A WOMAN FOR MY DAD [1.2]

Title: A WOMAN FOR MY DAD [Sequel of drabble SNOW] part 1 of 2

Author: @mpebriar

Main Cast:

  • Lee Jinki
  • Lee Minri
  • Park Kiyoung

Support Cast:

  • Han _____

Length: twoshot, sequel

Genre: romance, family

Rating: G

Summary: Seorang gadis yang haus akan kasih sayang ibu yang notabenenya tidak pernah dia rasakan sejak lahir. Tinggal bersama ayahnya saja tidak cukup, dia ingin sekali merasakan kasih sayang ibu. Suatu ketika gadis itu bertemu dengan seorang perempuan yang sangat menarik perhatiannya. Akankah ayahnya menikah dengan perempuan pilihan anak gadis tersayangnya?

A.N: Annyeong, im back! Kali ini kembali dengan sekuel SNOW. Apa itu SNOW? Cerita drabble yang kurang lebih bercerita hanya 500 huruf saja (namanya juga drabble). Mau baca? https://shiningstory.wordpress.com/2011/09/13/snow/ . Oh ya, di SNOW, nama Han Jinri aku ganti jadi Lee Minri. Kenapa? Alasannya aku buat akhir cerita nanti. Selamat membaca ^^

A Woman For My Dad

 

Pagi yang tidak tenang. Biasa terjadi –khususnya dalam seminggu ini- di kediaman keluarga Lee. Teriakan di sana-sini terdengar. Untunglah apartemen mereka cukup kedap suara sehingga suara mereka tidak begitu terdengar dari luar ataupun para tetangga.

“YA, PEMALAS! CEPAT BANGUN!”

Seorang gadis berumur dua belas tahun tidak henti-hentinya mengguncang-guncang tubuh seorang pria yang masih bergulat dengan bantal gulingnya.

“BANGUUUUN! Ini sudah jam setengah lima. Belikan aku bumbu di mini market!”

“Aku masih mengantuk, Minri-ya! Bisa tidak kau tidak mengganggu tidurku? Kali ini saja!” sahut pria itu yang kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

Gadis yang bernama Minri itu berhenti mengguncang tubuh pria dibalik selimut tersebut, lalu mendengus kesal. Berkacak pinggang sambil memandangi tubuh pria malas tersebut.

“Kalau begitu jangan salahkan aku kalau aku hanya masak kimchi saja pagi ini!”

“ANDWAE!”

Pria tersebut langsung menyingkap selimutnya sendiri dan berdiri di hadapan Minri yang tingginya kurang dari 17 senti darinya.

“Baiklah, anak kecil! Kau mau aku belikan apa?” kini pria itu ikut berkacak pinggang. Bicara seolah sedang berhadapan dengan teman.

“Sekali lagi appa memanggilku anak kecil, aku tidak akan memasakkanmu ayam goreng!”

“Ah, baiklah, Minri cantik! Mau dibelikan bumbu apa?” tanyanya lagi dengan senyuman yang sangat terlihat jelas dipaksakan.

Minri tersenyum lalu menggelayut manja di lengan pria yang ada di hadapannya. “Bumbu ayam goreng, dong! Memang appa suka apa lagi kalau bukan ayam! Jangan lupa di mini market dekat taman.”

Setelah bermanja-manja ria dengan ayahnya sendiri, Minri keluar dari kamar ayahnya yang cukup berantakan dengan kertas-kertas. Pria itu menghela nafas panjang saat Minri sudah menghilang dari kamarnya. Kemudian dia berjalan keluar kamar dengan jaket hitam tebalnya, masih malas mengganti piyama.

“Apa sih maunya anak itu? Seminggu ini menyuruhku keluar pagi-pagi! Aaaah, aku masih mengantuk!!!” rutuk pria itu sembari mengacak-acak rambutnya layaknya orang frustasi. Anaknya –Minri- yang mengintip dari balik dapur hanya tersenyum puas melihat ayahnya sudah menghilang, keluar mencari bumbu yang Minri pinta.

“Sudah saatnya appa mencari yang lain, kekeke!” Minri terkekeh sendirian sembari membumbui ayam mentah yang sudah dia keluarkan setengah jam yang lalu dari kulkas dengan bumbu ayam goreng yang sudah dia beli tiga hari yang lalu.

Tidak lama bel berbunyi. Minri mendesah pasrah seakan tahu siapa tamu yang tidak tahu diri yang datang di pagi-pagi buta begini. Mencuci tangannya buru-buru dan mengelapnya di apron biru yang sedang dikenakan. Buru-buru Minri menengok interkom.

