Unpredictable Marriage – Part 1

Unpredictable Marriage

Author: Anissa Anggi

Genre: Romance, Friendship, Life

Main Cast: -Kim Kibum

                    -Lee Hyo Min

Other Cast: Choi Minho, Krystal, Umma Lee Hyo Min, dll (msh terus berubah)

Length: Sequel

Rating: NC-17

Disclaimer: This Story is Mine. I don’t own them(SHINee), they’re belongs to God except some imaginative characters such as Lee Hyo Min.

Please, be good reader and give me  some critics. I’m a new writer, so this is my first FF. sorry if this story disappoint you. Just read and give me a comment. And…. Happy Reading! \m/

~Author POV~

Minho menatap undangan berwarna pink peach yang tergeletak diatas meja. Lalu membukanya perlahan.  Minho membaca isinya sesaat dan kemudian tercekat. Matanya sedikit nanar.

“Oppa….” Panggil Lee Hyo Min dengan lirih. Cewek itu menyentuh tangan Minho dengan lembut. Matanya terlihat memerah seperti mau menangis.  Minho menatap Hyo Min.

“Jadi benar? Semua isu itu benar Hyo?” Tanya Minho dengan suara parau. Hyo Min mengangguk.

“Maafkan aku Oppa. Tapi ini semua kulakukan demi Umma dan Appa-ku. Aku tidak mau mengecewakan mereka.” Kini air mata yang sejak tadi ditahan Hyo Min tumpah dengan deras. Wajahnya telihat sangat sedih, juga kecewa.

Minho langsung memeluk Hyo Min, menenangkan yeojachingunya itu. “Shh. Sudahlah Hyo Min. ini semua diluar kendali kita. Kau tidak salah” Minho mengelus puncak kepala Hyo Min dengan lembut.

“Mianhae Oppa…. Aku tidak pantas menjadi yeojachingu-mu. Aku hanya bisa mengecewakanmu. Hikss” ucapnya lagi sambil sesegukan.

Minho cepat-cepat menggeleng. “Ani… aku sudah bahagia menjadi pacarmu. Jangan kau menyalahkan dirimu sendiri. Sudah, berhentilah menangis.”

Mendengar itu Hyo Min menghapus air matanya perlahan. “Jinjja? Kau tidak marah padaku?”

Minho mengangguk “Ne. kau akan selalu menjadi yeojachingu-ku. Tak peduli kau sudah menikah. Aku akan selali menjadi namjachingu-mu. Kau mau?” minho memberikan senyuman khasnya.

Seketika itu raut muka Hyo Min langsung berbinar. “aku mau oppa.. Kau benar-benar tidak peduli aku sudah menikah nanti?”

“Ne… tentu saja. Saranghae” bisik Minho dengan lembut. Hyo Min balas tersenyum “Nado Saranghae Oppa…”

***

Lee Hyo Min, merupakan anak tunggal dari pasangan tuan Lee dan nyonya Minna. Mereka adalah keluarga kaya raya yang sangat terkenal karena dermawan dan jalan hidup yang lurus-lurus saja nyaris bersih dari masalah. Hanya sekali mereka mendapat masalah, sekitar 10 tahun yang lalu. Ketika itu sedang krisis ekonomi yang juga berdampak pada perusahaan-perusahaan yang mereka punya. Keluarga mereka nyaris bangkrut.

Tapi tampaknya keberuntungan sedang memihak mereka. Sahabat tuan Lee sejak kecil yang juga sekarang sukses menjadi pengusaha memberikan mereka modal dalam jumlah yang besar sehingga mereka bisa memulihkan keadaan perusahaan mereka lagi. Ya, mereka adalah keluarga Kim. Sebagai tanda terimakasih tuan Lee kepada keluarga Kim, mereka setuju untuk menjodohkan anak mereka, Lee Hyo Min dan Kim Kibum. Kim Kibum merupakan anak kedua dari dua bersaudara, punya seorang kakak cowok bernama Kim Jonghyun.

