At The Beginning With You

Title: At The Beginning With You

Author: HeartLess Veronica

Main Cast: Lee Jinki, Han Ji Eun (OC)

Other Cast: (hanya disebutkan namanya) Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin, Lee Hyo Seok (OC)

Genre: Romance, Adventure, Songfic

Length: One Shot

Rating: General

A.N:

Ini adalah FF yang terinspirasi dari sebuah lagu. Kali ini lagunya Donna Lewis Ft. Richard Mark yang judulnya “At The Beginning” (ketauan author demen banget ama lagu2 jadul)

mungkin banyak yang gatau lagunya,tp kalau penasaran boleh aja sih download and dengerin lagunya.

Sihlakan menikmati FF yang sedikit aneh ini, dan tidak lupa RCL nya ^^

Happy Reading ^^

 

 

(Note: All along this story is Han Ji Eun’s POV)

Aku menatap kembali wajah yang ada di hadapanku sekarang ini. Namja yang sedang tidur di dalam sebuah gerbong kereta,di kursi yang terletak di depan kursiku ini. Aku terus melekatkan pandanganku pada wajah tidurnya yang terlihat innocent dan terlihat damai. Aku hanya tersenyum, masih setengah tidak percaya dengan apa yang kualami sepanjang hari ini. Tepatnya sepanjang 18 jam ini.

——————————————————–

Flashback -18 jam yang lalu- 

Aku melangkahkan kaki ku gontai dari arah loket tiket ke peron. Dimana bisa kulihat dari kejauhan tidak begitu ramai. Usai memasukkan karcis ku ke mesin karcis otomatis,aku kembali melangkah lesu sambil sesekali menghela nafas. Aku mencari tempat duduk yang jauh dari keramaian.

Hari ini aku membawa perasaan tidak tentu rudu bersama diriku. Entahlah, sebenarnya hari ini aku tidak tau ingin bepergian kemana, karena sebenarnya aku tidak punya tujuan spesifik. Aku hanya ingin kabur, kemana saja, asalkan membawaku cukup jauh dari hiruk pikuk kota Seoul ini. Kemana saja asalkan jauuuuh sekali.

Aku hanya merasa sangat muak disini, aku hanya ingin pergi menyendiri beberapa waktu,ya hanya itu. Aku benar-benar sangat lelah dengan keadaan ku ini.

Ya, melarikan diri dan menenangkan pikiran sejenak, hanya itu.

Jujur saja  perasaanku sangat kacau saat ini, sungguh kacau hingga aku sendiri  pun bingung harus bagaimana menjelaskannya. Semua masalah yang aku alami satu persatu menghampiri pikiranku. Keluargaku yang selalu memutuskan segala sesuatu seenaknya,seolah aku ini boneka atau robot yang hidupku sudah di alurkan dan disusun seperti sebuah game yang sudah dirancang alur ceritanya. Tentang rekan-rekan kantor yang sibuk mencemooh dan menusukku dari belakang hanya karena tersebar info bahwa aku adalah putri bungsu dari pemegang saham terbesar di perusahaan -mereka bilang kalau aku nepotisme, semuanya bukan hasil kerjaku melainkan hanya karena aku anak appa ku-. Atau tentang namjachingu ah,tidak maksudku mantanku yang dengan kejamnya mengatakan bahwa selama ini dia memacariku hanya karena kekayaan orangtuaku. Juga tentang sahabatku yang dengan sukses menusukku dari belakang hanya karena pria yang dia sukai menyukai ku.

“Kenapa sih hidup itu serumit ini?” aku berbicara pada diriku sendiri,sehingga tanpa disadari air mataku menetes. Ya, ini airmata pertama yang tertetes dari mataku,setelah menjalani semua ini tanpa mengeluh sedikitpun selama satu tahun. Ya, satu tahun ku pendam semua perasaan ku ini, hingga saat ini aku tak kuasa menahannya lagi. Amarah,kesedihan,kekecewaan, semua bercampur jadi satu.

Aku membiarkan air mataku jatuh semakin menjadi tanpa berusaha menghentikannya ataupn mengelap nya, Entahlah aku hanya berpikir memang ini yang kubutuhkan. Meluapkan segala emosi yang terpendam selama satu tahun ini. Untunglah gerbong kereta ini begitu sepi, sehingga tangisku tidak mengganggu penumpang lainnya.

Tiba-tiba aku mendapati sekotak ayam goreng crispy terpampang jelas di depan mukaku. Kaget? tentu saja! Aku menelusuri tangan yang memegang kotak tersebut hingga sampai kepada wajahnya. Seorang namja berwajah manis dengan senyum ‘gigi kelinci’ dan mata yang tampak menyipit seraya ia tersenyum berdiri di hadapanku menyodorkan sekotak crispy fried chicken sementara di tangan sebelahnya lagi memegang sekotak benda yg sama juga. Aku masih menatap tidak mengerti sampai akhirnya dia mengucapkan sesuatu yang jujur saja membuat aku terbengong.

“Makanlah ini,agassi.. Ayam goreng bisa membuat perasaan sedikit lebih tenang. Ya,setidaknya bagiku” ujarnya sambil tersenyum cengengesan, kemudian memaksa ku mengambil fried chicken yang disodorinya itu. Lalu dia segera duduk di bangku yang berhadapan denganku, menikmati ayam crispy miliknya dengan lahap.