“Nenek centil! Mau apa lagi dia ke sini?” rutuk Minri sembari berkacak pinggang. Dengan langkah malas dia berjalan menuju pintu.

CKLEK!

“Annyeong, Minri-ya! Ini aku bawakan roti isi ayam. Kebetulan sekali aku masak lebih. Apa Jinki oppa masih tidur?” tanya tamu centil tersebut seraya berjinjit dan melongo ke dalam apartemen.

“Appa masih tidur!” jawab Minri ketus. Langsung saja direbut kardus makanan yang berisi roti isi ayam tersebut dan langsung menutup kasar pintunya. “Dasar centil! Oppa? Tidak sadar ya perempuan tua itu tiga tahun lebih tua dari appa!” cibir Minri.

Minri berjalan menuju dapur dan sedikit membantik kardus makanan itu ke atas meja. Dibukanya kardus kecil tersebut dan aroma roti yang baru matang menyeruak ke dalam hidungnya. Tiba-tiba saja perutnya bergetar. Buru-buru menggeleng kepalanya karena dia harus makan bersama ayahnya.

CKLEK!

Selang lima belas menit kemudian, pintu apartemen terbuka dari luar dan munculah Jinki yang sedang mengusap-usap tangannya dengan cepat. nafasnya sedikit berasap karena cuaca begitu dingin. Mungkin masa-masa menati musim dingin, hanya tingga menunggu salju turun.

“KAU?” pekik Jinki saat berjalan ke dapur menghampiri Minri yang siap menggoreng ayam. Jinki terduduk lemas di kursi makan sembari meletakkan sebungkus ayam goreng dari balik jaket tebalnya.

“Aish, jinjja! Apa alasanmu menyuruhku pergi pagi-pagi begini sebenarnya?”

“Mianhae, appa! Aku lupa kalau tenyata bumbunya masih ada, terselip,” kata Minri menyembunyikan senyumannya.

“Kemaren kau menyuruhku beli ayam, tapi nyatanya saat aku pulang ayamnya sudah tersaji. Kemudian kau suruh aku beli susu, tahu-tahu kulihat kau sedang minum susu saat aku sudah kembali. Dan belum lagi yang lainnya. Kau mau menyiksa appamu, huh?” tanya Jinki dengan nada yang semakin melemah. Namun tiba-tiba hidungnya mencium sesuatu. Wangi yang sangat tidak mungkin tidak terdeteksi oleh hidung seorang Lee Jinki. Dan karena wangi itu, dia jadi lupa pada kekesalannya.

“Ayam!” seru Jinki yang masih mengendus. Pandangannya beralih pada makanan yang wanginya begitu menggoda di atas meja makan. Tangannya meraih roti isi ayam tersebut, tapi kemudian Minri menepuk tangan Jinki.

“Kau mau makan makanan buatan anak tersayangmu atau nenek centil itu?” tanya Minri galak. Kembali berkacak pinggang di depan ayahnya.

“Aigoo! Satu saja. Jebal!” pinta Jinki. Wajahnya memelas tapi tidak membuat pendirian Minri runtuh.

“Tidak. Bisa.! Aku takut bibi Park menaruh pelet di roti itu. Hiii, membayangkan dia jadi ibuku saja sudah membuatku merinding. Sana mandi! Sarapannya sebentar lagi siap!”

“Siapa juga yang mau menikah dengan perawan tua itu! Huff!” Pipi Jinki menggembung.Tidak salah kalau Jinki sering kali disangka anak kuliahan oleh orang lain. Dan orang-orang akan sangat terkejut begitu tahu dia sudah berumur 35 tahun dan sudah memiliki anak perempuan berumur 12 tahun.

Selang setengah jam kemudian, Jinki keluar dari kamarnya dengan dasi yang masih bertengger dibahunya. Kancing kemeja putihnya belum terkait. Rambut kecoklatannya masih acak-acakkan karena belum disisir.

Minri yang sudah mengenakan seragamnya, sibuk menuang nasi ke dalam mangkuknya dan milik ayahnya.

“Wangiii!” seru Jinki setelah mendudukkan diri di kursi. Kemudian meraih sumpit dan mengambil beberapa lauk di hadapannya, terutama ayam yang telah menemaninya selama 35 tahun ini. Jinki melahap dengan nikmat. “Masakanmu semakin lama semakin enak, Minri-ya! Kalau begini buatkan aku bekal makan siang, ya? masakan di kantin kantor kalah jauh dengan masakanmu.”