Awalnya mereka tidak tau-menau soal perjodohan ini. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Mereka berteman akrab karena hanya berbeda umur satu tahun. Tapi menjelang umur duapuluh. Merekapun diberitahu oleh orangtua masing-masing tentang hal ini. Awalnya mereka menolak, tapi demi membahagiakan orangtua mereka terpaksa melakukan pernikahan ini.

Lee Hyo Min yang sudah lama berpacaran dengan Minho, merasa sangat tertekan. Karena Kibum bukanlah orang yang dicintainya. Tapi, karena dukungan dan semangat dari namjachingu-nya, akhirnya ia mau menuruti kedua orangtuanya.

-End of Author POV-

-Hyo Min POV-

“aku pulaaang” seruku tanpa nada suara yang berarti. Aku berjalan memasuki ruangan dengan langkah gontai. Melemparkan tas secara asal kesofa dan beralih ke kulkas mengambil soda.

Umma keluar dari kamarnya dan tersenyum “kau sudah pulang Hyo Min?” tanyanya.

Aku memutar bola mata “Ne.. tentu saja Umma” aku menarik  kursi makan dan duduk disitu.

Umma duduk disebelahku. “Kau darimana saja?” tanyanya dambil membelai lembut rambutku. “Uhmm itu, aku tadi habis main kerumah Krystal. Ahh yaa” aku mengangguk sambil tersenyum.

“ohh. Kau tidak bertemu dengan Minho kan?” tembak Umma langsung. Aku terperanjat, bagaimana umma bisa tahu aku habis bertemu dengan Minho?

“tentu saja tidak Umma. Tadikan sudah kubilang aku habis dari rumah Krystal.”

“Ne.. Umma percaya. Oiya, mulai hari ini kamu tidak boleh lagi keluar rumah.” Sahut Umma dengan muka serius. Aku melongo “MWO? Tapi…. Kenapa Ummaaa?” rengekku sambil mengerucutkan bibir.

“Dua hari lagi kan kamu menikah, umma tidak mau mengambil resiko kamu kenapa-napa. Dan…. Kamu juga tidak boleh makan sembarangan. Kan susah juga kalo berat badan kamu naik. Arraso?” Umma bangkit berdiri.

Sekali lagi, aku memutar bola mataku. “Ne… Arraso Umma” sahutku lemas.

***

Hari ini hari pernikahanku. Aku duduk didepan kaca sambil mengamati pantulan diriku yang memakai gaun putih panjang tanpa lengan. Gaun ini terlihat sangat ‘ngepas’ dibadanku, juga terkesan mewah.

Aku tersenyum pahit. Hari ini aku akan menikah, tapi bukan dengan orang yang aku cintai. Bukan dengan Minho. Orang yang 2 tahun belakangan ini mampu membuatku tertawa bahagia, juga menangis karena cinta.

Tiba-tiba saja mataku perih dan memerah. Sebelum aku sempat menitikkan air mata, seseorang membuka pintu ruangan, ternyata Krystal. Dia tersenyum padaku.

“Hey Hyo Min, ayo kita keluar. Acara pernikahanmu sudah mau dimulai.” Aku mengangguk dan berdiri.

“Apa aku cantik?” tanyaku perlahan. Krystal tertawa kecil “Tentu saja, bahkan bila tanpa make up, kau sudah terlihat cantik.” Aku balas tersenyum dan berjalan kearah pintu. “Gomawo Krystal” sahutku pelan yang pasti tidak akan didengarnya.

Pernikahan pun dilangsungkan, aku dan Kibum telah berjanji untuk saling menjaga dan saling mencintai selamanya.  Walau harus dengan suara yang terbata-bata, pada akhirnya aku bisa mengucapkan janji suci itu. Begitu juga dengan Kibum, hanya saja dia mengucapkannya dengan lancar, namun datar.

Begitu kami disuruh berciuman, Kibum langsung terlihat canggung dan salah tingkah. Dengan kilat dia mencium bibirku dengan lembut, sementara aku hanya diam membeku. Entah apa yang ada dipikiran Minho saat itu. Yang jelas, semua orang bertepuk tangan dan bersorak tanda mereka semua bahagia.

