Boy Sitter : New Job [1]

Boys SITTER. (Part 1: New Job)

Author: Alya.La.Fany

Main Cast: -SHINee

                  -Seoyoung

Support Cast: -Park Seoyeon

                       -Choi Jaejin

                       -Eommanya Seoyoung

Length: 13 page

Genre: Romance, Friendhip, life.

Rating: PG-13

                                                            =-=

-Seoyoung’s POV-

            Jam sudah menunjukkan pukul 10:00 ketika aku menutup minimart tempat aku kerja. Wajarlah, ini hari piketku, dimana aku harus membereskan mini mart ini sebelum pulang dan pulang lebih akhir dari yang lain.

            Namaku Park Seoyoung, aku berumur 18 tahun, aku bekerja di minimart ini untuk memenuhi kebutuhan hidupku, Eommaku, dan Eonnieku. Sementara aku kerja, Eonnieku mengurus Eomma sambil membuat Novel. Huh, aku iri dengan Eon, dia punya bakat, jadi dia tak perlu kerja banting tulang sepertiku.

            Appaku meninggal 5 tahun lalu, saat itu aku berumur 13 tahun. Beliau terkena penyakit jantung. Dan karena kami bukan bangsawan atau… Apalah, tak ada acara ‘Pembagian Warisan’.

            Dan sekarang giliran Eommaku yang sakit, aku tak tahu menahu soal penyakitnya itu, tapi Eonnie bilang Eomma kena penyakit paru-paru. Kasihan Eomma, terakhir kali kami memeriksanya, dokter bilang Eomma harus dioperasi. Tapi karena biaya yang bisa dibilang jauh dibawah rata-rata, kami belum melaksanakan operasi tersebut.

            Sebenarnya aku berencana meminjam uang ke bank, tapi Eomma melarangnya, katanya takut bunganya membengkak dan aku tak sanggup bayar. Bisa saja aku nekat, tapi melihat Eomma yang melarangku sambil memohon-mohon dan menangis, tidak tega juga.

            “Huuufff…” aku melepas kunci dari gembok yang baru aku pasang tadi dan mengantonginya. Setelah itu aku menggendong tasku yang dari tadi tergeletak dan beranjak pergi.

            Langkahku terhenti ketika aku melihat selembar kertas yang menempel di dinding minimart. Setahuku, minimart ini melarang siapapun menempelkan brosur atau spanduk di sekitar bangunannya. Tapi ini? Hm… Lebih baik kulepas saja dari pada ketahuan bos.

            Aku melangkah mendekati kertas itu dan melepasnya, naluri penasaranku menarikku untuk membaca selembaran brosur itu, sepertinya menarik.

            ‘SMent audition!’

            ‘Do U want to be SHINee’s boys sitter?’

            ‘Persyaratan: -Yeoja berumur 18-21 tahun.

-Punya bakat mengurus orang lain dan mengurus pekerjaan rumah.’

            ‘Gaji: 1000.000 won/bulan! Pendaftaran ditutup hari rabu tanggal 2 mei! Cepat, SHINee menunggu anda!’

            Ha? Aku membelalakkan mataku saat melihat angka 1000.000 di brosur itu. Hanya mengurus saja? Tidak salah? 1 juta won?

            Aku mengusap-usap mataku, memastikan aku tak salah lihat, kupelototi lagi kertas menggiurkan itu sampai aku benar-benar yakin bahwa yang aku lihat itu kenyataan.

            INI KENYATAAN! TUHAN, AKU BERTEMU DEWI KEBERUNTUNGAN!

            Waktu audisinya lusa, pendaftaran terakhir besok di gedung SMent. Arasso, aku akan mengikuti audisi ini!

            Eomma, kau bisa dioperasi!

                                                            =-=

            “Aku pulang!” seruku senang ketika aku membuka pintu rumahku. Aku lalu masuk kedalam dan mengunci pintunya. Setelah itu, aku melepas sepatuku.

            “Selamat datang,” sambut Seoyeon Eonnie yang kuyakinkan suaranya berasal dari dapur yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk.

            Aku tersenyum-senyum sendiri melihat bagaimana reaksi Eonnie saat aku menunjukkan formulir―yang tadi sempat kukira brosur―itu kepadanya. Aku lalu berlari-lari kecil menghampiri Eonnieku di dapur. Kudapatkan ia sedang menghangatkan makan malam untukku.

            “Anneyong, Eonnie!” sapaku, lalu masuk dan duduk di salah satu bantal duduk yang mengelilingi meja rendah yang sering digunakan untuk makan. Eonnie hanya melirikku sekilas, lalu kembali sibuk dengan kegiatannya.