Aku masih menatap dengan heran. Sekarang air mata tidak lagi mengalir dari mataku. Tentu saja? kegalauan itu kini tergantikan oleh perasaan heran dengan seorang namja manis tapi aneh yang tengah asik melahap sekotak fried chicken di hadapanku.

“Ayo makan,kenapa diam saja?” ujarnya lagi saat menemukan bahwa aku hanya duduk diam menatapnya heran

“Ah, ne… gomawo” jawabku pelan lalu memakan ayam itu sedikit demi sedikit sambil sesekali masih menatap dengan tatapan penuh selidik padanya yang hanya melahap ayam dengan gembira daritadi.

……………………………………

“aih nikmatnya” ucapnya dengan nada riang setelah menghabiskan ayam goreng miliknya.

“bagaimana, perasaanmu sudah lebih baik? makan ayam di kala sedih memang sangat menenangkan, ya setidaknya bagiku” ia kini tersenyum dengan manis sekali sampai matanya hanya berbentuk segaris saja. Aku belum mengatakan apa-apa, hanya menatapnya penuh selidik daritadi. Sementara dia hanya berusaha tersenyum setiap aku menatapnya.

“Lee Jinki imnida” dia kini mengulurkan tangannya padaku. Aku lagi-lagi hanya menatap tangannya yang terjulur padaku. Melihat senyum nya yang begitu tulus,akhirnya aku juga menjulurkan tanganku dan menjabat tangannya lalu menjawabnya

“Han Ji Eun” jawabku singkat

“Kau mau kemana? sendirian saja?” tanya nya kini

Aish namja asing ini daritadi mengganggu saja sih,pikirku

“molla” jawabku lagi-lagi singkat

“sama denganku. Aku juga tidak tau mau kemana” jawabnya sambil mengotak-atik rubik di tangannya.

Aku mengalihkan pandanganku ke luar melalui jendela kereta ini. Tengah malam, ya ini memang tengah malam. Aku sengaja memilih kereta tengah malam  ke sebuah desa terpencil yang aku juga tidak tau dimana lokasinya. Saat membeli tiket,aku hanya memberitau petugas loket aku ingin menaiki jalur yang paling jauh dan paling terpencil,kemudian petugas hanya memberi ku tiket ini dan menatapku heran,tetapi tidak berani bertanya apa-apa.

“Mengapa kau memilih jalur terpencil ini?” aku akhirnya memutuskan untuk berbicara. aku rasa tidak buruk juga daripada aku bosan di kereta dengan perjalanan selama 6 jam ini. Lagipula namja ini terlihat baik dan ramah, apalagi dia berusaha menghiburku yang sedang menangis tadi, yah meskipun caranya sedikit aneh sih – dengan sekotak ayam goreng.

“Melarikan diri…. mungkin” jawabnya masih mengotak-atik sebuah rubik di tangannya

“hm?” aku sedikit bingung mendengar jawabannya. Melarikan diri? maksudku.. apa dia buronan atau semacamnya?

“Melarikan diri dari realita.. Maksudku menenangkan pikiran sejenak dan mencoba pergi dari hiruk pikuk kota Seoul” jawabnya lagi kini menatapku dan tersenyum manis.

Tunggu dulu, kenapa bisa sama denganku? Maksudku,, apa yang dialami namja ini? Membuat tujuannya hampir sama denganku – menenangkan pikiran menjauhkan diri dari hiruk pikuk kota Seoul setidaknya utk beberapa saat.

“Apa yang membuatmu… maksudku..” tanyaku sedikit ragu

“Haha… mungkin sedikit capek menghadapi realita” ia kembali tersenyum lagi

“A.. aku juga sama” jawabku ragu

Kini dia tersenyum dengan sangat lebar, membuat dia benar-benar terlihat sangat manis. Seperti kelinci,ah ya benar, kelinci.

“Aku menemukan teman seperjalanan” jawabnya riang

“Ne, bangapseumnida” kini aku bisa mengeluarkan senyumanku padanya setelah benar-benar yakin dia orang baik dan ternyata dia sama sepertiku. Meskipun aku tidak tau alasannya secara keseluruhan,tapi setidaknya aku ada teman, untuk mengobrol sepanjang perjalanan ini.

Aku dan Jinki menghabiskan waktu di kereta dengan bercanda dan melakukan permainan-permainan anak kecil. Jinki adalah seorang yang sangat humoris dan menyenangkan. Dan setelah mengobrol lama dengannya, aku baru tau bahwa dia seumuran denganku, dan dia adalah seorang mahasiswa jurusan musik. Dan dia sangat suka sekali dengan ayam,jenis apapun. Kami menceritakan permasalahan kami masing-masing, apa yang membawa kami sehingga kami ingin sekali rasanya pergi dari Seoul meski hanya sebentar.

