(Key’s Wishes) Our Destiny – Part 1

(Key’s Wishes) Our Destiny –Part 1

Title : Our Destiny

Real-title: Key’s Wishes

Author(*) : Akimoto Kumiko a.ka Mimi

Main Cast(*) (Tokoh Utama) : Shin Min Ah, Kim Kibum

Support Cast(*) (Tokoh Pembantu) : Shin Sera dan Member SHINee yang lain

Length(*) : trilogy

Genre(*) : Fantasy, Romance, Drama

Rating(*) : General

Summary : “Aku melihat takdir yang menarik pada hidupmu,” kata wanita itu tiba-tiba sambil menatap dalam bola mata Min Ah. “Min Ah, di kartu ini aku melihat kau akan bertemu dengan jodohmu dalam waktu dekat ini.”

A/N: Karena 23 september ulang tahun key, author jadi pengen buat fanfic dan cast utamanya bang koncii ini..XDD

Eh, ini pertama kalinya author bikin FF yang agak panjangan dikit  jadi mian yah kalo gaje.. *emang biasanya enggak??? XDD*

Jujur, ide cerita FF ini muncul secara tiba-tiba pas author baca ramalan bintang di majalah… Aneh yakkk???

Makanya, baca aja yahh…

DON’T BE A SILENT READER…

Author butuh komen kalian buat kemajuan author …

Oke, Happy reading!!!^^

 

 

===

Banyak orang percaya dengan kata ini : Takdir

Tapi, apa kau bisa menjelaskan apa ‘Takdir’ itu?

Ketentuan? Nasib?

Ada yang mengatakan, takdir tidak bisa berubah sedangkan nasib bisa berubah.

Karena takdir adalah ketentuan Tuhan dan tak bisa diganggu gugat, sedangkan nasib itu manusia sendiri yang harus menentukan.

Kau tak percaya takdir, aku pun tidak.

Karenanya, hanya ada satu cara untuk membuktikan kebenarannya..

Yaitu Aku, Kau, dan cerita ini.

===

 “Min Ah!! Min Ah!! Min Ah!!!”

Teriakan yang meneriaki namanya berkali-kali itu, sukses membuat Min Ah berhenti melangkah dan menoleh. Dan sekarang dia bisa melihat dengan jelas siapa orang yang meneriaki namanya dengan membabi buta seperti itu.

Shin Sera, sahabatnya, berlari-lari seperti orang gila ke arahnya sambil memeluk buku erat-erat.

“Apa-apaan kau ini?” hardik Min Ah keheranan. “kenapa berteriak-teriak?”

Begitu tiba di depan Min Ah, Sera langsung mengguncang bahunya tidak sabaran. “Min Ah!! Kejadian luar biasa benar-benar terjadi!! Ini keajaiban!!” pekiknya hampir membuat gendang telinga Min Ah pecah.

Min Ah mengusap-ngusap telinganya sementara Sera terus mengoceh heboh. “Aku rasa ramalan peramal itu benar! Itu nyata!!”

Min Ah kini melongo. Dia terbengong-bengong melihat Sera yang biasanya kalem kini jingkrak-jingkrak tidak jelas di depannya.

“Sera-ya!” Min Ah gantian mengguncang bahu Sera, mencoba menghentikan aksi jingkrak-jingkrak itu. “Tenang dulu! Jelaskan padaku. Musun soriya? (Apa maksudmu?) Ada apa? Wae? Aku nggak ngerti maksudmu.”

“Apa kau tahu SHINee?” serang Sera cepat tanpa sempat bernapas sedikit pun.

            Min Ah  menaikkan sebelah alis, tidak mengerti. “Apa itu?” tanyanya agak tidak tertarik.

            Sera menepuk jidat. “Aigoo…kau sudah tinggal lama di sini dan kau tidak tahu mereka?? Hei, bahkan mereka terkenal di Negara-negara lain. Seharusnya kau tahu tentang mereka, Min Ah. Mereka itu adalah salah satu grup Band korea!!”

            Min Ah menaikkan bahu dan menghela napas pelan.  “Oh…” jawabnya dengan nada tidak berminat. “Tanpa harus melihat aku sudah tahu kok seperti apa mereka. Pasti tinggi-tinggi, berkharisma, dan tampan. Tipe cowok idaman.”

            “Kau benar! Benar sekali!! Sangat bennaarr! Ah! Aku ingin menonton konser mereka. Kali ini aku harus nonton, dan kau HARUS menemaniku.”

            Mendengar itu, Min Ah langsung melotot. “Menemanimu? Kenapa kau tidak nonton sendiri saja? Atau sama anak yang lain? Dan lagi, aku masih tidak paham…apa hubungannya si SHINee itu dengan ramalan si peramal itu??”

            Sera menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya yang masih tersengal-sengal akibat dari tadi jingkrak-jingkrak tidak jelas.

            “Begini…kau tau kan? Aku sangat tidak mungkin nonton konser, karena…yah…tiket mereka biasanya mahal-mahal. Sayang uang. Tapi, aku baru saja menang undian waktu belanja di Mall kemarin. Aku menang undian karena aku dinobatkan jadi pengunjung ke seribu kemarin itu! Dan kau tahu apa hadiahnya? Dua tiket konser SHINee di Indonesia. Minggu ini mereka akan mengadakan konser di sana. Dan kau tahu itu artinya apa? Itu artinya, kau akan ke Indonesia minggu ini. Tepatnya akhir bulan ini!!! Jadi, lusa tanggal 20 September kita berangkat ke Indonesia! Oke?”

