My Confession : My Feeling [1]

My Confession (Part 1-My Feeling)

Author             : Papillon Lynx

Tittle                : My Confession Part 1-My Feeling

Main Cast        : Park Nahra, Lee Jinki, Kim Kibum aka Key

Support Cast    : Aita Rinn, Han Nhaena, Im Yoora

Genre              : Romance, Sad, Friendship

Rating              : PG-15

Length             : Twoshoot

A.N                  : Perkenalkan, aku Papillon Lynx. Aku author freelance di sini. Ini sebenarnya adalah ff ketiga yang aku buat. FFku sebelumnya itu sequel semua, jadi ini adalah pertama kalinya aku buat ff twoshoot. Cerita ini asli hasil buah karya pikiranku. Jadi, maaf ya kalau ceritanya belum bisa perfect seperti yang readers harapkan. Jadi aku butuh kritik, komentar dan saran kalian buat memperbaiki kesalahanku. Oke deh, langsung aja ya. Happy reading!! Gomawo.. J

 

@@@

All POV is Park Nahra’s POV

            Liburan akhir semester akhir kelas sepuluh telah usai. Ini adalah hari dimana aku, Park Nahra, harus berangkat ke sekolah untuk melihat pengumuman kelas. Ya, ini adalah tahun keduaku bersekolah di senior high school. Dan berdasarkan nilai rapor yang 3 minggu lalu aku dapatkan saat penyerahan rapor oleh wali kelasku, aku dinyatakan naik dengan nilai yang memuaskan dan masuk ke kelas jurusan ilmu sosial, sesuai harapanku.

            Aku memang menjadi salah satu murid yang berbeda dari murid-murid kebanyakan. Di saat hampir seluruh murid ingin dan memilih kelas jurusan pengetahuan alam di tahun kedua mereka pada saat pengisian kertas angket, aku justru dengan yakin memilih kelas jurusan sosial. Alasannya sederhana, karena aku merubah cita-citaku yang ingin menjadi dokter kandungan menjadi seorang psikolog. Entah kenapa, semenjak seorang sunbae yang tidak begitu akrab denganku memberitahuku betapa mengasyikannya kuliah mengambil jurusan kelas psikolog. Dan, singkat cerita, aku pun tertarik.

            Aku sampai di gerbang utama sekolah. Jam tangan ungu yang kupakai di pergelangan tanganku masih menunjukan pukul 06.20 pagi. Suasana sekolahku masih sangat sepi. Dan berkabut karena semalam hujan turun cukup deras. Dan juga belum banyak murid yang datang.

            Aku merapatkan jaket yang kupakai agar sedikit rasa hangat bisa mengurangi udara dingin yang sepertinya selalu mengikutiku semenjak aku keluar dari rumahku tadi. Sambil berjalan menyusuri koridor-koridor, aku juga merapikan dandanan dan seragamku. Anggap saja hari ini adalah hari Kamis. Dan aku mengenakan seraham identitas sekolahku dengarn rok berwarna krem dan kemeja putih.

            Walaupun aku sudah naik ke kelas sebelas, tapi aku masih belum tahu aku masuk ke dalam kelas sebelas berapa. Dan seperti yang aku katakan tadi, hari ini di sekolah memang jadwalnya aku dan murid-murid lain melihat hasil pengumuman kelas untuk setahun mendatang.

            Karena bingung harus menunggu dimana dan karena masih terlalu pagi, akhirnya aku mengirim sms pada Jinki Oppa, namjachinguku. Ya, kami sudah dua tahun lebih berpacaran. Kami sama-sama naik ke kelas sebelas, tapi dia lebih tua dariku. Anggap saja seperti itu. Tapi sayangnya, kami berbeda kelas.

To: Nae Chagiya, Jinki Oppa..

Jinki Oppa.. Sudah sampai sekolah? Oppa menunggu di kelas mana? Aku bingung nih..

 

Beberapa saat setelah smsku terkirim, ponselku pun bergetar menandakan ada sms masuk.

From: Nae Chagiya, Jinki Oppa..

Ne. Baru saja aku masuk kelas. Ya, menunggu di kelas yang sesuai dengan jadwal waktu masih kelas sepuluh saja. Kalau aku sih menunggu teman-teman kelas sepuluhku di ruang bahasa mandarin.

 

Setelah aku membaca sms dari Jinki Oppa, aku membuka tasku dan mengambil selembar kertas dari dalamnya. Kertas jadwal pelajaran. Dan di sana tertulis, jam pertama untuk hari Kamis saat aku masih kelas sepuluh bertempat di ruang bebas 1.

            Aku menatap ke sekeliling. Sekarang aku masih berada di koridor dekat ruang seni. Aiish.. Jauh sekali dari ruang bebas 1!! Aku harus melewati deretan toilet dan lapangan basket?! Aigoo.. Ya sudahlah tak apa. Batinku kesal.

            Aku pun memasukkan kertas jadwalku ke dalam tas dan menyimpan ponselku ke dalam saku rokku. Aku berjalan lagi menyusuri toilet dan lapangan basket. Dan tibalah aku di kelas yang seharusnya.