Jinki menceritakan padaku bagaimana ia diusir orangtuanya dari rumah hanya karena dia tidak mau mengikuti keinginan orangtuanya untuk meneruskan perusahaan. Bagaimana dia harus bekerja keras setiap pulang kuliah untuk membiayai hidup dan study nya sendiri. Bagaimana ayahnya selalu dengan koneksi nya mengacaukan setiap kesempatan dan peluang yang ada di depan Jinki. Dan juga yeojachingu nya yang ternyata berselingkuh dengan sahabat baiknya sendiri yang bernama Choi Minho, bahkan melakukan sesuatu yang tabu di depan mata kepalanya sendiri. Juga tentang hasil penelitiannya di Rumah sakit tempat dia magang yang susah payah ia buat sampai jatuh sakit,akhirnya dicuri oleh seniornya dan diklaim sebagai karya seniornya itu. Juga terakhir bagaimana hancurnya hatinya saat adik sepupu kesayangannya yang bernama Lee Taemin ternyata adalah seorang pengedar narkoba di sekolahnya dan sekarang di penjara.

Jinki terlihat tetap tegar saat menceritakan semua itu. Meskipun aku bisa melihat dia sangat terluka,tetapi senyumnya tetap merekah indah,seolah semuanya baik-baik saja, sangat berbeda denganku yang selama setahun ini telah berubah menjadi dingin, bahkan tatapan kebencian selalu tercermin dari mataku. Setidaknya itulah kata Kim Kibum, laki-laki yang menyukai ku dengan tulus, dan disukai sahabatku Lee Hyeo Seok. Kibum selalu berusaha mendekatiku. Aku tau dia tulus,tapi aku tak punya perasaan apa-apa padanya. Dan aku malah dengan bodohnya jatuh cinta pada temannya -Kim Jonghyun- yang ternyata hanya memacariku karena status keluargaku. Begitu pabo nya aku terlena dengan semua perlakuannya padaku, bahkan membuat aku Jatuh Cinta.

“Ji Eun-ssi, kita sudah sampai” katanya membuyarkan lamunanku

“Ne? ah ne..” jawabku segera mengambil tasku dan bersiap-siap turun dari kereta.

Aku dan Jinki kemudian berjalan keluar dari stasiun bersama-sama. Hari masih pagi, masih pukul 5.30, dan suasana masih sangat sepi sekali. Cahaya matahari pun belum terlihat. Aku terpana melihat apa yang ada di depanku saat kami berjalan keluar dari pintu stasiun yang kecil dan apik ini.

Pepohonan rindang, bunga-bunga liar yang indah dan udara yang sejuk serta kabut-kabut yang membuat pemandangan pagi hari begitu indah. Ya,sesuatu yang tak akan pernah kau temui di Seoul.

“Ji Eun-ssi” panggil Jinki membuyarkan kekagumanku

“Aish,jangan panggil aku dengan embel-embel “ssi”.. kita kan seumuran?” jawabku keberatan

“ne, ne… Ji Eun-ah” ralatnya

“ne,waeyo? Jinki?” kini aku membalasnya dengan senyum

“kita mau kemana?” tanyanya

“molla” aku mengangkat bahuku,aku juga bingung apa yang mau ku lakukan disini

“baiklah mari kita bersenang-senang sepanjang hari ini” ia tersenyum kemudian menarik tanganku dan mengajakku berjalan

Aku menghirup dalam-dalam udara yang menyejukkan ini. Sungguh menentramkan hati berada di kota kecil ini, kota yang apik dan asri. Sungguh indah mendengar masih banyak suara burung berkicau,dan melihat taman-taman yang terhampar sepanjang jalan.

“Ada penyewaan sepeda disana” Jinki menunjuk ke arah sebuah toko yang bertuliskan “penyewaan sepeda” kemudian menarikku kesana.

“Ahjussi, berapa tarif nya?” tanya jinki pada ahjussi yang sedang duduk di toko tersebut

“Satu jamnya hanya 1000won. kalau kau mau menyewa sepanjang hari,adalah 18.000 won saja” jawab ahjussi itu ramah.

“Ne,kami mau menyewa satu,untuk sepanjang hari” Jinki mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang pecahan 20.000 won kepada ahjussi tersebut,lalu memilih sebuah sepeda yang terlihat bagus dan mempunyai tmpt duduk penumpang di belakangnya dan sebuah keranjang di depannya.

“simpan saja kembaliannya,ahjussi” dia kemudian tersenyum pada ahjussi tersebut dan langsung membawa sepedanya dan menarikku

“kajja, dia kini menaiki sepeda tersebut dan menyuruku untuk duduk di kursi penumpang

“ne,gomawoyo” aku hanya tersenyum kecil lalu duduk di kursi khusus penumpang dengan posisi duduk menyamping

Jinki mengayuh sepeda perlahan di sepanjang jalan,membuat kami menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Pemandangan indah yang asri di pagi hari yang sejuk,di kota kecil yang kami sendiri juga tidak tau namanya.

“hm~~” Jinki bersenandung kecil sambil mengayuh sepeda, dan aku bisa mendengar suaranya begitu indah.

tiba-tiba dia memberhentikan kayuhannya dan menoleh ke arahku.

“Ji Eun, ayo kita kesana, sepertinya menyenangkan” dia menunjuk ke arah sebuah tempat yang ada banyak tenda-tenda dan stand unik dimana terlihat cukup ramai dan sepertinya menyenangkan. Tampak seperti sebuah bazaar. Aku mengangguk dan tersenyum,lalu jinki segera mengayuhkan sepeda ke arah bazaar tersebut. Memarkirkan sepeda di parkiran khusus dan tidak lupa memasang bike lock kemudian menarik tanganku ke bazaar tersebut.

