MR Poster

Miracle Romance [Chapter V]

Author : diyawonnie

Title : Miracle Romance [Chapter V]

Cast : Lee Taemin, Shim Chaesa, Park Chaeri, Kwon Hyeorin (imaginary cast), Lee Jinki, Choi Minho, Key dan Kim Jonghyun.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

SORE ini Jinki mengelilingi koridor sekolah, mengecek beberapa klub yang masih memiliki kegiatan.  Dia tahu seharusnya ini bukan tugasnya, terlebih kini ia sudah berada di tingkat tiga. Karismanya yang kuat sebagai siswa teladan ditambah kemampuannya yang cukup baik dalam menjalankan organisasi membuatnya dua kali terpilih sebagai presiden siswa Goojung High School.

      “Sunbae,” sapa Chaesa saat dilihatnya Jinki berdiri di ambang pintu ruang latihan. “Ada yang bisa kubantu?”

      “Tidak, aku hanya mengecek.”

      “Oh, maaf. Kami sudah selesai, setelah berganti pakaian akan langsung pulang.”

      “Tak apa-apa, santai saja. Aku kemari bukan untuk mengusir kalian,” candanya.

      “Aku ganti pakaian dulu,” pamit Chaesa, ia sedikit membungkukkan badan.

      Jinki duduk di atas beberapa level stage yang ditumpuk di depan ruang latihan. “Aigoo, benar-benar klub drama… kenapa level-level ini ditaruh sembarangan?” gerutunya.

      Lima belas menit kemudian beberapa anak balet keluar dari ruang latihan. Kebanyakan dari mereka memberi hormat ketika melihat Jinki. “Ah, cantiknya… Kalau saja aku bukan presiden di sini, beberapa dari mereka sudah kupacari! Image ini memang menyiksa!” rutuknya.

      “Jinki-sunbae?” panggil Chaesa. “Kau masih di sini?”

      “Chaesa-ya, ayo ikut aku!” Jinki menarik tangan Chaesa dan menyeretnya pergi dari sana.

“KITA mau kemana?” tanya Chaesa hati-hati setelah hampir lima belas menit mereka diam menikmati perjalanan. Kini mereka sedang berada di dalam mobil.

      “Ke rumahku.”

      “Ne?” pekik Chaesa. “Tapi… Sunbae…”

      Ke rumahnya sama saja dengan ke rumah Taemin kan? Astaga, aku sedang tak ingin bertemu anak itu saat ini! Sudah bagus di sekolah tadi aku tak bertemu dengannya. Rutuk Chaesa dalam hati.

      “Kenapa tiba-tiba diam?”

      “Er, bolehkah berhenti di MR café?” Chaesa mengulurkan tangan, telunjuknya teracung pada sebuah café di sisi kanan jalan.

      Jinki mengernyit, “MR café?”

      “Ne, milik pamanku. Tiba-tiba saja aku ingin latte-nya,” ujar Chaesa dengan senyum terpaksa.

      “Tentu. Hyung, tolong berhenti di depan!” pinta Jinki pada driver.

      Setelah mobil terparkir, mereka memasuki sebuah café. Di mana sebelum masuk, tulisan ‘Miracle Romance Café’ terpampang di sebuah papan. Saat pintu mengayun ke dalam, sebuah lonceng kecil yang terpasang di atas pintu berbunyi. Beberapa karyawan pria berjubah ungu―mirip seperti jubah penyihir dalam film―menyambut mereka dengan sapaan ‘selamat datang’.

      Dinding café dilapisi wallpaper berwarna ungu bercorak abstrak berwarna emas dengan beberapa kain perak mengkilat dibiarkan menjuntai dari atas langit-langit. Lampu-lampu kecil yang menempel di dinding mengeluarkan cahaya temaram ditambah asap-asap tipis yang menghasilkan bau aroma terapi yang menusuk membuat kesan mistik semakin kental.

      Chaesa mempersilakan Jinki mencari sebuah meja, sedangkan ia mendatangi bar dan berbicara pada seorang karyawan.

      “Tolong panggilkan Key-samcheon!”

      Tak sampai tiga menit, pria yang bernama Key muncul. Ia berpakaian lain dari karyawannya, yang membedakan hanyalah warna jubah, yaitu merah muda. Rambutnya lurus dengan poni menyamping ke kiri, persis seperti rambut Taemin, hanya saja milik Key berwarna cokelat keemasan. Di atas hidungnya bertengger sebuah kacamata bening dengan bingkai hitam. Tubuhnya kurus dan tinggi, wajahnya juga kecil dan pucat.