            “Ceria sekali…” kata Eonnie dengan mimik suara penuh kecurigaan, “Apa kau baru mendapatkan Namjachingu?”

            “Yaa!” pekikku yang langsung dihadiahi pandangan tajam Seoyeon Eonnie yang berartikan ‘Jangan-berisik’. Aku mencibir dan memalingkan pandanganku dari Eonnie, pura-pura marah.

            Kudengar kekehan kecil yang keluar dari mulut Eonnie. Huuh! Senang sekali dia mengerjaiku!

            “Sekarang marah… Waeyo? Kau itu, setiap pulang kerja begini terus,” kurasakan Eonnie berjalan ke arahku, ia lalu meletakkan nampan berisi mekan malam di hadapanku dan tersenyum.

            “Ini gara-gara Eonnie!” kataku sebal.

            “Hehehe… Mian,” Eonnie tertawa kecil, “Nah, sekarang kau ceritakan pada Eonnie, kenapa kau pulang dengan wajah gembira seperti tadi.”

            Aku berusaha menghiraukan kalimatnya dan mencerna baik-baik makanan yang sedang aku makan. Tak baik makan sambil berbicara, itu yang Eomma katakan setiap kami makan pagi bersama.

            “Aku menemukan sesuatu yang menyenangkan,” ucapku, lalu mengeluarkan formulir yang aku temukan tadi dan memberikannya kepada Seoyeon Eonnie.

            Seoyeon Eonnie menerima lipatan formulir itu dan membukanya. Ia membaca setiap kata yang ada di lembar formulir itu. Aku berusaha untuk tak melepaskan pandangannya dari sosok Seoyeon Eonnie, aku ingin melihat ekspresinya, pasti sangat lucu, haha…

            “Mwo?” pekik Seoyeon Eonnie setelah ia selesai membaca formulir keberuntunganku itu. Ia lalu menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan. Tapi pandangannnya menyiratkan kalau ia ikut gembira, “1 bulan satu juta won? Ini tak salah?”

            Aku menggeleng cepat-cepat, “Eonnie mengizinkanku mengikuti audisinya, kan?”

            Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Seoyeon Eonnie, kurasa dia sedang menimbang-nimbang keputusanku. Hm, mungkin saja… Tapi mau tidak mau, Seoyeon Eonnie harus mengizinkanku, Eomma harus dioperasi, kan?

            “….”

            “….”

            “….”

            Aku mulai kesal dengan Eonnie yang belum juga mengeluarkan suaranya, “Eottokhae, Eonnie? Kau mengizinkanku, kan? Diam berarti setuju!”

            “Molla, Eon setuju saja. Tapi kau, kan belum mendapatkan izin Eomma… Mungkin ia melarangmu,” kata Seoyeon Eonnie enteng, lalu melempar formulir itu kearahku.

            “Maksudku… Eon rahasiakan saja dari Eomma, begitu, ya?”

            “Anni, Eomma harus tahu. Aku bilang apa jika nanti Eomma tak melihatmu saat makan pagi, huh?” katanya yang membuatku membatin ‘benar juga’.

            “Uh… Eottokhae? Aku harus kerja disana, ini demi keselamatan Eomma,” gumamku sedikit keras dan cukup terdengar oleh Seoyeon Eonnie.

            “Aku akan mendukungmu nanti pagi. Sekarang kau bersihkan dirimu dan istirahat, aku akan mencuci piring dulu,” Seoyeon Eonnie membereskan piring bekas makan malamku dan langsung pergi kedapur. Aku hanya memonyongkan bibirku melihat sikap Eon yang seperti itu. Memangnya Eon pikir aku anak kecil, apa?

            Dengan malas aku beranjak dari tempatku, lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diriku. Setelah ini aku akan tidur, tubuhku lelah sekali.

                                                                        -o-

Normal POV-

            Matahari berhasil menyinari kamar kecil dan sederhana ini saat seorang gadis berhasil membuka gorden merah muda yang menutupi jendela kamar itu. Gadis itu memakai celemek dan membawa sebilah pisau tumpul. Wajahnya terlihat kesal ketika ia mendapati seseorang yang sedang tidur di ranjangnya itu menarik selimutnya sebatas muka untuk menghindari cahaya matahari yang membuatnya silau.

            “Yaaa… Kau mau tidur sampai jam berapa, hah, Seoyoung? Bangun!” gadis itu menarik selimut tebal yang menutupi tubuh mungil orang yang bernama Seoyoung tersebut.

