We Have To Married – Part 3

Title                : We Have To Married part 3

Author             : Nita si Chicken

Main Cast        : Lee Jinki, Song Hyo Soo

Support Cast   : Choi Soo Ae, Shin Hyun Kyung, Cho An Ra, Lee Seunghyun a.k.a Seungri Big Bang, Jung Soo Yeon a.k.a Jessica SNSD Lee Donghae, Kim Ki Bum a.k.a Key

Length             : Sequel (3/4)

Genre              : Romance

Rating             : PG 15-16

Summary            : “Jadi ini yang kalian lakukan dibelakangku?” tanyaku kasar pada Jessica dan Donghae hyung, mereka terlihat sangat kaget dengan kehadiranku yang tiba-tiba ini.

“Aku bisa menjelaskannya Jinki-ya” kata Donghae hyung lalu berdiri dan memegang pundakku, singkirkan tangan kotormu itu hyung! Kutepis tangan Donghae hyung kasar, menyingkirkannya dari bahuku.

“Kau! Siapa yang kau pilih? Dia atau aku?” tanyaku pada Jessica yang masih memandang kami berdua dengan tatapan khawatir.

Desclaimer      : Ini ff punya aku, plotnya punya aku. Onew punya Tuhan, keluarganya, Shinee, SM yang terakhir punya aku juga. Wkwkwkwk *digampar MVP*

*Jinki POV*

Hari ini eomma lagi-lagi memaksaku untuk menjemput Hyo Soo pulang dari kantor. Apa eomma tidak tau kalau suasana hatiku sedang tidak baik saat ini. Baru saja tadi aku bertemu dengan Jessica dan dia mengatakan bahwa aku sekarang tidak perhatian lagi dengannya. Bagaimana bisa? Padahal aku selalu memperhatikannya lebih dari apapun. Pikiran Yeoja memang sulit dimengerti.

Dan Yeoja itu –Hyo Soo- membuat moodku bertambah buruk saja. Sudah bagus aku mau menjemputnya, tapi dia malah menyuruhku untuk menunggunya di depan restaurant Thailand ini. Alasannya dia tidak ingin para karyawannya yang kemarin itu melihatku, dia bilang aku memalukan. Cih padahal seharusnya dia bersyukur karena memiliki suami tampan sepertiku. Dan dia sudah membuatku menunggu selama satu jam, kenapa lama sekali? Sebaiknya aku menyusulnya saja.

“Lepaskan aku Seugri-ah, aku mau pulang” itu.. suara Hyo Soo, bicara dengan siapa anak itu. Ku langkahkan kakiku menuju sumber suara yang ku dengar, kulihat seorang namja sedang memegang tangan Hyo Soo erat dan menahannya secara paksa, apa-apaan namja itu.

“Tidak sebelum kau menerimaku lagi” kata namja yang setauku tadi Hyo Soo sebut sebagai Seungri

“Kita sudah berakhir, tidakkah kau menegerti itu? Carilah yeoja lain yang lebih baik dariku! Lepaskan!” kata Hyo Soo tajam sambil berusaha melepaskan tangannya yang masih saja dipegang oleh namja itu. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menolongnya.

“Lepaskan dia, kau tidak seharusnya memaksa seorang yeoja seperti itu!” ku lepaskan tangan namja itu dari tangan Hyo Soo dan menariknya kebelakang tubuhku.

“Bukan urusanmu!”. Tanpa aba-aba namja itu sudah meninjuku keras, kurasakan bau anyir memenuhi hidungku. Aissh.. kurang ajar dia membuat hidungku berdarah. Akan kubalas dia. Tidak perlu menunggu waktu lama aku langsung membalas tinjuannya yang membuat hidungnya juga mengalirkan darah segar. Kuusap darah yang mengalir dari hidungku dengan lengan kemeja kerjaku, belum sempat aku melayangkan tinjuku yang kedua tangan Hyo Soo sudah lebih dulu menarikku meninggalkan tempat itu.

“Kau ini.. lihat hidungmu sekarang! Eomonim pasti akan memarahiku” kata Hyo Soo panik sambil membongkar seluruh isi tasnya di mobilku. Dengan sigap Hyo Soo mengambil beberapa lembar tisu dan menuangkan antiseptik di atasnya untuk membersihkan lukaku. Apa dia memang selalu membawa benda ini kemana-mana? Yeoja ini seperti kotak P3K berjalan saja.