      “Oh, Chaesa-ya, dengan siapa kemari?” tanya Key, datang dari dapur tertutup dengan sebuah serbet di tangannya.

      “Dengan Jinki-sunbae…”

      Raut wajah Key yang ceria tiba-tiba berubah. “Dia laki-laki?”

      “Aku kemari tidak bersama Chaeri,” ucap Chaesa dengan sedikit penekanan pada nama ‘Chaeri’. “Sudah kubilang kan, kau terlalu tua untuknya, cari saja wanita yang seumuran denganmu!”

      “Apa maksudmu tua? Aku baru 23―”

      “―dan kami masih 18!”

      Key memutar bola matanya jengkel. Ia kalah telak!

      “Sekarang apa yang kau butuhkan dariku? Jika hanya secangkir kopi, kau bisa meminta karyawanku yang membuatkan, bukan aku!”

      “Samcheon, lihat sunbaeku yang ada di meja itu?! Dia kakak lelakinya Taemin, dan kami sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Aku tak mau!”

      “Wae? Itu bagus kan, supaya kalian cepat akrab. Bukankah begitu lulus SMA kau akan langsung menikah?” goda Key.

      “Samcheon!!!” Chaesa menarik lengan Key, “Tolong usir dia!”

      Key memukul kepala Chaesa. “Kau pikir aku orang macam apa! Tunggu sebentar, aku akan membuatkan kalian kopi.”

      Mau tak mau Chaesa menghampiri Jinki di mejanya. Pria itu tengah serius memperhatikan daftar menu. Chaesa tampak canggung dan pura-pura memainkan ponsel.

      “Sudah pesan?” tanya Jinki.

      “Hm, sudah.”

      “Kenapa nama menu di sini aneh? Memangnya ada minuman ‘Unicorn Tails coffee’?” tanya Jinki dengan ekspresi bingung.

      “Pamanku memang sedikit gila, abaikan saja. Aku pesan menu normal kok.”

      Key datang menghampiri mereka dengan dua gelas kopi di tangan. “Sudah selesai…”

      “Take away?!” protes Chaesa.

      “Bukankah kau bilang sedang terburu-buru?” ujar Key, ia tersenyum mematikan. “Kupikir harus dibungkus tidak diminum di sini.”

      “Ya, kami harus segera pergi,” Jinki bangkit. “Di mana kasanya?”

      “Tidak perlu, ini gratis untuk kalian.” Lagi-lagi Key tersenyum menyebalkan.

      “Oh, kamsahamnida, Hyungnim.” Jinki sedikit membungkuk lantas mengambil kopi-kopi tersebut dan berjalan menuju pintu keluar. “Chaesa, ayo!”

      Chaesa mendelik dan menatap sebal ke arah Key. Ia menggerakkan bibirnya membentuk kata-kata, “You’re gonna die!” Sedangkan Key mendorong tubuh Chaesa ke arah pintu dan tersenyum sambil melambaikan tangannya.

      “Bersenang-senanglah!”

SELAMA di perjalanan Chaesa tak henti berdoa, berharap Taemin sedang tak ada di rumah. Namun sayang doanya tak terkabul. Taemin justru sedang asyik melahap apel di ruang TV sambil tiduran di sofa, seragamnya masih melekat di tubuhnya. Ia kaget melihat Chaesa ada di rumah Jinki.

Yaah, sedang apa kau di sini?” tanyanya.

Chaesa tak bisa menjawab, wajahnya merona. Ia merasa tak enak, seolah-olah datang atas kemauannya sendiri. Hal ini diperkuat karena sejak awal ia dan Jinki memang tidak terlalu akrab. Akhir-akhir ini Jinki lebih sering menyapanya, itulah yang membuatnya tak bisa mengelak.

Untung saja Jinki menyela, “Wajar Chaesa kemari, dia kan pacarmu sekarang. Jangan memperlakukannya seperti itu. Kau bisa membuatnya merasa tak enak.” Jinki berbicara blak-blakkan dan hal ini malah membuat Chaesa semakin malu. Pacar? Apapula itu…

“Tapi, Hyung…,” tanpa banyak bicara, Taemin langsung menarik Jinki ke sebuah ruangan terdekat. “Hyung, kenapa membawanya kemari? Kalau seperti ini, dia akan tahu identitasku yang sebenarnya.”

“Justru aku ingin dia mengetahui semuanya, Taemin-ah, aku tak ingin kebohongan ini malah akan menjadi bumerang bagimu di masa depan.”