            “Uhhh… 5 menit lagi Eon, aku masih ngantuk,” keluh Seoyoung sambil hendak menarik kembali selimutnya, tapi berhasil dicegah oleh Seoyeon.

            “Bukankah pukul 9 kau akan pergi ke gedung SM untuk mendaftar? Nanti tempatnya terlanjur penuh, kau tahu? Cepat berkemas!” perintah Seoyeon lagi, lalu membuang selimut Seoyoung ke lantai, “Ayo mandi! Eomma sudah menunggumu di meja makan!”

            Seoyoung membuka matanya dengan berat, ia lalu beringsut menghampiri tepi ranjangnya, kepalanya terasa sedikit pening, ia masih berbaring, menghilangkan rasa pening itu. Setelah rasa pening itu hilang, dia berdiri dan pergi ke kamar mandi dengan gontai. Jika boleh jujur, ia masih sepenuhnya mengantuk. Tapi mengingat pendaftaran itu tinggal 1 hari lagi, dengan penuh paksaan ia membuka matanya.

            Air hangat membuat sedikit kantuknya hilang, mukanya terlihat lebih segar saat ia keluar dari kamar mandi. Bertolak belakang saat ia bangun tadi pagi. Seoyoung bertaruh, tadi pagi wajahnya terlihat mirip sekali dengan zombie.

            Ia masuk ke kamar, bermaksud membenahi penampilannya. Seoyoung menemukan kemeja garis-garis dan overall jeans yang terletak di atas ranjangnya. Ia lalu tersenyum-senyum sendiri membayangkan Eonnienya itu memilih baju untuknya. Padahal Eonnienya itu ‘masa bodoh’ dengan fashion atau penampilan.

            Seoyoung memakainya dengan senang hati. Sedikit bertanya-tanya juga kenapa bisa Eonnienya itu memandankan kemeja dengan overall, biasanya dia memadankannya dengan kaus putih biasa.

            Yeoja itu lalu berjalan ke meja riasnya, ia menyisir rambutnya yang cokelat lurus panjang dan menghiasinya dengan jepit kupu-kupu mungil. Setelah selesai dengan berurusan dengan rambutnya, ia lalu menyemprotkan cologne rasa strawberry ke bajunya, mengecek penampilannya sekali lagi, lalu berjalan keluar kamar sambil bersenandung riang.

            Ia lalu berjalan menuju dapur, hatinya tiba-tiba berdetak 2 kali lebih cepat saat tangannya menyentuh kenop pintu. Bagaimana kalau Eommanya marah dan melarangnya untuk pergi? Bagaimana jika ia memberitahu hal itu Eommanya langsung kambuh dan pingsan? Bagaimana? Bagaimana?

            Ck, kau harus tenang, Seoyoung! pikirnya menenangkan diri sendiri. Pelan, tangannya mulai memutar kenop itu dan membuka pintunya. Ia mendapati Eonnie dan Eommanya sedang duduk di meja makan sambil melahap pelan-pelan sarapan mereka dalam diam.

            “Seoyoung? Lama sekali, kau. Duduklah,” perintah Seoyeon saat menyadari kehadiran Seoyoung. Seoyoung terlihat sedikit gugup, ia menghampiri meja makan dan duduk di tempatnya.

            “Mimpimu indah, sayang?” tanya Eommanya sambil tersenyum hangat.

            “Ne, aku mimpi sangaaaaaaaat indah, Eomma!” jawab Seoyoung sambil balas tersenyum, “Tidur Eomma nyenyak?”

            “Tentu, sayang. Kau tak perlu mengkhawatirkan Eomma…”

            Hening, hanya ada suara benturan sendok dan garpu. Seoyeon menatap Seoyoung dengan pandangan ‘Hei-cepat-beritahu-eomma’, tapi karena Seoyoung tidak menyadarinya, Seoyeon mengambil langkah cepat, ia mencubit kaki adiknya.

            “Awww! Aish, apa yang kau lakukan, Eon―” Seoyoung berhenti di tengah kalimatnya saat menerima tatapan ‘Hei-cepat-beritahu-eomma’nya Seoyeon.

            Seoyoung membuang nafas singkat, mencoba menenangkan dirinya dan berfikir positif soal jawaban Eommanya.

            “Um… Eomma?” panggil Seoyoung pelan.

            “Ne, waeyo, sayang?” Eommanya mendongakkan kepalanya.

            Ukh, tuhan… Berikan jawaban positif dari Eomma! pikir Seoyoung, “A… Aku menemukan pekerjaan bagus, gajinya besar, Eomma mengizinkanku mengikuti audisinya tidak?”

            “Mwo? Pekerjaan baru?”

