More than Words

More than Words

Original Ideas : Oktria I a.k.a Woo~Minki & Lana

Author : Zika

Main Cast :

  • Aku
  • Kim Jonghyun

Supporting Cast :

  • Lee Jinki

Genre : Romance, fluff

Rating : General

Summary : “Karena aku tidak butuh orang yang sempurna untuk menjadi pacarku, yang penting komunikasi kita baik. Karena bisa bicara atau tidak itu sangat tidak penting. Toh, aku tidak akan bangga punya pacar yang bisa bicara, benarkan?”

Recommended Background Song :

–          SHINee – Kiss Kiss Kiss

–          Extreme / Westlife – More than Words

Note: Sorry banget buat Oki😀 , padahal kamu udah minta tolong FF ini di lanjutin sama Lana dari tahun lalu kan? Sebenernya Lana udah lama kasih ini ke aku, tapi aku baru bisa proses sekarang. Hehe, sorry banget. Semoga kamu suka ^^, maaf ya aku rombak habis. Soalnya aku bener-bener nge-stuck sama yang kamu tulis kemarin. Love ya!

♛♛♛

Ia masih ada! Oh, terima kasih tuhan. Aku pikir aku akan kelewatan penampilan-nya hari ini, aku sangat menyukainya. Well, let’s hope he’s an idol star, so I can say I love him freely. Emm, aku tidak tahu namanya, aku tidak mengenalnya, dan dia tidak mengenalku. Yang aku tahu, ia salah satu murid dari sekolah music termahal di Seoul. Setiap hari selasa, rabu, dan kamis, ia akan membuat petunjukkan kecil bersama teman-temannya. Kadang ia memainkan bass, kadang gitar, dan kadang dia menyanyi.

Mungkin kapan-kapan aku harus membawa kalian kemari, untuk mendengarkan suaranya yang penuh tenaga, dan menghanyutkan. Kakak-ku bilang, ia adalah laki-laki yang menawan bahkan untuk sesama laki-laki. Temanku bilang, nilainya dalam bidang music sangat baik. Dan sejauh ini aku cukup terpesona dengannya.

The moonlight, as if it’ll spill, is definitely dark
including the almost exploding torchlight
I need to learn how to shine like she does
If I look at her, I’ll be blinded

Please give me a chance

When you look at me with those eyes

I want to hold you in my arms

But to me, you’re like a playful fox

Emmm… kalian tahu ini lagu siapa? Hariku selalu terasa lebih baik ketika ia menyanyikan lagu ini. Meskipun aku senang hanya karena berharap ia menyanyikan lagu ini untukku, tapi setidaknya harapan kosongku ini membuatku lebih bahagia. Ketika lagu ini baru saja dirilis oleh group muda SHINee, laki-laki itu langsung menampilkan dengan gayanya sendiri dan membuat kami semakin terpesona oleh kawanan pelajar ini.

Juliette, I’ll give you my soul
Juliette, please accept me
Juliette, sweetly, a little more sweeter
Whisper my serenade

Sweet addiction, burning temptation
Even though your lips are bitter poison
I’m Romeo, your knight in shining armor
Trapped in a glass jar, love is a red light

Sungguh, aku bahkan lebih menyukai versi-nya. SHINee keren, mereka tempan, tapi laki-laki ini kalau kalian melihatnya. Astaga, sangat mempesona dan dia mirip dengan salah satu member SHINee.

“Hai!” aku berani bersumpah, tadi aku benar-benar nyaris tersandung dan jatuh terjerembab di atas tanah. Tapi orang yang barusan menyapaku malah terkikik, meskipun ia berhasil menangkap lenganku. Tapi setidaknya, dia harus minta maaf!

“Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu.” Suaranya, aku kenal suaranya! Oh… bagus! Tidak, tidak… ini tidak bagus! Oppaaaaa!!! Oppa dimana? Bantu aku!!

