Penyihir di Menara Utara

Penyihir di Menara Utara

Author          : Min-Intan-Woo

Main Cast     : Choi Minho, Hyuna

Length          : Stand Alone

Genre           : Romance

Rating          : PG – 13

A.N              : Terinspirasi dari komik jepang, judulnya lupa ^^v. Masih nyambung sama My Cinderella. Sorry kalo alurnya kecepetan lagi… Thanx ^_^

“M…Minho Oppa… ini untuk oppa…” 

            Yeoja itu mengulurkan sekotak kue ke hadapan Minho. Minho menerima kotak itu.

            “Makasih ya,” kata Minho berusaha selembut mungkin “akan aku makan sambil mengingat wajahmu.” 

            Minho mencium kening yeoja itu. 

            BRUK!

            Yeoja itu ambruk seketika. 

            Minho tersenyum manis ke teman-temannya yang sekarang menolong dia bangun. Minho berbalik dan berjalan pergi. 

Minho masih bisa mendengar teman-teman yeoja itu berseru, “Kyaaa… Yuri kau sangat beruntung dicium Minho Oppa!”

“Heyy Bro…” Jonghyun tiba-tiba udah jalan di sebelah Minho.

“Jadi kau sangat enak ya! Senyum ke yeoja sedikiiit saja, yeoja itu langsung tergila-gila. Fans saja sudah tiga ratus yeoja.”

“Haha…”

“Ngomong-ngomong cheese cake tuh…” Jonghyun melirik kotak yang dibawa Minho. “bagi boleh dong?”

“Ambil saja nih semuanya.”

Pas sekali Minho sampai di depan kelas. Begitu masuk, Minho langsung disambut dengan tatapan penuh harap teman-temannya. Hah?!

“Kenapa kalian memandangku seperti itu?” 

“Minho… Kau kan penakluk yeoja …” kata Kwangmin.

“Kami pikir ada tempat yang strategis untuk nonton kembang api di festival sekolah minggu depan.” sambung Youngmin.

“Hah? Lalu apa hubungannya?” tanya Minho.

“Masalahnya…” Donghae angkat bicara, “Tempat itu adalah… menara utara.” 

Donghae menunjuk menara utara yang terlihat dari jendela kelas Minho. 

Menara itu tepatnya berada di sebelah gedung jurusan olah raga, di seberang kelas Minho, jurusan pendidikan. 

“Kau pastinya ingat legenda menara utara…” Kwangmin berdeham seolah akan mulai mendongeng. “Menara utara itu tempat seorang penyihir jahat yang super sadis dengan tatapan tajam mengerikan. Konon dia tidak pernah mengizinkan siapapun masuk ke menara kekuasaannya itu. Tapii… tetap saja penyihir itu yeoja. Jadi pasti bisa ditaklukan oleh seorang Minho!”

Minho pucat, bergidik ngeri.

“Aduuuh…” Youngmin mendorong Kwangmin agar menyingkir dari hadapan Minho. “Minhonya jadi takut, tuh!” Youngmin menatap Minho. “Santai saja, tidak ada yang namanya legenda menara utara! Menara utara itu tempat khususnya Hyuna Seonsaeng, guru baru yang tatapannya tajam dan sangat seram itu lho! Katanya tidak ada yang pernah masuk ke sana selain Hyuna Seonsaeng, dan dia melarang siapapun masuk. Orangnya galak dan sangat dingin! Kami minta bantuanmu menaklukan Hyuna Seonsaeng supaya kita bisa meminjam kunci menara utara, untuk nonton kembang api. Bisa kan?”

Minho berpikir.

“Hmm… apa untungnya untukku?” tanya Minho.

“Kau bebas tugas deh dalam menyiapkan stand kelas kita di festival sekolah!” 

Minho langsung terima! Dia memang sama sekali tidak berminat dan tidak mau capek mengurus stand kelasnya.

*****

Pulang sekolah, Minho berjalan gugup ke menara utara.

Tok…tok…tok…

Minho mengetuk pintu menara. Tidak ada jawaban.

Tok…tok…tok…

Minho mengetuk lagi.

Karena tidak ada jawaban juga, Minho memutuskan langsung masuk. 

Krieeet… 

Bunyi pintu saat Minho membukanya. Ternyata tidak dikunci! Bunyi pintunya saja horror. 

Begitu masuk, mata Minho menyapu seluruh ruangan. Bersih, rapi, sepi… Minho agak lega karena ruangan itu tidak sesuai bayangannya (jorok, berntakan, penuh tulang belulang manusia). 

“Wow…” gumam Minho pelan.