            “N-ne, Eomma… Ga-gajinya 1 juta won/bulan. Aku menemukan formulirnya kemarin malam… Um… Kalau Eomma tak keberatan, aku akan mengikuti audisinya besok,” jelasnya sedikit terbata-bata. Seoyoung lalu mendongakkan kepalanya sedikit, memberanikan diri menatap Eommanya.

            Hening.

            Eommanya menatap Seo Young dengan pandangan tak percaya, matanya membulat dengan sempurna, “1 juta won?”

            Seoyoung mengangguk kecil, “Eomma harus dioperasi, jadi biarkan aku mengikuti audisinya, ya?”

            “…pekerjaan apa itu? Jangan-jangan…” Eommanya menatap Seoyoung penuh curiga.

            Dengan cepat, Seoyoung menggeleng, “Aniyo, Eomma! Aku tak akan bekerja macam-macam! Aku hanya bekerja menjadi baby sitter!”

            “Ne, Eomma, dia akan menjadi baby sitter. Eomma mengizinkannya, kan?” Seoyeon membuka mulutnya, memberi dukungan kepada Seoyoung.

            “Benarkah? Apa masuk akal jika gaji seorang baby sitter 1 juta won?” Eomma Seoyoung mengerutkan keningnya.

            Seoyoung terdiam, tapi Seoyeon menghela nafas singkat dan menjawab, “Seoyoung akan menjadi baby sitter sebuah boyband, Eomma. Pantas saja gajinya besar.”

            Seoyoung menatap Seoyeon dengan tatapan ‘apa-maksudmu?’, tapi Seoyeon tidak menyadarinya, ia meneruskan penjelasannya kepada Eommanya.

            “Dia hanya pulang 5 bulan sekali, Eomma, jadi, aku pikir setelah ia kerja 5 bulan disana, ia akan berhenti kerja disana. Lagipula belum tentu ia lulus audisi. Gajinya 1 juta won/bulan, mana ada orang yang mau melewatkan kesempatan emas ini?”

            “5 bulan?” Eommanya sedikit tersentak, “Tapi…”

            “Aku akan baik-baik saja, Eomma! Aku janji!” potong Seoyoung cepat, “Lagipula disini ada Seoyeon Eonnie, Eomma tak akan sendirian, bukan?”

            Hening.

            “Eomma, aku yakin Seoyoung akan baik-baik saja disana. Eomma harus dioperasi,” Seoyeon angkat bicara lagi, “Jika Eomma tidak dioperasi, penyakit Eomma akan tambah parah. Nanti kami sedih, Eomma… Apa Eomma mau kami sedih?”

            Eommanya menatap Seoyoung dan Seoyeon bergantian, ia sedikit bingung untuk memutuskan jawabannya.

            Kedua putrinya menatap sosok yang sedang bingung itu penuh harap. Seoyoung terus-terusan melihat Eommanya.

            “Arasseo,” satu kata itu membuat Seoyoung tersenyum lebar dan segera memeluk Eommanya.

            “Gomawo Eomma! Saranghaeyo!” Seoyoung mengeratkan pelukannya. Seoyeon membuang nafas sambil tersenyum lebar, lalu ikut-ikutan memeluk Eommanya.

            “Tapi jangan terlalu dipaksakan, ya? Kalau disana benar-benar padat jadwalnya, kau harus berhenti sekarang juga. Arasseo?” Eomma Seoyoung melepaskan pelukannya dan memandang Seoyoung.

            Seoyoung mengangguk mantap, “Arasseo, Eomma tenang saja!”

                                                                        -o-

-Seoyoung’s POV-

            Aku tak henti-hentinya tersenyum di sepanjang perjalananku ke gedung SMent. Aku masih menatap formulir itu dengan berbinar, entah kenapa, rasanya aku percaya diri sekali akan lulus audisi ini. Padahal kemungkinannya 1:100, haha… Yah, ini firasat baik, moga-moga impianku terwujud.

            “Nona, kita sudah sampai,” suara supir taksi yang mengantarkanku menyahut. Aku mendongak, menghentikan kegiatanku menatap formulir yang aku pegang (Author: Mian kalo bingung. Jadi, brosur yang ditemuin Seoyoung itu nyatu sama formulir masuknya >.<).

            “Gamsa hamnida ajusshi,” jawabku sambil tersenyum dan menyerahkan uang sesuai tarifnya kepada Ajusshi itu, aku lalu turun dari taksi.