“Hello?” dia, laki-laki ini melambaikan tangannya di depan wajahku. “Kenalkan, aku Jonghyun. Kim Jonghyun.” Apa pipiku sekarang merona? Astagaaa! Aku tersenyum padanya, senyum bodoh yang lebih seperti sipuan orang cupu. “Jadi… siapa namamu?” Aku menunjuk papan nama kecil yang disangkutkan di kemejaku. “Oh.. iya, maaf aku tidak membacanya. Senang mengenalmu.” Aku juga senang bisa mengenalmu, Kim Jonghyun. Senang mengetahui kamu mau memberi tahukan namamu padaku.

“Kamu sekolah di sana?” ia menunjuk atap gedung sekolahku yang menjulang di antara gedung-gedung dan pepohonan, aku mengangguk sebagai jawaban untuknya. “Sebenarnya ini bukan pertama kali kita bertemu,” Oh tentu saja, Kim Jonghyun. Aku selalu melihatmu dari salah satu bangku di belakang penonton yang kau hibur.

“Kita, pernah bertemu di penutupan acara sekolahmu. Ingat? Aku orang yang tidak sengaja menyenggolmu, dan salah satu anggota group yang mengisi acara.” Aku memutar otak, benarkah? Tentu, butuh waktu bermenit-menit bagiku untuk mengingat. Laki-laki bermata indah ini mengamatiku dengan penuh perhatian, seolah menunggu jawaban dariku. Oooh!! Iya iya, aku ingat! Aku ingat rambut itu! Dan kenapa aku baru ingat sekarang?

“Ya! Sepertinya kamu ingat. Jadi, waktu itu aku belum sempat minta maaf. Ingatkan aku menumpahkan kue kecil yang ada di piringmu, dan membuat kemejamu terkena noda?” aku mengangguk, masih malu. Aku benar-benar tidak menyangka aku selama ini mengangguminya, dan aku pernah berinteraksi sekali dengannya.

“Waktu itu, aku sempat melihatmu di balik salah satu penonton kami. Tahu kan kami sering tampil di taman dekat kampus keren itu? Aku selalu melihatmu setiap tampil, tapi sepertinya gerakanku lebih lama. Karena begitu aku selesai dan mau menyapamu, kamu sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak. Aku sih berharap kamu menghilang seperti Cinderella, setidaknya tinggalkan sepatumu untuk ku kejar.” Kami tertawa, oh… apakah ia sedang tertawa bersama ku? Tuhaaann, sungguh terima kasih banyak!

“Kebetulan sekali kita bertemu di sini, jadi aku mau minta maaf untuk waktu itu. Dan, aku mau berterima kasih karena selalu menonton penampilanku. Itu sangat berarti bagiku.” Aku tersenyum, sangat senang dan bangga pada diriku sendiri. “Emm… apa kamu masih marah? Bicaralah, jangan hanya tersenyum. Aku jadi merasa bersalah…” ia menggodaku? Serius?

“Sayang sore ini aku tidak punya banyak waktu, besok aku harap kamu mau menonton penampilan kami lagi di tempat biasa. Aku mau menyanyikan sebuah lagu, menggunakan bahasa Jepang. Aku harap kamu bisa memberi komentar untuk itu, sampai jumpa!” pada punggung yang menjauh itu aku memandang dan balas melambaikan tangan. Senyumnya, aku bersumpah sangat hangat.

“Jadi, tadi sore kamu berkenalan dengannya?” aku mengangguk riang. “Yakin dia anak baik-baik dan tidak bermaksud buruk?” Tentu saja, oppa! Aku menekankan pendapatku dalam mimic. “Yaaa, mari berharap ini kemajuan. Tapi, kalau ternyata ia tidak sebaik yang terlihat, ingat! Aku ada di sini, ok?” aku memutar bola mata, kemudian menggerakkan tanganku. Jinki oppa ini kenapa berlebihan sih? Kami cuma berkenalan dan aku hanya penggemar dia-yang-bukan-artis itu.