“Jadi dia mantan pacarmu?” tanyaku saat Hyo Soo sedang sibuk membersihkan darah yang masih mengalir dari hidungku. Bukannya menjawab pertanyaanku Hyo Soo malah masih saja sibuk membersihkan darah dan sekarang sudah menuangkan alkohol untuk mengobati hidungku.

“Bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanyanya khawatir padaku, sepertinya dia benar-benar takut eomma akan memarahinya nanti. Kuanggukkan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya bahwa aku sudah merasa jauh lebih baik dari tadi dan ia tidak perlu khawatir seperti itu.

“Sini, biar aku yang bawa mobilnya” katanya sambil menyuruhku untuk menyingkir dari kursi kemudi.

“Shireoh! Aku masih bisa menyetir, kau ini seperti eommaku saja” kusingkirkan tangannya yang berusaha mengusirku tadi, menyebalkan sekali.

*Hyo Soo POV*

Sesampainya di rumah Jinki langsung menyuruhku untuk memasakkannya sesuatu, sebenarnya aku ingin membantahnya karena aku merasa lelah sekali, tapi begitu aku melihat hidungnya yang terluka aku jadi merasa bersalah.

Dan sekarang setelah puas memenuhi perutnya namja itu seperti biasa, menonton tv dan tidur-tidur santai di sofa ruang TV. Dasar pemalas.

Ting..tong..ting..tong.. bel apartemen kami berbunyi dengan nyaringnya, kulirik Jinki yang masih saja menonton tv dengan khusuk seperti tidak mendengar suara bel yang berbunyi nyaring. Sadar dengan lirikanku namja itu mulai bersuara

“Apa? Kau saja yang membukanya, aku kan sedang sakit” cih dasar namja pemalas, aku merasa rugi karena sudah mengkhawatirkannya tadi. Dengan malas aku membuka pintu apartemen, bersiap menerima tamu kami. Tapi.. tidak ada siapa-siapa, Ya! Menyebalkan sekali, kenapa di apartemen semewah ini ada orang iseng.

Hampir saja aku menutup kembali pintu apartemen kami sebelum aku mendengar suara tangisan bayi yang terasa sangat dekat dengan diriku, tapi dimana? Kulihat ke arah bawah dan betapa terkejutnya aku begitu melihat ada keranjang yang berisi bayi hidup di dalamnya. Apa maksud semua ini?

“LEE JINKI!!” Teriakku memenuhi apartemen kami, untung saja bangunannya kuat kalau tidak mungkin apartemen ini sudah runtuh dari tadi.

“Ada apa?!” tanya Jinki santai sambil memandangku sebal. Kutunjuk-tunjuk keranjang bayi yang sama sekali belum bergeser dari tempatnya semula. Dengan langkah yang sangat hati-hati Jinki mendekati keranjang bayi yang tadi aku tunjuk, seketika mata sipitnya melebar dan dia mulai berteriak “Anak siapa ini?” tanyanya tak kalah panik dariku. Kugelengkan kepalaku keras menandakan bahwa aku memang tidak tau apapun tentang ‘ini bayi siapa’ dan ‘darimana asalnya’.

********************

Setelah berdebat cukup lama akhirnya kami berdua memutuskan untuk membawa bayi ‘yang entah anak siapa dan darimana dia berasal ini’ masuk ke dalam apartemen kami. Sekarang bayi itu tidur dalam gendonganku dan Jinki sibuk mondar-mandir kebingungan di depan ku, membuat kepalaku bertambah pusing saja.

Bayi ini kutebak umurnya belum genap satu tahun. Apa alasan ibu bayi ini meninggalnya di depan apartemen kami, tega sekali. Tapi, kalau diperhatikan bayi ini mirip sekali dengan Jinki, pipi chubby dan matanya yang sipit, membuatku memandang Jinki curiga.

“Jangan melihatku seperti itu” katanya kesal karena sedari tadi aku menatapnya curiga

“Ini bukan anakmu? Lihatlah wajah kalian sangat mirip”

“Ya! Aku belum pernah menyentuh wanita manapun, aku tidak mungkin memiliki anak”

Seingatku eomonim pernah bilang kalau Jinki memiliki phobia dengan anak kecil, aku akan menegerjainya. Kudekatkan bayi yang sedang tertidur pulas dalam gendonganku ke arah Jinki, matanya yang sipit itu melirikku tajam seolah memperingatkanku untuk tidak melakukan hal yang macam-macam. Melihatnya ketakutan seperti itu ternyata menyenangkan sekali.