            Seturunnya dari taksi, aku menutup mulutku karena kaget. Halaman gedung SMent penuh dengan orang-orang yang kuterka sekitar 50 orang lebih, mereka juga membawa formulir yang aku bawa. Dengan melihat ini, hancurlah kepercayaan diriku untuk lulus audisi. Eonnie benar, ini kesempatan emas yang tidak bisa dilewatkan!

            Teringat Eomma, aku segera melangkahkan kakiku mendekati kerumunan orang itu. Mereka berbaris panjang dan akupun ikut berbaris dengan mereka, Eomo… Aku gelisah sekali…

            “Hey, bagaimana kalau aku terpilih, ya? Aduh, senangnya tinggal seatap dengan Jjong-oppa… Aku bahkan rela bekerja di dorm mereka tanpa gaji~” kutangkap suara seorang yeoja yang berada tepat di depanku. Yeoja itu sedang berbicara dengan yeoja lain yang berada di depannya.

            “Aku juga rela asalkan aku tinggal seatap dengan Minho-oppa! Aigo~ aku benar-benar senang!” jawab yeoja yang diajaknya mengobrol tadi. Omona… Bahkan aku tidak tahu boyband apa yang akan aku urus.

            Aku hanya diam dan mendengarkan apa yang mereka katakan. Mudah-mudahan dengan ini aku bisa mengetahui sedikit tentang namja yang aku urus.

            “Oh iya, nanti jika aku terpilih aku juga akan membawa 1 dus susu pisang untuk si BabyTaemin! Hehehe… Dia pasti senang, tuh!”

            “Kalau aku bakal membelikan ber dus dus ayam goreng mexiana untuk Onew-ppa!”

            “Kalau Minho aku beri apa, ya? Oh iya, Key! Aku akan membelikan sepaket alat masak untuknya!”

            “Key… Haha, kuberikan saja pisau untuknya!”

            “Hey, kau blingers, kan? Harusnya kau memberikan sesuatu untuk Jjongmu itu!”

            “Mwo? Benar juga! Apa, ya? Aku bingung…”

            “Berikan saja ia recorder, dia, kan suka nyanyi!”

            “Hm… bagus juga!”

*2  hours later*

            5 orang. 5 orang lagi tiba giliranku. Kakiku serasa ingin patah karena berdiri 2 jam berturut-turut, sementara telingaku masih tetap setia menguping 2 yeoja cerewet ini. Banyak yang sudah aku dengar. Tapi aku bisa menyimpulkan, kalau boyband yang aku urus itu beranggotakan 5 orang. Onew, Taemin, Jonghyun, Minho, dan Key. Kalian bertanya kenapa aku bisa mengingat semua namanya? Tentu saja aku bisa mengingat semuanya, karena 2 yeoja ini menyebut nama-nama itu hampir 70 kali ketika kami sedang mengantri. Mau tak mau, otakku ini mencernanya dan mencatatnya di memoriku.

            Aku menatap ke depan, tinggal 3 orang lagi. Jika bukan karena Eomma, aku bersumpah akan meninggalkan tempat ini ketika aku melihat antriannya.

            Drrrttt Drrrrrt… Drrrt Drrrtt…

            HPku bergetar, aku segera merogoh tasku dan melihat display ponselku. ‘New message from -MySweetyEonnie-‘. Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka pesannya dan membacanya.

            ‘Saeng, waeyo? Ini sudah lebih dari 2 jam dan kau belum pulang-pulang juga… Gwenchana? Apa yang terjadi?’

            Aku menghela nafas. Lalu dengan cekatan jari-jariku menekan tombol ponselku sehingga berbentuk kalimat yang berbunyi,

            ‘Gwenchana Eonnie, biasa, antri. Bukankah Eonnie yang bilang -tak ada orang yang mau melewatkan kesempatan emas seperti ini-? Hehehe…^^~’

            “Hei, kau yang disana!” sebuah suara menginterupsiku. Aku segera menghentikan kegiatanku dan mendongak, yeoja yang berada di depankulah yang berbicara tadi, “Ayo maju!”

            “N-ne…” aku segera melangkahkan kakiku. Tinggal 1 orang lagi, huff…. Tuhan menolongku.

            Aku menatap yeoja yang ada di depanku dan memasang telingaku tajam-tajam. Takut semacam wawancara akan keluar ketika aku mendaftar.

            “Apakah anda seorang shawol?” benar saja! Pertanyaan itu keluar dari wanita yang sedang menatap formulir yeoja yang ada di depanku.

            Yeoja yang ditanya mengangguk mantap, “Ne! Bahkan aku rela bekerja asalkan aku diterima menjadi Boys Sitternya SHINee!”