Aku menolehkan pandanganku ke kiri dan ke kanan. Menyenangkan sekali tempat ini, banyak menjual makanan unik, pakaian dan pernak-pernik yang unik,bahkan ada seniman jalanan yang sedang menawarkan jasa melukis, ada juga musisi jalanan yang sedang memainkan gitar dan dikerumuni banyak orang yang memberikan tepuk tangan,bahkan sedikit uang ke dalam tempat uang yang telah disiapkan sang musisi jalanan.

Tenda-tenda disini tersusun rapi dan penjualnya ramah-ramah. Aku dan Jinki menelusuri satu demi satu stand yang ada. Aku baru tau kalau Jinki sangat menyukai seni. Dia menatap dengan kagum sebuah karya seni yang dipajang indah di sebuah stand lukisan.

Kami meneruskan berjalan hingga aku menemukan sesuatu yang menarik perhatianku.

“Kotak musik yang sangat indah” ujarku tak bisa menyembunyikan kekagumanku melihat sebuah kotak musik kecil berwarna hitam yang terlihat antik namun elegan. Kotak musik itu terbuat dari bahan metal yang entah apa namanya dan di dekorasi sehingga seperti pernak pernik ala inggris zaman dahulu.

“Ahjussi,berapa harganya?” tanya Jinki yang menyadari bahwa aku sangat menyukai kotak musik antik ini

“100.000 won… ini adalah barang antik peninggalan zaman inggris dulu,dan batu sapphir kecil yang diatasnya adalah asli” katanya membuatku shock

“tolong bungkuskan dengan bungkusan yang indah untuk nona cantik di sebelahku ini,ahjussi” ia langsung memberikan selembar uang 100.000 won kepada ahjussi tersebut,membuatku menatapnya dengan terkejut

“ya.. apa yang kau lakukan? itu kan uang hasil kerja kerasmu” protesku. Ya,tentu saja, setelah dia bercerita bagaimana dia harus bekerja keras sampai tengah malam setiap usai kuliah demi membiayai dirinya sendiri,mana aku tega membuatnya mengeluarkan uang sebanyak itu hanya demi aku yang sebenarnya memiliki cukup banyak uang di dompetku (tepatnya uang dari kekayaan orangtuaku)

“gwenchana, untuk yeoja cantik yang sedang bersedih ini” dia malah menghadiahi ku sebuah senyuman tulus yang sukses membuat jantungku berdetak ribuan kali lebih cepat dari kecepatan normal.

“sihlakan,ini sudah dibungkus” ahjussi tersebut lalu menyerahkan kotak musik yang telah terbungkus rapi dan cantik kepada Jinki. Jinki tersenyum lembut lalu menarik tanganku ke arah musisi jalanan yang berada di dekat sebuah pohon yang rindang. Mau apa dia? aku tidak mengerti

“tunggu disini sebentar” dia kemudian berjalan ke arah musisi teresebut sambil membisikkan sesuatu sementara aku masih berdiri diam dan tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan.

aku bisa melihat musisi tersebut mengangguk,lalu Jinki kembali menghadap semua penonton yang berdiri disana.

“Aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuk seorang agassi cantik yang sedang berdiri di depan ini.” katanya tiba-tiba seperti memberi pengumuman kepada semua orang yang menonton disana

“Agassi ini sedang dilanda kebingungan,kesedihan dan kemarahan yang sangat mendalam. Karena itu aku ingin bernyanyi agar kesedihannya dan semua kegalauannya dapat terhapus. Han Ji Eun, dengarkanlah” kemudian ia mengalihkan pandangannya padaku saat ia mengucapkan kalimat terakhir itu,dan tersenyum.

Kini sang musisi telah mulai memainkan gitarnya. Memetik dengan indah senar-senar gitar tersebut sehingga terlantunlah sebuah lagu yang indah.

“we were stranger starting out on a journey, never dreaming what we have to go through, now here we are and i’m suddenly standing at the beginning with you~~” Jinki melantunkan sebuah lagu berjudul At The Beginning yang dengan sukses dibuat versi accoustic oleh sang musisi jalanan tersebut.

“and life is a road that i wanna keep going, life is a river that i wanna keep flowing, life is a road, now and forever, wonderful journey.~” Jinki masih tetap bernyanyi sampai ia kini menghampiriku, menarikku ke tengah.

“i’ll be there when the world stops turning, i’ll be there when the storm is through, In the end i want to be standing at the beginning with you~~”

“hmmm~~~~hmm~~~” Jinki menyelesaikan lagunya dan kemudian menyodorkan sebuah bungkusan yang aku tau adalah kotak musik yang dibelinya tadi sambil tersernyum dan berlutut dihadapanku.

Aku dapat mendengarnya,suara sorak sorai penonton yang riuh. Wajahku kini memerah. Jantungku berdegup kencang. Aku melihat sekeliling,sekarang semua orang telah mengerumuni tempat ini dan bersorak. Jinki tersenyum sangat manis setelah aku menerima kotak musik itu

“gomawo” ucapku malu. Aku masih bisa merasakan wajahku panas. Terpukau, tersentuh tepatnya atas ‘hiburan’ yang diberikan Jinki kepadaku.