“Jinki-ya, lihatlah ada suratnya” kuangkat amplop putih yang kutemukan dalam keranjang bayi mungil ini, dengan cepat Jinki menyambar amplop putih itu dan membuka isinya.

Aku menitipkan anak ini pada kalian, maaf merepotkan. Aku percaya kalian bisa merawat anakku dengan baik. Jika nanti sudah tiba waktunya, aku akan mengambil anakku kembali. Namanya Hyo Jin, umurnya baru 6 bulan. Aku membawakan beberapa perlengkapannya untuk sementara. Aku mohon kalian bersedia merawat anak ku dan bersedia menjaganya. Jika kalian tidak merawatnya aku akan MENGUTUK kalian berdua.

Terimakasih dan sekali lagi aku minta maaf sudah merepotkan kalian.

“Apa-apaan ini!!?” teriak Jinki marah yang sudah tidak kuhiraukan lagi, segera aku membawa Hyo Jin masuk ke dalam kamar dan meletakkannya di tempat tidur, di antara aku dan Jinki.

“Aku tidak mau tidur seranjang dengan bayi ini!” katanya kasar sambil menunjuk-nunjuk Hyo Jin yang tertidur pulas.

“Silahkan kau tidur diluar jika kau tidak mau tidur disini bersama Hyo Jin” jawabku datar yang membuatnya mau tidak mau tidur juga disebelah Hyo Jin meskipun dengan wajah agak ketakutan.

*Author POV*

Pagi harinya Hyo Soo dan Jinki memutuskan untuk menitipkan Hyo Jin ke rumah Nyonya Song, karena mereka harus berangkat bekerja. Tidak mungkin sekali jika mereka berdua harus bekerja sambil mengajak Hyo Jin.

Nyonya Song menerima kehadiran Hyo Jin dengan senang hati, bahkan Nyonya Song dan suaminya menganggap Hyo Jin seperti cucu mereka sendiri. Hyo Jin juga senang berada di rumah keluarga Song, anak itu cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya, tadinya Hyo Soo sempat khawatir meninggalkan Hyo Jin bersama eomma dan appanya, tapi setelah Nyonya Song meyakinkan Hyo Soo bahwa dia akan menjaga Hyo Jin dengan baik akhirnya Hyo Soo meninggalkan Hyo Jin.

“Jangan lupa jemput aku jam 4, kita harus membeli kebutuhan Hyo Jin setelah ini” Hyo Soo mengingatkan Jinki untuk kesekian kalinya bahwa mereka hari ini harus mencari kebutuhan Hyo Jin yang lain, dengan agak terpaksa dan setengah emosi Jinki menganggukkan kepalanya yang entah sudah berapa kali dalam satu jam ini.

Begitu Jinki menghentikan mobilnya di depan boutique Hyo Soo, yeoja itu segera keluar dari mobil Jinki, mengetuk-ngetukkan jari lentiknya ke kaca mobil Jinki, memerintahkan namja itu untuk membuka kaca mobilnya. Baru saja Hyo Soo akan membuka mulutnya Jinki sudah terlebih dahulu bersuara “Aku tau, aku akan menjemputmu jam 4 setelah itu kita akan mencari keperluan Hyo Jin yang lain” kata Jinki lalu segera melajukan mobilnya meninggalkan Hyo Soo yang tersenyum puas karena kata-katanya benar-benar tertanam di kepala Jinki.

********************

Hyo Soo berjalan kesana kemari untuk mengambil segala sesuatu yang menurutnya penting untuk Hyo Jin, mulai dari susu, makanan untuk bayi sampai cemilan yang bisa Hyo Jin makan sudah memenuhi troly yang didorong oleh Jinki. Setelah dirasa cukup Hyo Soo segera mengajak Jinki untuk mengantri di kasir, yeoja itu tidak mau terlalu banyak membuang waktunya, semakin cepat dia selesai belanja maka semakin cepat dia untuk menjemput Hyo Jin dirumah eommanya.