            Tidak ada sahutan dari Min Ah. Dia hanya bisa menganga syok. Tidak ada waktu untuk bersuara karena dia sekarang cuma sibuk dengan pikirannya.

            Ini sangat tidak mungkin! TIDAK MUNGKIN! Maldo Andwaeeee!!

            Hanya satu kalimat yang terngiang-ngiang di otaknya sekarang.

“Bukan kau yang berencana, Min Ah. Tapi takdir yang akan merencanakannya.”

            ==

*Flashback*

“Min-ah, kajja… aku ingin mencobanya!” seru Sera sambil menarik-narik tangan Min Ah.

Hari itu mereka sedang berada di taman hiburan. Ada sebuah stand ramalan di sana. Sera, sepupu Min Ah ini begitu tertarik ingin mencobanya. Dia ingin mengetahui tentang jodohnya.

            Min Ah tertawa melihat kelakuan konyol Sera yang bisa-bisanya menguji nasibnya pada seorang peramal.  “Arasseo, arasseo…tapi aku tidak ikut-ikut, ya? Aku tidak percaya dengan ramalan,” kata Min Ah mengingatkan.

            Sera langsung tersenyum lebar sambil mengacungkan dua jarinya. Lalu dia menarik tangan Min-Ah ke dalam stand itu. Min Ah terpaksa mengikutinya tanpa banyak protes. Dia hanya heran, Sera, sepupunya yang satu ini kenapa bisa gampang percaya dengan hal semacam itu. Sera bahkan rajin membeli majalah hanya karena ingin melihat ramalan bintangnya.

Min Ah bukannya tidak percaya, tapi hanya saja menurutnya itu aneh. Bagaimana bisa ada orang yang meramalkan nasib dan takdir seseorang? Apalagi ramalan bintang. Sangat tidak mungkin orang dengan zodiak yang sama memiliki nasib yang sama! Iya kan? Apalagi ramalan Shio. Lebih tidak mungkin lagi! Masa iya semua orang yang lahir di tahun yang sama mengalami nasib yang sama??

            Ini sih hanya menurut Min Ah pribadi. Tapi tidak tau bagaimana pendapat orang lain mengenai ramalan-ramalan itu…

            Begitu mereka masuk ke stand ramalan, Min Ah langsung menatap ruangan itu sesaksama mungkin. Ruangan itu agak sempit dibanding stand-stand lainnya dan penuh benda-benda aneh khas peramal seperti bola kristal, juga kartu dan buku-buku kuno yang lusuh. Ada seorang wanita duduk di balik sebuah meja dan tersenyum pada mereka. Bukan, lebih tepatnya adalah menyeringai. Wanita itu agak mengerikan. Bagaimana tidak? Dia memakai pakaian serba hitam, rambutnya yang sudah mulai memutih ditutupi dengan semacam slayer hitam yang diikat, dan kukunya…aigoo, dia bahkan mengecatnya dengan kuteks hitam pekat.

Eoseo oshipshio,” sapa wanita itu dengan suara yang berat. Bahkan suaranyapun terdengar agak mengerikan, seperti suara dalam film-film hantu. “Silahkan duduk,” katanya lagi sambil menunjuk dua buah kursi yang ada dihadapannya.

            Min Ah memberi kode dengan kepalanya, menyuruh Sera duduk di sana, sementara dia rencananya mau menunggu di kursi yang ada di pinggir stand. Tapi Sera memasang tampang tolong-temani-aku dengan muka sangat memelas.

Aish… jinjja..

Min Ah menggaruk-garuk kepalanya. Sepupunya yang satu ini benar-benar membuatnya bingung. Bukankah tadi dia sendiri yang minta masuk ke dalam stand ini??? Kenapa sekarang malah takut?

“Aku sudah tau kalian akan datang berdua, makanya kusiapkan dua buah kursi,” kata wanita peramal itu lagi, masih dengan suara yang berat dan seringai mengerikan.

            Sera menoleh lagi ke arah Min Ah, menatap memohon dan penuh harap yang langsung dibalas Min Ah dengan tatapan melotot sambil menggeleng kuat-kuat. Tapi, Sera tetap saja menarik tangan Min Ah dan memaksanya duduk di salah satu kursi itu.

            Kini mereka duduk berhadapan dengan peramal itu, hanya terpisahkan oleh sebuah meja.

            Wanita peramal itu tersenyum. “Lalu, apakah ada yang bisa kubantu?” tanyanya.

            Sera baru saja akan membuka mulutnya, ketika wanita peramal itu berbicara lagi, “Aaahhh…aku rasa ini pasti masalah cinta. Apakah aku salah?”

            Min Ah melihat mata Sera membelalak takjub memandang wanita peramal itu. “O-ottoke arasseoyo??(Bagaimana anda bisa tahu??) tanya Sera syok.

            Wanita peramal itu memamerkan senyum-seringainya yang mengerikan itu, lagi. “Boleh aku meminjam tanganmu, gadis manis?”

            Sera meletakkan tangannya di atas meja. Wanita peramal itu mengamati telapaknya.

            Min Ah hanya mendengus sambil bergumam, ‘ramalan konyol.’

“Kau ingin tahu jodohmu ya?” tanya wanita peramal itu setelah beberapa saat mengamati telapak tangan Sera.

Ne,” jawab Sera semangat.

            Wanita peramal itu mengangguk. “Ahhh… jodohmu…oke..sebentar. Kalau dilihat dari tanganmu, jodohmu tinggalnya di Korea juga. Di kota ini juga. Tapi kalian belum pernah bertemu. Sebentar..” Peramal itu mulai mengambil kartunya dan mengocoknya. Setelah beberapa saat, dia mulai membuka beberapa kartu satu persatu dan membacanya.