            Saat aku berada di depan ruang kelas bebas 1, aku menghentikan langkahku. Mataku menangkap sosok seorang namja yang sangat aku kenal berjarak beberapa kelas dari kelasku di sebelah kiriku. Kulihat namja itu juga sedang melihat ke arahku. Jinki Oppa! Batinku. Ruang kelas bahasa mandarin dan ruang kelas bebas 1 memang hanya dipisahkan oleh beberapa kelas.

            Aku tersenyum. Kulihat dari kejauhan pun dirinya ikut tersenyum. Dia duduk sendiri di bangku depan kelasnya sambil mengenggam ponselnya. Sepertinya teman-temannya pun belum datang. Batinku.

Setelah melihatnya untuk beberapa saat, aku pun masuk ke dalam kelas. Sepi. Tapi ini adalah pemandangan yang sudah wajar bagiku. Aku memang biasa berangkat lebih awal dari teman-temanku. Dan hasilnya, teman satu kelasku selalu mengingatku sebagai Park Nahra murid yang paling awal datang dan menempati ruang kelas. Entah itu pujian atau apa. Tapi aku tidak mempedulikannya.

            Aku duduk di bangku nomer tiga dari depan di barisan bangku kedua dari pintu kelas yang berada di sebelah kanan kelas. Aku meraih ponselku dan mendengarkan mp3 lagu kesukaanku dari sana. Aku melipat kedua tanganku di atas meja, dan aku sandarkan dahiku di atasnya. Yang terakhir, aku pun memejamkan kedua mataku, menikmati alunan musik dari lagu yang sedang kudengarkan dari ponselku.

            TAP! TAP! TAP!

            Kudengar langkah sepatu mendekatiku. Dan bisa kutebak siapa yang datang. Karena hampir setiap hari selama setahun ini aku berada di kelas sepuluh, dia lah teman satu kelasku yang mendapat rekor kedua datang paling awal setelahku.

            Aku mendengarnya meletakan tasnya di atas meja sebelah kiri bangkuku. Sedikit aku merasa terusik dengan kedatangannya sehingga membuatku mengangkat kepalaku, untuk melihat sosoknya.

            Kim Kibum atau biasa dipanggil Key. Dia adalah teman satu kelasku semenjak aku dan dia masih duduk di junior high school. Karena itu, kami cukup dekat dan kedekatan kami digosipkan teman-teman kalau kami memiliki hubungan lebih dari sekedar bersahabat. Tentunya, gosip itu sempat sukses membuat Jinki Oppa terganggu dan terkadang mencemburui kedekatanku dengan Key. Padahal Key dan Jinki Oppa juga berteman baik. Tapi setelah aku menjelaskan semuanya, Jinki Opp bisa sedikit mengerti.

            Aku melihat Key duduk di bangkunya, tepat di sebelah kiri bangkuku. Kulihat dia menyeringai kecil ke arahku. Aku mengangkat satu alisku dan menatapnya bingung dengan tatapan –ada-masalah-denganku?-

            ‘’Nahra-ah..’’ panggilnya ketika aku sudah mengalihkan pandangan mataku darinya. Aku memainkan ponselku dan tidak menghiraukan panggilannya.

            ‘’Ya! Nahra-ya!’’ Kini dia memanggilku dengan nada suara yang sedikit meninggi dari sebelumnya. Aku menoleh, menatapnya.

            ‘’Wae?’’ tanyaku malas.

            ‘’Semalam kau insomnia lagi? Kau tadi tertidur lagi kan?’’ tanyanya sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku.

            ‘’Ne.’’ aku menjawabnya singkat. ‘’Wae?’’

            ‘’Aiish! Berhentilah berkata irit denganku. Apa kau marah?’’ tanyanya dengan alis berkerut.

            ‘’Anni. Aku hanya menjawab apa yang kau tanyakan saja.’’ Entah kenapa aku sedang malas menanggapinya. Apa dia tidak tahu apa kesalahannya padaku?! Semalam dia tidak membalas smsku padahal aku ingin curhat dengannya! Huh, menyebalkan sekali!

            ‘’Apa karena semalam aku tidak membalas smsmu?’’ tanyanya lagi membuatku memutar kedua bola mataku, merasa kesal. Sudah tahu malah tanya!

            ‘’Menurutmu?’’ aku justru balik bertanya. Ingin tahu apakah dia merasa bersalah atau tidak telah mengacuhkan sahabatnya ini.

            ‘’Aigoo.. Mianhae. Aku sedang menghemat pulsaku. Takutnya hari ini aku tidak bisa sms-an dengan Raena.’’ Mwo?! Raena lagi? Cih, baru saja pedekate dengan hoobae itu, lagaknya seperti sudah jadian saja!

‘’Ne, ne, arasseo. Kau memang sepertinya sudah tidak bisa diandalkan untuk menjadi sahabatku lagi. Bahkan membalas smsku pun sekarang kau enggan.’’ Aku mencoba untuk bersikap setenang mungkin di hadapannya walaupun rasanya aku ingin sekali menonjok mukanya yang sok keren itu. Dia baru saja putus dari pacarnya, Ahra, tapi kenapa secepat ini dia bisa mendapatkan cinta yang baru?? Dengan hoobae pula. Apa luka di hatinya mudah sekali terobati? Oke, hubungannya yang berakhir dengan Ahra memang kesepakatan mereka berdua, tapi aku merasa ini tidak benar. Aku takut dia akan tersakiti lagi.