“Tetap saja! Perasaan fangirl itu jauh lebih cepat terluka tahu? Walaupun dia bukan artis, tetap saja kamu penggemarnya. Iya kan? Karena dia sudah mengajakmu berkenalan, maka aku akan menuntut kelanjutannya. Meskipun hanya sebagai teman.” Jinki oppa menepuk kepalaku dua kali lalu berlalu ke kamar mandi.

Aku membaringkan tubuh di atas pembaringannya. Aku berharap, Kim Jonghyun merupakan laki-laki—yang setidaknya—seperti kakakku. Orang bilang aku dan kakak-ku seperti sepasang kekasih, sehingga aku membuat tipe ideal yang persis seperti sosok Jinki oppa.

“Masih di sini? Besok kamu ulangankan? Sana keluar, belajar!” aku bangkit untuk duduk, kemudian menggeleng sambil menatapnya yang bertelanjang dada. “Oke kalau begitu, aku tidak akan pakai baju dan akan balik menatapmu.” Kata si mata sipit ini, membuatku terpaksa mengalah. Jangan sampai ia sakit hanya karena tidak pakai baju terlalu lama di ruangan tertutup dengan AC menyala.

Malam ini dan besok, atau bahkan sampai hari yang tak bisa kutentukan. Aku akan terus tersenyum layaknya orang gila, dan mungkin nilaiku bisa naik karena ini. Kata temanku, cinta itu bisa merubah yang baik jadi buruk dan yang buruk jadi baik. Barangkali keburukanku bisa membaik? Eh tunggu! Tapikan aku tidak jatuh cinta…. Ah, sudahlah.

Sou, anohi bokutachiwa futari deattane
So we met that day

Mada adokenasaga nokottettano, yokogao wasurenai
You still had an innocent look left, I can’t forget the side view of you

Hajime deatta hikara kimochio ienaimamade
since the day I met you I haven’t told you about my feelings

Sugoshitekitaketo kyoukosowa kono omoi todokeruyo
But today I will tell you how I feel in my heart

Oh! Bahasa Jepang-nya sangat bagus, aku suka bagaimana caranya melafalkan setiap kalimat berbahasa jepang itu. Omong-omong, kalian tahu lagu ini? Aku tidak. Tapi aku tahu seberapa bagus lirik lagu ini, sangat-sangat menyentuh dan bisa membuat perempuan luluh.

kimidakeni , Kiss Kiss Kiss donnatokimo
Only to you Kiss Kiss Kiss always

Bokuga zutto kimino sobani iruyo
I’m always by your side

Kiss Kiss Kiss, kimidakeo
Kiss Kiss Kiss only you

gorekaramo mitsumeteitai
I want to keep looking at you

I wanna feel you motto
I wanna feel you more

subeteno aio komete Kiss okuruyo
With all my love I send you Kiss

Ya ampuuunn, aku benar-benar berharap akan ada laki-laki yang menyanyikan lagu itu untukku. Sungguh, aku akan menerima pernyataan cintanya. Astagaaaa! Dan Jonghyun benar-benar membuatku terpukau sepanjang lagu. Pertama karena lirik lagunya yang sangat bagus, dan kedua karena suaranya! Ya ampun, karena suaranya!!

“Jadi… bagaimana penampilanku barusan?” aku tersneyum, benar-benar tersenyum untuk kali ini. Penampilannya keren, dan aku menambah kedua jempolku untuknya. “Benarkah?” aku mengangguk sangat yakin, kemudian ia duduk di sebelahku. Membuat jantungku berdegub lebih keras. Kalian pernah kagum dengan seseorang kan? Tentu saja walaupun ia bukan artis, jantung ini akan tetap lemah begitu ia ada di dekatku. Serius, aku tidak bercanda!