***

Pesta pernikahan berlangsung megah dan meriah. Banyak orang yang aku kenal maupun asing bagiku memberikan ucapan selamat kepada Aku dan Kibum. Termasuk Minho, hanya saja dia hanya memelukku dengan singkat tanpa ekspresi. Takut bila kedua orangtuaku melihat adegan ini. Setelah itu dia langsung pergi meninggalkan ruangan.

Mungkin dia mengubah pikirannya. Entahlah, mungkin dia tidak mencintaiku lagi, batinku.

***

Selesai pesta pernikahan, aku dan Kibum langsung pulang. Hanya saja kali ini aku pulang ke apartemen Kibum yang sudah dipersiapkan. Sebelum kami berangkat, aku mengobrol dulu dengan umma dan Umma Kibum.

“Kau pasti capek sekali hari ini. Sebaiknya kalian segera pulang dan menikmati malam pertama kalian” ucap Umma sambil tersenyum menggoda.

Sementara aku hanya menunduk karena malu. “Umma….” Sahutku pelan.

“Ne.. apa yang dikatakan umma-mu itu benar. Sebaiknya kalian cepat pulang, dan besok ceritakan pengalaman kalian kepada kami” kini giliran Umma kibum yang menggodaku. Dia menatapku penuh arti.

Tiba-tiba dari sebelah kiri kurasakan seseorang merangkulku. “Umma, berhentilah menggoda Hyo Min. kami tidak akan melakukan ‘itu’ malam ini” sahut Kibum dengan suara datar.

“Yaa.. jangan begitu. Sekarang kan kalian sudah resmi menjadi suami istri, tidak pantas berkata demikian” sahut Eommonim.

Mendengar hal itu Kibum memutar bola matanya “Sudahlah. Kami lelah, kami ingin pulang.” Sahutnya. Dia langsung menarikku untuk berjalan disebelahnya menuju pintu lobby yang sudah terparkir mobil mewah Kibum. Membuatku harus berlari kecil mensejajarkan langkahku dengannya.

“Masuk” perintahnya. Aku hanya menuruti kata-katanya dan duduk dijok sebelah pengemudi. Lalu Kibum masuk kemobil dan langsung mengendarai mobil itu dengan cepat.

Selama dimobil hanya keheningan yang ada. Aku tidak berani mengatakan apa-apa. Hanya menunduk dan sesekali memandang ke jalanan yang sudah sepi dan gelap.

-End of Hyo Min POV-

-Kibum POV-

“Masuk!” seruku sedikit membentak. Hyo Min menuruti perintahku dan masuk kedalam mobil. Tanpa menunggu apa-apa aku masuk ke jok pengemudi dan menancapkan gas.

Selama dimobil aku dan Hyo Min hanya berdiam diri. Aishh, apa dia selalu diam seperti ini?tidak berusaha membuat percakapan apa-apa? Dasar aneh! Handphone milik Hyo Min yang tergeletak dipangkuannya bergetar dan berkedip-kedip.

Hyo Min menatap layar dan langsung mengangkatnya. “Ne.. ada apa?”ucapnya pelan. Sesekali dia melirik kearahku. Yang kubalas dengan tatapan sedingin es.

Hyo Min kembali konsentrasi dengan apa yang dibicarakan peneleponnya. “Ahh, ne. aku sudah makan. Sekarang lagi dijalan.”…. “Ani, aku harus tinggal diapartemen Kibum mulai sekarang”… “Ne… maafkan aku. Gwechanayo?”… “Gomawo, ya.  Aku juga” setelah itu Hyo Min menutup telepon.

“Dari Minho?” tanyaku langsung. Kulihat dia sedikit kaget ketika aku tahu Minho lah yang meneleponnya, tapi sesaat kemudian dia mengangguk “Ne.. darimana kau tahu?”

“Sudahlah. Aku sudah lama mengenalmu. Suaramu terdengar berbeda ketika berbicara dengannya.”