 Ini adalah kali kedua percintaannya berakhir putus di tengah jalan. Dan bisa aku rasakan betapa sakitnya perasaanya. Tapi kenapa sekarang dia sok kuat dan malah dengan santainya mengincar yeoja lain? Aku tidak mengenalnya sekarang. Apa dia sengaja mengubah sifatnya menjadi playboy agar rasa sakit hatinya menghilang? Itu cara yang aneh menurutku.

            Aku menatapnya dengan tatapan jengkel untuk beberapa saat. Kulihat dia menatapku dengan tatapan mata yang sayu. Apa maksudnya, sih? Kenapa tatapannya seperti itu??

            ‘’Mianhae..’’ katanya lalu beranjak pergi dan keluar dari kelas. Apa sebenarnya yang dia pikirkan? Aku peduli padanya. Hajiman, kenapa dia tidak mau membagi rasa sakitnya denganku? Apa yang kamu pikirkan, Kim Kibum?? Batinku bingung.

@@@

            Pengumuman pembagian kelas sudah ditempel di papan pengumuman. Hampir seluruh anak di kelasku langsung lari berhamburan untuk melihatnya. Temasuk kedua teman sekelasku, Aita Rinn dan Han Nhaena (anggap saja begitu), juga ikut berlarian keluar dari kelas. Lagi-lagi aku memutar bola mataku. Sebegitu hebohnya kah?

            Aku melihat Key tidak ikut keluar kelas seperti teman-teman yang lain. Dia hanya duduk di bangkunya dan tatapannya kosong. Apa aku keterlaluan dengannya ya? Apa perkataanku tadi terlalu kasar? Aiish.. Lebih baik aku tanyakan saja padanya.

            Aku pun meraih ponselku yang tergeletak di mejaku. Aku mulai mengetikan huruf-huruf dan aku kirim sms itu.

To: My Best Friend, Key..

Mianhae.. Sepertinya kata-kataku keterlaluan.

 

Sesaat setelah itu pun sms balasan darinya masuk.

From: My Best Friend, Key..

Gwenchana, Nahra-ah.. Seharusnya aku yang minta maaf. Jeongmal mianhae..

Begitu membaca sms darinya aku pun menghembuskan nafasku perlahan.

To: My Best Friend, Key..

Kau tidak ingin melihat pengumuman?

            Sms terakhirku tidak dibalas. Tapi Key justru bangkit dari duduknya dan berjalan mendekatiku.‘’Bagaimana denganmu? Kenapa masih santai duduk di sini?’’ tanyanya.

Aku hanya meringis kecil menanggapi pertanyaannya. Dan kulihat dia tersenyum lalu keluar dari kelas. Sepertinya ingin melihat pengumuman. Baru ingin, tepatnya. Wae? Mungkin, alasannya sama denganku. Yaitu, malas berdesak-desakan.

            Aku pun bangkit dari dudukku karena kulihat kerumuman murid di sekitar papan pengumuman sudah berkurang. Aku berjalan mendekati papan pengumuman itu dan mulai mencari-cari namaku berada di kelas apa.

            PARK NAHRA                                     XI IPS 4

 

            Lagi-lagi angka empat. Sepertinya angka keberuntunganku memang itu. Lalu, aku mencoba mencari nama Key di pengumuman itu.

            KIM KIBUM                             XI IPA 4

 

            Wah, sepertinya angka keberuntungannya juga empat. Batinku.

            Dan ada satu nama lagi. Aku ingin tahu dimana kelas Jinki Oppa.

            LEE JINKI                                 XI IPA 4

           

            OMO?! Jadi mereka berdua berada di satu kelas yang sama? Aiish.. Menyebalkan! Aku sendiri-sendiri berada di kelas yang berbeda! Rutukku kesal.

            Aku tidak memperhatikan keadaan di sekitarku karena aku terlalu sibuk melihat hasil pengumuman di papan. Dan saat aku tidak sengaja menoleh ke samping kiriku, aku melihat Jinki Oppa berdiri di sana. Jarak kami sangat dekat. Dan sepertinya dia lebih dulu menyadari keberadaanku. Sontak aku memalingkan wajahku dan menjauh dari papan pengumuman. Entah kenapa, aku merasa canggung beradadi dekatnya sekarang.

            Jarak kami bertambah. Namun aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Kulihat dia dengan seorang temannya sedang asyik melihat hasil pengumuman dan sesekali tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas.

            Tiba-tiba kurasakan seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik dan mendapati dua yeoja dengan tampang kesal sedang menatapku.

            ‘’Kita pisah kelas, Nahra-ah.. Huwaaa!!!’’ kata Aita kesal. ‘’Aku masuk kelas ips 2.’’ Tambahnya.

            ‘’Kalau aku masuk kelas ips 1. Aku bingung nih. Nanti teman sebangkuku siapa ya?’’ kata Nhaena dengan tampang cemas.

            ‘’Ya! Biasa saja sih..’’ komentarku pada sikap mereka yang berlebihan.

            ‘’Ahh.. Neo nomu kinjja!’’ rutuk Aita kesal padaku.

            ‘’Aiish.. Kita kan sejurusan. Tenang saja. Justru kita akan lebih sering bertemu.’’ Kataku mencoba menenangkan mereka.

            ‘’Ne, ne, arasseo.’’ Jawab Nhaena dengan tampang pasrah.