“Tadi itu lagu SHINee, mereka baru debut di Jepang. Aku suka mereka, muda dan bertalenta.” Oh, jadi itu lagu SHINee. Kenapa aku baru tahu? “Aku sedang belajar bahasa Jepang sebenarnya, sejauh ini aku sudah bisa menulis kanji. Keren kan?” aku nyengir, benar-benar nyengir seperti seorang yang tolol. “Baiklah, baiklah… aku tahu aku tidak sehebat kamu. Tapi setidaknya aku bisa bahasa Jepang kan?” aku mengerutkan alis, dia pikir aku bisa bahasa Jepang?

“Jangan pura-pura tidak sadar. Aku dengar dari teman-temanku kalau kamu bisa bahasa Jepang, dan tulisan kanji-mu sangat lancar. Jadi, ajari aku bahasa Jepang guru!” aku tertawa, kalau kalian jeli, semestinya tawaku akan terdengar renyah.

“Ok, tuan putri. Sudah cukup aku berbicara tanpa jawaban, dan hanya membaca ekspresimu. Berbicaralah sekali saja, tidak mungkin kan kamu tidak mau bicara karena masih marah?” senyuman ini pasti terlihat asam, tapi aku tersenyum dan aku menggeleng. Kim Jonghyun, andaikan kamu mengerti. “Ayolah, aku benar-benar penasaran dengan suaramu. Aku tidak memintamu untuk menyanyi kok, serius!”

Aku menelan ludah, benar-benar menelan ludah dengan suara. “Jonghyun, apa masih lama?” salah satu temannya memanggil. “Tunggu sebentar, aku segera menyusul. Hey, ayolah… apa kamu tega membiarkan aku penasaran?” aku menggeleng lagi. Tanganku merogoh pulpen yang selalu aku selipkan di saku, kemudian menulis di tanganku.

“Bisu? Serius, waktuku sangat mepet untuk bercanda.” Aku kembali menulis, apa kamu pernah mendengar istilah tuna rungu? Kami terdiam, benar-benar terdiam. Setelah ia membaca tulisan di tanganku, matanya menatapku lekat. Aku bisa melihat rasa tidak percaya, sekaligus rasa terkejut dalam matanya.

Tenang, aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia akan pergi menyusul temannya, kemudian tidak akan pernah muncul di hadapanku. “Kim Jonghyun! Cepatlah! Sudah mulai gelap, bodoh!” ia mengerjap sebelum akhirnya menyahut. “Sungguh maaf lagi-lagi pertemuan kita terpotong, kita bisa bertemu besok lagi kan? Sampai jumpa. Aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa, sampai jumpa besok.” kemudian ia berlari mengejar teman-temannya yang sudah mengoceh, dan meninggalkan aku yang memang selalu seperti ini.

Jam tujuh, dan dia benar-benar tidak muncul. Ini menyedihkan. Apakah orang sepertiku benar-benar harus dijauhi? Apakah kekuranganku ini bisa menular? Mengapa mereka semua selalu lari ketika tahu fakta tentangku yang sebenarnya. Tidak pernahkah mereka berfikir aku jadi sakit hati? Tidak pernah kah? Kenapa mereka yang bisa bicara tidak pernah berfikir sebagaimana kami yang tidak bisa?

Apakah mereka yang bisa bicara itu diberi kekurang oleh tuhan, dimana mereka tidak bisa berfikir tentang perasaan orang lain. Apa aku harus kecewa sekarang? Tapi aku baru saja memanjat satu ranting kebahagiaanku. Aku baru saja membanggakan dirinya yang ternyata sangat ramah dan berbeda dari orang lain. Aku baru saja mau mengakui kalau aku menyukainya sebagai laki-laki, bukan musisi jalanan yang sangat keren.