“Kau tidak malu bawa bekal? seperti anak sekolahan?” tanya Minri dengan mata besarnya, mata yang dia dapat dari mendiang ibunya.

Jinki meletakkan sumpitnya dan menatap Minri lekat-lekat. “Kenapa malu? Kan aku masak masakan anakku sendiri. Harusnya aku bangga, dong! Anak perempuan temanku bahkan tidak bisa mengupas apel!”

Minri hanya tersenyum begitu ayahnya mengacak-acak puncak rambutnya. Merasa sangat beruntung memiliki ayah sekaligus ibu seorang Lee Jinki.

“Minri-ya, boleh appa tanya sesuatu?” tanya Jinki tanpa menoleh, matanya masih fokus menatap jalan yang ada didepannya. Sesekali Jinki memutar sedikit stir mobil begitu jalannya sedikit melenceng.

“Tanya apa?” tanya Minri, masih fokus pada psp yang dia dapat dari ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya dua bulan yang lalu.

“Menurutmu apa aku masih cocok untuk menikah lagi?”

“YAAA! MATI!!!” teriak Minri saat muncul tulisan game over di layar pspnya. Suara kerasnya cukup membuat Jinki terkejut. “Eh, appa bilang apa tadi?” tanya Minri menoleh pada Jinki.

“Menikah! Bagaimana menurutmu?”

Minri menelan ludahnya sendiri. Bukannya dia tidak setuju ayahnya menikah lagi, malahan akan menjadi kabar gembira. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Minri ingin ayahnya menikah dengan perempuan pilihannya.

“Kenapa diam? Kau tidak setuju?” Jinki menoleh, membalas tatapan kosong Minri. Tidak terasa mobil telah menepi di seberang sekolah Minri. “Minri-ya?” Jinki melambai-lambaikan tangannya di depan wajah putrinya. Lamunan Minripun buyar.

“Menikah?

Jinki mengangguk.

“Aku tidak bisa bilang setuju, tapi tidak bisa bilang tidak setuju juga!”

Jinki mengernyit, bingung dengan apa yang dikatakan Minri barusan. Dia hanya terdiam membiarakan Minri membuka pintu mobil dan keluar tanpa pamit.

Minri berjalan malas di trotoar jalan, menendang batu-batu kerikil yang ada di depannya. Entah kenapa kali ini enggan sekali menggunakan bus untuk bisa sampai di halte dekat apartemennya. Padahal jaraknya cukup jauh, tiga kilometer.

“Hahh!” Minri menghempaskan nafasnya. Kata-kata menikah kembali terngiang di pikirannya dan karena inilah dia mendapat hukuman mengerjakan sepuluh soal matematika karena melamun di tengah pelajaran.

BHUG!

Minri terjatuh karena menabrak seseorang.

“Aigoo! Mianhamni-“ suara perempuan tersebut terputus begitu melihat wajah Minri, “Min-ah?”

“Kiyoung-ssi?”

Minri berdiri, dibantu oleh Kiyoung.

“Aigoo! Min-ah, kita bertemu lagi! Annyeonghaseyo!” sapa perempuan yang lebih tinggi tujuh senti dari tinggi Minri. Minripun tersenyum ramah. Akhirnya dia kembali bertemu dengan orang yang ingin dia jodohkan dengan ayahnya.

“Kenapa Kiyoung-ssi di sini?” tanya Minri sambil menatap perempuan yang bernama Kiyoung dari atas hingga bawah. Banyak noda-noda cat berwarna-warni di sekitar kulit putihnya dan pakaiannya. Lagi-lagi penampilan itu yang dia lihat.

Kiyoung mengendikkan kepalanya pada dinding yang menjulang sepanjang jalan. Minri berdecak kagum memandangi lukisan-lukisan abstrak yang dia gambar di dinding tersebut.

“Proyek dari bos. Kali ini pak walikota meminta dinding ini dilukis sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan presiden dari negri kangguru lusa besok.”

“Sendirian?”

“Kau lihat ada orang lain? Dinding ini panjangnya hanya dua ratus meter, kedua tanganku masih mampu menyelesaikannya sendiri.”

“Lalu lukisan di taman?”

“Aku sudah menyelesaikannya tiga hari yang lalu!”

Terbersit rasa kecewa di hati Minri. Sia-sia dia menyuruh ayahnya keluar rumah agar bisa melirik Kiyoung yang dia kira seminggu ini sibuk di taman itu di pagi-pagi buta. Ternyata tiga hari ini lukisan kontemporer untuk taman yang baru direnovasi sudah selesai dan otomatis ayahnya tidak bisa melirik Kiyoung.