            ‘’Ahh.. Hajiman, senang juga ya sekarang kita sudah punya adik kelas. Hehe..’’ ucap Aita sambil menepuk kedua tangannya lengkap dengan ekspresi girangnya. Adik kelas? Cih, aku jadi ingat si Raena itu!

            ‘’Apa kau merasa senang akhirnya kau bisa menjadi sunbae juga dalam panahan?’’ tanyaku penuh selidik.

            ‘’Ya! Tentu saja! Kau juga begitu kan? Kau pasti akan sibuk mengajari para hoobae bernyanyi. Kudengar ada acara sekolah yang membutuhkan grup paduan suaramu untuk menyumbang mengisi acara beberapa hari lagi kan?’’ balas Aita.

            ‘’Ne. Tapi aku tak seheboh dirimu.’’ Tanggapku.

            ‘’Grup paduan suara kita kan tidak membuat selebaran pada saat promosi ekskul. Aku ragu akan banyak hoobae yang bergabung.’’ Ucap Nhaena.

            ‘’Hm.. Tenang saja. Hampir semua orang suka menyanyi , kok.’’ Kataku meralat ucapan Nhaena.

            Aku melihat kedua temanku itu menganggukan kepala, setuju dengan pendapatku. Kini mataku kembali mengamati Jinki Oppa. Aku melihatnya menjauh dan pergi dari papan pengumuman dengan temannya. Jinki Oppa berjalan melewatiku. Wae? Kenapa dia acuh seperti itu? Ada apa dengannya? Batinku sedih.

            Aku, Nhaena dan Aita masuk ke dalam kelas, berniat ingin mengambil tas kami dan pulang. Saat aku akan berjalan keluar kelas ingin pulang, Key memanggilku, ‘’Nahra-ya!’’ Aku segera membalikkan badanku.

            ‘’Mworago?’’ tanyaku to the point.

            ‘’Kau masuk kelas apa?’’ tanyanya.

            ‘’Ips 4. Kau berbaik-baiklah dengan namjachinguku. Arasseo? Annyeong!’’ Setelah mengatakan itu aku pun pergi meninggalkannya bersama Nhaena dan Aita yang sudah menungguku di depan pintu kelas.

            ‘’Ada urusan apa dia?’’ tanya Aita saat kami bertiga sudah berjalan pulang.

            ‘’Hanya bertanya aku masuk kelas apa.’’ Jawabku singkat.

            ‘’Kalian berbeda kelas ya?’’ kini giliran Nhaena yang bertanya.

            ‘’Geurae. Dia tidak mungkin memilih jurusan ips. Dia memang dilahirkan dengan otak anak ipa.’’ Jawabku lagi dan aku melihat Nhaena yang berjalan di samping kananku membentukkan bibirnya seperti huruf ‘O’ menanggapi jawabanku.

            ‘’Wah, suatu keajaiban!’’ Tiba-tiba Aita berkata dengan wajah girangnya membuatku dan Nhaena sontak menatapnya kaget.

            ‘’Itu berarti akhirnya kalian bisa tidak sekelas juga setelah dua tahun berturut-turut.’’ Tambahnya sambil menatapku dengan tatapan mata yang berbinar. Aku mengangkat satu alisku.

            ‘’Apa maksudmu?’’ tanyaku dan Nhaena bersamaan.

            ‘’Selama ini sepertinya kau terkena kutukan selalu sekelas dengannya. Jadi ini adalah suatu keajaiban!’’ Ingin rasanya kujitak kepala temanku yang satu ini! Daya imajinasinya semakin bertambah parah semenjak dia mengoleksi dan membaca novel bergenre fantasy yang membutuhkan daya imajinasi tingkat tinggi. Dan beginilah hasilnya si Aita ini..

            ‘’Eh, aku dijemput. Tuh, Eommaku. Annyeong!’’ Nhaena berlari menghampiri ibunya yang menjemputnya dengan motor. Dan kini tinggalah aku berdua dengan Aita. Kami bertiga biasanya pulang bersama menggunakan bis. Dan untuk mendapatkan bis, kita harus berjalan sekitar 500 meter dari sekolah ke tempat pemberhentian bis.

            ‘’Nahra-ah.. Ada yang ingin kutanyakan padamu.’’ Tiba-tiba saja Aita berkata seperti itu. Kenapa? Nada suaranya terdengar serius. Aku menatapnya dengan tatapan –mau-tanya-apa?-

            ‘’Apa kau menyukai Key?’’ DEGH! Aku sedikit tersentak mendengar pertanyaannya. Aku segera memalingkan wajahku dari jangkauan tatapannya. Aku tidak ingin dia melihat ekspresi gugupku.

            Sejenak aku terdiam. Memikirkan apa pertanyaan Aita itu benar atau tidak. Tapi entahlah, aku juga bingung apa jawabannya. Akhirnya, aku memilih untuk mengelak.

            ‘’Anniyo. Apa kau sudah gila? Aku tidak mungkin menyukai namja itu. Hahaha.. Aneh sekali kau hari ini.’’ Kataku pura-pura.

            ‘’Sikapmu yang salah tingkah seperti ini justru membuatku semakin yakin kalau kau memang benar menyukainya, Nahra-ah..’’ Aku menghentikan langkahku. Begitu pula Aita. Aku menatap matanya dalam dan berpikir, apa benar begitu? Batinku.