Memangnya orang sepertiku harus selalu mengalami kisah menyedihkan ya? Kami tidak pantas mendapat kisah romantic seperti orang-orang ‘normal’ dapatkan? Kalau memang iya, aku tidak apa-apa. Aku bisa tetap hidup sendiri, atau berdua dengan kakak-ku yang mendekati kata sempurna.

Dan… kenapa aku tetap menunggu di sini, padahal aku sudah tahu bahwa Jonghyun tidak akan mau kenal denganku lagi. Karena aku tidak bisa ia ajak bicara seperti teman-teman lainnya. Puuhh… kejadian ini tidak cukup sedih untuk membuatku menangis. Tapi setidaknya cukup menyakitkan untuk dialami. Baru 2 hari yang lalu kami berkenalan, dan ketika dia tahu fakta bahwa aku tidak normal. Dia, laki-laki itu, laki-laki yang aku kagumi itu malah pergi.

“Ayo, penutupannya pasti keren. Aku tahu kamu suka penampilan music, dan katanya yang akan mengisi acara adalah band-band indie dan band pelajar yang sudah terkenal keren. Aku yakin kamu tidak akan menyesal deh, ayo?” aku menimbang-nimbang dulu sebelum menerima tawaran si pesek ini. Oh, dia sahabatku yang paling menyebalkan. Aku dan dia sangat akur, julukan menyebalkan itu bukan benar-benar dalam arti yang buruk.

Dia selalu mengajakku ke acara seperti ini, katanya untuk menambah teman. Tapi bagiku tidak ada bedanya, karena aku sama sekali tidak akan bicara pada orang asing maupun keluargaku sendiri. Karena aku bisu.. hahaha. Ayolah, tertawa! Itu lucu! Ok, setidaknya aku masih belajar untuk menjadi lebih lucu dari itu.

Aku berkeliling untuk mencari makanan enak, sekedar menggajal perut. Tapi kemudian sebuah lagu menarik perhatianku, ini lagu SHINee. Dan jujur, ini kedua kalinya aku mendengar lagu ini. Kasus dijauhi Jonghyun membuatku lupa untuk membeli album SHINee yang dirilis di Jepang itu, katanya keren padahal. Aku mendadak lupa dengan rasa laparku, dan malah berjalan mendekati panggung. Sejauh ini aku hanya bisa melihat lampu-lampu yang menggantung di atas panggung. Aku tidak tinggi, dan sial, aku tidak bisa membuat orang menyingkir dari hadapanku.

Tiba-tiba saja lagu itu selesai dinyanyikan sebelum aku benar-benar bisa melihat siapa yang bernyanyi, suaranya itu keren! Ketika aku akan berbalik pergi, orang di atas panggung itu kembali bernyanyi. Lagu Extreme yang berjudul More Than Words. Aku sangat suka lagunya, siapa yang tidak suka?

Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It’s not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn’t have to say that you love me
Cos I’d already know

Ya ampun! Suaranya bagus, aku tidak bohong! Suaranya benar-benar bagus, bahkan lebih bagus dari Jonghyun. … … … tunggu, Jonghyun itu bukan penyanyi! Kenapa aku harus membandingkan orang di atas panggung itu dengan Jonghyun? Dasar sial! Aku jadi malas mendengar lagunya.

“Hai,” aku nyaris tersimpuh begitu seorang laki-laki muncul di depan wajahku dan menyapaku tanpa rasa bersalah. “Apa kabar?” Apa kabar? Seriously? Sangat basi!

Mungkin sikap ini aku ambil tanpa alasan yang jelas. Tapi kalau kamu berada di posisi ku, memangnya kamu tidak akan marah? Kemarin pergi begitu saja, dan sekarang menyapa tanpa rasa bersalah. “Hey! Tunggu sebentar, ada apa sebenarnya?” aku segera menarik lenganku, enak saja main tarik sembarangan! Dia bertanya ada apa, dia gila ya?