“Kenapa tidak makan? Padahal aku sengaja bawa makanan kesukaanmu,” kata Jinki memandangi putrinya yang terlihat lesu. “Kau berbuat apa lagi di sekolah? Tidak mengerjakan tugas? Oh, apa nilai ujian sebulan lalu sudah keluar?” mata Jinki yang sudah sipit makin menyipit, menatap Minri penuh selidik.

Minri bangkit dari tempat duduk. Berjalan ke arah sofa dimana dia tadi meletakkan tas sekolahnya. Kemudian merogoh isinya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. Masih dengan tampang lesu Minri kembali ke meja makan.

“Igeo!” Minri menyerahkan kertas-kertas tersebut pada Jinki. Jinki mengambil kacamata tipis di saku kemejanya dan mengenakannya dengan cekatan. Fokus melihat tulisan tangan besar di ujung-ujung kanan atas kertas-kertas tersebut, tidak memedulikan Minri yang masih mengacak-acak ddukboginya. Sesekali Jinki berdecak kagum melihat nilai-nilai yang didapat putrinya.

“Paling kecil 70. Lalu kenapa kau lesu begini, cantik?” Jinki kembali melepas kacamatanya dan meraih sumpitnya. Dicapitnya potongan ayam madu ke dalam mulutnya.

Minri menghela nafas. Nafsu makannya hilang seketika.

“Aku mengantuk, appa!” cetus Minri, meletakkan sumpitnya di atas mangkuk yang berisi nasi yang tidak berkurang porsinya. Kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya, lupa kalau hari ini dia yang bertugas mencuci piring.

Minri menghempaskan tubuhnya di tempat tidur bersprai biru langit polos. Hanya menatap langit kamar yang gelap. Bintang-bintang bersinar di kamarnya, tempelan bintang-bintang yang akan bersinar kehijauan jika lampu kamar dimatikan.

Gadis cantik itu kembali teringat akan pertemuan pertamanya dengan Kiyoung. Tidak sengaja mereka bertemu di pagi buta saat Minri ingin membeli persediaan susu yang kosong di mini market dua minggu yang lalu. Minri sempat terkagum dengan perubahan taman yang tadinya tidak terawat. Terdapat lukisan-lukisan kontemporer di sudut taman.

“Ini kau yang membuatnya, tuan?” tanya Minri tanpa menoleh pada sang pelukis yang masih sibuk mengaduk cat. Matanya masih memandang lukisan-lukisan yang baru jadi 2%.

Yang dipanggil tuanpun berdiri. Tawa renyahnya berdengung saking kosongnya taman itu. “Hahaha, apa tampangku seperti seorang pria?”

“Omo!!! Mianhamnida…hmm..”

“Namaku Kiyoung, Park Kiyoung!”

“M…mianhamnida Kiyoung-ssi! Aku tidak tahu kalau kau perempuan.”

“Gwenchanseumnida! Kau suka lukisanku?”

“O! Melihat dari gerbang taman saja sudah menarik perhatian. Lukisanmu bagus sekali Kiyoung-ssi!”

“Gamsahamnida! Aku sangat senang ada orang yang menyukai lukisanku. Namamu siapa? Kenapa berkeliaran di pagi-pagi buta begini?”

“Persediaan susu habis. Oh ya, kau bisa panggil aku Min.”

“Min? Min-ah?”

“Haha terserah kau saja, Kiyoung-ssi! Oh ya, apa aku boleh belajar melukis darimu? Kebetulan aku ada tugas seni dari sekolah. Ayah tidak pandai melukis, cuma bisa menilai. Yah, kalau kau tidak keberatan.”

“Kenapa tidak? Tapi aku hanya bisa di sini saat pagi-pagi buta begini.”

Sejak saat itulah Minri menjadi dekat dengan Kiyoung. Kiyoung adalah seorang pelukis kontemporer sekaligus administrator dalam sebuah perusahaan. Memiliki pribadi yang hangat dan supel. Maka dari itu Minri bisa langsung akrab dengan orang asing. Bahkan Minri tidak sungkan-sungkan bercerita mengenai ibu yang tidak pernah dia temui. Kiyoung memberi pelukan pada Minri. Belum pernah Minri merasakan pelukan hangat seperti itu.