 “Kalian sebenarnya selalu dekat. Tapi, mungkin  ada beberapa halangan sehingga kalian tidak bisa bertemu. Di kartu ini aku melihat, kau akan bertemu dengannya tahun depan. Tepatnya bulan…Hm..bulan Juli. Tanggal 18. Sepertinya jodoh-mu ini sesosok namja yang agak manja. Yah, benar…dia jodohmu. Besar kemungkinannya…” Wanita itu terlihat menerawang, seakan-akan pikirannya berada di alam lain.

Lagi-lagi Min Ah hanya mendengus.

“…tapi aku tidak tahu nama jodohmu itu. Kemampuanku terbatas. Hanya bisa menerawang sampai tanggal kapan kalian bertemu. Yang aku tahu,  kalian akan bertemu di depan kampusmu. Apa kau kuliah di Universitas Parang?”tanya wanita itu lagi, semakin membuat Sera takjub.

Kali ini Min Ah agak terperangah mendengarnya. Kenapa wanita ini bisa tahu?

Wanita itu melanjutkan kata-katanya. “Saat kau nanti bertemu dengan jodohmu itu, laki-laki itu yang akan menyamperimu dengan sendirinya dan memperkenalkan dirinya. Kau hanya perlu menunggunya di depan kampusmu di bawah pohon.”

Wanita peramal itu tersenyum ketika melihat Sera sepertinya percaya dengan kata-katanya. “Bersabarlah sedikit, gadis manis. Aku tahu kau sudah tidak sabar bertemu dengan jodohmu. Bersabarlah sampai tanggal 18 Juli nanti. Tapi kau jangan kaget saat bertemu dengannya, karena dia lebih muda darimu. Dia manja…dan kurang dewasa, mungkin,”

            “Ne, ommonim. Araseumnida,” Sera tersenyum.

            “Apakah ada hal lain yang bisa aku bantu?”

            Sera menggeleng. “Aniyo. Gomapseumnida, ommonim,”

            Wanita peramal itu mengangguk, lalu tersenyum.

            Min Ah sudah akan berdiri, bahkan sebelum Sera berdiri, ketika wanita peramal itu memandang ke arahnya.

            “Kau tidak ingin…”

Ani. Tidak perlu,” Min Ah memotong kata-kata wanita itu dengan cepat. Dia sudah tahu apa yang mau ditanyakan wanita itu. “Aku hanya mengantarnya!”

Sera memandang Min Ah, membujuk. “Min Ah, coba saja. Kapan lagi kita akan ke sini?”

“Aku melihat takdir yang menarik pada hidupmu,” kata wanita itu tiba-tiba sambil menatap dalam bola mata Min Ah. Tanpa menunggu persetujuan Min Ah, wanita peramal itu memegang tangannya, lalu meneliti telapaknya.

Wanita itu memegang erat tangan Min Ah. Min Ah memandang Sera, meminta pendapatnya, tapi gadis itu hanya mengedikkan bahu.

 “Min Ah, aku lihat…” Wanita itu menatap telapak tangan Min Ah lekat-lekat. “kau dilahirkan di tempat yang dikelilingi oleh air. Dimana ini? Sepertinya di luar negeri,” gumam wanita itu seraya mengerutkan kening.

Min Ah  sedikit terperangah mendengarnya. “N–Ne..ahjumma. Saya lahir di Indonesia.”

Wanita itu mengangguk-ngangguk, lalu dia mulai mengocok kartunya. Saat dia membuka kartu pertama, dia memperhatikan kartu itu dengan serius. Sementara Min Ah mengkerutkan kening, masih tak percaya. Bagaimana bisa ramalannya benar? Orang yang tahu Indonesia pasti tahu Negara kepulauan itu memang dikelilingi oleh air. Apa ini hanya kebetulan?

“Aah…” desah wanita itu. “Aku melihat kau pernah mengalami tragedy dalam hidupmu.” Wanita itu memejamkan mata, seolah-olah berusaha kerasa mencari tahu dibalik gambaran kartu itu. “Waktu kau berusia sekitar 7-8 tahun, ngg…orang tuamu___” Wanita itu langsung membuka matanya dan menatap Min Ah tidak enak. Gadis itu  memasang wajah keruh.

“Maaf,” kata wanita itu pelan. “Aku tidak bermaksud…”

“Tidak apa-apa, ahjumma. Gwenchana,” gumam Min Ah. “Benar. Waktu saya 8 tahun, saat itu aku sudah tinggal di Korea bersama halmonie-ku. Orang tuaku masih di Indonesia. Waktu mereka mau menyusulku ke Korea, pesawat yang mereka tumpangi jatuh__”

Melihat mata Min Ah yang sudah berkaca-kaca, wanita itu buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Min Ah, di kartu ini aku melihat kau akan bertemu dengan jodohmu dalam waktu dekat ini.”

Mendengar itu Min Ah langsung membelalakan matanya. Walaupun awalnya dia mengatakan tidak percaya pada ramalan, tapi setelah dari tadi berbicara dengan wanita ini membuatnya mulai percaya bahwa apa yang diramalkan wanita itu selalu benar.

“Dimana dan kapan?”

Wanita itu menatap kartunya sesaksama mungkin, dan tersenyum. “Aku tidak tahu tepatnya kapan. Tapi yang pasti akhir bulan ini . Sekitar tanggal 20-an ke atas. Kau akan bertemu dengannya di tanah kelahiranmu. Tengah malam, sekitar jam 11-an.”