“Ohh” hanya itu yang dikatakan oleh Hyo Min. dia menunduk lagi.

Aku mengeraskan kepalan tangan disetir mobil, entah mengapa aku benci padanya. Terutama ketika mengetahui dia masih berhubungan dengan Minho. Bukan, bukan karena aku cemburu. Tapi karena aku memutuskan hubunganku dengan Nicole demi perjodohan ini. Sial! Bila dia masih berhubungan dengan Minho aku juga bisa!”

“Hyo Min..” panggilku. Dia menoleh “Yaa?”

“Dengar. Aku harus menegaskan hal ini padamu. Dan aku tidak akan mengulangi lagi kalimatku.” Ucapku dengan suara keras. Dia terdiam, maka aku melanjutkan.

“Karena kau sudah menyebabkan putusnya hubunganku dengan Nicole, maka aku bersumpah akan membencimu sebanyak yang aku bisa. Aku bersumpah tidak akan pernah jatuh cinta padamu. Apalagi sampai memberikan cucu untuk orangtua kita. Ingat itu!” seruku padanya.

Akhirnya, aku bisa menyampaikan hal itu. Huh, lihat saja. Besok aku akan mendapatkan kembali Nicole. Tentu saja, Nicole adalah cinta pertama dan terakhirku (reader: apazi author lebai. Author:biarin!)

-End of Kibum POV-

-Author POV-

Hyo Min bangun dengan perlahan. Masih teringat kejadian semalam ketika Kibum membagi ruangan mereka masing-masing. Satu kamar utama untuk Kibum, satu kamar untuknya dan satu ruangan lagi untuk ruang kerja.

Hyo Min keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Setelah dia meminum air mineral. Dia masuk kamar mandi dan membersihkan muka serta gosok gigi.

“hmm sebaiknya aku membuat sarapan untuknya. Pasti dia lapar” sahut Hyo Min pada dirinya sendiri. Awalnya dia bingung mau masak apa, tapi setelah dipikir-pikir, dia memutuskan untuk memasak Jajangmyeon.

Kibum bangun dan berjalan kearah dapur sambil mengucek-ucekkan matanya. Terbangun karena wangi masakan dan suara-suara dari arah dapur. Dia melongo kaget meihat Hyo Min sudah mau selesai memasaknya.

“Kau sedang apa?” Tanya Kibum dingin. Hyo Min menoleh, lalu tersenyum “tentu saja masak. Bangun tidur kau pasti lapar.”

Kibum mendengus. Dia duduk di sofa dan menyalakan tivi “Soktahu. Aku tidak lapar. Aku juga tidak mau makan masakan yang dibuat olehmu.”

Hyo Min menatap Kibum “MWO? Ahh sayang sekali. Kau melewatkan makanan seenak ini.” Serunya sambil pura-pura cemberut.

Kibum menoleh. Akhirnya dia menghampiri meja makan dan mencicipi Jajangmyeon buatan istrinya itu.

“HUEK! Makanan apaan nih!” bentak Kibum yang membuat Hyo Min terlonjak kaget. Kibum memuntahkan makanannya lagi yang tadi ada dimulutnya keatas masakan yg msh dimangkok.

“Kamu bisa masak gaksih?! Ini tuh ga enak!” Kibum terlihat sangat marah. Kemudian dia membanting mangkok yang penuh dengan Jajangmyeon itu kelantai, membuat isinya berserakan kemana-mana. Hyo Min menjerit.

“DENGAR! AKU TIDAK MAU MAKAN MASAKAN ITU! BERESKAN SENDIRI SISA-SISANYA! DAN INGAT! LAIN KALI TIDAK PERLU MASAK UNTUKKU LAGI!” Kibum kembali duduk disofa dan menonton tv.

Sambil sesegukan Hyo Min merapikan semuanya. Dengan enggan dia membuang semua masakan hasil dirinya sendiri ketempat sampah. Lalu mencuci tangannya.

Dia menatap Kibum dengan pandangan benci dan masuk kekamarnya. Sesaat kemudian dia keluar lagi dengan pakaian pergi daan membawa tas. Hyo Min memakai sepatunya secara asal dan membuka pintu apartement.