“Tidak sekarang, Hyung!”

Well, terserah. Aku sudah memperingatkanmu.”

Taemin mengangguk tak peduli. Ia mengajak Jinki keluar kembali ke ruang tengah, di mana Chaesa tengah berdiri kaku sambil memegangi kopi. Jinki mempersilakannya duduk, lantas ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Taemin berjalan ke sofa, merogoh ponsel dari dalam tasnya.

Yeoboseyo, Eomonim, Chaesa ada di rumahku. Setelah makan malam akan kuantar pulang, jadi jangan khawatir. Ne, arasseoyo,” Taemin menutup panggilannya. “Heran, kenapa ibumu girang sekali. Heh, apa itu?”

Chaesa menatap ujung telunjuk Taemin yang mengarah ke barang bawaannya. “Oh, kopi. Tadi kami mampir ke café.”

“Untuk apa kau kemari?” bisik Taemin, khawatir Jinki akan mendengarnya. Ia menyambar kopi tersebut dan menyesapnya.

Chaesa balas berbisik, “Sunbae yang mengajakku. Kau pikir untuk apa aku kemari?”

“Kupikir kau kemari untuk mengakrabkan diri sebagai calon tunanganku,” Taemin tersenyum tipis, tatapan matanya berkilat. “Dengan begitu kau bisa mencaritahu segala hal tentangku ‘kan?”

Chaesa menyambar apel dari meja dan melemparnya pada Taemin, namun sayang usahanya untuk menyakiti lelaki itu sia-sia, karena Taemin berhasil menangkapnya dan menggigit apel tersebut.

“Menyebalkan!” desisnya.

Taemin mengangkat bahu dan memasang ekspresi menyebalkan. Chaesa geram, ia merasa tertipu. Setelah berbicara di rumahnya malam lalu, ia pikir Taemin tidak akan bertingkah menyebalkan lagi, ternyata pikirannya salah.

“Anak-anak, makan malam sudah siap,” panggil Jinki.

Taemin menarik tangan Chaesa dan menggiringnya ke dapur. Jinki menaruh panci berisi stew ke atas meja makan. Chaesa terkejut melihat sebuah celemek menempel di tubuh presiden siswanya.

Sunbae,” desahnya takjub. Datang kemari membuatnya melihat lebih banyak sisi lain dari Jinki.

“Ayo duduk! Makan yang banyak,” senyum menghiasi wajah Jinki, ia terlihat sibuk menyiapkan sendok dan sumpit.

“Biar kubantu,” Chaesa berlari menghampiri Jinki. Di belakangnya, Taemin hanya memandang bosan. Ia bahkan satu-satunya orang yang duduk di meja makan. “Kenapa sepi sekali? Di mana eomonim dan abeonim?”

Abeoji sibuk bekerja di Jeju, sedangkan eomoni berkunjung ke rumah nenek,” sahut Jinki santai, namun hal ini cukup membuat Taemin menegang di tempatnya.

Tak berapa lama, Chaesa dan Jinki bergabung di meja makan. Taemin terlihat sangat lahap menyantap makanannya.

“Kau seperti anak anjing yang tersesat, Lee Taemin, makanlah perlahan!” cibir Chaesa.

Taemin melotot, namun Jinki segera menyela. “Bagaimana hubungan kalian di sekolah? Apa teman-teman sudah tahu?”

Baik Chaesa maupun Taemin mengangguk tapi keduanya tidak berbicara. Sampai saat ini Jinki belum tahu kalau mereka hanya berpura-pura menjalani pertunangan.

“Kapan pesta pertunangan kalian diadakan?” tanya Jinki lagi.

“Tidak perlu, terlalu membuang-buang uang!” sahut Taemin, konsentrasinya masih pada makanan. “Lagipula orangtua kami sama-sama sedang sibuk.”

“Yeah, benar. Kami juga tidak akan menikah besok ‘kan?”

“Lho, bukannya memang begitu?” tanya Jinki.

Taemin langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Chaesa memberikannya segelas air. Ini adalah balas budi karena malam lalu Taemin juga menyelamatkan nyawanya. Namun Jinki menangkapnya lain.

“Pertunangan kan pada akhirnya akan menuju pernikahan. Kalian pikir hubungan kalian saat ini tidak serius? Jika harus diuraikan, dapat dikatakan kalian sedang menjalani masa pacaran yang serius. Bukan lagi masa perkenalan. Orangtua pasti berpikir kalau kalian akan cepat akrab karena satu sekolah. Jadi tak ada yang harus dikhawatirkan, pernikahan sudah diambang mata,” goda Jinki, ia menikmati lelucon ini.