“Hah?” Kali ini Min Ah menggelengkan kepalanya, tak percaya. “Tidak mungkin. Kayaknya ramalan anda kali ini salah. Karena dalam bulan ini saya tidak ada berencana pergi ke Indonesia.”

Wanita itu tersenyum menenangkan. “Bukan kau yang berencana, Min Ah. Tapi takdir yang akan merencanakannya.”

Mendengar itu membuat Min Ah ingin tertawa keras. Bagaimana dia tidak tertawa? Sekarang sudah tanggal 14. Sebentar lagi akan mendekati akhir bulan September. Dan katanya dalam bulan ini dia akan ke Indonesia? Bahkan pergi saja tidak pernah terpikirkan sama sekali.

“Oke, Ahjumma. Anggap saja saya percaya ramalan anda. Lalu, kalau saya bertemu dengannya bagaimana cara saya mengenalnya? Apa dia akan mengajak saya berkenalan dan bilang ‘Min Ah, aku adalah jodohmu’, begitu?” tanyanya bercanda tanpa bermaksud meremehkan ramalan wanita itu.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya kalian ketemu, Min Ah. Tapi aku mendapat sedikit gambaran, kalian akan bertemu di akhir bulan ini. Tapi aku tidak tahu tepatnya kapan. Dan saat itu…dia akan membawa tiga benda bersamanya. Aku tidak tahu benda apa saja itu. Tapi yang pasti itu bukan benda yang dikenakan di tubuh. Salah satu benda itu mempunyai arti yang sama dengan namanya. Berhubungan dengan namanya, dan masa lalunya. Yang jelas kalian akan bertemu di hari bersejarah.”

*End Of Flashback*

==

            Jakarta, 20 September

Kamsahamnida… Kamsahamnida…” Lee Jin Ki membungkukkan badannya berkali-kali. Diterimanya buket bunga dari pihak Indonesia dan dipeluknya erat-erat. Para member SHINee yang lain cuma bisa mengangguk-angguk saking terharunya. Mereka tidak menyangka konser mereka di Indonesia ini disambut dengan sangat antusias.

“Terima kasih buat semuanya. Ini sangat mengharukan. Kerja keras kami selama ini membuahkan hasil yang baik. Aku sangat bersyukur….” ucap Lee Jin ki dalam bahasa korea sambil terus menyunggingkan senyumnya. Para member lain masih mengangguk-angguk mengiyakan, sementara Taemin saking bahagianya sampai mengelus-ngelus kepalanya Kibum yang terlihat menunduk menahan haru.

Lalu seseorang menerjemahkan kata-kata Lee Jin Ki ke dalam Bahasa Indonesia dan disambut dengan tepuk tangan meriah penonton.

Ne, buat SHINee World  Indonesia…terimakasih atas dukungannya, aku mencintai kalian semua! Aku sangat berterimakasih pada kalian semua yang telah mendukung SHINee!” seru Kibum dengan mata berkaca-kaca.

Kata-kata Kibum kembali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh si penerjemah, dan kali ini tepuk tangan penonton semakin meriah. Bahkan ada yang menangis histeris.

Semua member SHINee saling berangkulan bahagia diiringi dengan tepuk tangan para penonton dan juga kertas dan balon warna-warni yang berterbangan dari atas. Mengakhiri pertunjukkan mereka.

Pembawa acara akhirnya menutup acara tersebut. “Wow, SHINee benar-benar sudah berusaha menampilkan penampilan mereka yang terbaik. Baiklah, berarti ini saatnya untuk kita pamit undur diri. Annyonghaseo.”

Terdengar suara intro Lucifer memenuhi gedung panggung. Kelima member SHINee langsung merapat kedepan panggung dan melambaikan tangan mereka ke para penonton.

“Kamsahamnida! Kamsahamnida!” seru kelima member SHINee bersemangat.

==

Di kamar sebuah hotel terkenal di Jakarta, Kibum menghela napas, lalu menatap ke luar jendela. Dua jam lagi mereka akan kembali berangkat karena besok pagi-pagi sekali mereka harus siap-siap tampil lagi di Negara lain.

Hufht,

Kibum mendesah penuh lelah.

Bukannya dia tidak bersemangat untuk tampil. Dan bukan juga dia benci konser. Hanya saja saat ini dia sedang tidak mood.

Kibum menatap sebuah benda kecil yang ada di tangannya. Kunci.

Memang hanya gantungan kunci hiasan, tapi benda ini sangat berarti baginya. Melihat benda ini, di hari ini, hari dimana wanita itu pergi meninggalkannya…membuatnya tidak berminat melakukan apa-apa. Membuatnya jadi tidak peduli lagi pada Concert atau apa pun.

Sekarang ini yang dia butuhkan adalah berpikir, sendiri, dan refreshing.

==

Laki-laki yang keluar dari hotel itu tampak biasa saja. Setidaknya begitulah menurut sudut pandang beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Laki-laki itu mengenakan jaket, kacamata hitam serta topi, sehingga tak seorang pun tahu siapa dirinya. Dia sangat bosan sekarang, jadi memutuskan untuk menyendiri di luar mencari udara segar atau apa lah. Walau pun hanya punya waktu sebentar, tidak masalah, yang penting bisa menyendiri sesaat.

Saat melangkah buru-buru menuju taman di samping hotel, kakinya tidak sengaja menendang sesuatu hingga menimbulkan bunyi ‘ting’. Laki-laki itu segera menunduk untuk memastikan benda apakah itu?