“Kukira kau mau membeli supermarket ini” cibir Jinki setelah mereka berdua selesai membayar belanjaan Hyo Soo. Yeoja itu hanya diam dan memandang Jinki dengan tatapan tajam, memerintahkan Jinki untuk menutup mulutnya dan menyuruh Jinki untuk mengangkat seluruh kantung belanjaan yang besar-besar itu.

Pandangan Jinki terpusat pada satu titik di salah satu foodcourt yang ada di supermarket itu, mata sipitnya melebar dan tangannya terkepal kuat menandakan bahwa si empunya sedang menahan emosi. Hyo Soo memanggil Jinki berulang kali agar namja itu segera bergegas mengikutinya, tapi Jinki tidak bergeming sama sekali. Tiba-tiba saja Jinki melangkahkan kakinya mendekati objek yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya, dengan sedikit mengomel Hyo Soo mengikuti Jinki dari belakang.

“Jadi ini yang kalian lakukan dibelakangku?” tanya Jinki kasar pada seorang namja dan yeoja yang sedang makan bersama dengan mesranya.

*Jinki POV*

Belanjaan Hyo Soo untuk Hyo Jin sangat amat banyak sekali, aku heran kenapa yeoja ini bisa begitu menyayangi Hyo Jin padahal dia tidak tau sama sekali tentang asal usul bayi itu.

“Kukira kau mau membeli supermarket ini” cibirku setelah kami berdua selesai membayar belanjaan Hyo Soo. Haah seperti biasa Hyo Soo akan memandangku dengan pandangan sinis, menyuruhku untuk diam dan memerintahkanku untuk mengangkat kantung belanjaan yang besar-besar itu. Sebenarnya aku ini suaminya atau pembantunya?

Tiba-tiba saja mataku menangkap sosok yeoja yang selama ini menjadi kekasihku sedang makan bersama dengan seorang namja yang selama ini sudah kuanggap sebagai hyungku sendiri. Mereka terlihat mesra sekali, sesekali Jessica menyuapi Donghae hyung dan mengusap makanan yang celemotan di sekitar mulutnya.

Kukepalkan tanganku kuat-kuat mencoba menahan emosi yang siap untuk kuledakkan sekarang juga, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menghampiri mereka dan memperjelas semuanya.

“Jadi ini yang kalian lakukan dibelakangku?” tanyaku kasar pada Jessica dan Donghae hyung, mereka terlihat sangat kaget dengan kehadiranku yang tiba-tiba ini.

“Aku bisa menjelaskannya Jinki-ya” kata Donghae hyung lalu berdiri dan memegang pundakku, singkirkan tangan kotormu itu hyung! Kutepis tangan Donghae hyung kasar, menyingkirkannya dari bahuku.

“Kau! Siapa yang kau pilih? Dia atau aku?” tanyaku pada Jessica yang masih memandang kami berdua dengan tatapan khawatir.

“Aku lebih memilih Donghae oppa, kau tidak pernah memperdulikanku, aku sudah lelah Jinki-ya! Kita akhiri saja hubungan kita!” Apa?? Jadi dia lebih memilih Donghae hyung ketimbang aku yang jelas-jelas jauh lebih tampan. Baiklah kalau memang itu maunya, aku juga bisa mencari yeoja yang lebih baik daripada Jessica.

“Baiklah kalau itu maumu, Selamat tinggal Jung Soo Yeon” Kutarik tangan Hyo Soo agar segera meninggalkan tempat menyebalkan ini. Aisshh Yeoja itu mengahancurkan mood baikku hari ini.

“Apa perlu kumasakkan sesuatu yang lain?” tanya Hyo Soo karena sedari tadi aku sama sekali tidak menyentuh masakannya. Sebenarnya masakannya terlihat sangat menggiurkan, hanya saja sepertinya semua terasa hambar dimulutku saat ini. kugelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan Hyo Soo, bahkan untuk mengeluarkan suara saja rasanya sulit sekali.

“Gwenchana?” tanyanya lagi sambil memandangku khawatir, benar-benar mirip dengan eomma.

“Nan gwenchana, aku mau tidur dulu” kupaksakan tersenyum pada Hyo Soo agar yeoja itu berhenti mengkhawatirkanku. Lebih baik aku meratapi nasibku saja di kamar, tidak kusangka ternyata orang tampan bisa merasa patah hati juga.