            Wanita yang mewawancaranya mengangguk-ngangguk, “Arasso, kau boleh pergi.”

            Jantungku berdegup kencang ketika yeoja itu pergi. Dengan gugup, aku melangkah kedepan, memperkecil jarakku dengan meja wanita itu. Kuserahkan lembar formulir yang ada di tanganku kepadanya, ia menerimanya, lalu mendongak menatapku.

            “Apakah anda seorang shawol?” pertanyaan itu! Ba-bagaimana aku menjawabnya? Shawol saja aku tak tahu! Hiks, Eottokhae?

            Aku terus terdiam sambil menggigit bibirku sehingga wanita yang ada di depanku itu mengulang pertanyaannya.

            “Gwenchana? Apakah kau seorang shawol?”

            “A-Anni, aku bukan seorang shawol,” jawabku dengan suara kecil. Wanita yang ada di depanku itu menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan, tapi ia lalu tersenyum.

            “Arasseo, kau boleh pergi.”

            Dengan hati sedikit khawatir dan sedikit lega aku meninggalkan meja wanita itu. Kenapa khawatir? Tentu saja aku khawatir! Aku tak tahu apa Shawol itu dan kuyakin yang menjawab tidak adalah aku satu-satunya. Kenapa lega? Aku lega kerena akhirnya kakiku yang berteriak minta istirahat akhirnya bisa kuistirahatkan.

            Kuputuskan untuk mengistirahatkan kakiku dulu di sebuah café yang terletak tepat di pinggir gedung SMent  sekaligus membasahi tenggorokanku yang mulai kering, kebetulan aku membawa sedikit uang, jadi mungkin aku bisa memesan segelas teh dingin dan cupcake kismis kesukaanku.

            Aku berjalan sambil menghirup udara dengan sedikit rakus karena tadi saat mengantri aku kekurangan oksigen. Kalian harus tahu kalau tadi bukanlah aku yang mendaftar terakhir, setelah aku datang, ada beberapa rombongan yang membawa anggota sekitar 20 orang/rombongan. Dan jika di jumlah yang datang tadi ada sekitar 80 orang. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, berapa banyak formulir yang mereka sebarkan?

            Tanpa sadar, kakiku sudah membawaku ke depan pintu café itu. Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka pintunya dan menyerbu masuk. Udara dingin yang dihasilkan Air Conditioner itu menyeruak ketika aku berhasil masuk.

            “Anneyonghasseyo, selamat siang… Anda datang sendiri?” seorang butler sukses membuatku terlonjak karena kaget. Bagaimana tidak, aku tidak menyadari keberadaannya dan dia tiba-tiba menyapa!

            “N-ne, aku datang sendiri,” jawabku sambil menunduk karena menahan malu. Apalagi sudah bisa kupastikan butler yang tadi itu tersenyum-senyum melihat sikapku.

            “Arasseo, mari, saya antarkan anda ke meja―eh? Kau Seoyoung, ya?” pertanyaan butler itu membuatku mendongak. Kurasa aku mengenal suaranya… Itu, kan…

            “Jaejin-oppa?” aku menatap namja itu tak percaya, “Oppa, kau kerja disini? Oppa kemana saja?”

            Jaejin-oppa tersenyum kecil, “sudahlah, ngobrolnya nanti saja. Ayo, oppa antarkan kau ke meja.”

            Aku menurut. Jika kalian mau tahu, ini adalah Choi Jaejin, mantan pacar Eonnieku dulu. Eonni yang memutuskannya, kata Eonnie dia ingin focus kepada novelnya dan Eomma, Eonnie takut dia tak punya waktu untuk Jaemin-oppa, jadi ia putus dengannya. Dilihat dari alasannya, aku yakin Eonnie masih mencintai Jaejin-oppa.

            “Ayo duduk, kau mau pesan apa?”

            Aku duduk di sofa yang ditawarkan Jaejin-oppa, lalu menerima buku menu dari tangannya dan mulai memilih-milih. Emh, makanannya mahal-mahal semua, sepertinya aku salah pilih café.

            “Aku mau lemon tea saja,” jawabku setelah berfikir 10 kali soal lemon tea dengan harga 6000 won itu. Niatku membeli cupcake kismis kesukaanku terkurung begitu saja saat melihat harganya. 10.000 won, aigo~ lebih baik uang sebanyak itu aku tabungkan untuk operasi Eomma.

            Lagi-lagi Jaejin-oppa tersenyum, “Arasseo, tunggu, ya!”

            “Jangan lupa, Oppa akan cerita padaku!”

            “Ne, tenang saja.”