Jinki kemudian berbisik kepada musisi jalanan tersebut sambil membungkuk dan memberikan sedikit uang padanya

“gamsahamnida” katanya kemudian menarik tanganku keluar dari kerumunan orang yang masih menyoraki kami.

Jinki masih menggandeng tanganku,membawaku ke arah parkiran sepeda dan membuka bike lock dan menaiki sepeda tersebut.

“Kajja” dia kembali tersenyum

Entah sejak kapan aku sangat gugup melihat senyum tulusnya itu. aku merasakan gugup. Ya, gugup melihat senyumnya itu,apalagi perlakuan baiknya terhadapku yang baru dikenalnya beberapa jam di kereta.

“Ayo,aku lapar,kita pergi makan” bujuknya lagi

“ah,ne” aku mengangguk dan menaiki tempat duduk penumpang, masih bisa merasakan degup jantungku.

Jinki mengayuhkan sepedanya perlahan, dan aku hanya diam sepanjang perjalanan. aku hanya merasa malu, aku tidak tau apa yang harus kuucapkan sementara jantungku masih tidak mau tenang.

“disana ada pondok kecil,sepertinya itu rumah makan” ucap Jinki memecah keheningan kemudian mengayuh sepeda ke arah pondok bernuansa sederhana itu. Dan benar bahwa itu adalah sebuah rumah makan yang sederhana, namun rapi dan bersih

“Annyeonghaseyo” sapa seorang yeoja yang sepertinya seumuran kami saat kami melangkah masuk

“Annyeonghaseyo” balas jinki ramah. Dia kembali menggandeng tanganku dan menuntunku ke tempat duduk yang berada dekat dengan jendela.

“Mau pesan apa?” yeoja tadi yang sepertinya adalah pemilik rumah makan ini kemudian memberikan menu dan membiarkan kami memilih makanan

“Ramyeon saja 2 porsi.. dan minumannya, 2 gelas teh Jepang hangat” jawab Jinki lalu menyerahkan kembali menu tersebut

“Ne,sihlakan ditunggu pesanannya” yeoja tersebut berlalu dan terlihat memberikan sebuah catatan pesanan pada seseorang yang bisa kulihat adalah namja yang juga seumuran dengannya yang berada di dapur.

……………………………………………..

Sepanjang tadi kami hanya diam dan tidak banyak bicara. Menikmati hidangan di depan kami yang sudah lapar sekali. Aku menatap Jinki yang dengan lahapnya memakan Ramyeon beserta kuah-kuahnya.

“Gomawo yo” ucapku pelan

“Ne?” tanyanya sepertinya tidak mendengar dengan jelas apa yang aku katakan

“Tidak,,,tidak ada apa-apa” jawabku segera

“Kali ini biarkan aku yang membayar” kataku lalu mengeluarkan dompetku

Tunggu dulu, kenapa tidak ada selembar uangpun?

Aish! Pabo!! kenapa aku lupa kalau aku tidak pernah membawa uang cash kemana-mana! Tiket kereta tadi kan aku beli dengan menggunakan kartu langganan jalur kereta. Pabo nya aku

“Waeyo?” tanya Jinki

“Aa…A…Anu… aku tidak membawa uang cash” jawabku tertunduk malu

Dia kemudian tersenyum dan mengelus kepalaku

“Gwenchana, aku masih ada uang” jawabnya lembut dan sukses membuatku deg-degan lagi

Dia mencoba mengambil dompet yang dia simpan di saku belakang celana nya tadi. Tapi ekspresi wajahnya berubah seketika. Dia masih mencoba meraba-raba saku celana nya, yang depan dan belakang secara bergantian.

“Dom… dompetku..tidak ada!” ujarnya panik

“Jangan-jangan dicopet waktu kita melewati kerumunan orang tadi” kataku tidak kalah paniknya

“ya, waktu itu aku memang merasakan sedikit aneh dan seperti ada yang memegangku.. tapi aku tak sadar” sekarang ia terlihat benar-benar panik

“ottokhe?” tanyaku

jinki memperhatikan yeoja pemilik rumah makan itu dengan hati-hati

“Ji Eun,kita kabur yuk” bisiknya

“mwo?” kataku kaget

“shht.. kajja..” dia menarik tanganku pelan dan mengajakku berdiri,kemudian melangkahkan kakinya sepelan mungkin,demikian juga denganku,sampai kami telah mencapai pintu keluar. Sialnya saat kami membuka pintu,yeoja tersebut yang tadinya menghadap tempat lain menyadari kami telah mencapai gagang pintu

“YA!! MAU KEMANA KALIAN??!! BAYAR DULU!!” teriaknya sukses membuat kami sekarang berlari mencapai sepeda kami dan Jinki mengayuhnya dengan cepat

“YA!! TUNGGU!!” yeoja itu berusaha mengejar,namun tidak dapat meraih kami yang tentu saja lebih cepat karena menggunakan sepeda.

“YA!!” aku masih bisa mendengar teriakannya dari kejauhan

………………………………………………………

“Hah..hah…hah….” Kini aku dan Jinki entah bagaimana telah sampai di sebuah pantai yang sepi tapi indah sambil mengatur nafas yang ngos-ngosan karena melarikan diri dari rumah makan tadi.