Kibum menoleh “mau kemana kau?!”. Hyo Min berteriak “BUKAN URUSANMU!” lalu membanting pintu.

“Huh. Dia kira aku peduli padanya? Malah bagus bila dia pergi dan tidak kembali lagi” ucap Kibum sambil mendengus.

-End of Author POV-

-Hyo Min POV-

HUH! Aku benci cowok itu! Berani sekali dia membentakku! Sampai membuang semua makanan yang sudah aku susah payah buat untuknya. Tidakkah dia mengerti arti kata menghormati? Aku benci kibum! Aku BENCI!! Rutukku dalam hati. Aku setengah berlari menuju lobbi dan meminta satpam untuk memanggilkan aku taksi.

Aku tidak peduli mau kemana, yang jelas aku tidak mau berada didekatnya lagi!

Tanpa terasa aku meneteskan air mata. Membuat satpam dan beberapa yang ada disitu terheran-heran. Aku mengacuhkan tatapan mereka semua. Untung saja tak lama kemudian taksi yang dipesan datang.

Aku masuk ke dalam taksi. “tolong antar aku ke alamat ini” ucapku dengan suara parau sambil memberikan selembar kertas. Supir itu hanya mengangguk.

Aku mengambil handphone dari dalam tas dan menelpon Minho. “Yaa. Halo?” sapanya dengan suara khas.

“Op..paa hiks” panggilku sambil sesegukan.

“HYO? Gwechanayo?” Tanya Minho dengan suara panik. Aku menangis terus padahal aku sudah berusaha menghentikan tangisku. “Hyo…. Jawablah. Kau kenapa? Apa Kibum berbuat sesuatu yang buruk padamu?” Tanya Minho lagi.

“hiks.. Ne. tapi tak apa. Kau masih dirumah kan?” tanyaku akhirnya. Sambil menahan tangis aku bisa berbicara juga.

“Ne.. kau mau datang kesini?” Minho bertanya lagi.

“Ne. aku dijalan sekarang tunggu. Sebentar lagi aku sampai.”

“Mwo? Pagi-pagi seperti ini?”

“iyaaa, kenapa?”

“Ahh ani. Aku tunggu ya” ucap Minho.

Akhirnya teleponpun ditutup.

***

Ting Tong…

Aku memencet bel. Tanpa menunggu lama Minho membuka pintu. Dia tersenyum kearahku. Tanpa bisa dicegah lagi aku memeluknya dan kembali menangis. Minho membalas pelukanku. Dengan mudah dia mengangkat badanku masuk kedalam rumah dan menutup pintu.

“Oppa…. Aku kangen sama Oppa..”ucapku ditengah-tengah tangisanku.

“Nado chagi… aku bahkan lebihhhh kangen sama kamu” sahutnya. Walaupun tidak menatap mukanya, bisa kurasakan senyuman terukir di wajah tampannya.

Aku tertawa kecil. “Oppa, seandainya aku menikah denganmu, pasti aku bisa bahagia. Tidak seperti sekarang” sahutku dengan sendu.

Minho melepas pelukanku dan menyuruhku duduk disofa “Yaaa, jangan berkata seperti itu.”

“tapi aku serius Oppaaa”rengekku. Sudah menjadi kebiasaanku manja bila sedang bersamanya. Itu semua karena dia yang memintaku seperti itu dan juga karena sikap orangtuaku yang membiasakanku mandiri. Jadi, bisa dibilang aku bisa manja dan mandiri dalam jangka waktu yang berdekatan.

“memang apa yang terjadi? Apa dia memukulmu?” Tanya Minho dengan suara kaku. Aku menggeleng “Ani… dia memang tidak memukulku. Tapi tetap saja, aku benci Kibum!”

Akhirnya aku menceritakan semuanya, mulai dari perkataannya semalam dan perlakuannya tadi pagi.

Minho mengernyit tanda tidak suka “dia bilang seperti itu padamu?” tanyanya.