            Drrrrrtttt…Drrrrrrrtttt…Drrrrrrttttt…Drrrrrrrttt…

            Lagi-lagi HPku bergetar. Haish, Eonnie ini! Protektif sekali! Memangnya aku anak TK apa harus dikhawatirkan seperti ini?

            Dengan ogah-ogahan aku merogoh tasku dan manarik ponselku keluar dari sana. Setelah menekan tombol hijau, aku menempelkan ponselku di telinga.

            “Yeobosaeyo?”

            “YYA! Kau dimana sekarang, hah? Sudah 2 setengah jam sejak kau meninggalkan rumah!” suara melengking Eonnie langsung menyerbu telingaku saat ucapan ‘yeobosaeyo’ itu meluncur.

            “Jangan cerewet, dong Eonnie! Eonnie mau aku patah kaki, hah?”

            “Memang sekarang kau dimana?”

            “Di Café samping gedung SMent. Aku sedang mengistirahatkan kakiku, Eonnie, kakiku terasa mau patah,” kataku menjelaskan.

            “Ya sudah, tapi kalau kakimu sudah baikan lekas pulang, ya! Aku pusing menjelaskan keadaan dirimu kepada Eomma.”

            “Ne, Eonnie,” jawabku patuh, lalu memutuskan panggilan dari Eonnieku dan menyimpan ponselku ke dalam tas.

            “Eonniemu, ya?”

            “Huwwaaaa!” aku hampir terjengkang ke belakang karena lagi-lagi aku dikagetkan.  Sudah kupastikan itu Jaejin-oppa, “Oppa!”

            “Kekeke~ Kau itu mudah kaget, ya!” Jaejin-oppa terkekeh pelan dan duduk di depanku, ia membawa nampan berisi cupcake kismis dan lemon tea, Jaemin-oppa meletakkannya di depanku.

            “Ne! Makanya, oppa jangan bikin aku kaget, dong!” protesku sambil menatap horror ke arahnya. Jaejin-oppa membalasnya dengan cengiran khasnya.

            Mataku kini menatap heran nampan yang ada di depanku, seingatnya aku tidak memesan cupcake, “Ini punya siapa, Oppa?” aku menunjuk cupcake itu dengan telunjukku.

            “Oh, itu hadiah dariku. Ambil saja, aku tahu kau kaget dengan harga sebuah cupcake ini,” Jaejin-oppa menunjuk cupcake itu.

            “Aaaa… Jinca? Tapi…”

            “Gwenchana, gajiku besar, kok. Lagipula cupcake ini pantas mahal, soalnya, café ini sering didatangi aktris-aktris,” Jaejin-oppa memotong ucapanku, lalu tersenyum.

            “Ngg… Yakin? Gumawo oppa,” aku membalas senyumnya. Hmh, jujur, aku ingin sekali Jaejin oppa menjadi kakak iparku. Dia baik dan penuh pengertian, aku yakin Eonnie juga pasti bahagia jika ia menikah dengan Jaejin-oppa.

            Tanganku meraih gelas lemon tea yang ada di nampan. Sebelum kuteguk, kutawarkan Jaejin-oppa yang dibalas dengan gelengan kepala.

            “Eonniemu sehat? Aku sudah lama tidak mampir ke rumahmu, mianhae, aku sibuk,” Jaejin oppa tertawa lirih, mendengar tawanya, aku menyimpulkan bahwa Jaejin-oppa sangat merindukan Eon.

            “Sehat, bahkan dia masih bisa memarahiku karena aku terlalu lama pergi keluar, dan… Oppa tahu? Minggu kemarin, Eonnie menangis sendirian tengah malam sambil menatap foto oppa, sepertinya Eon benar-benar merindukan oppa!” aku menahan senyum jahilku yang sudah ingin menyeruak keluar dari bibirku.

            “Yaaa! Kau itu, senang sekali menggoda orang dewasa!” Jaejin-oppa memasang tampang marah ‘palsu’ di wajahnya, tangan besarnya menepuk kepalaku pelan, “Oh iya, ngomong-ngomong… Kenapa kau ada disini? Tempat ini, kan, jauh dengan rumahmu. Apalagi mini market tempat kau kerja.”

            “Eh? Aku? Aku habis daftar audisi menjadi Boys Sitter di gedung sebelah. Gajinya menggiurkan, mana mau aku melewatkan kesempatan emas ini!” aku tersenyum kepada Jaejin-oppa, “Ah, jinca, tadi aku lelah sekali karena habis mengantri.”

            “Oh, yang SHINee itu, ya? Ne, gajinya memang menggiurkan, kalau tak ada syarat ‘seorang yeoja’, aku pasti sudah mendaftar paling pertama.”