Kemudian terbersitlah ide untuk menjodohkan Kiyoung dengan Jinki. Awalnya dia kecewa karena Kiyoung bercerita sudah menjalin hubungan dengan pria yang berumur tiga tahun lebih tua darinya sejak tiga bulan lalu. Tapi Minri belum menyerah. Selama janur (?) pernikahan belum berkibar, Minri akan tetap berusaha menjodohkan ayahnya dengan perempuan itu.

Karena itulah, sejak seminggu yang lalu Minri menyuruh Jinki membeli sesuatu yang tidak sangat biasa Jinki beli di pagi buta. Entah itu susu, bumbu makanan, detergen. Dan untungnya Jinki menurut.

Jinki adalah tipe orang yang tidak akan mengabaikan hal-hal yang menurutnya menakjubkan. Kalau bagi Minri lukisan Kiyoung sangat indah, begitu pula pemikiran Jinki nanti begitu melewati taman tersebut. Tapi usahanya sia-sia karena Jinki hanya berkata “Sudah tahu lukisan di taman? Indah!” atau “Lukisannya hampir jadi!”. Yang ingin Minri dengar adalah “Kau tahu? Yang melukis ternyata perempuan,” dan “Aku suka pelukisnya…eh maksudku lukisannya!”

Dan siang tadi dia kembali bertemu Kiyoung. Percakapan mereka kembali terngiang.

Kiyoung-ssi? Bagaimana hubunganmu dengan pacarmu?”

“Sangat baik! Wae?”

“Lalu apa kau mau menikah dengannya?”

“Aku ingin sekali menikah dengannya. Dia pria terbaik yang selama ini pernah kutemui. Hanya saja…”

“Hanya saja?”

“Ada kendala yang sangat penting. Bisa saja kami menikah, tapi mungkin saja tidak jadi menikah.”

“Apa kendalanya sebegitu rumitnya?”

“Sangat! Dia adalah kunci.Kalau kendala ini bisa diselesaikan, kami pasti akan menikah. Hanya saja sepertinya tidak bisa diselesaikan.”

Saat itu Minri ingin sekali tersenyum, tapi tentu saja diurungkannya.

Kiyoung-ssi, apa Rabu lusa kau mau makan malam denganku? Aku ingin sekali mengenalkan ayahku padamu!”

Kiyoung tiba-tiba saja tertawa. “Hahaha, kau mau menjodohkanku dengan ayahmu, ya? Mianhae aku tidak bisa, Min-ah! Aku ada acara.”

Minri ingin sekali menangis saat itu, tapi tentunya harus ditahan. Dia tidak ingin dipandang lemah oleh orang lain. Dan Minri mulai berpikir, sepertinya Kiyoung memang bukan jodoh Jinki. Mata Kiyoung berbinar-binar jika bercerita menyangkut orang yang dicintainya, dan Minri bisa menangkap itu. Gadis itu tidak tahu siapa nama pria itu, tapi dia merasa pria itu beruntung bisa memiliki Kiyoung.

“Haaaah!” Minri mendesah keras.

Minri memandang kosong langit-langit kamarnya yang bertabur bintang. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Sudah sejak tadi sore dia ingin sekali menangis. Untuk meredam isakannya, Minri menggigit ujung selimutnya agar Jinki tidak mendengarnya. Air matanya tidak mau berhenti walaupun Minri terus mensugestikan diri untuk tidak menangis.

Tinggal selangkah lagi untuk bisa merasakan kehangatan seorang ibu, tapi Minri berpikir mungkin sudah takdirnya tidak bisa merasakan kehangatan itu.

CKLEK!

Buru-buru Minri menutup kepalanya dengan selimut. Tidak mau Jinki melihat Minri menangis. Kerapuhan yang selama ini Minri sembunyikan. Dia tidak mau melihat Jinki sedih karena merasa bersalah pada hal yang sebenarnya bukan salahnya.

“Chagiya!”

Tempat tidur Minri sedikit bergoyang karena menahan beban Jinki.

“Aku tahu kau belum tidur!”

Tidak ada sahutan dari Minri. Jinkipun menghela nafasnya.

“Kau bisa cerita padaku. Apa yang membuat putriku jadi begini? Kau tahu, appa jadi tidak bisa tidur kalau tidak tahu apa yang sedang menimpamu!”

“Tidak ada apa-apa, appa! Aku hanya sedang haid. Ini hari pertamaku,” sahut Minri di balik selimutnya.

“Ya, kau pikir aku tidak tahu kelakuan anakku sendiri? Kalau kau sedang haid, kau akan marah-marah bukan lesu begini!”