“Bilang apa?” balasku.

“bilang bahwa kalian tidak akan memberikan cucu pada orangtua kalian?” Tanya Minho lagi. Mukaku langsung memerah “Ohh itu… Ne, dia bilang itu padaku. Wae?”

“Ani… aku hanya ingin tau apa reaksimu” sahut Minho dengan senyuman nakal. Dia mencodongkan tubuhnya kearahku.

Aku mundur sedikit “Oppa….”

Minho menggeser lagi posisi duduknya dan menarikku hingga aku berada didekatnya. Deg.. dalam posisi sedekat ini aku bisa menatap wajahnya yang tampan. Tanpa bisa kucegah, aku menyentuh muka namjachingu-ku ini dengan perlahan, menatap setiap inchi wajanya. Minho menghembuskan nafasnya yang hangat dan  mendekatkan lagi wajahnya kearahku.

Minho menciumku dengan lembut, perlahan, dan penuh cinta (eazik). Awalnya aku hanya diam, tidak membalas ciuman itu. Tapi lama-kelamaan aku mulai membalas ciuman itu. Lidah Minho memaksaku membuka bibir dan pada akhirnya aku menyerah. Dengan leluasa dia menikmati setiap inchi mulutku. Lidah Minho bermain dengan lidahku,saling bertukaran ludah,menghisap mulutku dalam-dalam membuat nafas kami sedikit tersengal.

Masih sambil menciumku, dia menarikku untuk duduk diatas pangkuannya. Kedua tangannya memegang wajahku dan menciumku dengan lebih bernafsu, liar. Sementara aku mengalungkan tangan dilehernya. Aku melepas ciuman itu karena kehabisan nafas. Kali ini dia tidak menyerah, dia melanjutkan dengan mencium leherku, menjilat-jilat membuatku kegelian.

Sementara aku hanya diam menerima perlakuan itu, “Mmmhhh..”desahku pelan. Minho menghisap leherku berkali-kali. hingga aku yakin pasti leherku merah diberbagai tempat.

“Minho..hh” ucapku lagi. Berusaha melepaskan diriku dari pelukannya. “Hmm?” hanya itu reaksinya.

Dia melepas kancing kemejaku satu persatu, membuatku tersentak kaget. “Stop!” seruku.

Minho menatapku. “Wae? Kenapa kita harus berhenti?” tanyanya. Aku menutup kemejaku sebisa mungkin. Sambil terengah-engah aku menjawab “Aku sudah menikah. Kita tak bisa melakukan hal seperti ini”

Minho tersenyum “Aku mencintaimu Hyo. Apa itu tidak cukup? Lagipula bukannya kau benci pada suamimu?” tanyanya lagi. Aku menunduk “Ne… aku tau, tapi…”

Belum selesai aku bicara, mulutku sudah dibungkam dengan ciuman lagi. Well, semasa bodohlah. Aku membalas ciuman itu dan menyusupkan jemari ke rambutnya yang hitam legam.

Minho menarik tanganku, membiarkan kemejaku terbuka nyaris semuanya. Dia mengelus pundakku, lalu menjilatnya. Membuatku tak bisa menahan desahan “Hhh..Minhoo”. dia terkekeh lalu melanjutkan aktifitasnya. Bisa kurasakan breastku yang masih tertutup bra diremas pelan. “Aahh.”

Dia melepas kancing kemejaku yang terakhir dan melepaskan kemejaku. Membuangnya entah kemana. Menciumku lagi, lalu turun ke leherku. Tangannya tidak tinggal diam, dia meremas breastku berkali-kali membuatku mendesah hebat. Perlahan tangannya turun lagi kebawah. Menggelitik perutku, lalu turun lagi, mengelus pahaku yang tidak tertutup rok.

“Minho..hh..AHHH” seruku ketika dia meremas breastku dengan agak keras. Dia menatapku pelan “Mianhae..” aku hanya mengangguk terlalu lemas untuk mengucapkan apapun.

Minho menatapku. “rokmu menganggu”. Aku tersenyum licik, “baguslah, jadi ada penahan”. Mendengar itu dia memutar bola matanya “Aku seriuss”.