            “Jadi nanti disana kau akan mengepel, mencuci piring, dan memasak? Omona oppa, aku tak bisa membayangkannya!” aku pura-pura bergidik dan dihadiahi jitakan kecil dari Jaejin-oppa.

            Memoriku tiba-tiba berputar, benar juga, mumpung disini, bagaimana kalau aku bertanya soal SHINee kepada Jaejin-oppa. Mungkin dia tahu banyak dan aku bisa lulus audisi itu, hahaha!

            “Eh, oppa!”

            “Ne?” Jaejin-oppa mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku tersenyum lebar dan berkata,

            “SHINee itu apa, oppa?”

.

.

.

                  

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

34 thoughts on “Boy Sitter : New Job [1]”

  1. iiiih kalo emang seoyoung dapet kerja itu pasti shawol di jagat raya bakalan envy sama dia muahhahahahahaaa … next part cepet yah thor , penasaran…. hehehee

  2. Seruuu hahhha..di tunggu yak lanjutan nya thor…berbakti banget soyoung…

    shinee tu vitamin jiwa..jd ketawa liat mrk ketawa…ikut senyum liat mrk tersenyum..bikin namba ilmu jd kpengen blajar bhs korean..namba tmn sesama shawol…luas tuk di deskripsiin hehehhe…

  3. wkkwkwkkkw … di tunggu lanjutann na ….

    pstii yg kepilihh yg bukan shawol yahhh , biar gkpingsan trus serumahh ama shinee …. wkwkkwkwkwkwk

  4. Aq mau dongg,,, daftar jadi Boys sitter,, siapa tahu lulus audisi,, 2rs ketemu Key,,,wkwkw

    penasaran nihh,, main cast Shinee ny belum muncul,,, bakalan pairingan sama siapa tuhh si Soeyoung,, Key atw Minho!! Atau yg lain,,

    serruu!! ditunggu lanjutanya!! Semangat!!

  5. omona!
    Dia nggak tau SHINee, tak jitak kamu ke~ke~ke
    Uwaaaa… Mau dong jadi boy sitternya jonghyun, upss… Hehe, I’m waiting for the next part unnie..^^

  6. -_______-“…
    msa gg tau shinee t lhoo..yg slh 1 member.a(minho) pacarku#plak

    aq juga mauu..jadi boy sitter.a shinee dgn gaji kira” Rp. 8.000.000..wkwkwk..berkali” lipat thu keuntungannya..xDD
    qra: seoyoung nanti ma sapa yah??minhokah?keyka?taemkah?onewkah?jjongkah? ato malah managernya?#GJ

    seruu.. aq tgu next part.a ^o^

  7. widiihh..,
    bsar bnget tu gaji,,
    klo kyk gni critanya, aku jga mau,
    udah ketmu SHINee,
    dgaji lgi,,,
    ah keren,
    lanjuuuttt……

  8. Uoooowwww asik amet jd boys sitter shinee
    Pengen…tp syg gw ga bakat ngurus org… Ngurus diri sndiri aja msh susah…#curcolgaje
    Ahahaha mantep nih ditunggu kelanjutannya segera thor^^

  9. author jang!!!!
    ide crtanya kreatif…
    polos bgt dech c seoyong “oppa..shinee itu apa?”
    ngakak guling2 aq bacanya
    ini bkal jd slsh satu ff yg aq kangenin lanjutannya….

  10. waahhh….. thorr si seoyong polos abis , kalo menurut aku audisinya ditanya shawol atau bukan karena kalau shawol bukannya kerja malah histeris , 1 juta won banyak tuh ! nanti kalo seoyong keterima gajinya bagi – bagi , ya ! >_< kedip – kedip ke seoyong.

  11. kalau bnran ada audisi kya gtu aku bkal daftar paling pertama…
    kyaaaaaaaaa onew im comiiiiiiiiiiiiing…

    py menurut aku malah yg dicari yg bukan shawol..cos kalau shawol tar malah lebih riber…ga profesional cos terlalu sibuk fangirling….

  12. ahhh nyesel baru baca nih ff …
    ffnya kerennn !!! aku suka …
    anak2 yang tangguh, huwaaa ckckck terlalu sibuk untuk menonton dan mengetahui dunia… heheheheh
    ayoo..ayoo.. lanjutannya jgn lama2 … ^^

  13. Annyeong ! Saya readers baruuu…
    Karna masih baru jadi aku bacanya dari ff yg lama.. Hehehe..
    Ceritanya bagus ! Semoga bisa di post sampe selesai !!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s