“Itu terlalu terburu-buru,” protes Taemin.

“Kupikir juga begitu, tapi itulah yang kudengar dari mereka,” ujar Jinki bohong.

“Ba-bagaimana jika Taemin menemukan gadis yang lebih baik dariku? Mungkin kami masih bisa memutuskan hubungan. Aku juga bisa saja menemukan pria yang lebih baik dari Taemin―”

“Tak mungkin ada,” sela Taemin. “Kalaupun ada, susah sekali mencarinya.”

Sombong! Gerutu Chaesa dalam hati.

“Kalau aku menemukan pria yang lebih sopan, dewasa, tampan, dan berbakat dari Taemin, aku bisa saja berubah pikiran. Masih banyak pria seperti itu bertebaran di muka bumi…”

“Tapi Choi Minho itu tak memiliki apapun jika dibandingkan denganku!” celetuk Taemin.

Chaesa melotot, ia rasa Taemin benar-benar sudah di luar batas.

“Kalian ini bicara apa? Lanjutkan saja makannya!” ujar Jinki, ia menggelengkan kepalanya dan terkekeh geli.

SEHABIS makan, Chaesa duduk-duduk di ruang tengah bersama Lee bersaudara. Jinki seperti biasa membaca buku sambil menyesap teh hijaunya, sedangkan Taemin duduk canggung di sofa. Ia merasa risih dengan adanya Chaesa. Itu artinya, ia tidak dapat menanggalkan seragamnya dan berjalan-jalan di sekitar rumah dengan bertelanjang dada.

      “Chaesa-ssi,” panggil Taemin, namun Chaesa yang duduk di karpet tidak mengalihkan pandangannya dari TV. “Klub dance akan mengadakan showcase…”

      “Ah, benar,” sahut Jinki membuat Taemin sedikit jengkel mendapatkan respon dari orang yang tidak diharapkan. “Itu minggu depan ‘kan?”

      “Hm.”

      “Aku pasti datang,” ujar Jinki riang.

      “Kau kan sibuk belajar!” sembur Taemin, lalu ia mengalihkan tatapannya pada gadis yang masih serius menonton TV. “Aku mengundangmu, Shim Chaesa!”

      Masih tidak ada respon, hal ini membuat Taemin semakin kesal.

      “Hei, Shim Chaesa, kau mendengarku?”

      Chaesa masih memunggungi Taemin, namun perlahan-lahan terdengar suara isakan. Ya, gadis itu menangis tersedu-sedu. Membuat kedua lelaki di belakangnya terkejut dan melompat menghampirinya.

      “Yah, wae?” tanya Taemin panik.

      Chaesa menunjuk TV-nya dan menyeka air mata. “Aku tak mengerti kenapa ada pria segila Kim Juwon di dunia ini. Dia bahkan rela menukar jiwanya agar Gil Raim bisa hidup melalui tubuhnya,” isak Chaesa menceritakan alur drama yang sedang ia tonton.

      “Jadi kau menangis karena drama?” tanya Taemin tak percaya dan Chaesa mengangguk. Jinki yang sejak tadi berlutut mengawasi, tertawa terbahak-bahak.

      “Kau benar-benar lucu, Chaesa-ya,” gelak Jinki sambil memegangi perutnya.

      “Kenapa? Kalian sungguh mengganggu!” protes Chaesa.

      Taemin menarik napas panjang dan menjatuhkan dirinya di karpet. Chaesa menatapnya bingung. Berkali-kali Taemin mengerjapkan matanya tak percaya. “Kau membuatku cemas, Shim Chaesa, kupikir ada hal lain yang membuatmu sedih. Tapi entah kenapa aku justru bersyukur kalau itu karena drama.”

      Chaesa masih menatapnya dan tiba-tiba saja wajahnya sedikit memanas. Ia buru-buru merunduk untuk menyembunyikannya. “Aku harus pulang. Ini sudah pukul…,” Chaesa melirik jam tangannya, “…SEPULUH?!”

      Ia buru-buru menyambar tas.

      “Aku sedikit lelah, maaf tidak bisa mengantarmu, Chaesa-ya. Diantar Taemin tak apa-apa ‘kan?”

      “Tae-Taemin?” Chaesa melirik Taemin dan anak itu malah sudah mengenakan jaketnya sambil memainkan kunci motor di jari.