“Gwenchanayo?” tanyaku meyakinkan bahwa dia tidak apa-apa

“ne..hah..hah,,gwenchana” jawabnya masih setengah ngos-ngosan. Wajahnya terlihat merah.

Aku tersenyum melihat nya lalu menyodorkan air minum yang ada di dalam tas selempang hitamku.

“gomawo” jawabnya lalu meneguk air tersebut dengan tidak sabar

Aku hanya terkekeh pelan. Namja ini sudah banyak menghiburku dari tadi.

“senyum yang indah” katanya menatapku

aku memalingkan wajah darinya,karena aku tak ingin dia melihat wajahku yang sudah memerah ini.

Jinki berdiri kemudian berjalan ke arah mendekati garis pembatas antara laut dan darat. Aku mengikutinya. Dia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya,merentangkan tangannya dan mencoba menikmati angin sepoi-sepoi di pantai ini, dimana hanya ada kami berdua.

Kemudian dia duduk diatas pasir,aku mengikutinya dan duduk di sampingnya.

“Aku merasa lebih baik sekarang” kataku sambil masih menatap ke arah laut

“Sepulang dari sini,aku merasa aku sanggup menghadapi semuanya. Memulai hidup yang baru dan menerima semuanya.” Kini aku menghadapkan mukaku ke arahnya yang sudah menatapku daritadi.

“Orangtuaku, aku akan berbicara dengan mereka bahwa aku sudah besar dan bisa menegatur hidupku sendiri. Dan untuk sahabatku Lee Hyeo Seok, kalau dia memang sahabat sejatiku,dia akan kembali padaku. Dan kibum pasti akan menghargai perasaanku yang tidak mencintainya.” Kini aku kembali menatap langit yang begitu cerah.

“Aku akan tetap membuktikan pada orangtuaku kalau aku bisa menjadi seorang musisi yang baik.” sekarang gantian dia yang berbicara

“Dan untuk sahabat dan mantan yeojachingu ku. Aku sudah merelakannya. Kurasa masih banyak yeoja yang lebih baik daripadanya,dan aku juga yakin suatu saat aku akan menemukan sahabat yang lebih baik. Dan untuk Taemin, aku akan pelan-pelan membujuknya berubah.” Kini dia tersenyum kearahku.

Aku membalas senyumannya.

Lama kami saling bertatapan, aku merasakan jantungku benar-benar seperti mau keluar. Dia meloncat-loncat tidak tentu rudu di dadaku (jantungku). Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat menyentuh tanganku yang ku letakkan diatas pasir.

Ya,itu tangan Jinki. Kini dia menggenggam lembut tanganku, berbeda dengan bagaimana dia menggandeng ku tadi sepanjang kami berjalan-jalan. Ya,kali ini sentuhan yang mengandung berjuta makna. Tidak,aku semakin tidak bisa mengontrol debaran di dadaku.

dia menatapku dalam-dalam,begitu juga denganku.

Perlahan dia mendekatkan wajahnya padaku. Namun aku tak menghindar sedikitpun,malah menutup mataku dan menikmati debaran jantungku sendiri. Aku merasakannya,sesuatu yang hangat menyentuh bibirku. Aku merasakan hembusan nafas meniup di wajahku. Ya, bibir Jinki kini sukses mengecup bibirku dan aku bisa merasakan genggaman tangannya kini semakin erat.

Dia menjaukan wajahnya dari wajahku,dan aku membuka mataku, masih menatapnya ke dalam matanya dalam-dalam. Kini aku tak peduli lagi dengan debaran jantungku, tidak,tepatnya aku menikmatinya sekarang. Menikmati perasaan gugup yang ada dalam hatiku. Menikmati genggaman tangan Jinki yang tersasa basah karena keringat dingin dari tangannya. Menikmati tatapan lembutnya. kini aku melihat wajahnya memerah,dia menutup bibir dengan tangannya dan menunduk,meminta maaf.

Aku hanya tersenyum, lalu bangkit dari tempat dudukku dan menarik tangannya

“Kau tidak ingin ketinggalan kereta,kan?” aku tersenyum lembut padanya lalu mengajaknya menghampiri sepeda kami.

“Ne” dia menjawab dengan gugup lalu kini mengikuti langkahku yang masih menggenggam tangannya erat.

Dia mengambil sepeda dan mempersihlakanku duduk. Seperti tadi,dia mengayuh sepeda pelan,membawaku kembali ke tempat penyewaan sepeda yang tak jauh dari stasiun tadi. Tapi kali ini berbeda. tidak ada satupun kata yang  meluncur dari bibir kami. Masih diselimuti rasa gugup. Aku menyandarkan kepalaku ke punggungnya. Menikmati sisa-sisa waktu yang ada,karena sebentar lagi kami akan kembali ke kenyataan. Kembali ke Seoul dimana mungkin kami akan terpisah dan menjalani kehidupan kami masing-masing.

——–Flashback End———

Aku masih menatap wajahnya yang tertidur cukup pulas. Dia tertidur dengan sangat tenang. Tentu saja, perjalanan kembali ke Seoul adalah 6 jam. Sementara dia pasti lelah setelah seharian bermain dan berkayuh sepeda seperti tadi. Aku melihat wajahnya yang tentram. Dia benar-benar sangat manis. Namja yang sangat baik.