Aishh…” keluhnya.

Ternyata kuncinya yang jatuh. Buru-buru dipungutnya kunci itu dan kembali measukkannya ke dalam saku celana, memastikan kali ini kunci itu tidak akan jatuh lagi.

 “Hello…Excuse me…” sapa seseorang tiba-tiba dari belakangnya.

Dia segera menoleh, dan membeku sesaat begitu mendapati seorang gadis berdiri di hadapannya, menatapnya penuh harap.

Aish..apakah penyamarannya ketahuan? Apakah gadis itu mengenali dirinya?

Tanpa sadar laki-laki itu memperdalam topinya.

===

Shin Min Ah berjalan riang ke dalam hotel bersama Shin Sera. Min Ah gembira karena penyiksaan akhirnya berakhir. Selama berjam-jam dia tersiksa di gedung konser tadi. Oke, pada menit-menit pertama dia masih bisa bertahan untuk terus berdiri dan membiarkan kakinya terinjak-injak penonton lain, dan tubuhnya disenggol-senggol ke depan-ke belakang, ke kiri-ke kanan. Setelah itu dia melarikan diri, memutuskan keluar gedung membiarkan Sera menonton sendirian.

Sekarang, setelah berjam-jam menunggu Sera selesai menonton sampai tubuhnya pegal dan bokongnya somplak karena duduk di luar gedung ditemani angin malam, akhirnya siksaan itu selesai juga dan kini dia bisa tidur nyenyak di kamar hotel.

Sambil berjalan riang tangan Min Ah tanpa sadar menyentuh gantungan tas-nya, sudah kebiasaan. Dimana pun, kapan pun, dan pada moment apapun, Min Ah selalu saja kebiasaan memegangi gantungan kunci kesayangannya itu. Eh tapi kenapa kali ini dia tidak merasakan kunci itu?

Min Ah menatap gantungan kuncinya..

MWO????” jeritnya membuat Sera dan beberapa orang di sekitar mereka menatapnya kaget.

Neo wa geurae? (Kau kenapa?),  Min Ah?” tanya Sera agak panik, takut Min Ah kenapa-kenapa.

“Kunciku! Kunciku hilang!”

Sera langsung mengernyit. “Gantungan kunci yang selalu kau sayang-sayang itu? Astaga, aku pikir ada apa. Ternyata cuma gantungan kunci.”

“Itu bukan cuma sekedar gantungan kunci! Itu pemberian dari Nenekku! Itu kenang-kenangan dari Nenek sebelum dia meninggal!” jerit Min Ah sambil merogoh-rogoh tasnya. Kali-kali saja kunci itu nyungsep ke dalam tas. Tapi tidak ada sama sekali.

“Haduh, mungkin terjatuh!” pekik Min Ah ngeri. Dia ingat bagaimana tadi saat menonton konser SHINee, banyak orang yang mendorongnya dan menyenggolnya. Mungkin saja di sanalah kunci itu terjatuh.

“Aku coba cari di luar dulu, deh. Semoga saja jatuhnya cuma di depan hotel. Sera, kamu duluan saja ke kamar. Nanti aku menyusul.” Tanpa menunggu jawaban Sera, Min Ah segera berlari keluar hotel. Walau Sera berteriak-teriak memanggilnya, tidak dia hiraukan. Dia terus berjalan keluar hotel sambil memperhatikan lantai sesaksama mungkin.

Ting!

Suara itu terdengar jelas di telinga Min Ah. Gadis itu segera menatap ke depannya, dan dia mendapati tidak jauh di depannya seorang laki-laki sedang menunduk memungut sesuatu. Min Ah memicingkan matanya, memastikan apa kah benda yang dipungut pria itu adalah kuncinya.

Bentuknya..warnanya..mirip.

Benar! Itu kuncinya!

Laki-laki itu memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya. Aduh! Gawat! Dia harus segera meminta kembali kunci itu sebelum laki-laki itu pergi.

Hello…Excuse me…” sapa Min Ah hati-hati.

Laki-laki itu menoleh dan menatapnya.

That’s mine..”Min Ah masih berkata dengan hati-hati sambil menunjuk saku celana laki-laki itu dimana terdapat kuncinya.

“Mwo?” Laki-laki itu mengkerutkan kening dalam-dalam, terlihat tidak suka dengan perkataan Min Ah.

Min Ah menatap laki-laki itu tak percaya. Ternyata dia bisa bahasa korea. Hufh, kalau begitu dari tadi Min Ah tidak perlu sibuk berbicara dengan bahasa inggris.

Naui (milikku). Kunci itu..yang tadi kau masukkan ke dalam celanamu. Itu kunciku,” tegas Min Ah.

Mworago?(Apa kau bilang?)” 

“Tolong kembalikan. Itu milikku,” tegas Min Ah sekali lagi.

“Weh,” hardik laki-laki itu tidak bersahabat. “tolong jangan sembarangan ya. Jangan mengatakan itu milikmu kalau itu bukan milikmu.”

Mwo ya?? (Apaan sih??). Itu memang milikku,” balas Min Ah sengit, tidak suka dengan cara laki-laki itu bersikap. “Aku berani melakukan visum.”

Visum?

Laki-laki itu mengangkat sudut bibirnya, tersenyum sinis. “Babo-ya. Maksudmu pemeriksaan sidik jari kan? Dan kau pikir apa aku akan percaya?”

Dengan santai laki-laki itu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Min Ah.