      “Hm, driver sudah tidak bekerja pada jam ini. Kepalaku benar-benar pusing. Maaf…”

      “Kenapa harus minta maaf, tak apa-apa. Kesehatan lebih penting untukmu, Sunbae―”

      “―Oppa, panggil aku oppa saja!” pinta Jinki dan Chaesa mengangguk perlahan.

      “Er, aku naik taksi saja…”

      “Jangan bodoh! Ini sudah malam. Banyak orang jahat yang mengincar gadis sepertimu!” sembur Taemin.

      “Gadis sepertiku seperti apa maksudmu?!” tanya Chaesa tersinggung. Inilah alasan mengapa ia ingin menghindari Taemin. Anak itu selalu memulai pertengkaran dan ini membuatnya sangat lelah.

      Beberapa saat kemudian, Chaesa sudah berada di belakang Taemin di motor besar merah milik Jinki. Di teras, Jinki melambaikan tangan pada mereka.

      Setelah balas melambaikan tangan pada Jinki, Chaesa berkata pada Taemin, “Mudah-mudahan kita tidak tabrakan ya.”

      “Aku bukan anak kemarin sore yang baru mendapat SIM motor!” balas Taemin dengan wajah masam.

      “Terserah, aku selalu berdoa dalam hati.”

      “Terserah juga, yang terpenting dari semuanya adalah pegangan padaku!” ucap Taemin sambil menarik kedua tangan Chaesa dari belakang dan melingkarkan di sekitar perutnya. Gadis itu tidak mengelak, ia bahkan sedikit setuju dengan saran Taemin. Ini semua semata-mata demi keselamatannya.

      Selama perjalanan, mereka habiskan dalam diam. Entah kenapa tautan lengan Chaesa yang melingkar di perut Taemin justru membuatnya sulit berkonsentrasi mengemudi. Degupan jantungnya terasa begitu cepat hingga membuatnya sulit bernapas.

      “Chaesa-ssi, lepaskan tanganmu!” pintanya.

      “Kenapa?”

      “Lepaskan saja!”

      Chaesa mendengus, ia malah memperat pegangannya. “Tak mau, aku tak tahu berapa batas kecepatan yang biasa kau gunakan. Ini pertama kalinya aku naik motor. Aku tak ingin mati konyol, Lee Taemin!”

      Wajah Taemin semakin memanas. Ia lebih memilih pasrah dengan degup jantung yang terus meningkat.

CHAESA bersama kedua orangtua dan adiknya berjalan menyusuri deretan kursi-kursi. Di belakang menyusul kedua orangtua Taemin. Setelah mendapatkan tempat, mereka semua duduk dan menunggu. Di depan, sebuah panggung setinggi perut orang dewasa sudah didekorasi sedemikian rupa.

Ini hari Sabtu dan kegiatan belajar-mengajar memang ditiadakan tiap akhir minggu. Hampir seluruh siswa Goojung High School datang untuk menyaksikan showcase klub dance. Ini memang biasa dilakukan jika ada pergantian ketua. Chaesa pun mengalami hal yang sama beberapa bulan lalu saat ia diangkat menjadi ketua klub balet.

“Chaesa-ya, sedang apa kau di sini? Lebih baik temui Taemin dan berikan semangat untuknya!” titah eomma.

“Iya, lebih baik kau pergi ke backstage, Chaesa-ya!” timpal ibu Taemin.

Chaesa memejamkan matanya dan menghela napas. Ia harus ekstra sabar menghadapi para orangtua otoriter yang ada di samping kiri dan kanannya. Mau tak mau ia bangkit dan jalan menyusuri kursi menuju backstage.

Koridor dipenuhi anak dance yang berlalu-lalang. Beberapa dari mereka ada yang berkerumun dan membicarakan masalah teknis, namun Taemin tidak terlihat di antara mereka. Chaesa melongokkan kepalanya ke tiap ruangan yang terbuka. Pria yang dicarinya memang tidak ada.

Tunggu, untuk apa aku kemari? Cukup kembali ke depan dan katakan saja sudah menemuinya. Kenapa otakku akhir-akhir ini berjalan sangat lamban? Ini semua karena Lee Taemin! Rutuk Chaesa dalam hati.

Saat berbalik, ia dikejutkan oleh Taemin yang hanya berdiri beberapa sentimeter darinya.

Yaaah, kenapa berdiri di belakangku? Membuat orang kaget saja!” protesnya sambil memegangi dada.

Taemin memasang wajah bingung. “Oh aku benar, ternyata memang kau. Sedang apa di sini?”