Tiba-tiba Minri terisak dengan keras. Menyingkap selimutnya hingga wajah sembabnya dapat dilihat oleh Jinki. Tanpa basa-basi Minri berhambur ke pelukan Jinki.

“Kau kenapa, little princess?”

Tangan Jinki memeluk tubuh putrinya. Mengelus-elus rambut sebahunya, berharap Minri berhenti menangis.

“Apa umma benar-benar tidak bisa kembali, appa?” tanya Minri. Pertanyaannya membuat Jinki terkejut. Dan dari situ dia mulai sadar apa yang membuat Minri seperti tidak punya gairah hidup. Jinki mengeratkan pelukannya. Sama rindunya dengan sosok itu. Hatinya sedih mengingat istri yang sangat dicintainya meninggalkan mereka berdua karena melahirkan Minri.

Jinki ingin sekali menangis, tapi dia tidak mau kelihatan rapuh. Ayah dan anak sama saja.

“Kalau aku menemukan lampu wasiat aladin, jin itupun pasti tidak bisa mengabulkan keinginan kita, cantik!”

Minri semakin terisak. Jinki kembali mendekap kepala Minri. Air mata yang berusaha ia tahan akhirnya tumpah juga. Merindukan sosok perempuan yang meninggalkan mereka 12 tahun yang lalu.

-TBC-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

20 thoughts on “A WOMAN FOR MY DAD [1.2]”

  1. Wah jgn2 namja chingu park kiyoung tuh jinki lg??
    “Sok tau,, mode on”…hehehe

    Ah, ending crita d part ni mmbuatku trharu chingu…

    Next part nya dtunggu ya… 🙂

  2. hoooaaa sy mewek…
    eh tunggu.. jgn2 pcr kiyoung itu jinki lg. pas bgt kan jinki ngomongin soal nkh m anknya. trus kiyoung blg dia m pcrnya bs nkh klo suatu kndala it terselesaikn. jgn2 kndlanya ank jinki.. *reader sotoy* lol
    ayo author.. lnjutnnya cpt. udh pnsrn ini

  3. Huah…ckp terharu sama kehidpannya Minri.
    Kasihan Minrinya. Ya ampun, pngn nangis bacanya.
    Jinki di sini kesannya Appa yg baik dn hngat.
    Ahhh..pngn dh punya Appa kaya jinki#plakk
    next chap jgn lama2 yah thor.
    Penasaran ini… 😉

  4. Terharu saiia baca.a mpe nangis*lebe*..
    Saiia jd ingat ayah,, wkt jinki meluk minri..
    huhuhuu T_T
    Jngn2 kiyoung pacaran ma jinki.. wkt kiyoung bilang cowo.a adalah kunci dr kendala hubungan.a..
    jinki kan punya anak jd hrs mikirin anak dulu..

  5. waaah iya, aq punya filing klo pacar kiyoung itu jinki 😀

    ah makin suka sama si nyu nyu deh, nyahahaha

    keren author

  6. huaaaa aku mau nangis bcanya….
    jinki sosok ayah yg hangat bngt…
    jdi sosok yg bsa jdi temen buat anaknya…

    sma sperti komen yg lainnya..menurut aku pcar kiyoung itu jinki…
    btw kiypung umurnya brpa sih…ko minri manggil nya cuma kiyoung-shi aja…ga sopan nih anak *diomelin jinki balik

  7. Ahhh…………..sedih…………… Jgnjgn pacarnya appa jinki kiyoung lg????
    Penasaran ulala~ ditunggu ya thor slanjutnyaaa^^

  8. pertamanya lucu, aku suka ceritanya … pas kesini-kesin inya nyesekkk
    huwaaa minri sabar ya ….
    huwa jinki kenapa tuh nanya2???
    ahahah udah punya pacar … iya menurutku juga gitu kiyoung itu pacar jinki, karena kesamaan presepsi …
    heheheh

  9. wah… bagus banget! walau singkat tp aq sgt menikmati alurnya. authornya sring nulis cerpen ya? gaya nulisnya bagus.. great 🙂

  10. semoga aja pacarnya jinki itu kiyoung… amien…
    aigo… sedih banget sih? sini aku peluk #plak
    jinki DAEBAK…. bisa jadi omma & appa sekaligus
    ckckck jinki… kenapa ga bosen sih ma ayam?

  11. Kasian sulli sama jinki 😦 jadi terharu pas baca nya.. Apalagi sulli pas kangen sm ibu nya._. Tmbh sedih deh

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s