            ‘’Hajiman, aku sudah memiliki Jinki Oppa.’’ Aku masih mencoba mengelak. Tapi setengah hatiku sudah membenarkan pendapatnya.

            ‘’Ne, arasseo. Kau memang sudah berpacaran dengan Jinki. Dan aku tidak meragukan perasaanmu padanya. Tapi menurut pengamatanku, kau juga menyukai Key. Walapun perasaanmu pada Key itu tidak sedalam dibandingkan dengan perasaanmu pada Jinki.’’ Jelasnya lagi dan membuatku berpikir untuk ke sekian kalinya. Aku masih diam. Bingung harus berkata apa.

            ‘’Kau memang benar menyukai Key, Nahra-ah.. Kau memiliki perasaan khusus terhadap dua namja sekaligus. Aku tahu penyebabnya kenapa kau sampai bisa menyukai Key. Itu semua karena Jinki terlalu sibuk dengan kegiatan sekolah dan sedikit melupakanmu. Bahkan waktu itu kau pernah mengeluh kalau Jinki jarang sekali mengirimu sms dan jarang ada waktu untuk bertemu denganmu kan? Kau juga bercerita padaku kalau akhir-akhir ini kalian sering bertengkar. Itu sebabnya kau merasa kesepian dan keberadaan Key yang selalu menghiburmu membuatmu tanpa sadar membiarkan Key masuk ke dalam hatimu. Kedekatanmu dengan Key itu aneh, Nahra-ah.. Jika kalian memang hanya bersahabat, perhatian yang kalian beri satu sama lain tidak akan seperti ini, bukan? Kau tahu, saat kau pingsan di kelas karena kelelahan, satu-satunya namja yang membantu membawamu ke ruang kesehatan hanyalah Key. Dan juga saat kau berulang tahun, bukankah dia mau menemanimu pergi jalan-jalan dan mentraktirmu makan? Itu aneh, Nahra-ah..’’ katanya panjang lebar. Baru kali ini aku melihat ekspresi wajah Aita yang begitu serius. Sepertinya, dia memang benar. Apa yang dia ucapkan bukan lagi pendapat, tapi fakta. Aku juga bisa merasakan keganjilan itu. Hajiman..

            ‘’Dan juga kau rela membelikannya baju saat ulang tahunnya kan? Kau juga sangat peduli bahkan ikut merasa sakit hati saat dulu pacar pertama Key menyelingkuhinya dan beberapa hari lalu saat Ahra dan Key juga berpisah kau ikut-ikutan bersedih. Kau ikut merasakan sakit kan? Itu bukan sekedar perasaan simpati, Nahra-ah.. Kau bahkan mencoba mencari tahu informasi kedekatan Ahra dengan namja lain dan merasa kesal begitu tahu bahwa informasi itu benar. Apa kau tidak sadar? Aku bahkan sudah sejak awal menyadarinya, Nahra-ah..’’ kata-kata Aita membuatku berpikir keras. Kepalaku menjadi pusing dibuatnya. Air mataku sudah mengucur deras. Kenyataan ini mempersulitku. Aku bahkan tak percaya kalau sekarang 100% hatiku sudah membenarkan perkataan Aita. Tapi Key itu..

            ‘’Jangan mengelak lagi, Nahra-ah. Kau memang benar menyu-‘’

            ‘’Ne. Aku memang benar menyukainya! Tapi Key tidak pernah menyukaiku!’’ Aku memotong perkatannya dengan nada setengah berteriak. Aku tak sanggup mendengar Aita mengatakan kalau aku memang menyukai Key berkali-kali. Bahkan perasaanku sudah sejak awal bisa terbaca olehnya. Kenapa aku yang memiliki perasaan ini justru selama ini tak bisa menyadarinya?? Apakah mungkin sebenarnya aku sudah sadar dari awal tapi aku mencoba menepisnya?? Entahlah.. Ini terlalu rumit.

            ‘’Key tidak menyukaiku, Aita-ah. Jadi stop! Jangan persulit aku. Jangan katakan lagi kalau aku menyukainya. Itu tidak berarti apa-apa. Justru kau malah akan membuatku merasa sebagai seorang pengkhianat karena pada kenyataannya aku telah berani menyukai namja lain, selain Jinki Oppa. Hentikanitu sekarang. Dan jangan buat aku mengingat masalah ini. Toh, aku dan Key tidak akan sekelas lagi, dan aku yakin kedekatanku dengannya akan sedikit demi sedikit berkurang karena perbedaan jarak dan waktu. Untunglah dia berbeda kelasku mulai sekarang.’’ Aku mengusap air mataku yang sudah membasahi pipiku. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

            ‘’Apa ini menyiksamu, Nahra-ah? Aku tak tega melihatmu seperti ini. Mianhae..’’ kata Aita dengan nada sarat akan penyesalan. Aku berjalan meninggalkannya sendirian dan aku merasa dia masih berdiam di tempatnya dan terus menatapku dari belakang dengan tatapan nanar.

            Lima langkah aku berjalan, dan kuhentikan langkahku. Aku hanya menolehkan kepalaku ke samping kanan, tak mau membalikkan badanku untuk berhadapan dengannya.