Seorang yeoja, tidur di atas sofa. Kelihatan sangat, dan… sangat manis. Rambutnya yang hitam panjang sangat indah, kulitnya putih mulus, wajahnya cantik sama sekali tanpa noda. 

Minho jadi lupa tujuan semula datang ke sini. Dia duduk di depan sofa, memandang kagum yeoja itu, menunggunya bangun.

lima belas menit kemudian…

            “AAAA!!!” teriakan kaget yeoja itu membuat Minho lebih kaget.

            Tentu saja yeoja itu kaget. Dia tidur dengan lelapnya, begitu bangun ada namja di depannya. Ganteng pula!

            “Ugh…” Minho melindungi matanya dengan tangan. Rasanya tatapan yeoja itu menusuk. 

            “Aduuuh… maaf-maaf…” kata yeoja itu dengan nada menyesal. 

            Yeoja itu mengambil kacamata dan memakainya, lalu mengambil tusuk untuk menggelung rambut panjangnya.

            “Sekarang kau bisa buka matamu.” kata yeoja itu.

            Minho membuka matanya. Pandangan yeoja itu tidak terlalu menusuk lagi, walaupun masih sangat tajam.

            “Kau murid jurusan pendidikan kan? Bagaimana bisa ada di sini?” tanya yeoja itu.

            “Maaf, apa Anda Hyuna Seonsaeng?” tanya Minho. Sama sekali tidak menjawab pertanyaan yeoja itu.

            “Iya. Ada perlu apa?”

            “Wow. Anda sama sekali tidak seperti gosip.” 

            “Gosip? Oh… gosip itu.” Hyuna Seonsaeng mengangguk sedih.

            “Kenapa Anda punya tempat khusus? Tidak di ruang guru saja?”

            “Saya… tidak enak pada rekan guru yang lain. Kau lihat sendiri kan, tatapan mata saya tajam? Membuat orang takut dan membuat saya terkesan dingin. Guru yang lain kelihatan tidak nyaman di dekat saya, jadi saya putuskan bermarkas di sini.”

            “Ohh… sayang… padahal, Anda sangat cantik dan lembut.”

            “Hiks…hiks…”

            “Lholho? Wae? Saya salah bicara?”

            “Hiks… Tidak… Hiks… sa..saya cuma terharu… Hiks… i...ini pertama kalinya orang memuji saya… Hiks… murid saya lagi! Hiks…” Hyuna Seonsaeng ngambil tissue dan mengelap ingusnya.

            “Ya ampuun… Hati Anda sangat lembut …”

            “Huaaaaa….” Hyuna Seonsaeng tambah keras nangisnya.

            “Cup… cup…” Minho meluk Hyuna Seonsaeng. Ini sudah biasa bagi Minho, meluk yeoja yang sedang menangis, poin penting untuk tebar pesona dan menunjukkan kalau dia namja gentle.

*****

            “Gimana, PDKTnya? Dilihat dari wajahmu sepertinya lancar…” tanya Donghae.

            “Heyy, memangnya apa yang bisa dilihat dari wajahku? Yaa.. begitulah!”

            Sejak hari pertama Minho menginjakkan kakinya di menara utara, tiap hari Minho datang ke sana. Dan sekarang sudah hari ke-enam. Alasannya ‘bermain’. Hyuna Seonsaeng mempersilakan dia masuk dengan senang hati. Minho membantu Hyuna Seonsaeng mengoreksi ulangan siswa, beres-beres ruangan, memberi saran untuk pelajaran… Semua itu dilakukan Minho atas dasar PDKT. Tapi… makin dekat dengan Hyuna Seonsaeng, Minho makin merasa berdosa karena dia baik pada Hyuna Seonsaeng bukan dengan niat yang tulus.

            “Tentu sajaaa… Minho! Eh, jangan terpesona lho! Jangan lupa tujuan kau mendekatinya, untuk mendapatkan kunci!” seru Kwangmin.

            “Iya nih… Akhir-ahkir ini, aku melihat Hyuna Seonsaeng berbeda. Rambutnya sudah tidak digelung lagi, tapi digerai, diberi jepit pula! Cantik, lho!” Youngmin nimbrung.

            “Hah?! Menurutku sama sekali tidak ada yang berbeda! Tetap saja tatapannya tajam, dingin, dan menusuk. Membuat orang ngeri.” kata Minho.

            BRUK!

            Semua menoleh ke arah pintu kelas. Hyuna Seonsaeng. Berdiri di sana. Sepertinya baru saja menjatuhkan sebungkus plastik. Matanya berkaca-kaca. Belum sempat Minho berkata apa-apa, Hyuna Seonsaeng lari dari tempatnya, ke menara utara.