Kupandangi Hyo Jin yang tertidur dengan pulasnya di atas tempat tidur ku, aku ralat maksudku tempat tidur kami. Andai saja aku bisa berubah kembali menjadi bayi seperti Hyo Jin aku tidak akan merasakan patah hati seperti ini. sedang asik-asiknya aku memandangi Hyo Jin yang tertudur pulas tiba-tiba saja Hyo Soo masuk ke dalam kamar. Mengagetkanku saja.

“Buka mulutmu!” perintahnya. Tanpa perlawanan aku membuka mulutku seperti apa yang diperintahkan oleh Hyo Soo, yeoja itu memasukkan kue coklat ke dalam mulutku.

“Enak..” komentarku singkat sambil tersenyum, kue ini enak sekali.. aku mau lagi.

“Dunia akan menjadi lebih kuat setelah diterpa badai, anggap saja kau sedang mendapat pelajaran yang berharga, jadikan hal ini sebagai pengalaman dalam hidupmu supaya lain kali kau bisa memilih pasangan hidup yang lebih baik. Aku percaya suatu saat nanti kau pasti bisa mendapat pasangan yang lebih baik daripada Jessica” pandangan Hyo Soo menerawang ke depan, seperti sedang membayangkan sesuatu yang indah. Kupandang yeoja yang baru saja menasehati ku ini dengan pandangan tak percaya. Perkataannya benar-benar terasa menyejukkan, tapi rasanya aneh sekali jika mendengar kata-kata seindah ini keluar dari mulut Hyo Soo. Sepertinya dia salah makan sesuatu, sekarang dia tampak seperti malaikat dimataku lengkap dengan cahaya di sekitar tubuhnya dan cincin malaikat di atas kepalanya.

“Jadi berhentilah meratapi nasibmu itu, aneh sekali rasanya jika harus melihat seorang Lee Jinki yang biasanya banyak bicara sekarang malah menjadi orang yang putus asa, mukamu itu terlihat semakin jelek” kata Hyo Soo sambil menonyor keplaku dengan jari telunjuknya. Hilang sudah efek malaikat yang tadi ada dimataku, yeoja ini benar-benar bisa membuatku senang dan marah dalam waktu yang bersamaan. Dengan kesal kurebut piring yang berisi kue coklat yang dibawa Hyo Soo tadi dan segera kuhabiskan dalam diam. Lebih baik aku memakan kue ini daripada harus berdebat dengan yeoja kasar itu, menguras energiku saja.

*Hyo Soo POV*

Baru saja aku selesai memandikan Hyo Jin dan menyiapkan sarapan untuk Jinki, bel apartemen kami sudah berbunyi dengan nyaringnya. Aissh siapa sih pagi-pagi begini sudah bertamu.

“Jinki-ya, bisa kau buka pintunya?” teriakku dari arah dapur karena sedang menyuapi Hyo Jin, tapi sepertinya Jinki sedang mandi jadi dia tidak mendengar suaraku.

“Hyo Jin-ah, kau tunggu sebentar disini ya, eomma akan membuka pintu dulu” kataku pada Hyo Jin.

Bel itu semakin lama semakin nyaring saja. Dengan kesal kubuka pintu apartemen kami dan terlihatlah seorang namja kurus dengan pakaian yang menurutku sangat nyentrik. Celana jeans putih ketat dengan kaos pink, rambunya yang disemir warna-warni pada bagian poninya membuatnya terlihat menyilaukan.

“Permisi tetangga, maaf mengganggu. Aku baru saja pindah kemari tadi malam. Aku ingin membuat kopi tapi sayangnya gulaku habis. Bisa aku meminta gula?” tanya namja nyentrik itu sambil memberiku sebuah toples yang sepertinya memang sudah dia siapkan sebelumnya.

“Ne, silahkan masuk dulu..” jawabku sesopan mungkin pada tetangga baruku yang menurutku sangat menyebalkan ini. kuambil gula yang masih terbungkus rapi di lemari dapur dan menunagkannya sebagian ke dalam toples yang dibawa oleh namja tadi.

“Ini anakmu?” tanya namja nyentrik yang entah siapa namanya itu sambil mendekati Hyo Jin. Kulihat Hyo Jin hampir menangis karena ketakutan melihat namja nyentrik tadi. Aigoo.. Hyo Jin-ah bertahanlah eomma akan menyelamatkanmu.