“Tak ada―”

“Kau mencariku?” sela Taemin, sebuah senyum menghiasi wajahnya.

Chaesa tidak menjawab, ia cukup terpesona dengan penampilan Taemin hari ini. T-shirt berwarna dasar putih dengan warna tambahan merah dan kuning di bagian atas sekitar lehernya membentuk tetesan air dan bertuliskan ‘ALEGA’, dipadu jaket kulit merah yang panjangnya bahkan tidak sampai pinggang. Lengan jaket yang sengaja dikerut hingga siku memperlihatkan beberapa gelang yang memenuhi kedua tangannya.

Tatanan rambutnya malam ini juga sedikit berbeda. Biasanya, poni dibiarkan menyamping hingga hampir menutupi sebagian mata kanannya. Namun, kali ini ia membuat poninya sedikit bergelombang dan menaikkannya ke atas. Semuanya, terlihat begitu sempurna!

Taemin mengibaskan tangannya di depan wajah Chaesa. “Kau kenapa? Tak enak badan?”

Chaesa kembali dari ‘masa terpakunya’, tanpa sadar ia buru-buru merapikan rambutnya. “Aku baik-baik saja. Aku… ke depan dulu.”

Taemin menarik lengan Chaesa saat gadis itu bergegas melewatinya. Buru-buru ia meletakkan punggung tangannya di dahi Chaesa. “Panas sekali. Kau sakit?”

“A-apa? Aku tidak sakit,” sahut Chaesa, ia lantas menarik lengannya. “Orangtua kita sudah menunggu di bangku penonton, aku harus segera ke sana.”

Gadis itu berlari kecil, membuat suara ‘tak tak tak’ bergema di sepanjang koridor yang mulai sepi. Saat sampai di ujung, ia berbalik.

“Taemin-ssi, ibuku dan ibumu memintaku untuk melakukan ini…,” Chaesa mengepalkan kedua tangannya dan menaruhnya sejajar dengan bahu menandakan semangat. Namun, ia melakukannya dengan sangat kaku dan terpaksa. “Fighting!”

Gomawo,” ujar Taemin, ia tersenyum lebar.

SATU setengah jam kemudian acara berakhir. Para orangtua sempat menemui Taemin terlebih dahulu di backstage untuk memberikan ucapan selamat atas keberhasilan showcase. Namun tidak lama, karena tepat pukul empat sore nanti orangtua Chaesa harus kembali ke Jepang, setumpuk pekerjaan yang berkaitan dengan kerajaan bisnisnya sudah menunggu.

Saat ini Chaesa tengah mencari Changmin. Begitu acara berakhir, anak itu langsung menghilang. Jadi terpaksa ia harus menemukannya sebelum pukul empat.

“Chaesa-ssi, kau belum pulang? Bukankah orangtuamu akan berangkat sore ini,” ujar Taemin secara tak sengaja mereka bertemu di halaman sekolah.

“Changmin hilang…,” gumam Chaesa putus asa.

“Hilang?! Kau tunggu di sini, aku ganti pakaian dulu, kita cari bersama-sama. Oke?” Taemin berlari masuk ke dalam sebuah gedung. Sedangkan Chaesa hanya mematung, perlahan-lahan wajahnya kembali memanas. Ia buru-buru berbalik dan memegangi pipinya.

“Ada apa denganku? Ini pasti demam. Ya, ini demam. DEMAM!” pekiknya seraya berlari meninggalkan tempat tersebut.

Ia terus berlari menuju ruang olahraga indoor. Di pintu masuk, ia menemukan sosok Changmin. Namun anak itu tidak sendiri, di hadapannya ada seorang pria bertubuh tinggi dan atletis terlihat sedang mengobrol dengannya. Chaesa tidak dapat melihat siapa pria tersebut karena posisinya yang memunggungi.

“Changmin-ah!” panggilnya dengan napas tersengal-sengal. Baik Changmin maupun pria tinggi yang ada di hadapannya sama-sama menoleh.

Langkah Chaesa terhenti ketika pria itu berbalik. Tiba-tiba saja lidahnya kelu dan semua dumalan yang hendak disemburkan pada adiknya menguap begitu saja.

“Chaesa-ssi,” sapa Minho, senyum menghiasi wajahnya.

“Oh, Minho… A-aku mencari adikku,” sahutnya terbata sambil menunjuk Changmin.

“Aku baru saja akan menghubungimu untuk memberitahu kalau dia ada di sini.” Minho mengacungkan ponselnya dan itu membuat Chaesa terkejut.