            ‘’Walapun benar ini menyiksaku, memangnya apa yang bisa kulakukan, huh? Pada akhirnya aku akan tetap memilih untuk berada di samping Jinki Oppa dan melupakan perasaanku ini dengan Key. Aku, akan berusaha menghapusnya.’’ Kataku dengan suara yang serak dan melanjutkan langkahku.

@@@

            Seminggu sudah sejak kejadian hari itu. Dan ini adalah hari pertama aku masuk sekolah di kelas sebelas. Aku duduk bersama teman yeoja yang dulu juga satu kelas denganku, tapi dulu kami tidak begitu akrab. Namanya Im Yoora. Dia adalah yeoja yang manis dan sangat menyukai fotografi. Walaupun dia memiliki sifat yang pendiam, tapi menurutku dia bukanlah orang yang membosankan. Aku senang bisa memiliki kesempatan berteman dengannya.

            ‘’Hari ini sepertinya pelajaran kosong lagi.’’ gumamnya. Aku pun yang sedang sibuk memainkan ponselku segera menoleh ke arahnya. Kulihat dia juga sibuk dengan ponselnya. Aku melirik jam dinding di kelasku. Sudah pukul 8 lewat tapi kenapa belum ada guru yang masuk? Hm.. Sepertinya benar kata Yoora. Batinku.

            Kulihat beberapa murid namja di kelasku juga masih santai-santainya bersenda-gurau di depan kelas. Aku mendengus kesal. Keadaan seperti ini sungguh membosankan. Tiba-tiba terlintas ide di pikiranku. Bagaimana kalau aku mencoba mengirim sms pada Jinki Oppa saja? Siapa tahu di kelasnya juga sedang pelajaran kosong. Aku pun mengambil ponselku dan mengetikkan sebuah sms untuknya.

To: Nae Chagiya, Jinki Oppa..

Oppa, di kelasku sedang pelajaran kosong nih.. Di kelas Oppa juga sedang pelajaran kosong tidak?

 

3 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit berlalu..

Hm.. Kenapa dia tidak membalas smsku? Oh, mungkin saja di kelasnya sudah ada guru yang masuk mengajar. Ya sudahlah..

Tiba-tiba terlintas lagi ide di pikiranku. Bagaimana jika aku sms Key saja ya? Aku ingin memastikan apakah benar di kelas mereka sudah ada guru yang mengajar? Tapi.. Aku kan berniat akan melupakan Key. Kalau aku berhubungan lagi dengannya, aku tak kunjung bisa melupakan perasaanku ini padanya. Aiish.. Eottokhae? Aku penasaran sekali. Ah, sudahlah. Kucoba saja..

To: My Best Friend, Key..

Key-ah.. Di kelasmu sudah ada guru yang mengajar belum?

            DRRT.. DRRRT..

            Ada sms masuk? Dari Key kah atau dari Jinki Oppa?

            Aku segera membuka kunci layar ponselku dan membaca sms yang masuk.

From: My Best Friend, Key..

Eopsseo. Wae? Di kelasmu juga ya?

            DEGH! Di kelasnya belum ada guru yang mengajar? Bahkan Key juga bisa membalas smsku. Tapi kenapa Jinki Oppa tidak membalas smsku? Sedang apa dia?? Tanyaku dalam hati.

To: My Best Friend, Key..

Jinccayo? Aah, aku hanya bertanya saja, kok. Eh oya, apa Jinki Oppa ada di situ?

 

From: My Best Friend, Key..

Ne. Ada, kok. Jinki sedang asyik memainkan laptopnya. Waeyo, Nahra-ah?? Ada masalah?

 

            Mwo?! Smsku tidak dibalas tapi Jinki Oppa malah sedang sibuk sendiri dengan laptopnya? Apa susah sekali membalas smsku? Hm.. Kenapa? Batinku sedih.

            Mood-ku rusak total. Suasana kelas yang membosankan bertambah buruk dengan suasana hatiku yang tak tentu. Aku bingung dengan sikap Jinki Oppa akhir-akhir ini. Kenapa dia selalu mengacuhkanku? Bahkan di saat dia punya waktu luang pun dia tidak berusaha untuk mengabariku. Wae, Jinki Oppa? Apa aku mempersulitmu sekarang? Apa kau, sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadapku?

            Air mataku luruh sudah. Kubiarkan air mata ini terus mengalir, hingga menetes jatuh ke bukuku. Suara tangisku yang sebenarnya aku tahan ternyata justru membuat Yoora menyadarinya.

            ‘’Waeyo, Nahra-ah? Kau sakit? Kenapa menangis?’’ tanyanya polos. Aku menatapnya sekilas. Nafasku seperti tercekat. Aku tidak bisa bernafas dengan normal sekarang. Sesak, perih. Inilah yang aku rasakan sekarang. Apakah ini hukuman bagiku karena aku telah lancang, berani menyukai namja lain? Anni, aku tidak pernah berniat dan sengaja melakukannya. Ya Tuhan.. Jebaaaaall! Kenapa di saat aku berniat akan melupakan perasaanku pada Key, Jinki Oppa malah menghindariku?? Apa salahku?

            ‘’Ne, Yoora-ah.. A-aku s-sakit. Sakit seka-kali. Di sin-ni.’’ Jawabku tersendat-sendat karena menahan tangis sambil menunjuk dada kiriku dengan jari telunjukku.