“Aku juga” ucapku.

“Baiklah, bisakah kau membuka rokmu sendiri? Please?” ucapnya sambil menunjukkan puppy eyesnya. Sebenarnya aku tidak tahan melihatnya seperti ini, tapi…..entahlah, aku merasa ragu.

“Hyo Min?” panggilnya. Menyadarkanku dari lamunanku. “Ne..?” jawabku.

“Gwechanayo?” tanyanya. Tampaknya dia melihat keragukan diwajahku. “A…ani. Aku tidak bisa” jawabku akhirnya.

“Wae? Tanya Minho dengan muka berkerut. “Aku… ingin Minho yang dulu. Yang selalu menghormatiku. Bukan seperti ini” jelasku dengan wajah menunduk.

“Ommo…. Kau menangis Hyo?” Tanya Minho begitu melihat tetesan air mata yang jatuh perlahan. “Ani…” elakku.

Tapi terlanjur, dia memelukku erat-erat. Sambil berbisik ditelingaku, “Mianhae Hyo, Jeongmal Mianhae… aku sudah terbawa nafsu tadi. Mian…” lirihnya.

Aku balas memeluknya. “gwechana..aku tidak apa-apa” sahutku parau. Akhirnya, aku bisa menahan tangisku walaupun sulit. Entah mengapa aku pasti sulit menahan tangisanku didepannya. Padahal aku tidak mau terlihat lemah.

“Ani.. aku benar-benar minta maaf atas perlakuanku tadi. Seharusnya aku melindingimu, menjagamu. Bukan malah membuatmu seperti ini.” Lirih Minho. Tampaknya dia benar-benar menyesal. Minho melepas pelukannya, dan tersenyum “gomawo chagiya…” Minho mengecup pipiku dengan lembut.

-end of Hyo Min POV-

***

-Author POV-

Malamnya Minho mengantar Hyu Min pulang ke apartemen Kibum. Awalnya yeoja itu menolak. Tapi Minho bersikukuh ingin bertemu dengan Kibum dan memberi perhitungan kepada namja yang sudah berani kurang ajar kepada yeojachingu-nya.

Minho masuk kedalam lobby sambil memeluk pinggang Hyo Min dengan mesra, membuat beberapa pegawai yang ada distu menoleh untuk memastikan apa yang mereka lihat. Kemudian mereka berbisik-bisik. Maklum, keluarga besar Kibum banyak yang memiliki kondominium maupun apartemen digedung itu. Sehingga mereka mengenal Kibum, juga istrinya yang baru menikah dengan megah kemarin.

Yeoja itu berusaha melepas pelukan namjachingu-nya, karena merasa risih. Namun pelukan Minho justru semakin erat.

“Oppa…. Lepaskan tanganmu. Aku tidak enak dilihat mereka..” ucapnya dengan pelan.

“Shireo. Kau ini pacarku, masa aku tidak boleh memelukmu.” Balas Minho.

“tapi Oppa…” rengek yeoja itu. Namun Minho tetap memeluknya. Bahkan ketika mereka sampai didepan pintu apartement milik Kibum.

-Minho POV-

Aku dan Hyo Min sampai didepan pintu kamar namja sialan itu. Dengan tenang aku memencet bel. Tidak lama kemudian pintupun dibuka.

“Sudah pulang rupanya” sambut Kibum dengan suara sinisnya. Hyo Min hanya menunduk, berbeda dengan diriku  yang menatap Kibum dengan pandangan ingin membunuh. Kibum balas menatapku dengan garang.

“Dan….lihat siapa yang datang. Hmph, ngadu sama pacar ya? Dasar pengecut” ucap namja itu. Dengan kilat aku melepas pelukan Hyo Min dan menarik baju Kibum dengan kasar. “Shut up your mouth!”

“Mau apa kau?!” bentak Kibum.