“Kamu marah? Kamu marah karena kamu pikir aku menjauhimu setelah tahu kamu tidak bisa bicara?” haruskah dia menyatakan dengan suara lantang bahwa aku tidak bisa bicara? Haruskah? Haruskah mempermalukanku seperti itu?

“Aku sama sekali tidak menjauhimu, tahu? Waktu itu aku sakit, aku sama sekali tidak bisa keluar dari rumah. Aku merasa bersalah karena teman-temanku bilang kamu ada di sana, dan menungguku.” Aku berbalik dan mulai menggerakan tanganku dengan emosi. Aku tidak menunggumu, idiot! Dan aku tidak butuh penjelasan darimu!

“Oh ya? Lalu kenapa setelah hari itu kamu tidak muncul, dan sekarang tiba-tiba kamu meninggalkanku? Itu artinya aku harus meluruskan masalah ini.” aku kembali menggerakkan tanganku, karena kamu…. Tunggu, aku tidak salah lihatkan? Dia benar-benar mengerti bahasa ‘kami’, atau hanya menebak?

“Apa aku terlihat seperti orang yang akan meninggalkan orang yang dia suka, hanya karena orang itu tidak bisa bicara? Apakah aku terlihat se-bejat itu?” Aku sedikit mendongak saat Jonghyun sudah berada tepat di hadapanku, hanya beberapa jengkal di hadapanku. “Aku menunggumu, terus menunggu setiap hari. Tapi kamu yang tidak pernah muncul. Sekarang siapa yang mengingkari janji?” memangnya kita pernah buat janji?

“Tentu saja pernah! Ketika aku bilang sampai jumpa dan kamu mengiyakan, aku anggap itu janji.” Bagiku itu bukan janji, hanya salam basa-basi. “Tapi bagiku itu janji. Lagipula, apa kamu akan menyerah begitu saja? Melepaskan orang yang kamu suka sejak lama hanya karena sesuatu yang tidak pasti?” aku mengerutkan alis. “Kamu tidak tahu aku menjauhimu atau tidak, tapi kamu menyerah begitu saja. Mengambil kesimpulan sendiri kalau aku tidak akan mau menyukai orang sepertimu.” Aku tidak pernah bilang aku menyukaimu!

“Tapi siapa yang tidak tahu kamu menyukaiku, kalau setiap kami tampil selalu duduk di bangku yang sama dan menatap kami dengan mata berbinar-binar dan terkesima.” Aku hanya kagum, itu saja. “Lalu, kenapa kamu harus semarah itu ketika aku tidak datang?” Karena… karena aku kecewa. “Kamu tidak perlu kecewa kalau kamu tidak menyukaiku.” Jonghyun benar-benar mengangkat alis kanannya dan rasanya aku ingin memukul wajah itu.

Lalu, apa urusannya aku menyukaimu dengan kamu sendiri? “Tentu saja ada urusannya, karena kamu menyukaiku dan aku menyukaimu.” Semudah itu kah? “Tentu saja tidak. Dan kalau mau tahu, aku sudah menyukaimu sejak pertama bertemu. Dan ketika kamu menjauhiku, aku menghabiskan hari mempelajari bahasa isyarat ini. Apa menurutmu semudah itu aku mengakui perasaanku padamu?”

Apa kamu benar-benar mempelajarinya? “Tentu saja! Aku mempelajarinya hanya agar kita bisa berkomunikasi dengan lancar, dan selama aku belajar aku berharap kamu bisa muncul. Menyaksikan penampilan kamu walaupun cuma satu kali, tapi ternyata kamu tidak muncul lagi. Yang seharusnya marah itu aku, karena kamu membuat presepsi yang salah tentangku.” Aku harus senang, malu, terharu, atau apa? Aku benar-benar bingung harus bagaimana sekarang. Bahkan aku masih belum mengerti, apa Jonghyun benar-benar menyatakan kalau dia menyukaiku?