 “Eodiro mosilkka yo (mau pergi kemana)!?” jerit Min Ah masih tidak rela laki-laki itu membawa kuncinya. “Kembalikan!! Itu kunciku!!”

Tapi laki-laki itu tidak memerdulikannya dan terus saja berjalan. Tidak berhenti, walau sekedar menoleh.

“YA! Keumanhaeyo (berhenti)!!” teriak Min Ah senyaring mungkin.

Kali ini teriakan Min Ah sukses membuat laki-laki itu menoleh dan menatapnya ganas. “DDO WAE (kenapa lagi)???”

“Kau boleh pergi! Tapi sebelumnya, berikan kunci itu padaku!”

Mwo??? Neo micheosseo!? (Kau ini sudah gila ya?)” Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepala, tidak mengerti.

“Kau yang gila!” balas Min Ah semakin sengit. Hal yang dipegangnya sejak dia mengenal sekolah adalah : kalau ada yang menindasmu, kau harus menindasnya lebih sadis lagi. Sama dengan hal ini, kalau ada yang sinis dan sengit padamu, kau harus lebih sinis lagi padanya. Lebih sengit lagi.

“Tolong kembalikan kunci itu!” Min Ah berusaha meraih saku celana laki-laki itu, membuat laki-laki itu berjengit menghindar. Dia langsung memukul tangan Min Ah dengan keras.

Ya! Jangan menyentuh apapun, terutama tubuhku dan barang-barangku! Aku tidak suka disentuh! Apalagi barang-barangku! Jangan menyentuh tanpa izinku! Aku akan sangat marah kalau kau merusaknya! Kalau kau menyentuhku lagi, neo jugeo (kamu mati). Dan kalau kau menyentuh barangku, neo do jugeo (kau juga mati).”

“Tapi itu kunciku! Mungkin kau salah mengira kalau itu kuncimu! Mungkin saja kuncimu mirip dengan kunciku!”

Laki-laki itu semakin menatap Min Ah dengan sinis, lalu mendengus. “Mustahil. Maldo Andwae! (Tidak mungkin)! Asal kau tahu. Kunciku ini adalah kunci yang cuma ada satu-satunya di dunia! Tidak ada kembarannya! Jadi lebih baik kau bermimpi saja kalau kau mengaku-ngaku punya bentuk kunci yang sama dengan kunciku.”

Setelah berkata seperti itu, laki-laki itu kembali berjalan pergi meninggalkan Min Ah. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, seolah-olah menjaga supaya kuncinya tidak dicuri Min Ah.

“Ya! Tunggu!” Min Ah mengejar laki-laki itu, berusaha menarik tangannya dengan paksa.

GUK!GUK!GUK!

Suara gonggongan itu langsung mengejutkan mereka disaat mereka saling tarik menarik.  Mereka menoleh bersamaan ke asal suara, dan melihat anjing herder –yang entah anjing siapa dan darimana- sedang siap memasang gigi dan menyeringai ke mereka.

“KYAAAA!!!” jerit Min Ah nyaring. Dia segera menarik tangan laki-laki itu, mengajaknya lari pontang-panting dari tempat itu. Sementara anjing itu, melihat mangsanya lari ketakutan segera ambil tindakan untuk mengejar. Semakin kencang anjing itu mengejar, semakin kencang juga larinya Min Ah, dan semakin kencang juga tarikannya pada tangan laki-laki itu.

==

“KYAAAA!!!” jerit gadis itu sambil menarik tangan Kibum mendadak. Kibum sampai jantungan dibuatnya. Kibum berusaha menarik tangannya, tapi gadis itu menariknya sangat kuat sekali. Terpaksa Kibum ikut berlari –terpaksa berlari- sambil tetap berusaha melepaskan diri. Tapi sepertinya gadis itu mendapat Mukjizat dari Tuhan, berupa tambahan kekuatan secara tiba-tiba, karena Kibum benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman gadis itu. Ditambah lagi kini di belakang mereka turut mengejar seekor anjing galak. Alhasil Kibum ikut lari pontang-panting karenanya, demi menyelamatkan kakinya dari gigitan anjing itu.

==

Mereka berdua terduduk di kursi dekat kolam dangkal buatan dengan air mancur di tengahnya. Min Ah mengusap keringat di keningnya, begitu juga dengan Kibum. Laki-laki itu sibuk mengatur napas sambil memegangi dadanya. Dia melepaskan kacamatanya, karena merasa aman di taman itu tidak ada orang sama sekali. Lalu tawanya menggelegar, membuat Min Ah menatapnya syok, tidak menyangka laki-laki sinis itu ternyata bisa tertawa. Apalagi tawanya sudah nyaris mirip tawa kolaborasinya gendruwo dengan nenek sihir.

Laki-laki itu terus tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai bola matanya sudah menghilang tidak terlihat.

“Eh…” tegur Min Ah ragu-ragu. “Jaljinaesseo (kau baik-baik saja)?”

Ommo-naAigoojinjja, baru kali ini aku lari-lari karena dikejar anjing,” kata Kibum  dengan nada geli sambil mengusap hidungnya yang sudah memerah karena dari tadi terus tertawa. Dia masih cekikikan geli.

Jinjja yo? (benarkah?)” tanya Min Ah tertarik. “Kalau aku waktu masih kecil sudah sering dikejar anjing. Makanya aku sangat takut pada Anjing. Maaf tadi tiba-tiba menarikmu begitu saja. Habisnya aku takut sekali,”

Kibum tidak menyahut, hanya sibuk mengatur napasnya, berusaha menghentikan tawanya. Setelah reda, laki-laki itu menatap ke sekeliling…dan baru menyadari sesuatu.

