingga menutupi separuh badan Nara, juga badannya. Hari ini sudah terlalu lelah, lebih baik dia juga ikut tidur.

+++

            Jam menunjukan pukul 9.30 KST, Nara keluar kamar dengan wajah suntuk dan rambut sembrawut, ia sebenarnya masih sangat mengantuk. Tapi karena dilihatnya Jinki sudah tidak ada dikamar, dia segera turun kebawah untuk mengecek dimana Jinki berada.

            Langkah terhenti ketika ia baru saja menuju kr ruang tamu. Jinki sudah berpakaian rapi dan sedang mengobrol dengan seorang namja paruh baya. Nampaknya mereka sedang berbicara serius.  Namja paruh baya itu lalu menyerahkan suatu bungkusan kotak besar kepada Jinki lalu bangkit berdiri. Jinki meletakkan kotak besar itu keatas meja lalu mengantarkan orang itu keluar, nampaknya pembicaraan mereka sudah selesai. Jinki menunduk memberi salam sebelum orang itu berjalan menuju mobilnya dan pergi meninggalkan halaman rumah.

            “Siapa?” tanya Nara mengagetkan Jinki.

            “Ka..kau sudah bangun rupanya? Itu tadi kolega appamu itu.”

            “Ohh, tampak mencurigakan.”

            “Apanya yang mencurigakan?” Jinki mengernyitkan dahi.

            “Dia, orang itu, gayanya, gerak geriknya dan bingkisan apa itu?”

            “Kau belum sadar betul? Tidak ada yang perlu dicurigai. Aku tidak tau apa itu. Itu kan untuk appamu, tidak boleh dibuka.”

            “Kalau bom bagaimana?”

            “Bom darimana?? Cepat cuci mukamu biar nyawamu terkumpul semua. Dan..buatkan aku sarapan, orangtuamu pergi pagi sekali.” Jinki lalu pergi membawa bungkusan kotak besar itu dan meletakkannya ke meja yang ada diruang keluarga.

+++

            Hari itu terasa begitu singkat. Seharian Jinki hanya membolak balik buku jurnalnya. Itu karena besok sekolah sudah mulai kembali. Ia perlu mempersiapkan diri untuk besok hari.

            Nara juga mempersiapkan buku-buku pelajarannya untuk esok hari. Besok sudah memasuki semester 4, itu artinya akan semakin banyak tugas yang akan diberikan karena saat semester 5 & 6 nanti hanya ada tes pemantapan untuk ujian dan persiapan melanjutkan ke perguruan tinggi.

            “Kenapa umma dan appa belum juga pulang? Ini sudah sore.” Keluh Nara.

            “Mereka bilang akan pulang jam berapa?” tanya Jinki tanpa memalingkan pandangan dari bukunya.

            “Molla. Bosan sekali.. Kau mau nonton film, oppa?”

            “Film apa? Horror? Aku lihat banyak cd film-film thriller di kamarmu, nonton itu saja.”

            “Aku tidak berani menonton film seperti itu kecuali dengan teman-temanku.”

            “Waeyo? Bukankah ada aku disini? Jangan takut akau akan menjagamu.” Jinki tersenyum jahil.

            “Kau kenapa? Kau mulai aneh lagi… ah, sudahlah. Lebih baik aku masak makan malam saja. Malam ini harus cepat tidur. Besok mulai sekolah lagi. Huaah.. Fighting.”

            “Ya, sudahlah. Buatkan aku makanan yang enak. Sudah terasa mengantuk, spertinya memang harus cepat tidur.”

            “Okay, tunggu sebentar.. nae nampyeon!” Nara segera berlari kearah dapur meninggalkan Jinki yang keheranan karena sebutan yang diucapkan Nara tadi. Tidak biasanya dia mengucapkannya seperti itu. Biasanya Nara hanya mengungkit itu ketika ada masalah dan berselisih paham dengannya.

+++

            Suasana malam begitu dingin. Membuat Jinki semakin menaikkan selimutnya. Disebelahnya ada Nara yang juga menaikkan selimut lebih tinggi dari biasanya.