Jadi, inti dari semuanya? “Tentu saja kita harus menjadi kekasih!” aku melotot, aku benar-benar melotot, itu bukan perumpamaan. Dia meminta atau memaksa?

Tapi kamu belum menyatakan apa-apa!

“Apa usahaku mempelajari bahasa isyarat ini belum cukup membuktikan soal perasaanku padamu? Menjalin hubungan sebagai kekasih itu bukan tentang berapa lama kita sudah saling mengenal, tapi bagaimana kita saling mengenal sepanjang hubungan yang kita jalin. Dan pernyataan cinta juga tidak perlu dengan kata aku mencintaimu, ya kan?” aku menelan ludah.

Now I’ve tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close don’t ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn’t have to say that you love me
Cos I’d already know

Apa dia masih belum selesai menyanyikan lagu More Than Words di atas panggung? Ayolah, jangan buat seolah lagu ini dipersembahkan untuk kami berdua. Memikirkannya saja membuatku jadi tersipu sendiri. Tidak, tidak… aku harus focus!

Dan sekarang, aku harus bagaimana? Jonghyun menggedikkan bahu. “Aku sendiri tidak tahu, kekasih baruku ini mau apa. Aku sih ikut saja,” aku mengerutkan alis. Aku kan tidak bilang aku mau jadi kekasihmu!

“Tentu saja, karena aku sendiri tidak memintamu jadi kekasihku.” Oh, jadi dia hanya mempermainkan ku?! Menyebalkan! Aku baru akan meninggalkannya ketika lengannya tiba-tiba melingkar di pundakku. “Aku memang tidak meminta, tapi aku memaksa.” Aku tiba-tiba tersipu ketika dia membelai puncak kepalaku. Tidak seperti Jinki oppa, tapi dengan caranya sendiri dan itu… oh astagaaaaa!

“Ayo berkeliling, aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku. Beberapa dari mereka pasti kecewa karena aku yang berhasil mendapatkanmu.” Aku menahan langkahku. Tidak! Aku tidak mau mempermalukan diriku dan dirimu.

“Tenang saja, aku dan teman-temanku justru mempelajari bahasa isyarat bersama-sama untuk bisa melakukan pendekatan denganmu. Kenapa harus malu kalau kami yang bisa bicara saja mempelajari cara kalian bicara? Ayo, kamu kekasihku sekarang. Kamu tidak akan malu selama aku tidak malu, kalau ada yang mengolok-olokmu aku yang akan berdiri di depanmu. That’s what boyfriend for, my sweetlove.”

Kenapa kamu mau menjadi pacarku? Cewek yang tidak bisa bicara.

“Karena aku tidak butuh orang yang sempurna untuk menjadi pacarku, yang penting komunikasi kita baik. Karena bisa bicara atau tidak itu sangat tidak penting. Toh, aku tidak akan bangga punya pacar yang bisa bicara, benarkan?”

Ok, selagi aku masih tersipu di dalam rangkulannya. Aku akan berterima kasih kepadamu tuhan, terima kasih banyak karena menciptakan makhluk yang sebaik dirinya. Aku tidak menyangka ada orang yang akan mempelajari bahasa isyarat hanya demiku. Lalu, terima kasih kepada Jinki oppa yang selalu mendukungku dan menyemangatku.  Terima kasih lagi karena memberiku alatr bantu dengar sehingga aku bisa mendengarkan suara orang-orang di sekitarku. Terima kasih juga kepada Kim Jonghyun, walaupun kita baru kenal dan baru menjadi kekasih. Aku yakin kamu akan jadi kekasih pertama dan terakhirku yang paling baik. Saranghae! Oppss, terlalu cepatkah? Tidak juga, hehe.