“Siapa yang datang sepagi ini Hyo?” tanya Jinki yang baru saja keluar kamar mandi, bahkan dia belum memakai bajunya. Hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan rambut yang masih basah karena sepertinya dia baru saja selesai keramas *author mimisan ngebayanginnnya*. Sudah kebiasaan Jinki untuk langsung menyeruput kopi setelah mandi tanpa mengenakan baju terlebih dahulu. Kopi yang ada dimulut Jinki langsung tersembur begitu matanya menangkap sosok namja nyentrik yang sekarang berada di apartemen kami. Jinki menatapku seolah bertanya ‘siapa namja nyentrik ini?’ dan aku hanya menggelengkan kepalaku karena aku memang tidak tau siapa namja nyentrik peminta gula ini.

“Ahh.. aku tetangga baru kalian, apartemenku berada tepat disamping apartemen kalian. Kim Ki Bum imnida, tapi biasanya temen-temanku memanggilku Key. Senang bertemu dengan kalian” namja nyentrik yang kuketahui bernama Key itu membungkuk sopan ke arah kami.

“Song Hyo Soo imnida, dan itu Lee Jinki suamiku, dan dia Hyo Jin anak ku” kataku mencoba ramah dan memperkenalkan semua orang yang ada di ruangan ini. ku serahkan toples yang sudah terisi gula ke namja tadi, berharap supaya dia cepat kembali ke apartemennya.

“Kalian ini pasangan muda yang manis. Anak kalian juga sangat lucu. Senang sekali memiliki tetangga seperti kalian. Terimakasih untuk gulanya Hyo Soo-ssi, lain kali aku akan mampir lagi kemari. Annyeong” kata Key sambil melambaikan tangannya ke arahku. Aku berharap dia tidak akan berkunjung kemari lagi. Segera kututup pintu apartemen kami dan menguncinya rapat-rapat.

“Kau baru saja memasukkan makhluk aneh ke apartemen kita, lihat Hyo Jin hampir menangis ketakutan” Jinki mengomeliku dan memperlihatkan Hyo Jin yang ketakutan dalam gendongannya. Sepertinya ada yang janggal dengan penglihatanku, tapi.. apa ya? ASTAGA..

“Jinki-ya! Kau menyentuhnya! Kau menggendong Hyo Jin” pekikku kagum pada Jinki yang tengah menggendong Hyo Jin sayang, dia seperti seorang appa yang sedang melindungi anaknya.

-TBC-

Finally, kurang satu part lagi selesai sudah tugas saya sebagai author dari epep We Have To Married ini, dan rencananya saya akan membawa epep kedua saya yang sedang dalam proses dan akan mengepostkannya di sini (lagi). Mian ya admin, numpang menuh-menuhin.

Dan saya ingatkan sekali lagi untuk KOMEN woi… KOMEN. DON’T BE SAIDER. Yang komen author doain dah masuk surga plus bisa mimpiin biasnya tiap malem. Otte?? Sorry for miss typo, sampai jumpa lagi di part selanjutnya.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

84 thoughts on “We Have To Married – Part 3”

  1. Sumpah,,aku ampe’ ngakak pas baca part nya si key ..
    Nasib bgt si almighty di katain makhluk aneh ..
    Hee ..

    Sumpah nie ff makin buat aku gregetan ..

    Aku ngacir part selanjutnya deh ..

  2. mudah2an tragedi “Donghae Jesica’ jadi jalan buat Hyo soo n Jinki
    Hahahaaa…. lucu lagi, tuh, kan???
    Hyo soo mau nasehatin, atau mau ngomel, sih?
    Tapi justru itu yg buat mereka jadi romantis…
    dan mungkin, kalo gak digituin, Jinki gak bakal denger…
    Dia kan kadang juga keras kepala, makanya ketemu sama Hyo Soo
    yang sering seenak udelnya kalo ngmog, sampe buat Jinki mau beli
    sumbat telinga, itu bikin mereka cocok…. tanpa mereka sadari…
    mereka bakal saling melengkapi…..

    Kirain siapa namja nyentriknya, ternyata kibum….
    hahahhaaa…. Jinki ampe muncratin kopinya….
    Key sih, sok akrab…

    Pasangan rempong yg belom akor, dititipin anak…
    hahahaaaa…… boleh banget tuh ide….
    Biar mereka terpaksa kompak untuk ngurusin Hyo Jin…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s