“Ini dimana?” tanyanya bego.

Min Ah ikut tersadar, dan ikut memandang ke sekeliling. Dia menggeleng dengan mimik nggak kalah bego. “Na molla (aku nggak tau)..”

Kibum buru-buru berdiri panik, berusaha melihat keadaan sekitar dengan lebih saksama. Dia harus memastikan, apakah hotel tadi masih kelihatan dari sini? Tapi kemana pun matanya memandang, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan hotel itu.

“AISSHI,” laki-laki itu membuka topinya dengan kesal dan mulai mengacak-acak rambutnya frustasi. “Jinjja…!!”

Wae? (Kenapa?)” tanya Min Ah polos.

“Kenapa katamu? Kau harus mengantarku balik ke hotel tadi!!” bentak Kibum tiba-tiba emosi, membuat Min Ah harus berusaha bertahan agar jantungnya tetap terus berdetak. Kenapa laki-laki ini hobi marah dan teriak-teriak, sih?

“Oh, kalau masalah itu sih tenang saja,” jawab Min Ah dengan tenang.  “Aku akan mengantarmu ke sana. Aku juga kebetulan menginap di sana.”

===

“YA! Kita sudah berputar-putar dan selalu saja tiba di taman ini! Kapan kita sampai ke hotel??” hardik Kibum tidak sabaran.

Min Ah tidak menjawab, dan hanya bisa garuk-garuk kepala. Dia sendiri tidak tahu kenapa dari tadi mereka tidak kunjung menemukan hotel itu. Padahal mereka sudah mencoba mencarinya di sekitar daerah tempat ini. Dia yakin hotel itu tidak jauh dari sini.

“YA! kenapa kau diam saja?” hardik Kibum lagi.

“Aish, kau bisa diam kan?” gerutu Min Ah, mulai sebal karena dari tadi laki-laki itu terus merecokinya. “Aku butuh berpikir! Aku sendiri tidak tahu dimana letak hotel itu persisnya.”

“YA! Kau bisa bahasa Indonesia kan?”

Ani.”

“Ck! Kalau begitu apa kau bisa Bahasa Inggris?”

Jogeum. (Sedikit).”

Joha. (Bagus).” Kibum manggut-manggut, lalu menatap ke sekeliling. Dan jauh dari taman itu, matanya menangkap beberapa anak muda sedang nongkrong di bawah pohon. Dia segera menunjuk kumpulan anak muda itu. “Sekarang kau tanya pada orang yang ada di sana itu, tanya dimana hotel  itu?”

Min Ah mendelik sebal. “Ni ga hae. (Kau saja yang melakukannya).”

Kibum menjawab dalam hati: tidak mungkin. Kalau aku yang melakukan, mereka ada kemungkinan bisa mengenaliku sebagai Key-SHINee.

“Sudah lah. Kalau aku suruh kau tanya, ya lakukan segera! Jigeum! (sekarang!)”

Dengan mulut mengerucut Min Ah berjalan mendekati beberapa anak muda yang sedang duduk mojok di bawah pohon itu.

Excuse me…Can you help me?”

“Ya?” jawab salah satu gadis diantara anak muda itu.

“Hm…” Min Ah terdiam lama, lalu menelan ludahnya. Gawat!

Dengan ragu-ragu dia tersenyum pada anak muda itu, lalu dengan wajah bego berlalu pergi dari situ kembali ke tempat Kibum.

“Bagaimana? Kau sudah tahu dimana hotelnya?” sergah Kibum cepat, bahkan sebelum Min Ah benar-benar tiba di depannya.

Min Ah meringis dan menggeleng. “Aku tidak menanyakannya.”

Mwo?? YA! Neo babo aniya?? (Kau ini bodoh ya??) Kenapa tidak tanya?”

“YA!” semprot Min Ah tidak mau kalah. Enak saja. Memangnya cuma laki-laki itu yang bisa ‘nyemprot-nyemprot’ dia terus? Dia juga bisa! “Jangan mengataiku bodoh! Aku lupa nama hotelnya. Bagaimana aku bisa menanyakannya kalau aku tidak tahu nama hotelnya??”

AISH, Neo jinjja! (Kau ini benar-benar)!” keluh Kibum, dan segera terduduk lemas.

“Tapi tenang saja. Kau kan tahu nama hotelnya. Kasih tahu aku, dan aku akan menanyakan ke mereka. Segera.”

“Kalau aku tahu nama hotelnya  aku pasti sudah memberitahumu dari tadi dan menyuruhmu kembali bertanya!” damprat Kibum.

“Jadi kau juga tidak tahu??” pekik Min Ah, lalu ikut terduduk lemas di sebelah laki-laki itu. “Aigooo…eottokhe…?”

*TBC*

Ssipp… Gaje banget!!! Hhahaha… XDD

Author butuh pendapat kalian, apakah sebaiknya author meneruskan FF ini atau tidak..