“Kau… tahu nomorku?” tanyanya hati-hati.

“Ya, barusan Changmin memintaku untuk menghubungimu kalau dia ada di sini. Nomor yang dia tahu selain rumah hanya nomormu.”

Minho masih saja tersenyum, meski tatapan matanya tetap tajam. Chaesa belum pernah berbicara dengan Minho lebih dari tiga kalimat sebelumnya, tentu saja hal ini membuatnya sangat gembira.

“Latihan?” tanya Chaesa seraya menunjuk pakaian basket yang dikenakan Minho.

“Hm, akhir minggu kami tak pernah absen. Kau?”

“A-aku…,” Chaesa memikirkan kebohongan apa yang akan dikatakan, karena tidak mungkin mengatakan kebenaran kalau tujuan utamanya kemari adalah untuk menghadiri showcase Taemin. “Aku…”

“Kami melihat showcase,” celetuk Changmin.

Showcase klub dance? Apa ada seseorang yang kau kenal di klub itu, Changmin-ah?” tanya Minho lembut, begitu kebapakan.

Chaesa buru-buru menyela saat Changmin hendak membuka mulutnya. “Kami tak ada kegiatan, jadi aku mengajaknya kemari. Changmin sangat suka dengan tarian. Benar kan, Changminie?” tanya Chaesa dengan nada mengancam.

N-ne…,” jawab Changmin ngeri.

Dari arah berlawanan, Taemin muncul. Ia kembali dengan pakaian seperti biasanya, namun rambut masih dibiarkan berdiri. “Yaaah, kau di sini? Aku mencari―” ucapannya terhenti ketika dilihatnya Chaesa tak sendiri.

“Oh, Taemin-ssi. Aku Choi Minho,” ujar Minho sambil mengulurkan tangannya. “Kita belum saling kenal ‘kan?”

Masih dengan tatapan dinginnya, Taemin menyambut uluran tangan Minho, ia menjabatnya. “Lee Taemin,” ujarnya. “Sedang apa kalian di sini?”

“Dia mencari adiknya dan kebetulan anak ini ada bersamaku,” sahut Minho. “Kau sendiri? Menurut ucapanmu tadi sepertinya kalian saling kenal.”

“Ti-tidak,” sergah Chaesa buru-buru.

“Ya, aku mengenalnya,” ujar Taemin santai, membuat Chaesa terbelalak. “Aku kenal dengannya…”

Minho mengikuti arah telunjuk Taemin dan berakhir pada Changmin. Serta-merta Chaesa menghela napas lega, seperti umurnya bertambah sepuluh tahun. Taemin berjalan menghampiri anak itu dan mencengkeram lengannya.

“Taemin-hyung,” sapa Changmin riang.

“Sudah hampir pukul empat. Kau harus ke bandara, Changmin-ah, ayah-ibumu sudah menunggu,” Taemin menggiring Changmin pergi. “Sampai nanti, Choi Minho…”

“Ya, sampai nanti. Senang berkenalan denganmu.”

Hyung, kita main Winning Eleven lagi kapan-kapan,” teriak Changmin.

“Ya, sampai nanti,” sahut Minho sambil melambaikan tangannya.

Chaesa sedikit bingung, memikirkan kapan waktu yang tepat untuk menyusul mereka. “Er, Minho-ssi, kurasa aku harus pergi juga. Teman-temanku sudah menunggu di gerbang depan,” ujarnya bohong. “Sampai jumpa…”

“Hm. Hati-hati.”

Chaesa berlari kecil untuk segera lenyap dari sana. Sedangkan Minho masih terus menatap Chaesa hingga ia menghilang. Matanya menyipit, tatapannya lebih tajam dari biasanya.

“Jadi, mereka sudah saling kenal? Kenapa aku begitu lamban,” gumamnya terkekeh.

 

­..to be continued..

 

 

Preview next part:

Chaesa: (Ponsel berdering)

Minho:   “Terima kasih sudah mendukung kami.”

Chaesa: “Siapa ini?”

Minho: “Choi Minho… Aku memperhatikanmu sejak awal, juga mendengar teriakanmu… Izinkan aku bertanggung jawab, kutraktir kau minum.”

 —

Minho: “Well, kencan kita hari ini gagal karena ulahku…”

Chaesa: “Ke-kencan?!”

Taemin: “Sedang apa kalian?!”

 —

Taemin: “Kenapa kau pergi dengan pria itu?”

Chaesa: “Choi Minho? Memangnya ada yang salah?”