@@@

            Dua jam sudah aku terbaring di ranjang ruang kesehatan ini. Badanku lemas. Mataku perih dan masih terasa panas. Baru sekitar setengah jam yang lalu tangisku ini berhenti. Mungkin air mata yang aku punya sudah terkuras habis karena terlalu lama menangis.

            DRRT.. DRRRRTTT..

            Ponselku bergetar lagi. Aku mengambil ponselku dari saku kemejaku. Siapa sih yang sms aku? Keluhku malas.

From: My Best Friend, Key..

Nahra-ah.. Neo gwenchana?? Kenapa smsku tadi tidak kau balas lagi?

 

            Key-ah.. Kenapa kau selalu baik dan perhatian padaku? Kenapa di saat seperti ini justru kau yang mengkhawatirkanku? Kenapa?? Dimana Jinki Oppa? Kenapa bukan dia saja yang mengkhawatirkanku?

To: My Best Friend, Key..

Sekarang aku di ruang kesehatan, Key. T.T

Aku sedang tidak enak badan. Mianhae..

 

            Mataku lancang mulai berkaca-kaca lagi. Pabo! Nan paboya! Kenapa aku jadi cengeng sekali sih?! Rutukku pada diriku sendiri.

            Sebisa mungkin aku menahan tangisku. Aku tidak mau membuat mataku semakin bengkak hanya karena masalah ini. Aku harus lebih tegar.

From: My Best Friend, Key..

Mwo? Aiish! Paboya! Kenapa bisa sakit lagi? Makanlah yang banyak, Nahra-ah.. Jangan merusak tubuhmu yang sudah kurus seperti itu. Jangan sering sakit, ne?

 

            Aku tersenyum begitu membaca sms darinya ini. Dia memang sahabat terbaik yang aku punya. Hajiman, entah kenapa ada perasaan sedih yang masih bisa aku rasakan. Tiba-tiba saja perasaan itu datang dan terus membuatku khawatir. Aku mulai takut kehilangannya. Aku mulai takut kehilangan sosok Key.. Apa sekarang perasaan sukaku padanya justru semakin kuat? Tapi, bagaimana dengan perasaanku dengan Jinki Oppa?

            Aku memejamkan kedua mataku perlahan. Sudah! Cukup! Aku tidak mau pikiran-pikiran ini berhasil memenuhi isi otakku.

            Kubiarkan sms  terakhir Key tanpa kubalas. Mataku sudah terlalu berat. Dan otakku perlu diistirahatkan sejenak. Ya, mungkin tidur akan membuatku lebih baik saat aku terbangun nanti. Semoga..

@@@

            Hangat. Aku merasakan sesuatu yang hangat membungkus tangan kiriku. Apa itu?

            Aku mencoba menggerak-gerakan jemari tangan kiriku perlahan, mencoba mencari jawaban dari rasa penasaranku.

            Perlahan kubuka kedua mataku. Kulihat ke arah samping kananku. Tidak ada siapa-siapa. Dan ini, masih di ruang kesehatan.

            Lalu, kutolehkan kepalaku ke samping kiriku. OMO?! Jinki Oppa?!

            Kulihat Jinki Oppa menggenggam tangan kiriku dengan kedua tangannya dan kepalanya menindih pinggiran ranjangku. Apa, di tertidur? Benarkan ini Jinki Oppa? Aku tidak sedang bermimpi kan?

            Beberapa kali aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku mencoba untuk memastikan apakah aku bermimpi atau tidak. Dan hasilnya, ini nyata! Ini nyata aku melihat Jinki Oppa tengah tertidur di sampingku, menungguiku.

            Seulas senyum kurasakan mengembang di wajahku. Aku senang, ternyata Jinki Oppa menungguku di sini. Tapi, kasihan dia sampai tertidur seperti ini..

            Aku mengangkat tangan kananku perlahan dan menyentuh puncak kepala namjachinguku itu. Kuusap perlahan. Lama sekali aku tidak melakukan ini padanya. Bahkan sepertinya ini adalah yang pertama kalinya aku dan Jinki Oppa bisa bertemu lagi setelah kami naik ke kelas sebelas. Ternyata, aku benar-benar merindukannya.

            Beberapa saat berlalu hingga kulihat kepalanya sedikit bergerak-gerak menandakan Jinki Oppa sudah kembali ke alam sadarnya. Aku mengangkat tangan kananku dan memposisikannya di samping tubuhku.

            Jinki Oppa mendongakkan kepalanya lalu tersenyum sambil menyipitkan matanya ke arahku.

            ‘’Kau sudah bangun, Chagiya?’’ tanyanya begitu posisinya sudah terduduk sempurna. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya.

            ‘’Kau sakit apa, hm? Key yang memberitahuku kalau kau sakit dan berada di ruang kesehatan. Kau tahu, aku sangat cemas begitu mengetahuinya.’’ Key? Aaah.. Geurae! Sudah tentu Key yang memberitahu Jinki Oppa. Siapa lagi?

            ‘’Anni, Oppa. Aku hanya kelelahan saja.’’ Jawabku berbohong.

            ‘’Kelelahan sampai membuatmu menangis dan membuat matamu bengkak seperti ini?’’ Jinki Opp menyentuh pipiku dan mengusapnya lembut. Jinki Oppa menatapku langsung ke kedua bola mataku. Tapi, kenapa dia tahu kalau aku tadi menangis? Apa dia melihatnya?