Aku jatuh cinta dengan seorang namja yang baru ku kenal 18jam yang lalu. Tapi kenyataannya sebentar lagi kami akan berpisah,kembali ke kehidupan kami masing-masing. Kami bahkan tidak saling mengenal dalam kehidupan sehari-hari. 15 menit lagi,saat kami tiba di stasiun Seoul,maka semua ini harus berakhir. Berakhir dengan sebuah cinta yang harus kembali dipisahkan setelah baru bertemu beberapa jam. Aku menatapnya dalam-dalam, membelai lembut wajahnya yang sedang tertidur pulas lalu tersenyum. Aku melepaskan sebuah kalung berbentuk bintang dari leherku. Itu adalah kalung kesayanganku, pemberian nenek sebelum meninggal. Kalung itu adalah kalung emas putih yang bermata berliah kecil di salah satu sudut bintangnya. Aku diam-diam mengalungkan kalung itu ke lehernya dan berusaha agar dia tidak terbangun. Aku mencium keningnya lembut. Kemudian aku memutuskan untuk turun di stasiun ini. Ini bukan stasiun Seoul, tapi dari sini ke Seoul tidak begitu jauh kalau naik Bus. Aku meninggalkan dia yang masih tertidur,kemudian menyelipkan sebuah kertas yang telah kulipat berbentuk hati kedalam saku jaketnya. Aku hanya tidak ingin merasakan sakitnya berpisah saat kami tiba di Seoul, jadi aku memutuskan untuk meninggalkannya di kereta.

Mianhe, jinki… Aku sangat senang,meskipun hanya sebentar, tapi aku merasa hangat dan bahagia di dekatmu. Kau telah memberiku keberanian untuk memulai hidupku dari awal.

Saranghe, Jinki.. Aku tersenyum dan berlalu…

————— 8 months later—————-

Kehidupanku sudah jauh membaik sekarang. Ayah dan ibuku kini tidak lagi mengatur-ngaturku. Kim Jonghyun meminta maaf kepadaku dan menjelaskan bahwa dia melakukan semua itu demi biaya operasi kanker adiknya. Kibum dan Hyo Seok kini berpacaran dan Hyo Seok meminta maaf kepadaku. Kini kami bersahabat lagi.

Kehidupanku kini terasa indah. Tapi tetap saja kadang aku merindukan namja itu. Lee Jinki yang hanya dalam waktu beberapa jam berhasil memberi kehangatan di dalam hatiku. Aku memandangi kotak musik yang terletak di atas meja di kamarku. Kotak musik antik itu selalu kuputar saat aku merindukannya. Bahkan aku mendekapnya erat di dadaku, merasakan kembali debaran jantungku yang tidak ingin ku lupakan saat itu.

Jinki, meski cuma bertemu sebentar, tapi kau takkan kulupakan seumur hidupku.

Aku meletakkan kembali kotak musik itu, kemudian aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman dekat rumah. Sekedar menikmati sore.

Aku melangkahkan kaki ku keluar gerbang rumah.

Langkahku terhenti saat mataku menangkap sesuatu yang tidak kupercaya. Seorang namja berdiri menyandari di tembok samping gerbang rumahku.

Namja yang memiliki senyum manis dan tatapan mata yang hangat dan lembut.

Aku tidak percaya ini

“Ji Eun” dia tersenyum kearahku, membuat debaran jantung yang sudah lama tidak deg-degan ini kembali berdegup cepat

“Kenapa kau meninggalkanku waktu itu di kereta” dia membelai lembut rambutku yang masih terpaku,tak percaya dengan kehadirannya

“aku mencari tau info tentangmu selama 8bulan ini,sampai akhirnya aku menemukan alamatmu” dia kembali menatapku lembut

Aku masih terdiam, tanpa terasa air mata mengalir dari kelopak mataku.

tak ku sia-siakan kesempatan, aku segera memeluknya

“bogossipo” kataku sambil menangis senang

“nado” jawabnya lembut sambil mengelus kepalaku dan membalas pelukanku erat

dia melepaskan pelukannya,begitu pula aku. dia menatapku dalam,begitu pula aku.

aku tak peduli lagi dengan perasaan berdebar di dalam dadaku. aku menutup mataku, membiarkan wajahnya mendekat dan membiarkan bibirnya mengunci bibirku.

butiran salju meramaikan suasana romantis,sementara dia masih menciumku mesra, melepaskan segala kerinduan kami selama 8 bulan ini.

dia melepaskan ciumannya,kembali menatapku dalam,lalu tersenyum dan melantunkan sebuah lagu yang sangat ku kenal

“i’ll be there when the world stops turning, i’ll be there when the storm is through.. in the end i want to be standing at the begginning with you~~~”

aku tersenyum tersipu,dan kini mengecup bibirnya kembali.