Taemin: “Pergi dengannya berduaan saja dimana pria itu meletakkan tangannya di bahumu adalah suatu kesalahan besar!”

Chaesa: “Kenapa?”

Taemin: “…kau sudah berselingkuh!”

 —

Taemin: “Aku tak butuh pendapatmu, Pria Mesum! Minggir! Auramu buruk sekali!”

Key: “Akan kubalas nanti…”

 

+ Hola ~

+ Bingung mau ngetik apa ya…  -_____- Pokoknya bocoran untuk chapter depan, Taemin berubah jadi cewek.

+ Finally, Key muncul juga ~

 

©2011 SF3SI, Diya.

This post/FF has written by Diya, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

90 thoughts on “Miracle Romance [Chapter V]

  1. Jummaaaaaa…
    buahahaha~
    si Key ada rasa ke Chaeri???
    OMG… dilemma gw… *gaya cherrybelle*
    cantikk boo cafenya..
    sooo judulnya ngambil dr nama cafe Key.. good..good ^^b
    btw aq sih ngarepx warna cafe Key ijo2 gitu kyk asrama slyterin, kesanx Key agak kejem sih,.wkwkwk~ *ditabok Key*

    aq penasaran alasan Key jadikan tetem cewek

    1. cantik drmn itu cafe? hahaha~
      mistik…
      iya mit, di tengah jalan tiba2 kepikiran si cafe dinamain aja ky judulnya. biar ada nyambung2nya. LOL
      iya ya napa ga ijo aja… ga kepikiran, mit…

  2. zzzzz.
    Minhoo..pyah sih yeh .
    Nunggu si Chaerin mulai ada yg dketin bru turun tangan. Aing~

    Ituu. Si Chaerin mulai ada rsa noh sm Taem.
    Muehehehehehe

    Btw..
    Itu Key…nongol…ntar jd apaan dia?
    Mueeeehh.
    Penasaraaaaaaaannn !! +.+

    dan itu… Taemin jd cwe????
    Dlam rangka apa coba +.+ #plak

    Mueeeeeehhhh.
    D tungggguuu kelanjutaaaannyaaaaaaaaaaaa ! *O*

  3. MAMOT DATANG LAGI~! Komennya udh tau ini kan? cape ah nulis lg~!lol!
    Ditunggu chapter 6 n 7 di sini. Asa ga apdol klw bc duluan. Belon aku baca diy 6 n 7nya~ huew.. Nunggu aja ah.

  4. wahhh… chaesa bnr’ terpesona nihhh kyk na ama taemin ,,,,
    hahhaha …

    seru – seru , makin seru ajaa …

    hahhaa, aku kira di part inii taemin berubah jadi cewe , aku kira kopi yg di bwain ama chaesa itu yg ngebuat taemin berubahhh …
    salahhperkiraan … wkkwkwkw

    lnjut part berikut na …. hehhehehe

  5. Huaaaaa Taemin n Minho saingaaaaaannn
    Image aegyo taemin ilang sama skali dsni! Transformasi jd cwo cool!!! Sukaaaaa \(´▽`)/

    Baca part slanjutnya…. Syuuuuutttt…

  6. pen bet jd chaesa yg direbutin minho ama taemin. Engga bakalan nolak salah satu. Terima semuanya, sayang bgt namja ganteng ditolak. Limited edition klo di dunia mah wk *rakus*

  7. Hyaaaaaa kenapa key umma jadi aneh disini thor? Haha…. Key umma balas dendam uh sma chaessa gara” gak bawa chaeri jadi dia ngerjain chaesa deh hhe.. Daebakdaebak🙂

  8. “Pamanku memang sedikit gila, abaikan saja. Aku pesan menu normal kok.”
    KEY SAMCHOON!!!! SAMCHOON!!!! HUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA~~~ *gila*
    Ckckck… suka deh. Minho mulai aktif, huohoho~~~
    next next~~

  9. key tua!
    hahahaha…
    ngebayangin taemin yg gugup krna d peluk chaesa…heumm
    wahhhh…minho mulai bergerak ni, paya
    taemin mesti siaga biar ga kecolongan minho
    itu changmin aja udah dkat dg mnho
    smngat taemmmmmm

  10. Aku berharap si Minho cemburu, eh taunya malah ketawa aduhhh,, Minonggg…..
    huahhh,,,, disini malah Taemin yg jeles ya hahaha,,,, Changminnnn,, gawean main game terusss,,,, sama noona mau gak? //kasih winkuu//

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s