            “HYUNA SEONSAENG!!!”

            Minho mengejar Hyuna Seonsaeng.

            DOK!!! DOK!!! DOK!!!

            Minho mengetuk keras pintu menara.

            “HYUNA SEONSAENG!!! MAAF!!! SAYA BISA JELASKAN!!!” seru Minho.

            “Tidak… Hiks…” terdengar suara Hyuna Seonsaeng yang sesenggukan dari balik pintu. “Kau tidak salah… saya yang salah… hiks… Terima kasih untuk semuanya… hiks… kau sudah sangat baik pada saya… hiks… lebih baik kau pergi…hiks…ini kan masih jam istirahat…”

            Kriiiiiing…

            Sangat pas bel masuk berbunyi. 

*****

            Festival sekolah akan diadakan malam ini. Hyuna membantu mempersiapkan stand kelas yang diasuhnya. 

            “Selamat siang, Seonsaeng!”

            Hyuna menoleh. Sekumpulan anak yang dilihatnya kemarin mengobrol dengan Minho – saat Hyuna mendengarkan percakapan mereka dari pintu – berdiri di depannya. Anehnya, memakai kain untuk menutup mata mereka.

            “Ada perlu apa?” tanya Hyuna.

            “Kami minta maaf.” kata mereka hampir bersamaan.

            “Kata Minho, kalau bertemu dengan cara seperti ini Anda tidak akan terlihat menakutkan, karena kami tidak bisa melihat mata Anda yang pandangannya tajam. Sebab dasarnya Anda orang baik.” kata seorang dari mereka.

            “Iya. Dan ternyata Minho benar. Terlihat dari nada bicara dan suara Anda.” Kata seorang yang lain.

            “Maafkan kami, Bu! Minho juga minta maaf. Dia minta kami memberikan ini.”

            Seorang anak menyerahkan sebuah kotak merah berpita putih ke Hyuna.

            “Emm… saya tidak marah pada kalian atau Minho. Jadi sebenernya kalian tidak perlu minta maaf. Oh iya, kemarin saya dengar kalian bilang Minho mendekati saya untuk mendapatkan kunci. Apa maksudnya kunci menara saya?”

            Siswa-siswa itu mengangguk malu-malu.

            “Iya, menurut kami itu tempat strategis untuk menonton kembang api di festival nanti malam.”

            “Ini…” Hyuna menyerahkan kunci menara markasnya. “Padahal kalau kalian minta langsung, saya pasti kasih.”

            Setelah mengucapkan terima kasih – dengan malu juga – anak-anak itu meninggalkan Hyuna.

            Hyuna membuka kotaknya. Isinya gaun warna merah maroon yang yang sangat cantik! Di situ juga ada surat yang berbunyi, 

            Perpustakaan. Jam 7.00

Walaupun Hyuna bingung apa maksudnya, dia tersenyum juga.

*****

            Minho memandang langit malam dari jendela perpustakaan, saat pintu di belakangnya berbunyi terbuka. Minho berbalik. Dia melihat Hyuna Seonsaeng di sana. Terlihat sangat cantik dan anggun memakai gaun pemberiannya. Rambut Hyuna Seonsaeng digerai indah, sepertinya dia memakai lensa kontak karena tatapannya tidak terlalu menusuk. 

            Belum cukup waktu Minho terpesona, Hyuna Seonsaeng melipat gandakan pesonanya dengan tersenyum. 

            “Ada perlu apa dengan saya?” tanya Hyuna Seonsaeng.

            Minho mendekatinya.

            “Saya… waktu itu tidak bermaksud menjelek-jelekan Anda. Saya hanya tidak ingin teman-teman saya menyadari kecantikan Anda. Karena hanya saya yang boleh melihatnya.”

            Hyuna Seonsaeng tersenyum lagi.

            “Gomawo…” ucap Hyuna Seonsaeng.

            Minho memeluk Hyuna Seonsaeng lembut. Dan kali ini, tulus. 

            “Eh?!” gumam Hyuna Seonsaeng kaget dan tersipu.

            “Memang Anda pikir untuk apa saya ajak bertemu di tempat sepi seperti ini?”

            Chu~

Minho mencium Hyuna! Sementara di belakang mereka, kembang api terlihat
 indah menggelegar di langit malam, menjadi latar belakang yang sempurna.


©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

14 thoughts on “Penyihir di Menara Utara”

  1. Niat awal Minho yang hanya ingin memanfaatkan Hyuna untuk kepentingan teman-temannya perlahan bertolak setelah Minho melihat ketulusan Hyuna.
    Nice story.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s