————END—————

so how is it going?? sepertinya endingnya membingungkan yah?? hehe…..

tapi segala macam komentar akan tetap di terima kok :p

gomawo yang sudah baca ^^ jangan lupa ninggalin jejak ya

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

67 thoughts on “At The Beginning With You”

  1. wuah…
    daebak thor! keren-keren! 😀
    sempet ngakak pas bagian mereka kabur gara2 gak ada duit buat bayar makanannya hhaha lucu.
    Jinki di sini kesannya hangat bgt.
    ahh…so sweet thor ! 😀
    daebak! 🙂

  2. aduh jinki menaburkan senyum bgt di sini ya… *brb mungutin* (loh?)
    sumpah soooooo manis bgt… suka bgt ini sy… bc nhn nfs sking romantisnya.. endingnya jg daebak.. rasanya mau pingsan… td pas d kereta q kira bnr2 brpisah n g ketemu lg n ending aj. smpt mikir minta author bkin sequelnya tp trnyata… hooooaaaaaa *senyum 3 jari

    1. mungut?? kyaa ikutan!!
      *ikutan mungut senyum jinki* XD
      huwaaa jgn pingsan donk,, nnti sapa yang gotong?? #plaaakk
      makasih banyak ya udah ninggalin jejak 😀

  3. Omo omo omo……………
    Sumpah sumpah keren bgt thor critanya!!!!! Daebak-daebak!
    Sweet bgt jinkinya, walaupun awalnya nyesek-nyesek tp sweet gt!
    Ah keren thor!!!!!!!:D

  4. Yahaaaaa
    Tolong saya mau mati bacanyaaaaaaaaaaaaaaaaa!!
    Lebih lebih lebih dari sweet inimahhhh
    Jinki nya terlalu lembut adooohhh. Lembut, hangat, bikin nyamaaaaan banget bacanya
    Gimana yah, kalo udah cast nya jinki pasti selalu jadi ngefly :$:$
    Apalagi yaahhh, aduh udah mau terbang nih kk
    DAEBAAAAAKKK!!! 😀

    1. *shock
      jangan mati!!! *nangis meraung-raung*
      aku juga suka banget bikin karakter jinki seperti itu.. rasanya cocok aja :p
      makasih commentnya say^^

  5. SERIOUSLY IT’S SOOOOOOOOOOO ROMANTIC…
    sosok onew sungguh sempurna dsni…
    lagi keadaan kacau dateng sosok onew yg hangat and ceria untuk ngehibur…mauuuuuuuuuuuu

  6. aku tau thor lagu itu, itu ost. anastasia kn?? quw juga suka lagu itu. pantas aja koq judulnya pernah tau ternyata lagu ??hehehe
    so sweet jinki 😀 palagi pas nyanyi at the beginning oh god!! *melting ckckck palagi bayangin sama senyumnya, sempet nyesek bayangin klow kita kenal trus ktemuan cuman 18 jam tapi untunglah happy ending

  7. ARGHHHHHH!!!
    Ini FF apa banget sih?? Apa banget bagusnyaaaaa!!!
    Keren ceritanya so sweet,
    Jinki yang malu-malu, pas di pantai sama Ji Eun.
    Terus itu pas ending yang dia bilang “Kenapaa kau meninggalkanku waktu itu di kereta?” sambil mengusap kepalanya Ji Eun, itu so sweeett… Melting dah..
    Ckckck, daebak Chingu…
    Kapan-kapan bikin lagi yang sweet dan cast nya Jinki ya…
    Hehe

    1. wew,, sempat shock awal2 baca commentnya…
      eh ternyata^^ hehehehe
      gomawo chingu… ne, aku juga seneng bikin FF sweet utk onyu 😀

  8. yaa ampuuunn ,, jinki mank gag bisa lepas dari ayam ..
    bahkan kenalan ama cew ajja lewat ayam ,,,,, lucu dhe ..
    ceritanya sweet ,, suka dhe ..

  9. Jinkiii sweetnya dirimuuu
    Aish tpi org2 pke coklat ato permen ato yg manis2 gtu jinki bukannya ayam!!hhzzz
    Tp tak papalah..apa aja asal dr jinki aKyu terima#plak
    Baguusss ceritanyaa..jd pgen gigitin pipinya jinki klu lg snyum

  10. setelah sekian lama gak baca FF, trs baca FF ini, entah kenapa jd deg-degan sendiri hahahahaha *reader gila*
    sumpah, Jinki sweet bgt. bikin mupeng deh sekereta gitu sama Jinki.
    author daebak!!! padahal jarang bgt aku bisa dapet feel kaya gini buat oneshoot, tp author 1 ini ternyata sukses bikin aku senyum-senyum sendiri pas baca FF ini 😀

  11. keren ff nyaa~~ ^o^ *lempar pita*
    berasa semuanya, penggambarannya pas, kebayang semua. jinki nya berasa, yang di pantai juga, sampe angin pantainya juga berasa 😀 /bletakk
    keren tor.. kereeennn~~ ^-^bbbbb
    aih abang jinki.. ampe 8bulan nyari2.. so swit amaat~~ *ngilerr
    jadi penasaran ama lagu nya hehe
    ff pengantar tidur nih, mimpi indah deh saya malam ini
    gomawo autooorr~~~ 🙂

    1. abang jinki 8bulan nyari alamat…
      “kemanaa~~ kemana~~ kemana~~~”
      #plaakk!!
      wkwkwk

      ah gomawo chingu… moga mimpi dilamar biasnya XD

  12. keren!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! aku ampe ngebayangin kalo itu beneran terjadi antara aku dan onew. abis bosen ama key mulu(??) *diinjek key* hahhaa btw, romancenya itu loh!!!! felnya dapet banget!!! huwaa….. hug and kiss deh buat authornya. hahahahaha…

Leave a Reply to alnadt Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s