            Tapi itu belum cukup mampu membuat mereka merasa hangat. Perlahan-lahan Jinki bergeser lebih dekat, mendekati Nara. Didekapnya Nara itu dengan lembut. Hanya erangan kecil yang terdengar ketika keadaan tidurnya terasa berubah, sesuatu yang membuatnya sedikit lebih nyaman.

+++

            “Jonghyun!! Buka pintu!!!! Jebal!!! Ini aku, Yeon….. Jonghyun-ah !!!!!” Yeon menggedor pintu rumah Jonghyun dengan keras.

            “Hei! Kau kenapa?” teriak Jonghyun ketika membuka pintu rumah dengan malas, matanya belum terbuka sempurna. Dia berusaha keras memicingkan mata untuk melihat orang dihadapannya. “Kenapa kau datang kesini pagi-pagi? Menggedor rumah pula? Untuk orangtuaku tidak marah.”

            “Minhae! Tapi kita harus ke rumah Nara sekarang! Ayo..” ditariknya lengan Jonghyun yang mengikutinya dengan malas.

            “Tunggu dulu! Memangnya ada apa? Kau sudah memakai seragam rapi dan datang ke rumahku pagi-pagi, sekarang mau ke rumah Nara? Memangnya ada dia ada dirumah?”

            “Jinki oppa kemarin memberitahuku, mereka menginap dirumah Nara hingga 3 hari.”

            “Jinki..OPPA?” Jonghyun kali ini benar-benar membelakakan mata. Bukankah semua biasanya memanggil dengan sebutan Jinki-ssi?

            “Aishh.. bukan itu yang penting! Minri dan Jojung ingin memberi kejutan pada Nara. Mereka ke rumah Nara pagi ini. Aku takut kalau mereka melihat Nara dan Jinki ada di satu rumah yang sama.”

            “Bagaimana bisa mereka masuk? Pasti rumanya terkunci.” Jawab Jonghyun santai.

            “Paboya! Bukannya Minri punya satu kunci duplikatnya? Nara sering kelupaan membawa kunci rumah dan tidak bisa masuk karena orangtuanya sering pergi. Makanya dia memberikannya pada Minri.”

            “Aku lupa! Lebih baik kita cepat kesana!” Jonghyun segera berlari kerah rumah Nara diikuti Yeon yang sedikit kesulitan karena dia memakai rok sekolah.

+++

            “Ini mobil Jojung.” Kata Jonghyun ketika tiba didepan rumah Nara.

            “Dan pintunya sudah terbuka! Cepat masuk!” Yeon masuk kedalam rumah dan segera naik ke lantai atas ke kamar Nara, karena dilihatnya dilantai bawah sepi tidak ada apa-apa.

            Terlambat! Minri dan Jojung sudah berada dikamar Nara lebih dulu, lebih tepatnya mereka berdua berdiri disamping tempat tidur Nara memandang….. Jinki yang masih memeluk Nara dan belum sadar akan kehadiran orang-orang tak diharapkan ini di kamarnya. Yeon dan Jonghyun tak bisa berkutik lagi, mereka harap tak akan ada kejadian besar yang terjadi setelah ini.

            “NARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN ????????????????”

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

16 thoughts on “Love Without a Name – Part 9”

  1. huwaaa makin menjadi2 .. nih .. parah !!!!
    astaga jinki bisa kayak gitu .. ahahha kasian nara …
    aduhh cape deh sebenernya masalah apa ya aku lupa ???
    huwaaaa gimana itu .. si minri … aduhhh ckckkckkc

  2. wooaaa udh romantis malam tidur sambil pelukan.. eh paginya dikagetin dgn hal yg menggemparkan… kkkkkk

    ayo author,.. lanjutannya ditunggu 😀

  3. issshhh jinki dsni ngegodain nara mulu…jadi mau digodain jinki…*kedip genit *plak
    jiah hubungan mrka psti lama2 ketauan satu sekolah deh klau gni ceritanya…
    btw si mr.no one pov belom ketauan juga ya siapa…py menurut aku sih minho…

    next part jngan lama-lama ya author…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s