♛♛♛

Sebenernya agak malu publish FF ini, soalnya bahasanya berantakan yaaaa, random gimana gitu hehe ._.v. Maklum, aku nulis ini bener-bener 2 jam jadi. Lagi mood, tapiiii gak tahu kenapa nulisnya ngasal yang penting FF ini jadi sebelum mood-ku hilang. Semogaaa,feel sama pesannya nyampe. Amiinnn, takut banget big fail. Kan malu gitu sebagai author tetap tapi FF nya berantakan *dies*

©2010 SF3SI, Zika

This post/FF has written by Zika, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

89 thoughts on “More than Words

  1. uweeeeeehhhhhhhh telat bgt2 bacanya….
    *lempar key ke zika*

    uwahhhh demi apa, ini ceritanya so sweetttttttt bgttttttttttttttttttttttt
    kaya yg baca*red: aku*
    #di lempar bom
    enak bgt di baca…
    jjongggggggggg jd pacar aku yukkkkkkk
    ff zika selalu kerennnnnnnn
    pesannya nyampe Zik, ngena di hati….
    jarang cwo kyk karakter jjong skrg…

    di tunggu ff2 zika selanjutnyaaaaaaaaaa😀

  2. Wah,,komenku ptama td g masuk ya…ulg lg ah…

    Bagus banget…DAEBAK
    Jujur saja,saat ini mataku jd bkaca-kaca saking terharu nya…
    “Karena aku tidak butuh orang yg sempurna…”Kata2 ini berkesan banget….
    Bahasa,alur,karakter smua d epep ini bnr bgs…
    Salut buat authornya…

  3. Nyesel baru bisa baca ini FF😦

    bener-bener bagus thor!! bikin aku sadar bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini

    “Menjalin hubungan sebagai kekasih itu bukan tentang berapa lama kita sudah saling mengenal, tapi bagaimana kita saling mengenal sepanjang hubungan yang kita jalin.” so sweet🙂

  4. keren deh ffnya. feelnya dapet, pesennya dapet banget, kalo setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan masing2, nothings perfect in the world. a very good story:)

    1. Hahahahahha
      i just feel this is too sweet that makes it more like cheesy
      kekeke
      Glad you like it ^^
      Makasih banyak udah mau mampir dan ninggalin jejak🙂

  5. Akuuu masih penasaran sampe part terakhir ttg masalah tunarungu loh, Zikey. Aku pikir si cewek ini cuma memiliki mslh pd pita suara shg dia tdk bisa bicara.
    Karena deskripsi km di sini dy mampu mendengar dg baik.

    Soalnya aku punya temen tunarungu, dan dy marah2 kalo aku ngomong agak keras,
    Soalnya dy terbiasa sunyi, gmn dg suara musik? Yg keluar dr speaker, itu pasti menyiksa.
     oke ™, pesan moralnya dapet,

    Nah yg Jjong ma temen2nya belajar bhs isyarat bareng itu juga agak maksa menurutku, peace

    1. ya ampun aku baru liat ada komen ini

      hem.. well, sebenernya kak, eon atau.. aku gak tahu dirimu lebih tua
      berdasarkan yang aku tahu, ada banyak jenis tuna rungu
      ada yang gangguan paling parahnya di suara tertentu macem suara bel atau alarm atau suara semacem itu
      ada juga yang tingkat tuna rungunya masih bisa dibantu dengan alat bantu dengar jadi dia gak begitu kentara
      yang ada di sekitarku sih itu.. gak terlalu parah, gatau dia jenis apa.. tapi katanya kalau pakai alat bantu dia nyaman aja dengan polusi suara di sekitar kita
      gitu:/

      nah, mungkin aku kurang menggambarkan dengan baik jadi terkesan maksa
      tapi ini terjadi di real life sekitar ku ^^
      sebenernya bagus banget kalau aja aku bisa sampaikan dengan baik juga
      si laki-laki bener2 belajar bahasa itu demi berkomunikasi walaupun sebenernya gak perlu2 amat soalnya si cewe ini juga udah lumayan bisa bicara walaupun pelafalannya tetep kedengeran ganjil
      tapi makasih loh review nya ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s