            ‘’Kenapa Oppa bisa tahu?’’ tanyaku polos.

            ‘’Tadi saat aku baru sampai di sini aku melihat ada bekas air mata di sekitar matamu. Dan matamu terlihat bengkak. Tuh, sampai sekarang juga masih kelihatan bengkaknya.’’ Jinki Oppa mengarahkan jari telunjuknya menunjuk ke kedua mataku. Reflek aku langsung memegang kedua mataku, ingin memastikan perkataannya.

            ‘’Mianhae, Chagiya..’’ Tiba-tiba saja Jinki Oppa meminta maaf. Apa maksudnya?? Kedua alisku pun bertaut.

            ‘’Sepertinya, aku.. Aku sudah tidak bisa meneruskan hubungan kita ini.’’

End of Park Nahra’s POV

 

 

TBC

Gimana ceritanya readers? Aneh ya? Jelek ya? Mianhae.. Soalnya aku masih pemula sih. Hehe.. Tapi tetep, ditunggu lho kritik, komentar dan sarannya. Aku tampung semuanya, asal jangan bashing ya.. Buat part 2, segera ya..

Oya jeongmal gomawo juga udah publish ffku ini ya. Semoga responnya positif.. J

 

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

 

30 thoughts on “My Confession : My Feeling [1]”

  1. tegang bcnya. kkkkkk
    wooaaa jinki mutusin. wae wae… kyknya jinki sdr ya ma perasaan nahra ya klo suka m key
    ayo endingnya ditunggu

  2. gomawo udah baca en comment ffku ini.. 🙂
    sebelumnya, aku sempet pesimis sama ceritanya. aku rasa ini ceritanya aneh en ngga mutu.. T.T tapi ternyata responnya positif.
    buat ending part segera ya.. ^^

  3. Oh iya, buat part terakhir aku ngga tahu bisa dipublish kapan. soalnya jujur aku kirim my confession part 1 ini juga udah dari lama banget en baru sekarang dipublish.. tapi aku usahain hari ini part terakhir aku kirim. tungguin yah..
    makasih buat yang udah muji penulisanku yang rapi.. 🙂 en kalo ada yang udah pernah baca ffku ini emang udah pernah aku publish di fb..
    buat shawolindo, sekali lagi makasih udah mau publish ffku.. ^^

  4. Aduh kepencet ​:D•̃⌣•̃ђε•̃⌣•̃ђε•̃⌣•̃ђε•̃⌣•̃ђε•̃⌣•̃:D..br ngetik kepencet enter nyam di tunggu yah part lanjutan nya thor..seru koq 🙂

  5. oommaaiiggaattt
    ini sih namanya penggalauan massa saudara2
    kenapa tbc-ny bgini??*garuk garuk tembok*
    yawdh dh klu si nahra suka ama key biar Jinki sma akyu sajaa
    hihihi
    lanjuuttt!!!

  6. Di awal agak ngebosenin, tapi pas diakhir bikin penasaran! Geregetan! Aah.. Mudah-mudahan di nahra sama keyyy yeyyy*loh* lanjutin ya thor….. 😀

  7. cwe tuh mang paling lemah sma yg namanya perhatian…
    kalau ada cwo yg perhatian sama kita2 kaum hawa…
    hmpir bsa dipastikan kalau kita bakal suka bahkan cinta sama cwo itu…

    and terakhirnya nyesek bngt…bangun-bangun jinki minta putus..pdhal baru seneng cos jinki nemenin py malah pahit terakhirnya…

  8. omaigaaaahh
    jinki ya! kenapa minta putus sih
    langsung tereak pas baca ending part ini
    aaahh kirain si jinki mau baik baikin si nahra,tau taunya minta putus,wae jinki-ya?
    thor ditunggu next partnya

  9. Ya ampun…onew jangan putusin aq dong #plak ditabok nahra….
    Sumpah thor kirain tadi onew mau minta maaf gr2 gag merhatiin nahra ech ternyata mau mutusin nahra…..sakit thor hbs manis ech pahitnya datang.next part jangan lama2 ya.
    Mianhae thor udah banyak omong #bow

  10. huahahaa complicated bener… tapi.. emang di korea juga jurusan ipa ips yah?? hehe overall bagus kok thor ceritanya apalagi part terakhir bikin penasaran banget

  11. wahhh , aku jd inget sesuatuu baca inii ,…
    kenapaa yahh jd sering ngerasa gmn gtklo shbat cowo kita suka ama orng lain , klo cewe yg di sukain shabat kita kyk na kurang pntes , aduhhhh ,,,, hiksss … pdhal kita juga pnya cowo yg kita sukaa …

    hahahaha
    kyk kisah nyataa cerita na author … hahahhaaa

    nicee,…

    di tunggu part 2 na…

  12. huwaaa suka ceritanya !!!
    aku jadi bener2 ngebayangin situasi sekolah ..
    huwaa key keren!!
    jinki jgn di putusin kasian tau!! ahh !! gpp deh ada key ini !! ^^
    ayooo lanjuttt

  13. Jinki waeyo?
    apa jinki mntukai yeoja lain? atau judsru dia jg sadar prsaan nahra ma key & akhirnya dia milih u/ lepasin key?
    euumm.. tp gpp lah, Nahra nya ma Key aja, Jinkinya ma aku ^^v

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s