“Well, kedatangan gue kesini cuman mau memperingati lo. bahwa, bila sekali lagi lo, Kim Kibum bikin pacar gue nangis, gue ga akan segan-segan untuk matahin satu anggota badan lo. Jangan pernah lo bikin pacar gue menderita atau menyentuhnya sedikitpun!” balas ku dengan teriakan tertahan.

Namja itu melepaskan badannya dari cengkramanku dan memandangku sinis. “Memang siapa lo? Gue ini suaminya, gue berhak melakukan apapun kepadanya! Termasuk….” Kibum menggantungkan kalimatnya.

“termasuk apaa?!” semburku cepat. Dia tersenyum licik “Yaaa lo tau lah apa yang biasa dilakukan suami ke istrinya..” tanpa pikir panjang aku melayangkan kepalan tangan kearah mukanya. Membuatnya sempoyongan.

“HEI!!” seru Hyo Min. Dia mencegahku melanjutkan menghajarnya. “Oppa, sudahlah.. Itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan” aku menatapnya. Dia terlihat memohon, “Pleaseee” lanjutnya.

“baiklah. Aku pulang dulu. Kau jaga diri disini ya” sahutku tanpa mengalihkan pandangan dari Kibum.

“Ne.. aku janji” Hyo Min menganggukkan kepalanya. Aku menarik dagunya dan mencium bibir mungilnya dengan lembut.  Pada akhirnya dia melepaskan ciuman itu sambil terengah-engah.

Akhirnya dengan enggan aku meninggalkan dia dan Kibum didepan pintu apartement.

-Kibum POV-

Aku memalingkan muka begitu namja itu mencium bibir Hyo Min dengan mesra. Huh sial, kenapa aku jadi panas begini.

-TBC-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

96 thoughts on “Unpredictable Marriage – Part 1”

  1. Seru ceritanya,pengen lanjut baca.
    Kibum cemburu tuh hahaha.
    Tapi berasa kurang enak baca loe gue,mungkin karena gak biasa aja kali ya 😉

  2. Awal yg seru, pernikahan paksaan..

    kyknya nnti bkl sling suka dech, untung hyo masih mnganggap ki bum sbgai suaminya wktu Minho mw nglakuin ssuatu..
    lanjut yo..

  3. aku suka sm cerita.x ,
    udh deh key , akuin aja klo lo jealous .. lyt hyo min ma minho ma minho msh pcrn … aplg kissing
    haha

  4. Sebenernya udh lama baca ini tp baru komen sekarang heheh mian yaa author ^^v in lg bayar utang komen koq..
    Syukur yaa kagak jadi, padahal tinggal dikit lg. aku g suka hyomin sama minho -_-
    “Well, kedatangan gue kesini cuman mau memperingati
    lo. bahwa, bila sekali lagi lo, Kim Kibum bikin pacar gue
    nangis, gue ga akan segan-segan untuk matahin satu
    anggota badan lo. Jangan pernah lo bikin pacar gue
    menderita atau menyentuhnya sedikitpun!” <— /ngakak/
    Heheh sekali lg mian yaa thor ^^v aku cm brasa aneh aj..dgn kata2 lo gue..g kebayang masa minkey ngomong lo gue hehe

  5. Like this! ^^

    Waah, kenapa Kibum jadi dingin gitu??! Padahal dia harusnya bisa aja memperbaiki hubungannya dgn istrinya. Eomeo, apa dia cemburu karena Hyomin engga putus dgn Minho seperti dirinya yg tlh putus dgn pacarnya itu karena menikah dgn Hyomin??
    Ayolah Kibum, kasihan itu Hyomin digituin terus. Awas lho cinlok! kkkk

    Nice ff author,, ^^

  6. Ceritanya lumayan..tp blm nemu konflik..alur kyk muter2 di situ doang…dann dialognya kebanyakan sinetron..berasa pengen di skip…tp cerita keren kok keep writing ya….hwaiting ^.~

  7. ffx keren sih..tp kok bahasax lo gue sih?
    jgn marah yah thor.. karena selama ini aku baca ff dengan gaya bahasa dan cara penulisan yg gak pake lo gue.. mian, jeongmal mianhae…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s