So, just comment please..^^

Thanks for reading!!!^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

46 thoughts on “(Key’s Wishes) Our Destiny – Part 1”

  1. asiik . pertama komen .. haha

    seneng deh kalo main cast nya key 😀
    suka soalnya bahasanya ngalir dan nggak ‘ngebut’ . hehe.
    bagus kok ff nya, lanjuuut ! 😛

  2. ini author yg nulis taemin wishes juga ya ?
    cos ramalan sera itu tntg pertemauan ptma sera sma taemin khan…aku inget crta taemin wishes…

    key sma min ah sial bnr dah..keluar hotel mau cri udra segar eh malah dikejar anjing udh gtu pake acra nyasar lagi di jakarta…dudul kekeke

    1. tadinya sih maunya dinyasarin ke rumah kamuuuu…tapi sayang kamu kasihnya ‘alamat palsu’ kekekek..jadi key malah nyasar di bunderan HI wakakakakakak

  3. wawawawa
    key pasti jodohnyaaaa~
    gimana nasib gantungan kunci min ah? *masih mikirin gantungan kunci padahal orang lagi nyasar juga*

    tapi kasiaaan habis konser malah dikejar-kejar anjing malangnyaaa
    ini yang nulis taemin wishes? jadi keingat sama FFitu

    hehehe 😀 ditunggu yaa next partnyaaa

  4. halo, mimi-ssi..

    ff ini inti nya tentang ramalan yg jadi nyata ya??
    ide nya kreatif..

    bagi aku ada yg sedikit mengganjal..
    mungkin kamu mau buat karakter ibu peramal itu sbg peramal yang ahli, yg ramalannya tepat..
    tapi ramalan dia itu terlalu rinci..
    seperti yg dia bilang ke Sera, kalo jodohnya bakal muncul rgl 18 tahun depan..
    pada dasar nya, peramal itu bukan org yg memiliki kemampuan supranatural..
    dia cuma membaca garis nasib ataupun dgn kartu..
    bahkan org dgn kemampuan khusus pun gak bisa menyebutkan tanggal pasti suatu kejadian..
    menurutku, peramal itu cukup bilang kalo sera bakal ketemu jodohnya tahun depan..

    dan waktu Minah di ramal,
    peramal itu kocok dan ambil kartu kan??
    boleh aja peramal itu yg kocok, tapi seharusnya minah bagi kartu itu jadi dua, lalu kasih tiga kartu (atau lebih sesuai metode ug mau dipake) ke peramal..
    atau kalo kartu gak mau di bagi,
    seharusnya minah yg kocok kartu,
    karna istilahnya, itu adalah nasib minah yg mw dibaca
    jadi harus minah juga yg nyentih kartu nya..

    juga soal konsistensi sebutan..
    mungkin mimi-ssi lupa waktu ngetik kali ya? *karna aku huga kadang2 gitu =p*
    pertama-tama sera dan minah manggil peramal itu dgn sebutan omonim, tapi belakang minah manggil ahjumma kan?
    diseragamkan aja panggilannya..

    [bukan kau yg merencanakan, minah.
    tapi takdir yg merencanakan]
    wowowow..
    kata2 nya keren!!
    beberapa kalimat semacam ini kalo ditambah bakal meninggalkan kesan bagi readers..

    penulisan mimi-ssi bagus, aku suka..
    waktu baca gak merasa bosan atau ill-feel..

    ditunggu lanjutannya ya, semoga beberapa masukan tadi bisa membantu utk ff2 selanjut nya..

    annyeong~~

      1. wahhh *tepok jidat*

        yuyu eon benerrr banget!!!

        iya tuh eon, aku lupa yg soal kartu itu. awalnya emang pengen dibuat Min Ah yg ngocok kartunya…tapi aku kayaknya lupa deh..jadinya salah teknis gituu heheh *garuk2 kepala&

        makasih banget yuyu eon untuk masukan2nya ^^

        sangat membantuu hehe

        oh iya…saya juga ngefans sama tulisan2 yuyu eon. ayoo…ditunggu nih The pervert nerd nyaaa, manaaa?? *toel2 yuyu eonnie* XD

  5. chingu,lanjutannya kapan?
    Mau tau kisahnya ni?
    Penasaran,,,
    keren,bsa buat reader tertarik untk membaca,apa lagi maincastnya Key!huhu

  6. gak gaje thor! malah seru.. 🙂
    itu gmna yah nasib mreka?
    tersesat tanpa tahu jalan tau apapun. kasihan..
    gak kbyang gimana kalau SHINee bnr2 ke sini.
    daebak thor!

  7. Bagus FF nya..
    Mungkin ada sedikit kata yg gak formal kayak “menyamperi” di ubah jadi “menghampiri” aja..
    SWC INA?? AMIEN~ AMIEN~
    seru pas di kejar2 anjing wkwk..
    MinAh sama key emang gak bawa ponsel ya anyway??

  8. LANJUTKAN! !!!!
    nicee ff thor….
    like it..
    ehm… shin sera itu… yg jadi istri taeem di taemin wishes bukn? ? klo gk slh jdulny bgitu..
    mklum thor memori aq somplak dikit… #plakk hehehe…
    1 hal yg msh ganjal..
    key blng kuncinya cma ad 1 di dunia tp knp min ah jg punya? ?
    next part jngn lama2 thor…
    fighting…

  9. suka tokoh min ah disini, huwa dasar key galak amat sih .. –”
    iya ini versi lain dari taemin kan .. ahahahha
    ^^ untung key …
    love key ..
    *pletak !!*
    ahahah seru, apalagi yang di kejar anjing ..

  10. aigo… mereka berdua jodoh ya?
    kkkk dikejar anjing sampe pontang panting & kesasar
    btw, min ah cuma numpang lahir ya di indonesia? kok dia ga bisa ngomong bhs. indo? ayo terusin…

  11. waaaahh,, ffnya seru >.<
    gag bosen baca.a
    eon, daebak deh !!
    jd ngakak mikir key sma min ah dkejar anjing trus nyasar XD
    lanjut y eon,
    salam kenal ^_^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s